III. METODE PENELITIAN
3.4. Pengolahan dan Analisis Data 1 Analisis Deskriptif 1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif bertujuan mengubah kumpulan data mentah menjadi mudah dipahami dalam bentuk informasi yang lebih ringkas. Data yang terkumpul dalam riset pemasaran seperti survey, biasanya memiliki nilai observasi cukup beragam, sehingga akan sulit dan kurang bermakna bila periset mengartikan tiap nilai observasi yang diperoleh (Istijanto, 2005). Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum tentang data yang telah diperoleh dari kuesioner. Gambaran umum ini dapat menjadi acuan untuk melihat karakteristik data yang diperoleh.
3.4.2 Analisis Faktor
Analisis faktor merupakan analisis statistik yang mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar sejumlah peubah-peubah yang saling independen satu dengan yang lain, sehingga dapat dibuat satu atau beberapa kumpulan peubah yang lebih sedikit dari jumlah peubah awal. Kumpulan peubah itu disebut sebagai faktor dan faktor tersebut tetap mencerminkan peubah-peubah aslinya. Tujuan dari analisis faktor (Santoso, 2006), yaitu :
a. Data summarization, yakni mengidentifikasi adanya hubungan antar
peubah dengan melakukan uji korelasi
b. Data reduction, yakni melakukan proses pembuatan suatu kelompok
peubah baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan faktor dari sejumlah peubah tertentu.
Dalam hal menganalisis sejumlah peubah akan dianalisis interkorelasi antar peubah untuk menetapkan apakah variasi yang tampak dalam peubah berasal atau berdasarkan sejumlah faktor yang jumlahnya lebih sedikit dari variasi yang terdapat pada peubahnya. Jadi analisis faktor mempunyai karakter khusus, yaitu mampu mengurai data. Jika terdapat suatu korelasi dari suatu kumpulan data, maka analisis faktor akan
memperlihatkan beberapa pola yang mendasari, sehingga data yang ada dapat dirancang atau dikurangi menjadi set faktor atau komponen yang lebih kecil.
Analisis faktor ini dikerjakan untuk memperoleh sejumlah kecil faktor yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Mampu menerangkan keragaman data secara maksimum
b. Terdapatnya kebebasan faktor
c. Tiap faktor dapat diinterpretasikan dengan sejelas-jelasnya
Prinsip utama analisis faktor adalah korelasi, sedangkan asumsi-asumsi yang terkait dengan korelasi analisis faktor adalah :
a. Besar korelasi atau korelasi antar peubah independen harus cukup kuat, misal di atas 0,5.
b. Besar korelasi parsial, korelasi antar peubah dengan menganggap tetap peubah yang lain harus kecil. Pada SPSS, deteksi terhadap korelasi parsial diberikan melalui pilihan anti-image correlation.
c. Pengujian seluruh matrik korelasi (korelasi antar peubah), yang diukur
dengan besaran Measure Sampling Adequacy (MSA). Pengujian ini
mengharuskan adanya korelasi nyata di antara paling sedikit beberapa peubah.
d. Pada beberapa kasus, asumsi normalitas dari peubah atau faktor harus dipenuhi.
Data yang dianalisis terdiri dari beberapa peubah yang diduga dapat mempengaruhi proses keputusan yang dilakukan konsumen. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian adalah skala Likert, agar data kualitatif dapat dikuantitatifkan, sehingga nilai peubah yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk skala. Skala Likert ini meminta responden menunjukkan tingkat persetujuan atau ketidaksetujuannya terhadap serangkaian pernyataan tentang suatu obyek (Istijanto, 2005). Masing-masing peubah terdiri dari lima kepentingan, yaitu sangat penting, penting, biasa, tidak penting dan sangat tidak penting.
Menurut Santoso (2006), proses dasar dari analisis faktor adalah : a. Menentukan peubah apakah yang akan dianalisis
b. Menguji peubah-peubah yang akan ditentukan, dengan menggunakan
metode Barlett test of sphericity dan pengukuran MSA.
c. Melakukan proses inti dari analisis faktor, yaitu factoring, atau menurunkan satu atau lebih faktor dari peubah-peubah yang telah lolos pada uji peubah sebelumnya.
d. Melakukan proses Factor Rotation atau rotasi pada faktor yang telah terbentuk. Tujuan rotasi ini adalah untuk memperjelas peubah yang masuk ke dalam faktor tertentu. Beberapa metode rotasi :
1) Orthogonal Rotation, yakni memutar sumbu 90°. Proses rotasi
dengan metode Orthogonal masih dapat dibedakan menjadi
Quartimax, Varimax dan Equimax.
2) Oblique Rotation, yakni memutar sumbu ke kanan, tetapi tidak harus
90°. Proses rotasi dengan metode Oblique masih bisa dibedakan
menjadi Oblimin, Promax, Orthoblique dan lainnya.
e. Interpretasi atas faktor yang telah terbentuk, khususnya memberi nama atas faktor yang terbentuk tersebut yang dianggap dapat mewakili peubah-peubah anggota faktor tersebut.
Terdapat dua (2) hasil utama dari analisis faktor ini. Pertama, nilai
communality suatu peubah, yaitu jumlah keragaman peubah tersebut yang dijelaskan oleh faktor-faktor utama yang dipilih. Semakin tinggi nilai
communality, maka peubah tersebut semakin berpengaruh dalam proses keputusan.
Hasil yang kedua adalah ekstraksi peubah ke dalam komponen utama. Untuk menentukan jumlah komponen utama, dipilih komponen
utama dengan nilai eigenvalue di atas 1,00. Nilai ini menunjukkan
kepentingan relatif masing-masing faktor dalam menghitung keragaman seluruh peubah yang dianalisis. Pengelompokkan peubah ke dalam
komponen utama berdasarkan pada nilai loading terbesar dari peubah tersebut.
3.4.3 Model Analisis Fishbein
Model sikap multiatribut menggambarkan ancangan berharga untuk memeriksa hubungan di antara pengetahuan produk yang dimiliki konsumen dan sikap terhadap produk berkenaan dengan cirri atau atribut produk. Model analisis Fishbein merupakan model multiatribut paling terkenal. Model ini mengemukakan bahwa sikap terhadap obyek tertentu didasarkan pada perangkat kepercayaan yang diringkas mengenai atribut obyek bersangkutan yang diberi bobot oleh evaluasi terhadap atribut ini (Engel, et al., 1994). Secara simbolis, rumus tersebut dapat diekspresikan sebagai berikut :
Keterangan :
Ao = sikap terhadap obyek
bί = kekuatan kepercayaan bahwa obyek memiliki atribut ί
eί = evaluasi mengenai atribut ί
n = jumlah atribut yang menonjol
Pengukuran bί dan eί yang tepat akan dikembangkan. Komponen eί, yang menggambarkan evaluasi atribut, diukur secara khas pada sebuah skala evaluasi 5 (lima) angka dengan intensitas dari “sangat penting” hingga “sangat tidak penting”. Sebagai contoh :
Mutu pelumas Fastron :
Sangat penting _:_:_:_:_ Sangat tidak penting +2 +1 0 -1 -2
Komponen bί menggambarkan seberapa kuat konsumen percaya
bahwa merek tertentu dari pelumas Fastron memiliki atribut yang diberikan. Kepercayaan biasanya diukur pada skala dengan 5 (lima) angka
dari kemungkinan yang disadari yang berjajar dari “sangat baik” hingga “sangat tidak baik”. Sebagai contoh :
Mutu pelumas Fastron :
Sangat baik _:_:_:_:_ Sangat tidak baik +2 +1 0 -1- 2
Selanjutnya respons rataan dikalkulasi untuk setiap ukuran bίdan eί, serta sewaktu menafsirkan hasil ini skala bί dan eί berkisar dari skor maksimum +2 hingga skor minimum -2. Untuk mengestimasi sikap terhadap masing-masing merek, digunakan indeks Σbίeί, setiap skor kepercayaan harus lebih dahulu dikalikan dengan skor evaluasi yang sesuai, agar menghasilkan total skor Σbίeί setelah dijumlahkan untuk masing-masing merek, sehingga sikap konsumen terhadap produk tersebut akan diketahui. Pengolahan data dilakukan dengan alat bantu program
Microsoft Excel 2007 dan software Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 17.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum PT. Pertamina Persero 4.1.1 Sejarah PT. Pertamina Persero
Pertamina adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT. Permina. Kantor Pusat PT. Pertamina (Persero) berlokasi di Jalan Merdeka Timur 1A Jakarta 10110. Pada awalnya Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 10 Desember 1957 mendirikan perusahaan minyak dan gas dengan nama PT. Permina. Pada tahun 1961 PT. Permina berubah menjadi PN. Permina, kemudian pada tahun 1963 PN. Permina dan PN. Pertamin merger menjadi PN. Pertamina. Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1971 PN. Pertamina berubah menjadi Pertamina, kemudian berdasarkan UU MIGAS No. 22 Tahun 2001, Pertamina berubah menjadi Persero. Pertamina saat ini telah memasuki era baru. Undang-undang dan peraturan baru Indonesia telah mengubah pola bisnis dan membawa pesaing baru di sektor hilir bidang pemasaran, yang sebelumnya merupakan monopoli Pertamina. Menyikapi hal tersebut, Pertamina melakukan perubahan menjadi Persero yang fokus pada peningkatan keuntungan secara maksimal bagi pemegang saham. Pada tanggal 13 September 2003 Pertamina resmi menjadi PT. Pertamina (Persero).
Pendirian PT. Pertamina dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), dan Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP No.31 Tahun 2003 "Tentang pengalihan bentuk perusahaan petambangan minyak dan gas bumi negara (Pertamina)