• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengolahan Data

Dalam dokumen OLEH : NADA AMIRAH NIM: (Halaman 63-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.7 Pengolahan Data

Data yang telah diperoleh, kemudian diolah dengan beberapa tahapan, yaitu :

a. Entry yaitu memasukkan data untuk diolah menggunakan komputer.

b. Editing yaitu kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.

c. Coding yaitu kegiatan memberian kode-kode untuk memudahkan proses pengolahan data.

d. Tabulating yaitu mengelompokkan data sesuai variabel yang akan diteliti guna memudahkan analisis data.

3.8 Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh akan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif dan dinarasikan. Hasil pengukuran kadar benzena di udara ruang produksi sepatu akan dibandingkan dengan nilai ambang batas faktor kimia di tempat kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011.

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Secara geografis, kota Medan terletak pada 3°30' – 3°43' Lintang Utara dan 98°35' - 98°44' Bujur Timur dengan luas wilayah 265,10 km2 dengan batas - batas sebagai berikut :

1. Batas Utara : Kabupaten Deli Serdang dan Selat Malaka 2. Batas Selatan : Kabupaten Deli Serdang

3. Batas Timur : Kabupaten Deli Serdang 4. Batas Barat : Kabupaten Deli Serdang

Kota Medan terdiri dari 21 kecamatan, yaitu Medan Tuntungan, Medan Johor, Medan Amplas, Medan Denai, Medan Area, Medan Kota, Medan Maimun, Medan Polonia, Medan Baru, Medan Selayang, Medan Sunggal, Medan Helvetia, Medan Petisah, Medan Barat, Medan Timur, Medan Perjuangan, Medan Tembung, Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Belawan.

4.1.1 Kecamatan Medan Area

Kecamatan Medan Area merupakan salah satu kecamatan di kota Medan dengan luas wilayah 5,52 km2. Kecamatan Medan Area berbatasan dengan Medan Kota di sebelah barat, Medan Denai di timur, Medan Kota di selatan, dan Medan Perjuangan dan Medan Tembung di utara.

4.1.2 Kecamatan Medan Denai

Kecamatan Medan Denai adalah salah satu kecamatan di kota Medan dengan luas wilayah 9,05 km2. Kecamatan Medan Denai berbatasan dengan Medan Kota dan Medan Area di sebelah barat, Kabupaten Deli Serdang di timur, Medan Amplas di selatan, dan Medan Tembung di utara.

4.2 Karakteristik Responden

Distribusi pengrajin sepatu berdasarkan umur, masa bekerja, lama bekerja, kebiasaan merokok, jenis tugas dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini :

Tabel 4.1 Distribusi Pengrajin Sepatu Berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Responden Jumlah

(n)

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa pengrajin sepatu pada umumnya berumur kurang dari 35 tahun yaitu sebanyak 24 orang (51,1%) dengan masa bekerja kurang dari atau sama dengan 5 tahun yaitu sebanyak 28 orang (59,6%) dan lama bekerja lebih dari 10 jam yaitu sebanyak 31 orang (66,0%). Pengrajin sepatu juga

sebagian besar memiliki kebiasaan merokok > 10 batang rokok setiap harinya yaitu sebanyak 30 orang (63,8%) dan sebagian besar memiliki tugas untuk mengoleskan lem yaitu sebanyak 34 orang (72,3%).

4.3 Hasil Pengukuran Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja yang termasuk adalah ventilasi, suhu dan kelembaban.

Untuk mengetahui ventilasi, suhu dan kelembaban pada ruang produksi sepatu di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai, pengukuran ventilasi dilakukan dengan menggunakan rollmeter, pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termometer ruangan dan pengukuran kelembaban dilakukan dengan menggunakan hygrometer.

Pengukuran ventilasi, suhu dan kelembaban dilakukan pada ketujuh ruang produksi sepatu yaitu di Industri Sepatu Rumahan I yang terletak di Jalan Halat, Gg. Rambung, Industri Sepatu Rumahan II yang terletak di Jalan Bromo, Gg.

Bahagia, Industri Sepatu Rumahan III yang terletak di Jalan Bromo, Gg. Minang Sakato, Industri Sepatu Rumahan IV yang terletak di Jalan Bromo, Gg. Salam, Industri Sepatu Rumahan V yang terletak di Jalan Perjuangan, Gg. Srikandi, Industri Sepatu Rumahan VI yang terletak di Jalan Denai, Gg. Nila, dan Industri Sepatu Rumahan VII di Jalan Denai, Gg. Buntu. Hasil pengukuran ventilasi, suhu dan kelembaban pada ruang produksi sepatu di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2 Hasil pengukuran ventilasi, suhu, dan kelembaban pada ruang produksi sepatu di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017

Ruang Produksi Sepatu

Luas Lantai

Luas

Ventilasi Ventilasi Suhu Kelembaban Ruang Industri I 21 m 2,355 m > 10 % dari

MS : Memenuhi Syarat Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa masih terdapat ruang produksi sepatu yang belum memenuhi syarat yaitu memiliki luas ventilasi < 10 % dari luas lantai dengan suhu berkisar 31,3 ºC - 32,3 ºC dan kelembaban 63,3 % - 69,2 %.

4.4 Hasil Pengukuran Kadar Benzena

Untuk mengetahui kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai, pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Air Sampling Pump dengan Filter Charcoal yang di ukur pada tanggal 21 Maret 2016 – 22 Maret 2016.

Titik pengambilan sampel sebanyak 7 titik yaitu di Industri Sepatu Rumahan I yang terletak di Jalan Halat, Gg. Rambung, Industri Sepatu Rumahan II yang terletak di Jalan Bromo, Gg. Bahagia, Industri Sepatu Rumahan III yang terletak di Jalan Bromo, Gg. Minang Sakato, Industri Sepatu Rumahan IV yang terletak di Jalan Bromo, Gg. Salam, Industri Sepatu Rumahan V yang terletak di Jalan Perjuangan, Gg. Srikandi, Industri Sepatu Rumahan VI yang terletak di Jalan Denai, Gg. Nila, dan Industri Sepatu Rumahan VII yang terletak di Jalan Denai, Gg. Buntu. Hasil pengukuran kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017

Titik Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa pekerja lebih banyak terpapar kadar benzena yang tidak melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yaitu pada titik I, II, III, IV, dan VII dengan jumlah pekerja sabanyak 35 orang, sedangkan pekerja yang terpapar

kadar benzena yang melebihi Nilai Ambang Batas yaitu pada titik V dan VI yaitu sebanyak 12 orang.

4.5 Keluhan Kesehatan

Untuk mengetahui gambaran tentang keluhan kesehatan yang terdiri dari keluhan pernapasan, keluhan sistem saraf dan keluhan iritasi mata pada pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner.

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Keluhan Kesehatan Keluhan Kesehatan Ya

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa responden mengalami keluhan pernapasan sebanyak 19 orang (40,4%), keluhan sistem saraf sebanyak 34 orang (72,3%) dan keluhan iritasi mata sebanyak 26 orang (55,3%).

4.6 Keluhan Kesehatan Berdasarkan Kadar Benzena

Untuk mengetahui gambaran tentang keluhan kesehatan yang terdiri dari keluhan pernapasan, keluhan sistem saraf dan keluhan iritasi mata pada pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner.

4.6.1 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kadar Benzena

Tabel 4.5 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kadar Benzena

Kadar Benzena Nilai Ambang Batas mengalami keluhan pernapasan sebanyak 7 orang (14,9%).

4.6.2 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Kadar Benzena Tabel 4.6 Distribusi Sistem Saraf Berdasarkan Kadar Benzena

Kadar Benzena bawah atau sama dengan Nilai Ambang Batas (NAB) mengalami keluhan sistem

saraf sebanyak 23 orang (48,9%) dan yang terpapar kadar benzena di atas Nilai Ambang Batas mengalami keluhan sistem saraf sebanyak 11 orang (23,4%).

4.6.3 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Kadar Benzena

Tabel 4.7 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Kadar Benzena

Kadar Benzena Ambang Batas mengalami keluhan iritasi mata sebanyak 11 orang (23,4%).

4.7 Jumlah Keluhan Kesehatan Berdasarkan Kadar Benzena Tabel 4.8 Jumlah Keluhan Kesehatan Berdasarkan Kadar Benzena

Kadar Tabel 4.8 menunjukkan bahwa responden yang terpapar kadar benzena kurang dari atau sama dengan Nilai Ambang Batas (NAB) lebih banyak mengalami 1 jenis keluhan yaitu sebanyak 16 orang (45,7%) dan yang terpapar kadar benzena di atas Nilai Ambang Batas (NAB) lebih banyak mengalami 3 jenis keluhan yaitu sebanyak 7 orang (58,3%).

4.8 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Karakteristik Responden 4.8.1 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Umur

Distribusi keluhan pernapasan berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4.9 di bawah ini:

Tabel 4.9 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Umur

Umur Tabel 4.9 menunjukkan bahwa keluhan pernapasan berdasarkan umur lebih banyak dialami pada umur > 45 tahun yaitu sebanyak 10 orang (21,3%), pada umur 36 – 45 tahun dialami sebanyak 4 orang (8,5%) dan pada umur ≤ 35 tahun yaitu sebanyak 5 orang (10,6%).

4.8.2 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Masa Bekerja

Distribusi keluhan pernapasan berdasarkan Masa bekerja dapat dilihat pada tabel 4.10 di bawah ini:

Tabel 4.10 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Masa Bekerja

Masa Bekerja Tabel 4.10 menunjukkan bahwa keluhan pernapasan berdasarkan masa bekerja dialami responden dengan lama bekerja ≤ 5 tahun sebanyak 10 orang

(21,3%) dan responden dengan masa bekerja > 5 tahun dialami sebanyak 9 orang (19,1%).

4.8.3 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Lama Bekerja

Distribusi keluhan pernapasan berdasarkan lama bekerja dapat dilihat pada tabel 4.11 di bawah ini:

Tabel 4.11 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Lama Bekerja

Lama Bekerja Tabel 4.11 menunjukkan bahwa keluhan pernapasan berdasarkan lama bekerja dialami responden dengan lama bekerja > 10 jam yaitu 11 orang (23,4%) dan responden yang mengalami keluhan dengan lama bekerja ≤ 10 jam yaitu 8 orang (17,0%).

4.8.4 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kebiasaan Merokok

Distribusi keluhan pernapasan berdasarkan kebiasaan merokok dapat dilihat pada tabel 4.12 di bawah ini:

Tabel 4.12 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kebiasaan Merokok

Kebiasaan Merokok Tabel 4.12 menunjukkan bahwa keluhan pernapasan berdasarkan kebiasaan merokok dialami responden dengan kebiasaan merokok ≤ 10 batang yaitu 8 orang

(17,0%) dan responden yang mengalami keluhan dengan kebiasaan merokok > 10 batang yaitu 11 orang (23,4%).

4.8.5 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Jenis Tugas

Distribusi keluhan pernapasan berdasarkan jenis tugas dapat dilihat pada tabel 4.13 di bawah ini:

Tabel 4.13 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Jenis Tugas

Jenis Tugas Tabel 4.13 menunjukkan bahwa keluhan pernapasan berdasarkan jenis tugas lebih banyak dialami responden dengan tugas mengoleskan lem yaitu 13 orang (27,7%) dan responden dengan tugas membuat pola mengalami keluhan sebanyak 6 orang (12,8%).

4.9 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Karakteristik Responden 4.9.1 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Umur

Distribusi keluhan sistem saraf berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4.14 di bawah ini:

Tabel 4.14 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Umur

Umur

Tabel 4.14 menunjukkan bahwa keluhan sistem saraf berdasarkan umur dialami pada umur ≤ 35 tahun sebanyak 17 orang (36,2%), pada umur 36 – 45 tahun dialami sebanyak 7 orang (14,9%) dan pada umur > 45 tahun dialami sebanyak 10 orang (21,3%).

4.9.2 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Masa Bekerja

Distribusi keluhan sistem saraf berdasarkan masa bekerja dapat dilihat pada tabel 4.15 di bawah ini:

Tabel 4.15 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Masa Bekerja

Masa Bekerja Tabel 4.15 menunjukkan bahwa keluhan sistem saraf berdasarkan lama bekerja dialami responden dengan masa bekerja ≤ 5 tahun sebanyak 24 orang (51,1%) dan responden dengan masa bekerja > 5 tahun sebanyak 10 orang (21,3%).

4.9.3 Keluhan Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Lama Bekerja

Distribusi keluhan sistem saraf berdasarkan Lama bekerja dapat dilihat pada tabel 4.16 di bawah ini:

Tabel 4.16 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Lama Bekerja

Lama Bekerja

Tabel 4.16 menunjukkan bahwa keluhan sistem saraf berdasarkan lama bekerja lebih banyak dialami responden dengan lama bekerja > 10 jam sebanyak 23 orang (48,9%) dan responden yang mengalami keluhan dengan lama bekerja ≤ 10 jam sebanyak 11 orang (23,4%).

4.9.4 Keluhan Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Kebiasaan Merokok

Distribusi keluhan sistem saraf berdasarkan kebiasaan merokok dapat dilihat pada tabel 4.17 di bawah ini:

Tabel 4.17 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Kebiasaan Merokok

Kebiasaan Merokok

Keluhan Sistem Saraf Ya

n (%)

Tidak n (%)

Total n (%)

≤ 10 Batang 13 (27,7) 4 (8,5) 17 (36,2)

> 10 Batang 21 (44,7) 9 (19,1) 30 (63,8) Jumlah 34 (72,3) 13 (27,7) 47 (100,0) Tabel 4.17 menunjukkan bahwa keluhan sistem saraf berdasarkan kebiasaan merokok dialami responden dengan kebiasaan merokok ≤ 10 batang sebanyak 13 orang (27,7%) dan responden yang mengalami keluhan dengan kebiasaan merokok > 10 batang sebanyak 21 orang (44,7%).

4.9.5 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Jenis Tugas

Distribusi keluhan sistem saraf berdasarkan jenis tugas dapat dilihat pada tabel 4.18 di bawah ini:

Tabel 4.18 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Jenis Tugas Tabel 4.18 menunjukkan bahwa keluhan sistem saraf berdasarkan jenis tugas lebih banyak dialami responden dengan tugas mengoleskan lem yaitu 24 orang (51,1%) dan responden dengan tugas membuat pola yang mengalami keluhan sebanyak 10 orang (21,3%).

4.10 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Karakteristik Responden 4.10.1 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Umur

Distribusi keluhan iritasi mata berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4.19 di bawah ini:

Tabel 4.19 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Umur

Umur Tabel 4.19 menunjukkan bahwa keluhan iritasi mata berdasarkan umur dialami pada umur ≤ 35 tahun sebanyak 9 orang (19,1%), pada umur 36 – 45 tahun dialami sebanyak 8 orang (17,0%) dan pada umur > 45 tahun dialami sebanyak 9 orang (2,1%).

4.10.2 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Masa Bekerja

Distribusi keluhan iritasi mata berdasarkan masa bekerja dapat dilihat pada tabel 4.20 di bawah ini:

Tabel 4.20 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Masa Bekerja

Masa Bekerja Tabel 4.20 menunjukkan bahwa keluhan iritasi mata berdasarkan masa bekerja dialami responden dengan masa bekerja ≤ 5 tahun sebanyak 14 orang (29,8%) dan responden dengan masa bekerja > 5 tahun sebanyak 12 orang (25,5%).

4.10.3 Keluhan Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Lama Bekerja

Distribusi keluhan iritasi mata berdasarkan lama bekerja dapat dilihat pada tabel 4.21 di bawah ini:

Tabel 4.21 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Lama Bekerja

Lama Bekerja Tabel 4.21 menunjukkan bahwa keluhan iritasi mata berdasarkan lama bekerja dialami responden dengan jam bekerja > 10 jam sebanyak 15 orang (31,9%) dan responden yang mengalami keluhan dengan lama bekerja ≤ 10 jam sebanyak 11 orang (23,4%).

4.10.4 Keluhan Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Kebiasaan Merokok Distribusi keluhan iritasi mata berdasarkan kebiasaan merokok dapat dilihat pada tabel 4.22 di bawah ini:

Tabel 4.22 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Kebiasaan Merokok

Kebiasaan Merokok Tabel 4.22 menunjukkan bahwa keluhan iritasi mata berdasarkan kebiasaan merokok dialami responden dengan kebiasaan merokok ≤ 10 batang sebanyak 13 orang (27,7%) dan responden yang mengalami keluhan dengan kebiasaan merokok > 10 batang sebanyak 13 orang (27,7%).

4.10.5 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Jenis Tugas

Distribusi keluhan iritasi mata berdasarkan jenis tugas dapat dilihat pada tabel 4.23 di bawah ini:

Tabel 4.23 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Jenis Tugas

Jenis Tugas

Tabel 4.23 menunjukkan bahwa keluhan iritasi mata berdasarkan jenis tugas dialami responden dengan tugas mengoleskan lem sebanyak 24 orang (51,1%) dan responden dengan tugas membuat pola yang mengalami keluhan sebanyak 10 orang (21,3%).

5.1 Kadar Benzena Berdasarkan Lingkungan Kerja Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017

Konsentrasi benzena di dalam ruangan dipengaruhi oleh waktu tinggal sumber bahan, mutu ventilasi, suhu dan kelembaban. Pada suhu yang meningkat akan meningkat pula kecepatan reaksi suatu bahan kimia dan kondisi udara yang lembab akan membantu proses pengendapan bahan pencemar, sebab dengan keadaan udara yang lembab maka beberapa bahan pencemar berbentuk partikel (misalnya debu) akan berikatan dengan air yang ada dalam udara dan membentuk partikel yang berukuran lebih besar sehingga mudah mengendap ke permukaan bumi oleh gaya tarik bumi. (Fardiaz, 1992)

Berdasarkan pengukuran lingkungan kerja berupa ventilasi, suhu dan kelembaban pada ruang industri sepatu rumahan diperoleh bahwa luas ventilasi pada tiga dari tujuh industri sepatu rumahan memiliki luas < 10% dari luas lantai.

Hal ini dapat menyebabkan benzena sulit keluar dari ruang industri dan lebih lama berada di dalam ruangan. Ventilasi yang dimiliki ketujuh ruang pada industri sepatu rumahan berupa jendela dan pintu yang terbuka.

Pada ketujuh ruang industri sepatu rumahan diperoleh bahwa suhu berkisar antara 31,3 ºC – 32,3 ºC dan kelembaban berkisar antara 63,3 % - 69,2 %. Hal ini

dapat mempermudah benzena yang secara fisik mudah menguap pada suhu ruang dan mengendap di dalam ruang industri sepatu rumahan.

Pada ruang industri I, diperoleh suhu 32,1 ºC, kelembaban 65,6 % dan kadar benzena yang diperoleh yaitu < 0,092 ppm. Hal ini dikarenakan ruang industri I memiliki luas ventilasi > 10 % dari luas lantai, sehingga benzena yang menguap akan lebih mudah keluar dari ruang industri dan mengalami pertukaran dengan udara luar.

Pada ruang industri II, diperoleh suhu 31,5 ºC, kelembaban 67,5 % dan kadar benzena yang diperoleh yaitu 0,199 ppm. Hal ini dikarenakan ruang industri II memiliki luas ventilasi > 10 % dari luas lantai, sehingga benzena yang menguap akan lebih mudah keluar dari ruang industri dan mengalami pertukaran dengan udara luar.

Pada ruang industri III, diperoleh suhu 32,3 ºC, kelembaban 63,3 % dan kadar benzena yang diperoleh sebesar 0,417 ppm. Kadar benzena tersebut jauh lebih tinggi dari kadar benzena pada ruang industri I dan II. Hal ini dikarenakan ruang industri III memiliki luas ventilasi < 10 % dari luas lantai, sehingga benzena yang menguap lebih sulit keluar dari ruang industri dan sulit mengalami pertukaran dengan udara luar.

Pada ruang industri IV, diperoleh suhu 32,0 ºC, kelembaban 64,0 % dan kadar benzena yang diperoleh sebesar 0,473 ppm. Kadar benzena tersebut juga jauh lebih tinggi dari kadar benzena pada ruang industri I dan II. Hal ini dikarenakan ruang industri IV memiliki luas ventilasi < 10 % dari luas lantai,

sehingga benzena yang menguap lebih sulit keluar dari ruang industri dan sulit mengalami pertukaran dengan udara luar.

Pada ruang industri V, diperoleh suhu 31,3 ºC, kelembaban 69,2 % dan kadar benzena yang diperoleh sebesar 2,834 ppm. Walaupun ruang industri V ini memiliki luas ventilasi > 10 % dari luas lantai, kadar benzena tersebut merupakan kadar tertinggi dari ketujuh ruang industri sepatu. Hal ini dikarenakan, ruang industri V yang berukuran 3 m x 6 m ditempati oleh 8 pengrajin dan sebagian besar pengrajin berada pada posisi kerja yang berjarak 1 meter lebih jauh dari jendela dan pintu. Sehingga, benzena yang menguap juga lebih sulit keluar dari ruang industri dan sulit mengalami pertukaran dengan udara luar.

Pada ruang industri VI, diperoleh suhu 32,0 ºC, kelembaban 64,6 % dan kadar benzena yang diperoleh sebesar 2,365 ppm. Kadar benzena tersebut merupakan kadar kedua tertinggi dari ketujuh ruang industri sepatu. Hal ini dikarenakan ruang industri VI memiliki luas ventilasi < 10 % dari luas lantai, sehingga benzena yang menguap lebih sulit keluar dari ruang industri dan sulit mengalami pertukaran dengan udara luar.

Pada ruang industri VII, diperoleh suhu 32,0 ºC, kelembaban 64,6 % dan kadar benzena yang diperoleh sebesar 0,411 ppm. Hal ini dikarenakan ruang industri VII memiliki luas ventilasi > 10 % dari luas lantai, sehingga benzena yang menguap akan lebih mudah keluar dari ruang industri dan mengalami pertukaran dengan udara luar.

5.2 Keluhan Kesehatan Pengrajin Sepatu di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017 Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh bahwa pengrajin sepatu lebih banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu keluhan sistem saraf sebanyak 34 orang (72,3%). Sedangkan, keluhan iritasi mata dialami sebanyak 26 orang (55,3%) dan keluhan pernapasan dialami sebanyak 19 orang (40,4%).

5.2.1 Keluhan Kesehatan Pengrajin Sepatu Berdasarkan Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017

Berdasarkan hasil pengukuran kadar benzena pada ketujuh titik pengukuran diperoleh bahwa dua dari tujuh titik yaitu pada titik V dan VI memiliki kadar benzena masing-masing yaitu 2,834 ppm dan 2,365 ppm dengan jumlah pengrajin yang terpapar sebanyak 12 orang. Kadar benzena pada kedua titik pengukuran tersebut telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) benzena menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 yaitu 0,5 ppm/8 jam. Sedangkan, hasil pengukuran pada titik I, II, III, IV dan VII memiliki kadar benzena dibawah Nilai Ambang Batas dengan jumlah pengrajin yang terpapar sebanyak 35 orang.

Jika keluhan kesehatan dikaitkan dengan kadar benzena, lebih banyak responden yang terpapar kadar benzena di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) yaitu sebanyak 35 orang dan yang terpapar benzena melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) sebanyak 12 orang. Namun, berdasarkan jumlah keluhan yang dirasakan.

Responden yang terpapar kadar benzena melebihi Nilai Ambang Batas (NAB)

lebih banyak merasakan ketiga jenis keluhan yaitu sebanyak 7 orang (58,3%).

Sedangkan responden yang terpapar kadar benzena di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) lebih banyak merasakan satu jenis keluhan yaitu sebanyak 16 orang (45,7%)

Walaupun responden lebih banyak terpapar kadar benzena di bawah Nilai Ambang Batas. Namun, apabila kadar benzena pada ketujuh titik pengukuran dihitung rata-ratanya. Maka, rata-rata kadar benzena pada ketujuh titik pengukuran sebesar 0,970 ppm.

Berdasarkan penelitian Betty (2011) pada lima industri sepatu diperoleh bahwa rata-rata konsentrasi benzena di kelima industri sepatu tersebut sebesar 0,206 mg/m3 atau 0,064 ppm dan hasil perhitungan pada manajemen risiko dalam penelitian tersebut diperoleh bahwa konsentrasi aman untuk efek non karsinogenik akibat pajanan benzena sebesar 0,042 mg/m3 atau 0,013 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa kadar benzena pada titik I, II, III, IV, dan VII telah melebihi konsentrasi aman untuk efek non karsinogenik. Sehingga, kadar benzena di ketujuh titik tersebut dapat menimbulkan keluhan kesehatan pada pengrajin sepatu, terutama dapat dikaitkan dengan keluhan sistem saraf. Namun, keluhan sistem saraf dapat juga timbul oleh karena faktor umur, masa bekerja, lama bekerja, kebiasaan merokok dan jenis tugas.

Kemudian, berdasarkan penelitian Widjaja, dkk (2012), menunjukkan bahwa seluruh pekerja di Bengkel Alas Kaki Informal di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor terpajan benzena yang melebihi TLV-TWA 0,5 ppm dan lebih dari setengahnya (63,03%) sering mengalami gejala iritasi saluran pernafasan.

Terlihat bahwa prevalens gejala iritasi saluran pernapasan yang ditemukan berupa batuk 39,4%, pilek 54,5%, dan sesak 27,3%.

Walaupun hanya dua titik yang memiliki kadar benzena melebihi Nilai Ambang Batas (NAB), keluhan pernapasan tetap ditemukan pada pengrajin sepatu. Hal ini dapat juga diakibatkan oleh faktor umur, masa bekerja, lama bekerja, kebiasaan merokok dan jenis tugas.

Kemudian, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yin, et al (1987),

Kemudian, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yin, et al (1987),

Dalam dokumen OLEH : NADA AMIRAH NIM: (Halaman 63-0)

Dokumen terkait