MEDAN AREA DAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN TAHUN 2017
SKRIPSI
OLEH : NADA AMIRAH
NIM: 131000665
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
MEDAN AREA DAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN TAHUN 2017
Skripsi ini diajukan sebagai Salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh : NADA AMIRAH
NIM. 131000665
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ANALISIS KUALITAS FISIK RUANG PRODUKSI SEPATU DAN KADAR BENZENA DI UDARA SERTA KELUHAN KESEHATAN PENGRAJIN SEPATU DI INDUSTRI SEPATU RUMAHAN KECAMATAN MEDAN AREA DAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN TAHUN 2017” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri dan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Medan, April 2017
Nada Amirah 131000665
menengah yang memproduksi sepatu. Kualitas fisik suatu ruang produksi berupa ventilasi, suhu, dan kelembaban yang tidak memenuhi syarat dapat mempermudah Benzena yang terdapat pada lem sepatu untuk terpapar dan menimbulkan beberapa keluhan kesehatan pada pengrajin sepatu.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas fisik ruang produksi sepatu dan kadar benzena di udara serta keluhan kesehatan pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan tahun 2017.
Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat deskriptif. Sampel dalam penelitian ini 47 orang dengan menggunakan metode total sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden terbanyak berusia kurang ≤ 35 tahun (51,1%), responden telah bekerja ≤ 5 tahun (59,6%), responden bekerja
> 10 jam (66,0%), responden merokok > 10 batang per hari (63,8%) dan responden yang bertugas mengoleskan lem (72,3%). Berdasarkan hasil pengukuran benzena pada tujuh titik, kadar benzena tertinggi pada titik V yaitu 2,834 ppm dan titik VI yaitu 2,365 ppm dengan luas ventilasi yakni < 10% dari luas lantai dengan suhu antara 31,3 ºC – 32,3 ºC dan kelembaban antara 63,3 % - 69,2 %. Sebanyak 19 orang (40,4%) pengrajin sepatu yang mengalami keluhan pernapasan, 34 orang (72,3%) yang mengalami keluhan sistem saraf dan 26 orang (55,3%) yang mengalami keluhan iritasi mata.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kadar benzena pada dua industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) dan ventilasi, suhu serta kelembaban ruang produksi sepatu tidak memenuhi syarat suatu ruang. Disarankan kepada pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan untuk mengatur kembali posisi bekerja agar pengrajin yang bertugas mengoleskan lem berada pada posisi yang paling dekat dengan ventilasi untuk mengurangi jumlah paparan yang diterima setiap harinya.
Kata Kunci : industri sepatu rumahan, kadar benzena, keluhan kesehatan
produce shoes. Physical quality of the production space such ventilation, temperature, and ineligible humidity determine exposure benzene and raise health complaint of the shoe worker.
This research purposes analyze the physical quality of shoe production space, levels of benzene in the air, and health complaint of the shoe worker in home shoe industry in Kecamatan Medan Area and Medan Denai Kota Medan of the year 2017.
This type of research was descriptive survey and the samples consist of 47 persons by using total sampling method.
The results showed that most respondents aged less ≤ 35 years old (51,1%), worked respondents ≤ 5 years (59,6%), worked respondents > 10 hours (66,0%), smoke respondents > 10 cigarettes per day (63,8%) and respondents apply glue (72,3%). Based on the measurement result of benzene on seven points, the highest benzene levels at the point V is 2.834 ppm and point VI is ventilation <10% of the floor area with temperatures 31.3°C - 32.3°C and humidity 63,3% - 69.2%. A total of 19 workers (40.4%) experienced respiratory complaints, 34 workers (72.3%) have complaints of the nervous system, and 26 workers (55.3%) have complaints of eye irritation.
The conclusion of this research is the levels of benzene in two home shoe industries in Kecamatan Medan Area and Medan Denai Kota Medan has exceeded the Threshold Limit Value (TLV). Moreover, ventilation, temperature, and chamber humidity of shoes production do not qualify a space standard. It’s suggested to the workers to rearrange the work position so the workers who apply glue are in the closest position with the ventilation in order to reduce the amount of exposure received every single day.
Keywords: home shoe industry, levels of benzene, health complaint
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ANALISIS KUALITAS FISIK RUANG PRODUKSI SEPATU DAN KADAR BENZENA DI UDARA SERTA KELUHAN KESEHATAN PENGRAJIN SEPATU DI INDUSTRI SEPATU RUMAHAN KECAMATAN MEDAN AREA DAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN TAHUN 2017”, guna memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas Sumatera Utara.
Skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Syafrizal, SE dan Ibunda Yulmi Zarni, SE, yang tiada henti memberikan dukungan, doa dan motivasi kepada penulis selama ini.
Selama penyelesaian skripsi mulai dari awal hingga akhir selesainya skripsi ini penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. dr. Taufik Ashar, M.K.M, selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dra. Nurmaini, M.K.M, Ph.D dan Dr. dr.Taufik Ashar, M.K.M selaku Dosen Pembimbing skripsi I dan II yang telah banyak meluangkan waktu
4. Ir. Indra Chahaya, M.Si dan dr. Devi Nuraini Susanti, M.Kes selaku Dosen Penguji yang telah banyak memberikan saran dan masukan kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini.
5. Drs. Eddy Syahrial, MS, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang memberikan dukungan dan saran-saran serta membimbing selama penulis megikuti pendidikan.
6. Seluruh Dosen beserta Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, terkhusus kak Dian yang telah banyak memberi bantuan kepada penulis.
7. Kakak tercinta Sindy Yulia Putri, S.Pd, M.Si yang saat ini berprofesi sebagai dosen prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Penulis juga mendoakan agar kakak tercinta segera bisa mencapai cita-citanya untuk melanjutkan sekolah Program Doktor di Australia.
8. Adikku tecinta Rizka Fatimah yang terus memberikan doa dan motivasi untuk kelancaran penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mendoakan agar adik dapat segera menyelesaikan pendidikannya.
9. Seluruh staf PT. Petrolab Services, terkhusus Mas Hamda, Mba Santi dan Mba Rey, yang telah banyak membantu dan memberi arahan kepada penulis dalam pelaksanaan penelitian ini.
penulisan skripsi ini.
11. Teman-teman PBL Kelompok 24 Adolina tersayang (Cynthia, Widya, Ditha, Kristina, Maria dan Eka) terimakasih untuk semangat kebersamaan dan doa yang diberikan.
Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya teman-teman dibidang Kesehatan Masyarakat.
Medan, April 2017 Penulis
Nada Amirah
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.3.1 Tujuan Umum ... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Industri Sepatu ... 7
2.1.1 Proses Pembuatan Sepatu ... 7
2.1.2 Pajanan Bahan Kimia pada Pembuatan Sepatu... 9
2.2 Benzena ... 10
2.2.1 Sifat Fisik dan Kimia Benzena ... 10
2.2.2 Sumber Benzena ... 11
2.2.3 Sumber Pemaparan Benzena ... 12
2.2.4 Toksikokinetika Benzena ... 14
2.2.4.1 Absorpsi ... 15
2.2.4.2 Distribusi ... 19
2.2.4.3 Metabolisme ... 21
2.2.4.4 Eliminasi dan Ekskresi ... 23
2.2.5 Efek Kesehatan Akibat Pajanan Benzena ... 24
2.2.5.1 Efek Jangka Pendek (Akut) ... 25
2.2.5.2 Efek Jangka Panjang (Kronis) ... 30
2.2.6 Batas Paparan Benzena ... 34
2.3 Faktor Lingkungan Yang Memengaruhi Kadar Benzena ... 35
2.3.1 Ventilasi ... 35
2.3.2 Suhu ... 36
2.3.3 Kelembaban ... 36
2.4 Kerangka Konsep ... 37
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 38
3.2.2 Waktu Penelitian ... 39
3.3 Populasi dan Sampel ... 39
3.3.1 Populasi ... 39
3.3.2 Sampel ... 39
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 39
3.4.1 Data Primer ... 39
3.5 Definisi Operasional ... 40
3.6 Aspek Pengukuran ... 41
3.6.1 Kualitas Fisik Ruang Produksi Industri Sepatu Rumahan ... 41
3.6.2 Kadar Benzena di Udara Ruang Produksi Sepatu ... 42
3.6.3 Keluhan Kesehatan ... 45
3.7 Pengolahan Data ... 46
3.8 Teknik Analisa Data ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 48
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48
4.1.1 Kecamatan Medan Area ... 48
4.1.2 Kecamatan Medan Denai ... 49
4.2 Karakteristik Responden ... 49
4.3 Hasil Pengukuran Lingkungan Kerja ... 50
4.4 Hasil Pengukuran Kadar Benzena ... 51
4.5 Keluhan Kesehatan... 53
4.6 Keluhan Kesehatan Berdasarkan Kadar Benzena ... 54
4.6.1 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kadar Benzena ... 54
4.6.2 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Kadar Benzena ... 54
4.6.3 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Kadar Benzena ... 55
4.7 Jumlah Keluhan Kesehatan Berdasarkan Kadar Benzena ... 55
4.8 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Karakteristik Responden ... 56
4.8.1 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Umur... 56
4.8.2 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Masa Bekerja ... 56
4.8.3 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Lama Bekerja ... 57
4.8.4 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kebiasaan Merokok... 57
4.8.5 Keluhan Pernapasan Berdasarkan Jenis Tugas ... 58
4.9 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Karakteristik Responden ... 58
4.9.1 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Umur ... 58
4.9.2 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Masa Bekerja ... 59
4.9.3 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Lama Bekerja ... 59
4.9.4 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Kebiasaan Merokok ... 60
4.9.5 Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Jenis Tugas ... 60
4.10 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Karakteristik Responden ... 61
4.10.1 Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Umur ... 61
BAB V PEMBAHASAN ... 64
5.1 Kadar Benzena Berdasarkan Lingkungan Kerja Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017 ... 64
5.2 Keluhan Kesehatan Pengrajin Sepatu di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017 ... 67
5.2.1 Keluhan Kesehatan Pengrajin Sepatu Berdasarkan Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017 ... 67
5.2.2 Keluhan Kesehatan Pengrajin Sepatu Berdasarkan Karakteristik Responden di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017 ... 70
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 73
6.1 Kesimpulan ... 73
6.2 Saran ... 74
DAFTAR PUSTAKA ... 75 LAMPIRAN
Tabel 2.2 Manajemen Risiko Pajanan Benzena Non Karsinogenik dan
Karsinogenik ...33
Tabel 2.3 Batas Paparan Benzena ...34
Tabel 4.1 Distribusi Pengrajin Sepatu Berdasarkan Karakteristik Responden ..49
Tabel 4.2 Hasil pengukuran ventilasi, suhu, dan kelembaban pada ruang produksi sepatu di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017 ...51
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017 ...52
Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Keluhan Kesehatan ...53
Tabel 4.5 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kadar Benzena...54
Tabel 4.6 Distribusi Sistem Saraf Berdasarkan Kadar Benzena ...54
Tabel 4.7 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Kadar Benzena ...55
Tabel 4.8 Jumlah Keluhan Kesehatan Berdasarkan Kadar Benzena ...55
Tabel 4.9 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Umur ...56
Tabel 4.10 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Masa Bekerja ...56
Tabel 4.11 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Lama Bekerja...57
Tabel 4.12 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Kebiasaan Merokok ...57
Tabel 4.13 Distribusi Keluhan Pernapasan Berdasarkan Jenis Tugas ...58
Tabel 4.14 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Umur ...58
Tabel 4.15 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Masa Bekerja ...59
Tabel 4.16 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Lama Bekerja ...59
Tabel 4.18 Distribusi Keluhan Sistem Saraf Berdasarkan Jenis Tugas ...61
Tabel 4.19 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Umur ...61
Tabel 4.20 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Masa Bekerja ...62
Tabel 4.21 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Lama Bekerja ...62
Tabel 4.22 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Kebiasaan Merokok...63
Tabel 4.23 Distribusi Keluhan Iritasi Mata Berdasarkan Jenis Tugas ...63
utama pembuatan sepatu ...8
Gambar 2.2 Jalur Metabolisme Benzena ...23
Gambar 3.1 Pompa Sampling Udara/Air Sampling Pump ...43
Gambar 3.2 Flowmeter...44
Gambar 3.3 Solid Sorbent Tube (Coconut Shell Charcoal) ...44
Gambar 7.1 Persiapan Alat Pengukuran ...108
Gambar 7.2 Kondisi Industri Sepatu Rumahan I ...108
Gambar 7.3 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan I ...109
Gambar 7.4 Wawancara dengan Pengrajin Sepatu ...109
Gambar 7.5 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan II ...110
Gambar 7.6 Kondisi Industri Sepatu Rumahan III...110
Gambar 7.7 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan III ...111
Gambar 7.8 Kondisi Industri Sepatu Rumahan IV ...111
Gambar 7.9 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan IV ...112
Gambar 7.10 Kondisi Industri Sepatu Rumahan V ...112
Gambar 7.11 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan V ...113
Gambar 7.12 Kondisi Industri Sepatu Rumahan VI ...113
Gambar 7.13 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan VI ...114 Gambar 7.14 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu
Lampiran 2. Peta Titik Pengukuran ...80
Lampiran 3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah ...84
Lampiran 4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja ...90
Lampiran 5. Prosedur Pengukuran Kadar Benzena berdasarkan metode NIOSH 1501 ...93
Lampiran 6. Hasil Pengukuran Laboratorium ...100
Lampiran 7. Dokumentasi ...108
Lampiran 8. Output ...115
Lampiran 9. Master Data...127
Tempat Lahir : Medan
Tanggal Lahir : 13 Februari 1996
Suku Bangsa : Minang/ Indonesia
Agama : Islam
Nama Ayah : H. Syafrizal, SE
Suku Bangsa : Minang/ Indonesia
Nama Ibu : Yulmi Zarni, SE
Suku Bangsa : Minang/ Indonesia
Pendidikan Formal :
TK Al-Hidayah Medan : Tahun 2000 - 2001 SD Swasta ERIA Medan : Tahun 2001 - 2007 SMP Swasta ERIA Medan : Tahun 2007 - 2010 SMA Harapan 1 Medan : Tahun 2010 - 2013 Lama Studi di FKM USU : Tahun 2013 - 2017
1.1 Latar Belakang Masalah
Sektor informal memiliki peran yang besar di negara-negara sedang berkembang (NSB) termasuk Indonesia. Sektor informal ditandai oleh beberapa karakteristik unik seperti, sangat bervariasinya bidang kegiatan produksi barang dan jasa, berskala kecil, unit-unit produksinya dimiliki secara perorangan atau keluarga, banyak menggunakan tenaga kerja (padat karya), dan teknologi yang dipakai relatif sederhana. (Todaro, 2006)
Sektor usaha informal merupakan bentuk usaha yang paling banyak kita temukan di masyarakat, yang sering kita sebut sebagai industri rumahan. Salah satunya adalah industri sepatu. Industri sepatu rumahan merupakan salah satu sektor industri kecil dan menengah yang umumnya dimiliki secara perorangan atau keluarga, memiliki banyak pekerja dan kegiatan usahanya dilakukan di rumah sang pemilik. Beberapa bagian dari rumah dijadikan sebagai ruang produksi sepatu yang menyebabkan kualitas fisik suatu ruang berupa ventilasi, suhu, dan kelembaban menjadi tidak sesuai dengan peruntukannya yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi aktivitas pengrajin sepatu dalam memproduksi produknya.
Tidak hanya kualitas fisik ruang produksi yang dapat mempengaruhi aktivitas pengrajin sepatu dalam memproduksi produknya. Namun, penggunaan bahan- bahan kimia dalam proses produksinya juga dapat mempengaruhi aktivitas para pengrajin. Dengan penggunaan bahan-bahan kimia tersebut, para pengrajin dapat merasakan beberapa keluhan kesehatan selama bekerja. Proses produksi sepatu
rumahan pada umumnya terdiri dari beberapa tahapan, yaitu membuat pola sepatu, memotong pola, menjahit, mengelem, dan melapisi sepatu dengan cat.
Dari keseluruhan proses produksi tersebut, terdapat proses yang dapat menimbulkan risiko kesehatan pada pekerja yang diakibatkan oleh penggunaan bahan berbahaya yang terdapat di dalam lem. Lem atau perekat dan banyak pelarut dapat mengandung volatile hidrokarbon seperti benzena, toluena, dan xilena. (Victor R, 2016).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widjaja dkk (2012), di Bengkel Alas Kaki Informal di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa pada kedua sampel lem yang digunakan mengandung benzena 1,34% dan 1,52%
dan mengandung toluena 73,72% dan 76,79%. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pakasi dkk dalam Christianti (2006), menunjukkan bahwa pada sebelas bahan perekat yang digunakan di Industri Alas Kaki Sektor Informal Kecamatan Ciomas yang terdiri dari lem kuning dan lem putih menunjukkan kandungan benzena bervariasi mulai dari 1,0586% - 32,0121%.
Benzena merupakan salah satu senyawa hidrokarbon aromatik yang banyak digunakan dan sudah dikenal sebagai pelarut organik yang baik untuk berbagai proses di industri seperti industri rubber, sepatu, pelarut cat, komponen dalam bahan bakar motor, komponen dalam detergent, pestisida dan pembuatan farmasi.
Benzena juga merupakan salah satu senyawa penyebab kanker (karsinogenik).
Oleh karena itu, penggunaan benzena sebagai pelarut untuk pembuatan lem perekat mulai dikurangi dan digantikan dengan senyawa lain seperti toluena.
(Wijaya, 1995)
Namun, penelitian Chen dan Chan (1999) di Cina menunjukkan bahwa, lem yang berupa toluena dengan kualitas terbaik pun masih mengandung ≤ 5%
benzena. Bahkan, banyak dari produk industri lem yang berupa toluena yang diproduksi di Cina mengandung sekitar 10-30% benzena. Menurut survei nasional, sebesar 76% benzena terdeteksi di udara tempat kerja yang menggunakan pelarut berbasis toluena atau xilena dan mencapai konsentrasi tinggi di pabrik-pabrik sepatu berventilasi buruk. (Chen dan Chan, 1999)
Salah satu kejadian akibat pajanan benzena di Indonesia yang pernah terjadi yaitu pada pekerja di Bengkel Alas Kaki Informal di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, terlihat bahwa prevalens gejala iritasi saluran pernapasan yang ditemukan berupa batuk 39,4%, pilek 54,5%, dan sesak 27,3%. Semua subjek yang terpajan benzena melebihi TLV-TWA 0,5 ppm, lebih dari setengahnya (63,03%) sering mengalami gejala iritasi saluran pernafasan. (Widjaja dkk, 2012)
Benzena pada umumnya masuk ke dalam tubuh melalui jalur inhalasi dan absorpsi terutama melalui paru-paru. Sekitar 40 – 60 % jumlah yang diinhalasi.
Metabolisme akhir utama benzena adalah fenol yang akan dikeluarkan melalui urin, sehingga kadar fenol digunakan sebagai indikator biologik atas paparan benzena. Kadar fenol dalam urin di atas 25 mg fenol/l kemih menunjukkan sedikit paparan terhadap benzena, sedangkan kadar fenol sekitar 100 mg fenol/l kemih menunjukkan paparan sekitar 80 mg benzena/m3 udara selama 8 jam.
(Wijaya, 1995)
Pada umumnya, konsentrasi senyawa organik yang mudah menguap termasuk benzena, toluena dan xilena di dalam ruangan dipengaruhi oleh waktu tinggal sumber bahan, mutu ventilasi, suhu dan kelembaban. Sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Sri Maywati dan Siti Novianti (2011) pada industri sandal kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa ventilasi yang terbanyak pada industri tersebut adalah 0,03 (3% dari luas lantai) sebanyak 13 responden (22,8%). Secara keseluruhan, dari 57 responden terdapat 22 responden (38,6%) yang berada di ruangan dengan ventilasi di bawah 10% dengan kadar fenol urin pekerja 50,00 – 100,00 mg/l sebanyak 28 responden (49,1%). Hal ini menunjukkan bahwa ventilasi mempengaruhi pajanan benzena yang diukur melalui kadar fenol urin pekerja.
Kota Medan merupakan salah satu kota dimana masih berkembangnya industri sepatu rumahan. Industri sepatu rumahan di kota ini pada umumnya terletak berdekatan di satu kecamatan yang sama, dan memiliki karakteristik ruang produksi sepatu yang sama. Berdasarkan hasil survei pendahuluan, pada umumnya industri sepatu rumahan memiliki ruang produksi yang sempit, suhu ruangan yang panas dan bau lem terasa saat berada di ruangan. Ventilasi yang dimiliki ruang produksi berupa pintu atau jendela yang terbuka. Para pengrajin rata-rata bekerja > 8 jam dan bekerja 6 hari dalam seminggu. Lem yang digunakan terdiri dari 2, yaitu lem untuk tapak dan lem untuk kulit. Pada saat bekerja para pengrajin sepatu pernah merasakan beberapa keluhan, yaitu batuk-batuk, sesak napas, pusing dan mata berair.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis tertarik melaksanakan penelitian untuk mengetahui kualitas fisik (ventilasi, suhu, kelembaban) ruang produksi sepatu dan kadar benzena di udara serta keluhan kesehatan pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan tahun 2017.
1.2 Perumusan Masalah
Para pengrajin sepatu pernah merasakan beberapa keluhan, yaitu batuk-batuk, sesak napas, pusing dan mata berair saat bekerja di ruang produksi yang sempit, panas, dengan bau lem yang terasa selama di ruangan. Maka, berdasarkan hal di atas, perumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kualitas fisik (ventilasi, suhu, kelembaban) ruang produksi sepatu dan kadar benzena di udara serta keluhan kesehatan pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan tahun 2017.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menganalisis kualitas fisik ruang produksi sepatu dan kadar benzena di udara serta keluhan kesehatan pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan tahun 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui kualitas fisik (ventilasi, suhu, dan kelembaban) ruang produksi sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017.
2. Untuk mengetahui kadar benzena di udara ruang produksi industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017.
3. Untuk mengetahui umur, masa bekerja, lama bekerja, kebiasaan merokok dan jenis tugas pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017.
4. Untuk mengetahui keluhan kesehatan pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan Kecamatan Medan Area dan Medan Denai Kota Medan Tahun 2017.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Sebagai tambahan informasi bagi pengrajin sepatu mengenai faktor lingkungan dan kadar benzena di udara ruang produksi sepatu yang dapat mempengaruhi keluhan kesehatan.
2. Sebagai tambahan informasi bagi pemilik industri sepatu rumahan bahwa perlunya menciptakan kondisi ruang kerja yang nyaman dan sehat bagi para pekerjanya.
3. Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya.
2.1 Industri Sepatu
Industri sepatu digolongkan sebagai salah satu sektor industri kecil atau menengah yang banyak berkembang di masyarakat. Industri kecil adalah kegiatan industri yang dikerjakan di rumah-rumah penduduk yang pekerjanya merupakan anggota keluarga sendiri yang tidak terikat jam kerja dan tempat. Industri kecil dapat juga diartikan sebagai usaha produktif diluar usaha pertanian, baik itu merupakan mata pencaharian utama maupun sampingan (Tambunan, 1999)
2.1.1 Proses Pembuatan Sepatu
Biasanya, alas kaki dalam hal ini dimaksud sepatu, dirancang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Suatu model akan digambarkan penuh warna dan rinci. Pembuatan sepatu pada sektor informal mungkin memiliki berbagai model rancangan untuk dipasarkan dan memenuhi keinginan konsumen baru.
Pembuatan Sepatu terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :
1. Suatu pola menunjukkan bentuk dan ukuran bagian atas sepatu; pola tersebut dapat diproduksi oleh pembuat sepatu atau dipesan dari luar.
Gaya bagian atas digambarkan pada bahan (misal kulit, polyurethane, PVC) menurut pola yang ada, kemudian bagian tersebut digunting.
2. Setelah digunting, bagian luar bahan seringkali disisit menggunakan mesin sisit. Bagian atas dan lapisan dalam dijahit bersama; kemudian pembuatan lubang tali, lubang kancing, dan asesoris dapat dilaksanakan.
3. Penyatuan bagian atas dan bawah pada umumnya dilakukan dengan proses pengeleman, tetapi juga ada yang dilakukan melalui proses penjahitan, pemakuan, atau penyekrupan. Sebelum disatukan, bagian sol dihaluskan dengan menggunakan gerinda. Pada sol-sol tersebut diberikan primer, bahan kimia berbasis pelarut agar sol tersebut bersih dan dapat melekatkan lem secara efektif.
4. Sesudah dilakukan pengelaman pada bagian sol, kemudian bagian yang sudah dilem tersebut dipanaskan dalam suatu pemanas (biasanya oven) agar lem bertambah kuat. Lalu, agar pengelaman lebih kuat lagi, sepatu tersebut dimampatkan/ditekan dengan mesin press. Proses akhir dapat terdiri dari beberapa kerja seperti: pembersihan, penyemiran, pemberian lilin, pewarnaan, dan penyemprotan dengan cat.
5. Akhirnya, sepatu dikemas dalam kotak atau tas plastik dan siap dipasarkan kepada para konsumen. (ILO, 2003)
Gambar 2.1 Bagan sederhana untuk menggambarkan langkah-langkah utama pembuatan sepatu.
Pembuatan
pola/ desain Pemotongan
Bahan
Penyatuan bagian bawah dan bagian atas
Penyelesaian Persiapan
Bagian Atas
Persiapan Bagian
Bawah Pengemasan
Pernyiapan Bahan
2.1.2 Pajanan Bahan Kimia pada Pembuatan Sepatu
Dalam pembuatan sepatu, paparan bahaya kimia yang serius seringkali disebabkan oleh penggunaan bahan pelarut dalam lem, primer, penghilang minyak, pembersih, dan cat. Gas-gas yang tersebar di sekeliling bengkel – pelarut- tidak hanya terbatas pada proses pengeleman, pencucian/pembersihan, dan penyemiran.
Bahan kimia sepatu memiliki dampak kesehatan jangka panjang yang serius yang dapat muncul pada beberapa tahun ke depan: sebagai contoh kerusakan pada sistem saraf (rendahnya kapasitas intelektual, daya ingat lemah, dan lemahnya alat perasa, dll), kulit, liver, ginjal, paru-paru, sistem kekebalan, dll.
Penanganan bahan kimia yang keliru membahayakan lingkungan di luar bengkel.
Bahan kimia sepatu juga mudah terbakar dan rentan mengakibatkan bahaya kebakaran. Karenanya, jauhkanlah bahan kimia tersebut dari segala hal yang mudah menimbulkan kebakaran: percikan api, rokok, dll.
Lem atau perekat dan banyak pelarut dapat mengandung volatile hidrokarbon seperti benzena, toluena, dan xilena. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pakasi dkk (2006) di dalam Christianti tentang kandungan Kadar Benzena dan Toluene dalam Bahan Perekat yang digunakan di Industri Alas Kaki Sektor Informal Kecamatan Ciomas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Kadar Benzena dan Toluene dalam Beberapa Bahan Perekat No. Merk/ Jenis Bahan
Perekat
Warna Bahan Perekat
Satuan Kadar Benzena
Kadar Toluene
1. Goldbond PVC Putih % 6,2525 28,4088
2. Dongsung NSC Putih % 1,0586 40,7444
3. Serba Guna Kuning % 32,0121 39,7968
4. Bintang Kuning % 1,5749 39,4328
5. 168 ABG Kuning % 1,7469 40,5537
6. Herin - % 2,8581 62,8458
7. EHA Bond Super PC Putih % 11,2733 33,8236
8. Tiga Roda Kuning % 1,2583 31,7835
9. Lem Lateks - % Tidak
Terdeteksi
Tidak Terdeteksi
10. Q Bond Kuning % 1,2530 32,4277
11. 369 Kuning % 1,4484 42,4993
Kemudian, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widjaja dkk Tahun 2012, pada kedua sampel lem yang digunakan di Bengkel Alas Kaki Informal di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa kedua lem mengandung benzena 1,34% dan 1,52% ; toluena 73,72% dan 76,79%.
2.2 Benzena
Benzena merupakan senyawa aromatik tersederhana. Untuk pertama kalinya benzena diisolasi pada tahun 1825 oleh Michael Faraday dari residu berminyak yang tertimbun dalam pipa induk gas di London. Dewasa ini sumber utama benzena, benzena tersubstitusi dan senyawaan aromatik lain adalah petroleum. Sampai tahun 1940, ter batubara merupakan sumber utama. Macam senyawaan aromatik yang diperoleh sumber-sumber ini adalah hidrokarbon, fenol dan senyawaan heterosiklik aromatik. (Fessenden et al, 1991).
2.2.1 Sifat Fisik dan Kimia Benzena
Struktur kimia benzena ditentukan pada tahun 1834 oleh kimiawan Jerman Eilhard Mitscherlich dari Universitas Berlin. Benzena ditemukan sebagai hidrokarbon siklik dengan rumus molekul C6H6. Benzena agak stabil dan bereaksi secara istimewa oleh substitusi dari hidrogen untuk kelompok lain, seperti hidroksil. Turunan benzena yang tersubstitusi mempertahankan karakter aromatik mereka, mungkin karena retensi distribusi resonansi elektron antara cincin karbon.
Derivatif benzena awalnya disebut hidrokarbon aromatik, karena sifat harum dari beberapa senyawa ini.
Dalam penampilan fisik, benzena adalah cairan tak berwarna yang memiliki bau manis yang khas. Kebanyakan manusia dapat mencium benzena pada ambang 1,5 - 5 ppm di udara dan merasakannya pada konsentrasi yang serendah 0,5 - 4,5 ppm dalam air. Benzena memiliki tekanan uap tinggi 95,2 mmHg pada 25ºC dan menguap pada suhu kamar. Meskipun nonpolar, benzena ini cukup larut dalam air (1780 mg l-1 pada 25ºC).
Kemampuan untuk menggantikan berbagai kelompok fungsional ke struktur cincin membuat benzena berguna dalam sintesis berbagai senyawa aromatik di industri. Karena simetris, struktur hidrokarbon tak jenuh, benzena telah banyak digunakan sebagai pelarut nonpolar di industri. Meluasnya penggunaan benzena untuk tujuan industri telah membuatnya berada di atmosfer dan habitat akuatik, hal ini menyebabkan keprihatinan bagi kesehatan dan keselamatan manusia, tanaman, ikan dan satwa liar. (Jorgensen, 2010)
2.2.2 Sumber Benzena A. Sumber Alami
Sumber alami dari benzena termasuk emisi gas dari kebakaran hutan dan gunung berapi, namun benzena yang paling terkenal sebagai konstituen minyak mentah. Benzena cepat menghilang di lingkungan, dan umumnya hanya ditemukan di konsentrasi yang tinggi setelah kecelakaan industri atau tumpahan bahan kimia. Benzena dapat dengan mudah dari tanah atau air ke udara, dan kemudian dapat masuk kembali ke tanah atau ekosistem air sebagai residu dalam salju atau air hujan. (Jorgensen, 2010)
B. Sumber dari Industri
Benzena adalah salah satu dari sepuluh kimia organik yang konsisten dihasilkan setiap tahun di Amerika Serikat, dengan produksi tertinggi benzena di AS pada tahun 2000. Benzena biasanya digunakan sebagai pelarut dan sintetik intermediet dalam industri kimia dan farmasi. Lebih dari 90% benzena yang dihasilkan setiap tahun digunakan dalam aplikasi synthetis kimia, termasuk etilbenzena (produksi styrene), cumune (produksi fenol dan aseton), sikloheksana, dan nitrobenzene (produksi anilin dan resin). (Jorgensen, 2010)
2.2.3 Sumber Pemaparan Benzena
Setiap orang dapat terpapar sejumlah kecil benzena setiap hari di lingkungan luar, di tempat kerja, dan di rumah. Paparan dari populasi umum untuk benzena terutama terjadi melalui udara pernapasan yang mengandung benzena. Sumber utama paparan benzena adalah asap tembakau, stasiun layanan mobil, knalpot dari kendaraan bermotor, dan emisi industri. Uap (atau gas) dari produk yang mengandung benzena, seperti lem, cat, lilin furnitur, dan deterjen, dapat menjadi sumber paparan.
Sumber paparan benzena juga dapat berasal dari auto knalpot dan emisi industri yang mencapai sekitar 20% dari total eksposur nasional untuk benzena.
Hasil dari Amerika Serikat menunjukkan sekitar setengah dari paparan benzena berasal dari tembakau atau dari paparan asap tembakau. Rata-rata perokok (32 batang per hari) mengambil di sekitar 1,8 miligram (mg) benzena per hari. Jumlah ini sekitar 10 kali asupan harian rata-rata benzena untuk bukan perokok.
Mengukur kadar benzena di udara luar ruangan berkisar 0,02-34 bagian dari benzena per miliar bagian udara (ppb) (1 ppb adalah 1.000 kali lebih kecil
dari 1 ppm). Orang yang tinggal di kota atau daerah industri umumnya terkena tingkat yang lebih tinggi dari benzena di udara daripada mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Kadar benzena di dalam ruangan biasanya lebih tinggi daripada di luar ruangan. Orang dapat terkena tingkat yang lebih tinggi dari benzena di udara dengan tinggal di dekat lokasi limbah berbahaya, operasi penyulingan minyak bumi, situs manufaktur petrokimia, atau pompa bensin.
Bagi kebanyakan orang, kadar paparan benzena melalui makanan, minuman, atau air minum tidak setinggi melalui udara. Minum air biasanya mengandung kurang dari 0,1 ppb benzena. Benzena telah terdeteksi di beberapa botol air, minuman keras, dan makanan. Kebocoran dari tangki penyimpanan bensin di bawah tanah atau dari tempat pembuangan sampah dan limbah berbahaya yang mengandung benzena dapat mengakibatkan kontaminasi benzena air sumur. Orang yang memiliki air keran terkontaminasi benzena dapat terpajan dari kegiatan mandi, minum air atau makan makanan yang disiapkan dengan air tersebut.
Individu yang bekerja di industri yang membuat atau menggunakan benzena mungkin terkena benzena tingkat tertinggi. Sebanyak 238.000 orang mungkin pekerjaannya terekspos benzena di Amerika Serikat. Industri-industri ini termasuk produksi benzena (petrokimia, penyulingan minyak bumi, dan coke dan manufaktur kimia batubara), manufaktur ban karet, dan penyimpanan atau transportasi benzena dan produk minyak bumi yang mengandung benzena.
Pekerja lain yang mungkin terkena benzena termasuk kokas pekerja oven dalam industri baja, printer, pekerja karet, pembuat sepatu, teknisi laboratorium, petugas pemadam kebakaran, dan karyawan SPBU. (ATSDR, 2007)
2.2.4 Toksikokinetika Benzena
Toksikokinetika adalah kuantisasi waktu perjalanan racun dalam tubuh selama proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Dengan kata lain, toksikokinetika adalah refleksi dari bagaimana tubuh menangani racun. Hasil akhir dari proses-proses toksikokinetika adalah dosis biologis efektif racun tersebut.
Pajanan utama benzena yaitu melalui jalur inhalasi. Benzena lebih mudah masuk melalui inhalasi dan juga oral. Meskipun benzena juga mudah diserap dari kulit, sejumlah besar aplikasi dermal menguap dari permukaan kulit. Benzena yang diserap dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh dan cenderung terakumulasi dalam jaringan lemak. Hati memiliki fungsi penting dalam metabolisme benzena, yang menghasilkan produksi beberapa metabolit reaktif berupa fenol, hydroquinone dan katekol. (ATSDR, 2007)
Organ target benzena terdiri dari sumsum tulang, sistem syaraf pusat dan sistem kekebalan :
1. Sumsum tulang
Benzena mempengaruhi batang dan progenitor sel di sumsum tulang manusia.
Anemia aplastik yang fatal telah dilaporkan pada individu yang terkena tingkat signifikan benzena (umumnya >10 ppm udara dalam pengaturan kerja). Manusia dapat menunjukkan penurunan sel darah putih (leukopenia) yang berpotensi mengakibatkan kematian akibat infeksi; penurunan jumlah trombosit (trombositopenia) yang berpotensi mengakibatkan kematian karena perdarahan; dan penurunan jumlah sel darah merah (anemia).
2. Sistem syaraf pusat
Keracunan sistem saraf akut : tampaknya mirip dengan efek anestesi umum pelarut lipofilik dan diasumsikan efek langsung dari benzena tidak terkait dengan metabolitnya. Tingkat di mana efek sistem saraf pusat akut menjadi jelas setidaknya di atas 100 ppm, meskipun efek ringan bisa terjadi pada tingkat yang lebih rendah.
3. Sistem kekebalan
Pada hewan laboratorium telah jelas menunjukkan bahwa disfungsi kekebalan tubuh adalah hasil dari paparan tingkat tinggi untuk benzena.
Lymphocytopenia adalah efek awal paparan benzena pada hewan dan manusia. Untuk paparan yang lebih rendah, efek pada sistem kekebalan tubuh belum jelas ditunjukkan.
2.2.4.1 Absorpsi
Absorpsi merupakan perpindahan xenobiotik (zat asing) dari luar organisme menuju ke aliran darah dari organisme. Umumnya mengikuti proses pemaparan dan menunjukkan dosis zat xenobiotik yang diterima oleh organisme.
Proses absorpsi toksikan dalam tubuh dapat melalui saluran pernapasan (paru), saluran pencernaan dan kulit. (Mukono, 2005)
1. Absorpsi pada Saluran Pernapasan (Paru)
Toksikan yang diabsorpsi di paru, biasanya berupa gas : CO, NO2, SO2, uap benzena, uap karbon tetraklorida dan aerosol. Saluran pernapasan (paru) atau disebut jalur inhalasi merupakan jalur utama benzena masuk ke dalam tubuh. Melalui jalur inhalasi, dalam 5 menit pertama, penyerapan mencapai 70-80%, tetapi 1 jam setelahnya,
penyerapan berkurang menjadi sekitar 50% (kisaran, 20-60%). Serapan pernapasan (jumlah benzena diserap dari paru-paru berikut menghirup uap) di enam relawan termasuk pria dan wanita yang terpapar 52-62 ppm benzena selama 4 jam menjadi sekitar 47%. Jumlah benzena diserap diperkirakan dari perbedaan antara konsentrasi dihirup dan konsentrasi dihembuskan. (ATSDR, 2007).
2. Absorpsi pada Saluran Pencernaan Makanan
Saluran perncernaan makanan merupakan salah satu jalur penting dari absorpsi toksikan. Banyak toksikan lingkungan masuk melalui rantai makanan dan diserap melalui saluran pencernaan. Proses absorpsi tersebut tidak menimbulkan efek toksik kecuali jika diserap oleh tubuh. Lambung merupakan tempat penyerapan yang baik untuk asam lemak dengan bentuk non-ion yang larut dalam lemak. Untuk basah lemah yang mengion dan tidak larut dalam lemak tidak mudah diserap oleh lambung, pada umumnya diserap oleh usus. Sebaliknya untuk basa organik lebih banyak diserap di usus daripada di lambung.
(Mukono, 2005).
Meskipun data ilmiah yang pasti tidak tersedia pada penyerapan melalui saluran pencernaan makanan (oral) benzena pada manusia, studi kasus keracunan disengaja atau tidak disengaja menunjukkan bahwa benzena diserap melalui rute oral. Studi pada tikus dan mencit menunjukkan bahwa penyerapan gastrointestinal lebih besar dari 97%
pada kedua spesies ketika hewan diberikan benzena pada dosis 0,5-150 mg/kg/hari. Ada sejumlah studi yang memberikan benzena dalam air
minum kepada hewan yang diprediksi menyerupai pajanan oral pada manusia. Meskipun tidak ada informasi yang terletak mengenai tingkat absorpsi oral benzena dalam larutan air, dapat diasumsikan bahwa penyerapan oral benzena hampir 100%. (ATSDR, 2007).
3. Absorpsi pada Kulit
Absorpsi toksikan oleh kulit relatif kurang baik/impermeable dan merupakan pelindung yang baik untuk mempertahankan fungsi kulit manusia dari pengaruh lingkungan. Zat kimia dalam jumlah yang cukup besar apabila diserap oleh kulit dapat menimbulkan efek sistematik.
Kulit merupakan bagian tubuh yang dirancang untuk mencegah penyerapan supaya tidak mudah terjadi keracunan. Kulit tidak dapat melakukan pertukaran zat dengan darah. Perpindahan bahan dari luar lapisan yang terserap ke dalam sistem (vaskuler) sangat lambat, hal tersebut karena luas pori hanya sekitar > 100 µm. Jika penyerapan secara perlahan maka kulit berperan penting dalam efek lolos pertama (first pass effect). Hal ini berarti ada transformasi biologis zat toksik dalam epidermis, meskipun aktivitasnya hanya 2 – 6 % dari kegiatan yang dilakukan liver. (Mukono, 2005)
Studi in vivo dan in vitro yang dilakukan pada kulit manusia menunjukkan bahwa benzena dapat diserap di kulit. Gerakan zat melalui kulit ke dalam darah terjadi dengan difusi pasif dan telah digambarkan secara matematis oleh hukum Fick. Dalam percobaan vivo pada empat relawan, 0,0026 mg/cm2 dari 14C-benzena
diaplikasikan pada kulit lengan bawah, menunjukkan bahwa sekitar 0,05% dari dosis yang diterapkan diserap kulit. Penyerapan terjadi dengan cepat, dengan lebih dari 80% dari total ekskresi dosis yang diserap terjadi di 8 jam pertama setelah aplikasi. Dalam percobaan in vitro menggunakan kulit manusia mendukung fakta bahwa benzena dapat diserap di kulit. Percobaan pada permeabilitas kulit manusia yang berkenaan dengan benzena mengakibatkan penyerapan 0,17 mg/cm2 setelah 0,5 jam dan 1,92 mg/cm2 setelah 13,5 jam. Berikut aplikasi dari 5, 120, 270, dan 520 µL/cm2 benzena pada kulit manusia, total penyerapan ditemukan 0,01, 0,24, 0,56, dan 0,9 µL/cm2, masing- masing. Dengan demikian, jumlah total yang diserap tampaknya meningkat secara linear dengan dosis yang diberikan. Sebuah studi menunjukkan bahwa penguapan benzena tidak melebihi 5%. Ketika waktu pemaparan (waktu untuk menyelesaikan penguapan) pada setiap dosis diukur dan diplot sebagai ordinat penyerapan, total penyerapan ditemukan meningkat secara linear dengan waktu paparan.
Menggunakan hasil dari studi in vitro, diperkirakan bahwa orang dewasa yang bekerja di udara ambien yang mengandung 10 ppm benzena akan menyerap 7,5 µL/jam dari inhalasi dan 1,5 µL/jam dari seluruh tubuh (2 m2) paparan dermal. Hal itu juga memperkirakan bahwa 100 cm2 kulit telanjang yang kontak dengan bensin yang mengandung 5% benzena akan menyerap 7,0 µL/jam. Difusi melalui stratum korneum dianggap paling mungkin untuk membatasi
penyerapan dermal karena benzena memiliki kelarutan air yang rendah. (ATSDR, 2007)
2.2.4.2 Distribusi
Setelah mengalami absorpsi. Maka, benzena akan mengalami distribusi di dalam tubuh yang sejalan dengan jalur masuknya. Melalui saluran pernapasan atau inhalasi, benzena didistribusikan ke seluruh tubuh berikut penyerapannya ke dalam darah. Benzena bersifat lipofilik, sehingga distribusi pajanan benzena tinggi pada jaringan lemak.
Jaringan lemak merupakan tempat penyimpanan yang penting bagi zat yang larut dalam lemak. Toksikan yang daya larutnya tinggi dalam lemak memungkinkan konsentrasinya rendah dalam target organ, sehingga dapat dianggap sebagai mekanisme perlindungan. Toksisitas zat tersebut pada orang yang gemuk menjadi lebih rendah jika dibanding dengan orang yang kurus.
Paparan inhalasi benzena telah terdeteksi dalam jaringan dan cairan biologis tubuh. Kadar benzena dalam jaringan dan cairan telah dilaporkan dalam kasus pajanan yang mematikan yaitu sekitar 0,38 mg% terdapat dalam darah (mg% = mg per 100 ml darah atau mg per 100g jaringan), 1,38 mg% di otak, dan 0,26 mg% dalam hati dilaporkan pada pekerja yang meninggal akibat paparan konsentrasi udara yang sangat tinggi. Kasus lainnya, yaitu hasil autopsi yang dilakukan pada seorang pemuda yang meninggal saat mengendus benzena mengungkapkan bahwa konsentrasi benzena terdapat sekitar 2,0 mg% dalam darah, 3,9 mg% di otak, 1,6 mg% dalam hati, 1,9 mg% pada ginjal, 1 mg% di perut, 1,1 mg% dalam empedu, 2.23 mg% lemak perut, dan 0,06 mg% dalam urin.
Benzena juga didistribusikan ke ginjal, paru-paru, hati, otak, dan limpa.
Organ liver (hati) dan ginjal tersebut memiliki kapasitas yang lebih tinggi dalam mengikat bahan kimia, sehingga bahan kimia lebih banyak terkonsentrasi pada organ ini jika dibandingkan dengan organ lainnya. Hal ini berhubungan dengan fungsi kedua organ ini dalam mengeliminasi toksikan dalam tubuh. Ginjal dan liver mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan toksikan. Organ liver (hati) cukup tinggi kapasitasnya dalam proses biotransformasi.
Organ liver (hati) memiliki fungsi penting dalam metabolisme benzena, yang menghasilkan beberapa metabolit reaktif. Metabolit benzena berupa fenol, katekol, dan hydroquinone yang terdeteksi dalam darah dan sumsum tulang selama 6 jam paparan. Kadar fenol dalam darah dan sumsum tulang menurun jauh lebih cepat setelah paparan berhenti daripada katekol atau hydroquinone, hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya akumulasi katekol atau hydroquinone.
Distribusi benzena juga bisa terjadi melalui jalur oral dan dermal/kulit.
Namun, tidak terdapat studi yang secara langsung melihat jalur distribusi benzena melalui oral dan dermal/kulit pada manusia. Salah satu studi mengenai distribusi melalui paparan oral yang dilakukan pada tikus yang diberikan dosis tunggal 0,15, 1,5, 15, 150, atau 500 mg/kg 14C-benzena dengan cara gavage, yaitu memberikan zat pada subjek ke lambung melalui tabung, benzena dengan cepat diserap dan didistribusikan ke berbagai organ dan jaringan dalam waktu 1 jam. Distribusi benzena tertinggi di hati dan ginjal, antara dalam darah, jaringan rongga hidung, dan kelenjar susu. Sumsum tulang dan jaringan adiposa (jaringan yang tersusun atas lipid atau lemak) terbukti menjadi organ dimana akumulasi benzena terjadi
pada tingkat dosis yang lebih tinggi. Metabolit benzena berupa hydroquinone setelah pemberian 15 mg/kg benzena selama 1 jam berada di hati, ginjal, dan darah, sedangkan metabolit benzena berupa fenol berada di rongga mulut, rongga hidung, dan ginjal. Jaringan utama metabolit terkonjugasi benzena ini terletak di darah, sumsum tulang, rongga mulut, ginjal, dan hati untuk fenil sulfat dan hydroquinone glukuronida serta asam muconic. (ATSDR, 2007)
2.2.4.3 Metabolisme
Metabolisme benzena pada manusia terutama berasal dari paparan inhalasi atau saluran pernapasan. Benzena diekskresikan tanpa mengalami perubahan melalui paru-paru dan sebagai metabolit (tetapi juga sebagai senyawa induk dalam jumlah kecil) dalam urin. Tingkat dan persentase ekskresi melalui paru-paru tergantung pada jalur dan dosis paparannya. Metabolisme dan eliminasi dari benzena tampak serupa pada manusia dan hewan laboratorium. Skema metabolisme ditunjukkan pada Gambar 2.1 yang didasarkan dari berbagai hasil penelitian mekanistik metabolisme benzena. Dalam metabolisme benzena, terdapat dua enzim yang terlibat, yaitu sitokrom P450 2E1 (CYP2E1) dan kuinon oksidoreduktase (NQ01). Langkah pertama adalah sitokrom P-450 2E1 (CYP2E1) dari benzena dioksidasi katalis membentuk benzena oksida, yang berada dalam kesetimbangan dengan benzena oxepin.
Beberapa jalur yang terlibat dalam metabolisme benzena oksida. Jalur dominan melibatkan penataan ulang non enzimatik untuk membentuk fenol yang merupakan produk utama dari metabolisme benzena. Fenol teroksidasi dengan adanya CYP2E1, sedangkan katekol atau hydroquinone teroksidasi melalui
myeloperoxidase (MPO) ke metabolit reaktif 1,2- dan 1,4-benzoquinon, masing- masing.
Reaksi balik (pengurangan 1,2- dan 1,4-benzokuinon untuk katekol dan hydroquinone, masing-masing) dikatalisis oleh NAD(P)H:kuinon oksidoreduktase (NQ01). Kedua katekol dan hydroquinone dapat dikonversi menjadi metabolit reaktif 1,2,4-benzenet Riol melalui CYP2E1 katalisis atau benzena oksida dapat mengalami epoksida hidrolase-katalis yang dikonversi menjadi benzena dihydrodiol dan selanjutnya dihydrodiol dehidrogenase-katalis di konversi menjadi katekol. Masing-masing dari metabolit fenolik benzena (fenol, katekol, hydroquinone, dan 1,2,4-benzenetriol) dapat mengalami konjugasi sulfonat atau glukuronat. Konjugat fenol dan hydroquinone merupakan metabolit kemih utama benzena. Jalur lain dari metabolisme benzena oksida meliputi : (1) Reaksi dengan glutation (GSH) untuk membentuk S-phenylmercapturic asam, dan (2) iron- catalyzed ring-opening (FE/OH) dikonversi ke trans, asam trans-muconic, melalui reaktif trans, trans-muconaldehyde menengah.
Hasil beberapa penelitian memberikan bukti kuat untuk keterlibatan CYP2E1 dalam oksidasi benzena. Dalam studi vitro menggunakan mikrosom hati manusia menunjukkan korelasi positif antara metabolisme benzena dan aktivitas CYP2E1. Meskipun CYP2E1 tampaknya menjadi agen katalisator utama dalam metabolisme benzena awal, CYPs lainnya, seperti CYP2B1 dan CYP2F2, juga mungkin terlibat. CYPs terlibat dalam metabolisme benzena yang ditemukan di semua jaringan. Namun, metabolisme dominan benzena terletak pada hati. Hati memiliki fungsi penting dalam metabolisme benzena, yang menghasilkan produksi beberapa metabolit reaktif. (ATSDR, 2007)
Gambar 2.2 Jalur Metabolisme Benzena
2.2.4.4 Eliminasi dan Ekskresi
Toksikan dapat dieliminasi dari tubuh melalui beberapa rute. Ginjal merupakan organ penting untuk mengeluarkan racun. Beberapa xenobiotik diubah terlebih dahulu menjadi bahan yang larut dalam air sebelum dikeluarkan dari tubuh. Rute lain yang menjadi lintasan utama untuk beberapa senyawa tertentu diantaranya adalah liver dan sistem empedu serta paru-paru.
Benzena yang diserap oleh manusia akan diekskresikan melalui metabolisme menjadi fenol dan asam muconic diikuti oleh ekskresi urin derivatif terkonjugasi (sulfat dan glucuronides). Penelitian yang menggunakan enam relawan pria dan wanita yang dipaparkan 52 - 62 ppm benzena selama 4 jam, ekskresi pernafasan (jumlah benzena yang diserap, kemudian diekskresi melalui paru-paru) adalah sekitar 17%; tidak ada perbedaan yang berkaitan dengan gender
yang diamati. Hasil dari studi 23 subyek yang menghirup 47 - 110 ppm benzena selama 2 - 3 jam menunjukkan bahwa 16,4 - 41,6% dari benzena diekskresikan oleh paru-paru dalam waktu 5-7 jam. Ekskresi benzena yang terbesar adalah selama satu jam pertama. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hanya 0,07- 0,2% dari benzena yang diserap diekskresikan dalam urin. Konsentrasi benzena dalam urin (fenol) digunakan sebagai biomarker dari paparan.
Data mengenai metabolisme benzena melalui jalur oral dan dermal/kulit pada manusia sangat terbatas. Salah satu studi mengenai metabolisme benzena melalui jalur dermal/kulit yaitu paparan benzena cair 0,06g/cm2 pada 35 - 43 cm2 lengan bawah selama 1,25 - 2 jam, penyerapan diperkirakan dari jumlah fenol yang dieliminasi dalam urin. Tingkat penyerapan benzena cair dengan kulit (di bawah kondisi jenuh lengkap) sekitar 0,4 mg/cm2/jam. Meskipun ada variabilitas yang besar dalam nilai-nilai fisiologis, jumlah fenol yang dikeluarkan adalah 8,0 - 14,7 mg selama periode 24 jam setelah paparan. Diperkirakan bahwa sekitar 30%
dari benzena melalui paparan dermal diserap dan dieliminasi dalam bentuk fenol dalam urin. (ATSDR, 2007)
2.2.5 Efek Kesehatan Akibat Pajanan Benzena
Benzena dapat menjadi racun apabila masuk melalui oral, inhalasi, dan penyerapan melalui kulit. Benzena menyebabkan efek narkotik dan iritasi ringan pada mata dan membran mukosa saluran napas. Paparan jangka panjang terhadap kadar yang lebih rendah dapat berakibat supresi sumsum tulang dan dapat juga dihubungkan dengan peningkatan insiden leukimia. Benzena cair memiliki efek defatting (menghilangkan lapisan lemak) pada kulit ; oleh karena itu, kontak dengannya dapat menyebabkan dermatitis. Pada keracunan akut benzena, efek
narkotik utama antara lain yaitu rasa pusing, nyeri kepala, kekacauan, perasaan mabuk, mual, jalan sempoyongan, koma, dan kematian akibat henti napas.
(Wijaya, 1995)
Selain itu, pada paparan akut benzena ringan sampai sedang pada kulit menyebabkan perkembangan eritema, terbakar, dan edema. Dalam saluran pencernaan, benzena menghasilkan sensasi terbakar pada membran mukosa mulut, kerongkongan, dan perut setelah konsumsi, disertai rasa mual, muntah, dan sakit perut dan paparan inhalasi menyebabkan iritasi bronkial, batuk, suara serak, edema paru, dan pneumonitis kimia. Sedangkan, paparan pada mata dapat menyebabkan cedera kornea reversibel. (National Institute of Health, 2014)
Studi menunjukkan benzena diserap paling efisien oleh oral (mendekati 100%), diikuti oleh inhalasi (50%) dan, pada tingkat lebih rendah, melalui kulit.
Benzena tidak disimpan dalam tubuh untuk waktu yang lama. Dalam waktu 48 jam setelah paparan, sebagian besar benzena telah berubah menjadi bahan kimia lainnya atau keluar dari tubuh. (ATSDR, 2007)
2.2.5.1 Efek Jangka Pendek (Akut) 1) Efek Terhadap Pernapasan
Alur pajanan utama benzena ke dalam tubuh adalah melalui inhalasi.
Ketika benzena diserap dalam sistem pernapasan, ia memiliki potensi untuk langsung masuk ke dalam sirkulasi paru-paru melalui vena paru. Vena ini menyediakan oksigen dan gas lainnya yang merupakan rute langsung ke jantung dari paru-paru. (Gussenhoven, 2000)
Paparan akut benzena ringan sampai sedang dapat menyebabkan iritasi bronkial, batuk, suara serak, edema paru, dan pneumonitis kimia. Ambang bau
yang umumnya memberikan peringatan yang memadai dari konsentrasi akut berbahaya (ambang bau 1,5 - 5 ppm). Uap benzena yang lebih berat daripada udara bisa menyebabkan sesak napas di ruang tertutup, ventilasi yang buruk, atau daerah dataran rendah. (ATSDR, 2014)
Paparan akut uap benzena dapat mengiritasi membran mukosa saluran pernapasan. Dengan paparan sebesar 20.000 ppm selama 5 menit, terdapat akumulasi cairan di paru-paru sehingga susah dan sesak untuk bernafas, efek yang terjadi ketika mengirup uap benzena atau tertelan cairan benzena dapat menyebabkan peradangan hemoragik berat paru-paru. (ATSDR, 2014)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widjaja dkk (2012) tentang Keluhan Pernapasan dan Analisis Risiko Kesehatan Pajanan BTX (Benzena, Toluena dan Xilena) pada Pekerja di Bengkel Alas Kaki Informal di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa semua subjek sebanyak 33 orang pekerja terpajan benzena melebihi TLV-TWA 0,5 ppm, dan lebih dari setengahnya (63,03%) sering mengalami gejala iritasi saluran pernafasan. Terlihat bahwa prevalens gejala iritasi saluran pernapasan yang ditemukan berupa batuk 39,4%, pilek 54,5%, dan sesak 27,3%.
Hal tersebut dapat terjadi oleh karena ketika seseorang menghirup benzena maka sekitar 40-60% dari keseluruhan jumlah benzena yang terhirup akan masuk ke dalam saluran pernapasan dan dapat mengiritasi membran mukosa.
Kemudian, benzena yang tidak segera keluar melalui ekspirasi akan masuk ke dalam aliran darah. Benzena akan larut dalam cairan tubuh dalam konsentrasi sangat rendah sehingga akan cepat terakumulasi dalam jaringan lemak karena
kelarutannya yang tinggi dalam lemak. Uap benzena mudah diabsorpsi oleh darah dimana sebelumnya diabsorpsi dengan baik oleh jaringan lemak (ATSDR, 2007).
2) Efek Terhadap Sistem Saraf
Benzena menyebabkan neurotoksisitas, merusak sel-sel sistem saraf pusat termasuk otak dan saraf serta sistem saraf perifer akibat paparan racun. Benzena sebagai neurotoxin dapat bertindak sebagai inhibitor acetylcholinesterase, untuk mengikat reseptor sinaptik, atau merangsang saluran trasport mengakibatkan gejala seperti vertigo, pusing, gangguan keseimbangan, dan kejang-kejang. Selain itu, mekanisme aksi untuk benzena sebagai neurotoxin tidak diketahui secara luas.
Paparan kronis benzena dan toluena yang diamati pada 121 pekerja yang terpapar benzena selama 2 - 9 tahun dengan konsentrasi benzena di udara antara tahun 1962 dan 1965 adalah 6 - 15,6 ppm, sedangkan uap toluena tidak melebihi yaitu 5 mg/m3. Tujuh puluh empat pekerja diperiksa mengeluh sering sakit kepala (biasanya pada akhir hari kerja), menjadi mudah lelah, memiliki kesulitan tidur, dan mengeluh kehilangan memori. Keterbatasan penelitian ini adalah bahwa para pekerja terpapar kedua benzena dan toluena, dan dosis yang tepat serta durasi paparan tidak diketahui. (ATSDR, 2007)
Banyak negara belum menetapkan hukum yang ketat atau badan pemerintah yang menyediakan dan menegakkan peraturan untuk rilis kimia beracun ke lingkungan atau di tempat kerja. Bahkan dengan bukti kemampuan penyebab kanker nya, beberapa telah memilih untuk mengabaikan bukti ini demi keuntungan ekonomi. Kabarnya, pabrik di China yang memproduksi sepatu Nike dan Reebok dituduh mengekspos pekerja mereka ke tingkat tinggi benzena setiap hari. Meskipun konsentrasi pajanan tidak tersedia, tingkat benzena yang cukup
tinggi untuk menyebabkan gejala akut ringan, sakit kepala, ketidakseimbangan, dan mual umumnya terjadi pada tingkat paparan dari 50 - 150 ppm menurut Immig (1998). Tingkat risiko minimum (BMR) yang ditetapkan untuk efek neurologis menengah adalah jauh di bawah kisaran ini dengan nilai 0,004 ppm per hari. Selain itu, jumlah ini jauh di atas 31 ppm yang telah dicatat untuk meningkatkan penyimpangan kromosom dalam limfosit dari pekerja yang terpapar dalam meningkatkan potensi kanker. (Gussenhoven, 2000)
Paparan inhalasi benzena jangka pendek (akut) ke tingkat yang sangat tinggi dapat menyebabkan efek sistem saraf pusat seperti pusing, mual, muntah, sakit kepala, mengantuk, tremor, dan kehilangan kesadaran. Selain efek tersebut, menghirup konsentrasi tinggi benzena mungkin memiliki efek stimulasi awal pada sistem saraf pusat yang ditandai dengan eksitasi saraf atau pusing, diikuti dengan periode depresi, mengantuk, atau kelelahan. (Federal Register, 2001)
Tingkat keparahan efek tergantung pada konsentrasi dan reversibel setelah paparan berakhir. Dalam kebanyakan kasus, orang akan berhenti merasakan keluhan ketika tidak lagi menghirup benzena dan mulai menghirup udara segar. (ATSDR, 2007)
Pada tahap akut, toksisitas benzena tampaknya terutama disebabkan oleh efek langsung dari benzena pada sistem saraf pusat, sedangkan sistem saraf perifer tampaknya menjadi target berikut eksposur kronis tingkat rendah. Selain itu, karena benzena dapat menyebabkan peningkatan katekolamin otak, mungkin juga memiliki efek sekunder pada sistem kekebalan tubuh melalui sumbu hipotalamus- hipofisis-adrenal. Peningkatan metabolisme katekolamin dapat mengakibatkan peningkatan kadar kortikosteroid adrenal, yang imunosupresif. (ATSDR, 2007)
Perkiraan tingkat paparan risiko minimal untuk manusia (Minimal Risk Level/MRL) telah dibuat untuk benzena. MRL didefinisikan sebagai perkiraan
eksposur manusia sehari-hari untuk zat yang mungkin tanpa resiko yang cukup dari efek samping (non-karsinogenik) selama durasi paparan tertentu. MRL berasal ketika ada data yang handal dan memadai untuk mengidentifikasi efek organ target atau efek kesehatan yang paling sensitif untuk durasi tertentu dalam rute paparan yang diberikan. MRL didasarkan pada efek kesehatan non-kanker saja dan tidak mempertimbangkan efek karsinogenik. MRL dapat diturunkan untuk durasi eksposur akut, menengah, dan kronis untuk rute inhalasi dan oral.
Minimal Risk Level (MRL) pajanan inhalasi benzena, yaitu : 1) Pajanan akut (≤14 hari) = 0,009 ppm
2) Pajanan menengah (15-364 hari) = 0,006 ppm 3) Pajanan kronik (≥365 hari)= 0,003 ppm
Nilai MRL ini tidak berarti bahwa ada potensi neurotoksik rendah untuk paparan akut benzena, tetapi menunjukkan bahwa ada informasi yang cukup tentang efek neurologis sensitif pada tingkat paparan yang rendah. (ATSDR, 2007)
3) Efek Terhadap Mata
Pajanan benzena dapat mengakibatkan iritasi mata. Gejala yang muncul terdiri dari perih/sakit, mata merah, dan berair. Uapnya juga dapat mengiritasi mata. Konsentrasi tinggi uap benzena dapat menyebabkan iritasi mata dan pandangan kabur. Ketika memercik di mata, benzena dapat menyebabkan nyeri terbakar dan peluruhan dari permukaan mata. (ATSDR, 2014)
4) Efek Terhadap Kulit
Benzena bersifat iritasi lokal. Paparan benzena pada kulit dapat menyebabkan pengembangan eritema, terbakar, dan edema. Iritasi kulit telah dicatat pada pekerja dengan pajanan > 60 ppm selama 3 minggu. Efek ini dapat terjadi karena kontak langsung kulit dengan uap benzena, dan efek kulit lainnya akibat kontak langsung dengan kulit. (ATSDR, 2007)
2.2.5.2 Efek Jangka Panjang (Kronis)
Benzena diklasifikasikan oleh Environmental Protection Agency AS (EPA) di bawah pedoman kanker sebagai "karsinogenik bagi manusia".
Sementara penelitian mengenai karsinogenisitas benzena melalui paparan oral kepada manusia belum berada dalam literatur yang tersedia. (ATSDR, 2007)
Paparan tingkat tinggi benzena (200 ppm) yang berulang dapat mengakibatkan efek CNS persisten. Paparan kronis benzena di tempat kerja telah dikaitkan dengan gangguan hematologi (yaitu, trombositopenia, anemia aplastik, pansitopenia, dan leukemia myelgenous akut). Paparan kronis mungkin lebih serius untuk anak-anak karena potensi jangka waktu yang lebih laten.
(ATSDR, 2014)
1) Efek pada Depresi Sumsum Tulang
Terdapat beberapa jenis kerusakan darah yaitu pansitopenia, anemia aplastik, trombositopenia, granulositopenia dan lymphocytopenia yang dicatat akibat paparan benzena. Organ target utama untuk benzena yang menghasilkan perubahan hematologis adalah sumsum tulang.
Sebagian besar kasus ini dilaporkan beberapa tahun yang lalu, ketika benzena digunakan sebagai pelarut dalam tempat kerja yang berbeda.
Peningkatan frekuensi anemia terdeteksi antara pekerja sepatu, pekerja rotogravure dan pekerja pabrik karet dengan kontak yang terlalu lama dengan konsentrasi benzena yang tinggi (ratusan miligram benzena per m3).
Selain itu, ditemukan bahwa pekerja yang terpapar benzena konsentrasi sedang (sekitar 120 mg/m3) memiliki signifikan menunjukkan jumlah sel darah putih dan merah lebih rendah dari rata-rata jika dibandingkan dengan pekerja yang terpapar di bawah konsentrasi sedang.
Pada pekerja yang terpapar 0,03-4,5 mg/m3, tidak ada perbedaan hasil hematologikal dengan pekerja yang tidak terpajan. Dalam evaluasi literatur oleh WHO Task Group, menyatakan bahwa depresi sumsum tulang atau anemia tidak terjadi pada pekerja yang terpapar pada 3,2 mg/m3 (1 ppm) atau kurang selama 10 tahun. (WHO, 2000)
2) Efek Imunologi
Studi terdahulu pada pekerja yang terpajan benzena, toluena dan xilena telah menunjukkan penurunan tingkat agglutinins dan IgG dan IgA imunoglobulin, dan peningkatan kadar IgM. Hilangnya leukosit telah diamati dalam beberapa penelitian pada pekerja yang terpapar serta menurunnya jumlah limfosit T. Dalam sebuah studi pekerja kilang terbuka pada konsentrasi benzena kurang dari 32 mg/m3, tidak ada efek imunologi yang terlihat.
(WHO, 2000) 3) Efek Reproduksi
Meskipun benzena dapat melewati plasenta, tidak terdapat bukti efek reproduksi teratogenik atau lainnya pada manusia, kecuali beberapa laporan terdahulu menunjukkan terganggunya siklus menstruasi pada wanita yang
terpajan tinggi benzena dan pelarut aromatik lainnya. Sebuah studi baru-baru tidak menemukan peningkatan risiko aborsi spontan antara istri-istri dari 823 pekerja laki-laki yang pekerjaannya terekspos tingkat benzena kurang dari atau sekitar 15 mg/m3. (WHO, 2000)
4) Efek Genotoksik
Terdapat beberapa penelitian tentang efek kromosom pada pekerja yang terpajan. Terdapat perubahan baik struktural dan numerik pada kromosom dengan pajanan benzena cukup tinggi untuk menghasilkan efek hematologis.
Efek kromosom dalam studi ini berada pada konsentrasi sekitar 320 mg/m3 (100 ppm) atau lebih tinggi, tetapi dalam beberapa penelitian efek dilaporkan pada pekerja yang terpapar kronis dengan kadar sekitar 32 mg/m3 (10 ppm).
Frekuensi penyimpangan kromosom menurun ketika tingkat paparan menurun 3-69 mg/m3 menjadi 1-18 mg/m3. (WHO, 2000)
5) Efek Karsinogenik
Beberapa studi klinis dan epidemiologi telah menunjukkan bahwa paparan jangka panjang untuk benzena dapat menyebabkan leukemia, dan benzena telah diklasifikasikan sebagai karsinogen untuk manusia (Group 1) oleh IARC.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Rinsky et.al dengan menggunakan metode case-control menemukan adanya hubungan exponensial dosis-respon antara pajanan benzena secara kumulatif dan timbulnya leukimia. Sehingga, pekerja yang terpajan 3,2 mg/m3 (1 ppm) benzena selama 40 tahun (40 ppm- tahun) akan berisiko 1,7 kali dibandingkan yang tidak terpajan. (WHO, 2000)