BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
1. Kepada pengrajin sepatu di industri sepatu rumahan diharapkan dapat mengatur kembali posisi bekerja agar pengrajin yang bertugas mengoleskan lem berada pada posisi yang paling dekat dengan ventilasi untuk mengurangi jumlah paparan yang diterima setiap harinya.
2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian dengan jangka waktu yang lebih lama dan menambah faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi keluhan kesehatan para pengrajin sepatu agar mendapatkan hasil yang representatif serta mengukur jumlah paparan secara personal untuk mengetahui jumlah paparan benzena yang diterima setiap pekerja selama bekerja.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Manan. 2007. Faktor Kenyamanan dalam Perancangan Bangunan (Kenyamanan Suhu – Termal pada Bangunan). Jurnal Ichsan Gorontalo Vol.2, No.1, Februari - April 2007, hlm. 466 - 473.
Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR). 2007.
Toxicological profile for Benzene. U.S. Department of Health and Human Services. Public Health Service Agency for Toxic Substances and Disease Registry. https://www.atsdr.cdc.gov/ToxProfiles/tp3.pdf (28 Januari 2017) ______. 2014. Medical Management Guidelines for Benzene. U.S. Department of Health and Human Services. Public Health Service Agency for Toxic Substances and Disease Registry.
https://www.atsdr.cdc.gov/mmg/mmg.asp?id=35&tid=14 (20 Februari 2017)
______. 2015. Addendum to The Toxicological Profile For Benzene. U.S.
Department of Health and Human Services. Public Health Service Agency for Toxic Substances and Disease Registry.
https://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/Benzene_Addendum.pdf (30 Januari 2017).
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013.
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas
%202013.pdf (2 April 2017)
Barry. A, Kay., Jean Bousquet., Patrick G. Holt dan Allen P. Kaplan. 2008.
Allergy and Allergic Diseases. Blackwell. https://books.google.co.id/ (30 Januari 2017).
BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Medan. 2016. Kota Medan Dalam Angka 2016. https://medankota.bps.go.id/ (1 April 2017)
Chen, Meei-shia., & Chan, Anita. China’s Market Economics in Command:
Footwear workers’ Health in Jeopardy. International Journal of Health Services, Volume 29, Number 4, Pages 793–811.
http://psc.bellschool.anu.edu.au/sites/default/files/IPS/PSC/CCC/publicatio ns/papers/AC_WorkplaceHealth_1999.pdf (28 Januari 2017).
D. Kurniawidjaja, L. Meily., Nur Aziza Sofia., Hendra., Eko Pudjadi., Fatma Lestari., dan Mila Tejamaya. 2012. Keluhan Pernapasan dan Analisis Risiko Kesehatan Pajanan BTX pada Pekerja di Bengkel Alas Kaki Informal di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor. J Respir Indo. Vol.
32, No. 1, hlm. 36-43.
Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta : Kanisius.
Federal Register. 2001. Code of Federal Regulations. Washington : Office of The Federal Register National Archives and Record Administrations.
https://books.google.co.id/books?id=7rwNJ9tr6_oC&printsec=frontcover#
v=onepage&q&f=false (01 Maret 2017).
Fessenden, J. Ralph & Fessenden, S. Joan. 1986. Kimia Organik. Edisi Kedua, Jakarta : Erlangga, 1991.
Gussenhoven, Cheryl. 2000. Benzene in Shoe Manufacturing. University of Idaho Principles of Enviromental Toxicology.
Harrianto, Ridwan. 2010. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC.
Jorgensen, Erik. 2010. Ecotoxicology. USA : Academic Press. Pengeleman Pada Industri Sandal Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya : FKM Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
Mukono, H.J. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya : Airlangga University Press.
______. 2005. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Saluran Pernapasan. Surabaya : Airlangga University Press.
National Institute of Health. 2014. Hazardous Substances Data Bank (HSDB) Benzene. U.S. National Library of Medicine's (NLM)
https://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/search/a?dbs+hsdb:@term+@DOCNO+35 (01 Maret 2017)
NIOSH Manual of Analytical Methods (NMAM) 1501. 2003. Hydrocarbons, Aromatic. Fourth Edition, Page 1-7.
ILO. 2003. Meningkatkan Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan Kerja di Sektor Informal Alas Kaki. Jakarta : Kantor Perburuhan Internasional.
Pakasi T., Lelitasari., Hutabarat B., Panggabean C., Pinantioan P. 2006. Di dalam : Panggabean, Astrida C. Hubungan pajanan uap pelarut organik dengan terjadinya konjungtivitis dan keluhan iritasi mata: Penelitian pada pekerja laki-laki sektor informal di industri alas kaki, Kecamatan Ciomas, Bogor Tahun 2007. Depok : FKM Universitas Indonesia.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 Tentang : Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 Tentang : Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.
Preedy, R. Victor. 2016. Neuropathology of Drug Addictions and Substance Misuse. Volume 2. https://books.google.co.id/ (30 Januari 2017).
Susilowaty, Betty. 2011. Resiko Kesehatan Terhadap Pajanan Benzene Pada Pekerja Industri Sepatu Kulit Di PIK Pulogadung Tahun 2011.
Skripsi. Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Tulus, Tambunan. 1999. Perkembangan Industri Skala Kecil di Indonesia.
Jakarta : PT. Mutiara Sumber Widya.
Todaro, P. Michael., dan Stephen C. Smith. 2006. Pembangunan Ekonomi. Edisi Kesembilan. Jakarta : Penerbit Erlangga. https://books.google.co.id/
(30 Januari 2017).
Wijaya, Caroline. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. EGC, Jakarta, 1995.
WHO. 2000. Air Quality Guidelines Chapter 5.2 Benzene. Second Edition.
Copenhagen, Denmark : WHO Regional Office for Europe.
http://www.euro.who.int/__data/assets/pdf_file/0017/123056/AQG2ndEd_
5_2benzene.pdf
Lampiran 1. Lembar Observasi dan Kuesioner
ANALISIS KUALITAS FISIK RUANG PRODUKSI SEPATU DAN KADAR BENZENA DI UDARA SERTA KELUHAN KESEHATAN PENGRAJIN SEPATU DI INDUSTRI
SEPATU RUMAHAN KECAMATAN MEDAN AREA DAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN TAHUN 2017
4. Durasi bekerja sebagai pembuat sepatu di tempat lain : ... Tahun 5. Lama Bekerja : ... Jam
6. Dalam satu minggu, berapa hari Anda bekerja di industri sepatu ini?
7. Apa tugas Anda sehari-hari di industri sepatu rumahan ini? (misalnya mengelem, menjahit, dll)?
8. Apa Anda tinggal di industri sepatu ini, atau tinggal diluar industri?
9. Apakah Anda merokok? Jika ya, berapa batang dalam sehari anda merokok? ____ Batang
C. Keluhan Kesehatan
Apakah pada saat bekerja, Bapak/Ibu pernah merasakan hal-hal sebagai berikut?
No. Keluhan Pernapasan Ya Tidak
1. Batuk-batuk 2. Sesak Napas
Apakah pada saat bekerja, Bapak/Ibu pernah merasakan hal-hal sebagai berikut?
No. Keluhan Sistem Saraf Ya Tidak
1. Pusing
2. Sempoyongan 3. Sakit kepala 4. Mual
5. Muntah
Apakah pada saat bekerja, Bapak/Ibu pernah merasakan hal-hal sebagai berikut?
No. Keluhan Sistem Saraf Ya Tidak
1. Mata berair 2. Mata perih
3. Mata terasa panas seperti terbakar
Lampiran 2. Peta Titik Pengukuran
Industri Sepatu Rumahan 1
Keterangan :
: Titik Pengukuran Kadar Benzena : Pekerja yang bertugas mengoleskan lem
: Pekerja yang bertugas membuat pola : Jendela tertutup
: Jendela terbuka Pintu
Jendela Jendela
G u d a n g
Industri Sepatu Rumahan 2
Industri Sepatu Rumahan 3
Keterangan :
: Titik Pengukuran Kadar Benzena : Pekerja yang bertugas mengoleskan lem
: Pekerja yang bertugas membuat pola
Pintu Pintu
Pintu Pintu
Industri Sepatu Rumahan 4
Industri Sepatu Rumahan 5
Keterangan :
: Titik Pengukuran Kadar Benzena : Pekerja yang bertugas mengoleskan lem
: Pekerja yang bertugas membuat pola
: Jendela Terbuka Pintu
Pintu Pintu
Pintu
Industri Sepatu Rumahan VI
Industri Sepatu Rumahan VII
Keterangan :
: Titik Pengukuran Kadar Benzena : Pekerja yang bertugas mengoleskan lem
: Pekerja yang bertugas membuat pola
: Jendela Terbuka
Pintu Pintu
Gudang
Pintu
Gudang
Lampiran 3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1077/MENKES/PER/V/2011
TENTANG
PEDOMAN PENYEHATAN UDARA DALAM RUANG RUMAH
BAB II
PERSYARATAN KUALITAS UDARA DALAM RUANG RUMAH Persyaratan kualitas udara dalam ruang rumah meliputi:
a. Kualitas fisik, terdiri dari parameter: partikulat (Particulate Matter/PM 2,5 dan PM10), suhu udara, pencahayaan, kelembaban, serta pengaturan dan pertukaran udara (laju ventilasi);
b. Kualitas kimia, terdiri dari parameter: Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Timbal (Plumbum=Pb), asap rokok (Environmental Tobacco Smoke/ETS), Asbes, Formaldehid (HCHO), Volatile Organic Compound (VOC); dan
c. Kualitas biologi terdiri dari parameter: bakteri dan jamur.
A. Persyaratan Fisik
No. Jenis Parameter Satuan Kadar yang dipersyaratkan
1. Suhu oC 18 – 30
2. Pencahayaan Lux Minimal 60
3. Kelembaban % Rh 40 – 60
4. Laju Ventilasi m/ dtk 0,15 – 0,25
5. PM2,5 µg/m3 35 dalam 24 jam
6. PM10 µg/m3 ≤ 70 dalam 24 jam
B. Persyaratan Kimia
No. Jenis Parameter Satuan
Kadar
8. Volatile Organic Compound
(VOC) ppm 3 8 jam
9. Environmental Tobaco Smoke
(ETS) µg/m3 35 24 jam
BAB III
UPAYA PENYEHATAN
Upaya penyehatan udara dalam ruang rumah meliputi upaya penyehatan terhadap sumber pencemar fisik, kimia, dan biologi.
A. Sumber pencemar Fisik
Upaya penyehatan terhadap sumber pencemar fisik yang terdiri dari suhu, pencahayaan, kelembaban, laju ventilasi, PM2.5, PM10. Kualitas udara yang tidak memenuhi persyaratan fisik akibat faktor risiko dapat menimbulkan dampak kesehatan dan perlu dilakukan upaya penyehatan.
1. Suhu
a. Dampak
Suhu dalam ruang rumah yang terlalu rendah dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga hypotermia, sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan dehidrasi sampai dengan heat stroke.
b. Faktor risiko
Perubahan suhu udara dalam rumah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1) Penggunaan bahan bakar biomassa
2) Ventilasi yang tidak memenuhi syarat 3) Kepadatan hunian
4) Bahan dan struktur bangunan 5) Kondisi Geografis
6) Kondisi Topografi b. Upaya Penyehatan
1) Bila suhu udara di atas 30ºC diturunkan dengan cara meningkatkan sirkulasi udara dengan menambahkan ventilasi mekanik/buatan.
2) Bila suhu kurang dari 18ºC, maka perlu menggunakan pemanas ruangan dengan menggunakan sumber energi yang aman bagi lingkungan dan kesehatan.
2. Pencahayaan a. Dampak
1) Nilai pencahayaan (Lux) yang terlalu rendah akan berpengaruh terhadap proses akomodasi mata yang terlalu tinggi, sehingga akan berakibat terhadap kerusakan retina pada mata.
2) Cahaya yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kenaikan suhu pada ruangan.
b. Faktor Risiko
Intensitas cahaya yang terlalu rendah, baik cahaya yang bersumber dari alamiah maupun buatan.
Konstruksi rumah yang tidak baik seperti atap yang bocor, lantai, dan dinding rumah yang tidak kedap air, serta kurangnya pencahayaan baik buatan maupun alami.
c. Upaya Penyehatan
1) Bila kelembaban udara kurang dari 40%, maka dapat dilakukan upaya penyehatan antara lain :
a) Menggunakan alat untuk meningkatkan kelembaban seperti humidifier (alat pengatur kelembaban udara)
b) Membuka jendela rumah
c) Menambah jumlah dan luas jendela rumah
d) Memodifikasi fisik bangunan (meningkatkan pencahayaan, sirkulasi udara)
2) Bila kelembaban udara lebih dari 60%, maka dapat dilakukan upaya penyehatan antara lain :
a) Memasang genteng kaca
b) Menggunakan alat untuk menurunkan kelembaban seperti humidifier (alat pengatur kelembaban udara)
4. Laju Ventilasi a. Dampak
Pertukaran udara yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme, yang mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan manusia.
b. Faktor Risiko
1) Kurangnya ventilasi (jumlah dan luas ventilasi tidak cukup, sesuai persyaratan kesehatan).
2) Tidak ada pemeliharaan AC secara berkala.
c. Upaya Penyehatan
Upaya penyehatan dapat dilakukan dengan mengatur pertukaran udara, antara lain yaitu :
1) Rumah harus dilengkapi dengan ventilasi, minimal 10% luas lantai dengan sistem ventilasi silang
2) Rumah ber-AC (Air Condition) pemeliharaan AC dilakukan secara berkala sesuai dengan buku petunjuk, serta harus melakukan pergantian udara dengan membuka jendela minimal pada pagi hari secara rutin 3) Menggunakan exhaust fan
4) Mengatur tata letak ruang B. Sumber pencemar Kimia
Upaya penyehatan terhadap sumber pencemar kimia terdiri dari Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Timbal (Plumbum = Pb), Asbes, Formaldehid (HCHO), Volatile Organic Compounds/VOCs (senyawa organik yang mudah menguap), Asap rokok (Environmental Tobacco Smoke/ETS). Kualitas udara yang tidak memenuhi persyaratan kimia akibat faktor risiko dapat menimbulkan dampak kesehatan dan perlu dilakukan upaya penyehatannya.
Volatile Organic Compounds/VOCs (senyawa organik yang mudah menguap) a. Dampak
1) Gangguan kesehatan akibat pajanan VOCs cukup bervariasi tergantung dari jenis senyawanya seperti iritasi mata, hidung, tenggorokan, sakit kepala, mual, kehilangan koordinasi sampai dengan kerusakan ginjal, hati dan sistem syaraf pusat.
2) Produk-produk yang mengandung methylene chloride termasuk cat, pelarut dan aerosol cat diketahui menyebabkan kanker pada hewan.
Senyawa ini juga dapat dikonversi menjadi karbon monoksida dalam tubuh dan dapat menimbulkan gejala seperti keracunan karbon monoksida.
b. Faktor risiko
1) Dikeluarkan sebagai gas oleh beragam produk seperti cat dan vernis, cairan pembersih dan disinfektan, pestisida, bahan-bahan bangunan dan pelapis, peralatan kantor seperti mesin fotokopi dan printer, bahan-bahan kerajinan dan grafis, termasuk lem dan perekat, spidol permanen, dan pelarut fotografi.
2) Penggunaan maupun penyimpanan bahan bakar minyak atau pelarut organik.
3) Formaldehid adalah salah satu senyawa VOCs dengan mudah diukur.
4) Benzena adalah karsinogen 5) Asap tembakau
6) Cat pasokan 7) Bahan bakar
8) Emisi mobil di garasi
9) Emisi dari pakaian yang dicuci dengan cara dry-clean berupa senyawa perchloroethylene.
c. Upaya Penyehatan
1) Meningkatkan ventilasi ketika menggunakan produk yang memancarkan VOCs.
2) Tidak menyimpan kontainer bahan yang mengandung VOCs baik yang masih terpakai maupun yang tidak terpakai.
3) Kurangi pajanan dengan melindung/menutup semua permukaan panel dan perabotan lainnya yang terbuka.
4) Menggunakan teknik-teknik pengelolaan hama terpadu untuk mengurangi kebutuhan akan pestisida.
5) Gunakan produk rumah tangga sesuai dengan petunjuk pabriknya.
6) Jauhkan bahan-bahan yang mengandung VOCs dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
7) Jangan pernah mencampur produk perawatan rumah tangga, kecuali sesuai dengan petunjuk pada label kemasan.
8) Ikuti petunjuk penggunaan apabila menggunakan bahan yang mengandung VOCs.
9) Dilarang merokok.
Lampiran 4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011
LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA
NOMOR PER.13/MEN/X/2011 TENTANG
NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DAN FAKTOR KIMIA DI TEMPAT KERJA
NAB FAKTOR KIMIA DI UDARA TEMPAT KERJA
Penjelasan NAB Faktor Kimia 1. Kegunaan NAB
NAB ini akan digunakan sebagai (pedoman) rekomendasi pada praktek higene perusahaan dalam melakukan penatalaksanaan lingkungan kerja sebagai upaya untuk mencegah dampaknya terhadap kesehatan. Dengan demikian NAB antara lain dapat pula digunakan:
a. Sebagai kadar standar untuk perbandingan.
b. Sebagai pedoman untuk perencanaan proses produksi dan perencanaan teknologi pengendalian bahaya-bahaya di lingkungan kerja.
c. Menentukan pengendalian bahan proses produksi terhadap bahan yang lebih beracun dengan bahan yang sangat beracun.
d. Membantu menentukan diagnosis gangguan kesehatan, timbulnya penyakit- penyakit dan hambatan-hambatan efisiensi kerja akibat faktor kimiawi dengan bantuan pemeriksaan biologik.
2. Kategori Karsinogenitas
Bahan-bahan kimia yang bersifat karsinogen, dikategorikan sebagai berikut:
A-1 Terbukti karsinogen untuk manusia (Confirmed Human Carcinogen).
Bahan- bahan kimia yang berefek karsinogen terhadap manusia, atas dasar bukti dari studi-studi epidemologi atau bukti klinik yang meyakinkan, dalam pemaparan terhadap manusia yang terpajan.
A-2 Diperkirakan karsinogen untuk manusia (Suspected Human Carcinogen).
Bahan kimia yang berefek karsinogen terhadap binatang percobaan pada dosis tertentu, melalui jalan yang ditempuh, pada lokasi-lokasi, dari tipe histologi atau melalui mekanisme yang dianggap sesuai dengan pemaparan terhadap tenaga kerja terpajan. Penelitian epidemologik yang ada belum cukup membuktikan meningkatnya risiko kanker pada manusia yang terpajan.
A-3 Karsinogen terhadap binatang.
Bahan-bahan kimia yang bersifat karsinogen pada binatang percobaan pada dosis relatif tinggi, pada jalan yang ditempuh, lokasi, tipe histologik atau mekanisme yang kurang sesuai dengan pemaparan terhadap tenaga kerja yang terpapar.
A-4 Tidak diklasifikasikan karsinogen terhadap manusia.
Tidak cukup data untuk mengklasifikasikan bahan-bahan ini bersifat karsinogen terhadap manusia ataupun binatang.
A-5 Tidak diperkirakan karsinogen terhadap manusia.
Repr. Menimbulkan gangguan reproduksi pada wanita, seperti abortus spontan, gangguan haid, infertilitas, prematur, kelainan kongenital, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Notasi NAMA BAHAN KIMIA DAN
0,5;A4 137,30 Mata, kulit, iritasi
pencernaan, stimulasi otot
Barium sulfat (7727-43-7) 10 233,43 Pneumoconiosis
Benomil (17804-35-2) 1;A3, sinsitif
Benzen (benzol) (71-43-2) 0,5 (A1)
2,5 78,11 Kulit; Leukimia
Benzo (b) fluoranten (205- 99-2)
pada tanggal 28 Oktober 2011
MENTERI
TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,
ttd. Drs. H. A. MUHAIMIN ISKANDAR, M.Si.
r
Lampiran 5. Prosedur Pengukuran Kadar Benzena berdasarkan metode NIOSH 1501 HYDROCARBONS, AROMATIC 1501
(coconut shell charcoal, 100 mg/50 mg) FLOW RATE: Table 3
APPLICABILITY: This method is for peak, ceiling, and TWA determinations of aromatic hydrocarbons. Interactions between analytes may reduce breakthrough volumes and affect desorption efficiencies. Naphthalene, originally validated in S292 [4], failed to meet acceptable desorption efficiency recovery and storage stability criteria at the levels evaluated in this study.
However, the application of this method to naphthalene levels at or near the REL/PEL continues to m eet acceptable recovery criteria. Styrene failed to meet acceptable recovery criteria at the two lowest levels evaluated in this study (highest level to meet the criteria was 181 µg/sam ple).
INTERFERENCES: Under conditions of high humidity, the breakthrough volumes may be reduced. Other volatile organic compounds such as alcohols, ketones, ethers, and halogenated hydrocarbons are potential analytical interferences.
1. Ca rbon disulfid e*, low ben zene , 4. Hydrogen, prepurified and filtered. 2-mm urethane foam plug. A silylated glass 5. Air, prepurified and filtered. wool plug precedes the front section and a 3-
mm urethane foam plug follows the back section. Tubes are comm ercially available.
2. Personal sampling pump, 0.01 to 1.0 L/min
* See SPECIAL PRECAUTIONS (Table 3), with flexible connecting tubing.
3. Gas chromatograph, FID, integrator, and colum ns (page 1501-1).
SPECIAL PRECAUTIONS : Carbon disulfide is toxic and extrem ely flam m able (flash point = -30°C), ben zene is a su spe ct ca rcino gen . Prep are s tand ards and sam ples in a we ll ventilated hoo d.
S AM PL ING :
1. Calibrate each personal sampling pump with a representative sampler in line.
2. Break the ends of the sampler imm ediately before sampling. Attach sampler to personal sam pling pum p with flexible tubing.
3. Sa m ple at an accurately known flow rate between 0.01 and 0.2 L/min for a total sample size as shown in Table 3.
4. Ca p the sam plers with pla stic (n ot rub ber) cap s an d pa ck sec urely for shipm ent.
SAMPLE PREPARATION:
5. Place the front and back sorbent sections of the sampler tube in separate vials. Include the glass wool plug in the via l along with the fron t sorb ent s ection . the mark. Prepare additional standards by serial dilution in 10-mL volumetric flasks.
b. Analyze together with samp les and blanks (steps 11 through 12).
c. Prepare c alibration graph (pe ak area of analyte vs. µg analyte per sam ple).
a. Prepare three tubes at each of five levels plus three media blanks.
b. Inject a known amount of DE stock solution (5 to 25 µL) directly onto front sorbent section of each charcoal tube with a microliter syringe.
c. Allow the tubes to air equilibrate for several minutes, then cap the ends of each tube and allow to stand ove rnigh t.
d. Deso rb (steps 5 through 7 ) and analyze together with standards and b lanks (steps 1 1 and 12).
e. Prepare a graph of DE vs. µg analyte recovered.
10. An alyze a minimum of three quality control blind spikes and three analyst spikes to insure that the ca libra tion gra ph an d D E g ra ph are in c on tro l.
M EASUREM ENT :
11. Set gas chromatograph according to manufacturer's recomm endations and to conditions given on page 1501-1. Inject a 1-µL sample aliquot manually using the solvent flush technique or with an autosam pler.
Note: If peak area is above the linear range of the working standards, dilute with solvent, reanalyze, and app ly the app ropr iate dilution facto r in the c alcu lations .
a Separation achieved using a 30-m Stabilwax fused silica capillary colum.
b Separation achieved using a 30-m Rtx-35 fused silica capillary column.
12. Measure peak areas.
The des orptio n eff icienc y, at levels ra ngin g fro m 5 tim es th e LO Q to 0.1x the REL, was determined for each ana lyte by spiking known amounts (in CS2) on cocon ut shell charcoal tubes. Both groups of analytes (A and B) were spiked together on the charcoal sorbent tubes. All analytes, with the exception of styrene and naphthalene, exhibited acc epta ble de sor ption e fficien cy rec ove ry resu lts at all five levels evaluated. Styrene failed to meet the 75% recovery criteria at the 18.1 µg and 90.6 µg levels. Naphthalene failed to meet the 75%
criteria a t all levels e valua ted ra ngin g fro m 48.8 µg to 976 .0 µg .
Each an alyte , at a lev el a pp ro xim ate ly 0.05x REL/PEL, was evaluated for its storage stability @ 5°C after 7, 14, and 30 days. All analytes, with the exception of naphthalene, had ac ce pta ble rec ov er ies aft er 30 da ys storage.
REFERENCES:
[1] NIOSH [1984]. H ydrocarbons, Aromatic: Method 1501. In: Eller PM, ed. NIOSH M anual of Analytical Method s. 4th rev. ed. Cincinnati, OH: U.S. Department of Health and Hu m an S ervic es, P ublic H ealth Service, Centers for Disease Control, National Institute for Oc cup ational Safety and Hea lth, DHHS (NIO SH ) Pu blication No . 94-1 13.
[2] NIO SH [197 7]. NIO SH Ma nua l of An alytical M etho ds, 2 nd. e d., V. 1, P&CAM 127, U.S. Department of Health, Education, and W elfare, Publ. (NIOSH) 77-157-A.
[3] Ibid, V. 2, S22, S23, S25, S26, S29, S30, U.S. Department of Health, Education, and W elfare, Pu bl.
(NIOS H) 77-15 7-B (1977 ).
[4] Ibid, V. 3, S292, S311, S318, S343, U. S. D ep ar tm en t of He alth , Ed uc atio n, a nd W elf ar e, P ub l. (NIOSH) 77-157-C (1977).
[5] NIO SH [197 7]. Docum entation of the NIOSH Validation Tests, S22, S23, S25, S26, S29, S30, S292, S311, S318, S343, U.S. Department of Health, Education, and W elfare; Publ. (NIOSH) 77-185.
M ETH OD W RITT EN B Y:
Stephanie M. Pendergrass, NIOSH/DART
Vapor Pressure Density
dimethylbenzene (p-xylene) (para) 138.4 8.8 1.18 0.861
styrene CAS #100-42-5 RTECS WL3675000
vinylbenzene C8 H8 104.15 145.2 6.1 0.81 0.906
r
a Minimum recommended flow is 0.01 L/min.
b
M in = minimum sample volume @ OSHA TWA;
VM a x = maximum sample volume @ OSHA TWA
c Corrected value, calculated from data in Reference 5.
T ABL E 4 . M E AS UREM EN T RANGE AND PRE CIS ION a
Measurement
Substance L OD Range Precision
(µg/sample) (mg) (Ö r )
benzene 0.5 0.004-0.35 0.013
p-tert-butyltoluene 1.1 0.013-1.09 0.017a
cumene 0.6 0.039-3.46 0.017
ethylbenzene 0.5 0.045-8.67 0.015
" ene -methylstyr 0.6 0.036-3.57 0.014
$ ene -methylstyr 0.6 0.036-0.728 0.014
toluene 0.7 0.024-4.51 0.022
o-xylene 0.8 0.044-10.4 0.014
m-xylene 0.8 0.043-0.864 0.013
p-xylene 0.7 0.043-0.861 0.015
styrene 0.4 0.181-8.49 0.014
a Co rrec ted va lue, ca lculate d fro m data in [5].
Lampiran 7. Dokumentasi
Gambar 7.1 Persiapan Alat Pengukuran
Gambar 7.2 Kondisi Industri Sepatu Rumahan I
Gambar 7.3 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan I
Gambar 7.4 Wawancara dengan Pengrajin Sepatu
Gambar 7.5 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan II
Gambar 7.6 Kondisi Industri Sepatu Rumahan III
Gambar 7.7 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan III
Gambar 7.9 Kondisi Industri Sepatu Rumahan IV
Gambar 7.9 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan IV
Gambar 7.10 Kondisi Industri Sepatu Rumahan V
Gambar 7.11 Titik Pengukuran Kadar Benzena di Industri Sepatu Rumahan V
Gambar 7.12 Kondisi Industri Sepatu Rumahan VI