• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengoperasian dan Pemeliharaan IPA

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Umum (Halaman 51-57)

1.7. Deskripsi Pembangunan

1.7.3. Tahap Operasi

1.7.3.2 Pengoperasian dan Pemeliharaan IPA

Pembangunan IPA Sadu terbagi menjadi Fasilitas utama dan penunjang. IPA Sadu tersebut berdiri di lahan seluas 17.967 Ha. Dimana status kepemilikan lahan untuk IPA Sadu yaitu milik PDAM Tirta Rahaja Kabupaten Bandung. Adapun fasilitas yang terdapat di IPA Sadu dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. 10 Fasilitas IPA Sadu

No Unit Luas Lahan

(m2) A.Fasilitas Utama 1 WTP Kapasitas 2 x 200 L/detik 1.494 2 Reservoir Kapasitas 6.500 m3 2.139 3 Reservoir Kapasitas 3.250 m3 572 4 Ruang Laboratorium 16,7 5 drying 510

6 Sludge Drying Bed 460

B. Fasilitas Penunjang

7 Pos Jaga 10

8 Ruang genset 25

9 Ruang Panel 25

10 Ruang Gardu PLN 25

11 Ruang Chlorinasi dan Gudang Chlor 40

12 Ruang Gudang Kimia 28,34

13 Ruang Pompa 13,7

14 Ruang Otomatis 16,7

15 Ruang Operator, Dapur, dan WC 15

16 Ruang Tangki BBM 10,4

17 Sumur Resapan 2,8

18 Box Water Meter Induk 2,19

19 Septic Tank 15

20 Lahan Parkir 1.324

21 Kolam retensi 143

22 Ruang blower 13,7

23 Ruang Terbuka Hijau (RTH) 4.909

24 Jalan Beton 3.683

25 Saluran Drainase 2.355

Total 17.967

Sumber : PDAM Tirta Rahaja Kabupaten Bandung, 2018 A. Unit IPA

1) Unit Prasedimentasi

Pada bak prasedimentasi ini diharapkan sebagian besar kekeruhan air akibat partikel diskrit dan padatan terlarut (TDS) akan terendapkan; sehingga mampu mengurangi beban pengolahan di unit IPA. Pengaliran air dari pipa sadap (wall pipe) dengan kapasitas tahap-1 200 L/det berlangsung secara gravitasi. Limbah utama dari bak prasedimentasi adalah lumpur yang dipisahkan dalam kolam lumpur.

dilakukan pembubuhan alum, karbonat dan pengaturan pH. Bangunan pengolah lumpur prasedimentasi berbentuk kolam oksidasi atau kolam pengering lumpur. Selanjutnya lumpur prasedimentasi yang dihasilkan dapat secara rutin dibuang ke TPA terdekat.

2) Unit Koagulasi

 Mengingat adanya perbedaan elevasi, maka proses pencampuran koagulan adalah melalui cara pipeline mixing, proses koagulasi dalam waktu lebih singkat yang ditunjang kinetika pengadukan hidrolis dalam pipa. Ada beberapa cara pembubuhan koagulan yaitu sebagai Alum dibubuhkan pada outlet prasedimentasi dan pengadukan dalam pipa diharapkan terjadi pada jalur transmisi menuju lokasi IPA.

 Sebagai alternatif larutan alum juga dapat dibubuhkan pada sistem inlet bak prasedimentasi sehingga sebagian partikel koloid (makroflok) sudah terendapkan pada bak prasedimentasi.

 Pembubuhan PAC direncana bak sedimentasi II.

 Mengingat beda tinggi pengaliran transmisi relatif cukup besar, sehingga turbulensi aliran air disini cukup untuk proses pencampuran secara pipeline mixing sepanjang pengaliran menuju ke bak pengumpul.

3) Unit Flokulasi

Mengingat tingginya tingkat erosi di daerah tangkapan air di masa yang akan datang, maka pada musim penghujan TDS air baku meningkat secara signifikan, maka menggunakan flokulator. Dari pipa koagulasi air dialirkan ke bak penampung flokulator yang berfungsi pula sebagai menara reservoar pencuci.

4) Unit Pengendap (Sedimentasi-2)

Air yang telah mengalami proses flokulasi didistribusikan melalui pipa berlubang di sepanjang bak sedimentasi, sehingga air akan mengalir ke atas sementara lumpur flok akan mengendap ke arah hoper lumpur di bagian bawah unit klarifier. Pada unit ini proses pengolahan air baku akan menghasilkan lumpur yang berasal dari flok-flok yang mengendap.

5) Unit Saringan (Filter)

Air yang diendapkan di unit sedimentasi pada akhirnya di alirkan ke unit saringan pasir cepat. Saringan pasir cepat direncanakan dapat menghasilkan kekeruhan efluen di bawah standar untuk air minum yang berlaku di Indonesia (lebih kecil dari 5 NTU), mampu menyaring padatan tersuspensi yang terbawa dari unit sedimentasi dalam jangka waktu operasi yang cukup lama.

6) Proses Desinfeksi

Air yang telah difiltrasi selanjutnya dilakukan dieinfeksi sebelum ditampung dalam reservoar untuk kemudian didistribusikan melalui pipa JDU. Teknis klorinasi yang digunakan adalah melalui pembubuhan gas khlor. Pemakaian pada kapasitas besar sebagai mana halnya dalam kasus ini penggunaan khlor relatif lebih murah dibandingkan dengan kaporit. Dengan demikian penggunaan gas khlor diusulkan sebagai disinfektan utama untuk kebutuhan instalasi pengolahan. Tempat kontak proses disinfeksi berlangsung di reservoir, dimana didalamnya menggunakan sekat untuk menciptakan kondisi aliran tersumbat.

7) Sludge/lumpur

Penanganan lumpur dari kegiatan operasional akan dilakukan dengan "Teknologi Sludge Drying Bed/SDB", untuk memisahkan antara air dan lumpur. Air yang dihasilkan akan dilairkan ke saluran drainase menuju BAP.

Lumpur hasil pengolahan SDB kemudian dilakukan uji laboratorium terlebih dahulu. Jika lumpur bukan termasuk limbah B3 makan lumpur akan ditimbun di lokasi sekitar IPA atau dijual ke pihak ketiga, jika lumpur masuk kategori limbah B3 maka akan dilakukan pengolahan pada pihak ketiga.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 26/PRT/M/2014 Tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan Sistem Penyedian Air Minum yang dapat dilakukan, yaitu:

 Mengangkat dan menyimpan lumpur ke tempat yang telah ditentukan.

 Menjadikan lumpur hasil olahan sebagai bahan baku untuk produk sampingan yang memiliki nilai jual sehingga akan menjadi income bagi PDAM (jika lumpur terbukti bukan termasuk kategori limbah B3)

 Melakukan pengawasan terhadap pengambilan sampel air dari pemisahan lumpur sebelum dibuang ke sungai (efluen)

 Melakukan analisis kualitas air buangan sesuai dengan persyaratan baku mutu badan air penerima

 Menjaga agar lumpur tidak mudah menjadi abu yang mudah hancur dan terbawa angin

 Melakukan pengawasan terhadap kegiatan pengangkatan lumpur kering, dan

 Penyimpanan/pemanfaatan/pembuangannya.

Pengoperasian IPA secara umum adalah mengolah air baku sebanyak 400 liter/detik (2 unit x 350 liter/detik) melalui proses kimia yang menggunakan PAC (poly alumunium chloride) sebanyak 907,2 kg/hari (2 unit x 453,6 kg/hari) untuk mengendapkan beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam air baku dan penggunaan kaporit (Cl2) sebanyak 190 kg/hari (2 unit x 95 kg/hari) sebagai desinfektan.

Volume lumpur yang akan dihasilkan dari unit pengendapan dengan asumsi konsentrasi TSS tertinggi pada musim kemarau adalah 50 mg/L dan musim hujan adalah 500 mg/L, sedangkan efisiensi unit IPA sebesar 80%, maka:

Volume Lumpur kemarau = 50 mg/L x 400 Liter/detik x 80% = 16.000 mg/detik

= 1,38 Ton/hari

Volume Lumpur hujan = 500 mg/L x 400 Liter/detik x 80% =160.000 mg/detik

= 13,82 Ton/hari

B. Air Bersih dan Air Buangan

Dalam kegiatan pengoperasian IPA, terdapat aktivitas karyawan yang bekerja di IPA Sadu. Karyawan yang dibutuhkan dalam proses pengoperasian IPA Sadu sebanyak 20 orang. Berikut perhitungan kebutuhan air bersih dalam kegiatan pengoperasian IPA Sadu.

Tabel 1. 11. Air Bersih dan Air Buangan

Jenis Air Kegiatan Jumlah

Karyawan Jumlah Air

Total (m3/hari) Air Bersih

Aktifitas

Karyawan 20 orang 50 l/O/h 1

Penyiraman

RTH - 981,8 l/h 0,98

Total 1,98

Air Buangan (grey water) Aktifitas

Karyawan 20 orang

80% dari air bersih 0,8

Air Buangan (Black Water) 20% dari air bersih 0,2

Sumber : PDAM Tirta Rahaja Kabupaten Bandung, 2018

Berdasarkan tabel diatas bahwa kegiatan pengoperasian IPA Sadu membutuhkan air bersih untuk aktivitas karyawan sebesar 1 m3/hari dan kegiatan penyiraman RTH sebesar 0,98 m3/hari. sumber air bersih yang digunakan berasal dari air tanah dangkal.

Dimana dari kebutuhan air bersih tersebut menghasilkan air buangan yang terdiri dari black water dan grey water. Air buangan tersebut dialirkan langsung ke dalam septick tank yang akan dibangun dalam IPA Sadu. Berikut necara air bersih tahap operasi untuk aktivitas karyawan IPA

Air Sumur Dangkal 1,98 m3/hari Aktivitas Karyawan 1 m3/hari Penyiraman RTH 0,98 m3/hari Grey water 0,8 m3/hari Black water 0,2 m3/hari Tangki Septik Menyerap dan menguap

C. Limbah Padat Domestik

Dalam aktivitas perkantoran selain menimbulkan air limbah dari kebutuhan air bersih, juga menghasilkan limbah padat domestik. Pada kegiatan perkantoran ,asumsi sampah yang dihasilkan oleh satu orang sebesar 0,75 L/pegawai/H (Diktat Enri Damanhuri, 2010), jika dalam aktivitas pengoperasian IPA Sadu terdapat 20 karyawan, maka limbah padat domestik yang dihasilkan sebesar 15 L/H.

Limbah padat domestik tersebut dibuang ke TPSS terdekat. Frekuensi pengangkutan sampah oleh petugas pengumpul sampah dilakukan setiap hari.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Umum (Halaman 51-57)

Dokumen terkait