• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengorganisasian kelompok (KSM) a) Pengertian

Dalam dokumen Bab 3. Pelaksanaan P2KP (Halaman 54-59)

USULAN KEGIATAN PRONANGKIS LINTAS WILAYAH KELURAHAN

3.3.6 Pengorganisasian kelompok (KSM) a) Pengertian

Pengorganisasian kelompok pada dasarnya adalah serangkaian kegiatan untuk membangun kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang dilakukan oleh warga masyarakat dan di fasilitasi oleh Fasilitator. KSM atau kelompok swadaya masyarakat dapat dibangun atas dasar berbagai ikatan pemersatu antara lain sebagai berikut:

kesamaan tujuan, kesamaan kegiatan/usaha, kesamaan domisili, niat pembelajaran yang sama, dsb yang pada dasarnya mengarah kepada efisiensi, efektivitas serta mendorong tumbuh dan berkem-bangnya kapital sosial. Dengan demikian maka keanggotaan KSM pada dasarnya adalah bersifat sukarela yang didorong oleh adanya ikatan pemersatu tersebut diatas.

Dalam kaitan P2KP, KSM didefinisikan secara lebih spesifik sebagai sekumpulan warga di kelurahan sasaran yang memenuhi kriteria sebagai warga miskin yang ditetapkan masyarakat sendiri, dimana mereka mempunyai minat serta tujuan untuk mengatasi berbagai persoalan yang sama, baik yang menyangkut rumah dan lingkungan, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, atau persoalan sosial yang lain maupun pengembangan usaha atau modal bagi para anggota dan KSM.

KSM tersebut dapat saja merupakan kelompok masyarakat yang "sudah ada" (existing groups) dan atau kelompok-kelompok yang "dibangun baru"

dalam rangka pelaksanaan P2KP, yang dapat memenuhi syarat-syarat sebagai kelompok masyarakat sebagaimana ditetapkan P2KP.

Falsafah dasar yang perlu diperhatikan tatkala membangun KSM adalah bahwa Warga miskin bukanlah the have not melainkan the have little. Artinya warga miskin itu bukannya tidak mempunyai apa-apa sama sekali. Mereka mempunyai "sesuatu" (motivasi, modal, pengalaman dan lain-lain) tetapi belum opti-mal. Oleh karenanya, kalau mereka dihimpun dalam kelompok atau KSM dan difasilitasi, maka mereka akan mempunyai kemampuan untuk mengatasi persoalan mereka yang paling utama, yang berkaitan dengan peningkatan kehidupan dan penghidupan mereka.

Lebih lanjut beberapa pertimbangan digunakannya pendekatan bertumpu pada kelompok ialah :

• Dalam kelompok, warga masyarakat diharapkan dapat lebih dinamis dalam mengembangkan

kegiatan dan nilai-nilai kemanusiaan serta kemasyarakatan, misalnya; kejujuran, keikhlasan, dapat dipercaya, pengorbanan, kebersamaan, menjalin kesatuan, gotong royong, solidaritas antar sesama, dan sebagainya;

Proses pemberdayaan (empowerment) dapat berjalan lebih efektif dan efisien;

• Terjadi proses pembelajaran; saling asah-saling asuh antar sesama warga atau anggota;

• Terjadi konsolidasi kekuatan bersama baik antar yang lemah maupun antar yang kuat dan lemah di dalam suatu kelompok masyarakat (konsep sapu lidi); dan

• Kelompok dapat berfungsi untuk mengembang-kan dan melembagamengembang-kan tanggung renteng, membangun jaminan karakter antaranggota, wadah proses belajar/ interaksi antar anggota, menggerakkan keswadayaan dan modal, meningkatkan dan menertibkan angsuran pinjaman, menguatkan dan mengembangkan usaha anggota dan banyak lagi fungsi serta manfaat lainnya.

Dengan demikian bentuk-bentuk KSM yang dapat dibangun antara lain adalah:

• Kelompok patungan usaha, dimana tiap anggota kelompok patungan modal untuk bersama-sama mengembangkan satu usaha milik bersama.

Contoh 5 orang patungan untuk mendirikan perusahaan pande besi, warung makan, dll, yang dikelola bersama.

• Kelompok usaha bersama, dimana tiap anggota kelompok memiliki usaha masing-masing yang sama. Contoh sama-sama pengusaha tempe bergabung menjadi 1 KSM, yang dengan berkelompok dapat membeli bahan baku dalam jumlah besar dengan harga lebih murah (whole sale) dan dapat memasarkan produknya ke su-per market yang menuntut jumlah pasokan yang cukup besar, dan lain-lain.

• Kelompok usaha terkait, dimana tiap anggota memiliki usaha masing-masing yang saling terkait.

Contoh antara pengusaha jamu gendong dengan pedagang rempah-rempah, antara warung dengan pengusaha makanan kecil, dan lain-lain.

• Kelompok serba usaha, dimana tiap anggota kelompok memiliki usaha masing-masing yang berbeda satu terhadap lainnya. Contoh pedagang sayur, pedagang buah, pedagang perabot rumah tangga, warung kebutuhan hidup sehari-hari, dan

lain-lain., yang menganggap perlu bergabung karena ada ikatan pemersatu seperti : (i) tinggal dalam satu RT/RW, (ii) dengan bergabung ada keuntungan yang diperoleh bersama misalnya meningkatkan posisi tawar, mudah mengakses sumber daya di luar kelompok seperti dana, informasi, bimbingan teknik, dan lain-lain.

• Kelompok sosial, dimana tiap anggota tidak semata-mata ingin mengembangkan usaha tetapi juga meningkatkan kesejahteraan hidup mereka dengan saling membantu, saling belajar, membangun pelayanan prasarana yang dibutuhkan bersama, dan lain-lain.

b) Ketentuan Dasar

• Ikatan pemersatu terbentuknya suatu KSM tidak perlu tunggal tetapi dapat saja majemuk dan dapat bersifat ekonomi, sosial, teritorial, atau kombinasi ketiganya.

• Proses Pembentukan KSM hendaknya benar-benar memperhatikan kaidah-kaidah pendekatan dari bawah dan pertumbuhan secara alamiah atau organik, tanpa banyak dipengaruhi iming-iming yang membentuk motivasi yang berorientasi hanya untuk memperoleh "dana bantuan P2KP".

• Pembentukan KSM-KSM bukan hanya sekedar formalitas, tetapi lebih merupakan himpunan antar pribadi yang saling berinteraksi dan memiliki keterikatan atau kesaling-bergantungan dan yang berakar pada kepentingan dan kebutuhan bersama.

• Dasar pembentukan KSM dalam P2KP adalah kesadaran dan kebutuhan warga untuk berkelompok, sehingga "dinamika proses"

pembentukan KSM sangatlah penting karena melalui dinamika proses tersebut akan terbangun kesadaran kritis masyarakat mengenai mengapa, untuk apa dan bagaimana berkelompok serta terbangun kesepakatan-kesepakatan dalam kelompok tersebut.

• Pemahaman serta kesadaran kritis mengenai hakekat berkelompok dan kerelaan warga untuk menjadi anggota KSM merupakan pondasi untuk terbangunnya KSM tangguh dan mandiri, selain tentu saja aspek keswadayaan tiap anggotanya.

• Proses pembentukan KSM sebaiknya diawali dengan FGD Dinamika Kelompok, sebagai proses penumbuhan kesadaran kritis masyarakat untuk berkelompok dan orientasi masyarakat, BKM,

Kader Masyarakat maupun Fasilitator dalam proses Pembentukan KSM ini tidak untuk membentuk KSM sebanyak-banyaknya, melainkan didasarkan pada kebutuhan nyata dan kesiapan masyarakat sendiri. Akan lebih baik bila pada tahap awal difokuskan hanya dengan membentuk beberapa KSM dari kelompok masyarakat yang telah siap dan didampingi secara intensif hingga mandiri. KSM-KSM mandiri inilah yang kemudian menjadi contoh yang baik (Best Practice) untuk direplikasikan atau dijadikan tolok ukur bagi masyarakat lainnya yang ingin membentuk KSM.

• Dalam prakteknya, KSM ini dapat saja merupakan kelompok warga yang sudah terbentuk sebelum P2KP atau kelompok-kelompok yang dibentuk baru sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan.

Meskipun demikian, tidak setiap kumpulan orang atau kelompok dapat disebut sebagai KSM.

• Sekumpulan orang dapat disebut Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dalam P2KP, bila memenuhi beberapa kriteria berikut :

• Memiliki tujuan, kepentingan dan cita-cita yang sama yang disepakati anggota;

• Saling mengenal dan memiliki ikatan pemersatu satu sama lain;

• Bersifat terbuka, mengakar, bertumpu pada anggota dan pengambilan keputusan dilakukan secara kolektif;

• Memiliki pembagian kerja antar anggota, yaitu pembagian kewenangan, fungsi, peranan dan tugas yang jelas diantara anggota meskipun secara sederhana;

• Memiliki aturan kelompok yang disepakati dan ditaati oleh para anggotanya baik tertulis maupun belum/tidak tertulis; dan

• Terdapat kegiatan yang dilakukan secara teratur untuk mencapai tujuan.

c) Tujuan

Tujuan kegiatan Pembentukan KSM adalah:

• Mendorong tumbuh dan berkembangnya kapital sosial

• Mendorong warga masyarakat untuk dapat lebih dinamis dalam mengembangkan kegiatan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan serta kemasyarakatan;

• Mendorong proses pemberdayaan berjalan lebih efektif dan efisien;

• Mendukung terjadinya proses saling asah-saling asuh antar sesama anggota;

• Terjadi konsolidasi kekuatan bersama baik antar yang lemah maupun antar yang kuat dan lemah di dalam suatu KSM (konsep sapu lidi); dan

• Mengembangkan dan melembagakan tanggung renteng, membangun jaminan karakter antar anggota, wadah proses belajar/interaksi antar anggota, menggerakkan keswadayaan dan modal, meningkatkan dan menertibkan angsuran pinjaman, menguatkan dan mengembangkan usaha anggota dll.

d) Penanggung Jawab

Penanggung jawab pelaksanaan Pembentukan KSM-KSM adalah BKM dan difasilitasi oleh Kader Masyarakat serta Fasilitator.

e) Waktu Pelaksanaan

Secara formal, pembentukan KSM pada masa proyek P2KP di kelurahan sasaran "dimulai" sekitar bulan ketujuh atau kedelapan pelaksanaan P2KP di kelurahan itu. Artinya, pembentukan KSM dilakukan masyarakat setelah pelaksanaan kegiatan perencanaan partisipatif di kelurahan bersangkutan.

Meskipun demikian, internalisasi gagasan dan proses pembangunan kesadaran kritis di masyarakat mengenai hakekat berkelompok sebenarnya dapat dimulai sejak selesainya proses kegiatan pemetaan swadaya (bulan keempat).

Selanjutnya proses Pembentukan KSM-KSM

berlangsung berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan masyarakat berdasarkan hasil pemetaan swadaya dan perencanaan partisipatif. Proses Pembentukan KSM-KSM ini difasilitasi oleh BKM dan kader-kader masyarakat.

f) Keluaran

Keluaran yang diharapkan dari keseluruhan proses Pembentukan KSM adalah:

• Daftar KSM dan kegiatan utamanya

• Daftar anggota dan pengurus tiap KSM

• Kesepakatan-kesepakatan aturan main tiap KSM secara tertulis (AD/ART dll)

g) Indikator Kinerja

• Persentase peserta Pronangkis atau anggota-anggota KSM yang ditetapkan atas dasar peta kemiskinan dari proses pemetaan swadaya

• Persentase KSM-KSM yang dibentuk atas dasar daftar PJM dan Rencana tahunan Pronangkis

• Terbentuknya KSM dengan jumlah dan variasi kegiatan yang relatif cukup

• Persentase KK miskin dan wanita yang menjadi aktivis KSM-KSM

• Persentase kehadiran calon anggota pada serangkaian pertemuan dalam proses Pembentukan KSM.

h) Langkah-langkah

Langkah-langkah dapat dilihat pada Tabel 3.7 Langkah-langkah Kegiatan Pembentukan KSM.

NO.KERANGKA WAKTU Setelah hasil pemeta- an swadaya disebar- luaskan ke masyara- kat, yakni mulai awal bulan keempat Setelah diterima dan dibahasnya hasil kesepakatan PJM dan rencana tahunan Pronangkis atau pada akhir Bulan ke-7 pelaksanaan P2KP di kelurahan Dilakukan setelah warga memahami PJM dan rencana Pronang- kis atau dapat dimulai dilakukan setelah pemetaan swadaya, yang kemudian dikaji dan direview berda- sarkan hasil peren- canaan partisipatif. Mulai minggu ke-1 bulan ke-8 hingga ber- langsung terus mene- rus sesuai kebutuhan masyarakat

1 2 3 4

Tabel 3.7 Pedoman Langkah-langkah Pembentukan KSM Hasil-hasil pemetaan swadaya telah diterima, dipahami dan didiskusikan oleh masyarakat. Masyarakat menerima, mempelajari, memahami dan mendiskusikan apresiasi terhadap hasil PJM maupun Rencana Tahunan Pronangkis untuk bahan gagasan membangun KSM. Adakan pertemuan warga untuk FGD tentang "Dinamika Kelompok"! Diskusikan intensif mengapa, untuk apa dan bagaimana serta peran strategis berkelompok! Warga/calon-calon anggota KSM mengadakan serangkaian pertemuan masing-masing untuk membahas aturan, kepentingan dan kesepakatan bersama untuk membentuk KSM. Kader-kader masyarakat dapat memfasilitasi pertemuan tersebut.

Kejelasan kelompok sasaran P2KP setempat jelas dan Masyarakat merintis diskusi pengorganisasian kelompok berdasarkan kelompok sasaran Masyarakat paham prioritas kegiatan dan kelompok sasaran dalam Pronangkis yang telah disepakati. Pembentukan KSM dan jenis kegiatan berlandaskan Pronangkis yang telah disepakati tersebut Proses pembentukan KSM diawali dengan serangkaian proses membangun kesepakatan satu sama lain dari anggota-anggotanya. Masyarakat paham, sadar dan peduli pada peran strategis KSM sebagai institusi lokal, untuk mem- perjuangkan kepentingan dan kebutuhan bersama. KSM dibentuk secara langsung oleh warga melalui proses yang sesuai dengan P2KP dan Tuangkan hasilnya dalam Format KSM-1

LANGKAH-LANGKAH KEGIATANTUJUANPELAK- SANAPESERTA Kader masyarakat Kader masyarakat difasilitasi oleh Tim Fasilitator, Kader dan BKM difasilitasi oleh Tim Fasilitator. Calon-calon anggota KSM

Isu kritis mengenai bagaimana masyarakat miskin, masyarakat rentan (jompo, yatim piatu dll), serta pengangguran dapat terlibat dan menerima manfaat dari pelaksanaan P2KP di wilayahnya, senantiasa harus terus menerus diinternalisasikan ke masyarakat. Fasilitator, kader dan BKM menekankan bahwa dalam proses pembentukan KSM harus didasarkan pada PJM dan rencana tahunan Pronangkis serta didasarkan inisiatif masyarakat sendiri dengan difasilitasi oleh kader masyarakat. Internalisasikan bahwa berkelompok bukan hanya untuk memperoleh bantuan dana P2KP, tetapi terutama untuk menggalang potensi serta kekuatan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan mereka bersama. Jelaskan dan internalisasikan kriteria kelompok sasaran yang ditetapkan P2KP maupun oleh masyarakat sendiri. Warga atau calon-calon anggota KSM diminta memenuhi kriteria tersebut sebelum pertemuan pembentukan KSM. Kesamaan kepentingan dan kebutuhan dari anggota-anggota KSM Aturan-aturan dasar KSM Jenis Kegiatan KSM Kriteria anggota KSM

TEMPATSUBSTANSI Masyarakat Masyarakat Masyarakat Warga masyarakat

Kelurahan sasaran Kelurahan sasaran Rumah warga Rumah warga

Penilaian Kelayakan Proses Pembentukan KSM Pelatihan dasar tentang P2KP dan pelatihan lanjutan tentang institusi masyarakat bagi KSM-KSM yang telah dinilai layak.

KSM dibentuk sesuai proses yang ditetapkan P2KP, dan dituangkan hasilnya dalam Format KSM-2A dan Format KSM-2B. Masyarakat memberikan masukan, saran dan pendapat terhadap KSM yang baru dibentuk tersebut. Penguatan kapasitan bagi pengelola KSM-KSM yang telah dinilai layak, agar KSM tersebut mampu menjalankan peran dan fungsinya sebagai institusi masyarakat lokal.

LANGKAH-LANGKAH KEGIATANNO.TUJUANPELAK- SANAPESERTA BKM KMW dan tim fasilitator

Hasil kesepakatan pembentukan KSM diajukan ke BKM BKM bersama Fasilitator menilai kelayakan proses pembentukan KSM tersebut BKM menyebarluaskan Format KSM-1 di tempat- tempat strategis untuk memberi kesempatan masyarakat menyampaikan saran, kritik dan masukannya Fasilitator, kader dan BKM mengadakan pertemuan dengan calon KSM yang dihadiri oleh seluruh calon anggotanya, untuk menilai kelayakan proses pembentukan KSM tersebut Bila KSM tersebut dinilai layak, dilanjutkan dengan proses pembentukan KSM, yakni penyempurnaan Format KSM-1. Bila dinilai belum layak, minta pada warga tersebut untuk melengkapi apa-apa yang belum memenuhi kriteria. Konsep dasar Kelompok dan institusi lokal Dinamika Kelompok Manajemen dan Organisasi Kelompok Dan lain-lain

TEMPATSUBSTANSIKERANGKA WAKTU Masyarakat, BKM dan fasilitator Pengurus dan anggota KSM yang proses pembentukannya telah dinilai layak

Kelurahan sasaran Kelurahan sasaran

Setelah warga membentuk KSM melalui serangkaian pertemuan antar calon anggota KSM-nya dan setelah diperoleh kepastian tak ada masyarakat yang berkeberatan terhadap KSM dan calon anggota yang telah diumumkan sebelumnya. Setelah KSM dinilai layak dan sebelum KSM mengajukan usulan kegiatan untuk memperoleh dana bantuan BLM

5 6

Lanjutan Tabel 3.7 Pedoman Langkah-langkah Pembentukan KSM

Kota/Kabupaten : ………

Kecamatan : ………

Desa/Kelurahan : ………

BKM : ………

Nama KSM : ………

Kegiatan Utama KSM : ………

....………...

Alamat Sekretariat : ………

………

Nomor Rekening KSM : ………

Jumlah Anggota : Total ………… , L ……… , P..……..

Berdasarkan hasil kesepakatan dalam pertemuan warga yang diselenggarakan pada hari ………, tanggal …………. tahun ………… bertempat di ……….. dan dihadiri oleh ………….

peserta, ditetapkan pembentukan KSM ………..……….. dengan nama-nama di bawah ini adalah warga yang menjadi Anggota dan Pengurus KSM dimaksud.

Format KSM-1

Dalam dokumen Bab 3. Pelaksanaan P2KP (Halaman 54-59)