• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 3. Pelaksanaan P2KP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bab 3. Pelaksanaan P2KP"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

3.1 Gambaran Umum Penanganan P2KP Proses penanganan P2KP diawali dengan serangkaian kegiatan orientasi pemahaman substansi P2KP kepada pihak pelaksana P2KP mulai dari tingkat pusat hingga tingkat kelurahan, baik pemerintah, konsultan maupun fasilitator. Hal ini dimaksudkan agar semua komponen pelaku maupun pihak yang terkait dapat terlebih dahulu memahami secara utuh dan memiliki persepsi yang sama mengenai visi, misi, tujuan, strategi, prinsip dan nilai serta mekanisme pelaksanaan P2KP, sebelum proyek P2KP benar-benar direalisasikan di lapangan atau di masyarakat.

Setelah para pelaksana P2KP memahami dan memiliki persepsi yang sama, maka pada tahap berikutnya ialah proses penyiapan masyarakat dan pemerintah daerah agar mampu berperan dalam P2KP, melalui serangkaian kegiatan pemberdayaan atau pengembangan masyarakat (community empo- werment) dan pengembangan kapasitas pemerintah daerah (local government capacity building) di lokasi sasaran P2KP. Proses ini dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis dan kesiapan masyarakat untuk mampu menggalang berbagai potensi, termasuk manfaatkan akses P2KP, khususnya dana BLM, sebagai penunjang terhadap upaya mereka untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.

Setelah tumbuh kesadaran kritis dan kesiapan masyarakat terhadap substansi P2KP, maka tahap berikutnya adalah pengorganisasian masyarakat untuk menggalang kekuatan dan membangun lembaga dalam rangka menanggulangi kemiskinan secara sistematik dan terorganisasi dengan

Bab 3. Pelaksanaan P2KP

memanfaatkan berbagai sumberdaya yang ada, termasuk Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM).

Masyarakat dalam hal ini diharapkan telah memahami posisi strategis BLM P2KP sebagai peluang/akses bagi upaya-upaya masyarakat untuk memperbaiki kesejahteraan mereka, dan tidak dipandang sebagai bantuan cuma-cuma atau belas kasihan (charity).

Oleh karena itu, diharapkan melalui serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan BLM P2KP ini, masyarakat dapat memahami bahwa Dana BLM P2KP bukan merupakan hak yang harus diterima secara otomatis oleh masyarakat, tetapi hanya merupakan pelengkap dari tanggungjawab dan kewajiban masyarakat itu sendiri dalam upaya menanggulangi kemiskinan di sekitarnya.

Untuk itu diharapkan tumbuh adanya ikhtiar sungguh-sungguh dari masyarakat untuk memperkuat dan memanfaatkan segenap potensi yang ada melalui proses pengorganisasian yang mengakar sebelum masyarakat memanfaatkan BLM P2KP, agar pada akhirnya dapat memacu tumbuh berkembangnya keswadayaan dan kemandirian masyarakat dalam upaya menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.

Disadari bahwa upaya membangun keswadayaan dan kemandirian masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan melalui proses pemberdayaan masyarakat maupun akses dana BLM tidak akan efektif dan optimal apabila tidak didukung oleh pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat.

Dalam konteks itulah, perlu didorong upaya-upaya yang berkaitan dengan pelembagaan kemitraan sinergis antara gerakan kemandirian masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat dalam penanggulangan kemiskinan, melalui

(2)

penguatan peran dan fungsi forum BKM serta penyediaan Dana Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET) untuk kota terseleksi.

Forum BKM bersama pemerintah daerah diharapkan dapat merintis dan mewujudkan "gerakan kemitraan" dalam penanggulangan kemiskinan, dengan cara memberi peluang bagi kebutuhan masyarakat (demand driven) dapat diakomodasi dalam kebijakan dan pembangunan daerah, sekaligus juga mendorong agar program dan kebijakan pemerintah daerah (supply driven) dapat lebih berbasis pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat (pendekatan pembangunan partisipatif). Khusus untuk kota-kota terseleksi, upaya pelembagaan kemitraan stakeholders lokal tersebut juga didukung dengan stimulan penyediaan komponen bantuan Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET).

Sehingga P2KP benar-benar akan mampu menjadi kepedulian semua stakeholders lokal secara sinergis, baik masyarakat, pemerintah daerah maupun kelompok peduli setempat.

3.2 Diagram Alir Penanganan Kegiatan P2KP Untuk lebih mendukung tercapainya misi dan tujuan P2KP sebagaimana diuraikan di atas, maka dalam penanganan P2KP selain tahapan-tahapan kegiatan yang dapat dilakukan secara berurutan, juga didukung dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkala dan/atau berkesinambungan selama masa proyek P2KP, antara lain; pendampingan, monitoring, evaluasi, sosialisasi, pelatihan, penguatan forum dan organisasi masyarakat, penanganan pengaduan dan manajemen

konflik, inventarisasi best practice, serta terminasi.

Kegiatan-kegiatan pada P2KP yang dilaksanakan berurutan tidak berarti mutlak harus dilakukan sepenuhnya, melainkan juga secara fleksibel dapat disesuaikan atas dasar situasi dan kondisi lokal yang ada, atas sepengetahuan KMW. Meskipun demikian, penyesuaian kegiatan tersebut (baik penambahan, pengurangan dan lain-lain) tidak boleh bertentangan dengan upaya pencapaian visi, misi, tujuan, prinsip dan nilai P2KP.

Dalam wujud diagram, tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan P2KP di atas, baik yang bersifat berurutan atau sekuensial maupun berkala dan/atau berkesinambungan, dapat dilihat pada Bagan 3.1.

Daur Proyek Kegiatan P2KP. Kegiatan-kegiatan yang diuraikan dalam hal ini hanya kegiatan-kegiatan pokok P2KP, terutama kegiatan pokok dari setiap komponen proyek P2KP, yakni: komponen pemberdayaan masyarakat dan pemerintah daerah, komponen dana BLM serta komponen dana PAKET. Masing-masing kegiatan pokok dimaksud akan diuraikan lebih detail dalam Bab III Buku Pedoman Teknis ini. Terkecuali kegiatan pokok komponen PAKET yang dapat dilihat pada Buku Pedoman Khusus mengenai PAKET.

Sedangkan Kegiatan-kegiatan yang lebih terinci, termasuk kegiatan penunjang maupun kegiatan pelatihan dan sosialisasi, dapat dilihat pada Buku Pedoman Umum P2KP maupun pada uraian mengenai Strategi Sosialisasi dan Pelatihan yang telah dijelaskan pada Bab II Buku Pedoman Teknis ini.

Demikian pula halnya dengan pengelolaan pinjaman bergulir dapat dilihat secara utuh pada Buku Pedoman Khusus Pengelolaan Pinjaman Bergulir oleh UPK- BKM.

(3)

BAGAN 3.1 DAUR PROYEK KEGIATAN P2KP

Persiapan dan Penyamaan Persepsi P2KP di tingkat Penyelenggara: Ditjen Perkim

Kimpraswil, PMU, Staf proyek, Tim Pengarah/Pelaksana & Pokja Inter Dept.

Penyiapan dan Penyamaan Persepsi P2KP bagi stakeholders di tingkat Nasional, Propinsi,

Kota/Kabupaten dan Kecamatan

Rembug Warga Kesiapan Masyarakat Kelurahan dan Pengusulan Kader Masyarakat

PEMBENTUKAN ORGANISASI MASYARAKAT WARGA Pengukuhan Lembaga Masyarakat yang ada sebagai BKM, atau

Pembentukan baru Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Rekruitment, Orientasi P2KP dan Mobilisasi KMP,

KMW, serta Fasilitator dll

Dukungan Kegiatan Berkala dan/atau Berkesinambungan Pada Daur Proyek P2KP

Sosialisasi Pelatihan Pendampingan Monitoring Evaluasi Penanganan Pengaduan Penyebaran Best Practice

Pencanangan/ Launching Pelaksanaan P2KP

Focussed Group Discussion (FGD) Refleksi Kemiskinan

Pemetaan Kemiskinan Secara Swadaya

Perencanaan Partisipatif Menyusun PJM dan Rencana Tahunan PRONANGKIS

Pembentukan Kelompok-Kelompok Masyarakat (Pemampuan atau Pembentukan KSM-KSM) Pelaksanaan Komponen Pemberdayaan Masyarakat Tahap Persiapan Proyek P2KP

Pemrosesan Pencairan BLM

Tahap I: 20%

Masyarakat Siap Memanfaatkan BLM

Penyiapan Terminasi

(4)
(5)

3.3 Pelaksanaan Komponen

Pengembangan Masyarakat dan Kapasitas Pemerintah Daerah

Pelaksanaan komponen pengembangan masyarakat dan kapasitas pemerintah daerah ini pada dasarnya mencakup beberapa kegiatan utama sebagai berikut :

• Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM)

• Refleksi Kemiskinan (RK)

• Pemetaan Swadaya (PS)

• Pengorganisasian Masyarakat (Pembentukan BKM)

• Perencanaan Partisipatif (PP)

• Pengorganisasian Kelompok (Pembentukan KSM)

• Pengembangan Kapasitas Pemerintah Daerah Ketujuh kegiatan utama tersebut secara rinci diuraikan berikut ini.

3.3.1 Rembug Kesiapan Masyarakat a) Pengertian

Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) adalah serangkaian rembug/rapat warga yang diseleng- garakan oleh masyarakat dan perangkat kelurahan/

desa bekerjasama dengan Tim Fasilitator mulai di tingkat RT atau RW sampai dengan tingkat kelurahan/

desa, dengan mengundang semua warga kelurahan secara terbuka. Rembug warga ini pada dasarnya merupakan perwujudan dari proses partisipatif dalam rangka membangun kesepakatan masyarakat di calon lokasi kelurahan sasaran untuk: menetapkan kesiapan atau ketidaksiapan warga melaksanakan P2KP yang menjadi niat masyarakat itu sendiri dan memilih para calon Kader Masyarakat.

Hal ini dimaksudkan agar keputusan tentang kesiapan masyarakat di kelurahan sasaran tidak hanya ditetapkan oleh perangkat kelurahan atau tokoh-tokoh masyarakat, namun melibatkan representasi sebagian besar masyarakat, khususnya Pembentukan Forum antar BKM

secara Organik, Demokratis dan Partisipatif

Seleksi dan Penetapan Kota/Kabupaten Peserta/Partisipan PAKET P2KP

Penilaian kelayakan usulan PAKET oleh KMW

Pencairan dana PAKET ke rekening bersama (BKM dan Dinas pengusul)

Kerjasama dan Kemitraan BKM dengan Dinas dalam Pelaksanaan Kegiatan PAKET

sesuai usulan yang disetujui Verifikasi kinerja PAKET

tahun berjalan oleh KMW Rekomendasi KMW untuk pelaksanaan PAKET pada

tahun berikutnya

YA TIDAK

LIKUIDASI

Pelaksanaan Komponen Dana PAKET

Pembentukan Komite PAKET di kota/Kabupaten peserta PAKET

Tumbuh “Gerakan Kemitraan” Masyarakat, Pemerintah dan Kelompok Peduli dalam Upaya Penanggulangan Kemiskinan Secara Mandiri dan BKM-BKM

Pengajuan Usulan/Sub Proyek Kegiatan PAKET oleh Panitia Kemitraan Prioritas Usulan/Sub Proyek Kegiatan PAKET

oleh Komite PAKET

(6)

masyarakat miskin dan kelompok masyarakat tertinggal lainnya.

b) Ketentuan Dasar

• Proses membangun kesiapan masyarakat dilakukan melalui serangkaian rembug-rembug warga di calon kelurahan sasaran, mulai dari tingkat masyarakat akar rumput hingga tingkat kelurahan yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator.

• Sebelum rembug warga dilaksanakan, Tim Fasilitator harus terlebih dahulu melakukan persiapan sosial dengan mengadakan pendekatan ke para pelaku kunci di kelurahan yang bersangkutan yang diperkirakan dapat membantu keberhasilan rembug warga tersebut.

• Pada saat pelaksanaan rembug-rembug warga tersebut, Fasilitator harus menyampaikan penjelasan tentang prinsip, substansi, serta ketentuan P2KP kepada masyarakat, sehingga keputusan yang ditetapkan masyarakat didasarkan pada pemahaman P2KP yang memadai.

• Fasilitator juga wajib memfasilitasi masyarakat setempat untuk menetapkan kriteria dan melakukan pemilihan relawan-relawan yang akan diusulkan menjadi kader masyarakat.

• Dalam memfasilitasi masyarakat menetapkan kriteria dan memilih kader masyarakat maka Fasilitator harus mampu menekankan kriteria yang menjadi perwujudan dari sifat baik manusia.

• Di tingkat kelurahan rembug warga sudah harus memutuskan kesiapan atau ketidaksiapan untuk berpartisipasi aktif dalam P2KP. Apabila masyarakat tidak siap, maka Fasilitator (cq.

KMW) sesegera mungkin melaporkan ke PMU P2KP untuk membatalkan kelurahan/desa bersangkutan sebagai lokasi sasaran P2KP.

Sedangkan bila masyarakat menyatakan kesiapannya, maka warga masyarakat melalui Lurah/Kades masing-masing menyampaikan :

* Surat Pernyataan kesiapan untuk berpartisipasi aktif dalam proyek P2KP

* Surat Pengusulan calon kader masyarakat yang telah dipilih sebanyak 3-5 orang, yang diharapkan bahwa sepertiga dari jumlah tersebut adalah wanita.

* Surat Permohonan bantuan teknis kepada KMW.

c) Tujuan

Secara umum, tujuan diadakannya proses persiapan masyarakat adalah untuk menciptakan kondisi dimana masyarakat sadar perlunya proyek ini, sehingga dapat membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan serta berkelanjutan. Selain itu diharapkan pula melalui rembug warga ini akan meningkatkan pemahaman peran dan tanggung jawab dari masing-masing pelaku P2KP, baik ditataran pemerintah, konsultan dan masyarakat di tingkat kelurahan.

Adapun secara rinci tujuan tersebut adalah:

• Internalisasi substansi P2KP sejak dini kepada masyarakat bahwa dalam pelaksanaan P2KP akan senantiasa bertumpu pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan masyarakat sendiri secara demokratis, partisipatif, transparan dan akuntabel;

Menumbuhkan "Rasa Memiliki" ( Sense of Ownership), karena Masyarakat memutuskan

sendiri secara sadar untuk terlibat dalam pelaksanaan P2KP;

• Mencegah adanya pihak-pihak tertentu yang

"mengklaim" paling berjasa atas ditetapkannya Desa/Kelurahan tertentu sebagai lokasi sasaran P2KP;

• Terpilihnya kader-kader masyarakat yang berasal dari relawan-relawan terbaik dari kelurahan bersangkutan yang dipilih langsung oleh masyarakat.

• Masyarakat paham dan bersedia memenuhi proses, ketentuan, prinsip dan nilai P2KP.

Proses pelibatan masyarakat sejak tahap awal pelaksanaan P2KP sangat penting agar tumbuh tanggungjawab dan rasa memiliki (sense of ownership) masyarakat terhadap P2KP, sehingga masyarakat akan benar-benar konsisten menegakkan misi, visi, tujuan, prinsip-prinsip dan nilai P2KP dalam pelaksanaan P2KP di kemudian hari. Oleh karena itu, diharapkan agar dalam pelaksanaan kegiatan ini tidak semata-mata berorientasi formalitas, melainkan harus difokuskan pada

"pendekatan proses", dengan melibatkan dan membuka kesempatan masyarakat, terutama kelompok masyarakat rentan (masyarakat termiskin, jompo dan lain-lain), untuk terlibat aktif mengambil keputusan mengenai penawaran P2KP ini.

(7)

d) Penanggung Jawab

Penanggung jawab proses penyiapan masyarakat dalam P2KP adalah Tim Fasilitator.

e) Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan proses penyiapan masyarakat dalam P2KP adalah pada bulan pertama pelaksanaan P2KP di Kelurahan Sasaran atau setelah fasilitator dimobilisasi di lokasi sasaran.

f) Keluaran

• Pernyataan kesiapan masyarakat untuk berpartisipasi aktif pada pelaksanaan P2KP di wilayah kelurahannya dan permohonan bantuan teknis yang ditulis pada Format RKM-1;

• Daftar nama hasil pemilihan dan usulan kader masyarakat ditulis pada Format RKM-2;

• Data/profil wilayah ditulis pada Format RKM-3; dan

• Keputusan KMW serta Tim Koordinasi Kota/Kab terhadap pernyataan kesiapan dan Permohonan bantuan teknis ditulis di Format RKM-4.

g) Indikator Kinerja

• Jumlah warga masyarakat yang terlibat dalam serangkaian pertemuan warga untuk mengambil keputusan mengenai kesiapan masyarakat

melaksanakan P2KP dan pemilihan kader masyarakat;

• Jumlah masyarakat miskin dan wanita yang hadir serta turut mengambil keputusan dalam pernyataan kesiapan warga berpartisipasi aktif melaksanakan P2KP dan pemilihan kader-kader masyarakat;

• Kelengkapan dan ketepatan antara isian kondisi wilayah dan masyarakat sasaran dengan kenyataan di lapangan;

• Tanggapan KMW dan Bappeda untuk menjawab permohonan bantuan teknis dari warga tidak melebihi jangka waktu satu minggu setelah surat tersebut diajukan;

• Proses pemilihan kader masyarakat dilakukan secara langsung, tanpa kampanye atau pencalonan, dan didasarkan pada kriteria yang ditetapkan masyarakat dengan berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kemasyarakatan.

h) Langkah-Langkah

Proses membangun kesiapan warga dan pemilihan kader masyarakat dapat dilihat pada Tabel 3.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM).

(8)

Penyerahan buku pedoman, poster dan folder ke KMW Lokakarya orientasi P2KP di tingkat kecamatan Penggalian & pemutakhiran data profil kelurahan sasaran dengan data terbaru, baik dari BKKBN, BPS maupun kantor lurah bersangkutan. Sosialisasi P2KP tingkat kelurahan/desa bagi RT, RW/ dusun, tokoh masyarakat, warga dll. Rembug warga secara berjenjang dari tingkat RT s.d. tingkat kelurahan Penyebarluasan/ pengumuman hasil perhitungan suara, berikut nama-nama calon Kader Masyarakat terpilih di tempat strategis.

Memberi bahan KMW untuk melakukan sosialisasi Memadukan persepsi program sejenis dan langkah pelaksanaan Mendapatkan profil kelurahan/ desa yang mutakhir Pengisian RKM-3 sebagai laporan. Memadukan persepsi & kesepakatan distribusi peran & langkah pelaksanaan. Mencapai kesepakatan masyarakat siap/tidak untuk terlibat aktif di P2KP dengan segala konsekuensinya Pemilihan & penetapan calon Kader Masyarakat Pengisian format RKM 1 & 2 Mendapatkan masukan dari masyarakat yang tidak dapat menghadiri rembug

LANGKAH-LANGKAH KEGIATANNO.TUJUANPELAK- SANAPESERTA KMP P2KP Camat Tim Fasilitator Lurah/Kades Perangkat Kelurahan Lurah/Kades

Materi-materi sosialisasi P2KP Konsep dasar & rencana kerja P2KP Distribusi peran antar pelaku Program sejenis yang sedang/akan dilaksanakan Data administrasi kelurahan/desa; jumlah RT, RW, Dusun, dan sebagainya Data penduduk; jml penduduk, jml penduduk miskin menurut BKKBN (pra-KS & KS-1), penerima zakat- fitrah dari mesjid setempat, penganggur, perempuan, dsb Data kesiapan masyarakat, dukungan perangkat pemerintah dan masyarakat, budaya partisipasi, dsb Data keterlibatan dalam program sejenis yang ada Data kondisi lingkungan, prasarana, perumahan, dsb.(Bahan-bahan ini bagus untuk sosialisasi tkt kelurahan) Konsep P2KP & rencana pelaksanaannya Rencana rinci penjadwalan kegiatan wawancara & dialog dengan KK miskin, observasi lapangan, serta rembug-rembug warga Kriteria kader masyarakat Gender & peran perempuan dalam pembangunan masyarakat (1/3 dari calon Kader Masyarakat sebaiknya perempuan) Kriteria kader Daftar nama kader dengan jumlah suara

TEMPATSUBSTANSIKERANGKA WAKTU Semua KMW Lurah/kades, tokoh masyarakat, pemeduli Perangkat kelurahan/ desa, Ketua RT, RW, Kadus, tokoh masyarakat, pemeduli Perangkat kelurahan/ desa, Ketua RT, RW, Kadus, tokoh masyarakat & pemeduli

Kantor PMU Kantor kecamatan Kantor BKKBN & BPS setempat, kantor kelurahan, serta wawancara dengan masyarakat Kantor kelurahan Balai Kampung, Rumah Warga, dan Balai Desa/ Kantor Kelurahan setempat Papan pengumuman di tempat-tempat yang strategis

Setelah KMW-KMW Mobilisasi di SWK-nya Setelah Lokakarya tingkat Kab./Kota Setelah lokakarya orientasi tingkat kecamatan dilaksanakan & sebaiknya sebelum sosialisasi tingkat kelurahan/desa. Sebelum pelaksanaan, sebaiknya Tim Fasilitator mengada- kan forum silaturahmi stakeholder tingkat kelurahan Paling lambat pekan ke-2 setelah fasilitator di kelurahan. Seluruh rembug warga kelura- han di kecamatan yang sama dilakukan mak- simal selama 15 hari. Setelah rembug warga tingkat kelurahan. Beri waktu 3 hari bagi masyarakat untuk memberi masukan

1 2 3 4 5 6

Tabel 3.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) Perangkat kelurahan/ desa, Ketua RT, RW, Kadus, tokoh masyarakat & pemeduli

(9)

Format RKM-1 telah terisi lengkap dan benar diserahkan ke KMW bersama-sama dengan Format RKM-2 dan Format RKM-3, dengan seluruh lampiran yang dibutuhkan bila ada Berdasarkan Format RKM-1 hingga Format RKM-3, KMW & Bappeda melakukan koordinasi guna memutuskan permohonan dari masyarakat. Hasil keputusan pertemuan dituangkan dalam format RKM-4 Kirimkan salinan keputusan KMW dan Tim Koordinasi Kota/Bappeda (Format RKM- 4) yang telah dibuat dan ditandatangani kepada PMU, dan salinannya kepada Tim Koordinasi Propinsi, Lurah/ Kades, PJOK, dan diumumkan kepada masyarakat. Kader-kader masyarakat terpilih mengikuti pelatihan dasar dan lanjutan tentang P2KP di masing-masing kecamatan.

Menyatakan kesiapan masyarakat untuk terlibat aktif dlm P2KP Mengajukan permintaan bantuan teknik ke KMW Menanggapi sikap masyarakat terhadap P2KP Pengisian Format RKM-4 Informasi perkembangan proyek Penyiapan kader terampil

LANGKAH-LANGKAH KEGIATANNO.TUJUANPELAK- SANAPESERTA Lurah/Kades Bappeda Kota/Kab. Koordinator Kota/ Kab.dari KMW Tim Fasilitator setempat

RKM-1 Pernyataan kesiapan masyarakat RKM-2 Daftar nama calon Kader Masyarakat RKM-3 Profil Kelurahan/Desa Rencana tindak proses pendampingan ke masyarakat Bantuan Teknis untuk kelurahan sasaran Daftar Kader-kader Masyarakat P2KP Substansi P2KP Teknik-teknik pendampingan masyarakat

TEMPATSUBSTANSIKERANGKA WAKTU Perangkat desa/ kelurahan, warga masy di tkt RT, RW/ Dusun KMW Para calon Kader Masyarakat se kecamatan

Kantor Koordinator Kota/ Kab KMW Kantor Bappeda Kantor atau tempat yang representatif di kecamatan tsb

Maksimal 1 hari setelah langkah 6 Maksimal 3 hari setelah semua format- format RKM diterima KMW Maksimal 1 hari setelah langkah 9 atau rapat KMW dengan Bappeda setempat. Dilaksanakan sekitar pekan terakhir bulan ke-1, selama sekitar 8 atau 10 hari

7 8 9 10

Lanjutan tabel 3.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM)

(10)

Format RKM-1

PERNYATAAN KESIAPAN WARGA DAN PERMOHONAN BANTUAN TEKNIS P2KP

Nomor : ……….

- Desa/Kelurahan :

- Kecamatan :

- Kota/Kabupaten :

- SWK :

Yang bertanda tangan di bawah ini, kami :

Nama : ...………...

Jabatan : Kepala Kelurahan ……….…...

Kecamatan ………...……….

Kota/Kabupaten ...……….

Setelah bermusyawarah dengan warga masyarakat, perwakilan warga RT, RW, tokoh masyarakat, perangkat kelurahan, serta terutama masyarakat Pra-KS/KS1 di wilayah kami untuk membahas hasil- hasil dari rembug warga di tingkat masyarakat, maka dengan ini kami bersepakat menyatakan kesiapan warga masyarakat kelurahan untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan P2KP.

Kesiapan kami sekaligus juga kesediaan untuk memenuhi dan melaksanakan secara konsisten seluruh ketentuan yang ditetapkan dalam P2KP, terutama dengan melibatkan masyarakat miskin, pengusulan relawan sebagai kader masyarakat P2KP, serta mendukung proses tumbuhnya partisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat.

Sehubungan hal tersebut, agar dalam pelaksanaan P2KP di kelurahan kami sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan, maka dengan ini kami mengajukan permohonan bantuan teknis untuk membantu mempelancar kegiatan P2KP di Kelurahan kami.

Sebagai kelengkapan dari Kesiapan dan Pengajuan kami, bersama ini disertakan beberapa lampiran yang dibutuhkan.

Demikian, surat pernyataan ini untuk digunakan sebagaimana mestinya.

...………. , ………. 20...…

Saksi : Yang Menyatakan

1. ……….. (Wakil Masyarakat Pra KS/KS1) Kepala Kelurahan, 2. ……….. (Wakil warga BPD/Dekel/LPM/dll)

3. ……….. (Wakil warga RT atau RW)

4. ……….. (Wakil warga RT atau RW) ...………...

5. ……….. (Wakil warga RT atau RW)

6. ……….. (dst sesuai jumlah RT atau RW di kelurahan bersangkutan)

*) Format ini hanya contoh, terutama untuk masyarakat yang telah menyatakan kesiapannya.

(11)

Format RKM-2

HASIL PEMILIHAN DAN USULAN KADER MASYARAKAT P2KP

- Desa/Kelurahan : - Kecamatan : - Kota/Kabupaten :

Pada jam/hari ……… tanggal .../bulan .../tahun ……… bertempat di

……… telah dilakukan pertemuan tingkat Kelurahan untuk membahas kesiapan masyarakat dan pemilihan Calon Kader Masyarakat Program P2KP yang dihadiri oleh …...orang.

Adapun hasil dari rekapitulasi perhitungan suara sesuai urutan peraihan jumlah suara adalah sebagai berikut:

*) Format ini hanya contoh, dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat berkoordinasi dengan KMW

Saksi : Yang Menyatakan

1. ……….. (Wakil Masyarakat Pra KS/KS1) Kepala Kelurahan, 2. ……….. (Wakil warga BPD/Dekel/LPM/dll)

3. ……….. (Wakil warga RT atau RW)

4. ……….. (Wakil warga RT atau RW) ...………...

5. ……….. (Wakil warga RT atau RW)

6. ……….. (dst sesuai jumlah RT atau RW) Diketahui oleh,

...

Fasilitator

No. Nama Jumlah

Suara Alamat L/P Pendidikan Usia Pekerjaan

(12)

Format RKM-3

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ULANG KONDISI DAN PROFIL KELURAHAN SASARAN

Nomor : ... (diisi oleh Tim Fasilitator)

- Desa/Kelurahan : ………

- Kecamatan : ………

- Kota/Kabupaten : ………

- SWK : ………

Hasil pemeriksaan ulang dan masukan masyarakat mengenai pernyataan kesiapan yang dilakukan oleh masyarakat dan perangkat kelurahan pada tanggal .../bulan .../tahun ……… , maka bersama ini disampaikan pertimbangan berupa data dan kondisi desa/kelurahan sasaran dengan nama di atas sebagai berikut.

No. Data yang diperiksa

PODES 2000 (P2KP) BKKBN Tahun …….. Kel. Tahun ……..

Data yang diperiksa

Jumlah penduduk Jumlah penduduk wanita Jumlah penganggur

Jumlah keluarga Pra KS dan KS 1 Jumlah keluarga sejahtera (non Pra/KS-1) Jumlah RT

Jumlah RW Jumlah Dusun 1

2 3 4 5 6 7 8

A. Statistik

No. Program Ya, Sedang Terlibat Ya, Pernah Terlibat.. Tidak Terlibat

Program Pengembangan Kecamatan (PPK)

Program penanggulangan kemiskinan lainnya yang bersumber dari dana Pemerintah Daerah (Sebutkan)

Lainnya …... (sebutkan) 1

2

3

B. Keterlibatan sebagai Lokasi Sasaran Program Lain

(13)

No. Kondisi Siap Belum Siap

Kesiapan Masyarakat sebagai Pelaku Utama pelaksanaan P2KP Dukungan Aparat Desa/Kelurahan dan Tokoh Masyarakat terhadap peran aktif masyarakat , terutama masyarakat miskin Kesiapan Masyarakat Mengembangkan Keswadayaan dan Kemandiriannya

Kesiapan Masyarakat dan Aparat Desa/ Kelurahan Menumbuhkembangkan Proses Pembangunan Partisipatif Kesiapan Masyarakat untuk melaksanakan P2KP sesuai dengan proses , ketentuan , prinsip , dan nilai P2KP

1 2

3

4

5

C. Data Mengenai Kesiapan Masyarakat

No. Prasarana dan Sarana Kondisi

(sebutkan lokasi &

data lainnya) Jalan Desa/Kelurahan

Saluran Air Kotor Saluran Air Hujan Pengadaan Air Bersih Jembatan

Perumahan Lainnya 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

D. Data Mengenai Kondisi Lingkungan dan Permukiman

Masalah (sebutkan lokasi &

data lainnya)

Potensi (sebutkan lokasi &

data lainnya)

Berdasarkan hasil pemeriksaan ulang ini dan masukan-masukan dari masyarakat serta perangkat desa/

kelurahan, maka diusulkan agar desa/kelurahan sasaran yang telah diperiksa ini (beri tanda silang pada salah satu pernyataan):

• Tetap dijadikan desa/kelurahan penerima bantuan P2KP, karena memang memenuhi kriteria sebagai lokasi sasaran P2KP dan masyarakat menyatakan kesiapannya

• Tetap dijadikan desa/kelurahan penerima bantuan P2KP, dengan catatan dilakukan proses pemilihan ulang kader-kader masyarakat agar sesuai dengan ketentuan P2KP.

• Dibatalkan statusnya sebagai desa/kelurahan penerima bantuan karena masyarakat tidak siap untuk melaksanakan P2KP.

Demikian masukan untuk bahan pertimbangan dalam memutuskan penerimaan atau penolakan atas surat permohonan yang disampaikan oleh masyarakat melalui Kepala Desa/Lurah bersangkutan.

Tanggal ..., bulan ..., tahun ...

...

Tim Fasilitator

*) Format ini hanya contoh, dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat berkoordinasi dengan KMW

(14)

Format RKM-4

BERITA ACARA PEMBAHASAN KMW DAN TIM KOORDINASI

Berikut ini adalah berita acara Rapat KMW dan Tim Koordinasi Kota/Kabupaten untuk pembahasan Surat permohonan dan pengajuan Usulan:

No. Surat Permohonan : ...

Kelurahan/Desa : ...

Kecamatan : ...

Kota/Kabupaten : ...

SWK : ...

Tanggal Pembahasan : ...

Berdasarkan Surat Pernyataan Kesiapan warga masyarakat, Permohonan bantuan teknis serta pengusulan kader-kader masyarakat yang disampaikan oleh Masyarakat beserta perangkat kelurahan/

desa, maka KMW ... dan Tim Koordinasi Kota/Kabupaten ... telah melakukan rapat pembahasan pada tanggal ... dan memutuskan: (pilih salah satu)

• Menerima permohonan dan usulan yang tercantum di atas dengan pertimbangan:

...

...

• Menolak permohonan dan usulan yang tercantum di atas dengan pertimbangan:

...

...

Demikian keputusan ini kami buat dengan sesungguh-sungguhnya.

Tanggal ...

... ...

Pimpinan KMW Ketua Tim Koordinasi Kota/Kab.

*) Format ini hanya contoh, dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat berkoordinasi dengan KMW

(15)

3.3.2 Refleksi Kemiskinan a) Pengertian

Refleksi Kemiskinan adalah suatu bentuk pendalaman mengenai suatu topik dengan melibatkan mental, rasa dan karsa secara terstruktur untuk membangun kesadaran kritis peserta refleksi (masyarakat) mengenai kemiskinan dan kaitannya dengan pola perilaku dan pola pikir sehari-hari masyarakat setempat.

Kesadaran kritis ini penting sebelum akhirnya masyarakat menyepakati bagaimana sebaiknya P2KP dilaksanakan, serta menyepakati bagaimana mendorong keterlibatan masyarakat miskin dan termiskin bersama komponen masyarakat lainnya dalam memanfaatkan akses peluang yang ada di P2KP untuk mendukung penanggulangan kemiskinan yang akan mereka lakukan. Refleksi kemiskinan ini dapat dilakukan dengan metoda DKT atau DPT atau kombinasi keduanya.

Refleksi Kemiskinan ini pada hakekatnya juga merupakan upaya untuk melakukan penjajagan sekaligus mengidentifikasi perkara-perkara (issue) kemiskinan di lokasi kelurahan sasaran berdasarkan persepsi dan aspirasi dari masyarakat, khususnya masyarakat miskin setempat. FGD Refleksi kemiskinan ini pada hakekatnya mengandung dua sisi; sisi pertama berorientasi pada upaya mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam merumuskan karakteristik dan persoalan kemiskinan yang dihadapinya, dan sisi kedua sebagai proses pembelajaran masyarakat untuk mampu menganalisis faktor-faktor penyebab kemiskinannya serta peluang mengakses potensi untuk menanggulangi kemiskinan melalui P2KP. Refleksi kemiskinan sekaligus juga sebagai orientasi awal bagi masyarakat untuk memahami bahwa P2KP bertumpu pada kondisi karakteristik kemiskinan di masing-masing wilayah sasaran.

Hal ini mutlak perlu dilakukan mengingat seringkali terjadi berbagai proyek kemiskinan yang dilaksanakan tidak mampu menyentuh langsung lapisan kelompok masyarakat akar rumput, yakni masyarakat miskin dan termiskin (kelompok masyarakat rentan) yang pada dasarnya disebabkan oleh model pendekatan struktural dan formalitas, yang berasumsi bahwa tokoh-tokoh masyarakat formal dinilai telah merepresentasikan aspirasi, kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin. Akibatnya akses informasi, keterlibatan dan kemanfaatan program-

program kemiskinan tersebut lebih banyak didominasi oleh sekelompok kecil masyarakat di kelurahan tersebut. Pada sisi lain, seringkali juga terjadi adanya proyek kemiskinan yang hanya menjadi kegiatan masyarakat miskin itu sendiri, tanpa atau kurangnya dukungan dari potensi segenap komponen masyarakat lainnya. Kedua kondisi demikian mengindikasikan masih lemahnya gerakan masyarakat untuk bersama- sama menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.

Berdasarkan pengalaman tersebut maka P2KP menekankan perlunya Refleksi Kemiskinan sebelum kegiatan-kegiatan lainnya.

b) Ketentuan Dasar

• Harus dilakukan oleh berbagai unsur masyarakat dari berbagai lapisan sosial dan ekonomi, dari rakyat jelata sampai dengan tokoh secara berke- lompok melalui suatu diskusi kelompok terarah (focus group discussion)

• Mengingat ini adalah suatu hasil refleksi masing- masing warga, maka dalam pelaksanaan Refleksi Kemiskinan ini harus mampu menerima berbagai pendapat yang berbeda. Artinya perbedaan jangan diartikan bertentangan tetapi justeru saling melengkapi

• Sebaiknya dimulai dengan kelompok-kelompok yang lebih homogen baru kemudian hasil kelompok homogen dibawa dalam kelompok yang lebih heterogen

• Harus ada yang memandu agar tidak menyimpang.

• Pemandu harus sudah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk membawa diskusi kelompok kearah yang ingin dicapai (Untuk memahami lebih detail harap lihat Buku

Petunjuk Teknis Pelaksana Fasilitator atau Buku Petunjuk Teknis Pelaksana Kader Masyarakat) c) Tujuan

Tujuan Refleksi Kemiskinan adalah:

• Masyarakat mampu merumuskan tipologi dan karakteristik kemiskinan yang ada di wilayahnya;

• Masyarakat mampu mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemiskinan sesuai dengan karakteristik kemiskinan yang ada di wilayahnya;

• Membuka akses bagi masyarakat miskin dan termiskin di kelurahan sasaran untuk terlibat dalam pelaksanaan P2KP sejak tahap awal;

• Mewujudkan "rasa memiliki" masyarakat miskin

(16)

dan "kepedulian" masyarakat lainnya terhadap upaya-upaya penanggulangan kemiskinan, termasuk P2KP;

• Mengidentifikasi aspirasi masyarakat, khususnya masyarakat miskin, mengenai bagaimana sebaiknya P2KP dilaksanakan di kelurahannya;

• Tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa upaya penanggulangan kemiskinan harus dimulai dari diri sendiri melalui perubahan mental dan perilaku serta kerja keras; dan

• Internalisasi kesadaran bahwa masyarakat berdaya dan mandiri adalah kunci utama penanggulangan kemiskinan.

d) Penanggung Jawab

Penanggung jawab kegiatan Refleksi Kemiskinan adalah Kader Masyarakat, yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator.

e) Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan kegiatan FGD Refleksi Kemiskinan dalam P2KP adalah pada bulan ke-2 setelah fasilitator dimobilisasi untuk melaksanakan P2KP di Kelurahan Sasaran.

f) Keluaran

• Persepsi mengenai kemiskinan menurut versi masyarakat setempat

• Tipologi kemiskinan berdasarkan persepsi masyarakat terpetakan

• Akar kemiskinan sesuai dengan tipologi kemiskinan yang dirumuskan

• Hasil-hasil diskusi masyarakat berdasarkan bahan diskusi untuk Refleksi Kemiskinan

• Format RK-1 mengenai hasil refleksi kemiskinan kelurahan setempat

g) Indikator Kinerja

• Jumlah serangkaian FDG Refleksi kemiskinan yang dilakukan;

• Persentase keterlibatan masyarakat, utamanya masyarakat miskin dan termiskin, dalam serangkaian FGD Refleksi kemiskinan;

• Persentase penduduk, terutama masyarakat miskin dan termiskin, yang terlibat dalam FGD refleksi Kemiskinan tingkat kelurahan;

• Kelengkapan dan Ketepatan pengisian Hasil FGD Refleksi kemiskinan yang ditulis pada Format RK- 1; dan

• Persentase Masyarakat yang mampu mengungkapkan aspirasinya mengenai upaya penanggulangan kemiskinan melalui pelaksanaan P2KP.

h) Langkah-Langkah

Langkah-langkah kegiatan Refleksi Kemiskinan dapat dilihat pada Tabel 3.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan FGD Refleksi Kemiskinan.

(17)

Pemutakhiran data-data keluarga miskin di lokasi sasaran melalui rechecking kepada masyarakat secara langsung, terutama warga Pra KS & KS1. Pelatihan praktek FGD dan pelatihan praktek tentang Informasi serta komunikasi bagi kader-kader masyarakat setempat Selenggarakan serangkaian pertemuan khusus dengan Keluarga Pra KS dan KS 1 yang terdata dan lakukan FGD Refleksi kemiskinan. Dilaksanakan FGD refleksi Kemiskinan tingkat kelurahan untuk membahas seluruh hasil FGD refleksi kemiskinan tingkat masyarakat (RT atau RW). Hasil rumusan tingkat kelurahan disebarluaskan kepada masyarakat setempat serta kepada berbagai pihak terkait, khususnya perangkat kelurahan setempat.

Diperoleh data keluarga miskin yang benar-benar akurat pada saat itu Diperoleh gambaran umum peserta FGD refleksi kemiskinan Memperkuat kapasitas kader-kader masyarakat agar mampu menerapkan teknik-teknik FGD, khususnya Refleksi kemiskinan, informasi serta komunikasi Teridentifikasi persepsi dan aspirasi masyarakat miskin tentang kemiskinan dan proyek kemiskinan yang pernah ada Tumbuhnya kesadaran kritis untuk memanfaatkan P2KP sebagai sarana dan momentum warga untuk bersama menanggulangi masalah kemiskinannya Mencapai kesepakatan untuk memprioritaskan masyarakat miskin, sesuai kriteria yang disepakati Kesepakatan bagaimana P2KP akan dilaksanakan Pengisian Format RK-1 Mendapat masukan dari masyarakat setempat Sebagai bahan penyusunan perencanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat

LANGKAH-LANGKAH KEGIATANNO.TUJUANPELAK- SANAPESERTA Tim Fasilitator dan Kader Masyarakat KMW dan Tim Fasilitator Kader-kader Masyarakat didampingi Fasilitator Fasilitator dan Perangkat Kelurahan Kader-kader Masyarakat dibantu oleh perangkat kelurahan

Data-data akurat kelompok masyarakat rentan (miskin dan termiskin, jompo dan lain-lain) di lokasi sasaran sebagai calon peserta utama FGD refleksi kemiskinan Kesiapan masyarakat, khususnya kelompok masyarakat rentan untuk mengikuti jadwal FGD refleksi kemiskinan Strategi, pedoman, dan teknik-teknik FGD umumnya, serta FGD refleksi kemiskinan khususnya. Tujuan, strategi, metode dan teknik komunikasi serta informasi Kriteria miskin menurut persepsi peserta FGD Penyebab terjadinya kemiskinan (di kelurahan peserta) Keterlibatan masyarakat miskin pada proyek kemiskinan yang pernah ada sebelumnya (ungkapkan bentuk keterlibatan dan uraian alasan bila tidak terlibat) Kemanfaatan proyek kemiskinan sebelumnya menurut aspirasi masyarakat miskin (uraikan manfaatnya dan uraikan alasan bila tidak bermanfaat) Bagaimana sebaiknya Program P2KP dilaksanakan, agar dapat melibatkan dan bermanfaat bagi masyarakat miskin dan masyarakat termiskin setempat Karaketeristik serta kriteria kemiskinan Bentuk-bentuk dan rencana keterlibatan aktif serta kemanfaatan P2KP bagi masyarakat miskin setempat. Kesepakatan-kesepakatan lain yang akan menjadi landasan pelaksanaan P2KP di kelurahan bersangkutan. Transparansi dan akuntabilitas dalam penetapan kriteria masyarakat miskin yang disepakati serta kesepakatan dasar bagaimana sebaiknya P2KP akan dilaksanakan Karakteristik dan profil kemiskinan serta kesepakatan-kesepakatan menjadi bahan dalam menyusun Rencana Program Penanggulangan Kemiskinan (Pronangkis)

TEMPATSUBSTANSIKERANGKA WAKTU Masyarakat, khususnya warga Pra KS dan KS1 Kader-kader masyarakat Masyarakat, khususnya warga Pra KS dan KS1 yang telah terdata Masyarakat, Kader Masyarakat, dan komponen masyarakat lainnya Masyarakat di lokasi sasaran

Kelurahan sasaran Di masing- masing kelurahan Seluruh RT atau RW di kelurahan sasaran Kantor atau balai pertemuan kelurahan Kelurahan sasaran

Bersamaan dengan langkah kesiapan masyarakat Awal bulan ke-2 setelah fasilitator dimobilisasi dan sebelum FGD refleksi kemis- kinan dilaksanakan Minggu ke-2 hingga ke-3 pada bulan yang sama Maksimal 3 hari setelah seluruh FGD Refleksi Kemiskinan tingkat RT atau RW dilakukan Diharapkan 1 atau 2 hari setelah pelaksanaan FGD kelurahan

1 2 3 4 5

Tabel 3.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan FGD Refleksi Kemiskinan

(18)

Format RK-1

HASIL FGD REFLEKSI KEMISKINAN

- Desa/Kelurahan : ………

- Kecamatan : ………

- Kota/Kabupaten : ………

- SWK : ………

Berikut ini adalah hasil FGD Refleksi Kemiskinan yang diselenggarakan oleh masyarakat serta perangkat kelurahan pada hari ……… tanggal ……… bulan ...……tahun ………... pukul

………… bertempat di………… yang dihadiri oleh ………… peserta (terlampir).

*) Format ini hanya contoh, dapat disesuaikan dengan kebutuhan setempat serta perlu dilengkapi uraian deskriptif.

Saksi : Yang Menyatakan

1. ……….. (Wakil Masyarakat Pra KS/KS1) Kepala Kelurahan, 2. ……….. (Wakil Perangkat Kelurahan/Desa)

3. ……….. (Wakil BPD/Dekel/LPM/dll) 4. ……….. (Kader Masyarakat)

5. ……….. (Wakil warga RT atau RW) ...………...

6. ……….. (Wakil warga RT atau RW)

7. ……….. (dst sesuai jumlah RT atau RW) Diketahui oleh,

...

Fasilitator

Demikian hasil FGD Refleksi kemiskinan ini dibuat untuk dijadikan dasar pertimbangan dan landasan utama dalam pelaksanaan P2KP di wilayah kami.

No. Uraian tentang kemiskinan

Uraian profil kemiskinan setempat menurut

masyarakat (penyebab, ciri, dll)

Penilaian Masyarakat Terhadap Program Kemiskinan sebelumnya

Aspirasi dan Harapan Masyarakat terhadap Pelaksanaan P2KP di

Kelurahannya Keterlibatan

masyarakat miskin

Kemanfaatan bagi masya- rakat miskin

Kriteria masyarakat

miskin

Keterlibatan masyarakat

miskin

Kemanfaatan bagi masya- rakat miskin

(19)

3.3.3 Pemetaan Swadaya (PS) a) Pengertian

Berbagai program penanggulangan kemiskinan yang pernah ada sering berupaya untuk menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Sayangnya, sebagian besar pada pelaksanaannya terjebak dengan pendekatan formalitas partisipasi, dimana rancangan dan proses kegiatan yang dikembangkan di masyarakat lebih banyak direncanakan serta diarahkan pihak luar atau setidak- tidaknya lebih didominasi elite-elite masyarakat setempat.

Pendekatan partisipasi formal seperti itu seringkali terlampau diwarnai oleh persepsi pihak luar, sehingga hasilnya seringkali tidak relevan dengan karakteristik masyarakat dan nilai terapannya menjadi sangat kurang. Dengan sendirinya, rancangan program seperti demikian tidak menyentuh kebutuhan- kebutuhan yang sesungguhnya dirasakan masyarakat. Selain itu, juga tidak mendukung adanya proses pembelajaran masyarakat dalam pengkajian masalah dan kebutuhan, perencanaan serta pengorganisasian. Artinya, prakarsa selalu datang dari "luar" dan keterampilannya pun tetap dimiliki oleh

"orang luar", sehingga kurang menjamin keberlanjutan serta kelestarian program tersebut. Wajar apabila kemudian dukungan masyarakat terhadap program seperti itu akan semu atau bahkan relatif minim dan partisipasi mereka pun pada umumnya didominasi oleh elite-elite lokal.

Oleh karena itu, pada pelaksanaan P2KP akan dikembangkan pendekatan yang lebih memungkinkan masyarakat dapat dilibatkan secara berarti dalam keseluruhan proses/daur program, yaitu dari mulai kajian masalah/kebutuhan, perencanaan.

pelaksanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi program. Pendekatan yang dimaksud disebut dengan penilaian kebutuhan masyarakat, melalui Pemetaan Swadaya.

Jadi "pemetaan swadaya" adalah proses partisipatif yang dilakukan masyarakat untuk menilai serta merumuskan sendiri berbagai persoalan yang dihadapinya dan potensi yang dimiliki sehingga tumbuh kebutuhan nyata (riil) untuk menanggulangi berbagai persoalan tersebut utamanya kemiskinan, dengan berbasis pada kekayaan informasi kualitatif yang bersifat lokal, seperti persepsi dan pengetahuan tradisional masyarakat setempat. Intinya, masyarakat didorong untuk mampu mengidentifikasi

"kebutuhan nyata ", dan bukan hanya sekedar "daftar keinginan" mereka.

Pemetaan Swadaya dalam P2KP ditempatkan sebagai alat untuk mendorong 'perubahan sosial/

transformasi sosial' agar masyarakat lebih mampu untuk menganalisis keadaannya sendiri (tidak terjebak hanya pada "daftar keinginan"), kemudian memikirkan

apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaannya serta mengembangkan potensi dan keterampilan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Tegasnya, Pemetaan Swadaya berorientasi pada perubahan perilaku masyarakat agar lebih kuat dan mandiri serta mengerti hak-hak dan kewajiban mereka.

Arah perubahan perilaku masyarakat dalam P2KP juga bermakna 'pembebasan diri' bagi masyarakat untuk mampu mengaktualisasikan dirinya dalam pemecahan-pemecahan masalah di sekelilingnya, atau Partisipasi Mandiri. Melalui partisipasi mandiri, akan memungkinkan masyarakat menggunakan sumber daya manusia dan sumber daya alam, dengan cara memotivasi dan menggerakkan mereka untuk menggenggam kehidupan dan harapan mereka ditangannya sendiri.

b) Ketentuan Dasar

Agar pelaksanaan Pemetaan Swadaya benar- benar dapat dilakukan oleh masyarakat sehingga terjadi proses pembebasan maka pada prinsipnya Pemetaan Swadaya harus dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut ;

• Bersifat praktis artinya mudah dilakukan atau mengandung unsur-unsur pekerjaan yang sudah biasa dilakukan

Sederhana atau tidak rumit (complicated) dan bertele-tele

• Rancangan dan proses pelaksanaannya mengunakan banyak visualisasi yang mudah ditangkap

• Dilaksanakan di tingkat komunitas yang menghadapi persoalan yang sama seprti misalnya di tingkat kampung/kelurahan dengan sarana- sarana seadanya, dengan harapan bahwa masyarakat dapat memahaminya dan pada akhirnya dapat melakukan sendiri dengan dukungan "pihak luar" yang minimal.

• Keterlibatan masyarakat dalam Pemetaan Swadaya dimaksudkan untuk memungkinkan permasalahan yang dikaji didasarkan sudut pandang masyarakat sendiri, sehingga alternatif pemecahan masalahnya akan mempertimbang- kan potensi, sumberdaya serta kepentingan- kepentingan lokal.

• Pendekatan Pemetaan Swadaya seperti di atas diharapkan lebih menjamin kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat dan terutama memungkinkan pengalihan/transfer ketrampilan pemetaan, analisa serta perencanaan kepada masyarakat. Artinya, masyarakat mampu menjadi pelaku pengembangan alternatif pemecahan masalah dan bukan sekedar konsumen pemecahan masalah yang dikembangkan oleh pihak luar. Sehingga ketergantungan masyarakat

(20)

kepada pihak "luar" dalam prakarsa dan pengambilan keputusan serta perumusan pro- gram, secara bertahap bisa dikurangi.

c) Tujuan Pemetaan Swadaya

Pada prinsipnya tujuan utama dari Pemetaan Swadaya atau penjajagan kebutuhan nyata oleh masyarakat adalah memfasilitasi masyarakat untuk belajar agar mampu membudayakan perilaku kemandirian dan bertumpu pada potensi diri dalam menangapi berbagai persoalan termasuk dalam menanggulangi kemiskinan.

Secara khusus, tujuan dari Pemetaan Swadaya adalah :

• Meningkatkan kesadaran masyarakat akan kondisi dan persoalan yang mereka hadapi

• Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menemukan akar persoalan dari perkara yang dihadapi dan potensi yang dimiliki serta merumuskan kebutuhan nyata mereka;

• Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam merumuskan dan mempertimbangkan pemilihan alternatif-alternatif pemecahan yang dianggap pa- ling dapat menjawab persoalan masyarakat, sesuai sumber daya yang ada termasuk sumber daya manusia yang dimiliki;

• Mendorong masyarakat merumuskan rencana penanggulangan kemiskinan dari, untuk dan oleh masyarakat dan pemanfaatan efektif P2KP berdasarkan prioritas persoalan, potensi dan kebutuhan nyata yang ada; dan

• Mendorong terwujudnya gerakan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan.

d) Penanggung Jawab

Penanggungjawab pelaksanaan pemetaan swadaya untuk pertama kalinya dalam masa proyek P2KP adalah Kader Masyarakat bersama-sama dengan Tim Pemetaan Swadaya, yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator. Anggota-anggota tim pemetaan swadaya dipilih langsung oleh masyarakat, agar pemetaan swadaya dapat melibatkan segenap lapisan masyarakat dan juga sebagai upaya pengkondisian masyarakat untuk proses pembentukan BKM, melalui pemetaan potensi-potensi relawan yang ada di wilayahnya.

Penanggung jawab pelaksanaan Pemetaan Swadaya untuk tahap atau tahun-tahun berikutnya adalah Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang difasilitasi oleh kader-kader masyarakat, agar agenda Pemetaan Swadaya menjadi kegiatan mandiri masyarakat dan bisa dilaksanakan secara rutin setelah P2KP berakhir. Oleh karena itu, untuk tahap berikutnya, Tim Pemetaan swadaya dilegitimasi melalui Surat Keputusan Rapat Anggota BKM dan ditembuskan ke Kepala Kelurahan serta diumumkan secara terbuka kepada masyarakat.

e) Waktu Pelaksanaan

Pelaksanaan Pemetaan Swadaya untuk tahap pertama dilakukan pada saat pelaksanaan P2KP di kelurahan sasaran, yakni sekitar bulan ketiga setelah fasilitator dimobilisasi di lapangan. Artinya, Pemetaan Swadaya P2KP dilakukan masyarakat setelah proses kegiatan FGD refleksi kemiskinan.

Selanjutnya Pemetaan Swadaya minimal dilakukan satu tahun sekali oleh BKM bersama masyarakat sebagai langkah awal sebelum proses perencanaan kegiatan masyarakat untuk tahun berikutnya. Sesuai kesepakatan masyarakat, BKM dapat melaksanakan Pemetaan Swadaya lebih dari satu kali dalam satu tahun, baik untuk kepentingan memonitoring maupun mengevaluasi kegiatan.

f) Keluaran

• Peta dan profil keluarga miskin (untuk menetapkan kriteria dan daftar keluarga miskin penerima P2KP)

• Peta dan profil potensi SDM yang dipercaya dan

"relawan" (untuk menetapkan kriteria serta daftar masyarakat yang dinilai dipercaya, ikhlas, dan memiliki komitmen tinggi dalam pengabdian masyarakat)

• Peta dan profil persoalan dan potensi setempat (sosial, ekonomi, lingkungan termasuk prasarana, sarana dan perumahan)

• Peta dan profil lembaga yang ada (potensi dan kendalanya) untuk menangani P2KP.

• Peta dan profil "kebutuhan nyata masyarakat"

dalam penanggulangan kemiskinan g) Indikator Kinerja

• Jumlah anggota Tim Pemetaan Swadaya yang aktif

• Jumlah wanita serta masyarakat miskin yang menjadi anggota Tim Pemetaan Swadaya

• Jumlah masyarakat yang terlibat dalam proses pemetaan swadaya dan atau pembahasan hasil pemetaan

• Ketepatan hasil Pemetaan Swadaya

• Jumlah masyarakat miskin, wanita dan kelompok rentan lainnya yang aktif menyuarakan aspirasi dan memberikan masukan dalam pemetaan swadaya

• Pelatihan Pemetaan Swadaya dilaksanakan secara tepat oleh KMW dan diikuti oleh minimal 90% anggota Tim Pemetaan Swadaya dan Kader Masyarakat

h) Langkah-langkah Pelaksanaan Pemetaan Swadaya

Langkah-langkah kegiatan Pemetaan Swadaya dapat dilihat pada Tabel 3.3 Pedoman Langkah- langkah Pelaksanaan Pemetaan Swadaya.

(21)

Lakukan pemilihan utusan-utusan dari setiap RT atau RW yang akan menjadi anggota TPS. Hasil pemi- lihan direkap di tingkat kelurahan untuk ditetapkan di rembug warga. Pelatihan praktek pemetaan swadaya oleh KMW/Tim fasilitator. Penggalian informasi oleh TPS melalui kunjungan individu ke warga, pertemuan informal, arisan atau rembug warga di lokasi-lokasi terbuka dan non formal. Fasilitator dan Kader Masyarakat mendampingi TPS untuk menerapkan teknik-teknik sesuai kebutuhan (bila dengan PRA, dapat memakai teknik pemetaan, diagram ven, transect, dll). Adakan rembug warga di tingkat RT atau RW dengan mengundang seluruh warga yang terlibat dalam pemetaan swadaya maupun masyarakat luas lainnya di RT atau RW Adakan rembug warga yang mengundang semua wakil RT/RW, TPS, tokoh masyarakat, perangkat lurah/desa untuk melakukan FGD membahas hasil-hasil pemetaan swadaya dari RT/RW Hasil rumusan pemetaan kemiskinan tingkat kelurahan disebarluaskan ke masyarakat setempat serta kepada pihak-pihak terkait lainnya.

TPS beranggotakan dari seluruh lokasi RT/RW yang ada di kelurahan TPS dipilih langsung warga Masyarakat (TPS dan kader) memahami serta siap melaksanakan teknik-teknik pemetaan swadaya Orientasi tujuan tidak pada formalitas penerapan teknik pemetaan, tapi pada upaya menumbuhkan keberanian masyarakat agar dapat meng- ungkapkan pendapat dan aspirasinya atas isu serta informasi yang dibutuhkan. Data-data informal yang digali dari masyarakat dibahas bersama dengan komponen masyarakat lainnya di RT atau RW Menyepakati Hasil Pemetaan Swadaya Tingkat RT atau RW Mendorong masyarakat merumuskan rencana penanggulangan kemiskinan melalui P2KP berdasarkan prioritas persoalan, potensi dan kebutuhan rill yang ada, Pengisian Format PS-2 sampai dengan Format PS-5 Memberi kesempatan ke masyarakat untuk masukan dan saran. Dilakukan penyempurnaan bila ada masukan masyarakat yang dapat diakomodasi serta disepakati bersama.

LANGKAH-LANGKAH KEGIATANNO.TUJUANPELAK- SANAPESERTA Tim Fasilitator dan Kader Masyarakat KMW dan Tim Fasilitator Tim Pemeta- an swadaya dan kader masyarakat Kader dan Pengurus RT/ RW setempat TPS & perangkat Kelurahan TPS, Lurah, dan Kader Masyarakat

Kriteria Utusan dan Anggota TPS Daftar Nama Anggota TPS Komposisi jenis kelamin dan asal utusan (RT atau RW) Pengisian Format PS-1. Konsep dasar dan teknik pemetaan swadaya Penyepakatan jadwal, pembagian tugas dan teknis pelaksanaan pemetaan swadaya. Rencana teknis dan jadwal diinformasikan ke masyarakat, minimal 3 hari sebelumnya. Informasi yang digali dari masyarakat secara langsung adalah sebagaimana ditampilkan pada Tabel PMPD-4 Matriks Pemetaan Swadaya a.Peta & Profil Kemiskinan b.Peta & Profil Relawan dan SDM c.Peta dan Profil Masalah serta Potensi Ekonomi d.Peta dan Profil Masalah serta Potensi Lingkungan dan Permukiman e.Peta & Profil Kelembagaan Masyarakat f.Peta & Profil Kebutuhan Masyarakat a. Peta dan profil masalah serta potensi masyarakat kelurahan b. Prioritas kebutuhan riil masyarakat kelurahan a.Format PS-2: Peta dan Profil Keluarga Miskin b.Format PS-3: Peta & Profil Relawan dan SDM c.Format PS-4: Peta dan Profil Masalah serta Potensi Wilayah d.Format PS-5: Prioritas Masalah, Potensi dan Kebutuhan Masyarakat e.Rumusan hasil pemetaan swadaya dipahami masyarakat untuk digunakan sebagai bahan penyusunan Rencana Program penanggulangan Kemiskinan (Pronangkis)

TEMPATSUBSTANSIKERANGKA WAKTU Masyarakat TPS dan kader masyarakat Masyarakat Masyarakat, pengurus RT/ RW, Kader, Tim Pemetaan swadaya, Masyarakat & perangkat Kelurahan Masyarakat & perangkat Kelurahan

Seluruh RT atau RW di Kelurahan sasaran Kelurahan sasaran atau kantor KMW Kelurahan sasaran RT atau RW di kelurahan sasaran Balai desa atau tempat lainya yang disepakati masyarakat Kelurahan sasaran

Setelah FGD Refleksi Kemiskinan masyarakat Dilaksanakan selama 1 hari pada bulan ke-3 Dilaksanakan pada minggu ke-1 s/d ke-2 pada bulan ke-3 setelah fasilitator dimobilisasi, atau maksimal 3 hari setelah pelatihan pemetaan swadaya Paling lambat 3 hari setelah langkah ke- 3, yakni penggalian informasi secara langsung bersama masyarakat telah terlaksana Maksimal 3 hari setelah seluruh proses Pemetaan Swadaya di tingkat RT/ RW dilakukan Minggu ke-4 Bulan ke-3 setelah fasi- litator dimobilisasi, atau maksimal 1-2 hari setelah Rembug warga tingkat kelurahan membahas hasil- hasil pemetaan swadaya

1 2 3 4 5 6

Tabel 3.3 Pedoman Langkah-Langkah Pelaksanaan Pemetaan Swadaya (PS) TPS = Tim Pemetaan Swadaya

(22)

Peta dan Profil Keluarga Miskin

Peta dan Profil Potensi Relawan dan Sumber Daya Manusia

Peta dan Profil Masalah serta Potensi Ekonomi Masyarakat

Peta dan Profil Masalah serta Potensi Lingkungan Permukiman

Peta dan Profil Masalah serta Potensi Sosial dan Budaya

Peta dan Profil Kelembagaan Setempat

Peta dan Profil Kebutuhan Masyarakat KARAKTERISTIK INFORMASI NO.

a. Kantung-kantung kemiskinan di tiap dusun dan di tingkat kelurahan b. Karakteristik kemiskinan (penyebab kemiskinan)

c. Profil rumah tangga miskin (pola pendapatan dan pola belanja, asal- usul)

d. Demografi masyarakat miskin (jumlah KK miskin, usia, pendidikan, gender, dll)

e. Keterlibatan dan/atau penerima manfaat dalam program-program kemiskinan sebelumnya

a. Orang-orang yang dipercaya serta dianggap paling jujur oleh masyarakat

b. Figur-figur relawan, ikhlas (tanpa pamrih) dan memiliki kepedulian serta empati tinggi terhadap perbaikan nasib masyarakat miskin c. Pemuda dan perempuan yang aktif serta memiliki komitmen ke

masyarakat tertinggal

d. Figur-figur pemimpin formal dan pemimpin informal masyarakat e. Berpotensi Keahlian

f . Berkemampuan ekonomi dan lain-lain

a. Akses Usaha (pengusaha, pabrik, lokasi, bahan baju, pemasaran dan lain-lain)

b. Akses modal

c. Kelembagaan ekonomi dan keuangan, dll

a. Prasarana dan Sarana Dasar b. Perumahan

a. Gizi dan kesehatan b. Nilai-nilai lokal c. Masalah sosial

a. Organisasi Masyarakat, pemuda, perempuan ,dll b. Organisasi sosial dan keagamaan

c. Organisasi kepemerintahan lokal

d. Norma-norma lokal (tradisi, kebiasaan, kepercayaan ,dll)

a. Prioritas Masalah Mendesak ditangani b. Peluang-peluang yang ada

URAIAN

Tabel 3.4 Matriks Pemetaan Swadaya (PS)

1

2

3

4

5

6

7

Gambar

Tabel 3.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) Perangkat kelurahan/ desa, Ketua RT, RW, Kadus, tokoh masyarakat & pemeduli
Tabel 3.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan FGD Refleksi Kemiskinan
Tabel 3.3 Pedoman Langkah-Langkah Pelaksanaan Pemetaan Swadaya (PS) TPS = Tim Pemetaan Swadaya
Tabel 3.4  Matriks Pemetaan Swadaya (PS)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Secara lebih rinci, tujuan penelitian ini diajabarkan menjadi sebagai berikut (1) mendeskripsikan rata-rata hasil dari kemampuan siswa menulis karangan narasi

Keterampilan berpikir kritis siswa sudah baik (Tabel 7). Berkaitan dengan hasil penelitian, maka perangkat RPP efektif digunakan berdasarkan 1) hasil belajar siswa

Berdasarkan hal tersebut terdapat lima tipe identitas kolektif, yaitu (1) identitas kolektif juru kampanye terdiri dari identitas aktivis lingkungan, identitas Greenpeace

Dalam konteks gerakan sosial, pembentukan karakter atau identitas merupakan bagian dari collective action frame (Gamson dikutip Yanto, 2002) menghasilkan

Ada pula peralatan yang mendukung dalam operasional housekeeping yang tidak bisa digunakan kembali, seperti obat pembersih, fasilitas tamu yang ada di kamar

Tri Sakti dari SMP Negri 1 selaku Ketua Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) se-Kota Yogyakarta yang telah memberikan respon positif terhadap uji responden yang saya

81 A Tahun 2013, menggunakan model tematik, penyampaian materi pelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan teknik 5 M sesuai karakteristik materi pelajaran

Pengujian kemurnian radiokimia dari senyawa radiofarmaka 99m Tc-MIBI menggunakan lima metoda, yaitu (a) metoda pemisahan secara KLT dan diukur menggunakan gamma counter,