• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengorganisasian Kerja oleh NFP for UNFCCC

Dalam dokumen POTRET 3 TAHUN PERJUANGAN INDONESIA (Halaman 31-38)

P ERUNDINGAN UNFCCC

2.4 Pengorganisasian Kerja oleh NFP for UNFCCC

Dalam setiap siklus pengelolaan perundingan pada prinsipnya terdiri dari 4 (empat) tahapan:

a. Tahap 1: Stocktaking – tahap persiapan guna pengumpulan data dan informasi berupa progres atau kemajuan positif terkait pengendalian perubahan iklim di tingkat nasional dan berbagai perkembangan global terkait yang menjadi dasar penyusunan submisi maupun Posisi Indonesia;

b. Tahap 2: Formulation – penyusunan submisi, Kertas Posisi, dan berbagai dokumen terkait lainnya, serta pembentukan Delegasi RI;

c. Tahap 3: Facilitation – fasilitasi bagi Delegasi Republik Indonesia baik sebelum maupun pada saat mengikuti perundingan;

d. Tahap 4: Evaluation and Communication to the Stakeholders – evaluasi keikutsertaan Delegasi Indonesia dalam setiap sesi perundingan dan sebagai sarana mengkomunikasikan hasil-hasil perundingan kepada para pemangku kepentingan.

Tahap 1 dan 2 merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum keberangkatan Delegasi RI dalam suatu sesi perundingan. Tahap 3 merupakan tahap pelaksanaan yaitu ketika Delegasi RI mengikuti suatu sesi perundingan, dan Tahap 4 merupakan tahap paska sesi perundingan ketika Delegasi RI telah kembali ke Tanah Air.

Tahap 1 merupakan tahap persiapan, dimana prinsip tahap ini berupa pengumpulan data dan informasi mengenai progres atau kemajuan positif terkait pengendalian perubahan iklim di Indonesia dan berbagai perkembangan global terkait yang menjadi dasar penyusunan submisi maupun Posisi Indonesia.

20

Dalam Tahap 1, Sekretariat NFP for UNFCCC melakukan serangkaian

kegiatan berupa:

a. Identifikasi call for submission

Identifikasi dilakukan pada permintaan submisi yang telah dihasilkan dari sesi perundingan sebelumnya. Meskipun pemenuhan call for submission bersifat voluntary, namun proses penyusunan submisi hingga dihasilkannya suatu submisi untuk disampaikan ke Sekretariat UNFCCC merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari proses penyusunan Posisi Indonesia secara keseluruhan. Pemenuhan submisi tersebut dilakukan sedini mungkin dari batas waktu yang ditetapkan dan juga memperhatikan keterkaitan submisi tersebut dengan agenda

lanjutan yang dimandatkan dalam keputusan seperti technical

workshop, roundtable discussion dan technical paper; b. Penelaahan agenda perundingan

Dalam menuju suatu sesi perundingan penting sekali untuk memperoleh agenda sesi perundingan secara lengkap sebagai bahan untuk menyusun strategi negosiasi. Biasanya agenda perundingan akan disampaikan/ dimuat Sekretariat UNFCCC yang meliputi berbagai informasi baik aspek substansi maupun aspek logistik kepada seluruh Negara Pihak dan publik melalui email maupun penayangan dalam

laman www.unfccc.int. Agenda perundingan atau yang dikenal dengan

sebutan provisional and annotations agenda menjadi basis penyusunan Posisi Indonesia untuk setiap sesi perundingan;

Gambar 2.7 Suasana Pertemuan Penyusunan Posisi DELRI pada COP-22 sebagai bagian tahap Formulation

21

c. Identifikasi Pemangku Kepentingan (Kementerian /Lembaga)

Sesuai dengan agenda dan substansi sesi perundingan yang diterima, selanjutnya perlu dilakukan identifikasi para pemangku kepentingan (K/L) terkait untuk dilibatkan dalam mengawal agenda perundingan dimaksud. Untuk itu, NFP akan mengundang perwakilan K/L terkait dalam rangka penyusunan submisi dan Kertas Posisi Indonesia serta menjadi Delegasi RI;

d. Identifikasi progres baik di Tingkat Nasional dan Proses Terkait di Tingkat Global

Dalam mempersiapkan bahan submisi dan kertas posisi Indonesia, NFP juga perlu mengidentifikasi progres serta hambatan di tingkat nasional serta proses pertemuan di tingkat global yang relevan. Identifikasi progres dan hambatan di tingkat nasional penting sebagai modalitas dalam perundingan untuk meningkatkan progress dan mendapatkan solusi untuk hambatan yang dihadapi. Sedangkan identifikasi proses di tingkat global berguna untuk memprediksi dan mengantisipasi arah perundingan dan hasil perundingan yang ingin dicapai.

Dalam Tahap 2, Ditjen PPI KLHK melalui Sekretariat NFP for UNFCCC

melakukan serangkaian kegiatan baik bersifat sekuen maupun paralel berupa:

a. Penyelenggaran serangkaian pertemuan guna penyusunan Submisi dan Kertas Posisi, dimana pertemuan penyusunan submisi dan Kertas Posisi dilakukan secara terpisah;

b. Pembentukan Tim Negosiasi sebagai bagian inti dari Delegasi RI; c. Pembentukan Sekretariat Delegasi RI (Sekdelri);

d. Penyampaian nama-nama Delegasi RI kepada Sekretariat UNFCCC

melalui Online Registration System (ORS) untuk mendapatkan

Acknowledgement Letter of Nomination dan/atau Visa Support Letter bagi para calon Delegasi;

e. Penyusunan dokumen Pedoman Delegasi Republik Indonesia;

f. Penyelenggaraan pertemuan Koordinasi Delegasi Republik Indonesia, yang bertujuan penyampaian pengarahan dari Menteri Lingkungan Hidup dan eminent person terkait kepada seluruh Delegasi RI.

22

Kegiatan dalam tahap 2 di atas adalah kegiatan dasar yang dilakukan untuk persiapan setiap sesi perundingan, baik SBs maupun COP. Mengingat sesi COP jenis pertemuan yang diadakan oleh Sekretariat UNFCCC bersifat lebih

kompleks dengan adanya pelibatan Non-Party Stakeholders (NPS),

terdapat kegiatan lain yang juga perlu dilakukan dalam menjelang setiap sesi perundingan COP:

a. Penyampaian registrasi dan/atau persetujuan dari NFP for UNFCCC terhadap 1 (satu) usulan kegiatan dari Negara Pihaknya untuk Side

Event yang diselenggarakan oleh UNFCCC melalui Side Event and

Exhibits Online Registration System (SEORS)8;

b. Koordinasi dengan pihak Event Organizer yang ditunjuk oleh Host

Country lokasi penyelenggaraan COP terkait Pengadaan Kantor Sekretariat Delegasi RI;

c. Koordinasi dengan Sekretariat Paviliun Indonesia, dalam rangka soliditas Delegasi Republik Indonesia;

d. Koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri terkait penerbitan Credential Letter.

Tahap 3 merupakan tahap pelaksanaan perundingan. Dalam tahap ini, NFP for UNFCCC melalui Sekretariat Delegasi RI memfasilitasi Delegasi RI dalam

8https://seors.unfccc.int/

Gambar 2.8 Suasana Koordinasi Internal DELRI sebagai bagian persiapan COP23, November 2017

23

melakukan perundingan dan kegiatan non-perundingan yang terkait. Kegiatan fasilitasi yang dilakukan pada dasarnya berupa:

a. Koordinasi harian Delegasi RI khususnya menyangkut perkembangan negosiasi di seluruh forum perundingan;

b. Pengaturan deployment anggota Delegasi RI pada agenda

perundingan maupun agenda non perundingan; c. Penyelenggaraan Kantor Delegasi RI;

d. Penyelenggaraan forum komunikasi melalui email maupun whatsapp

group;

e. Penyampaian berbagai informasi terkini baik aspek negosiasi maupun non-negosiasi dari Sekretariat UNFCCC ke seluruh Delegasi RI;

f. Penghubung protokol bagi kehadiran Menteri kaitannya dengan protokol UNFCCC, misalnya pengambilan badge dimana hal ini berlaku

hanya untuk Kepala Negara/Kepala Pemerintahan, Menteri, dan Head

of Delegation;

g. Koordinasi penyusunan Laporan Mingguan dan Berita Faksimil.

Terakhir Tahap 4 yang dilaksanakan setelah Delegasi RI menyelesaikan tugas dan kembali ke Tanah Air. Adapun kegiatan utama yang diselenggarakan berupa:

a. Penyusunan Laporan Delegasi RI secara komprehensif, disertai distribusi ke tiap Kementerian/lembaga yang terlibat;

b. Penyelenggaraan Pertemuan Komunikasi Stakeholders Hasil-hasil COP sebagai sarana evaluasi pencapaian misi Delegasi RI dan penyampaian hasil konferensi dan tindak lanjut yang diperlukan oleh seluruh pemangku kepentingan terkait.

24

Gambar 2.10 Suasana Pertemuan Komunikasi Stakeholder Hasil COP23 sebagai bagian tahap Evaluation

Sumber: Ditjen. PPI (KLHK, 2016) Gambar 2.9 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada

Pertemuan Evaluasi Keterlibatan DELRI sebagai bagian Evaluasi pada COP21, Desember 2015

26

BAGIAN 3

Dalam dokumen POTRET 3 TAHUN PERJUANGAN INDONESIA (Halaman 31-38)

Dokumen terkait