P ENGELOLAAN SUSBTANSI DAN PERJUANGAN INDONESIA
3.1 Perjalanan Menuju COP21 di Tahun 2015: A Milestone COP
Sepanjang tahun 2015, negosiasi UNFCCC mengerucut pada kebutuhan menghasilkan suatu kesepakatan baru guna meneruskan rezim Protokol Kyoto Periode II yang akan berakhir pada tahun 2020. Frekuensi sesi perundingan meningkat yang secara rutin digelar 2 (dua) kali dalam setahun menjadi 5 (lima) kali pada tahun tersebut dimana 3 (tiga) sesi perundingan dikhususkan untuk memenuhi tuntutan mandat COP terhadap Ad Hoc Working Group on the Durban Platform for Enhanced Action (ADP). ADP pada awal tahun 2015 telah memasuki sesi kedua dan mencapai bagian kedelapan (ADP2.8) pada 8-13 Februari 2015 di Genewa, Swiss.
Debut peran Ditjen PPI KLHK dalam pengelolaan perundingan UNFCCC beserta Delegasi RI dimulai pada ADP2.10 yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 4 September 2015 di Bonn. Atmosfer perundingan sepanjang 2015 hinngga menjelang COP21 adalah seluruh Negara Pihak mencurahkan konsentrasinya untuk penyusunan draft kesepakatan legal yang baru.
27
Hingga menjelang ADP2.11 yang diselenggarakan di Bonn, Jerman pada 19-23 Oktober 2015, terdapat sejumlah dokumen terkait teks draft untuk negosiasi, mencakup:
a. Geneva Negotiating Text/GNT (FCCC/ADP/2015/1), sebagai dokumen
resmi yang dipergunakan dalam proses negosiasi yang hasil pembahasan sesi ADP 2.8 di Jenewa, Swiss;
b. Serangkaian Non-Paper document dari Sekretariat UNFCCC pada 5
Oktober 2015, yang terdiri dari: Scenario Note ADP2.11, Draft
Agreement dan Decision Workstream 1, dan Draft Decision Workstream 2;
c. Negotiation Text, tercantum dalam Lampiran Decision 1/CP.17 atau
Lima Call for Climate Action, sebagai hasil negosiasi COP-20/CMP-10 di Lima, Peru pada tahun 2014;
d. A revised, streamlined and consolidated text (SCT) dan a working document per 11 Juni 2015 sebagai hasil pembahasan ADP 2.9, di Bonn, Jerman pada 1-11 Juni 2015.
e. Co-Chairs’ Scenario Note atau juga disebut Co-Chairs’ Tool yang
disusun berdasarkan mandat yang diberikan oleh Negara Pihak pada saat penyelenggaraan sesi ADP 2.9 di Bonn-Jerman di Bulan Juni. COP21/CMP11 yang diselenggarakan di Paris, Perancis, 30 November – 11
Desember 2015 merupakan milestone dalam sejarah UNFCCC, yang
menyepakati lahirnya perjanjian baru yang legally binding melalui Decision 1/CP.21 on the Adoption of the Paris Agreement. Paris Agreement menjadi salah satu milestone penting pula dalam pembangunan berkelanjutan, di samping Sustainable Development Goals (SDGs) yang juga dihasilkan di
tahun 2015. Hal ini tak lepas dari kepemimpinan Perancis sebagai COP
Presidency telah proaktif melakukan berbagai pendekatan diplomatis di semua level dari tingkat bilateral dengan sesama Negara Pihak UNFCCC,
forum regional seperti ASEAN, hingga UN General Assembly sepanjang
28
Secara substansial, isu-isu utama yang secara umum mengemuka hingga pembahasan COP21 meliputi:
a. Prinsip-prinsip Common But Differentiated Responsibilites (CBDR),
Respective Capabilities (RC), Equity, Applied to All;
b. Mitigation, dengan fokus pembahasan Intended Nationally Determined
Contributions (INDC), collective long term goals, individual efforts, differentiated efforts, progression, ambition, information, features, timing, housing, transparency and reporting, accounting, methods and guidance, long term strategies, response measures, unilateral measures, cooperative approaches, support, framing, international transport emissions, article on REDD+, dan article to support sustainable development;
c. Adaptation, dengan pembahasan pengertian umum mengenai
adaptation and loss and damage serta langkah Negara Pihak ke depan guna menyikapi isu-isu tersebut, tujuan/visi jangka panjang adaptasi (global goal on adaptation), kontibusi/aksi negara pihak, pengaturan loss and damage;
d. Finance, dengan fokus isu kesepakatan terkait mekanisme pendanaan
yang telah ada/ berlaku yang akan dipergunakan dalam implementasi Paris Agreement, dan perdebatan terkait skala pendanaan dan adaptation finance;
e. Technology Development and Transfer, dengan fokus pada aksi
bersama dan pengaturan institusi untuk dimasukkan ke dalam
Box 4
Misi Indonesia pada Sesi Perundingan COP-21/CMP-11 (Paris, Perancis, 30 November – 11 Desember 2015)
Memperjuangkan kepentingan nasional:
- Low Carbon and Climate Resilient Development/Climate Resilient Development (post 2020) yang masuk dalam agenda negosiasi ADP Work Stream I
- NAWACITA (pre 2020) yang masuk dalam agenda negosiasi ADP Work Stream II, SBI/SBSTA.
Kontribusi terhadap upaya global dalam mencapai tujuan konvensi (ADP WS I - WS II, SBI, SBSTA).
INDC merupakan cerminan/bagian posisi Indonesia.
Dinegosiasikan melalui frame negosiasi sesuai elements negosiasi yaitu: Adaptasi, Mitigasi, means of implementation-MoI (Finance, Technology Development and Transfer, Capacity Building), Loss and Damage, Transparency, Facilitating Implementation, aspek institusi dan aspek legal lainnya.
29
Agreement dan Technology Need Assessment, penguatan institusi, dan Periodic Assessment of Institutional Arrangement untuk menjadi bagian draft Decision;
f. Capacity Building, dengan isu utama perdebatan antara
mempertahankan mekanisme pelaksanaan capacity building yang
sudah ada melalui Durban Forum (posisi umum negara maju) dengan
pembentukan suatu lembaga baru mengingat mandat Durban Forum dipandang terbatas dan bersifat sharing information saja (posisi umum negara berkembang);
g. Transparency of Action and Support, dengan isu utama unified,
robustness, flexibility, dan diferensiasi, mitigasi oleh Party, tingkat global, adaptasi, dan comparability, clarity, support dari negara maju ke negara berkembang, pelaporan, inventory, informasi terkait
mitigasi-adaptasi- means of implementasi, review oleh technical expert,
keterkaitan dengan global stock take, modalitas, prosedur sistem
transparansi, dan hak negara berkembang untuk menerima support dari Negara maju;
h. Legal, mencakup: Preamble (antara lain pengakuan hak indigenous
people, hak asasi, gender, kesehatan dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim, isu REDD+), Objective, Facilitating implementation and compliance, Procedural and instutional Provisions (proses persetujuan, ratifikasi, entry into force, amandement, depository, governing body of the new agreement, imunitas, pengambilan keputusan dan voting, dan persyaratan komitmen mitigasi bagi Negara Pihak untuk dapat terlibat dalam pengambilan keputusan).
Pengorganisasian Tim Negosiasi Delegasi RI pada ADP2.10 hingga COP21 didasarkan pada kombinasi agenda item perundingan tiap forum (COP/CMP, SBI,
SBSTA, dan ADP) dan substansi Workstream 1 dan Workstream 2 sebagaimana
isu-isu utama seperti di atas9, terbadi ke dalam 10 (sepuluh) kelompok yakni: a. Tim Mitigation,
b. Tim Adaptation, c. Tim Finance,
d. Tim Technology Development and Transfer,
9 Pedoman Delegasi Republik Indonesia, the Twenty-first session of the Conference of the Parties to the
United Nations Framework Convention on Climate Change (COP-21), the eleventh session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP-11) (Ditjen PPI, KLHK, 2015)
30 e. Tim Capacity Building,
f. Tim Transparency of Action and Support, g. Tim Legal,
h. Tim Workstream 2, i. Tim Agriculture
j. Tim Gender and Climate Change.
Dengan Presiden RI selaku Ketua Delegasi RI dan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan selaku Alternate-1 dan kehadiran beberapa Menteri lainnya pada
COP21/CMP11, para negosiator Delegasi RI telah berpartisipasi aktif dengan menyampaikan beberapa butir penting (lihat Box 5) dalam berbagai kesempatan. Catatan penting dalam periode ini adalah butir-butir masukan Indonesia yang
disampaikan dapat terakomodasi dan terrefleksikan dalam Paris Agreement,
khususnya pengakuan local communities dan penekanan pentingnya sektor lahan khususnya REDD+ menjadi bagian dari kesepakatan sebagai referensi untuk implementasi pada periode paska 2020 dengan berbagai modalitas dan pengaturan yang telah dibuat hingga 2015 (Lihat Box 5).
Box 5
Butir-butir Penting Rangkuman Masukan Indonesia dalam Sesi Perundingan COP21/CMP11 (Paris, Perancis, 30 November – 11 Desember 2015)
Selama pembahasan draft Agreement dalam COP-21/CMP-11, Indonesia telah menyampaikan beberapa poin penting pada berbagai kesempatan di antaranya:
a. Mendukung perlunya mencapai kesepakatan yang mengikat, ambisius dan adil dan tidak menghambat pembangunan di Negara berkembang;
b. Kesepakatan harus menghormati hak-hak dan memastikan peran local communities:
c. Kesepakatan harus mencakup pentingnya pelestarian hutan, keanekaragaman hayati dan laut; d. Perlunya akselerasi implementasi aksi untuk periode sebelum 2020;
e. Upaya mitigai Negara maju harus lebih besar dari Negara berkebang karena historical responsibility yang berbeda
f. Perlunya memberi dukungan upaya adaptasi terkait situasi Indonesia yang rentan terhadap dampak perubahan iklim
g. Pencerminan Prinsip Common But Differentiated Responsibilities (CBDR) dan Respective Capabilities (RC) berbasis science dan prinsip Kesetaraan terhadap akses dan pembangunan berkelanjutan
h. Pentingnya Political Signal di dalam agreement terkait Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD) serta pengelolaan hutan berkelanjutan (REDD Plus);
i. Perlunya pendanaan sebelum dan sesudah 2020 yang predictable dan berkelanjutan dengan peningkatan dari waktu ke waktu dibandingkan komitmen yang ada saat ini (USD 100 Milyar hingga 2020)
j. Mendukung perlunya robust transparency framework baik untuk aksi maupun dukungan (support).
31
Gambar 3.1 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Sesi Closing Plenary COP21
Sumber: Ditjen. PPI (KLHK, 2015)
Box 6
National Statement Indonesia yang disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Closing Plenary COP21
Let me once again extend my sincere appreciation to the hard work done by the COP Presidency and their team in ensuring that an ambitious, legally binding, durable and differentiated Agreement is reached in Paris to be applicable to all Parties starting from 2020. I would also like to thank the Chairs of the G77 and China for leading our Group throughout these past years in the process. I also thank our developed country Partners for working with us, so that this important Agreement could be reached.
It is no doubt that the historic Agreement we reach today is a result of a long hard work, and I am pleased to say that we have followed an open, inclusive, and party-driven approach.
Being a result of a hard-earned, arduous work, and delicate compromise, I am aware that the Agreement is most probably not as ideal as each Party may have wished. However, we all need to see beyond the national boundaries, we ought to see its common vision to avert the grim consequences of climate change.
This Agreement laid out a solid basis for further actions by all Parties in the future. The Agreement also reflects the importance of developed country Parties to continue taking the lead in their actions and supports, while developing countries will contribute more depending on their capacities.
Now we are entering a new page and what is more important is how each Party internalizes the Agreement and translates it into policies and approaches at home that will make significant differences to the achievement of the global goal of both the Agreement and the Convention. Bearing that in mind, I would call upon all of us, to bring home the Agreement and to implement what we have agreed upon with progression or improvement over time.
Mr. President, Ladies, Gentlemen,
We have just created a history. A history that would give us the opportunity to change the world. A history that would create a safer and more sustainable planet for our future generations. A history that will enable resilient development for humankind. Let us be faithful to this agreement and materialized the goals and objectives it contained. I believe it is important so that all Parties to be bound by this Agreement have a strong sense of ownership to implement it.