• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET 3 TAHUN PERJUANGAN INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POTRET 3 TAHUN PERJUANGAN INDONESIA"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

BUNGA

RA

MPAI

PERUN

DIN

GAN

PERUBAH

AN

IKLIM

 

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM 2017

PADA PERUNDINGAN UNFCCC

POTRET

3 TAHUN

(2)
(3)

ii

Penyusun:

Radian Bagiyono, S.Hut., M.For. Wukir Amintari Rukmi, S.IP., M.IDEA Saptuti Gamayanti, S.Hut., M. Sc. Fona Lengkana, S.Hut., M.E. Citra Fitriyani, S.IP

Hatif Hawari Saputra, S.H.Int. Rizki Maulana Rachman, S.H.Int. Desain Sampul:

Hatif Hawari Saputra, S.H.Int. Foto Sampul:

Foto oleh: IISD/Kiara Worth Editor:

Ir. Achmad Gunawan Widjaksono, MAS, Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional Pengarah:

Dr. Ir. Nur Masripatin, M.For.Sc, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim ISBN: 978-602-50932-4-1

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang menggunakan isi maupun memperbanyak buku ini sebagian atau seluruhnya, baik dalam bentuk fotocopy, cetak, microfilm, elektronik maupun dalam bentuk lainnya, kecuali untuk keperluan pendidikan atau non-komersial lainnya dengan mencantumkan sumbernya sebagai berikut:

Direktorat Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional (2017). Bunga Rampai Perundingan Perubahan Iklim: Potret 3 Tahun Perjuangan Indonesia pada Perundingan UNFCCC.

Diterbitkan oleh:

Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Kontak:

Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional Jl. Jend. Gatot Subroto, Gd. Manggala Wanabhakti Blok VII Lt. 12 Jakarta 10270, Indonesia

(4)

iii

SAMBUTAN

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Perubahan Iklim merupakan isu multidimensi dan kompleks yang dalam beberapa dekade terakhir menjadi perhatian serius dari masyarakat global. Dampak dari perubahan iklim akibat kenaikan temperatur bumi sudah sangat nyata dirasakan oleh banyak negara khususnya negara berkembang di berbagai tempat di belahan bumi dan telah menyadarkan masyarakat global untuk mengambil tindakan nyata untuk mengurangi dampak tersebut. Sejak disepakatinya Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change—UNFCCC) pada tahun 1992, semua negara pihak (Parties) sepakat untuk bekerja sama untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir pada level yang tidak membahayakan kehidupan manusia.

Dengan diadopsinya Kyoto Protocol (KP) pada tahun 2005, negara maju yang

merupakan negara pihak KP berkewajiban untuk menurunkan emisi GRK, sedangkan negara berkembang berkewajiban untuk melaporkan hasil inventarisasi GRKnya. Mengingat implementasi KP telah berakhir pada tahun 2012 dan meskipun

diperpanjang sampai dengan tahun 2020 melalui Doha Amandment, akan tetapi

belum semua Negara Pihak meratifikasinya.

Indonesia sebagai negara kepulauan, merupakan negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, sehingga Indonesia sangat berkepentingan untuk terlibat aktif dalam upaya global penanganan perubahan iklim melalui perundingan di bawah kerangka UNFCCC. Sejak digabungnya 4 (empat) kementerian/ lembaga (Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, DNPI dan BP REDD+) menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Perpres Nomor 16 Tahun 2015, maka penanganan perubahan iklim merupakan mandat dan tugas KLHK yang dilaksanakan oleh Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim selaku National Focal Point (NFP) for UNFCCCC.

Dalam kurun 3 (tiga) tahun sejak tahun 2015 sampai tahun 2017), KLHK berhasil memperjuangkan kepentingan Indonesia dan berperan aktif dalam upaya global penanganan dampak perubahan iklim melalui rangkaian panjang proses negosiasi perubahan iklim. Sejak sebelum COP21 tahun 2015 sampai dengan COP23 tahun 2017, KLHK telah menunjukkan kepemimpinannya dalam mengkoordinasikan pengelolaan perundingan, penyiapan substansi perundingan, dan pengelolaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

(5)

iv

Delegasi Republik Indonesia (DELRI). KLHK berhasil menjawab keraguan publik dalam memperjuangkan misi dan kepentingan Indonesia dalam setiap sesi perundingan perubahan iklim, baik melalui jalur negosiasi maupun melalui jalur outreach dan campaign.

Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya diberikan kepada para anggota DELRI baik yang berjuang di meja negosiasi maupun melalui outreach dan campaign atas kontribusi dan dedikasinya dalam memperjuangkan misi dan kepentingan Indonesia.

Jakarta, Desember 2017

Dr. Siti Nurbaya

(6)

v

K

ATA PENGANTAR

Sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah perundingan perubahan iklim sejak COP11 UNFCCC di Montreal pada tahun 2005, tiga tahun terakhir merupakan mutiara pengalaman dalam perundingan perubahan iklim di tengah konstelasi politis penanganan perubahan iklim di nasional yang berubah dengan dibentuknya struktur baru Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai konsekuensi penggabungan 4 (empat) instansi.

Estafet rezim pengendalian iklim global di Protokol Kyoto ke rezim baru di bawah Paris Agreement menjadi pembuktian berjalannya Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. COP 21

merupakan milestone dalam sejarah UNFCCC dengan berhasil disepakatinya the

Adoption of Paris Agreement menjadi era baru dimana semua Negara Pihak memiliki kewajiban yang sama sesuai dengan kapasitas dan kondisi nasional masing-masing.

Tantangan datang silih berganti dalam setiap COP selanjutnya, baik di COP22 (COP of implementation) dan di COP23 (Transitional COP), dalam pengelolaan perundingan, pengelolaan substansi, dan pengelolaan DELRI. Buku Bunga Rampai ini memberikan gambaran perjuangan Indonesia selama 3 (tiga) tahun dalam 7 (tujuh) sesi perundingan dalam kerangka UNFCCC dan beberapa pertemuan sebelum COP (pre-COP) serta pertemuan setingkat Menteri. Persiapan substansi, pengelolaan DELRI dan perjuangan di meja perundingan merupakan kunci keberhasilan dalam memperjuangkan misi dan kepentingan Indonesia. Namun demikian, tantangan kedepan semakin berat khususnya untuk mempersiapkan sesi perundingan COP24 tahun 2018 di Katowice, Polandia, mengingat masih banyaknya

elemen dari Paris Agreement Work Programme (PAWP) yang perlu disepakati.

Suksesnya implementasi Paris Agreement akan sangat ditentukan oleh hasil

kesepakatan pada COP24 ini.

Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat. Jakarta, Desember 2017

Dr. Nur Masripatin

(7)

vi

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN iii

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI vi

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL vii

DAFTAR BOX ix

DAFTAR ISTILAH x

BAGIAN 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Keanggotaan Indonesia sebagai Negara Pihak UNFCCC, Protokol

Kyoto, dan Paris Agreement 1

1.1.1 Keanggotaan Indonesia dalam Konvensi UNFCCC 1

1.1.2 Keanggotaan Indonesia dalam Kyoto Protocol 2

1.1.3 Keanggotaan Indonesia dalam Paris Agreement 3

1.2 Institutional Arrangement dan Peran National Focal Point for UNFCCC 5

1.2.1 Institutional Arrangement 5

1.2.2 Peran National Focal Point for UNFCCC 6

1.2.3 Focal Point/Pumpunan Kegiatan Lain yang terkait 8

1.3 Sekretariat NFP for UNFCCC 8

BAGIAN 2 PERUNDINGAN UNFCCC 11

2.1 Struktur Perundingan di Bawah UNFCCC 11

2.2 Sesi Perundingan UNFCCC (Periode Agustus 2015 – Desember 2017) 12

2.3 Pertemuan Non-Perundingan 16

2.4 Pengorganisasian Kerja oleh NFP for UNFCCC 19

BAGIAN 3 PENGELOLAAN SUBSTANSI DAN PERJUANGAN INDONESIA 26

3.1 Perjalanan Menuju COP21 di Tahun 2015: A Milestone COP 26

3.2 Dari Paris ke Marakesh: COP22 as A COP for Implementation 32

3.3 Dari Marakesh ke Fiji-Bonn: COP23 as Transition COP 43

3.4 Output Dokumen yang Dihasilkan 54

BAGIAN 4 PENGELOLAAN DELEGASI 57

4.1 Komposisi Delegasi RI 57

4.2 Pembagian Peran 58

4.2.1 Pembentukan Tim Negosiasi dan Tim Sekretariat Delegasi RI 61

4.2.2 Registrasi 61

4.2.3 Badge sebagai Cerminan Peran 61

4.3 Perimbangan Gender 65

4.4 Kantor Delegasi Republik Indonesia 69

4.5 Paviliun Indonesia 70

BAGIAN 5 PENUTUP 74

LAMPIRAN 76

(8)

vii

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

Gambar 1.1 Logo UNFCCC 1

Gambar 1.2 Presiden Joko Widodo pada Pertemuan Kepala Negara/Kepala

Pemerintahan Mengawali COP21 3

Gambar 1.3 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan padaHigh Level Signature

Ceremony of Paris Agreement, New York, 22 April 2016 4

Gambar 1.4 Institutional Arrangement National Focal Point for UNFCCC 6

Gambar 2.1 Suasana Sesi Perundingan pada COP21 13

Gambar 2.2 Suasana Opening Plenary COP22 14

Gambar 2.3 Suasana Opening Plenary COP23 15

Gambar 2.4 Rangkaian 7 (Tujuh) Sesi Perundingan Agustus 2015 – Desember 2017 16 Gambar 2.5 Side Event Indonesia dengan tema “Building Resilience for Climate

Change Adaptation: Challenges and Progress for Archipelagic and Small Island Countries pada COP22

18 Gambar 2.6 Side Event Indonesia dengan tema “Good Peatland Governance to

Strengthen Economic, Social and Ecosystem Resillience” pada COP23 18

Gambar 2.7 Suasana Pertemuan Penyusunan Posisi DELRI pada COP22 sebagai

bagian tahap Formulation 20

Gambar 2.8 Suasana Koordinasi Internal DELRI sebagai bagian persiapan COP23,

November 2017 22

Gambar 2.9 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Pertemuan Evaluasi Keterlibatan DELRI sebagai bagian Evaluasi DELRI pada COP21, Desember 2015

24 Gambar 2.10 Suasana Pertemuan Komunikasi Stakeholder Hasil COP23 sebagai

bagian tahap Evaluation 24

Gambar 3.1 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Sesi Closing Plenary

COP21 31

Gambar 3.2 Pertemuan Koordinasi Tim Negosiasi DELRI pada COP21 32

Gambar 3.3 Tim Negosiasi DELRI COP22 pada Pertemuan Koordinasi Harian Tim

Negosiasi 36

Gambar 3.4 Delegasi Indonesia bersama Sekretaris Eksekutif UNFCCC pada

COP22 37

Gambar 3.5 Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) bersama Direktur Jenderal PPI dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Maroko pada Opening Plenary COP22

37 Gambar 3.6 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada High-Level Segment

COP22 38

Gambar 3.7 Ikhtisar Pengelolaan Substansi pada Sesi Perundingan UNFCCC Tahun

2016 43

Gambar 3.8 Direktur Jenderal PPI pada Sesi Opening Plenary APA1.3 di COP23 48 Gambar 3.9 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada High-Level Segment

COP23 50

(9)

viii Closing Plenary COP23

Gambar 3.11 Tim Negosiasi DELRI pada Bonn Climate Change Conference, Mei

2017 52

Gambar 3.12 Tim Negosiasi DELRI setelah Penutupan COP23 52

Gambar 3.13 Ikhtisar Pengelolaan Substansi pada Sesi Perundingan UNFCCC Tahun

2017 53

Gambar 3.14 Statistik Pertemuan Persiapan DELRI Menuju Perundingan UNFCCC 53 Gambar 3.15 Dokumen Pedoman DELRI , Matriks Posisi, dan Laporan DELRI pada

Sesi Perundingan UNFCCC 2015 - 2017 55

Gambar 4.1 Tim Negosiasi DELRI pada COP21, Desember 2015 59

Gambar 4.2 Tim Negosiasi DELRI pada Bonn Session Mei 2016 59

Gambar 4.3 Tim Negosiasi DELRI pada COP23, November 2017 59

Gambar 4.4 Pengelolaan DELRI pada COP21/CMP11 berdasarkan badge 63 Gambar 4.5 Gambar 4.5 Pengelolaan DELRI pada COP22/CMP12 berdasarkan

badge 63

Gambar 4.6 Pengelolaan DELRI pada COP23/CMP13/CMA1.3 berdasarkan badge 64 Gambar 4.7 Pengelolaan DELRI pada COP21/CMP11 berdasarkan Jenis Kelamin 65 Gambar 4.8 Pengelolaan DELRI pada COP22/CMP12 berdasarkan Jenis Kelamin 66 Gambar 4.9 Pengelolaan DELRI pada COP23/CMP13/CMA1.3 berdasarkan Jenis

Kelamin 67

Gambar 4.10 Pengelolaan DELRI pada ADP2.10 berdasarkan Jenis Kelamin 67 Gambar 4.11 Pengelolaan DELRI pada ADP2.11 berdasarkan Jenis Kelamin 68 Gambar 4.12 Pengelolaan DELRI pada SBI44/SBSTA44/APA1.2 berdasarkan Jenis

Kelamin 69

Gambar 4.13 Pengelolaan DELRI pada SBI46/SBSTA46/APA1.3 berdasarkan Jenis

Kelamin 70

Gambar 4.14 Pembukaan Paviliun Indonesia pada COP23 71

Gambar 4.15 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Salah Satu Sesi

Pavilion COP23 71

Gambar 4.16 Acara Penutupan Paviliun Indonesia pada COP23 71

Tabel 4.1 Delegasi Republik Indonesia pada 7 Sesi Perundingan UNFCCC (2015

(10)

ix

DAFTAR BOX

Box 1 National Statement Indonesia yang disampaikan Presiden Joko

Widodo pada Pertemuan Kepala Negara/Kepala Pemerintahan Mengawali COP21

4

Box 2 Dokumen UNFCCC sebagai referensi tugas NFP for UNFCCC 7

Box 3 Sekilas Sejarah Ad-hoc Working Group Durban Platform for

Enhanced Action (ADP) 12

Box 4 Misi Indonesia pada dalam Sesi Perundingan COP-21/CMP-11

(Paris, Perancis, 30 November – 11 Desember 2015) 28

Box 5 Butir-butir Penting Rangkuman Masukan Indonesia dalam Sesi Perundingan COP-21/CMP-11 (Paris, Perancis, 30 November – 11 Desember 2015)

30

Box 6 National Statement Indonesia yang disampaikan oleh

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Closing Plenary

COP21

31 Box 7 Misi Indonesia pada Sesi Perundingan COP22/CMP12

(Marakesh, Maroko, 7 – 18 November 2016) 33

Box 8 National Statement Indonesia yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada

High-Level Segment COP22

38

Box 9 Butir-butir Penting Rangkuman Masukan Indonesia dalam

Sesi Perundingan COP22/CMP12

(Marakesh, Maroko, 7 – 18 November 2016)

40

Box 10 National Statement Indonesia yang disampaikan

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim pada High-Level Segment COP22

42 Box 11 Misi Indonesia pada COP23/CMP13/CMA1.2 (Bonn, Jerman, 6 – 17

November 2017) 45

Box 12 National Statement Indonesia yang disampaikan Direktur Jenderal

Pengendalian Perubahan Iklim pada Opening Plenary APA1.3 pada COP23

48

Box 13 National Statement Indonesia yang disampaikan Menteri

Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada High-Level Segment COP23 50

Box 14 National Statement Indonesia yang disampaikan Direktur Jenderal

(11)

x

DAFTAR ISTILAH

ADP : Ad Hoc Working Group on the Durban Platform for Enhanced Action APA : Ad-Hoc Working Group on the Paris Agreement

BAU : business as usual

BRG : Badan Restorasi Gambut BUR : Biennieal Update Report COP : Conference of the Parties

CMA : Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Paris Agreement

DELRI : Delegasi Republik Indonesia

Ditjen. PPI : Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim DNPI : Dewan Nasional Perubahan Iklim

GCAA : Global Climate Action Agenda

GRK : Gas Rumah Kaca

KLHK : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan LPAA : Lima Paris Action Agenda

MoI : Means of Implementation

NAZCA : Non-State Actor Zone for Climate Action NDC : Nationally Determined Contribution NFP : National Focal Point

NPS : Non-Party Stakeholder

NSA : Non-State Actor

ORS : Online Registration System

PAWP : Paris Agreement Work Programme

PD : Party Delegate

PO : Party Overflow

PPI : Pengendalian Perubahan Iklim

REDD+ : Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation SBI : Subsidiary Bodies for Implementation

SBSTA : Subsidiary Bodies for Scientific and Technological Advice SEORS : Side Event and Exhibit Online Registration System

(12)
(13)

1

BAGIAN 1

P

ENDAHULUAN

1.1 Keanggotaan Indonesia sebagai Negara Pihak UNFCCC, Protokol Kyoto, dan Paris Agreement

1.1.1 Keanggotaan Indonesia dalam UNFCCC Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992 melahirkan beberapa

deklarasi dan kesepakatan

internasional di antaranya United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim yang

bertujuan menstabilkan

konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang tidak

membahayakan kelangsungan

sistem kehidupan mahluk di bumi.

Indonesia turut meratifikasi UNFCCC melalui instrumen Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja

Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim)1. Dengan

meratifikasi Konvensi tersebut, Indonesia secara resmi telah menjadi Negara Pihak (Party) dan terikat dengan kewajiban dan memiliki hak untuk memanfaatkan berbagai peluang dukungan yang ditawarkan UNFCCC dalam upaya mencapai tujuan konvensi tersebut. Sebagai negara

1 Tanggal Penandatanganan UNFCCC: 5 Agustus 1994, tanggal ratifikasi: 23 Agustus 1994, dan tanggal entry into force: 21 November 1994 (http://unfccc.int/tools_xml/country_ID.html)

Gambar 1.1 Logo UNFCCC

(14)

2

Annex I, pada dasarnya Indonesia tidak wajib menurunkan emisi GRK nasional. Akan tetapi, konsekuensi dari ratifikasi konvensi perubahan iklim tersebut, Indonesia harus turut serta dalam upaya menstabilkan konsentrasi GRK serta melaporkan sumber-sumber utama (termasuk besarnya) emisi GRK dan kegiatan-kegiatan yang terkait perubahan iklim ke UNFCCC.

Target rinci penurunan emisi gas rumah kaca sebagai kewajiban secara legally binding dari setiap Negara Pihak yang dikategorikan pada Annex-I dari UNFCCC ditetapkan melalui Protokol Kyoto atau Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change.

1.1.2 Keanggotaan Indonesia dalam Kyoto Protocol

Meskipun Indonesia tidak termasuk sebagai Annex-I Party yang memiliki

kewajiban di dalam Protokol Kyoto, Indonesia turut meratifikasi Protokol Kyoto melalui instrumen Undang-Undang Republik Indonesia No. 17

Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol to the United Nations

Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto atas Konvensi

Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim)2.

Selanjutnya, para Negara Pihak UNFCCC dan Protokol Kyoto bersepakat

mengadopsi Doha Amendment to the Kyoto Protocol yang dihasilkan

melalui Dec 1/CP.18 untuk melanjutkan target penurunan emisi grk tahap

berikutnya bagi Annex I countries dari rezim Protokol Kyoto. Komitmen

Periode I (2008-2012) dikenal dengan rezim Protokol Kyoto, dan Komitmen Periode II adalah 2012-2020 dimana Negara Pihak Annex I diminta untuk mengurangi total emisi GRK minimal sebesar 18% dari tingkat tahun 1990 untuk dilaksanakan tahun 2013-2020.

Indonesia melakukan penerimaan (acceptance) terhadap Amandemen

Doha melalui instrumen Piagam Penerimaan Doha Amendment to the

2 Tanggal Penandatanganan: 13 Juli 1998, tanggal ratifikasi: 3 Desember 2004, tanggal entry into force: 3

(15)

3

Kyoto Protocol pada 6 Agustus 2014 yang disampaikan ke Sekretariat

UNFCCC pada 30 September 20143.

1.1.3 Keanggotaan Indonesia dalam Paris Agreement

Pada COP21 di Paris tahun 2015, seluruh Negara Pihak UNFCCC

mengadopsi Paris Agreement melalui Dec 1/CP.21 untuk membangun

rezim baru pengelolaan perubahan iklim melalui target penurunan emisi GRK oleh seluruh Negara Pihak, baik Negara Maju maupun Negara

Berkembang yang dikenal sebagai Nationally Determined Contributions

(NDCs).

Presiden Indonesia Joko Widodo hadir memenuhi undangan Presiden

Perancis pada pembukaan COP21 bersama pimpinan

negara/pemerintahan di seluruh dunia. Pada kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan komitmen Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi atas permasalahan perubahan iklim global.

3 Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri,

http://treaty.kemlu.go.id/index.php/treaty/index?fullPage=1&sort=treaty_title, diakses pada 28 Juli 2016; dan UNFCCC, 2016

Gambar 1.2 Presiden Joko Widodo pada

Pertemuan Kepala Negara/Kepala Pemerintahanan Mengawali COP21 Sumber: IISD/Kiara Worth (IISD, 2015)

(16)

4

Indonesia turut menjadi Negara

Penandatangan Paris Agreement

yang dilakukan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

pada High Level Signature

Ceremony of Paris Agreement, New York, 22 April 2016. Pemerintah Indonesia memulai proses menuju ratifikasi melalui penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) disertai Naskah Akademis dan surat Usulan Pemrakarsa sejak awal tahun 2016.

Gambar 1.3 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan padaHigh Level Signature Ceremony of Paris Agreement

New York, 22 April 2016

Sumber: UNFCCC (UNFCCC, 2018) Box 1

National Statement Indonesia yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada Pertemuan Kepala Negara/Kepala Pemerintahanan Mengawali COP21

Our deepest condolence for the act of terror on the 13th of November that claimed innocent lives. As the biggest Moslem

population, Indonesia affirms that Islam teaches peace and tolerance. These acts of terror are not related to any relifgion, nation or race whatsoever.

I am here to convey our strong political support to a successful COP 21. As a country with one of the largest forest areas that serves as the lungs od the world, Indonesia has chosen to be part of solution. Under the leadership, the government will take into consideration environmental aspects in out development.

Indonesia has geographic conditions that are vulnerable to climate change, 2/3 of our territory consists of sea, there are 17.000 islands, 60% of the population lives in costal area, and 80% of disaster that has taken place are climate-related.

Just recently, Indonesia suffered from forest and peat fires. The Hot and Dry El Nino have caused mitigation efforst difficult, but it has been addressed (wehave managed to). Law has been robustly enforced (Bahasa Indonesia version does not use verb that indicates “has” or “will”), we are preparing preventive measures – some of which we have started to implement, (for example) peat ecosystem restoration with establishment of Peat Restoration Agency.

Above-mentioned vulnerabelities and challenges would not stop us from committing to contribute to global action in reducing emission. Indonesia commits to

Reduce by 29% from BAU level by 2030 and by 41% with international assistance. Emission reduction would be done through several measures:

On Energy: Reallocation of fuel subsidy to productive sectors; Increase share of renewable energy up to 23% from national energy

consumption by 2025; Waste management for energy.

On Forest and governance: Implementation of One Map Policy; Putting in place moratorium and review of utilization permits/

concession on peat; Sustainable Land and Forest Management.

On Maritime affairs: Addressing illegal unregulated and unregisterd fishing; Protection of marine biodiversity.

Paris agreement must relflect balance, fairness, as well as national priorities and ccapacities. (It must also be) legally binding, long term, ambitious but not restrictive to development of developing nations.

To reach agreement in Paris, all parties, I repeat, all parties, particularly developed nations, must contribute more to mitigation and adaptation aictions.

 Resources mobilization (climate financing) of US$ 100 Billion by 2020, and improvement (of the amount) in the yeas to follow

 Transfer of envirionmentally friendly friendly thecnology and capacity development.

Reaching a Paris Agreemnt is necessary. I hope all of us would be part of solution to make the earth a good place for our children and grandchildren – and to make the earth a prosperous living place for them.

(17)

5

Pada 24 Oktober 2016, Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement

melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Perubahan Iklim). Dengan demikian, Pemerintah Indonesia juga telah menjadi Negara Pihak PA ketika menghadiri COP22/CMP12/CMA1 di Marakesh, Maroko pada 7 – 18 November 2016. 1.2 Institutional Arrangement dan Peran National Focal Point for UNFCCC

1.2.1 Institutional Arrangement

Sesuai kebijakan Pemerintah dalam streamlining Kementerian/ Lembaga

dan berdasarkan Peraturan Presiden No. 16/2015 tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, maka dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo terjadi peleburan 4 (empat) institusi kementerian/ lembaga yang terdiri atas Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), dan Badan Pengelola REDD+ menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Berdasarkan Perpres tersebut pelaksanaan Pengendalian Perubahan Iklim dikoordinasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (Ditjen PPI).

Gambar 1.4 Institutional Arrangement National Focal Point for UNFCCC Sumber: Ditjen PPI (KLHK, 2017)

(18)

6

Selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.18/MenLHK-II/2015 tentang Struktur Organisasi dan Administrasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ditjen PPI memiliki serangkaian tugas dan fungsi dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan pengendalian perubahan iklim. Mengingat perjanjian global

mengenai perubahan iklim berada didalam kerangka United Nations

Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), maka seluruh pengertian dan uraian dalam buku ini mengacu pada kerangka perjanjian tersebut.

Dalam pelaksanaan mandat sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim telah menyusun target dan program kerja sampai dengan tahun 2019 seperti pada Gambar 1.3 di atas.

1.2.2 Peran National Focal Point for UNFCCC

Dasar penunjukkan Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim selaku National Focal Point for United Nations Framework Convention on Climate

Change (NFP for UNFCCC)4 melalui:

1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. SK. 465/Menlhk-Setjen/2015 Tanggal 28 Oktober 2015 tentang Penunjukan Focal Point (Pumpunan Kegiatan) Kerja Sama Luar Negeri; 2. Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI kepada Executive Secretary of UNFCCC No. S.210/MenLHK-II/2015 Tanggal 18 Mei 2015. Pengertian NFP for UNFCCC adalah person yang ditunjuk negara sebagai perwakilan negara untuk bertanggung jawab dan berkomunikasi terhadap seluruh kegiatan terkait UNFCCC di tingkat nasional Negara Pihak masing-masing. Tugas NFP secara lengkap sesuai dengan keputusan COP maupun subsidiary bodies di bawah UNFCCC dapat dilihat pada Box 1 berikut.

(19)

7

Singkatnya, NFP memiliki tugas utama untuk:

a. Menerima dokumen dari dan komunikasi dengan UNFCCC terkait aspek penganggaran dari Sekretariat UNFCCC,

b. Penyusunan Laporan Komunikasi Nasional (National Communication); c. Menginformasikan mengenai pelaksanaan Konvensi di tingkat

nasional;

d. serta menerima, menyetujui, dan mengetahui seluruh kegiatan yang dilaksanakan bersama dengan pihak lain dan melaporkannya kepada Pertemuan Para Pihak (Conference of the Parties/COP) melalui Sekretariat UNFCCC.

Dalam menjalankan tugasnya, NFP for UNFCCC melakukan fungsi antara

lain:

a. Mempersiapkan Delegasi Republik Indonesai untuk sesi-sesi perundingan di bawah UNFCCC;

Box 2

Dokumen UNFCCC sebagai referensi tugas NFP for UNFCCC

1. Decision 14/CP.2 - Establishment of the permanent secretariat and arrangements for its functioning

V. Focal points and liaison arrangements Paragraph 9

9. Requests Parties that have not yet done so to communicate to the secretariat their decision on the designation of focal points, as well as any need for liaison arrangements between their focal point and the secretariat in Bonn, so as to enable the Executive Secretary, in conjunction with other Convention secretariats and United Nations bodies, to explore the availability, cost, and funding of suitable liaison arrangements in Geneva and/or New York, and to report thereon to the Subsidiary Body for Implementation at its fifth session;

2. FCCC/SBI/1996/9 Paragraph 29

29. The SBI invited non-Annex I Parties to nominate national focal points for facilitating assistance for the preparation of the initial communications;

3. FCCC/SBSTA/1996/8 Paragraph 74

74. The SBSTA invited Parties to identify the relevant governmental authority/ministry authorized to accept, approve or endorse activities implemented jointly and to report them to the COP through the secretariat.

(20)

8

b. Bekerja sama dengan Kementerian/Lembaga serta pemangku kepentingan terkait lainnya dalam menyusun substansi posisi negosiasi maupun submisi Indonesia;

c. Menyampaikan submisi Indonesia baik berupa posisi, dokumen pelaporan dan dokumen lainnya ke Sekretariat UNFCCC;

d. Mengelola kesekretariatan Delegasi selama sesi perundingan berlangsung;

e. Mengkoordinasikan pelaporan hasil persidangan dan komunikasi tindak lanjut/implementasi oleh berbagai pihak.

1.2.3 Focal Point/Pumpunan Kegiatan Lain yang terkait

Selain sebagai NFP for UNFCCC, Dirjen PPI juga menjadi Focal

Point/Pumpunan kegiatan untuk beberapa isu substantif lainnya yang masih terkait dalam kerangka UNFCCC, yaitu;

1. NFP for Article 6 of the Convention;

2. Designation Authority for Adaptation Fund;

3. Designation National Authority for Clean Development Mechanism;

4. National Focal Point for IPCC

Komunikasi yang dilakukan antara Sekretariat UNFCCC dengan NFP for

UNFCCC setiap Negara Pihak adalah melalui berbagai media komunikasi

termasuk melalui akun email. Sebagai NFP for UNFCCC, Indonesia selalu

menerima update atau dari Sekretariat UNFCCC untuk kemudian dilanjutkan penyampaian informasi tersebut kepada para pemangku kepentingan baik di tingkat nasional maupun subnasional.

1.3 Sekretariat NFP for UNFCCC

Dalam hal menjalankan serta untuk membantu pelaksanaan fungsi dan tugas selaku NFP for UNFCCC, Direktur Jenderal PPI didukung oleh

Sekretariat National Focal Point for UNFCCC5. Pengertian Sekretariat NFP

for UNFCCC adalah sekretariat yang mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHk dalam rangka mengemban peran selaku NFP for UNFCCC

5 Sekretariat NFP berada di bawah Direktorat Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional. Email:

(21)

9

Tugas dan fungsi Sekretariat NFP for UNFCCC, selain mendukung

pelaksanaan tugas dan fungsi NFP for UNFCCC, secara eksternal kepada

Sekretariat UNFCCC dan pihak asing lainnya, secara internal di tingkat nasional juga mencakup kegiatan-kegiatan berupa sosialisasi, diseminasi, dan internalisasi hasil-hasil perundingan perubahan iklim tingkat global ke berbagai pemangku kepentingan terkait di tingkat nasional dengan pemahaman yang lebih mudah untuk dicerna bagi para pemangku kepentingan yang berasal dari berbagai elemen masyarakat.

Dengan demikian komunikasi Sekretariat NFP for UNFCCC tidak hanya

bersifat eksternal ke pihak luar, juga ke para pemangku kepentingan di dalam negeri, baik nasional maupun sub-nasional, serta menjembatani komunikasi dan penyampaian informasi antara Sekretariat UNFCCC dengan para pemangku kepentingan perubahan iklim di Indonesia.

(22)
(23)

11

BAGIAN 2

P

ERUNDINGAN UNFCCC

2.1 Struktur Perundingan UNFCCC

Perundingan dalam kerangka UNFCCC setiap tahunnya biasa terdiri atas 2 (dua) sesi/ periode6, yaitu:

a. Sesi/ periode perundingan pertengahan tahun, dimana forum perundingan adalah tingkat Subsidiary Bodies (SBs) yaitu Subsidiary Body for Implementation (SBI), Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA), dan ad hoc working group. Sesi perundingan tengah tahun secara rutin diselenggarakan sekitar bulan Mei atau Juni dan selalu berlokasi di kompleks United Nations Campus dan World Convention Center Bonn (WCCB)7 di Kota Bonn, lokasi dimana markas UNFCCC berada. Namun demikian pada periode tahun-tahun sebelumnya sesi perundingan pertengahan tahun juga diselenggarakan di Hotel Maritime, Bonn;

b. Sesi/periode perundingan akhir tahun berupa Conference of the

Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (COP), dan/atau Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP), dan/atau Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to The Paris Agreement (CMA). Penyelenggaraan COP/CMP juga disertai

penyelenggaraan perundingan Subsidiary Bodies (SBs). Host country

atau lokasi negara penyelenggaraan COP adalah Negara Pihak

6 Jika dilihat secara utuh sesi perundingan UNFCCC pada tahun 2015, mengingat target penyelesaian mandat ADP untuk menghasilkan suatu perjanjian baru pada COP-21, UNFCCC telah menyelenggarakan 5 (lima) kali perundingan yang terdiri dari: ADP 2.8 (Februari 2015), SBI-42/SBSTA-42/ADP 2.9 (Juni 2015), ADP2.10 (Agustus-September 2015), ADP2.11 (Oktober 2015), dan COP-21/CMP-11/SBI43/SBSTA43/ADP2.12 (Desember 2015).

(24)

12

UNFCCC yang dilaksanakan secara bergiliran 5 (lima) region: Eropa Barat, Afrika, Asia Pasifik, Eropa Timur, Amerika Latin dan Karibia.

Dalam penyelenggaraan COP/CMP, upcoming COP Presidency yakni

Presiden COP berikutnya selalu menyelenggarakan suatu pertemuan yang disebut Pre COP yang ditujukan untuk tingkat chief negotiator dan bersifat koordinasi politis. Pertemuan Pre COP bertujuan untuk menyampaikan target yang hendak dicapai pada setiap COP dan harapan COP Presidency terhadap COP tersebut serta kesepakatan politis yang hendak ditempuh

guna mencapai target tersebut. Mengingat arti penting Pre COP maka

menjadi rangkaian tak terpisahkan dalam mengawali COP.

Untuk informasi rinci dan lebih jelas terkait periode perundingan UNFCCC,

dapat dilihat pada laman UNFCCC: http//www.unfccc.int.

2.2 Sesi Perundingan UNFCCC Periode Agustus 2015 – Desember 2017 Dalam kurun waktu dari Agustus 2015 hingga Desember 2015, UNFCCC telah menyelenggarakan 7 (tujuh) kali sesi perundingan, yang terdiri dari 4

(empat) pertemuan subsidiary bodies dan 3 (tiga) kali COP. Ketujuh sesi

perundingan UNFCCC yang dikelola oleh Ditjen PPI sejak terbentuk pada Juni 2015 hingga Desember 2017 sebagaimana uraian berikut.

Box 3

Sekilas Sejarah Ad-hoc Working Group on Durban Platform for Enhanced Action (ADP)

Pembentukan ADP sebagai hasil keputusan pada COP17 di Durban, Afrika Selatan, 28 November – 9 Desember 2011 (Decision 1/CP.17 on the Establishment of an Ad Hoc Working Group on the Durban Platform for Enhanced Action).

Sesuai mandatnya untuk menyusun suatu perangkat legal (protocol, another legal instrument or an agreed outcome with legal force under the Convention), pembahasan Ad-hoc Working Group Durban Platform for Enhanced Action (ADP) dibagi dalam 2 workstream yaitu:

1. Workstream I (2015 Agreement) membahas perjanjian 2015 yang harus diadopsi pada pertemuan COP21/CMP11 di Paris, Perancis pada Desember 2015, yang secara legal akan berlaku tahun 2020; dan

2. Workstream II (pre-2020 Ambition) untuk mengidentifikasi opsi yang dapat dilakukan untuk mengisi kesenjangan (gap) yang terjadi dalam hal pencapaian target mitigasi yang dilakukan oleh negara maju sampai dengan tahun 2020, dimana akan berlaku secepatnya sampai tahun 2020 dimana 2015 Agreement akan berlaku.

(25)

13 A. Tahun 2015

(1) the Tenth Part of the Second Session of the Ad Hoc Working Group

on the Durban Platform for Enhanced Action (ADP 2.10), Bonn, Jerman, 31 Agustus - 4 September 2015;

(2) the Eleventh Part of the Second Session of the Ad Hoc Working Group

on the Durban Platform for Enhanced Action (ADP 2.11), Bonn, Jerman, 19 – 23 Oktober 2015;

(3) the Twenty-first session of the Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (COP21), the eleventh session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP11), the Forty-third Session of the Subsidiary Body for Implementation (SBI43), and the Forty-third Session of the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA43), Paris, Perancis, 30 November – 12 Desember 2015;

Gambar 2.1 Suasana Sesi Perundingan padaCOP21

(26)

14 B. Tahun 2016

(4) Bonn Climate Change Conference 2016 - the Forty-fourth Session of

the Subsidiary Body for Implementation (SBI44), the Forty-fourth Session of the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA44) and the First Session of the Ad- Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA-1), Bonn, Jerman, 16 – 26 Mei 2016;

(5) Marrakech Climate Change Conference 2016 - the Twenty-second

session of the Conference of the Parties (COP22), the twelfth session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP12), the first session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Paris Agreement (CMA-1), the Forty-fifth Session of the Subsidiary Body for Implementation (SBI45), the Forty-fifth Session of the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA45) and the Second Part of the First Session of the Ad-Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA1.2), Marakesh, Maroko, 7-18 November 2016.

Sumber: IISD/Kiara Worth (IISD, 2016)

(27)

15 C. Tahun 2017

(6) Bonn Climate Change Conference 2017 - the Forty-sixth Session of

Subsidiary Body for Implementation (SBI46), the Forty-sixth Session of Subsidiary Body of Scientific and Technological Advice (SBSTA46), and the Third Part of the first Session of Ad-hoc Working Group on the Paris Agreement (APA1.3), Bonn, Jerman, 8 – 18 Mei 2017;

(7) the Twenty-third meeting of the Conference of the Parties (COP23),

the thirteenth session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP 13); the second part of the first session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Paris Agreement (CMA 1-2), the Forty-seventh Session of the Subsidiary Body for Implementation (SBI47), the Forty-seventh Session of the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA47) and the Fourth Part of the First Session of the Ad-Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA1.4) Bonn, Jerman, 6 – 17 Mei 2017.

Sumber: IISD/Kiara Worth (IISD, 2017)

(28)

16

Sesi perundingan UNFCCC selama periode Agustus 2015 – Desember 2017 dapat dilihat pada Gambar 2.5 berikut:

Ketujuh sesi perundingan tersebut yang selanjutnya dikelola oleh Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim selama kurun waktu Agustus 2015 hingga Desember 2017. Sesi perundingan COP21/CMP11 yang diselenggarakan pada 30 November hingga 12 Desember 2015 telah menghasilkan salah satunya keputusan penting yakni Decision I/CP.21 – the Adoption of Paris Agreement yang menandai lahirnya rezim baru pengelolaan perubahan iklim global.

2.3 Pertemuan Non Perundingan

Dalam setiap pertemuan COP, selain forum negosiasi sebagai main event, Sekretariat UNFCCC juga menyelenggarakan pertemuan non-perundingan sebagai rangkaiannya. Pertemuan non perundingan ini terdiri dari beberapa jenis event yakni:

Sumber: Ditjen. PPI (KLHK, 2017) Gambar 2.4 Rangkaian 7 (tujuh) Sesi Perundingan Agustus 2015 – Desember 2017

ADP2.10 (2015) ADP2.11 (2015) COP21 CMP11 SBI43 SBSTA43 ADP2.12 (2015) SBI44 SBSTA44 APA1 (2016) COP22 CMP12 SBI45 SBSTA45 APA1.2 (2016) SBI46 SBSTA46 APA1.3 (2017) COP23 CMP13 SBI47 SBSTA47 APA1.4 (2017) Decision I/CP.21: The Adoption of Paris Agreement

(29)

17

a. Mandated Events

Mandated Events merupakan pertemuan yang dimandatkan oleh COP untuk diselenggarakan di luar agenda resmi Subsidiary Bodies, dan

berasal dari keputusan sesi-sesi perundingan sebelumnya. Mandated

event biasa berbentuk workshop, diselenggarakan sebagai pre sessional event ataupun in-session, tidak bersifat negosiasi namun memberikan semacam input langsung ke agenda SBs terkait.

b. Side Events dan Pameran

Side events dan pameran merupakan platform yang dikelola Sekretariat

UNFCCC bagi Parties maupun observers dan sebagai agenda resmi

UNFCCC. Melalui event ini berbagai pihak yang memiliki izin dalam UNFCCC, namun memiliki kesempatan berbicara yang terbatas dalam negosiasi formal, dapat terlibat dengan Negara Pihak dan juga peserta lain dalam berbagi pengetahuan, peningkatan kapasitas, membangun jaringan serta mengeksplorasi pilihan bersama dalam tindakan pengendalian perubahan ikilm. Para Negara Pihak dan observer yang akan mengikuti side event yang dikelola UNFCCC diwajibkan untuk

mendaftar melalui Side Event and Exhibition Online Registrations

System (SEORS) pada laman https://seors.unfccc.int/. c. Parallel Events

Paralel Events merupakan serangkaian pertemuan yang

diselenggarakan oleh negara ataupun organisasi, dan bukan termasuk agenda Sekretariat UNFCCC, baik di dalam maupun di luar area penyelenggaraan konferensi. Salah satu agenda Parallel Events adalah Paviliun Delegasi, yang diselenggarakan oleh berbagai Negara Pihak.

(30)

18

d. Platform untuk Non-Party Stakeholders/Non-State Actors

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh COP-Presidencies. Khususnya sebagai platform komunikasi bagi pihak-pihak di luar negara pihak. Platform ini telah diadakan sejak COP-20 tahun 2014 di Lima, Peru. Platform khusus ini disebut dengan Non-State Actor

Zone for Climate Action (NAZCA) dengan laman

climateaction.unfccc.int/.

Sumber: Biro Humas (KLHK, 2017) Gambar 2.6 Side Event Indonesia dengan tema “Good Peatland Governance to

Strengthen Economic, Social and Ecosystem Resillience” pada COP23

Gambar 2.5Side Event Indonesia dengan tema “Building Resilience for Climate Change Adaptation: Challenges and Progress for Archipelagic and Small Island Countries” pada COP22

(31)

19

e. Agenda COP-Presidencies (Action Agenda)

Action Agenda merupakan agenda yang diselenggarakan oleh COP-Presidencies dengan tujuan mendorong peningkatan aksi global dalam pencapaian komitmen Paris Agreement. Pada tahun 2015 dalam COP21, agenda ini disebut dengan Lima-Paris Action Agenda (LPAA), dan untuk

tahun 2016 di Marakesh disebut dengan Marrakech Global Climate

Action Agenda.

2.4 Pengorganisasian Kerja oleh NFP for UNFCCC

Dalam setiap siklus pengelolaan perundingan pada prinsipnya terdiri dari 4 (empat) tahapan:

a. Tahap 1: Stocktaking – tahap persiapan guna pengumpulan data dan informasi berupa progres atau kemajuan positif terkait pengendalian perubahan iklim di tingkat nasional dan berbagai perkembangan global terkait yang menjadi dasar penyusunan submisi maupun Posisi Indonesia;

b. Tahap 2: Formulation – penyusunan submisi, Kertas Posisi, dan berbagai dokumen terkait lainnya, serta pembentukan Delegasi RI;

c. Tahap 3: Facilitation – fasilitasi bagi Delegasi Republik Indonesia baik sebelum maupun pada saat mengikuti perundingan;

d. Tahap 4: Evaluation and Communication to the Stakeholders – evaluasi keikutsertaan Delegasi Indonesia dalam setiap sesi perundingan dan sebagai sarana mengkomunikasikan hasil-hasil perundingan kepada para pemangku kepentingan.

Tahap 1 dan 2 merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum keberangkatan Delegasi RI dalam suatu sesi perundingan. Tahap 3 merupakan tahap pelaksanaan yaitu ketika Delegasi RI mengikuti suatu sesi perundingan, dan Tahap 4 merupakan tahap paska sesi perundingan ketika Delegasi RI telah kembali ke Tanah Air.

Tahap 1 merupakan tahap persiapan, dimana prinsip tahap ini berupa pengumpulan data dan informasi mengenai progres atau kemajuan positif terkait pengendalian perubahan iklim di Indonesia dan berbagai perkembangan global terkait yang menjadi dasar penyusunan submisi maupun Posisi Indonesia.

(32)

20

Dalam Tahap 1, Sekretariat NFP for UNFCCC melakukan serangkaian

kegiatan berupa:

a. Identifikasi call for submission

Identifikasi dilakukan pada permintaan submisi yang telah dihasilkan dari sesi perundingan sebelumnya. Meskipun pemenuhan call for submission bersifat voluntary, namun proses penyusunan submisi hingga dihasilkannya suatu submisi untuk disampaikan ke Sekretariat UNFCCC merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari proses penyusunan Posisi Indonesia secara keseluruhan. Pemenuhan submisi tersebut dilakukan sedini mungkin dari batas waktu yang ditetapkan dan juga memperhatikan keterkaitan submisi tersebut dengan agenda

lanjutan yang dimandatkan dalam keputusan seperti technical

workshop, roundtable discussion dan technical paper; b. Penelaahan agenda perundingan

Dalam menuju suatu sesi perundingan penting sekali untuk memperoleh agenda sesi perundingan secara lengkap sebagai bahan untuk menyusun strategi negosiasi. Biasanya agenda perundingan akan disampaikan/ dimuat Sekretariat UNFCCC yang meliputi berbagai informasi baik aspek substansi maupun aspek logistik kepada seluruh Negara Pihak dan publik melalui email maupun penayangan dalam

laman www.unfccc.int. Agenda perundingan atau yang dikenal dengan

sebutan provisional and annotations agenda menjadi basis penyusunan Posisi Indonesia untuk setiap sesi perundingan;

Gambar 2.7 Suasana Pertemuan Penyusunan Posisi DELRI pada COP-22 sebagai bagian tahap Formulation

(33)

21

c. Identifikasi Pemangku Kepentingan (Kementerian /Lembaga)

Sesuai dengan agenda dan substansi sesi perundingan yang diterima, selanjutnya perlu dilakukan identifikasi para pemangku kepentingan (K/L) terkait untuk dilibatkan dalam mengawal agenda perundingan dimaksud. Untuk itu, NFP akan mengundang perwakilan K/L terkait dalam rangka penyusunan submisi dan Kertas Posisi Indonesia serta menjadi Delegasi RI;

d. Identifikasi progres baik di Tingkat Nasional dan Proses Terkait di Tingkat Global

Dalam mempersiapkan bahan submisi dan kertas posisi Indonesia, NFP juga perlu mengidentifikasi progres serta hambatan di tingkat nasional serta proses pertemuan di tingkat global yang relevan. Identifikasi progres dan hambatan di tingkat nasional penting sebagai modalitas dalam perundingan untuk meningkatkan progress dan mendapatkan solusi untuk hambatan yang dihadapi. Sedangkan identifikasi proses di tingkat global berguna untuk memprediksi dan mengantisipasi arah perundingan dan hasil perundingan yang ingin dicapai.

Dalam Tahap 2, Ditjen PPI KLHK melalui Sekretariat NFP for UNFCCC

melakukan serangkaian kegiatan baik bersifat sekuen maupun paralel berupa:

a. Penyelenggaran serangkaian pertemuan guna penyusunan Submisi dan Kertas Posisi, dimana pertemuan penyusunan submisi dan Kertas Posisi dilakukan secara terpisah;

b. Pembentukan Tim Negosiasi sebagai bagian inti dari Delegasi RI; c. Pembentukan Sekretariat Delegasi RI (Sekdelri);

d. Penyampaian nama-nama Delegasi RI kepada Sekretariat UNFCCC

melalui Online Registration System (ORS) untuk mendapatkan

Acknowledgement Letter of Nomination dan/atau Visa Support Letter bagi para calon Delegasi;

e. Penyusunan dokumen Pedoman Delegasi Republik Indonesia;

f. Penyelenggaraan pertemuan Koordinasi Delegasi Republik Indonesia, yang bertujuan penyampaian pengarahan dari Menteri Lingkungan Hidup dan eminent person terkait kepada seluruh Delegasi RI.

(34)

22

Kegiatan dalam tahap 2 di atas adalah kegiatan dasar yang dilakukan untuk persiapan setiap sesi perundingan, baik SBs maupun COP. Mengingat sesi COP jenis pertemuan yang diadakan oleh Sekretariat UNFCCC bersifat lebih

kompleks dengan adanya pelibatan Non-Party Stakeholders (NPS),

terdapat kegiatan lain yang juga perlu dilakukan dalam menjelang setiap sesi perundingan COP:

a. Penyampaian registrasi dan/atau persetujuan dari NFP for UNFCCC terhadap 1 (satu) usulan kegiatan dari Negara Pihaknya untuk Side

Event yang diselenggarakan oleh UNFCCC melalui Side Event and

Exhibits Online Registration System (SEORS)8;

b. Koordinasi dengan pihak Event Organizer yang ditunjuk oleh Host

Country lokasi penyelenggaraan COP terkait Pengadaan Kantor Sekretariat Delegasi RI;

c. Koordinasi dengan Sekretariat Paviliun Indonesia, dalam rangka soliditas Delegasi Republik Indonesia;

d. Koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri terkait penerbitan Credential Letter.

Tahap 3 merupakan tahap pelaksanaan perundingan. Dalam tahap ini, NFP for UNFCCC melalui Sekretariat Delegasi RI memfasilitasi Delegasi RI dalam

8https://seors.unfccc.int/

Gambar 2.8 Suasana Koordinasi Internal DELRI sebagai bagian persiapan COP23, November 2017

(35)

23

melakukan perundingan dan kegiatan non-perundingan yang terkait. Kegiatan fasilitasi yang dilakukan pada dasarnya berupa:

a. Koordinasi harian Delegasi RI khususnya menyangkut perkembangan negosiasi di seluruh forum perundingan;

b. Pengaturan deployment anggota Delegasi RI pada agenda

perundingan maupun agenda non perundingan; c. Penyelenggaraan Kantor Delegasi RI;

d. Penyelenggaraan forum komunikasi melalui email maupun whatsapp

group;

e. Penyampaian berbagai informasi terkini baik aspek negosiasi maupun non-negosiasi dari Sekretariat UNFCCC ke seluruh Delegasi RI;

f. Penghubung protokol bagi kehadiran Menteri kaitannya dengan protokol UNFCCC, misalnya pengambilan badge dimana hal ini berlaku

hanya untuk Kepala Negara/Kepala Pemerintahan, Menteri, dan Head

of Delegation;

g. Koordinasi penyusunan Laporan Mingguan dan Berita Faksimil.

Terakhir Tahap 4 yang dilaksanakan setelah Delegasi RI menyelesaikan tugas dan kembali ke Tanah Air. Adapun kegiatan utama yang diselenggarakan berupa:

a. Penyusunan Laporan Delegasi RI secara komprehensif, disertai distribusi ke tiap Kementerian/lembaga yang terlibat;

b. Penyelenggaraan Pertemuan Komunikasi Stakeholders Hasil-hasil COP sebagai sarana evaluasi pencapaian misi Delegasi RI dan penyampaian hasil konferensi dan tindak lanjut yang diperlukan oleh seluruh pemangku kepentingan terkait.

(36)

24

Gambar 2.10 Suasana Pertemuan Komunikasi Stakeholder Hasil COP23 sebagai bagian tahap Evaluation

Sumber: Ditjen. PPI (KLHK, 2016) Gambar 2.9 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada

Pertemuan Evaluasi Keterlibatan DELRI sebagai bagian Evaluasi pada COP21, Desember 2015

(37)
(38)

26

BAGIAN 3

P

ENGELOLAAN SUSBTANSI DAN PERJUANGAN INDONESIA

UNFCCC merupakan salah satu konferensi multilateral yang kompleks dari segi cakupan substansi maupun teknis manajerial penyelenggaraan. Pendekatan sebab dan akibat perubahan Iklim serta dampaknya berbasiskan sains multi disiplin. Fokus utama negosiasi sepanjang 25 (dua puluh lima) tahun sejarah UNFCCC (1992-2017) tetap terpusat pada status emisi gas rumah kaca nasional dan global, aksi mitigasi dan adaptasi, serta mobilisasi dukungan finansial, peningkatan kapasitas, dan transfer teknologi. Disertai dengan berbagai isu strategis yang timbul silih berganti secara dinamis kontekstual.

Target dari tiap sesi perundingan merupakan basis dalam penetapan arah misi Delegasi RI sekaligus acuan bagi Delegasi RI dalam mengelola substansi yang diterjemahkan ke dalam pengorganisasi kerja Tim Negosiasi DELRI.

3.1 Perjalanan Menuju COP21 di Tahun 2015: A Milestone COP

Sepanjang tahun 2015, negosiasi UNFCCC mengerucut pada kebutuhan menghasilkan suatu kesepakatan baru guna meneruskan rezim Protokol Kyoto Periode II yang akan berakhir pada tahun 2020. Frekuensi sesi perundingan meningkat yang secara rutin digelar 2 (dua) kali dalam setahun menjadi 5 (lima) kali pada tahun tersebut dimana 3 (tiga) sesi perundingan dikhususkan untuk memenuhi tuntutan mandat COP terhadap Ad Hoc Working Group on the Durban Platform for Enhanced Action (ADP). ADP pada awal tahun 2015 telah memasuki sesi kedua dan mencapai bagian kedelapan (ADP2.8) pada 8-13 Februari 2015 di Genewa, Swiss.

Debut peran Ditjen PPI KLHK dalam pengelolaan perundingan UNFCCC beserta Delegasi RI dimulai pada ADP2.10 yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 4 September 2015 di Bonn. Atmosfer perundingan sepanjang 2015 hinngga menjelang COP21 adalah seluruh Negara Pihak mencurahkan konsentrasinya untuk penyusunan draft kesepakatan legal yang baru.

(39)

27

Hingga menjelang ADP2.11 yang diselenggarakan di Bonn, Jerman pada 19-23 Oktober 2015, terdapat sejumlah dokumen terkait teks draft untuk negosiasi, mencakup:

a. Geneva Negotiating Text/GNT (FCCC/ADP/2015/1), sebagai dokumen

resmi yang dipergunakan dalam proses negosiasi yang hasil pembahasan sesi ADP 2.8 di Jenewa, Swiss;

b. Serangkaian Non-Paper document dari Sekretariat UNFCCC pada 5

Oktober 2015, yang terdiri dari: Scenario Note ADP2.11, Draft

Agreement dan Decision Workstream 1, dan Draft Decision Workstream 2;

c. Negotiation Text, tercantum dalam Lampiran Decision 1/CP.17 atau

Lima Call for Climate Action, sebagai hasil negosiasi COP-20/CMP-10 di Lima, Peru pada tahun 2014;

d. A revised, streamlined and consolidated text (SCT) dan a working document per 11 Juni 2015 sebagai hasil pembahasan ADP 2.9, di Bonn, Jerman pada 1-11 Juni 2015.

e. Co-Chairs’ Scenario Note atau juga disebut Co-Chairs’ Tool yang

disusun berdasarkan mandat yang diberikan oleh Negara Pihak pada saat penyelenggaraan sesi ADP 2.9 di Bonn-Jerman di Bulan Juni. COP21/CMP11 yang diselenggarakan di Paris, Perancis, 30 November – 11

Desember 2015 merupakan milestone dalam sejarah UNFCCC, yang

menyepakati lahirnya perjanjian baru yang legally binding melalui Decision 1/CP.21 on the Adoption of the Paris Agreement. Paris Agreement menjadi salah satu milestone penting pula dalam pembangunan berkelanjutan, di samping Sustainable Development Goals (SDGs) yang juga dihasilkan di

tahun 2015. Hal ini tak lepas dari kepemimpinan Perancis sebagai COP

Presidency telah proaktif melakukan berbagai pendekatan diplomatis di semua level dari tingkat bilateral dengan sesama Negara Pihak UNFCCC,

forum regional seperti ASEAN, hingga UN General Assembly sepanjang

(40)

28

Secara substansial, isu-isu utama yang secara umum mengemuka hingga pembahasan COP21 meliputi:

a. Prinsip-prinsip Common But Differentiated Responsibilites (CBDR),

Respective Capabilities (RC), Equity, Applied to All;

b. Mitigation, dengan fokus pembahasan Intended Nationally Determined

Contributions (INDC), collective long term goals, individual efforts, differentiated efforts, progression, ambition, information, features, timing, housing, transparency and reporting, accounting, methods and guidance, long term strategies, response measures, unilateral measures, cooperative approaches, support, framing, international transport emissions, article on REDD+, dan article to support sustainable development;

c. Adaptation, dengan pembahasan pengertian umum mengenai

adaptation and loss and damage serta langkah Negara Pihak ke depan guna menyikapi isu-isu tersebut, tujuan/visi jangka panjang adaptasi (global goal on adaptation), kontibusi/aksi negara pihak, pengaturan loss and damage;

d. Finance, dengan fokus isu kesepakatan terkait mekanisme pendanaan

yang telah ada/ berlaku yang akan dipergunakan dalam implementasi Paris Agreement, dan perdebatan terkait skala pendanaan dan adaptation finance;

e. Technology Development and Transfer, dengan fokus pada aksi

bersama dan pengaturan institusi untuk dimasukkan ke dalam

Box 4

Misi Indonesia pada Sesi Perundingan COP-21/CMP-11 (Paris, Perancis, 30 November – 11 Desember 2015)

 Memperjuangkan kepentingan nasional:

- Low Carbon and Climate Resilient Development/Climate Resilient Development (post 2020) yang masuk dalam agenda negosiasi ADP Work Stream I

- NAWACITA (pre 2020) yang masuk dalam agenda negosiasi ADP Work Stream II, SBI/SBSTA.

 Kontribusi terhadap upaya global dalam mencapai tujuan konvensi (ADP WS I - WS II, SBI, SBSTA).

 INDC merupakan cerminan/bagian posisi Indonesia.

 Dinegosiasikan melalui frame negosiasi sesuai elements negosiasi yaitu: Adaptasi, Mitigasi, means of implementation-MoI (Finance, Technology Development and Transfer, Capacity Building), Loss and Damage, Transparency, Facilitating Implementation, aspek institusi dan aspek legal lainnya.

(41)

29

Agreement dan Technology Need Assessment, penguatan institusi, dan Periodic Assessment of Institutional Arrangement untuk menjadi bagian draft Decision;

f. Capacity Building, dengan isu utama perdebatan antara

mempertahankan mekanisme pelaksanaan capacity building yang

sudah ada melalui Durban Forum (posisi umum negara maju) dengan

pembentukan suatu lembaga baru mengingat mandat Durban Forum dipandang terbatas dan bersifat sharing information saja (posisi umum negara berkembang);

g. Transparency of Action and Support, dengan isu utama unified,

robustness, flexibility, dan diferensiasi, mitigasi oleh Party, tingkat global, adaptasi, dan comparability, clarity, support dari negara maju ke negara berkembang, pelaporan, inventory, informasi terkait

mitigasi-adaptasi- means of implementasi, review oleh technical expert,

keterkaitan dengan global stock take, modalitas, prosedur sistem

transparansi, dan hak negara berkembang untuk menerima support dari Negara maju;

h. Legal, mencakup: Preamble (antara lain pengakuan hak indigenous

people, hak asasi, gender, kesehatan dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim, isu REDD+), Objective, Facilitating implementation and compliance, Procedural and instutional Provisions (proses persetujuan, ratifikasi, entry into force, amandement, depository, governing body of the new agreement, imunitas, pengambilan keputusan dan voting, dan persyaratan komitmen mitigasi bagi Negara Pihak untuk dapat terlibat dalam pengambilan keputusan).

Pengorganisasian Tim Negosiasi Delegasi RI pada ADP2.10 hingga COP21 didasarkan pada kombinasi agenda item perundingan tiap forum (COP/CMP, SBI,

SBSTA, dan ADP) dan substansi Workstream 1 dan Workstream 2 sebagaimana

isu-isu utama seperti di atas9, terbadi ke dalam 10 (sepuluh) kelompok yakni: a. Tim Mitigation,

b. Tim Adaptation, c. Tim Finance,

d. Tim Technology Development and Transfer,

9 Pedoman Delegasi Republik Indonesia, the Twenty-first session of the Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (COP-21), the eleventh session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Kyoto Protocol (CMP-11) (Ditjen PPI, KLHK, 2015)

(42)

30 e. Tim Capacity Building,

f. Tim Transparency of Action and Support, g. Tim Legal,

h. Tim Workstream 2, i. Tim Agriculture

j. Tim Gender and Climate Change.

Dengan Presiden RI selaku Ketua Delegasi RI dan Menteri Lingkungan Hidup dan

Kehutanan selaku Alternate-1 dan kehadiran beberapa Menteri lainnya pada

COP21/CMP11, para negosiator Delegasi RI telah berpartisipasi aktif dengan menyampaikan beberapa butir penting (lihat Box 5) dalam berbagai kesempatan. Catatan penting dalam periode ini adalah butir-butir masukan Indonesia yang

disampaikan dapat terakomodasi dan terrefleksikan dalam Paris Agreement,

khususnya pengakuan local communities dan penekanan pentingnya sektor lahan khususnya REDD+ menjadi bagian dari kesepakatan sebagai referensi untuk implementasi pada periode paska 2020 dengan berbagai modalitas dan pengaturan yang telah dibuat hingga 2015 (Lihat Box 5).

Box 5

Butir-butir Penting Rangkuman Masukan Indonesia dalam Sesi Perundingan COP21/CMP11 (Paris, Perancis, 30 November – 11 Desember 2015)

Selama pembahasan draft Agreement dalam COP-21/CMP-11, Indonesia telah menyampaikan beberapa poin penting pada berbagai kesempatan di antaranya:

a. Mendukung perlunya mencapai kesepakatan yang mengikat, ambisius dan adil dan tidak menghambat pembangunan di Negara berkembang;

b. Kesepakatan harus menghormati hak-hak dan memastikan peran local communities:

c. Kesepakatan harus mencakup pentingnya pelestarian hutan, keanekaragaman hayati dan laut; d. Perlunya akselerasi implementasi aksi untuk periode sebelum 2020;

e. Upaya mitigai Negara maju harus lebih besar dari Negara berkebang karena historical responsibility yang berbeda

f. Perlunya memberi dukungan upaya adaptasi terkait situasi Indonesia yang rentan terhadap dampak perubahan iklim

g. Pencerminan Prinsip Common But Differentiated Responsibilities (CBDR) dan Respective Capabilities (RC) berbasis science dan prinsip Kesetaraan terhadap akses dan pembangunan berkelanjutan

h. Pentingnya Political Signal di dalam agreement terkait Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD) serta pengelolaan hutan berkelanjutan (REDD Plus);

i. Perlunya pendanaan sebelum dan sesudah 2020 yang predictable dan berkelanjutan dengan peningkatan dari waktu ke waktu dibandingkan komitmen yang ada saat ini (USD 100 Milyar hingga 2020)

j. Mendukung perlunya robust transparency framework baik untuk aksi maupun dukungan (support).

(43)

31

Gambar 3.1 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Sesi Closing Plenary COP21

Sumber: Ditjen. PPI (KLHK, 2015)

Box 6

National Statement Indonesia yang disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Closing Plenary COP21

Let me once again extend my sincere appreciation to the hard work done by the COP Presidency and their team in ensuring that an ambitious, legally binding, durable and differentiated Agreement is reached in Paris to be applicable to all Parties starting from 2020. I would also like to thank the Chairs of the G77 and China for leading our Group throughout these past years in the process. I also thank our developed country Partners for working with us, so that this important Agreement could be reached.

It is no doubt that the historic Agreement we reach today is a result of a long hard work, and I am pleased to say that we have followed an open, inclusive, and party-driven approach.

Being a result of a hard-earned, arduous work, and delicate compromise, I am aware that the Agreement is most probably not as ideal as each Party may have wished. However, we all need to see beyond the national boundaries, we ought to see its common vision to avert the grim consequences of climate change.

This Agreement laid out a solid basis for further actions by all Parties in the future. The Agreement also reflects the importance of developed country Parties to continue taking the lead in their actions and supports, while developing countries will contribute more depending on their capacities.

Now we are entering a new page and what is more important is how each Party internalizes the Agreement and translates it into policies and approaches at home that will make significant differences to the achievement of the global goal of both the Agreement and the Convention. Bearing that in mind, I would call upon all of us, to bring home the Agreement and to implement what we have agreed upon with progression or improvement over time.

Mr. President, Ladies, Gentlemen,

We have just created a history. A history that would give us the opportunity to change the world. A history that would create a safer and more sustainable planet for our future generations. A history that will enable resilient development for humankind. Let us be faithful to this agreement and materialized the goals and objectives it contained. I believe it is important so that all Parties to be bound by this Agreement have a strong sense of ownership to implement it.

(44)

32

3.2 Dari Paris ke Marakesh: COP22 as A COP for Implementation

Tugas lanjutan Negara Pihak adalah mengelaborasi Decision 1/CP.21 untuk

menjadi kerangka Modality-Procedure-Guidelines (MPGs) implementasi kerja

Paris Agreement tahun 2020 ke depan. Untuk itulah suatu ad hoc working group

baru terbentuk, Ad Hoc Working Group on Paris Agreement (APA)10 yang

menggantikan ADP yang telah menyelesaikan mandatnya11 karena telah

menghasilkan perjanjian baru. Mandat APA adalah menyiapkan entry into force of the PA dan sesi perundingan pertama Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Paris Agreement12. Hal ini yang menjadi target utama sesi perundingan sepanjang tahun 2016.

Jika pada tahun 2015, Ditjen PPI KLHK jump in di tengah-tengah siklus sesi perundingan UNFCCC, tahun 2016 merupakan tahun kedua Ditjen PPI KLHK mempersiapkan sesi perundingan UNFCCC secara utuh dari awal siklus perundingan UNFCCC termasuk memenuhi undangan COP Presidencies (Perancis – Maroko) untuk mengikuti beberapa Informal Meetings sebelum COP22, baik di Paris maupun Rabat.

10 Decsion 1/CP.21 paragraph 7 11 Decision 1/CP.21 paragraph 6 12 Decision 1/CP.21 paragraph 8

Gambar 3.2 Pertemuan Koordinasi Tim Negosiasi DELRI pada COP21

Gambar

Gambar  1.2 Presiden Joko Widodo pada
Gambar 1.3 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  pada High Level Signature Ceremony of Paris Agreement
Gambar 1.4  Institutional Arrangement National Focal Point for  UNFCCC
Gambar 2.3 Suasana  Opening Plenary   COP23
+7

Referensi

Dokumen terkait

Suheni Indriani, A220090060, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2013, xxiii +

Faktor yang sangat penting dalam kepuasan konsumen adalah kualitas pelayanan, aspek yang diukur dalam kualitas pelayanan akan suatu jasa adalah puas atau tidak puasnya

(stengiasi pasiūlyti naujų idėjų užduotims atlik­ ti; siekia rasti originalių būdų įgyvendinti šias idėjas; išradingai, nesutrikdamas veikia kiekvie­ noje situacijoje;

Berdasarkan analisis deskriptif terhadap nilai tes akhir Siklus I yang diberikan pada siswa yang diajar melalui pendekatan hypnoteaahing dengan setting kooperatif berbantu

Pada gambar 6 menunjukkan perbedaan grafik jika PID menggunakan Kp 1.5 dan Kp 1, perbedaan ini terlihat bahwa respon PID pada KP 1.5 terlihat osilasi yang tidak

(FISIP

Kedua, energi listrik yang dihasilkan digunakan oleh pompa untuk menghasilkan tekanan sehingga pupuk cair dapat dialirkan. Pada tahap ketiga, pupuk cair akan keluar dari

Penelitian difokuskan pada jenis produk baut metris hexagon dengan jumlah defect terbesar dibanding produk baut lainnya yaitu sebesar 4,12 %.. Produk-produk baut metris