BAB III PENGORGANISASIAN
3.3 Pengorganisasian
Pengorganisasian (organizing), merupakan suatu proses yang akan menghasilkan produk berupa organisasi, salah satu fungsi organisasi/manajemen yang akan memperlancar pelaksanaan rencana melalui pemberdayaan sumber daya yang dimiliki.
Setiap organisasi akan memiliki sejumlah sumber daya, baik sumber daya manusia atau bukan manusia, seperti uang, waktu, metode, barang, dan sebagainya. Sumber daya tersebut merupakan pendukung dalam pelaksanaan (implementasi) sebuah rencana. Tetapi semua itu tidak dapat digunakan apabila tidak melalui proses pengorganisasian terlebih dahulu.
Pada umumnya sumber daya dalam pengertian manajemen hanya menyangkut sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Tetapi menurut Ndraha (2003: 183), terdapat tiga macam sumber daya yang dapat dijadikan
sebagai pendukung dari pelaksanaan sebuah rencana. Yang dimaksud dengan sumber daya menurut Ndraha adalah sebagai berikut:
a. Sumber Daya Alam (SDA), yang terdiri atas ruang, waktu, kesempatan, dan bumi beserta isinya.
b. Sumber Daya Manusia (SDM).
c. Sumber Daya Buatan (SDB), terdiri atas ilmu, seni, teknologi, uang, dan sebagainya.
lstilah sumber daya berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu resource yang berarti “a source of supply, support, or aid, esp, one held in reserve” atau “the collective wearth of a country or its means of producing wealth”. Berdasarkan arti tersebut dapat disusun definisi sumber daya dari kata-kata kunci suatu bangsa, kekayaan sebagai modal (sediaan) untuk bangkit, kekayaan sebagai kejayaan. Dengan demikian, menurut Ndraha “Sumber daya adalah sebagai kekayaan suatu bangsa yang menjadi modal bagi kejayaan masa depan”'.
Sumber daya dimaksud, menjadi modal yang cukup penting dalam mencapai tujuan organisasi setelah melalui proses perencanaan menjelang pelaksanaan. Dengan demikian, proses pengorganisasian ini merupakan jembatan yang menghubungkan antara rencana dengan pelaksanaan. Berikut ini dikemukakan suatu gambaran berkenaan dengan hubungan fungsi-fungsi manajemen meliputi rencana, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi.
3.3.1 Hubungan Perencanaan, Pengorganisasian, Implementasi, dan Evaluasi dalam Manajemen
Hubungan antara perencanaan, pengorganisasian, implementasi, dan evaluasi di dalam manajemen berkaitan erat dengan fungsi-fungsi manajemen. Manajemen sendiri menunjukkan adanya fungsi-fungsi yang harus dijalankan
(dioperasikan) secara terus-menerus dan berturut-turut, untuk mencapai suatu sistem nilai yang disebut efektivitas dan efisiensi.
Untuk manajemen pemerintahan, fungsi-fungsi tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Perencanaan Pemerintahan,
b. Pengorganisasian sumber-sumber pemerintahan, e. Penggunaan sumber-sumber pemerintahan, dan d. Kontrol Pemerintahan.
Apabila semua fungsi berjalan berarti terjadi proses. Setiap proses dari fungsi-fungsi tersebut akan meliputi input (IP), throghput (TP), dan output (OP). Penggunaan ouput akan menimbulkan outcome (OC). IP, TP, dan OC inilah yang akan menjadi sasaran evaluasi yang dilakukan oleh konsumer. Kaitan antara fungsi-fungsi tersebut digambarkan pada tabel berikut ini :
Tabel: 3.1
Hubungan Fungsi-fungsi Manajemen
INPUT OUTPUT Perencanaan Informasi Aspirasi Rencana Target (T) Fungsi Pengorganisasian Rencana Target Organisasi Sumber Daya Implementasi Organisasi
sumber daya Hasil/Produk (H)
Kontrol/Evaluasi Hasil/Produk
H = T H < T H > T Info ... >
Keterangan :
H = T : Hasil sama dengan target H < T : Hasil lebih sedikit dari target H > T : Hasil lebih besar dari target
Info ... > : Dapat dijadikan bahan untuk perencanaan selanjutnya.
Penjelasan Tabel
1) Perencanaan (planning)
Perencanaan dilakukan untuk mengklarifikasi tujuan dan menyusun langkah-langkah guna mencapai tujuan organisasi, baik tujuan target maupun tujuan terukur.
2) Pengorganisasian (organizing)
Langkah lanjutan dari perencanaan. yang bertujuan untuk mengorganisir sumber daya yang diperlukan untuk implementasi rencana, agar siap pakai.
3) Implementasi (actuating)
Disebut juga pelaksanaan, realisasi, atau penggerakkan yang terdiri atas serangkaian aktivitas atau langkah-langkah tindakan dalam melaksanakan rencana, didukung oleh sumber daya yang dimiliki.
Actuating dijalankan dengan melaksanakan sub-fungsi manajemen meliputi: komunikasi, koordinasi, dan kepemimpinan.
4) Kontrol/Evaluasi (controlling)
Kontrol adalah fungsi manajemen keempat, bertujuan untuk menjamin kesesuaian antara target dengan hasil.
Pengendalian (directing), pengawasan, supervisi, auditing, koreksi, improving, bimbingan, monitoring, evaluasi, dan feed back.
Dalam proses manajemen dikenal juga istilah siklus manajemen, yaitu menunjukkan proses yang menghubungkan keempat fungsi manajemen dimulai dari perencanaan dan kembali lagi ke perencanaan. Rencana yang telah disahkan ditindaklanjuti dengan proses pengorganisasian untuk mempersiapkan sumber daya guna mendukung upaya merealisasikan rencana. Apabila sumber daya telah tersedia dilanjutkan dengan pelaksanaan disertai dengan pengendalian atau pengawasan. Salah satu bentuk pengendalian adalah dilakukannya evaluasi, yaitu membandingkan antara rencana dengan target yang akan dicapai. Hasil dari evaluasi berupa data tentang gembaran ketercapaian target tersebut, yang sangat berguna untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat perencanaan berikutnya. Proses tersebut terjadi berturut-turut dan terus-menerus. Siklus manajemen disebut juga siklus produk, karena setiap produk mempunyai masa layak teknikal tertentu dan juga memiliki rasa layak ekonomikal yang terbatas.
3.3.2 Pengorganisasian Sumber Daya
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan, maka sumber daya yang dibutuhkan perlu diorganisir agar dapat dipakai sesuai dengan tujuannya. Secara teknis, pengorganisasian bisa dikatakan sebagai proses pengkombinasian sumber daya secara terpadu dan sinergis. Pengorganisasian dilakukan dengan berpedoman kepada rencana yang telah ada, juga mengacu kepada tujuan yang ingin dicapai. Kaitan antara sumber daya dengan organisasi sumber daya dikemukakan sebagai berikut.
Tabel: 3.2
Pengorganisasian Sumber Daya
SUMBER DAYA ORGANISASI SUMBER DAYA
WAKTU JADWAL, KALENDER
RUANG GEDUNG, LAPANG
UANG ANGGARAN
MANUSIA FORMASI
MESIN PABRIK
BAHAN BAKU LOGISTIK
WEWENANG &
TANGGUNGJAWAB STRUKTUR
METODE & SISTEM TATA KERJA PERMINTAAN &
PENAWARAN PASAR
Dalam konsep sebuah negara yang erat kaitannya dengan pemerintahan, pengorganisasiannya lebih kompleks dan rumit karena setiap dekade akan mengalami perubahan sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun demikian tidak semua jenis kelompok sumber daya mengalami hal yang sama, karena masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Misalnya SDM dapat dikelompokkan berdasarkan pekerjaan, pendidikan, usia, dan sebagainya. Hal-hal yang berkaitan dengan sumber daya manusia biasanya dipelajari dalam MSDM. Pengelompokkan sumber daya buatan (SDB) jauh lebih rumit, misalnya berkenaan dengan teknologi dikelompokkan berdasarkan
kecanggihan, bentuk dan penggunaannva. Bagi bangsa Indonesia yang berposisi sebagai pemerhati, pengguna, dan pembelajar penggunaan teknologi hanya tinggal memilih sesuai kebutuhan. Teknologi mana yang tepat berdasarkan tuntutan yang ada, itu pun apabila dipandang perlu dan selama biaya yang dibutuhkan memungkinkan. Untuk berupaya agar mampu memenuhi teknologi dengan rekayasa sendiri masih ketinggalan oleh bangsa-bangsa lain yang lebih maju.
Berkenaan dengan sumber daya alam, pengelompokkannya memiliki keunikan tersendiri karena ini merupakan anugerah Sang Maha Pencipta. Kaitannya dengan pemerintahan, sumber daya alam dikelompokkan menurut tolak ukur yang digunakan. Tolak ukur yang biasa digunakan antara lain menurut sifatnya, distribusinya, dan menurut nilainya. Oleh karena itu, setiap daerah akan memiliki sumber daya alam yang berbeda, baik jenisnya, sifatnya, distribusi, dan nilainya. Sebagai contoh, di setiap daerah terdapat sumber daya alam seperti flora dan fauna, air, batu, tanah, dan sebagainya. Tetapi ada juga sumber daya alam yang hanya dimiliki oleh daerah tertentu, misalnya bahan-bahan mineral, dan fauna yang harus dilindungi karena langka. Maka akan berpengaruh kepada kebijakan pemerintah bagaimana memberdayakan sumber daya alam yang ada di sana dan bagaimana melindungi satwa yang harus dilestarikan.
Dalam konsep yang lebih luas, keberadaan sumber daya ini akan mengalami perbedaan dalam dinamikanya. Karena dengan cepatnya arus perubahan khususnya perkembangan ilmu dan teknologi, sebagian dari sumber daya alam yang diyakini sebagai anugrah Tuhan bisa saja rusak, hancur, punah, atau nilai kegunaanya menurun sebagai akibat dari ulah manusia.
Misalnya sumber daya hutan, yang semula melimpah dapat musnah dalam beberapa tahun karena penebangan
dengan menggunakan teknologi canggih. Sedangkan untuk mengembangkannya kepada kondisi semula diperlukan waktu puluhan tahun, itu pun apabila reboisasi dilakukan dengan benar dan bertanggungjawab. Contoh lain, berkenaan dengan sumber daya buatan (SDB) dengan ditemukannnya teknologi mesin yang canggih, dapat mempercepat produksi berlipat ganda. Tetapi kecanggihan mesin tersebut sering diabaikan kapasitas dan efektivitasnya oleh SDM yang memiliki budaya kerja jam karet.
Sama halnya dengan kerusakan hutan sebagai akibat dari SDM yang serakah dan memiliki aji mumpung tanpa melihat jauh ke depan, serta melupakan hak generasi mendatang. Karena rusaknya hutan akan menyengsarakan mereka.
Dengan demikian, betapa pentingnya proses pengorganisasian sumber daya dalam pelaksanaan kebijakan. Karena kekeliruan dalam mengorganisasikannya, dapat mendatangkan bahaya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan bagi kehidupan manusia secara keseluruhan. Dengan kata lain, mengelola sumber daya alam dalam perspektif ini diperlukan manajemen yang baik didukung oleh SDM yang bertanggungjawab.
Atas dasar pemikiran demikian, kondisi sumber daya alam di setiap negara akan mengalami perbedaan. Dalam hal ini dapat dibedakan dengan melihat tingkat kemajuan suatu negara, sehingga dapat dikelompokkan menjadi negara maju negara berkembang, dan negara terbelakang. Keterkaitan antara SDA, SDM, dan SDB dalam lingkup negara, dapat dilihat pada diagram sebagai berikut:
Di Negara terbelakang:
SDA
Deposisi semakin terbatas, ambang batas
semakin dekat, daya dukung semakin merosot (mendekatti nol), pencemaran dan pengrusakan semakin meningkat, manusia
semakin serakah & brutal. Di Negara Maju: SDA Rehabilitasi dan konservasi alam ditingkatkan, kemerosotan daya dukung alam diperlambat, terdapat politik lingkungan. SDM Terancam punah Transformasi Budaya DM Manusia bergantung kepada ilmu dan
teknologi SDB Teknologi berarti pemborosan SDB Budaya mendukung Teknologi Gambar 3.1
Hubungan Antar Sumber Daya
Berdasarkan diagram di atas, tampak bahwa betapa eratnya keterkaitan antara sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Sedangkan kondisi saat ini, ketiga sumber daya tersebut seakan berjalan masing-masing dan saling mengancam. Cepatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil ciptaan manusia, mengakibatkan
pemborosan bagi sumber daya alam. Misalnya, menebang kayu di hutan menggunakan teknologi jauh lebih cepat dibandingkan dengan alat tradisional. Meratakan tanah menggunakan teknologi jauh lebih cepat dibanding dengan menggunakan cangkul. Dengan demikian, teknologi canggih akan mengancam keberadaan sumber daya alam, misalnya rusaknya lingkungan. Kerusakan sumber daya alam akan mengancam keberadaan manusia, dan demikian seterusya.
Untuk menghindari kondisi yang saling mengancam, SDM-lah yang paling bertanggugjawab dalam hal ini. Seperti yang sering dijumpai dalam teori, bahwa keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi sangat bergantung kepada faktor manusianya, karena manusialah yang mampu berpikir dan bertindak sebagai subyek. Dengan demikian, dalam memanfaatkan sumber daya bagi pendukung pelaksanaan rencana, proses pengorganisasian menjadi sangat penting. Hanya manusialah yang mampu melakukan proses organizing dengan baik. Untuk mengelola sumber daya alam berdasarkan pemahaman seperti yang digambarkan di atas, perlu menjawab beberapa pertanyaan mendasar, sebagai berikut:
a. Apa yang harus dilakukan sebelum daya dukung SDA merosot mendekati titik nol, kualitas SDM negara terbelakang mendekati kualitas SDM negara maju?
b. Apa yang harus dilakukan agar laju peningkatan kualitas SDM lebih cepat dari laju kemerosotan daya dukung SDA? c. Apa yang harus dilakukan agar peningkatan kualitas SDM
dapat dilakukan secepat mungkin, sedangkan kemerosotan daya dukung SDA selambat mungkin?
d. Apa yang harus dilakukan agar transformasi budaya mampu menjembatani model negara terbelakang dengan negara maju?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, selain memahami secara menyeluruh tentang manajemen sumber daya, juga memperhatikan sepenuhnya terhadap nilai-nilai sentral dari budaya yang dianut oleh negara yang bersangkutan. Bagi bangsa Indonesia, nilai-nilai agama, nilai-nilai Pancasila, dan nilai-nilai budaya lainnya begitu banyak dan telah diakui kualitasnya oleh bangsa lain.
Permasalahannya sekarang adalah bagaimana mentransformasikan nilai-nilai tersebut dalam upaya membentuk SDM yang berkualitas. Hal ini dibahas oleh disiplin ilmu yang lain, misalnya dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan karakter.
3.2.2 Dasar Penyusunan Organisasi
Dalam melakukan proses pengorganisasian, selain harus memperhatikan ciri-ciri organisasi dan prinsip dasar organisasi yang baik, perlu juga mempertimbangkan dasar penyusunan organisasi. Hal ini diperlukan karena organisasi memiliki keragaman dasar yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Organisasi dibentuk atas dasar fungsi, proses, langganan, produk, dan daerah.
a. Atas dasar Fungsi
Penyusunan organisasi atas dasar fungsi ini berkaitan dengan pengelompokkan pekerjaan atau tugas disesuaikan dengan fungsinya. Di lingkungan pemerintahan tampak lebih jelas, misalnya untuk instansi yang bergerak di bidang pekerjaan umum (PU), penyusunan organisasinya seperti berikut ini:
1) Yang bertugas membuat jalan, jembatan, penyeberangan ferry, penyediaan tanah untuk trasmigrasi, dibentuk organisasi Direktorat Jendral Bina Marga.
2) Yang bertugas memberdayakan sumber daya air, membuat irigasi, waduk, penyiapan lahan pertanian, pengerukan sungai, dan sebagainya dibentuk organisasi Direktorat Jendral Pengairan.
3) Yang bertugas untuk tata bangunan, teknik dan penyehatan air bersih dan sebagainya, dibentuk organisasi Direktorat Jendral Cipta Karya.
b. Atas dasar Proses
Dalam penyusunan organisasi ini, pekerjaan dikelompokkan atas dasar proses kerja, sehingga disusun sedemikian rupa agar merupakan satu kesatuan kerja tertentu untuk mencapai tujuan. Misalnya, di lingkungan perusahaan pertambangan minyak, organisasi disusun sebagai berikut:
1) Yang bertugas melakukan proses pekerjaan dalam mencari sumber-sumber minyak baru, baik di darat maupun lepas pantai, kegiatan ini dinamakan organisasi eksplorasi.
2) Yang bertugas untuk menggali sumber-sumber minyak mentah, proses pekerjaannya diorganisasikan dengan nama kegiatan eksploitasi.
3) Yang bertugas untuk mengolah minyak mentah melalui pembersihan dinamakan kegiatan pengolahan (refinaration).
4) Yang bertugas untuk menimbun atau menyimpan di depot penjualan, proses kegiatan ini dinamakan pengangkutan (transformation).
5) Yang bertugas untuk menjual atau memasarkan minyak dinamakan kegiatan pemasaran (marketing).
Dengan demikian dapat diketahui bahwa di dalam organisasi pertambangan minyak akan disusun organisasi- organisasi unit kerja yang terdiri atas Direktur Utama sebagai penanggungjawab semua kegiatan, membawahi Direktur Eksplorasi dan Produksi, Direktur Pengolahan, Direktur Perkapalan dan Telekomunikasi, Direktur Perbekalan Dalam Negeri, dan Direktur Umum yang menangani pemasaran ke luar negeri.
c. Atas dasar Langganan
Organisasi yang dibentuk atau disusun atas dasar langganan, dilakukan untuk organisasi yang telah menggambarkan adanya pelanggan tetap. Di lingkungan pemerintahan, yang termasuk kategori ini misalnya Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dalam hal ini, istilah tenaga kerja dan trasmigrasi mengacu kepada manusia, dengan penjelasan sebagai berikut:
1) Orang yang mencari pekerjaan (penganggur). Di antara mereka ada yang dapat disalurkan langsung sebagai pekerja ada juga yang harus dididik terlebih dahulu. Bagi tenaga kerja yang telah dibina, akan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan sesuai dengan keahlian atau keterampilan yang dimilikinya.
2) Orang yang sudah bekerja harus dilindungi, terutama berkenaan dengan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraannya.
3) Transmigrasi adalah upaya memindahkan orang/penduduk dari pulau Jawa atau Bali ke tempat- tempat lain di luar pulau tersebut dengan tujuan untuk pemerataan penduduk dan peningkatan kesejahteraannya.
Maka berdasarkan konsep di atas, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi akan menyusun organisasi atas dasar langganannya, yakni :
1) Direktorat Jendral Pembinaan dan Penggunaan Tenaga Kerja.
2) Direktorat Jendral Pembinaan Hubungan Perburuan dan perlindungan Tenaga Kerja.
3) Direktorat Jendral Transmigrasi. d. Atas dasar Produk
Dasar yang cocok bagi penyusun organisasi atas dasar produk adalah bidang-bidang industri yang menghasilkan barang. Misalnya di lingkungan Departemen Perindustrian, hasil industrinya antara lain:
1) Kimia dasar yang menghasilkan, semen, pupuk, dan sebagainya.
2) Industri kecil, menghasilkan tekstil, makanan, minuman, alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
3) Industri Logam Dasar yang menghasilkan besi, baja, dan logam-logam lainnya yang akan berhubungan dengan alat pengangkutan seperti mesin-mesin kendaraan (bus, truk, KA, dan sebagainya).
4) Industri yang termasuk ke dalam aneka industri dan berhubungan dengan kegiatan masyarakat, antara lain menghasilkan emas, perak, keramik, ukiran kayu, ukiran batu, anyaman, dan sebagainya.
Berdasarkan produk yang dihasilkannya itu, Departemen Perindustrian akan membentuk organisasi-organisasi atas dasar produk yang dihasilkannya. Kegiatan pekerjaan tersebut diorganisasikan dengan nama Ditjen Industri
Kimia Dasar, Ditjen Industri Kecil, Ditjen Industri Logam Dasar, dan Ditjen Aneka Industri.
Pengorganisasian atas dasar produk ini berlaku juga di lingkungan Departemen Pertanian, sehingga di dalamnya ada organisasi-organisasi sebagai berikut:
1) Direktorat Jendral Tanaman Pangan, 2) Direklorat Jendral Perkebunan, 3) Direktorat Jendral Kehutanan, 4) Direktorat Jendral Perikanan, 5) Direktorat Jendral Peternakan. e. Atas dasar Daerah (Area)
Suatu organisasi dapat juga disusun atas dasar daerah (wilayah), seperti halnya yang diterapkan di Departemen Pertahanan dan Keamanan. Di Departemen ini, organisasi disusun berdasarkan wilayah teritorial, sehingga dikenal adanya Komando Wilayah Pertahanan dan Keamanan (Kowilhan), organisasi tersebut dinamakan:
l) Kowilhan I, daerah kekuasaannya meliputi Sumatra dan Kalimantan Barat.
2) Kowilhan Il, daerah kekuasaannya meliputi Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
3) Kowilhan III, daerah kekuasaannya meliputi Sulawesi dan Kalimantan kecuali Kalimantan Barat.
4) Kowilhan IV, daerah kekuasaannya meliputi Kepulauan Maluku dan Irian Jaya.
Dengan disusunnya organisasi atas dasar pekerjaan dan fungsi akan memperlihatkan kejelasan tujuan dari masing- masing satuan kerja. Pada contoh-contoh di atas lebih banyak mengemukakan apa yang telah berlaku di lingkungan pemerintahan, bukan berarti sebatas lingkungan itu, namun dapat juga diterapkan di lingkungan lainnya.
3.3.3 Bentuk Organisasi
Pembahasan selanjutnya tentang organisasi adalah bentuk organisasi yang tak kalah pentingnya untuk diketahui, karena erat kaitannya dengan upaya mencapai tujuan.
Dalam masyarakat, terdapat berbagai bentuk organisasi, baik organisasi pemerintahan, bisnis, maupun organisasi soasal. Dari organisasi-organisasi tersebut secara umum bentuk-bentuk organisasi yang ada antara lain sebagai berikut:
1) Organisasi Lini/garis,
2) Organisasi Lini/garis dan Staf, 3) Organisasi Fungsi, dan
4) Organisasi Panitia.
Sebagai tambahan, berikut penulis kemukakan contoh- contoh bentuk organisasi dalam bagan:
1) Organisasi Lini/Garis :
DAN YON
DAN KIE
DAN TON
Gambar: 3.2 Struktur Organisasi Lini
2) Organisasi Lini/Garis dan Staf:
Keterangan :
1 = Menteri; 2 = Inspektur Jendral; 3 = Sekretaris Jendral; 4 = Direktur Jendral
Gambar: 3.3
Struktur Organisasi Lini/Garis Staf 3) Organisasi Fungsi
Gambar: 3.4 Strukur Organisasi Fungsi
1
2 3
4 4 4 4 4
Dirut
Dir. Teknik Dir. Adm.
Manager Produksi Manager Personalia Manager Keuangan Manager Pemasaran
4) Organisasi Panitia
Panitia adalah orang-orang yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas khusus yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh seseorang atau oleh Dewan. Istilah lain bagi panitia adalah gugus tugas (task force). Apabila tugas telah selesai, maka panitia ini akan dibubarkan.
Organisasi panitia ini sifatnya sementara, dibentuk untuk keperluan tertentu. Orang-orangnya dipilih yang memiliki keahlian atau keterampilan khusus. Organisasi panitia ini memiliki beberapa kebaikan, antara lain adanya kerjasama kelompok yang kompak dengan dorongan sukarela, koordinasi sederhana, dapat membuat rekomendasi secara kolektif, dan menitikberatkan kepada fungsi keahlian.