D. Persamaan Pengeluaran
4.2. Deskripsi Responden
4.2.2. Penguasaan Sumberdaya Pertanian
Mata pencaharian sebagian besar responden yang diamati adalah sebagai
petani dan buruh tani. Petani yang memiliki lahan pertanian sendiri pun
kadangkala juga bekerja sebagai buruh tani. Hal ini akibat keterbatasan
dapat menggarap lahan milik orang lain dengan cara sewa lahan per tahun ataupun
memanfaatkannya dengan cuma-cuma.
Penguasaan sumberdaya lahan yang dimiliki oleh petani diukur dengan
variabel luas areal tanam komoditas yang diusahakan petani dalam satuan meter
persegi. Penguasaan lahan pertanian baik berstatus milik sendiri maupun sewa
atau garapan dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Rata-Rata Penguasaan Lahan Pertanian dan Peternakan per Rumahtangga Petani
(m2)
Berdasarkan Tabel 13 diperoleh bahwa pemilikan lahan sawah, kebun,
kolam dan lainnya bagi petani yang menerima kredit domba lebih tinggi
dibandingkan dengan petani non kredit. Hal ini menunjukkan bahwa secara tidak
langsung program kredit domba ditujukan untuk petani yang memiliki aset berupa
lahan pertanian, walaupun secara formal tidak ada disebutkan adanya jaminan
untuk kredit yang diberikan. Demikian juga halnya dengan kepemilikan lahan
kandang, petani penerima kredit domba memiliki lahan kandang yang lebih luas
dibandingkan dengan petani yang tidak menerima kredit yaitu masing-masing
18.23 dan 7.16 m2. Hal ini secara tidak langsung terkait dengan jumlah ternak
domba yang dapat mereka pelihara. Petani yang mengajukan kredit domba Penguasaan Lahan PetaniKredit Petani NonKredit Milik sendiri 1. Sawah 2 144 562 2. Kebun 485 100 3. Kolam 26 1 4. Kandang 18 7 5. Lainnya 13 0 Sewa/Garapan 1. Sawah 891 293 2. Kebun 241 452
berasumsi mereka masih mampu memelihara domba melebihi yang mereka miliki
saat ini dengan cara menambah jumlah domba dari kredit. Hal ini menunjukkan
bahwa program pemerintah sesuai dengan tujuannya yaitu memberi nilai tambah
sehingga pendapatan petani pun meningkat. Kandang domba pada umumnya
berbentuk kandang panggung, dimana kotoran akan langsung jatuh ke tanah.
Kebanyakan kandang berbentuk kandang kelompok atau tidak disekat per satu
ekor domba. Biasanya disekat berdasarkan jenis kelamin yaitu betina
dikumpulkan jadi satu dan terpisah dengan jantan.
Disamping penguasaan terhadap sumberdaya lahan, petani di Kabupaten
Bogor juga memiliki sumberdaya lain yaitu ternak domba itu sendiri. Rata-rata
kepemilikan ternak domba rumahtangga petani kredit maupun petani non kredit
relatif sama yaitu 2.2 ekor domba. Rata-rata kepemilikan ini tidak jauh berbeda
dengan rata-rata kepemilikan ternak domba di Majalengka seperti yang dilaporkan
Mahendri et al. (2005) dan Diwyanto et al. (2005). Dengan melihat kepemilikan lahan kandang yang cukup besar bagi petani penerima kredit dan jumlah ternak
yang dimiliki lebih sedikit dibandingkan petani non kredit memberi peluang bagi
petani kredit untuk memperoleh tambahan berupa kredit domba dari pemerintah.
Penguasaan sumberdaya lainnya adalah keterampilan petani dalam usaha
pertanian. Keterampilan petani diukur dengan variabel pengalaman petani dalam
mengusahakan ternak domba sehari-hari. Secara umum dalam penelitian ini,
diperoleh bahwa pengalaman usaha domba petani kredit lebih lama dibandingkan
dengan petani non kredit yaitu 19.71 dan 15.02 tahun. Dapat dinyatakan bahwa
ini terjadi karena usaha pertanian di masyarakat Indonesia memang tidak terlepas
dari usaha ternak sebagai tabungan atau usaha sampingan.
4.2.3. Produksi
Usaha domba yang dipelihara di Kabupaten Bogor sebagian besar
ditujukan untuk usaha pembibitan. Dengan demikian produksi yang dimaksud
disini adalah produksi ternak yang dihasilkan selama dua tahun terakhir dan
kemudian dirata-ratakan dalam satu tahun. Produksi ternak dihitung selama dua
tahun karena ternak domba tidak bisa berproduksi setiap hari tetapi umumnya tiga
kali dalam waktu dua tahun (Johnston, 1983). Produksi, dan mutasi ternak domba
selama satu tahun dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Rata-Rata Mutasi Ternak Domba Selama Satu Tahun
Mutasi Ternak Petani Kredit Petani Non Kredit
Jumlah ternak sendiri (ekor) 2.24 2.20
Jumlah kredit ternak/gaduhan (ekor) 4.31 0.42
Produksi (ekor) 6.60 4.15
Seks rasio betina terhadap jantan 1.06 0.51
Kematian ternak (persen) 4.90 0.28
Ternak majir (persen) 0.63 0.00
Penjualan ternak (ekor) 7.45 3.14
Aset domba jantan (ekor) 1.67 1.22
Aset domba betina (ekor) 2.85 1.37
Persentase ternak betina (persen) 76.89 63.26
Produksi ternak domba yang dihasilkan per tahun oleh petani kredit relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan petani non kredit. Hal ini karena bakalan ternak
yang dimiliki oleh petani kredit lebih banyak dengan adanya tambahan kredit
domba dari pemerintah maupun tambahan gaduhan dari petani lain. Persentase
dan petani non penerima kredit adalah 76.89 dan 63.26 persen. Artinya bahwa
jumlah ternak betina yang dimiliki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
ternak jantan. Dengan demikian peluang untuk berproduksi akan lebih banyak
pada petani penerima kredit domba. Namun, kondisi ini belum tentu memberikan
tingkat penerimaan yang lebih besar pada petani penerima kredit karena nilai jual
ternak jantan di pasaran cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan ternak
betina. Pada kondisi normal harga domba dara dapat mencapai 400 hingga 500
ribu rupiah per ekor, sedangkan domba jantan bisa mencapai 600 hingga 700 ribu
rupiah per ekor.
Tingkat kematian domba yang dimiliki petani penerima kredit lebih tinggi
dibandingkan petani non kredit. Hal ini terutama dari ternak kredit akibat stres
selama pengangkutan dari tempat membeli ke petani kredit. Walaupun tingkat
kematiannya tinggi, namun jumlah penjualan ternak dan sisa ternak tidak terjual
(aset ternak) yang dimiliki petani kredit masih tetap lebih tinggi dibandingkan
dengan ternak milik petani non kredit. Hal ini mengindikasikan bahwa masih ada
peluang untuk berproduksi sehingga keberlanjutan usaha ternak domba dapat
dipertahankan.
Selain dalam bentuk produksi anak, pemeliharaan ternak domba juga
menghasilkan produk lain yaitu berupa kotoran. Kotoran domba baru diangkat
dari kandang setiap tiga sampai empat bulan sekali bahkan ada petani yang baru
membersihkan kotoran domba enam bulan sekali. Biasanya kotoran tersebut
dibawa ke sawah untuk digunakan sendiri bagi petani yang memiliki lahan, tapi
bagi yang tidak memiliki lahan, kotoran tersebut dijual. Jumlah ternak domba
kotoran ternak tersebut. Semakin banyak ternak yang dipelihara semakin banyak
produksi kotorannya. Pada penelitian ini, rata-rata produksi kotoran ternak domba
1 650.57 kg/tahun pada petani kredit dan 950.60 kg/tahun pada petani non kredit.