• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian cepat kaku dari semen portland (metode pasta)

Dalam dokumen 16103_SNI 2049-2015.pdf (Halaman 122-126)

6 Cara pengambilan contoh

7.2 Metode uji fisika

7.2.7 Pengujian cepat kaku dari semen portland (metode pasta)

Metode uji ini meliputi penentuan cepat menjadi kaku dari semen portland.

7.2.7.1 Batasan

Cepat kaku perkembangan menjadi kaku yang terjadi lebih awal dalam karakteristik kerja pasta semen portland, mortar atau beton. Batasan ini mencakup pengikatan semu dan pengikatan cepat.

a) Pengikatan semu: pengembangan menjadi kaku yang terjadi lebih awal dalam karakteristik kerja pasta semen portland, mortar atau beton tanpa evolusi banyak panas, yang kekakuannya dapat dihilangkan dan plastisitasnya diperoleh kembali dengan pengadukan lanjut tanpa penambahan air.

b) Pengikatan cepat: pengembangan menjadi kaku yang terjadi lebih awal dalam karakteristik kerja pasta semen portland, mortar atau beton, biasanya dengan evolusi panas yang agak besar, yang kekakuannya tidak dapat dihilangkan dan plastisitasnya tidak dapat diperoleh kembali dengan pengadukan lanjut tanpa penambahan air.

7.2.7.2 Ringkasan metode uji

Pasta disiapkan dari semen yang akan diuji, dengan menggunakan sejumlah air yang cukup untuk memberikan penetrasi awal yang diperlukan, yang diukur dengan menggunakan alat vicat, dalam jumlah waktu tertentu setelah pencampuran selesai.

Penetrasi kedua, yang disebut juga penetrasi akhir, diukur dalam jumlah waktu yang ditentukan kemudian.

Perbandingan antara penetrasi akhir dan penetrasi awal dihitung dalam presentasi.

7.2.7.3 Tujuan dan penggunaan

a) Metode uji ini untuk menentukan tingkat perkembangan cepat kaku dari pasta smeen atau untuk menetapkan semen tersebut memenuhi batas spesifikasi cepat kaku atau tidak.

b) Apabila digunakan untuk memastikan semen memenuhi batas spesifikasi yang ditentukan, spesifikasi yang diperlukan biasanya dinyatakan dalam harga harga minimum penetrasi akhir yang diizinkan, dalam persen, hitung sesuai dengan 7.2.7.8. Apabila digunakan untuk memperkirakan kecenderungan relatif cepat kaku dari semen, keterangan tambahan harganya dapat diperoleh jika prosedur pengadukan ulang seperti diuraikan pada 7.2.7.7 dilakukan.

Dalam beberapa kondisi, untuk membedakan kecenderungan kurang presisten dan kurang nyata terhadap cepat kaku dengan semen yang mempunyai yang lebih konsisten dan lebih jelas dalam dilihat dengan membandingkan sifat-sifat kondisi pengadukan ulang dari kedua semen tersebut.

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s

tan

dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id

dan tidak untuk di komersialkan”

c) Pengikatan semu yang sangat cepat dari semen dapat menimbulkan kesulitan pada penanganan dan pengecoran, tetapi hal ini tidak akan terjadi apabila beton tersebut diaduk lebih lama dari biasanya, hal ini biasa dilakukan selama mengangkut adukan beton atau bila diaduk terlebih dahulu sebelum pengecoran, seperti yang biasa dilakukan di tempat pengecoran.

Kekakuan semen akibat pengikatan semu yang cepat akan segera terlihat bila betonnya diaduk dalam waktu yang singkat dalam alat pengaduk stasioner dan dibawa ke tempat pengecoran tanpa alat yang memberikan pengadukan, seperti pada pekerjaan perkerasan jalan.

d) Semen dengan pengikatan semu yang sangat cepat biasanya memerlukan air sedikit lebih banyak untuk menghasilkan konsistensi yang sama, yang dapat menghasilkan kuat tekan sedikit lebih rendah dan memperbesar penyusutan.

e) Pengikatan cepat akan menyebabkan kesulitan dalam penanganan dan pengecoran beton yang biasanya akan menyebabkan semen gagal memenuhi persyaratan waktu pengikatan.

7.2.7.4 Peralatan

a) Alat vicat, sesuai dengan 7.2.3.2 butir c).

b) Pisau, pisau segi tiga dengan tepi lurus berukuran (100-150) mm. c) Mesin pengaduk, mangkuk, pengaduk, penggaruk.

d) Gelas ukur, sesuai dengan spesifikasi.

7.2.7.5 Pereaksi

Air pencampur, air suling

7.2.7.6 Suhu dan kelembaban

a) Suhu ruang, bahan-bahan kering, pengaduk, mangkuk, cincin ebonit dan pelat dasar adalah 23,0 ± 3 oC. Suhu air campur dikondisikan pada suhu 23,0 ± 2,0 oC.

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s

tan

dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id

dan tidak untuk di komersialkan”

7.2.7.7 Prosedur

7.2.7.7.1 Penyiapan pasta semen

Campuran pasta semen

Campurkan 500 gram semen dengan air secukupnya untuk menghasilkan pasta dengan penetrasi awal (32 ± 4) mm menggunakan prosedur sebagai berikut:

a) Pasang pengaduk dan mangkuk kering dimesin pengaduk. b) Masukkan semua air pencampur dalam mangkuk.

c) Tambahkan semen dan biarkan selama 30 detik sehingga air diserap.

d) Jalankan mesin pengaduk dan aduk pada kecepatan rendah (140 ± 5) rpm selama 30 detik.

e) Hentikan pengadukan selama 15 detik dan dalam waktu ini turunkan adukan yang mungkin menempel pada dinding mangkuk.

f) Jalankan pengaduk pada kecepatan sedang (285 ± 10) rpm dan aduk selama 2,5 menit.

7.2.7.7.2 Pencetakan benda uji

Segera bentuk pasta semen menjadi bola-bola dengan tangan yang memakai sarung. Tekan bola yang terletak disalah satu telapak tangan, masukkan ke ujung yang lebih besar dari ring ebonit G, yang dipegang pada tangan yang lain, lanjutkan pengisian pasta ke dalam cincin. Buang kelebihan pasta pada ujung yang lebih besar dari cincin dengan sekali gerakan telapak tangan. Tempatkan ujung yang lebih besar dari ring pada pelat gelas, H, dan iris kelebihan pasta pada ujung yang lebih kecil pada bagian atas dari cincin dengan sekali gerakan dari pisau segitiga tajam yang dipegang sedikit miring terhadap permukaan atas cincin ebonit.

Bila perlu haluskan bagian atas benda uji, dengan satu atau dua sentuhan dengan ujung pisau pengaduk. Selama pemotongan dan penghalusan jangan sampai pasta ditekan.

7.2.7.7.3 Penentuan penetrasi awal

Letakkan pasta dalam cincin ebonit pada pelat gelas H, di bawah batang B (Gambar 8), kira-kira 1/3 diameter dari tepi dari ujung peluncur, C, harus bersentuhan dengan ruang pasta dan kencangkan sekrup E.

Kemudian atur indikator F tepatkan pada bagian tanda nol sebelah atas dari skala, dan luncurkan batang tepat 20 detik setelah selesai pengadukan.

Alat harus bebas dari getaran selama pengujian. Apabila batang telah meluncur (32 ± 4) mm di bawah permukaan pasta dalam waktu 30 detik setelah peluncuran, berarti pasta telah mencapai konsistensi yang tepat. Buat percobaan pasta dengan variasi persentasi air hingga didapatkan konsistensi yang tepat.

Konsistensi ini adalah penetrasi awal. Selama selang waktu 30 detik untuk penetapan penetrasi awal kembalikan kelebihan pasta ke dalam mangkuk dan kemudian tutup mangkuk dan pengaduk.

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s

tan

dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id

dan tidak untuk di komersialkan”

7.2.7.7.4 Penentuan penetrasi akhir

Setelah selesai pembacaan awal, angkat peluncur dari pasta, bersihkan kemudian cincin serta pelat diatur kembali pada posisi yang baru.

Pengerjaan ini harus dilaksanakan dengan sedikit mungkin gangguan pada pasta dalam cincin vicat. Kemudian peluncur disentuhkan pada permukaan pasta, kencangkan sekrupnya dan atur indikator F tepat pada bagian atas skala.

Lepaskan peluncur untuk keduakalinya 5 menit ± 10 detik setelah selesai pengadukan dan catat penetrasi akhir 30 detik setelah batang diluncurkan.

7.2.7.7.5 Penentuan penetrasi pengadukan ulang

Apabila penetrasi telah ditentukan dengan prosedur di atas ternyata semen menjadi kaku seketika, informasi tentang sifat cepat kaku dapat diperoleh dengan pengujian sebagai berikut:

a) Setelah selesai pengukuran penetrasi 5 menit, segera kembalikan pasta ke dalam mangkuk.

b) Jalankan mesin pengaduk, naikkan mangkuk ke arah posisi mengaduk dan aduk kembali isi mangkuk pada kecepatan sedang, (285 ± 10) rpm selama 1 menit.

c) Isi cincin dan catat penetrasi dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan dalam butir pencetakan benda uji dan penentuan penetrasi awal 7.2.7.7.2 dan 7.2.7.7.3.

7.2.7.8 Perhitungan

Hitung persen penetrasi akhir, didasarkan pada perbandingan penetrasi akhir terhadap penetrasi awal, sebagai berikut:

% P = x 100

Keterangan:

P adalah persen penetrasi akhir; A adalah penetrasi awal, mm; B adalah penetrasi akhir, mm. 7.2.7.9 Laporan

Laporkan hasil uji sebagai berikut : Penetrasi awal………mm. Penetrasi akhir………..….…mm. Persen penetrasi akhir…………...%. Penetrasi pengadukan ulang………mm.

B A

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s

tan

dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id

dan tidak untuk di komersialkan”

Dalam dokumen 16103_SNI 2049-2015.pdf (Halaman 122-126)