• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENEMUAN DAN PEMBAHASAN

B. Pengujian dan Pembahasan

Dalam bab ini teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis ini digunakan agar dapat menjelaskan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, yaitu beta sebagai variabel terikat (dependen). Sedangkan variabel current ratio, debt to total asset, earning per share, dan return on equity sebagai variabel bebas (independent).

Untuk menentukan sampel yang digunakan dalam penelitian maka ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, yaitu:

a. Termasuk ke dalam indeks LQ 45 sejak tahun 2004-2009. b. Telah tercatat di BEI paling tidak selama 3 bulan.

c. Mengeluarkan laporan keuangan untuk tahun buku 31 Des 2004 s/d 31 Des 2009 di BEI.

d. Memiliki data yang dibutuhkan dalam penelitian.

Setelah diseleksi dengan kriteria tersebut maka diperoleh 11 emiten yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini, seperti yang tampak pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.1

Sampel Penelitian Indeks LQ 45

No. Kode Emiten Nama Perusahaan 1. AALI Astra Agro lestari Tbk 2. ASII Astra International Tbk 3. BNBR Bakrie&Brothers Tbk 4. BUMI Bumi Resources Tbk

5. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 6. INKP Indah Kiat Pulp&Paper Tbk 7. INTP Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 8. KLBF Kalbe Farma Tbk

9. PTBA Tambang Batubara Bukit Asam Tbk 10. UNTR United Tractors Tbk

11. UNVR Unilever Indonesia

Selanjutnya akan dibahas data deskriptif dari penelitian ini adalah seluruh data baik itu variabel terikat maupun variabel bebas dengan periode pengamatan 2004-2009. Variabel-variabel yang digunakan, yaitu:

a. Current Ratio, merupakan rasio yang menunjukkan likuiditas perusahaan yang diukur dengan membandingkan aktiva lancar terhadap utang lancar. (Keown:2004).

b. Debt to Total Asset, rasio ini bertujuan untuk menganalisis pembelanjaan yang dilakukan berupa komposisis hutang dan modal serta kemampuan perusahaan untuk membayar bunga dan beban tetap lainnya. (Arief Sugiono, 2009:70).

c. Earning Per Share, merupakan rasio uang menunjukkan besarnya laba bersih yang diperoleh perusahaan untuk setiap lembar saham selama periode tertentu.

d. Return On Equity, merupakan tingkat pengembalian saham biasa menunjukkan rata-rata penghitung pengembalian atas investasi pemegang saham yang diukur dengan membandingkan pendapatan bersih terhadap ekuitas saham biasa. (Keown:2004). e. Beta, merupakan adanya kerugian atau penyimpangan dari hasil

Tabel 4.2 Current Ratio (CR)

Sumber:Data diolah

No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 2009

1. Astra Agro Lestari Tbk 1,210 1,680 0,870 1,600 1,940 1,820

2. Astra International Tbk 1,030 0,740 0,780 1,320 1,320 1,360

3. Bakrie&Brothers Tbk 0,480 1,450 1,940 1,250 0,540 0,630

4. Bumi Resources Tbk 0,690 0,880 1,320 1,350 1,170 0,960

5. Indofood Sukses Makmur Tbk 1,470 1,470 1,180 0,920 0,900 1,160

6. Indah Kiat Pulp&Paper Tbk 2,740 3,090 1,670 1,280 1,200 1,180

7. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 1,420 2,520 2,140 2,890 1,790 3,000

8. Kalbe Farma Tbk 3,010 3,940 5,040 4,980 3,330 2,980

9. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk 3,780 4,510 5,440 4,140 3,660 4,910

10. United Tractors Tbk 1,840 1,550 1,330 1,340 1,640 1,590

11. Unilever Indonesia Tbk 1,620 1,350 1,270 1,110 1,000 1,040

Rata-rata per tahun 1,754 2,107 2,089 2,016 1,680 1,875

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata current ratio (CR) pada tahun 2005 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2004, 2006, 2007, 2008, dan 2009. Tahun 2004 rata-rata current ratio

(CR) mencapai 1.754 dimana nilai CR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, yakni sebesar 3.780 dan CR terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar 0.480, sedangkan untuk tahun 2005 rata-rata current ratio

(CR) mencapai 2.107 dimana nilai CR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, yakni sebesar 4.510 dan nilai CR terendah dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 0.740. Selanjutnya untuk tahun 2006 nilai rata-rata

current ratio (CR) mencapai 2.089 dimana nilai CR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, yakni sebesar 5.440 dan nilai CR terendah dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 0.780, sedangkan untuk tahun 2007

rata-rata current ratio (CR) mencapai 2.016 dimana nilai CR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Kalbe Farma Tbk, yakni sebesar 4.980 dan nilai CR terendah dimiliki oleh perusahaan Indofood Sukses Makmur Tbk, yakni sebesar 0.920. Di tahun 2008 rata-rata current ratio (CR) mencapai 1.680 dimana nilai CR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, yakni sebesar 3.660 dan nilai CR terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar 0.540, sedangkan untuk tahun 2009 nilai rata-rata current ratio (CR) mencapai 1.875 dimana nilai CR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk,yakni sebesar 4.910 dan nilai CR terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar 0.630.

Tabel 4.3

Debt to Total Asset (DTA)

Sumber: Data diolah

Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 2009

1. Astra Agro Lestari Tbk 0,317 0,153 0,188 0,215 0,181 0,191

2. Astra International Tbk 0,496 0,604 0,544 0,496 0,497 0,453

3. Bakrie&Brothers Tbk 0,613 0,340 0,648 0,513 0,547 0,593

4. Bumi Resources Tbk 0,893 0,857 0,853 0,503 0,597 0,615

5. Indofood Sukses Makmur Tbk 0,680 0,679 0,650 0,633 0,668 0,637

6. Indah Kiat Pulp&Paper Tbk 0,622 0,004 0,648 0,645 0,640 0,643

7. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 0,524 0,466 0,371 0,312 0,245 0,167

8. Kalbe Farma Tbk 0,510 0,393 0,234 0,218 0,221 0,289

9.

Tambang Batubara Bukit Asam

Tbk 0,288 0,274 0,257 0,325 0,332 0,274

10. United Tractors Tbk 0,536 0,610 0,587 0,555 0,510 0,423

11. Unilever Indonesia Tbk 0,368 0,432 0,486 0,495 0,522 0,480

Rata-rata per tahun 0,531 0,437 0,497 0,446 0,451 0,433

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to total asset (DTA) tertinggi berada pada tahun 2004, yaitu mencapai 0.531 dibandingkan dengan tahun 2005, 2006, 2007, 2008, dan 2009. Pada tahun 2004 nilai rata-rata DTA mencapai 0.531 dimana nilai DTA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bumi Resources Tbk, yakni sebesar 0.893 dan nilai rata-rata DTA terendah dimiliki oleh perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, yakni sebesar 0.288, sedangkan tahun 2005 nilai rata-rata debt to total asset (DTA) mencapai 0.437 dimana nilai DTA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bumi Resources Tbk, yakni sebesar 0.857 dan nilai DTA terendah dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Papaer Tbk, yakni sebesar 0.004. Selanjutnya untuk tahun 2006 rata-rata debt to total asset

mencapai 0.497 dimana nilai DTA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bumi Resources Tbk, yakni sebesar 0.853 dan nilai DTA terendah 61

dimiliki oleh perusahaan Astra Agro Lestari Tbk, yakni sebesar 0.188, sedangkan tahun 2007 nilai rata-rata mencapai 0.446 dimana nilai DTA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, yakni sebesar 0.645 dan nilai DTA terendah dimiliki oleh perusahaan Astra Agro Lestari Tbk, yakni sebesar 0.215. Pada tahun 2008 nilai rata-rata debt to total asset (DTA) mencapai 0.451 dimana nilai DTA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indofood Sukses Makmur Tbk, yakni sebesar 0.668 dan nilai DTA terendah dimiliki oleh perusahaan Astra Agro Lestari Tbk, yakni sebesar 0.181, sedangkan tahun 2009 nilai rata-rata debt to total asset (DTA) mencapai 0.433 dimana nilai DTA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, yakni sebesar 0.643 dan nilai terendah dimiliki oleh perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, yakni sebesar 0.167.

Selanjutnya adalah tabel earning per share (EPS), sebagai berikut: Tabel 4.4

Earning Per Share (EPS)

No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 2009

1. Astra Agro Lestari Tbk 1313,000 502,000 500,000 1253,000 1671,000 1057,000

2. Astra International Tbk 1335,000 1348,000 -917,000 -1,610 -2271,000 2340,000

3. Bakrie&Brothers Tbk -7,000 -11,000 -8,000 -8,000 -167,000 1,000

4. Bumi Resources Tbk -62,000 -62,510 -103,400 -383,990 -364,190 265,000

5. Indofood Sukses Makmur Tbk 40,000 13,000 70,000 104,000 118,000 239,000

6. Indah Kiat Pulp&Paper Tbk 606,000 14,000 -306,000 -158,000 -405,000 -332,000

7. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk -32,000 -201,000 -161,000 -266,000 -474,000 677,000

8. Kalbe Farma Tbk -46,000 -62,000 -67,000 -69,000 -70,000 81,000

9. Tambang Batubara Bukit Asam 197,000 203,000 211,000 315,000 741,000 1289,000

10. United Tractors Tbk -386,000 -369,000 -626,000 -524,000 -800,000 1188,000

11. Unilever Indonesia 192,000 189,000 226,000 257,000 315,000 398,000

Rata-rata per tahun 286,364 142,135 -107,400 47,127 -155,108 654,818

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata earning per share (EPS) pada tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu mencapai 654.818. Pada tahun 2004 rata-rata earning per share mencapai 286.364 dimana nilai EPS tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 1335.000 dan nilai EPS terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar -7.000, sedangkan tahun 2005 rata-rata earning per share mencapai 142.135 dimana nilai EPS tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 1348.000 dan nilai EPS terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar -11.000. Selanjutnya pada tahun 2006 rata-rata earning per share mencapai 107.400 dimana nilai EPS tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 917.000 dan nilai EPS terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar -8.000, sedangkan tahun 2007 rata-rata earning per share mencapai 47.127 dimana nilai EPS tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra Agro Lestari Tbk, yakni sebesar 1253.000 dan nilai EPS terendah dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar -1.610. Pada tahun 2008 rata-rata earning per share mencapai -155.108 dimana nilai EPS tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 2271.000 dan nilai EPS terendah dimiliki oleh perusahaan Kalbe Farma Tbk, yakni sebesar -70.000, sedangkan tahun 2009 rata-rata

earning per share mencapai 654.818 dimana nilai EPS tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 2340.000 dan nilai EPS terendah dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, yakni sebesar -332.000.

Selanjutnya adalah tabel return on equity (ROE) sebagai berikut: Tabel 4.5

Return On Equity (ROE)

No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 2009

1. Astra Agro Lestari Tbk 0,388 0,301 0,286 0,486 0,510 0,203 2. Astra International Tbk 0,328 0,267 0,166 0,242 0,278 0,187

3. Bakrie&Brothers Tbk

-0,137 0,070 0,048 0,046 0,278 0,061 4. Bumi Resources Tbk 0,834 0,524 0,618 0,703 0,409 0,143 5. Indofood Sukses Makmur Tbk 0,089 0,029 0,131 0,136 0,122 0,163

6. Indah Kiat Pulp&Paper Tbk 0,193 0,004 -0,100

-0,047 -0,094 -0,043 7.

Indocement Tunggal Prakarsa

Tbk 0,025 0,131 0,131 0,142 0,205 0,190 8. Kalbe Farma Tbk 0,305 0,268 0,226 0,208 0,195 0,154

9.

Tambang Batubara Bukit Asam

Tbk 0,249 0,228 0,212 0,271 0,427 0,416 10. United Tractors Tbk 0,354 0,256 0,203 0,260 0,239 0,221 11. Unilever Indonesia 0,639 0,663 0,727 0,729 0,776 0,616 Rata-rata per tahun 0,297 0,249 0,241 0,289 0,304 0,210

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata return on equity (ROE) pada tahun 2008 lebih tinggi dibandingkan tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2009, yaitu mencapai 0.304. Pada tahun 2004 rata-rata return on equity (ROE) mencapai 0.297 dimana nilai ROE tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bumi Resources Tbk, yakni sebesar 0.834 dan nilai terendah dimiliki oleh perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, yakni sebesar 0.025, sedangkan tahun 2005 rata-rata return on equity (ROE) mencapai 0.249 dimana nilai ROE

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Unilever Indonesia Tbk, yakni sebesar 0.663 dan nilai terendah dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, yakni sebesar 0.004. Pada tahun 2006 rata-rata

return on equity (ROE) mencapai 0.241 dimana nilai ROE tertinggi dimiliki oleh perusahaan Unilever Indonesia Tbk, yakni sebesar 0.727 dan nilai terendah dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, yakni sebesar -0.100, sedangkan tahun 2007 rata-rata return on equity (ROE) mencapai 0.289 dimana nilai ROE tertinggi dimiliki oleh perusahaan Unilever Indonesia Tbk, yakni sebesar 0.729 dan nilai terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar 0.046. Selanjutnya tahun 2008 rata-rata return on equity

(ROE) mencapai 0.304 dimana nilai ROE tertinggi dimiliki oleh perusahaan Unilever Indonesia Tbk, yakni sebesar 0.776 dan nilai terendah dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, yakni sebesar 0.094, sedangkan pada tahun 2009 rata-rata return on equity

(ROE) mencapai 0.210 dimana nilai ROE tertinggi dimiliki oleh perusahaan Unilever Indonesia Tbk, yakni sebesar 0.616 dan nilai terendah dimiliki oleh perusahaan Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, yakni sebesar 0.043.

Semakin tinggi tingkat pengembalian ekuitas pemegang saham, membuktikan bahwa perusahaan menghasilkan pengembalian atas investasi lebih besar daripada biaya utang. (Keown, 2004:82).

Selanjutya tabel risk (BETA) sebagai berikut: Tabel 4.6

Risk (BETA)

No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 2009

1. Astra Agro Lestari Tbk 0,109 0,166 0,184 0,735 0,764 0,250 2. Astra International Tbk 0,487 0,820 0,822 0,782 0,866 0,773 3. Bakrie&Brothers Tbk 0,398 0,013 0,124 0,463 0,282 0,673 4. Bumi Resources Tbk 0,041 0,481 0,524 0,491 0,461 0,691 5. Indofood Sukses Makmur Tbk 0,670 0,613 0,713 0,049 0,733 0,816 6. Indah Kiat Pulp&Paper Tbk 0,630 0,712 0,819 0,581 0,537 0,430

7.

Indocement Tunggal Prakarsa

Tbk 0,901 0,678 0,675 0,474 0,840 0,660 8. Kalbe Farma Tbk 0,821 0,432 0,429 0,334 0,747 0,346

9.

Tambang Batubara Bukit Asam

Tbk 0,683 0,327 0,232 0,510 0,713 0,662 10. United Tractors Tbk 0,498 0,617 0,603 0,634 0,817 0,781

11. Unilever Indonesia 0,179 0,271 0,695 0,523 0,087 0,296 Rata-rata per tahun 0,492 0,466 0,529 0,507 0,622 0,580

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata BETA pada tahun 2008 lebih tinggi dibandingkan tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2009, yaitu sebesar 0.622. Pada tahun 2004 rata-rata BETA mencapai 0.492 dimana nilai BETA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, yakni sebesar 0.901 dan nilai BETA terendah dimiliki oleh perusahaan Bumi Resources Tbk, yakni sebesar 0.041, sedangkan pada tahun 2005 rata-rata BETA mencapai 0.466 dimana nilai BETA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 0.820 dan nilai BETA terendah dimiliki oleh perusahaan Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar 0.013. Selanjutnya pada tahun 2006 rata-rata BETA mencapai 0.529 dimana nilai BETA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 0.822 dan nilai BETA terendah dimiliki oleh perusahaan

Bakrie&Brother Tbk, yakni sebesar 0.124, sedangkan pada tahun 2007 rata-rata BETA mencapai 0.507 dimana nilai BETA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 0.782 dan nilai BETA terendah dimiliki oleh perusahaan Indofood Sukses Makmur Tbk, yakni sebesar 0.049. Pada tahun 2008 rata-rata BETA mencapai 0.622 dimana nilai BETA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra International Tbk, yakni sebesar 0.866 dan nilai BETA terendah dimiliki oleh perusahaan Unilever Indonesia Tbk, yakni sebesar 0.087, sedangkan tahun 2009 rata-rata BETA mencapai 0.580 dimana nilai BETA tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indofood Sukses Makmur Tbk, yakni sebesar 0.816 dan nilai BETA terendah dimiliki oleh perusahaan Astra Agro Lestari Tbk, yakni sebesar 0.250.

Dalam penilaian investasi tidaklah cukup hanya memperhitungkan

return saja. Risiko dari investasi juga perlu diperhitungkan. Return dan risiko merupakan dua hal yang tidak terpisah, karena pertimbangan investasi merupakan trade-off dari kedua faktor ini. Return dan risiko mempunyai hubungan yang positif artinya semakin besar risiko yang harus ditanggung maka semakin besar return yang harus dikompensasikan. (Jogiyanto, 2008:214).

2. Analisis Statistik a. Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan pengujian Regresi Berganda maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik untuk melihat apakah data terbebas dari masalah normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi.

1). Uji Normalitas

Uji signifikansi variabel independen terhadap variabel dependent melalui uji t akan valid jika residual yang didapatkan mempunyai distribusi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas data menggunakan metode Jarque-Bera (J-B), dimana apabila residual didistribusikan normal maka diharapkan nilai statistik J-B akan sama dengan nol. Jika nilai probabilitas dari statistik J-B besar atau dengan kata lain jika nilai statistik dari J-B ini tidak signifikan maka menerima hipotesis bahwa residual mempunyai distribusi normal karena nilai statistik J-B mendekati nol. Sebaliknya jika nilai probabilitas dari statistik J-B kecil atau signifikan maka kita menolak hipotesis bahwa residual mempunyai distribusi normal karena niali statistik J-B tidak sama dengan nol.

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 -0.6 -0.4 -0.2 -0.0 0.2 Series: Residuals Sample 1 66 Observations 66 Mean 9.46e-17 Median 0.062185 Maximum 0.325219 Minimum -0.565503 Std. Dev. 0.231501 Skewness -0.534513 Kurtosis 2.399893 Jarque-Bera 4.133093 Probability 0.126622

Sumber: Data diolah

Berdasarkan nilai uji statistic J-B, nilai statistiknya sebesar 4.133093 dengan probabilitas 12.66%. Maka hipotesis nol diterima karena residual didistribusikan secara normal.

2). Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah adanya hubungan antara variabel independen dalam satu regresi. Dalam penelitian ini mendeteksi adanya multikolineritas dengan menggunakan program Eviews 5.0. Multikolinearitas dapat terjadi apabila koefisien korelasi lebih dari 0.80. Sebaliknya apabila koefisien korelasi kurang dari 0.80 maka tidak terjadi multikolinearitas. (Widarjono,2007:111-114).

Tabel 4.8

Hasil Uji Multikolinearitas

CR DTA EPS ROE

CR 1.000000 -0.095702 -0.024040 -0.194265

DTA -0.095702 1.000000 -0.299700 0.006521

EPS -0.024040 -0.299700 1.000000 0.178650

ROE -0.194265 0.006521 0.178650 1.000000

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa nilai korelasi antar variabel independen tidak lebih dari 0.80. Hai ini menujukkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas di dalam model regresi. 3). Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas berguna untuk menguji terjadinya ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain di dalam suatu model regresi. Di dalam penelitian ini menguji terjadinya heteroskedastisitas dengan menggunakan Uji White di dalam program Eviwes 5.0. Heteroskedastisitas dapat terjadi jika nilai probabilitas dari chi square lebih besar dari 0.05 atau 5%. Selain itu terjadinya heteroskedastisitas dapat dilihat apabila nilai hitung chi square

Tabel 4.9

Hasil Uji Heteroskedastisitas

White Heteroskedasticity Test:

F-statistic 0.734262 Probability 0.660841 Obs*R-squared 6.166140 Probability 0.628628

Sumber:Data diolah

Berdasarkan tabel diatas nilai probabilitas chi square sebesar 62.86% > 0.05 atau 5% dan nilai chi square hitung 6.166140 sedangkan niali kritis chi square pada α = 5% dengan df sebesar 15.5073. Maka tidak terdapat heteroskedastisitas dalam model regresi.

4). Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji adanya korelasi antara anggota observasi dengan observasi lain yang berlainan waktu. Jika terjadi korelasi antara satu residual dengan residual lain maka model mengandung autokorelasi.

Berdasarkan tabel maka didapat D-Wstatistik sebesar 1.876965,

dengan n = 66, k = 4, α = 5% maka didapat nilai dl = 1.471, du = 1.731 sehingga (4-dl) = 2.529 dan (4-du) = 2.269. Maka nilai D-Wstatistik sebesar 1.876965 memenuhi aturan Durbin Watson, yaitu

du < dw < 4-du sehingga tidak terjadi masalah autokorelasi di dalam regresi

b. Uji Regresi Berganda

Tabel 4.10 Hasil Uji Regresi Dependent Variable: BETA

Method: Least Squares Date: 10/19/10 Time: 21:07 Sample: 1 66

Included observations: 66

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.574164 0.096251 5.965282 0.0000 CR -0.001379 0.008837 -0.156017 0.8765 DTA 0.075145 0.166448 0.451465 0.6533 EPS -3.19E-06 4.71E-05 -0.067729 0.9462 ROE -0.274232 0.137872 -1.989032 0.0412

R-squared 0.168108 Mean dependent var 0.532848 Adjusted R-squared 0.007000 S.D. dependent var 0.239811 S.E. of regression 0.238970 Akaike info criterion 0.047779 Sum squared resid 3.483515 Schwarz criterion 0.213662 Log likelihood 3.423286 F-statistic 2.714552 Durbin-Watson stat 1.876965 Prob(F-statistic) 0.035795

Sumber: Data diolah

Dengan memperhatikan hasil regresi linear pada tabel 4.10 di atas maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 0. 5741641851 – 0. 001379 + 0.075145 – 3.19E-06 – 0.274232.

c. Uji t

Pengujian hipotesis dilakukan secara parsial bertujuan untuk mengetahui pengaruh signifikan dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Dengan interval keyakinan α = 5% maka didapat nilai t-tabel sebesar 1.812, sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut:

1). Uji t Karakteristik Perusahaan

Pada karakteristik perusahaan ada beberapa variabel yang signifikan dan tidak signifikan. Variabel-variabel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Uji t terhadap variabel Current Ratio

Nilai t-hitung current ratio lebih kecil daripada yang dihasilkan t-tabel (-0.156017 < 1.812). Nilai probabilitas t-hitung current ratio lebih besar dari α = 5% (0.8765 > 0.05). Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak signifikan. Variabel current ratio tidak sesuai dengan hipotesis, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik perusahaan dengan variabel current ratio secara statistiktidak mempengaruhi risiko saham pada perusahaan LQ 45.

b. Uji t terhadap variabel Debt to Total Asset

Nilai t-hitung debt to total asset lebih kecil daripada yang dihasilkan t-tabel (0.451465 < 1.812). Nilai probabilitas t-hitung

debt to total asset lebih besar dari α = 5% (0.6533 > 0.05). Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak signifikan. Variabel debt to total asset tidak sesuai dengan hipotesis, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik perusahaan dengan variabel debt to total asset secara statistik tidak mempengaruhi risiko saham pada perusahaan LQ 45.

c. Uji t terhadap variabel Earning Per Share

Nilai t-hitung earning per share lebih kecil daripada yang dihasilkan tabel (-0.067729 < 1.812). Nilai probabilitas t-hitung earning per share lebih besar dari α = 5% (0.9462 > 0.05). Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak signifikan. Variabel earning per share tidak sesuai dengan hipotesis, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik perusahaan dengan variabel earning per share secara statistik tidak mempengaruhi risiko saham pada perusahaan LQ 45. d. Uji t terhadap variabel Return On Equity

Nilai t-hitung return on equity lebih besar daripada yang dihasilkan tabel (-1.989032 > 1.812). Nilai probabilitas t-hitung return on equity lebih kecil dari α = 5% (0.0412 < 0.05). Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti signifikan. Variabel return on equity sesuai dengan hipotesis, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik perusahaan dengan variabel return on equity secara statistik mempengaruhi risiko saham pada perusahaan LQ 45.

d. Uji F

Pengujian hipotesis dilakukan secara simultan bertujuan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang diamati secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Dengan interval keyakinan α = 5% maka didapat nilai dari F-tabel sebesar 2.62.

Dari hasil uji regresi diatas maka didapat nilai dari F-hitung lebih besar dari tabel (2.714522 > 2.62) dan nilai dari probabilitas F-hitung lebih kecil dari α = 5% (0.035795 < 0.05) yang artinya secara simutan atau bersama-sama variabel independen (CR, DTA, EPS, dan ROE) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependennya (BETA). e. Adjusted R²

Pengujian koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur kemampuan model untuk menjelaskan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Berdasarkan tabel diatas didapat hasil koefisien determinasi(Adjusted R²) sebesar 0.007 atau 7%. Hal ini berarti menunjukkan bahwa variabel bebas yang terdiri dari

current ratio, debt to total asset, earning per share, dan return on equity dapat menjelaskan risiko (beta) sebesar 7%. Sedangkan sisanya sebesar 93% dijelaskan oleh variabel lain-lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian.

Dokumen terkait