• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

4. Pengujian Hipotesis a. Uji Parsial (Uji T)

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat baik secara parsial. Hasil analisis uji hipotesis antara variabel bebas X1 dan X2 terhadap Y. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program spss dapat diketahui hasiln uji hipotesis secara parsial. Bahwa koefisien (T) pada variabel tingkat pendidikan kepala keluarga sebesar 3,208 dengan taraf signifikasi sebesar 0,001, dengan demikian dapat diketahui bahwa nilai signifikasi tingkat pendidikan kepala keluarga <0,05 %, maka terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat pendidikan kepala keluarga terhadap tingkat partisipasi kepala keluarga, sedangkan pada tingkat kesadran kepala keluarga diketahui koefisien (T) sebesar 2,959 dan taraf signifikasi sebesar 0,004 dengan demikian taraf signifikasi variabel tingkat kesadaran kepala keluarga < 0,05 % , maka terdapat pengaruh yang signifikan dari tingkat partisipasi kepala keluarga terhadap tingkat partisipasi kepala keluarga .

b. Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

Uji hipotesis secara serentak (uji F) antara variabel bebas dalam hal ini tingkat pendidikan kepala keluarga (X1), tingkat kesadaran kepala keluarga (X2) terhadap tingkat partisipasi kepala keluarga (Y). hasil analisis uji F dapat dilihat dalam tabel berikut :

1) Jika nilai signifikansi > 0,05 maka Ho diterima, artinya tidak ada faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat partisipasi antar kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman. 2) Jika nilai signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada dua faktor

(faktor tingkat pendidikan dan faktor tingkat kessadaran) yang mempengaruhi perbedaan tingkat partisipasi atar kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman.

Tabel 4.22. Hasil Analisis Uji F (Secara Simultan) ANOVAb

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1Regression 256.138 2 128.069 4.389 .015a

Residual 2713.696 93 29.180

Total 2969.833 95

ANOVAb

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1Regression 256.138 2 128.069 4.389 .015a

Residual 2713.696 93 29.180

Total 2969.833 95

b. Dependent Variable: T_Partisipasi

Hasil perhitungan dengan menggunakan program spss dapat diketahui bahwa F hitung 4,389 dengan nilai signifikasi sebesar 0,015, karena nilai signifikasi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak. Jadi dapat dikatakan bahwa, ada dua faktor (faktor tingkat pendidikan dan faktor tingkat kessadaran) yang mempengaruhi perbedaan tingkat partisipasi antar kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

c. Koefisien Determinasi

Analisis koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar nilai persentase kontribusi variabel bebas yaitu tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat kesadaran kepala keluarga terhadap tingkat partisipasi kepala keluarga dalam perbaikan lingkungan permukiman di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota

Semarang. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai koefisien determinasi sebagai berikut:

Tabel 2.23. Koefisien Diterminasi

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate

1 .294a .186 .607 5.402

a. Predictors: (Constant), T_Kesadaran, T_Pendidikan b. Dependent Variable: T_Partisipasi

Nilai koefisien determinasi adalah sebesar 0,607 hal itu berarti bahwa variasi perubahan y dipengaruhi oleh perubahan X1 dan X2 sebesar 60,7%. Jadi besarnya pengaruh tingkat pendidikan dan tingkat kesadaran kepala keluarga terhadap perbedaan tingkat partisipasi kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang sebesar 60,7% sedangkan sisanya sebesar 39,3 % dipengaruhi oleh faktor lain.

C. Pembahasan

Pembahasan ini merupakan bagian tindak lanjut dari hasil penelitian seperti yang telah diuraikan di depan. Pembahasan dari hasil penelitian yang telah diperoleh adalah sebagai berikut:

Partisipasi masyarakat pada dasarnya dapat dinyatakan dalam bentuk pemikiran, keterampilan/keahlian, tenaga, harta benda atau uang. Partisipasi dalam penelitian ini dibagi dalam dua tahap yaitu tahap sosialisasi dan pelaksanaan program. Perbedaan tingkat partisipasi seseorang dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya adalah tingkat pendidikan, tingkat kesadaran dan tingkat pengetahuan.

Berdasarkan hasil deskriptif prosentase dapat diketahui bahwa ada 11 responden mempunyai tingkat partisipasi sangat tinggi, 48 responden mempunyai tingkat partisipasi tinggi, 28 responden mempunyai tingkat partisipasi rendah dan 9 responden mempunyai tingkat partisipasi sangat rendah, jika dilihat rata-ratanya sebesar 69,00% maka tingkat partisipasi kepala keluarga dikategorikan tinggi, sedangkan utuk faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat partisipasi kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan pemukiman. Untuk tingkat pendidikan sebanyak 17 responden lulus Perguruan Tinggi, 38 responden lulus SMA, 15 responden lulus SMP, 12 responden lulus SD, dan 14 responden tidak sekolah. Untuk tingkat kesadaran kepala keluarga sebanyak 10 responden memiliki tingkat kesadaran sangat tinggi, 72 responden mempunyai tingkat kesadaran tinggi, dan 14 responden mempunyai tingkat kesadaran untuk

mewujudkan sanitasi yang baik kriteriana rendah. Rata-rata tingkat kesadaran kepala keluarga untuk mewujudkan sanitasi yang baik sebesar 72,00% dengan kriteria tinggi. Jika dilihat dari tingkat pengetahuan, pengetahuan kepala keluarga termasuk dalam kategori tinggi. Dari 15 pernyataan pada angket sebagian besar responden menjawab jawaban yang tepat.

Jika dilihat dari hasil uji hipotesis secara simultan diperoleh nilai signifikasi 0,015 lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan ada dua faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat partisipasi antar kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman, faktor- faktornya adalah tingkat pendidikan dan kesadaran kepala keluarga. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengetahuan kepala keluarga maka semakin tinggi pula perbedaan tingkat partisipasi antar kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman.

Buruknya sanitasi di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kesadaran kepala keluarga, rendahnya tingkat pendidikan dan kesadaran kepala keluarga tentunya sangat mempengaruhi buruknya sanitasi di Kelurahan Rowosari. Semakin rendah tingkat pendidikan dan Kesadaran kepala keluarga maka semakin rendah pula tingkat partisipasi kepala keluarga. Jika tingkat pendidikan dan kesadaran kepala keluarga tinggi maka tingkat partisipasi kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi juga tinggi. Maka sanitasi yang baik akan terwujud.

Pemerintah telah melakukan upaya untuk perbaikan sanitasi, dengan program-program perbaikan sanitasi Adapun program – programnya antara lain: 1. Mengelolaan air bersih

2. Pembuatan MCK dan cara perawatannya

3. Mengelola sampah rumah tangga dan pembuatan tempat pembuangan sampah akhir

4. Mengelola limbah cair rumah tangga 5. Membuat saluran drainase

Tapi program dari pemerintah tidak akan berjalan tanpa adanya partisipasi kepala keluarga. Hasil dari pelaksanaan program dapat dilihat pada peta perbaikan sanitasi di Kelurahan Rowosari pada gambar 4.11. berikut ini.

103

Gambar 4.11. Peta Sanitasi Kelurahan Rowosari

Berdasarkan peta sanitasi diatas akan dibahas dalam program – program perbaikan sanitasi berikut ini.

1. Pengelolaan Air Bersih

Ketika dilakukan pengamatan di lapangan, di masing-masing kelurahan telah dibangun sumur artesis. Total jumlah sumur artesis di Kelurahan Rowosari yang telah dibangun di beberapa RW adalah sebanyak 8 buah (88,9%) dari target 9 sumur. Jumlah ini dirasa sangatlah cukup, namun pemanfaatannya terkendala letaknya yang jauh dari rumah mereka dan mahalnya biaya pembelian pralon untuk menyalurkan air langsung sampai kerumah-rumah warga. Setidakny dengan adanya sumur artesis bisa mengurangi jumlah warga yang masih menggunakan air sungai untuk MCK. 2. Pembuatan MCK dan Cara Perawatannya

Di Kelurahan Rowosari sudah terdapat 8 MCK komunal. Pemanfaatan MCK umum ini dikatakan berhasil, karena dengan adanya MCK umum banyak masyarakat di Kelurahan Rowosari melakukan mandi, cuci, kakus di MCK umum. Untuk perawatan MCK umum masyarakat setempat membuat jadwal piket untuk membersihkan MCK, bagi masyarakat yang tidak melakukan piket akan ada denda berupa membayar sebesar Rp 10.000 ,- perklompok piket. Setiap tiga bulan sekali ada pemeriksaan MCK dari kelurahan dan Puskesmas, untuk memeriksa MCK umum dan MCK di rumah – rumah warga, dari Puskesmas memeriksa kebersihan dan kelengkapan MCK dan memeriksa tempat penyimpanan air

harus bebas dari jentik – jentik nyamuk. Mengelola Sampah Rumah Tangga dan Pembuatan Tempat

3. Pembuangan Sampah Umum

Program ini belum bisa dikatakan berhasil, meskipun di masing-masing RW telah tempat sampah. Total jumlah tempat sampah yang telah dibangun di beberapa RW di Kelurahan Rowosari adalah sebanyak 8 buah (80%) dari target 10 buah tempat sampah. Jumlah ini dirasa cukup, namun pemanfaatannya terkendala letaknya yang jauh dari rumah mereka. Atas inisiatif ketua RT setempat, masyarakat juga membuat tempat sampah dengan cara membuata liang untuk tempat sampah di sekitar rumah mereka sebagai tempat pembuangan sampah akhir, jika sampah sudah terkumpul maka sampah akan di bakar. Jika masih ada warga yang membuaang sampah di sembarang tempat dan di sungai mereka akan kena denda sebesar Rp. 10.000,-. Di Keluraha Rowosari masih banyak warga yang tidak bisa memanfaatkan sampah untuk didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat, mereka berpikir mendaur ulang sampah itu ribet, mereka lebih senang menjual smpah anorganik kepada pengepul sampah, dan membakar sampah organik.

4. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga

Penglolaan limbah cair rumah tangga di Kelurahan Rowosari sudah terorganisir, setiap rumah menyalurkan saluran pembuangan air limbahnya kepembuangan saluran limbah terpadu dimasing – masing RW tapi

sayangnya pembuangan akhirnya di sungai, disetiap rumah – rumah warga sudah mempunyai bak kontrol untuk limbah cair rumah tangga.

5. Pembuatan Saluran Drainase

Program pembangunan saluran drainase di Kelurahan Rowosari dilaksanakan oleh masyarakat secara bergotong-royong, dengan dibangunnya saluran drainase dapat mengurangi limpasan air hujan yang berlebihan, yang bila menggenang di jalan dapat merusak jalan.

107 BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan uraian pembahasan hasil penelitian yang telah disampaikan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Partisipasi kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman di Kelurahan Rowosari dengan responden 96 KK rata –rata tingkat partisipasinya sebesar 69,00% dengan kriteria tingkat partisipasinya tinggi.

2. Ada dua faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat partisipasi antar kepala keluarga dengan F hitung 4,389 dan taraf signifikasi sebesar 0,015 < dari 0,05 yang artina perbedaan tingkat partisipasi antar kepala keluarga dalam perbaikan sanitasi lingkungan permukiman di Kelurahan Rowosari dipengaruhi oleh tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat kesadaran kepala keluarga dalam mewujudkan sanitasi yang baik. Besarnya pengaruh tingkat pendidikan dan kesadaran kepala keluarga terhadap perbedaan tingkat partisipasi kepala keluarga di Kelurahan Rowosari sebesar 60,7% sedangkan sisanya 39,3% di pengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

B. Saran

Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan adalah :

1. Kepala keluarga hendaknya lebih meningkatkan partisipasi dalam mewujudkan sanitasi yang baik dan perlu adanya sosialisasi, koordinasi serta mengupayakan kegiatan yang berkaitan dengan perbaikan sanitasi lingkungan permukiman.

2. Perlu adanya usaha peningkatan kesadaran kepala keluarga agar tingkat partisipasinya semakin tinggi. Kemudian memngutamakan menempuh pendidikan formal yang tinggi untuk masyarakat, serta perlu adanya pembinaan pendidikan kelingkungan di berbagai jenjang pendidikan untuk instansi pendidikan terkait. Sebab tingkat pendidikan dan kesadaran kepala keluarga merupakan faktor yang berpengaruh besar dalam partisipasi perbaikan santasi lingkungan permukiman.