• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA DAB PEMBAHASAN

B. Analisis Data

2. Pengujian Hipotesis

1) Perumusan hipotesis :

Ho : Tidak ada pengaruh etnis terhadap hubungan antara jiwa

kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha.

Ha: Ada pengaruh etnis terhadap hubungan antara jiwa

kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha. 2) Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan model persamaan regresi yang dikembangkan Chow (Gujarati, 2003:307), dan diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y = 18,803 + 91,471X1 + 0,393X2 – 0,686(X1X2)

Keterangan :

Y = Variabel keefektivitas mengelola usaha X1 = Variabel jiwa kewirausahaan

X2 = Variabel etnis

X1X2 = Nilai interaksi antara variabel jiwa kewirausahaan

dengan etnis

Jika nilai koefisien korelasi antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha sebesar 0,693 (lampiran 7, hal.140). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Sedangkan jika nilai

koefisien korelasi setelah memasukan variabel etnis pada hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha adalah sebesar 0,657 (lampiran 8, hal.141). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa interaksi etnis dengan jiwa kewirausahaan semakin menguatkan hubungan antara jiwa kewirusahaan dengan keefektifan mengelola usaha.

Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat diketahui nilai koefisien regresi (X1X2) dari interaksi variabel jiwa kewirausahaan dan etnis

terhadap keefektifan mengelola usaha adalah -0,686. Nilai tersebut menunjukkan bahwa interaksi kedua variabel melemahkan hubungan jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha.

Nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai (α) 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa etnis berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha. Artinya hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi penelitian.

b. Pengujian Hipotesis II 1) Perumusan hipotesis :

Ho : Tidak ada pengaruh etnis terhadap hubungan antara kecerdasan

Ha : Ada pengaruh etnis terhadap hubungan antara kecerdasan

emosional dengan keefektifan mengelola usaha. 2) Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan model persamaan regresi yang dikembangkan Chow (Gujarati, 2003:307), dan diperoleh persamaan sebagai berikut :

Y = 23,578 + 84,754 X1+ 0,576 X2 – 1,026(X1X2)

Keterangan :

Y = Variabel keefektivitas mengelola usaha X1 = Variabel kecerdasan emosional

X2 = Variabel etnis

X1X2 = Nilai interaksi antara variabel kecerdasan emosional

dengan etnis

Jika nilai koefisien korelasi antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha sebesar 0,688 (lampiran 7, hal.140). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Sedangkan jika nilai koefisien korelasi setelah memasukan variabel etnis pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha adalah sebesar 0,649 (lampiran 8, hal.142). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa interaksi etnis dengan kecerdasan

emosional semakin menguatkan hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha.

Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat diketahui nilai koefisien regresi (X1X2) dari interaksi variabel kecerdasan emosional dan etnis

terhadap keefektifan mengelola usaha adalah -1,026. Nilai tersebut menunjukkan bahwa interaksi kedua variabel melemahkan hubungan kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha.

Nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai (α) 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa etnis berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha. Artinya hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi penelitian.

3) Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan model persamaan regresi yang dikembangkan Chow (Gujarati, 2003:307), dan diperoleh persamaan sebagai berikut :

Y = -45,744 + 40,700 X1 + 0,866 X2 – 0,302(X1X2)

Keterangan :

Y = Variabel keefektivitas mengelola usaha X1 = Variabel jiwa kewirausahaan

X2 = Variabel permodalan

X1X2 = Nilai interaksi antara variabel jiwa kewirausahaan

Jika nilai koefisien korelasi antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha sebesar 0,650 (lampiran 7, hal.140). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Sedangkan jika nilai koefisien korelasi setelah memasukan variabel permodalan pada hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha adalah sebesar 0,616 (lampiran 8, hal.143). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa interaksi permodalan dengan jiwa kewirausahaan semakin menguatkan hubungan antara jiwa kewirusahaan dengan keefektifan mengelola usaha.

Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat diketahui nilai koefisien regresi (X1X2) dari interaksi variabel jiwa kewirausahaan dan

permodalan terhadap keefektifan mengelola usaha adalah -0,302. Nilai tersebut menunjukkan bahwa interaksi kedua variabel melemahkan hubungan jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha. Nilai signifikansi sebesar 0,001 lebih kecil dari nilai (α) 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa permodalan berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan

mengelola usaha. Artinya hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi penelitian.

4) Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan model persamaan regresi yang dikembangkan Chow (Gujarati, 2003:307), dan diperoleh persamaan sebagai berikut :

Y = -61,709 + 51,758 X1 + 1,646 X2 – 0,647(X1X2)

Keterangan :

Y = Variabel keefektivitas mengelola usaha X1 = Variabel kecerdasan emosional

X2 = Variabel permodalan

X1X2 = Nilai interaksi antara variabel kecerdasan emosional

dengan permodalan

Jika nilai koefisien korelasi antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha sebesar 0,678 (lampiran 7, hal.140). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Sedangkan jika nilai koefisien korelasi setelah memasukan variabel permodalan pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha adalah sebesar 0,653 (lampiran 8, hal.144). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa interaksi permodalan dengan

kecerdasan emosional semakin menguatkan hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha.

Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat diketahui nilai koefisien regresi (X1X2) dari interaksi variabel kecerdasan emosional dan

permodalan terhadap keefektifan mengelola usaha adalah -0,647. Nilai tersebut menunjukkan bahwa interaksi kedua variabel melemahkan hubungan kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha. Nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai (α) 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa permodalan berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha. Artinya hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi penelitian.

5) Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan model persamaan regresi yang dikembangkan Chow (Gujarati, 2003:307), dan diperoleh persamaan sebagai berikut :

Y = -40,56 + 41,735 X1 + 0,826 X2 – 0,308(X1X2)

Keterangan :

Y = Variabel keefektivitas mengelola usaha X1 = Variabel jiwa kewirausahaan

X2 = Variabel pendidikan

X1X2 = Nilai interaksi antara variabel jiwa kewirausahaan

Jika nilai koefisien korelasi antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha sebesar 0,620 (lampiran 7, hal.140). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Sedangkan jika nilai koefisien korelasi setelah memasukan variabel pendidikan pada hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha adalah sebesar 0,609 (lampiran 8, hal.145). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa interaksi pendidikan dengan jiwa kewirausahaan semakin menguatkan hubungan antara jiwa kewirusahaan dengan keefektifan mengelola usaha.

Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat diketahui nilai koefisien regresi (X1X2) dari interaksi variabel jiwa kewirausahaan dan

pendidikan terhadap keefektifan mengelola usaha adalah -0,308. Nilai tersebut menunjukkan bahwa interaksi kedua variabel melemahkan hubungan jiwa kewirausahaan dengan keefektifan mengelola usaha. Nilai signifikansi sebesar 0,001 lebih kecil dari nilai (α) 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara jiwa kewirausahaan dengan keefektifan

mengelola usaha. Artinya hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi penelitian.

6) Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan model persamaan regresi yang dikembangkan Chow (Gujarati, 2003:307), dan diperoleh persamaan sebagai berikut :

Y = -26,684 + 40,208 X1 + 1,167 X2– 0,484(X1X2)

Keterangan :

Y = Variabel keefektivitas mengelola usaha X1 = Variabel kecerdasan emosional

X2 = Variabel pendidikan

X1X2 = Nilai interaksi antara variabel kecerdasan emosional

dengan pendidikan

Jika nilai koefisien korelasi antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha sebesar 0,654 (lampiran 7, hal.140). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan kuat. Sedangkan jika nilai koefisien korelasi setelah memasukan variabel pendidikan pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha adalah sebesar 0,591 (lampiran 8, hal.146). Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha dikategorikan sedang. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa interaksi pendidikan

dengan kecerdasan emosional semakin menguatkan hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha.

Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat diketahui nilai koefisien regresi (X1X2) dari interaksi variabel kecerdasan emosional dan

pendidikan terhadap keefektifan mengelola usaha adalah -0,484. Nilai tersebut menunjukkan bahwa interaksi kedua variabel melemahkan hubungan kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha. Nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai (α) 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara kecerdasan emosional dengan keefektifan mengelola usaha. Artinya hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi penelitian.

Berikut disajika tabel koefisien regresi sebagai berikut:

Tabel 5.9

Hasil Koefisien Regresi

Unstandardizid Coeficients Standardizaed Coeficients Hipotesis B Std. Error Beta t Sig. I -0,686 0,142 -4,875 -4,816 0,000 II -1,026 0,193 -4,512 -5,322 0,000 III -0,302 0,089 -3,904 -3,392 0,001 IV -0,647 0,124 -5,306 -5,30 0,000 V -0,308 0,092 -3,964 -3,345 0,001 VI -0,484 0,123 -3,925 -3,930 0,000

Dokumen terkait