• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUMLAH PRESENTASE

D. Pengujian Hipotesis Dengan Independent Sampel t-test

Langkah-langkah sebagai berikut:

1) Uji Asumsi a. Uji Normalitas

1) Status Ibu Rumah Tangga

Tabel V. 6 Hasil Uji Normalitas

4.SOT

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.

Rata2 1 ,062 67 ,200 ,981 67 ,394

2 ,094 32 ,200 ,974 32 ,622

Sumber: Data Primer (2018)

Dari tabel V.7 di atas dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh terdistribusi normal karena signifikansi untuk status ibu rumah tangga pekerja sebesar 0,394 ˃ 0,05 dan ibu rumah tangga yang tidak bekerja sebesar 0,622 ˃ 0,05.

b. Uji Homogenitas

1) Status Ibu Rumah Tangga

Tabel V. 7 Hasil Uji Homogenitas

Levene Statistic df1 df2 Sig.

,019 1 97 ,891

Sumber: Data Primer (2018)

Dari tabel V.9 yang ada diatas dapat disimpulkan bahwa varian dari data yang diperoleh memiliki varian yang sama. hal ini dikarenakan nilai signifikan 0,89 ˃ 0,05.

2) Uji Hipotesis

a) Pengujian hipotesis dengan uji Independent Sample t-test berdasarkan: 1. Status ibu rumah tangga

Tabel V. 8

Hasil Uji Independent Sample t-Test ditinjau dari Status Ibu Rumah Tangga

Nilai rata-rata kecenderungan impulsive buying ibu rumah tangga Pekerja Nilai rata-rata kecenderungan impulsive buying ibu rumah tangga Bukan pekerja Sig (2-tailed) Status Ibu Rumah Tangga 2,69 2, 69 0,959

Sumber : Hasil Data Primer (2018)

a. Menentukan Hipotesis

Hipotesis berdasarkan status ibu rumah tangga, yaitu :

H0 : µOL= μOT, tidak ada perbedaan kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga ditinjau dari status pekerja dan ibu rumah tangga yang bukan pekerja.

Ha : μOL ≠ μOT, ada perbedaan kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga ditinjau dari status pekerja dan bukan pekerja.

b. Proses Olah Data Statistik

Proses penghitungan dilakukan dengan alat bantu SPSS Statistics versi 19. c. Kriteria Pengujian

1) Bila pSig < α maka H0 ditolak. 2) Bila pSig ≥ α maka H0 diterima. d. Kesimpulan

Dapat dilihat dari tabel V. 11 bahwa nilai sig.(2-tailed) untuk status ibu rumah tangga sebesar 0,959 ≥ 0,05. Maka H0 diterima artinya tidak ada perbedaan kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga ditinjau dari status pekerja dan bukan pekerja.

Kemudian dapat diketahui persamaan nilai rata-rata kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga pekerja dan ibu rumah tangga dengan status bukan bekerja memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 2,69 sehingga keduanya termasuk dalam kategori kecenderungan impulsive buying yang kuat/tinggi. Dari pernyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga ditinjau dari status pekerja dan bukan pekerja sama-sama impulsif dalam melakukan pembelian. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa dunia kerja seorang wanita menikah tidak mempengaruhi tingkat kecenderungan impulsive dalam melakukan pembelian.

E. Pembahasan

Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga di lima kecamatan di Kota Yogyakarta meliputi Kecamatan Tegalrejo, Kecamatan Gondokusuman, Kecamatan Mantrijeron, Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Kotagede berdasarkan identitas responden yang ditinjau dari latar belakang status pekerja dan bukan pekerja.

Berdasarkan analisis deskriptif responden berkaitan dengan asal kecamatan diperoleh data responden ibu rumah tangga yang mayoritas dari Kecamatan Umbulharjo dengan proporsi sebesar 30%. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berasal dari Kecamatan Umbulharjo hal ini terjadi karena pendistribusian sampel dibagi menurut jumlah keseluruhan ibu rumah tangga di setiap kecamatan sedangkan Kecamatan Umbulharjo merupakan kecamatan dengan jumlah ibu rumah tangga terbanyak dibandingkan dengan empat kecamatan lainnya. Kemudian analisis deskriptif responden berkaitan dengan status ibu rumah tangga terdapat 67 responden ibu rumah tangga dengan status pekerja dengan proporsi 67% dan 33 responden ibu rumah tangga dengan status ibu rumah tangga tidak bekerja dengan proporsi 33%. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti berpendapat bahwa mayoritas ibu rumah tangga di lima kecamatan di Kota Yogyakarta lebih banyak berstatus pekerja dibanding yang berstatus bukan pekerja

Berdasarkan analisis berkaitan dengan nilai rata-rata impulsive buying, maka dapat diketahui bahwa secara umum pada ibu rumah tangga di lima kecamatan di Kota Yogyakarta memiliki kecenderung impulsive buying yang kuat/tinggi. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata persepsi ibu rumah tangga tentang impulsive buying sebesar 2,68, apabila dilihat dari skor pengkategorian kecenderungan impulsive buying maka nilai tersebut berada pada rentang skor 2,50 s/d 3,24 yang menunjukkan bahwa kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga di lima kecamatan di

Kota Yogyakarta cenderung kuat/tinggi yang berarti responden dalam penelitian ini sebelum melakukan pembelian pada barang atau jasa yang ingin dibeli cenderung tidak melakukan pertimbangan atau membuat rencana terlebih dahulu.

Pada penelitian ini, kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga di lima kecamatan di Kota Yogyakarta dilihat berdasarkan dua dimensi yaitu dimensi afeksi dan dimensi kognitif, masing-masing dimensi memiliki beberapa komponen. Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan beberapa faktor yang paling berpengaruh terhadap kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga di lima kecamatan di Kota Yogyakarta. Faktor tersebut berasal dari dimensi afeksi dengan pernyataan yang paling banyak dipilih urutan pertama oleh responden adalah pernyataan pada aspek Positive Buying Emotions yaitu “Saya merasa senang ketika membeli produk yang diinginkan” dengan nilai rata-rata 3,64. Pernyataan paling banyak dipilih urutan kedua adalah pernyataan pada aspek Cognitive Deliberation yaitu “Saya lebih tertarik untuk membeli produk yang memiliki promo, undian, diskon atau

hadiah” dengan nilai rata-rata 3,55. Pernyataan paling banyak dipilih urutan ketiga

adalah pernyataan pada aspek Mood Management yaitu “Bagi saya berbelanja dapat

menghilangkan stress” dengan nilai rata-rata 3,17. Uraian diatas dapat mencerminkan

bahwa ibu rumah tangga di lima kecamatan di Kota Yogyakarta memiliki emosi positif serta mampu mengatur suasana hati dalam mengambil keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa ibu rumah tangga lebih mengikuti suasana hati dan lebih merasa senang ketika membeli produk yang diinginkan.

Berdasarkan analisis berkaitan dengan uji hipotesis dari status ibu rumah tangga, dari hasil analisis dengan uji t menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga ditinjau dari status pekerja dengan nilai rata-rata kecenderungan impulsive buying dari data status ibu rumah

tangga tidak bekerja yang diperoleh sebesar 2,69. Kedua skor yang sama tersebut termasuk dalam kategori kecenderungan impulsive buying yang kuat/tinggi. Tidak adanya perbedaan kecenderungan impulsive buying ini bisa terjadi karena dalam ruang lingkup ibu rumah tangga memiliki pola pikir, emosi yang sama sehingga dalam perilaku pembelian bisa sama tanpa melihat status ibu rumah tangga tersebut. Hal ini juga dapat terjadi karena pada saat ini sudah banyak ibu rumah tangga yang mampu mencari uang secara mandiri tanpa harus bergantung pada suami. Selain itu berdasarkan hasil penemuan yang dilakukan oleh Widhyanti Gilang Dimas (2016) menyatakan bahwa kegiatan sales promotion yang dilakukan oleh pemasar mempengaruhi impulse buying pada wanita bekerja sebesar 29,2% sedangkan sisanya dipengaruhi dari variabel lain. Oleh karena itu dari hasil penelitian ini para praktisi tidak perlu mempertimbangkan ibu rumah tangga dengan status pekerja dan bukan pekerja dalam menentukan strategi pemasaran terkait impulsive buying. Maka hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kecenderungan impulsive buying pada ibu rumah tangga ditinjau dari status pekerja dan bukan pekerja.

BAB VI

Dokumen terkait