• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Perusahaan properti yang terdaftar dari tahun 2002 – 2006 39 2Perusahaan propert yang tidak memiliki hutang jangka panjang8

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian .1 Statistik Deskriptif .1Statistik Deskriptif

4.1.3 Pengujian Hipotesis

Setelah dilakukan pengujian asumsi klasik maka selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis 1 dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Pengujian hipotesis 1 dilakukan untuk menguji apakah total aktiva sebagai indikator

Tabel 4.11Nilai R Square Hipotesis 1

Sumber: Lampiran

ukuran perusahaan berpengaruh terhadap NPM sebagai indikator kinsrja keuangan. Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut ini:

Berdasarkan tabel 4.11 diperoeh niai R square (R2) atau nilai koefisien determinasi sebesar 0.124 yang berarti variabel terikat mampu dijelaskan oleh variabel bebas sebesar 12,4%. Dengan kata lain 12,4% NPM sebagai indikator kinerja keuangan mampu dijelaskan variabel total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan, sedangkan 87,6% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini, atau diperkirakan ada variabel lain yang menjadi perantara variabel total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan akan mempengaruhi NPM sebagai indikator kinerja keuangan.

Tabel 4.12 Nilai Hitung Signifikansi Hipotesis 1

Model

Regression Residual Total

a Predictors: (Constant), Ukuran Perusahaan

b Dependent Variable: Kinerja Keuangan - NPM (SQRT) Mean Square 1,295 1,478 Sum of Squares df 1 0,183 7,768 ,007(a) 55 0,024 F Sig. 1 0,183 56 Sumber: Lampiran 4

Dari tabel ANOVA didapat nilai Fhitung sebesar 7,768 dengan probabilitas 0,007 yang telah menguji pengaruh antara variabel bebas (total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan) terhadap variabel terikat (kinerja keuangan - NPM), karena probabilitas tersebut jauh lebih kecil dari 0.05, maka model regresi dapat digunakan untuk mengukur pengaruh total aktiva terhadap kinerja keuangan (NPM).

Dari tabel 4.13 di bawah ini dapat dilihat bahwa koefisien variabel ukuran perusahaan yang positif memberi makna bahwa informasi tentang struktur modal dapat direspon searah oleh investor dengan NPM sebagai indikator kinerja keuangan.

Standardized Coefficients B Beta (Constant) 0,240 0,218 Ukuran Perusahaan 0,017 0,352 2,787 0,007 a Dependent Variable: Kinerja Keuangan - NPM (SQRT)

Model Unstandardized Coefficients Std. Error Sig. 0,048 -1,247 t 1 -0,300 Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,151(a) 0,023 0,005 0,16206

a Predictors: (Constant), Kebijakan Pendanaan (SQRT) Tabel 4.13 Model Hipotesis 1

Sumber: Lampiran 4

Dengan demikian, berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan maka model untuk hipotesis 1 adalah sebagai berikut:

NPM = -0,300 + 0,048 Ukuran Perusahaan

Persamaan di atas menggambarkan bahwa apabila tidak ada total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan maka nilai NPM adalah negatif 0,300 dan setiap penambahan total aktiva sebesar satu juta rupiah akan meningkatkan NPM sebesar 0,048.

Pengujian hipotesis 2 dilakukan untuk menguji apakah LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan berpengaruh terhadap

Hasil pengujian hipotesis dua dapat dilih

Tabel 4.14 Nilai R Square Hipotesis 2

Sumber: Lampiran 4

NPM sebagai indikator kinerja keuangan. at pada tabel 4.14 berikut ini:

Model

Regression Residual Total

a Predictors: (Constant), Kebijakan Pendanaan (SQRT) b Dependent Variable: Kinerja Keuangan - NPM (SQRT)

Sum of Squares df Mean Square F Sig. 0,034 1,478 56 1,445 55 0,026 1 0,034 1 1,28 ,263(a)

Berdasarkan tabel 4.14 diperoleh nilai R square (R2) atau nilai koefisien determinasi sebesar 0,023 yang mempunyai arti bahwa 2,3% variabel NPM mampu dijelaskan oleh variabel LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan, sedangkan 97,7% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini.

Tabel 4.15 Nilai Hitung Signifikansi Hipotesis 2

Sumber: Lampiran 4

Dari tabel ANOVA didapat nilai Fhitung sebesar 1,280 dengan probabilitas 0.263 yang telah menguji pengaruh antara variabel bebas (LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan) terhadap variabel terikat (NPM), karena probabilitas tersebut jauh lebih besar dari 0.05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi NPM walaupun pangaruh LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan terhadap NPM sebagai indikator kinerja keuangan tidak signifikan.

Dari tabel 4.16 berikut ini dapat dilihat bahwa koefisien dari variabel kebijakan pendanaan yang negatif memberi makna bahwa informasi tentang kebijakan pendanaan dapat direspon terbalik oleh investor sehingga meningkatkan NPM.

Standardized Coefficients Std.

Error Beta Sig.

0,400 0,036 11,159 0,000

-0,078 0,069 -0,151 -1,131 0,263 le: Kinerja Keuangan - NPM (SQRT)

Unstandardized Coefficients t B 1 (Constant) Kebijakan Pendanaan (SQRT) a Dependent Variab Model

Tabel 4.16 Model Hipotesis 2

Sumber: Lampiran 4

Dengan demikian, berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan maka model untuk hipotesis 2 adalah sebagai berikut:

NPM = 0,400 – 0,078 Kebijakan Pendanaan

Persamaan di atas menggambarkan bahwa apabila tidak ada LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan maka nilai NPM adalah 0,400 dan setiap pengurangan LDE sebesar satu satuan akan meningkatkan NPM sebesar 0,078.

Pengujian hipotesis 3 dilakukan untuk menguji pengaruh total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dan LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan terhadap NPM. Hasil pengujian hipotesis 3 dapat dilihat pada tabel 4.17 dimana diperoleh nilai R2 sebesar 0,125 yang mempunyai arti bahwa 12,5% variabel NPM mampu dijelaskan secara bersama-sama oleh variable total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dan LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan, sedangkan 87,5% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini, atau diperkirakan ada variabel lain selain total aktiva dan LDE yang mempengaruhi NPM.

1 ,353(a) 0,125 0,092 nt), Kebijakan Pendanaan (SQRT), Ukuran Perusahaan riable: Kinerja Keuangan - NPM (SQRT)

a Predictors: (Consta b Dependent Va Model R R Square Adjusted R Square Model R a Predictor b Depend 1 F Regression esidual Total

s: (Constant), Kebijakan Pendanaan (SQRT), Ukuran Perusahaan ent Variable: Kinerja Keuangan - NPM (SQRT)

0,184 2 0,092 3,842 ,028(a) 1,294 Sig. Sum of Squares df Mean Square 1,478 56 54 0,024

Tabel 4.17 Nilai R Square Hipotesis 3

Sumber: Lampiran 4

Dari tabel ANOVA pada tabel 4.18 didapat nilai Fhitung sebesar 3,842 dengan probabilitas 0,028 yang telah menguji pengaruh antara variabel bebas (total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dan LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan) terhadap variabel terikat (NPM), karena probabilitas tersebut jauh lebih kecil dari 0.05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi pengaruh total aktiva dan LDE terhadap NPM.

Tabel 4.18 Nilai Hitung Signifikansi Hipotesis 3

Sumber: Lampiran 4

Dari tabel 4.19 di bawah ini dapat dilihat bahwa koefisien dari variabel ukuran perusahaan positif sementara kebijakan pendanaan yang negatif memberi makna bahwa informasi tentang ukuran perusahaan dan kebijakan pendanaan dapat direspon searah ataupun terbalik oleh investor sehingga meningkatkan NPM.

Standardized Coefficients B Beta t (Constant) 0,271 -1,008 0,318 Ukuran Perusahaan 0,019 0,341 2,506 0,015 Kebijakan Pendanaan (SQRT) 0,07 -0,03 -0,223 0,825

a Dependent Variable: Kinerja Keuangan - NPM (SQRT)

Std. Error Model 1 -0,273 Unstandardized Coefficients -0,016 0,047 Sig. Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,295(a) 0,087 0,071 3,48592

a Predictors: (Constant), Ukuran Perusahaan

Tabel 4.19 Model Hipotesis 3

Sumber: Lampiran 4

Dengan demikian, berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan maka model untuk hipotesis 3 adalah sebagai berikut:

NPM = -0,273 + 0,047 Ukuran Perusahaan – 0,016 Kebijakan Pendanaan

Persamaan di atas menggambarkan bahwa apabila tidak ada total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dan tidak ada LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan maka nilai NPM adalah negatif 0,273 dan setiap penambahan total aktiva sebesar satu juta rupiah akan meningkatkan NPM sebesar 0,047 dan setiap pengurangan LDE sebesar satu satuan akan menurunkan NPM sebesar 0,016 satuan.

Pengujian hipotesis 4 dilakukan untuk me berpengaruh terhadap kinerja keuangan (E

pada tabel 4.20 berikut ini:

Tabel 4.20 Nilai R Square Hipotesis 4

Sumber: Lampiran 4

nguji apakah ukuran perusahaan PS). Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat

Model Regression Residual Total a Predictors: (Constant b Dependent Variable: 1 df Mean Square F Sig. ), Ukuran Perusahaan

Kinerja Keuangan - EPS (SQRT)

55 12,152 56 1 63,8 5,25 ,026(a) Sum of Squares 63,8 668,339 732,139

Berdasarkan tabel 4.20 diperoleh nilai R Square sebesar 8,7% yang berarti 8,7% variabel EPS sebagai indikator kinerja keuangan mampu dijelaskan oleh variabel total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan, sedangkan 91,3% dijelaskan faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini, atau diperkirakan ada variabel lain yang menjadi perantara variabel total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan akan mempengaruhi EPS sebagai indikator kinerja keuangan.

Tabel 4.21 Nilai Signifikasi Hitung Hipotesis 4

Sumber: Lampiran 4

Dari tabel ANOVA didapat nilai Fhitung sebesar 5,250 dengan probabilitas 0,026 yang telah menguji pengaruh antara variabel bebas (total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan) terhadap variabel terikat (kinerja keuangan - EPS), karena probabilitas tersebut lebih kecil dari 0.05. Maka model regresi dapat digunakan untuk menguji pengaruh total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan terhadap EPS sebagai indikator kinerja keuangan.

Dari tabel 4.22 di bawah ini dapat dilihat bahwa koefisien dari variabel ukuran perusahaan yang positif memberi makna bahwa informasi tentang total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dapat direspon searah oleh investor dengan EPS sebagai indikator kinerja keuangan.

Standardized Coefficients B Std. Error Beta (Constant) -6,092 5,456 Ukuran Perusahaan 0,905 0,395 0,295

a Dependent Variable: Kinerja Keuangan - EPS (SQRT) Model Unstandardized Coefficients 1 t Sig. -1,117 0,269 2,291 0,026 Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,018(a) 0 -0,018 3,64793

a Predictors: (Constant), Kebijakan Pendanaan (SQRT) Tabel 4.22 Model Hipotesis 4

aka model

EPS = -6,092 + 0,905 Ukuran Perusahaan

Persamaan di atas menggambarkan bahwa apabila tidak ada total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan maka nilai EPS adalah negatif 6,092 juta rupiah dan setiap penambahan total aktiva sebesar satu juta rupiah akan meningkatkan EPS sebesar 0,905 juta rupiah.

Pengujian hipotesis 5 dilakukan untuk menguji apakah LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan berpengaruh terhadap EPS sebagai indikator kinerja keuangan. Hasil pengujian hipotesis lima dapat dilihat pada tabel 4.23 berikut ini:

Tabel 4.23 Nilai R Square Hipotesis 5

Sumber: Lampiran 4 Sumber: Lampiran 4

Dengan demikian, berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan m untuk hipotesis 4 adalah sebagai berikut:

Model

a Predict b Depend

1

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Regression 0,232 1 0,232 0,017 ,895(a)

Residual 731,906 55 13,307

Total 732,139 56

ors: (Constant), Kebijakan Pendanaan (SQRT) ent Variable: Kinerja Keuangan - EPS (SQRT)

Standardized Coefficients

B Std. Error Beta t Sig.

(Constant) 6,45 0,807 7,994 0,000

Kebijakan

Pendanaan (SQRT) -0,204 1,542 -0,018 -0,132 0,895 a Dependent Variable: Kinerja Keuangan - EPS (SQRT)

1 Model

Unstandardized Coefficients

Berdasarkan tabel 4.23 diperoleh nilai R2 sebesar 0,000 yang mempunyai arti bahwa hanya 0% vaeiabel EPS mampu dijelaskan oleh variabel LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan, sedangkan 100% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini.

Tabel 4.24 Nilai Signifikansi Hitung Hipotesis 5

Sumber: Lampiran 4

Dari tabel ANOVA didapat nilai Fhitung sebesar 0,017 dengan probabilitas 0,895 yang telah me

kebijakan pendanaan) terhadap variabel keuangan), karena probabilitas te

regresi dapat digunakan untuk m EPS tidak signifikan.

Tabel 4.25 Model Hipotesis 5

Sumber: Lampiran 4

nguji pengaruh antara variabel bebas (LDE sebagai indikator terikat (EPS sebagai indikator kinerja rsebut jauh lebih besar dari 0.05, maka model emprediksi EPS walapun pengaruh LDE terhadap

1 ,309(a) 0,096 0,062 3,50153 a Predictors: (Constant), Kebijakan Pendanaan (SQRT), Ukuran Perusahaan b Dependent Variable: Kinerja Keuangan - EPS (SQRT)

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate Dari tabel 4.25 di atas, dapat dilihat bahwa koefisien dari variabel kebijakan pendanaan yang negatif memberi makna bahwa informasi tentang kebijakan pendanaan dapat direspon terbalik oleh investor sehingga meningkatkan EPS. Dengan demikian, berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan maka model untuk hipotesis 5 adalah sebagai berikut:

EPS = 6,450 – 0,204 Kebijakan Pendanaan

Persamaan di atas menggambarkan bahwa apabila tidak ada LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan maka EPS adalah 6,450 juta rupiah dan setiap pengurangan LDE sebesar satu satuan akan meningkatkan EPS sebesar 0,024 juta rupiah.

Sumber: Lampiran 4

Berdasarkan tabel 4.26 diperoleh nilai R Square sebesar 0,096 yang berarti bahwa 0,096 variabel EPS sebagai indikator kinerja keuangan mampu dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan Pengujian hipotesis 6 dilakukan untuk menguji pengaruh total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dan LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan terhadap EPS. Hasil pengujian hipotesis 6 dapat dilihat pada tabel 4.26 di bawah ini:

Model

Regression Residual Total

a Predictors: (Constant), Kebijakan Pendanaan (SQRT), Ukuran Perusahaan b Dependent Variable: Kinerja Keuangan - EPS (SQRT)

df Mean 662,079 732,139 Sum of Squares 2 35,03 2,857 ,066(a 54 12,261 F Sig 1 70,06 56 . Standardiz ed Coefficien

B Std. Error Beta t Sig.

(Constant) -8,04 6,121 -1,314 0,195

Ukuran Perusahaan 1,013 0,424 0,33 2,386 0,021

Kebijakan

Pendanaan (SQRT) 1,131 1,583 0,099 0,715 0,478

a Dependent Variable: Kinerja Keuangan - EPS (SQRT) Model

1

Unstandardized Coefficients

dan LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan, sedangkan 90,4% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini, atau diperkirakan ada variabel lain selain total aktiva dan LDE yang mempengaruhi EPS.

Tabel 4.27 Nilai Signifikansi Hitung Hipotesis 6

Sumber: Lampiran 4

Dari tabel ANOVA didapat nilai Fhitung sebesar 2,240 dengan probabilitas

0.05,

Sumber: Lampiran 4

0,066 yang telah menguji pengaruh antara variabel bebas (total aktiva dan LDE) terhadap variabel terikat (EPS), karena probabilitas tersebut lebih besar dari

maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi EPS walaupun pengaruh total aktiva dan LDE terhadap EPS tidak signifikan.

Dari tabel 4.28 di atas, dapat dilihat bahwa koefisien dari variabel ukuran perusahaan dan kebijakan pendanaan yang positif memberi makna bahwa informasi tentang total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dan LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan, dapat direspon searah oleh investor sehingga meningkatkan NPM. Dengan demikian, berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan maka model untuk hipotesis 6 adalah sebagai berikut:

= -8,040 + 1,013 Ukuran Perusahaan + 1,131 Kebijakan Pendanaan

Persamaan di atas menggambarkan bahwa apabila tidak ada total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan dan tidak ada LDE sebagai indikator kebijakan pendanaan maka nilai EPS adalah negatif 8,040 juta rupiah dan setiap penambahan total aktiva sebesar satu juta rupiah akan menaikkan EPS sebesar 1,013 juta rupiah.dan peningkatan LDE sebesar satu satuan akan menaikkan EPS sebesar 1,131 juta rupiah.

4.2 Pembahasan

Dokumen terkait