BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.2 Ukuran Perusahaan, Struktur Modal dan Kinerja Keuangan
Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan adalah ukuran perusahaan. Penentuan ukuran perusahaan dapat dinyatakan dengan total penjualan, total aktiva, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata total aktiva.
Faktor ukuran perusahaan yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan merupakan faktor penting dalam pembentukan laba. Perusahaan besar yang dianggap telah mencapai tahap kedewasaan merupakan suatu gambaran bahwa perusahaan tersebut relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasikan laba dibandingkan perusahaan kecil. Bagi perusahaan yang stabil biasanya dapat memprediksi jumlah keuntungan di tahun-tahun mendatang karena tingkat kepastian laba sangat tinggi. Sebaliknya bagi perusahaan yang belum mapan, besar kemungkinan laba yang diperoleh juga belum stabil karena kepastian laba lebih rendah.(Elisabeth Sugiarto, 1997). Sementara Chen A Dhei (1993) memberikan alasan bahwa smallfirm lebih berisiko karena mempunyai effisiensi yang rendah, leverage yang tinggi dan berada dalam “marginal firms” dengan probabilitas yang lebih rendah dalam kelangsungan hidupnya. Dengan demikian diperkirakan ukuran perusahaan mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan.
2.2.2 Struktur Modal dan Kinerja Keuangan
Menurut pendekatan tradisional, setelah rasio leverage tertentu, peningkatan biaya modal sendiri akan lebih besar daripada penurunan biaya karena penggunaan hutang mengakibatkan biaya modal rata-rata tertimbang akan meningkat sehingga nilai perusahaan menurun dikarenakan peningkatan biaya modal tersebut. Begitu juga menurut trade off theory harus ditentukan perimbangan antara besarnya hutang dan ekuitas, apabila manfaat penggunaan hutang (berupa tax benefit) masih lebih besar daripada pengorbanan (peningkatan suku bunga, bankruptcy cost, agency cost, dan
financial distress cost), maka hutang masih akan ditambah, namun apabila pengorbanan atas penggunaan hutang sudah lebih besar dari manfaatnya maka hutang tidak boleh ditambah lagi Jadi menurut pendekatan ini struktur modal mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja keuangan sampai rasio leverage tertentu, namun setelah rasio leverage tersebut struktur modal mempunyai pengaruh yang negatif terhadap kinerja keuangan.
Menurut pendekatan laba bersih (net income) semakin besar penggunaan hutang menyebabkan biaya modal rata-rata tertimbang (ko) menjadi semakin kecil, sehingga akan meningkatkan laba bersih perusahaan. Dalam keadaan terdapat pajak, MM berpendapat keputusan pendanaan menjadi relevan karena bunga yang dibayarkan dapat mengurangi penghasilan kena pajak jadi pertambahan hutang akan menaikkan nilai perusahaan sebesar pengurangan pajak tersebut, jadi semakin tinggi rasio hutang semakin rendah beban pajak, sehingga laba bersih menjadi semakin besar, dengan demikian tingkat profitabilitas semakin tinggi. Dengan demikian struktur modal mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja keuangan.
Pendekatan laba operasi bersih (net operating income) memandang penggunaan hutang yang semakin besar sebagai peningkatan risiko perusahaan karena itu tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemilik modal sendiri akan meningkat, yang memberikan konsekuensi biaya modal rata-rata tertimbang tidak mengalami perubahan, jadi struktur modal tidak mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan.
Mekanisme pemilihan sumber dana menurut pecking order theory
berdasarkan hirarki sumber dana yang paling disukai dan tidak ada suatu target debt to equity ratio (Husnan, 1996: 325). Perusahaan yang profitable memiliki sumber dana internal yang besar sehingga hanya sedikit membutuhkan sumber dana eksternal, sebaliknya perusahaan dengan profitable yang rendah memiliki sumber dana internal yang kecil sehingga meminjam dalam jumlah yang lebih besar. Dengan demikian struktur modal mempunyai pengaruh yang negatif terhadap kinerja keuangan.
2.2.3 Analisis Rasio Keuangan
Secara konvensional, terdapat dua jenis norma dengan mana dapat dipertimbangkan kapasitas hutang jangka panjang, yaitu (1) suatu norma kapitalisasi (2) suatu norma peliputan penghasilan (earning coverage). Dalam mencapai suatu kebijakan hutang bagi perusahaan, masing-masing rasio harus dipertimbangkan dan saling dikaitkan. Suatu norma yang telah dipergunakan secara luas adalah rasio hutang jangka panjang terhadap modal sendiri. Dalam mempertimbangkan struktur modal harus diketahui pengaruh dari leverage. Pada dasarnya, leverage terdiri dari pembiayaan sebuah perusahaan dengan hutang untuk menaikkan hasil pengembalian atas modal sendiri. Tindakan ini dikenal dengan istilah “trading on the equity” (Wilson & Campbell, 1991: 67).
Merupakan hal yang sangat penting bagi investor untuk mengetahui kondisi dan kinerja keuangan suatu perusahaan. Salah satu ukuran dari pada kinerja tersebut
adalah laba, dengan demikian informasi laba dapat digunakan untuk menilai kinerja manajemen selain itu dapat juga digunakan untuk membantu mengestimasi kemampuan laba yang representative, serta untuk menaksir risiko dalam investasi atau kredit. Dalam menentukan keputusan investasi, investor akan bertindak rasional dengan mempertimbangkan trade off antara return yang mungkin diperoleh dan risiko yang akan dihadapi. Investor akan melakukan penilaian terhadap kinerja keuangan perusahaan dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan. Banyak teknik analisa yang menyebabkan berbagai rasio keuangan ersedia untuk penilaian prestasi. Teknik yang berbeda akan sesuai untuk tujuan yang berbeda. Manfaat yang sebenarnya dari setiap rasio sangat ditentukan oleh tujuan spesifik dari analis. Rasio-rasio bukan merupakan kriteria yang mutlak, rasio yang bermakna terutama untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi dan membantu menggambarkan trend dan pola perubahan yang pada gilirannya dapat menunjukkan risiko dan peluang bagi perusahaan yang ditelaah (Helfert, 1997: 53 )
Pengelompkan rasio keuangan pada dasarnya dibedakan atas kesamaan sifatnya dan tidak ada standar tertentu dalam pengelompokan tersebut. Weston dan Brigham (1993: 57 - 58) mengelompokkan rasio keuangan menjadi 6 (enam) kategori : rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio pertumbuhan dan rasio penilaian. Sartono (2001; 121) mengelompokkannya menjadi 4 (empat) kategori : rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage, dan rasio profitabilitas. Berdasarkan tinjauan atas hubungan analisis keuangan, Weston dan Copeland (1995: 237)
mengelompokkannya atas : Ukuran Kinerja ( Performance Measure) terdiri dari rasio profitabilitas, rasio pertumbuhan, dan ukuran penilaian; Ukuran Efisiensi Operasi (Operating Efficiency ) terdiri dari manajemen aktiva dan investasi, manajemen beban, dan Ukuran Kebijakan Pendanaan (Financial Policy Measure ) terdiri dari rasio leverage dan rasio likuiditas.
Rasio Leverage menunjukkan tingkat penggunaan utang dalam operasi bisnis dan berkaitan langsung dengan risiko pendanaan. Rasio ini dapat dihitung, pertama dengan memperhatikan data neraca, untuk mengetahui seberapa banyak dana pinjaman digunakan dalam perusahaan. Kedua, dengan mengukur risiko utang dari laporan laba rugi, yaitu seberapa banyak beban tetap utang (bunga ditambah pokok pinjaman) dapat ditutup oleh laba operasi.
Rasio Aktivitas menunjukkan seberapa efektif dan optimal perusahaan menggunakan sumber daya yang sesuai dengan yang digariskan oleh kebijaksanaan perusahaan melalui pembandingan rasio aktivitas dengan standard industri sehingga dapat diketahui tingkat efisiensi perusahaan dalam industri. Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dan berbagai aktiva pendukung terjadinya penjualan.
Rasio Profitabilitas adalah hasil bersih dari berbagai kebijaksanaan dan keputusan perusahaan. Rasio ini memberikan jawaban akhir tentang seberapa efektif perusahaan dikelola. Perusahaan yang mempunyai rasio profitabilitas yang tinggi diharapkan lebih mampu dalam menghadapi fluktuasi bisnis. Rasio ini penting bagi para investor jangka panjang yang akan menanamkan modalnya. Rasio Pertumbuhan menunjukkan sebaik apa perusahaan mempertahankan posisi ekonominya di dalam
lingkungan industrinya. Rasio Penilaian merupakan ukuran kinerja yang paling menyeluruh untuk suatu perusahaan. Rasio ini mencerminkan pengaruh gabungan dari rasio hasil pengembalian dan risiko.
Untuk melihat hubungan ukuran perusahaan dengan kinerja keuangan dapat dipergunakan analisis keuangan berdasarkan sistem du Pont.
Gambar 2.1 Bagan du Pont (Weston dan Copeland, 1995: 313)
Return On Investment merupakan suatu ukuran untuk melihat kemampuan manajemen dalam menghasilkan tingkat pengembalian atas seluruh aktiva yang dipergunakan dalam perusahaan. Disamping itu, manajemen juga bertanggungjawab untuk mengoptimalisasikan tingkat pengembalian atas modal pemegang saham (modal sendiri). Hasil pengembalian para pemegang saham yang terdiri dari baik hasil dividen dan apresiasi dalam nilai saham, akan tumbuh dalam hubungannya dengan hasil pengembalian atas modal sendiri. Oleh karena itu, tingkat pengembalian
atas m tolok ukur terbaik mengenai prestasi
manajem ncerminkan efisiensi, tetapi juga pengaruh dari
alat pembayaran atau “leverage”. Jadi tingkat pengembalian atas modal pemegang saham dapat dihitung dengan mempergunakan formula ROI dengan mempergunakan faktor persentase dari total aktiva dalam hubungannya dengan modal pemegang saham. Dengan demikian ROE (tingkat pengembalian atas modal sendiri) dapat dihitung dengan rumus :