• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

3.10 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan setelah pengujian analisis terpenuhi. Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan rumus Correlational Product Moment, yaitu dengan mengkorelasikan skor item dengan skor total. Kebiasaan membaca di media online

dan buku pelajaran (variabel X) dan kemampuan membaca pemahaman (variabel Y).

Setelah rxy telah diketahui maka peneliti akan memberikan interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” product moment . Setelah diketahui hasilnya yang dihitung menggunakan program komputer yaitu SPSS 23, kemudian diadakan intepretasi data, apakah keduanya mempunyai hubungan yang sangat kuat, kuat, cukup, lemah atau cukup lemah. Menurut Sugiyono (2013:184), pedoman untuk memberikan nilai interpretasi yaitu, sebagai berikut.

Tabel 3.1

Pedoman Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

63 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab hasil penelitian dan pembahasan ini akan diuraikan mengenai deskripsi data penelitian, yang terdiri dari hasil dari (1) kebiasaan siswa dalam membaca di media online dan buku pelajaran, (2) kemampuan membaca pemahaman, dan (3) analisis korelasi. Ketiga hal tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut.

4.1 Deskripsi Data Penelitian

Penyajian hasil tabulasi data merupakan hal yang penting untuk menunjukkan hasil dari penelitian. Data yang disajikan adalah data mengenai kebiasaan, kebiasaan siswa dalam membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran, yang hasilnya diperoleh melalui angket. Kemampuan membaca pemahaman diperoleh dari soal pilihan ganda. Populasi penelitian ini siswa kelas X SMA N 1 Turi sebanyak 122 siswa dengan sampel sebanyak 122 siswa menggunakan metode sensus. Untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik setiap variabel, menggunakan analisis statistik deskriptif. Berikut ini disajikan deskripsi data yang memuat harga mean, median dan distribusi frekuensi dari tiap-tiap variabel, dan diuraikan sebagai berikut.

4.1.1 Kebiasaan Siswa dalam Membaca Teks Ilmu Pengetahuan di Media Online dan Buku Pelajaran Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

Kebiasaan membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran diukur menggunakan angket. Angket tersebut terdiri dari 8 pernyataan yang sudah diuji cobakan dengan hasil yang sudah valid. Skor yang digunakan dalam angket tersebut berkisar 4-1. Dari hasil penelitian, diperoleh hasil dari angket yang telah diisi oleh siswa. Hasil tersebut yaitu, skor tertinggi yaitu 28 dan skor terendah adalah 13. Dengan menggunakan analisis tendensi sentral dalam program komputer SPSS 23, diperoleh mean sebesar 20,90, median sebesar 21,00 dan modus sebesar 20.

Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut.

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Kebiasaan Membaca Teks Ilmu Pengetahuan di Media Online dan Buku Pelajaran

Berdasarkan tabel di atas, pada interval 0-15 dengan kategori rendah terdapat 4 siswa dengan persentase sebesar 3,2%, pada interval 16-20 dengan kategori sedang terdapat 51 siswa dengan persentase sebesar 42%, pada interval 21-25 dengan

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 0 - 15 Rendah 4 3,2%

2 16 - 20 Sedang 51 42%

3 21 – 25 Tinggi 64 52,4%

4 26 - 32 Sangat Tinggi 3 2,4%

Jumlah 122 100%

ketegori tinggi terdapat 64 siswa dengan persentase sebesar 52,4%, selanjutnya, dan pada interval 26-32 dengan kategori sangat tinggi terdapat 3 siswa dengan persentase 2,4%. Perbandingan jumlah pada masing-masing kategori tersebut dapat juga dilihat dalam bentuk histogram sebagai berikut.

Diagram 4.1 Kebiasaan Membaca Ilmu Pengetahuan di Media Online dan Buku Pelajaran

Dari hasil angket yang telah diketahui, sebagian besar siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman siswanya sering membuka media online yang berupa Instagram, WhatsApp, Game Online dan Google. Berdasarkan hasil dari perolehan nilai angket yang telah dihitung dan dideskripsikan, dapat diketahui bahwa kebiasaan membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman termasuk ke dalam kategori tinggi. Kategori tersebut dapat dilihat dari interval 0-15 dengan jumlah siswa sebanyak 4 dengan persentase sebesar 3,2%

tergolong dalam kategori rendah, pada interval 16-20 sebanyak 51 siswa dengan persentase sebesar 42% tergolong dalam kategori sedang, selanjutnya pada interval

3,2%

42%

52,4%

2,4%

0%

20%

40%

60%

0-15 16-20 21-25 26-32

21-25 jumlah siswa sebanyak 64 dengan persentase sebesar 52% tergolong dalam kategori tinggi, dan yang terakhir pada interval 26-30 sebanyak 3 siswa dengan persentase sebesar 2,4% termasuk pada golongan sangat tinggi.

Dari hasil tersebut maka, kebiasaan siswa dalam memanfaatkan media online untuk mencari informasi tentang pengetahuan sangatlah tinggi, sesuai fungsi media online masing-masing, sebenarnya siswa dapat banyak menemukan dan banyak menambah pengetahuan. Jadi, sumber pengetahuan itu tidak hanya dari buku saja melainkan dari berbagai sumber, melihat tekhnologi saat ini sudah canggih. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa, peranan kebiasaan siswa itu sangat berpengaruh penting dalam membaca. Dengan memanfaatkan jaringan internet sebenarnya guru dan siswa dapat menggunakan fasilitas tersebut dalam pembelajaran, agar tidak hanya menggunakan buku saja yang membuat siswa menjadi bosan. Kebiasaan membaca terbentuk dari empat indikator yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, yaitu frekuensi (waktu membaca), keinginan yang mencakup kemauan membaca, motivasi dalam membaca serta lingkungan baik di sekolah, di rumah dan masyarakat.

Dari pembahasan yang telah disampaikan di atas bahwa, penelitian ini adalah untuk mengukur seberapa tinggi tingkat kebiasaan membaca di media online dan buku pelajaran. Hal tersebut sejalan dengan landasan teori yang telah dikemukakan oleh Tampubolon (2008:227) yang menjelaskan bahwa kebiasaan adalah kegiatan atau sikap, baik fisik maupun mental, yang telah membudaya dalam satu masyarakat.

Selain itu, Tampubolon (2008:227) juga mengatakan bahwa, kebiasaan berkaitan dengan minat, dan merupakan perpaduan antara keinginan dan kemauan yang

berkembang jika ada motivasi. Jadi, kebiasaan dapat tumbuh jika dari kecil sudah tertanam dalam dirinya bahwa membaca itu sangatlah penting. Untuk masuk dalam jenjang pendidikan sekolah pun, anak dituntut untuk bisa membaca. Maka untuk itu, menumbuhkan kebiasaan membaca sejak kecil adalah hal yang baik untuk dibiasakan. Dengan pembahasan yang demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa jika kebiasaan membaca siswa baik, maka tingkat pemahaman akan suatu bacaan pun juga akan semakin baik.

4.1.2 Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

Kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat dilihat dari hasil tes soal pilihan ganda yang diberikan kepada siswa. Nilai yang didapat yaitu, tertingi dengan nilai 92 dan nilai terendah 68. Di SMA 1 Turi, KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Bahasa Indonesia kelas X yaitu sebesar 70. Mengigat nilai terendah siswa yaitu sebesar 68, ada beberapa siswa yang belum memenuhi KKM. Dengan menggunakan analisis tendensi sentral diperoleh nilai mean sebesar 20,75, median sebesar 21,00 dan modus sebesar 20. Pengelompokan nilai skor mentah kemampuan membaca pemahaman siswa dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut.

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Kemampuan Membaca Pemahaman

Berdasarkan tabel di atas, pada interval 0-10 terdapat 0 siswa dengan persentase sebesar 0%, pada interval 6-10 terdapat 0 siswa dengan persentase sebesar 0%, pada interval 11-15 terdapat 0 siswa dengan persentase sebesar 0%, selanjutnya, pada interval 16-20 terdapat 72 siswa dengan persentase 59%, dan yang terakhir pada interval 21-25 yaitu 50 siswa dengan persentase 41%. Distribusi frekuensi skor kemampuan membaca pemahaman siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat digambarkan dalam bentuk histogram sebagai berikut.

0% 0%

59%

41%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

0-10 Nov-18 16-20 21-25

Pemahaman

No Interval Frekuensi Persentase

1 0-10 0 0%

2 11-15 0 0%

3 16-20 72 59%

4 21-25 50 41%

Jumlah 51 100%

Diagram 4.2 Kemampuan Membaca Pemahaman

Menurut Sudijiono (2006:176) tingkat pemahaman bacaan dapat diukur. Cara mengukur tingkat pemahaman dengan menggunakan rumus patokan pengukuran tingkatan sebagai berikut.

a. Kategori tinggi > (M+1SD)

b. Kategori sedang antara (M-1SD) sampai (M+1SD) c. Kategori rendah < (M-1SD

Keterangan:

M : Nilai rata-rata ideal yang besarnya diperoleh dari (skor tertinggi + skor terendah)

SD : Standar Deviasi

Dengan rumus di atas, tingkat pemahaman bacaan siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat dihitung sebagai berikut.

Tabel 4.4

Distribusi Tingkat Pemahaman Bacaan

Kategori Interval Frekuensi Persentase

Tinggi 18-25 118 96,70%

Sedang 9-17 4 3,30%

Rendah 0-8 0 0%

Jumlah 122 100%

Berdasarkan hasil dari perhitungan tabel di atas, dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman bacaan siswa dengan kategori tinggi sebanyak 118 siswa dengan

persentase 96,70%, kategori sedang terdapat 4 siswa dengan persentase 3,30% , dan dengan kategori rendah terdapat 0 siswa dengan persentase 0%. Dari hasil yang telah diperoleh tersebut, tingkat pemahaman bacaan siswa kelas X SMA N 1 Turi termasuk ke dalam kategori tinggi.

Menurut Barrett (dalam Zuchdi, 2008:99) membaca pemahaman terdapat empat tingkatan, yaitu (a) literal, (b) inferensial, (c) evaluatif, dan (d) apresiasi.

Berdasarkan tingkatan yang telah dikemukankan tersebut maka, dari hasil yang telah diperoleh dapat dilihat hasilnya satu per satu sebagai berikut.

a) Pemahaman Literal

Berdasarkan tingkatan yang dikemukakan oleh Barrett (dalam Zuchdi, 2008:99) tingkat pemahaman yang pertama yaitu pemahaman literal. Dari soal yang telah diujikan dapat diketahui skor dari pemahaman literal siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman dapat dilihat pada tebel 5 sebagai berikut.

Tabel 4.5

Hasil Skor Pemahaman Literal Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

No Nomor Soal Skor

1 1 100

2 4 78

3 6 113

4 21 118

Berdasakan hasil skor pemahaman literal pada tabel 5 di atas, yang diperoleh dari masing-masing soal mengenai pemahaman literal. Dari hasil skor pemahaman literal nomor soal 1 dari seluruh siswa terdapat 100 skor siswa yang menjawab benar.

Hasil skor pemahaman literal pada nomor soal 4 jumlah skornya sebesar 78.

Selanjutnya, hasil skor pemahaman literal soal nomor 6 yaitu sebanyak 113 skor, dan untuk hasil skor pemahaman literal yang terakhir pada nomor soal 21, jumlah skornya sebanyak 118 skor. Dari hasil tersebut, dapat dilihat distribusi frekuensinya sebagai berikut.

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Pemahaman Literal Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 122-92 Sangat Tinggi 40 32,80%

2 91-61 Tinggi 67 54,90%

3 60-30 Sedang 15 12,30%

4 29-0 Rendah 0 0%

Jumlah 122 100%

Berdasarkan hasil dari perhitungan tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman literal siswa dengan kategori sangat tinggi sebanyak 40 siswa dengan persentase 32,80%, kategori tinggi terdapat 67 siswa dengan persentase 54,90%, untuk kategori sedang terdapat 15 siswa dengan persentase 12,30% dan dengan kategori rendah terdapat 0 siswa dengan persentase 0%. Dari hasil yang telah diperoleh tersebut, tingkat pemahaman literal siswa kelas X SMA N 1 Turi termasuk ke dalam kategori yang tinggi. Distribusi frekuensi skor pemahaman literal siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut.

Diagram 4.3 Pemahaman Literal Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

b) Pemahaman Inferensial

Tingkatan kedua yang dikemukakan oleh Barrett (dalam Zuchdi, 2008:99) yaitu pemahaman inferensial. Dari soal yang telah diujikan dapat diketahui skor dari pemahaman inferensial siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman dapat dilihat pada tebel 7 sebagai berikut.

Tabel 4.7

Hasil Skor Pemahaman Inferensial Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

33%

55%

12%

Diagram Pemahaman Literal Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

No Nomor Soal Skor

1 3 109

2 9 119

3 10 67

4 12 70

5 16 110

6 18 87

7 19 108

8 23 111

9 24 93

Dari skor yang diperoleh dari masing-masing soal mengenai pemahaman inferensial di atas, terdapat 9 soal mengenai pemahaman inferensial. Sembilan soal tersebut terdapat hasil skor jawaban sebagai berikut. Dari tabel 7 di atas, diketahui hasil skor pada soal nomor 3 berjumlah 109 skor jumlah jawaban benar. Pada hasil skor pemahaman inferensial soal nomor 9 berjumlah 119 skor jawaban yang benar.

Hasil skor pemahaman inferensial soal nomor 10, berjumlah 67 skor. Hasil skor pemahaman inferensial soal nomor 12 berjumlah 70 skor. Hasil skor pemahaman inferensial soal nomor 16 berjumlah 110 skor. Hasil pemahaman inferensial soal nomor 18 berjumlah 87 skor. Hasil skor pemahaman inferensial soal nomor 19, 23, dan 24 masing-masing soal tersebut, mendapatkan jumlah skor sebanyak 108, 111, dan 93 skor jawaban yang benar. Dari hasil skor tersebut, dapat dilihat distribusi frekuensinya sebagai berikut.

Tabel 4.8

Pemahaman Inferensial Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 51 - 41 Sangat Tinggi 45 36,90%

2 39 - 29 Tinggi 68 55,73%

3 28 - 18 Sedang 7 5,73%

4 17 - 0 Rendah 2 1,63%

Jumlah 122 100%

Berdasarkan hasil dari perhitungan tabel 8 di atas, dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman inferensial siswa dengan kategori sangat tinggi sebanyak 45

siswa dengan persentase 36,90%, kategori tinggi terdapat 68 siswa dengan persentase 55,73%, untuk kategori sedang terdapat 7 siswa dengan persentase 5,73% dan dengan kategori rendah terdapat 2 siswa dengan persentase 1,63%. Dari hasil yang telah diperoleh tersebut, tingkat pemahaman inferensial siswa kelas X SMA N 1 Turi termasuk ke dalam kategori yang tinggi. Distribusi frekuensi skor pemahaman inferensial siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut

Diagram 4.4 Pemahaman Inferensial Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

c) Pemahaman Evaluatif

Tingkatan yang ketiga yang dikemukakan oleh Barrett (dalam Zuchdi, 2008:99) yaitu pemahaman evaluatif. Dari soal yang telah diujikan dapat diketahui skor dari pemahaman evaluatif siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman dapat dilihat pada tebel 9 sebagai berikut.

Sangat Tinggi 11,80%

Tinggi 68,60%

0%

Rendah 19,60%

Diagram Pemahaman Inferensial

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

Tabel 4.9

Hasil Skor SoalPemahaman Evaluatif Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

No Nomor Soal Skor

1 2 89

2 8 80

3 11 88

4 13 105

5 17 111

6 20 81

7 22 88

Dari skor yang diperoleh dari masing-masing soal mengenai pemahaman evaluatif di atas, terdapat 7 soal mengenai pemahaman evaluatif. Ketujuh soal pemahaman evaluatif tersebut dapat dilihat bahwa soal nomor 2 berjumlah 89 skor benar. Hasil pemahaman evaluatif soal nomor 8 berjumlah 80 skor jawaban benar.

Hasil pemahaman evaluatif soal nomor 11 berjumlah 88 skor benar. Pada pemahaman evaluatif soal nomor 17, berjumlah 111 skor jawaban benar. Selanjutnya, hasil pemahaman evaluatif soal nomor 20, berjumlah 81 skor jawaban benar. Dan yang terakhir hasil pemahaman evaluatif soal nomor 22, berjumlah 88 skor jawaban benar.

Dari hasil uraian di atas, dapat dilihat distribusi frekuensinya sebagai berikut.

Tabel 4.10

Pemahaman Evaluatif Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 51 – 41 Sangat Tinggi 4 7,84%

2 39 – 29 Tinggi 31 60,80%

3 28 – 18 Sedang 12 23,52%

4 17 - 0 Rendah 4 7,84%

Jumlah 51 100%

Berdasarkan hasil dari perhitungan tabel 10 di atas, dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman evaluatif siswa dengan kategori sangat tinggi sebanyak 4 siswa dengan persentase 7,84%, kategori tinggi terdapat 31 siswa dengan persentase 60,80%, untuk kategori sedang terdapat 12 siswa dengan persentase 23,52% dan dengan kategori rendah terdapat 4 siswa dengan persentase 7,84%. Dari hasil yang telah diperoleh tersebut, tingkat pemahaman evaluatif siswa kelas X SMA N 1 Turi termasuk ke dalam kategori yang tinggi. Distribusi frekuensi skor pemahaman evaluatif siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut.

Diagram 4.5 Pemahaman Evaluatif Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

d) Pemahaman Apresiasi

Tingkatan yang keempat yang dikemukakan oleh Barrett (dalam Zuchdi, 2008:99) yaitu pemahaman apresiasi. Dari soal yang telah diujikan dapat diketahui skor dari pemahaman apresiasi siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman dapat dilihat pada tebel 11 sebagai berikut.

Tabel 4.11

Hasil Skor SoalPemahaman Apresiasi Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

No Nomor Soal Skor

1 5 100

2 7 111

3 14 82

4 15 91

5 25 120

7,84%

60,80%

23,52%

7,84%

Diagram Pemahaman Evalutif

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

Dari skor yang diperoleh dari masing-masing soal mengenai pemahaman apresiasi di atas, terdapat 5 soal mengenai pemahaman apresiasi. Kelima soal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Hasil skor pemahaman apresiasi soal nomor 5, berjumlah 100 skor. Hasil pemahaman apresiasi soal nomor 7, berjumlah 111 skor jawaban benar. Selanjutnya, hasil pemahaman apresiasi soal nomor 14, berjumlah 82 skor jawaban benar. Pada pemahaman apresiasi soal nomor 15, berjumlah 91 skor jawaban benar. Hasil skor pemahaman apresiasi yang terakhir pada soal nomor 25, memperoleh skor 120 jawaban benar. Dari hasil uraian di atas, dapat dilihat distribusi frekuensinya sebagai berikut.

Tabel 4.12

Pemahaman Apresiasi Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 51 - 41 Sangat Tinggi 44 86,30%

2 39 - 29 Tinggi 7 13,70%

3 28 - 18 Sedang 0 0%

4 17 - 0 Rendah 0 0%

Jumlah 51 100%

Berdasarkan hasil dari perhitungan tabel 12 di atas, dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman apresiasi siswa dengan kategori sangat tinggi sebanyak 44 siswa dengan persentase 86,30%, kategori tinggi terdapat 7 siswa dengan persentase 13,70%, untuk kategori sedang terdapat 0 siswa dengan persentase 0% dan dengan kategori rendah terdapat 0 siswa dengan persentase 0%. Dari hasil yang telah

diperoleh tersebut, tingkat pemahaman apresiasi siswa kelas X SMA N 1 Turi termasuk dalam kategori sangat tinggi. Distribusi frekuensi skor pemahaman Apresaisi siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut.

Diagram 4.6 Pemahaman Apresiasi Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, kemampuan membaca pemahaman siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman tergolong dalam kategori tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil yang diperoleh, yaitu pada interval 18-25 dengan frekuensi siswa sebanyak 49 siswa, dengan persentase sebesar 96,08%. Pada kategori lainya, yaitu kategori sedang berada pada interval 9-17 dengan frekuensi siswa sebanyak 2 siswa, dengan persentase sebesar 3,92%. Pada kategori rendah persentasenya sebesar 0%. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa, siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman tingkat membaca pemahamanya tergolong dalam kategori tinggi.

86,30%

13,70% 0% 0%

Diagram Pemahaman Apresiasi

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

Kemampuan membaca pemahaman terdapat empat tingkatan yaitu pemahaman literal, pemahaman inferensial, pemahaman evaluatif, dan pemahaman apresiasi. Keempat tingkatan tersebut, telah dihitung masing-masing sesuai tingkatannya. Pada pemahaman literal, kategori sangat tinggi pada invterval 51-41 dengan persentase 0%, berarti tingkat pemahaman siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman tidak termasuk dalam kategori sangat tinggi. Selanjutnya pada interval 39-29 sebanyak 30 siswa dengan persentase sebesar 58,80% termasuk pada kategori tinggi.

Pada interval 28-18 sebanyak 18 siswa dengan persentase sebesar 35,30% termasuk pada kategori sedang. Terakhir, pada interval 17-0 sebanyak 3 siswa, dengan persentase sebesar 5,90% termasuk dalam kategori rendah. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa, tingkat pemahaman literal siswa kelas X SMA N 1 Turi Sleman termasuk dalam kategori tinggi.

Tingkatan kedua yaitu pemahaman inferensial, dari hasil yang diperoleh, pada interval 51-41 sebanyak 6 siswa dengan persentase sebesar 11,80% termasuk dalam ketegori sangat tinggi. Pada interval 39-29 sebanyak 35 siswa dengan persentase sebesar 68,60% termasuk dalam kategori tinggi. Selanjutnya, pada interval 28-18 persentasenya sebesar 0% yang artinya pemahaman inferensial siswa kelas X SMA N 1 Turi tidak termasuk dalam Kategori Sedang. Terakhir, pada interval 17-0 terdapat sebanyak 10 siswa dengan persentase sebesar 19,60% berada pada kategori rendah.

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa pemahaman inferensial siswa kelas X SMA N 1 Turi berada pada kategori tinggi.

Tingkatan ketiga yaitu pemahaman evaluatif, dari hasil yang telah diperoleh, pada interval 51-41 sebanyak 4 siswa dengan persentase sebesar 7,84% termasuk dalam ketegori sangat tinggi. Pada interval 39-29 sebanyak 31 siswa dengan persentase sebesar 60,80% termasuk dalam kategori tinggi. Selanjutnya, pada interval 28-18 sebanyak 12 siswa dengan persentasenya sebesar 23,52% termasuk dalam kategori sedang. Terakhir, pada interval 17-0 terdapat sebanyak 4 siswa dengan persentase sebesar 7,84% berada pada kategori rendah. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa pemahaman evaluatif siswa kelas X SMA N 1 Turi berada pada kategori tinggi.

Tingkat pemahaman yang terakhir adalah pemahaman apresiasi. Pada interval 51-41 sebanyak 44 siswa dengan persentase sebesar 86,30% termasuk dalam ketegori sangat tinggi. Pada interval 39-29 sebanyak 7 siswa dengan persentase sebesar 13,70% termasuk dalam kategori tinggi. Selanjutnya, pada interval 28-18 dan interval 17-0 persentasenya sebesar 0% yang artinya pemahaman apresiasi siswa kelas X SMA N 1 Turi tidak termasuk dalam kategori sedang ataupun rendah. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa pemahaman apresiasi siswa kelas X SMA N 1 Turi berada pada kategori sangat tinggi.

Dari hasil pembahasan dan perhitungan yang telah diuraikan di atas, sejalan dengan teori yang dikemukan oleh Tarigan (2008:37) bahwa kemampuan membaca dapat diartikan sebagai kemampuan dalam memahami bahan bacaan.kemampuan membaca sangat kompleks dan bukan hanya kemampuan teknik membacanya saja tetapi juga kemampuan dalam pemahaman dan interpretasi isi bacaan. Dalam

membaca pemahamn banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor fisik, faktor intelegensi, faktor lingkungan dan faktor psikologis. Selain faktor tersebut, biasanya siswa cenderung memilih bacaan yang mudah dan gampang untuk dipahami. Ketika siswa dihadapkan dengan bacaan yang rumit dan perlu pemahaman yang lebih tinggi, biasanya siswa malas untuk membacanya. Maka dari itu, bahan bacaan juga merupakan faktor penting dalam kemampuan membaca siswa. Dengan pembahasan yang demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa jika kebiasaan membaca siswa baik, maka tingkat pemahaman akan suatu bacaan pun juga akan semakin baik.

4.1.3 Korelasi antara Kebiasan Siswa dalam Membaca Teks Ilmu Pengetahuan di Media Online dan Buku Pelajaran dengan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas X SMA N 1 Turi Sleman

Sesuai dengan kerangka berpikir yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, hubungan antara kebiasaan membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran terhadap kemampuan membaca siswa kelas X SMA N 1 Turi. Maka dari itu, data hasil penelitian ini dianalisis untuk memenuhi tujuan tersebut. Analisis data dilakukan dengan analisis korelasi. Analisis korelasi antara kebiasaan membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran terhadap kemampuan membaca siswa kelas X SMA N 1 Turi. Untuk mengetahui korelasi antara kebiasaan membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran dengan kemampuan membaca siswa kelas X SMA N 1 Turi dan telah dihitung datanya dengan menggunakan perhitungan dan analisis

statistik dengan bantuan program komputer SPSS 23, dalam penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan siswa dalam membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran dengan kemampuan membaca siswa kelas X SMA N 1 Turi.

Tabel 4.13

Korelasi Antara Kebiasaan Membaca Teks Ilmu Pengetahuan di Media Online dan Buku Pelajaran terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas X

SMA N 1 Turi Sleman

Correlations

KEBIASAAN PEMAHAMAN

KEBIASAAN Pearson Correlation 1 .313**

Sig. (2-tailed) .000

N 122 122

PEMAHAMAN Pearson Correlation .313** 1

Sig. (2-tailed) .000

N 122 122

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Dari hasil yang telah diketahui tersebut, dapat diketahui bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara kebiasaan membaca teks ilmu pengetahuan di media online dan buku pelajaran dengan kemampuan membaca siswa kelas X SMA N 1 Turi dapat diterima. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil analisis korelasi product moment yang dihitung dengan bantuan program komputer yaitu SPSS 23.

Dari hasil yang telah diperoleh yaitu sebesar 0,313 dengan signifikansi pada taraf

koefisien 5% (0,195). Dengan melihat df= n- 2 = 100 pada tabel r product moment dan membacanya ke arah kanan dalam kolom taraf signifikansi 5%, maka ditemukan bilangan 0,195, bilangan ini menunjukkan bilangan batas signifikansi. Maka dari itu, dengan nilai r yang telah diperoleh yaitu sebesar 0,313 berada di atas bilangan batas

koefisien 5% (0,195). Dengan melihat df= n- 2 = 100 pada tabel r product moment dan membacanya ke arah kanan dalam kolom taraf signifikansi 5%, maka ditemukan bilangan 0,195, bilangan ini menunjukkan bilangan batas signifikansi. Maka dari itu, dengan nilai r yang telah diperoleh yaitu sebesar 0,313 berada di atas bilangan batas

Dokumen terkait