• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas Laba

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

C. PENGUJIAN HIPOTESIS 1 Pengujian goodness of fit

Ketepatan fungsi regresi suatu sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fit (Ghozali, 2009). Hasil statistik untuk pengujian kelayakan model dijabarkan dalam tabel berikut:

Tabel 10

Pengujian kelayakan model regresi

R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

.697(a) .486 .464 ,076

Sumber: Data sekunder yang diolah.

Penentuan kelayakan model dapat dilihat dari koefisien determinansi (R2). Koefisien determinasi merupakan ukuran kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Akan tetapi penggunaan koefisien determinasi dapat menimbulkan bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Oleh karena itu para peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted R2 pada saat mengevaluasi model regresi (Ghozali, 2009). Nilai

adjusted R2 pada tabel 10 di atas adalah 0,464. Hal ini berarti 46,4% variasi

discretionary accruals dapat dijelaskan oleh variasi dari t variabel komisaris

commit to user

independen dan nilai selisih mutlak antara komisaris independen dengan kompetensi komisaris independen. Sisanya sebesar 53,6% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian.

Standar error of estimate (SEE) bernilai kecil yaitu sebesar 0,076.

Semakin kecil nilai SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel independen (Ghozali, 2009).

C.2 Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis 1,2,3 dan 4 dilakukan menggunakan metode regresi berganda yang diperluas dengan teknik uji nilai selisih mutlak untuk mendeteksi adanya moderasi kompetensi komisaris independen terhadap hubungan komisaris independen dan discretionary accruals. Hasil perhitungan statistik untuk uji hipotesis adalah sebagai berikut:

Tabel 11

Hasil uji signifikansi partial (Uji t)

Variabel Nilai Beta Nilai t Signifikansi

Komind -.456 -7.513 .000

Expert .001 .674 .502

Komsize .004 1.127 .262

Kompeten -.111 -3.992 .000

Selisih mutlak .408 8.435 .000

Sumber: Data sekunder yang diolah.

Hasil pengolahan data secara statistik pada tabel 11 di atas menunjukkan bahwa variabel komisaris independen dan kompetensi komisaris independen berpengaruh negatif terhadap discretionary accruals dengan nilai koefisien masing-masing sebesar (0,456) dan (0,111). Artinya setiap ada penambahan proporsi komisaris independen dan kompetensi sebesar 1% akan menurunkan

commit to user

nilai discretionary accruals sebesar 0,456 dan 0,111. Dengan demikian H1

diterima. Hasil statistik untuk variabel pengalaman dan ukuran komisaris tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap nilai discretionary accruals sehingga H2

dan H3 tidak mendapatkan dukungan bukti empiris.

Hasil perhitungan nilai selisih mutlak untuk mendeteksi adanya moderasi kompetensi komisaris independen terhadap hubungan komisaris independen dengan discretionary accruals menunjukkan nilai koefisien beta sebesar 0,408 dengan tingkat signifikansi 0,000. Menurut Ghozali (2009), suatu variabel dikatakan memoderasi hubungan variabel yang satu dengan lainnya jika hasil pengujian nilai selisih mutlak menunjukkan hasil signifikan < 0,05. Pada tabel 11, hasil perhitungan nilai selisih mutlak menunjukkan nilai koefisien beta sebesar 0,408 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hal ini dapat diartikan bahwa variabel kompetensi komisaris independen memoderasi hubungan antara komisaris independen dengan discretionary accruals sehingga H4 diterima. Jika proporsi tinggi komisaris independen berinteraksi dengan proporsi rendah kompetensi komisaris independen atau sebaliknya akan menyebabkan perbedaan nilai absolut yang besar sehingga berpengaruh terhadap discretionary accruals. Nilai koefisien beta 0,408 dapat diartikan bahwa setiap perubahan nilai absolut sebesar 1% akan menyebabkan perubahan discretionary accruals sebesar 0,408. Moderasi ini memberikan pengaruh positif signifikan terhadap discretionary accruals. Interaksi antara nilai ekstrim antar persentase komisaris independen dengan persentase kompetensi komisaris independen akan memberikan kenaikan signifikan terhadap discretionary accruals. Untuk meminimalkan kenaikan nilai

commit to user

discretionary accruals maka dapat dipilih kombinasi nilai yang hampir sama atau

sama besar antara persentase komisaris independen dengan persentase komisaris independen yang mempunyai kompetensi akuntansi atau keuangan.

D. PEMBAHASAN

Hasil penelitian empiris pada tabel 11 menyatakan bahwa nilai

discretionary accruals dipengaruhi secara signifikan oleh keberadaan komisaris

independen. Pengaruh negatif yang diperlihatkan dari hasil analisis data menunjukkan bahwa peningkatan proporsi komisaris independen terhadap total anggota komisaris secara keseluruhan akan menurunkan nilai discretionary

accruals. Penurunan discretionary accruals memberikan sinyal adanya

penurunan praktik manajemen laba, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan perusahaan. Hasil penelitian ini memberikan dukungan terhadap hasil penelitian Dechow et al. (1995), Ebrahim (2007), Mashayekhi (2008), Klein (2002), Xie et al. (2003), Peasnel et al. (2003), Jaggi

et al. (2009), Johari et al. (2008) dan Niu (2006). Selain itu hasil penelitian ini

konsisten dengan penemuan Beasley (1996) dan Uzun et al (2004) mengenai adanya penurunan tindakan fraud yang dilakukan manajemen pada perusahaan dengan jumlah komisaris independen banyak.

Hasil penelitian empiris ini menegaskan bahwa keberadaan komisaris independen dalam jajaran anggota dewan komisaris dapat meningkatkan keefektifan fungsi pengawasan terutama pada saat proses penyusunan laporan keuangan. Proses pengawasan yang efektif ini mampu membatasi keinginan pihak manajemen untuk melakukan praktik-praktik manipulasi accruals,

commit to user

misalnya dalam bentuk manajemen laba. Seiring dengan menurunnya praktik-praktik manipulasi accruals maka kualitas laba yang dilaporkan perusahaan juga akan semakin baik. Penemuan penelitian ini sejalan dengan teori keagenan Jensen dan Meckling (1976) maupun Fama dan Jensen (1983) yang menyatakan bahwa tingkat independensi anggota komisaris yang tinggi akan memperlihatkan kinerja pengawasan yang lebih baik. Namun begitu hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penemuan Park dan Shin (2004) yaitu komisaris independen tidak mampu menurunkan tingkat abnormal accruals yang mengindikasikan manajemen laba maupun Ismail et al. (2010) dan Hasim (2009) yang tidak berhasil menemukan hubungan apapun antara discretionary accruals dengan komisaris independen.

Untuk penelitian yang dilakukan di Indonesia, hasil ini mendukung bukti yang diperoleh Ujiantho dan Pramuka (2007), namun bertolak belakang dengan hasil penelitian Siallagan dan machfoedz (2006) dan Fitriannasari (2010). Selain itu, hasil ini juga tidak konsisten dengan temuan Sefiana (2010), Sriwedari (2009), dan Rachmawati dan Triatmoko (2007). Perbedaan hasil penelitian ini kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan sampel yang dipergunakan maupun pengukuran operasional variabel yang dipergunakan. Sampel penelitian yang dipergunakan oleh Ismail et al. (2010) maupun Hasim (2009) adalah perusahaan yang terdaftar di bursa efek Malaysia dengan data perusahaan berupa

time series. Selain faktor sampel yang berbeda, perbedaan hasil dengan para

peneliti di Indonesia juga dapat disebabkan karena perbedaan model yang dipergunakan dalam penelitian.

commit to user

Pengalaman kerja yang dimiliki seorang anggota dewan komisaris berpengaruh terhadap kemampuannya dalam mengawasi tindakan manajemen perusahaan. Semakin lama masa jabatan anggota dewan komisaris menyebabkan peningkatan pengalaman kerja yang dimiliknya sehingga lebih efektif dalam melakukan pengawasan terhadap tindakan-tindakan manajemen perusahaan. Penemuan ini berbeda dengan hasil penelitian Beasley (1996) maupun Hasim (2009) yang mengungkapkan bukti pengaruh signifikan pengalaman kerja dengan manajemen laba. Penyebab perbedaan ini kemungkinan adalah perbedaan pengukuran variabel. Pada penelitian ini pengalaman merujuk pada lama jabatan yang dimiliki oleh rata-rata anggota dewan komisaris secara keseluruhan tanpa memandang faktor independen maupun insider boards of commissioner. Bukti empiris ini juga tidak konsisten dengan pernyataan Bedard et al. (2004) dan Beasley (1996) yang menyatakan bahwa peningkatan pengalaman menyebabkan seorang komisaris mempunyai pemahaman yang memadai mengenai kegiatan operasi perusahaan beserta manajemen perusahaan sehingga dapat melakukan proses pengawasan dengan lebih efektif. Selain permasalahan sampel, faktor karakteristik komisaris yang berbeda juga dapat menimbulkan perbedaan hasil penelitian. Sebagian besar anggota komisaris non independen untuk perusahaan di Indonesia bersifat affiliated dengan pemilik maupun perusahaan sehingga kedudukannya sebagai anggota dewan komisaris hanya bersifat formalitas untuk mentaati ketentuan yang berlaku (Maksum, 2005). Proses koordinasi dan komunikasi yang seyogyanya digunakan untuk melancarkan tugas-tugas pengawasan juga tidak dapat berfungsi secara optimal. Pada sebagian perusahaan

commit to user

yang terdaftar di BEI, anggota dewan komisaris juga merangkap sebagai anggota komite audit. Dengan demikian hasil penelitian ini dapat dikaitkan dengan penelitian Abdul Rahman dan Mohamed Ali (2006) yang juga tidak berhasil mengungkapkan pengaruh signifikan antara pengalaman anggota komite audit dengan aktivitas manajemen laba.

Bukti penelitian mengenai ukuran dewan komisaris yang dimiliki perusahaan juga tidak berhasil mengungkapkan bukti pengaruh yang signifikan terhadap nilai discretionary accruals. Jumlah dewan komisaris yang besar ataupun sebaliknya tidak terbukti mempengaruhi nilai discretionary accruals. Hasil penelitian empiris ini tidak mendukung bukti yang ditemukan oleh Ismail et al. (2010), Pujiastuti (2010) dan Ujiantho dan Pramuka (2007) yang menemukan bukti bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas laba. Hasil yang berbeda, khususnya dengan para peneliti di Indonesia kemungkinan disebabkan adanya perbedaan model deteksi manipulasi accruals

dan penggunaan sampel. Penelitian Pujiastuti menggunakan working capital

accruals sebagai deteksi manipulasi accruals, sedangkan penelitian ini

mempergunakan model modified Jones oleh Dehow et al. (1995). Namun begitu bukti penelitian ini sejalan dengan bukti penelitian yang ditemukan oleh Sefiana (2010).

Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab ukuran komisaris tidak berpengaruh terhadap nilai discretionary accruals karena sebagian besar perusahaan yang terdaftar di BEI mempunyai struktur kepemilikan terkonsentrasi di tangan keluarga (Claessens, 2002; Husnan, 2001) sehingga kemungkinan

commit to user

adanya anggota komisaris yang terafiliasi dengan pihak manajemen sangat terbuka lebar. Hal ini menyebabkan berapapun jumlah anggota komisaris yang dimiliki perusahaan tidak berpengaruh terhadap discretionary accruals.

Hasil pengujian terhadap kompetensi secara partial menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap discretionary accruals. Artinya peningkatan jumlah anggota komisaris independen yang mempunyai kompetensi di bidang akuntansi atau keuangan menyebabkan penurunan nilai discretionary accruals. Penelitian ini juga berhasil mengungkapkan bukti adanya moderasi kompetensi komisaris independen terhadap hubungan komisaris independen dan nilai

discretionary accruals.

Jika persentase komisaris independen yang besar berinteraksi dengan persentase komisaris independen yang mempunyai kompentesi di bidang akuntansi atau keuangan yang kecil, maka akan menyebabkan peningkatan nilai

discretionary accruals yang signifikan. Dari hasil di atas dapat diketahui bahwa

kompetensi di bidang akuntansi atau keuangan menyebabkan seorang anggota komisaris mengetahui proses pembuatan laporan keuangan dengan lebih baik sehingga mempunyai kemampuan lebih baik dalam mendeteksi adanya manajemen laba jika dibandingkan dengan anggota dewan komisaris yang mempunyai keahlian di bidang lain. Jika kompetensi ini dimiliki oleh komisaris independen, maka keefektifan proses pengawasan terhadap tindakan manajemen, khususnya yang menyangkut tindakan manipulasi akan lebih optimal. Pada akhirnya, keberadaan komisaris independen yang mempunyai kompetensi di

commit to user

bidang akuntansi atau keuangan akan lebih berarti dalam upaya menurunkan nilai

discretionary accruals.

Hasil ini memperkuat hasil penelitian yang diperoleh Park dan Shin (2004) yang menemukan keberadaan financial intermediaries cenderung menurunkan discretionary accruals. Akan tetapi, bukti penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Johari et al. (2008) yang tidak berhasil menemukan bukti adanya moderasi kompetensi komisaris independen terhadap hubungan komisaris independen dengan discretionary accruals. Perbedaan ini dapat dikarenakan adanya perbedaan sampel dan model regresi moderasi yang dipergunakan dalam ke dua penelitian.

commit to user BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penelitian empiris yang telah dilakukan peneliti berhasil mengungkapkan bukti-bukti bahwa tidak semua mekanisme corporate governance berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas informasi keuangan, terutama informasi laba. Berdasarkan hasil penelitian ini, hanya komisaris independen yang berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai discretionary accruals. Akan tetapi penelitian ini tidak berhasil menemukan bukti pengaruh yang signifikan antara mekanisme corporate governance yang lain, yaitu pengalaman dan ukuran komisaris terhadap nilai discretionary accruals. Dengan demikian mekanisme

corporate governance yang paling berpengaruh terhadap peningkatan kualitas

laba adalah proporsi dewan komisaris. Proporsi komisaris independen yang semakin besar akan semakin mampu menurunkan nilai discretionary accruals

sehingga kualitas laba juga mengalami peningkatan.

Penelitian ini juga berhasil menemukan adanya moderasi dari mekanisme

corporate governance yaitu kompetensi komisaris independen di bidang

akuntansi atau keuangan terhadap hubungan antara komisaris independen dan

discretionary accruals. Interaksi antara persentase komisaris independen yang

kecil dengan persentase kompetensi komisaris independen yang besar menyebabkan penurunan nilai discretionary accruals yang signifikan. Hasil ini sekaligus menandakan bahwa komisaris independen yang mampu membatasi

commit to user

praktik manipulasi accruals adalah komisaris independen yang mempunyai kompetensi akuntansi atau keuangan.

B. KETERBATASAN

Penelitian ini telah mengungkap bukti pengaruh yang signifikan antara keberadaan komisaris indepedenden terhadap kualitas laba maupun moderasi kompetensi komisaris independen terhadap hubungan keberadaan komisaris dengan kualitas laba. Namun begitu penelitian ini mengandung beberapa kelemahan:

1. Data corporate governance yang digunakan dalam penelitian meliputi tahun 2008 dan 2009 sehingga perlu kehati-hatian di dalam menggeneralisasikan hasil-hasil penelitian ini untuk sampel yang berbeda.

2. Teknik pemilihan sampel tidak dapat dilakukan secara acak, melainkan dengan metode purposive sampling. Penyebabnya adalah ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan agar dapat menjadi sampel penelitian. Hal ini mengakibatkan hasil penelitian kemungkinan hanya relevan diaplikasikan untuk jenis perusahaan yang sesuai.

3. Penelitian empiris sebelumnya menyatakan bahwa mekanisme corporate

governance yang diterapkan di sebuah perusahaan harus mempertimbangkan

struktur kepemilikannya (Klein et al., 2002). Penelitian ini belum membedakan praktik corporate governance untuk jenis struktur kepemilikan yang berbeda karena tujuan utamanya adalah menguji pengaruh corporate

governance di perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia terhadap

commit to user

yang efektif akan berbeda-beda sesuai dengan karakteristik struktur kepemilikannya.

C. SARAN

Sebagai efek simultan, penelitian ini dapat diperbaiki untuk hal-hal sebagai berikut:

1. Sesuai pernyataan Klein et al. (2002) bahwa adopsi corporate governance di sebuah perusahaan sangat dipengaruhi oleh struktur kepemilikannya, maka penelitian selanjutnya dapat diperluas pada pengujian variabel struktur kepemilikan, khususnya kepemilikan terkonsentrasi yang banyak dimiliki oleh sebagian besar perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia (Husnan, 2001).

2. Agar hasil penelitian ini dapat diimplementasikan secara menyeluruh, penelitian dengan topik yang sama namun melibatkan sampel yang lebih besar perlu dilakukan.

3. Penelitian ini hanya menguji efek moderasi kompetensi komisaris independen dengan hubungan antara komisaris independen dan discretionary

accruals. Namun begitu, peran komisaris independen sangat tergantung juga

dengan anggota komisaris non independen. Penelitian mengenai pengaruh komisaris non independen beserta interaksinya dengan komisaris independen sangat relevan untuk dipelajari lebih lanjut.

D. IMPLIKASI

Penemuan penelitian mengenai komisaris independen mendukung pernyataan teori agency Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan bahwa

commit to user

tingkat independensi anggota komisaris yang tinggi akan memperlihatkan kinerja pengawasan yang lebih baik pula sehingga menciptakan kualitas laba yang tinggi. Adanya faktor kompetensi di bidang akuntansi atau keuangan dalam diri komisaris independen juga terbukti mampu meningkatkan keefektifan proses pengawasan yang dijalankan dewan komisaris sehingga mampu membatasi perilaku manipulasi accruals dalam bentuk manajemen laba. Hal ini konsisten dengan pernyataan Park dan Shin (2004) yaitu komisaris independen yang mempunyai keahlian akuntansi atau keuangan akan lebih mampu memahami proses penyusunan laporan keuangan sehingga dapat mendeteksi adanya praktik-praktik manipulasi bila dibandingkan dengan komisaris independen yang tidak mempunyai keahlian di bidang akuntansi atau keuangan.

Penelitian ini juga mendukung pernyataan Arifin (2005) bahwa penerapan mekanisme corporate governance mulai diperlukan untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sebagian besar mempunyai struktur kepemilikan terkonsentrasi. Namun begitu hanya mekanisme corporate governance tertentu seperti komisaris independen dan kompetensinya yang terbukti efektif meningkatkan kualitas laporan keuangan.

Bagi pemerintah dan praktisi perusahaan, hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan sebagai bahan masukan dalam mengembangkan petunjuk teknis mengenai praktik corporate governance di Indonesia.

Dokumen terkait