Kepala Desa
TABEL 3.24 Alat Penerang Responden
3.6. Pengujian Hipotesis
Setelah analisa tabel tunggal dan tabel silang dilakukan maka peneliti melakukan langkah selanjutnya, yakni pengujian hipotesa penelitian. Uji Hipotesa penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesa yang diajukan dalam penelitian dapat diterima atau ditolak.
Hipotesa ini meliputi variabel (X) yakni Pengalihan Fungsi Lahan dan variabel terikat (Y) tingkat kemiskinan masyarakat adat. Hipotesa tersebut adalah :
Ho : Tidak terdapat hubungan antara pengalihan fungsi lahan dengan tingkat kemiskinan masyarakat adat
Ha : Terdapat hubungan antara pengalihan fungsi lahan terhadap tingkat kemiskinan masyarakat adat
Langkah – langkah test hipotesis dikemukakan sebagai berikut:
1. Hipotesis diatas terdiri dari 2 variabel yang akan dihitung dan ditemukan makna hubungannya. Jika data lapangan menunjukkan hubungan kuat maka Ha diterima dan Ho ditolak atau sebaliknya
2. Yang menjadi variabel pengaruh (X) dalam penelitian ini adalah Pengalihan Fungsi Lahan dan yang menjadi variabel terpengaruh (Y) adalah tingkat kemiskinan masyarakat adat 3. Kalkulasi tingkat hubungan antara variabel X dan variabel Y menggunakan korelasi Rank
Spearman, dengan tahapan sebagai berikut :
rs =
∑ +∑ −∑�� √∑ ∑ Selanjutnya yang dicari adalah∑ =
�∑ =
�- ∑ �
T =
−∑ =
� −�–∑ �
=
–- (
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–++
–=
−- + + + + + +
+ + +
= - =
∑ = 33131,5
∑
�= =
� −�–∑ ��
–
- (
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–+
–)
–− + + + + + + + + +
+ + + + )
- =
∑ = 33512
Sehingga rs didapatkan rs = ∑ +∑ −∑�� √∑ ∑ rs = , + − , √ , rs = √ rs = rs = rs = 0,98
Untuk mengukur kuat lemahnya hubungan digunakan skala Guilford. Dalam hal ini r hasil = 0,98 berada pada skala >0,91 berarti hubungan sangat tinggi dan bisa di andalkan. Artinya
“Terdapat Hubungan antara Pengaruh Pengalihan Fungsi Lahan Dengan Tingkat
Kemiskinan Masyarakat Adat”.
Selanjutnya untuk mengukur tingkat signifikasi digunakan rumus Z sebagai berikut:
Zhitung = rs √ �−− Zhitung = 0,98 √ − ,− Zhitung = 0,98 √ − , Zhitung = 0,98 √ Zhitung =0,98 (42,6) Zhitung = 41,74
Untuk menguji apakah hipotesa dotolak atau diterima, nilai Zhitung dibandingkan dengan Ztabel. Nilai Z tabel untuk 74 responden adalah 1,289’. Dari nilai Ztabel tersebut bila
dibandingkan dengan Zhitung terlihat bahwa Zhitung > Ztabel (Zhitung= 41,74 dan Ztabel = 1,289).
Hal ini berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya dalam penelitian ini “Terdapat Hubungan Pengalihan Fungsi Lahan Terhadap Tingkat Kemiskinan Masyarakat Adat”
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Akumulasi data yang diperoleh telah disajikan, diuraikan serta dipaparkan pada bab – bab sebelumnya. Dari pemaparan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan sehubungan dengan pengaruh alih fungsi lahan terhadap tingkat kemiskinan masyarakat adat.
1. Terdapat korelasi yang signifikan antara Pengalihan Fungsi Lahan dengan Tingkat Kemiskinan Masyarakat Adat. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan Pengalihan Fungsi Lahan yang dilakukan PT TPL di Desa Pandumaan sudah jelas mempengaruhi pendapatan dan tingkat kemiskianan Masyarakat Adat Desa Pandumaan
2. Berdasarkan Skala Guilford dapat dinyatakan bahwa nilai korelasi menunjukkan hubungan sangat tinggi dan dapat diandalkan. Jadi dapat dikatakan bahwa kegiatan Pengalihan Fungsi Lahan mempunyai hubungan sangat tinggi dan bisa diandalkan.
3. Masyarakat Adat Desa Pandumaan adalah masyarakat yang menjungjung tinggi nilai –nilai kebudayaan leluhurnya. Masyarakat Desa Pandumaan lebih mementingkan jati diri mereka sebagai putra/ putri Humbang Hasundutan yang tidak akan melepaskan sedikitpun tanah mereka untuk orang asing. Hal ini terbukti dari penolakan mereka untuk menerima ganti rugi yang dilakukan TPL. Karena siapapun yang menerima bantuan tersebut akan dianggap sebagai orang asing yang menghianati kampung halamannya sendiri dan akan dikucilkan di desa sesuai aturan hukum adat yang ada di desa.
4. Konversi hutan memiliki pengaruh yang negatif dalam beberapa aspek kehidupan mas- syarakat Desa Pandumaan. konversi yang terjadi di desa tersebut mengakibatkan penurunan jumlah pendapatan yang meleset jauh. Konversi hutan tidak hanya menurunkan pendapatan dari tanaman kemenyan, melainkan dari tanaman – tanaman la in seperti kopi, padi, tomat dan sayur mayur yang sudah dirusak oleh binatang buas
yang keluar dari hutan akibat penebangan. Sudah jelas bahwa konversi hutan tersebut memiliki pengaruh yang negatif untuk masyarakat adat.
5. Sebelum terjadi konversi lahan Masyarakat Adat Desa Pandumaan adalah sebuah masyarakat yang tergolong miskin. Terlihat dari jumlah pendapatan, pola konsumsi dan berbagai karakteristik lainnya. Pasca terjadi konversi lahan sejak tahun 2009 terjadi pe-ningkatan kemiskinan didesa tersebut. Bahkan beberapa keluarga sering mengalami kelaparan. Masalah yang terjadi bukan hanya karena penurunan jumlah pendapatan yang diakibatkan oleh konversi hutan , tetapi harga barang – barang pokok yang cenderung mengalami kenaikan harga setiap tahun, biaya pendidikan anak yang semakin tinggi dan jumlah hasil panen mereka yang dijual kepasar sangat murah mengakibatkan masyarakat adat Desa Pandumaan yang tadinya miskin semakin miskin.
6. Kebijakan pemerintah tidak memiliki kontribusi yang baik untuk masyarakat. kebijakan yang dilakukan pemerintah semu dan tidak total. Kebijakan pemerintah pusat maupun daerah memberikan harapan palsu untuk masyarakat. Sampai saat ini masalah konversi hutan di Desa Pandumaan belum berakhir dengan solusi sudah hampir lima tahun. Dalam hal ini LSM,KSPPM dan lembaga – lembaga sosial lainnya terlihat lebih banyak berperan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat adat, baik melalui pemikiran mereka ataupun melalui materi. Banyak LSM yang menyoroti masalah kemenyan dan mempublikasikannya lebih global lagi, sehingga ini bukan hanya menjadi masalah nasiaonal, melainkan maslah internasional.
4.2 Saran
Setelah menyimpulkan temuan permasalahan dari penelitian yang telah dilakukan. maka akan diakhiri dengan penyajian saran, untuk menyikapi permasalahan tersebut.
1. Hendaknya masalah kepemilikan lahan dibicarakan dengan serius oleh pemerintah untuk mendapatkan solusi dan pemerintah lebih protektif terhadap masyarakat adat yang miskin dan membutuhkan bantuan. Pemerintah perlu mengadakan sosialisasi mengenai hukum – hukum tanah adat dan hukum – hukum tanah negara, sehingga pikiran masyarakat lebih luas lagi. Serta harapannya pemerintah tidak mengambil keuntungan pribadi dari masalah yang merugikan masyarakatnya sendiri. Apabila tujuan pemerintah melakukan konversi lahan dengan tujuan pembangunan nasio- nal, hutan kemenyan juga dapat dijadikan daerah wisata, yaitu sebagai hutan lin-dung yang luas.
2. Hendaknya TPL melakukan pendekatan yang terbuka kepada masyarakat dengan arti tidak terselubung dan membicarakan solusi dari masalah ini dengan tah lebih serius lagi. Ketika solusi sudah ditemukan, bicarakan kembali dengan mas yarakat. Sehingga masyarakat tidak merasa diabaikan dan dihargai. Masyarakat Pandumaan adalah masyarakat adat yang miskin dan tidak materialistik, sehingga masalah ini membutuhkan proses yang lama dan lebih bersifat kekeluargaan. 3. Hendaknya masyarakat Desa Pandumaan tidak terlalu tertutup dengan inovasi baru
yang datang ke kawasan mereka. Perubahan akan terus terjadi dalam aspek kehidu- pan. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti kemenyan tidak akan tumbuh lagi di Desa Pandumaan. Oleh sebab itu, masyarakat harus siap dengan perubahan yang terjadi dan mencari alternatif lain dalam mencukupi perekonomian keluarga. Saat ini masyarakat dituntut untuk kreatif tidak memandang apakah itu masyarakat kota, ataupun masyarakat desa.
4. Hendaknya para cendikiawan memberikan pemikiran mereka dalam masalah peng- alihan fungsi lahan ini. Karena permasalahan ini menyangkut banyak elemen. Bu-kan hanya terkait masalah ekonomi, melainBu-kan sosial, pertanian, hukum dan
buda-ya. Oleh sebab itu di perlukan pemikiran cendikiawan yang dengan sukarela me-nuangkan pemikirannya terlebih – lebih cendikiawan yang berasal dari Kabupaten Humbang Hasundutan.
BAB II