BAB III PROSEDUR PENGUJIAN KENDARAAN UMUM BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 4 TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 4 TAHUN
PENGATURAN TENTANG PENGUJIAN KENDARAAN UMUM
D. Pengujian Kendaraan Umum
Menurut PP. No. 55 Tahun 2012 Pengujian kendaraan bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau memeriksa bagian atau komponen Kendaraan Bermotor, Kereta Gandengan, dan Kereta Tempelan dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan layak jalan. 19
Pengujian kendaraan bermotor adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan persyaratan teknis dan pengujian ambang batas laik jalan, yang digunakan untuk penetapan dan pengesahan kelayakan jalan kendaraan bermotor. Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan berdasarkan sistem dan prosedur yang ditetapkan oleh ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang kendaraan dan pengemudi, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 63 Tahun 1993 tentang Ambang Batas Layak Jalan Kendaraan bermotor, dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 71 Tahun 1993 tentang pengujian Berkala Kendaraan Bermotor. Maksud dari diselenggarakannya pengujian kendaraan bermotor adalah untuk menjamin agar setiap kendaraan yang akan digunakan dijalan, selalu dan tetap memenuhi persyaratan teknis dan ketentuan ambang batas layak jalan. Dalam penjamin ini, pemilik kendaraan wajib menjaga kondisi teknis kendaraannya selama masa uji masih berlaku, dan untuk itu dapat dilakukan uji
19
petik layak jalan untuk mengetahui kelayakan jalan. Sedangkan tujuan dari pengujian kendaraan bermotor adalah untuk menjamin keselamatan pengemudi dan pemakai jalan, turut menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan pelayanan umum.
Pengujian kendaraan bermotor terdiri dari pengujian tipe dan pengujian berkala. Pengujian tipe (prototype) kendaraan bermotor diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan, yang diwajibkan bagi setiap kendaraan bermotor sebelum diproduksi, dirakit atau diimpor. Pengujian berkala kendaraan bermotor diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, yang diwajibkan bagi setiap kendaraan wajib uji secara berkala setiap 6(enam)bulan, dan pengujian berkala dilaksanakan berdasarkan hasil dari sertifikat uji tipe.
Pelaksanaan pengujian berkala ini diharuskan bagi kendaraan wajib uji sebagaimana ditetapkan dalam peraturan pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan pengemudi Pasal -148, yaitu meliputi jenis kendaraan mobil barang, mobil bus, kendaraan khusus, dan angkutan umum. Bagi kendaraan tidak umum (mobil pribadi) dan sepeda motor belum diwajibkan , hal ini tertuang dalam ketetapan Pasal-149 peraturan pemerintah tersebut di atas.
Penguji kendaraan bermotor adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh penjabat yang berwenang untuk dilaksanakan kegiatan pengujian kendaraan bermotor. Profesi pekerjaanseorang penguji telah ditetapkan menjadi jabatan fungsional penguji kendaraan bermotor berdasarkan ketentuan Keputusan Menteri Pendayagunaan
Apatur Negara No. 150/KEP/M.PAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional penguji kendaraan Bermotor dan Angka Kreditnya, serta Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No.KM.48 Tahun 2004 tentang petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Penguji KendaraanBermotor dan Angka Kreditnya.
Penguji kendaraan bermotor atau lebih dikenal masyarakat dari dahulu adalah apa yang dinamakan master kir, saat itu dikenal ada dua sebutan petugas , yaitu master kir (penguji) yang petugas menguji/memeriksa kendaraan di lapangan dan master kir penandatangan (penguji penandatangan) sebagai kepala dari seluruh master kir yang bertugas meluluskan kendaraan uji dan menandatangani buku uji. Dalam perkembangannya, untuk lebih meningkatkan keahlian dan kinerja penguji maka selanjutnya penguji kendaraan bermotor diklasifikasikan menjadi tiga kelompok penguji berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.301/KP.0091/DRJD/99 tanggal 28 Desember 1999 tentang Kreteria Kualifikasi Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, yaitu untuk membedakan penguji kendaraan bermotor berdasarkan persyaratan, wewenang, tingkat keahlian dan kualifikasinya, sebagai berikut:20 a. Pembantu Penguji, atau disebut penguji strata-1.
b. Penguji Tidak Dengan Wewenang penuh, atau disebut penguji strata-2
c. Penguji Dengan Wewenang penuh, atau disebut penguji strata-3, sebagai penguji yang berhak menentukan kelayakan jalan kendaraan bermotor dan mengesahkan hasil pengujiannya pada buku uji.
20
Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.301/KP.0091/DRJD/99 tanggal 28 Desember 1999 tentang Kreteria Kualifikasi Teknis Penguji Kendaraan Bermotor
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.1076/KP.108/DRJD/2005 tentang Kompetensi Penguji Kendaraan Bermotor dilakukan perubahan lagi mengenai pengelompokan jabatan penguji kendaraan bermotor berdasarkan persyaratan pendidikan dan latihan, pengalaman kerja, tingkat keterampilan dan keahlian, wewenang, serta berdasarkan jenjang pangkat/golongan ruang dari status kepegawaiannya,menjadi 4 (empat) kelompok jabatan yaitu penguji pelaksana pemula, penguji pelaksana Lanjutan, dan penguji penyelia.
Dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 71 tahun 1993 tentang Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor, disebutkan bahwa maksud dan tujuan pengujian kendaraan bermotor adalah sebagai berikut :
1. Memberikan jaminan keselamatan secara teknis terhadap penggunaan kendaraan bermotor di jalan.
2. Melestarikan lingkungan dari kemungkinan pencemaran yang diakibatkan oleh penggunaan kendaraan bermotor di jalan.
3. Memberikan pelayanan umum kepada masyarakat.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas maka di setiap unit Pengujian Kendaraan Bermotor yang dibentuk di seluruh kabupaten/kota di Indonesia diharuskan untuk melengkapi dan memiliki sarana dan prasarana, sumber daya manusia, dan sistem yang sama. Untuk itu maka disetiap unit pelayanan pengujian kendaraan bermotor, wajib dilengkapi dengan :
1. Harus memiliki fasilitas & alat uji 2. Teknologi yang digunakan harus tepat
3. Tenaga penguji yg memiliki kualifikasi/kompetensi 4. Dilakukan sesuai dengan prosedur
5. Hasil uji harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan 6. Fasilitas dan alat uji harus selalu dalam kondisi layak pakai 7. Alat uji harus dikalibrasi secara reguler
8. Fasilitas dan alat uji diupayakan sebanding dengan jumlah kendaraan yang di uji
Pasal 53 UU No. 22 Tahun 2009 menyebutkan bahwa Kegiatan pemeriksaan dan pengujian fisik Kendaraan Bermotor dilaksanakan oleh:
1. unit pelaksana pengujian pemerintah kabupaten/kota;
2. unit pelaksana agen tunggal pemegang merek yang mendapat izin dari Pemerintah; atau
3. unit pelaksana pengujian swasta yang mendapatkan izin dari Pemerintah. Pengujian berkala kendaraan bermotor di Kabupaten Karo telah berjalan sejak bulan Februari tahun 2010 dengan menggunakan Peraturan Daerah Kabupaten Karo nomor 4 tahun 2012 tentang Retribusi Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor sebagai dasar hukum dalam pelaksanaan serta 3 (tiga) orang tenaga penguji Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika yang mempunyai kompetensi Penguji Pelaksana sebanyak 2 (dua) orang dan Penguji Pelaksana Pemula sebanyak 1 (satu) orang.
Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan yang diselenggarakan dalam Pengujian Berkala
Kendaraan Bermotor demi terciptanya keselamatan dan keamanan jasa Lalu Lintas.
Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor diwajibkan untuk mobil penumpang umum, mobil bus, mobil barang, kereta gandengan dan kereta tempelan, yang meliputi kegiatan :21
a. Pemeriksaan dan Pengujian Fisik Kendaraan Bermotor; b. Pengesahan hasil uji.
Jangka waktu berlakunya Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor adalah 6 (enam) bulan. Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor di Kabupaten Karo dilaksanakan di Kantor Dinas Perhubungan Tanah Karo Bidang Keselamatan dengan sistem manual. Standar Operasional dan Prosedur Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor.22