• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Pengujian Prasyarat

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam gejala- gajala yang

diteliti mempunyai distribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini

menggunakan tes satu sampel Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis yang digunakan

dalam uji One Sample Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut:

Ho = Distribusi data mengikuti berdistribusi normal

H1 = Distribusi data mengikuti tidak berdistribusi normal

Adapun kriteria yang digunakan dalam uji One Sample

Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut (Ghozali, 2004:31):

Jika nilai dari Asymp Sig (2-tailed) > a, maka Ho diterima, sebaliknya

Jika nilai dari Asymp Sig (2-tailed) < a, maka Ho ditolak.

Untuk mempermudah perhitungan data dan untuk mendapatkan hasil

perhitungan yang lebih akurat maka perhitungan dilakukan terhadap

menggunakan program SPSS. Adapun nilai sig dari masing- masing variabel

dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 5.7

Hasil Perhitungan One Sample Kolmogorov-Smirnov Variabel Asymp

(2-tailed)

Keterangan Ho

Kesiapan mental kerja .087 P > a = 0,05 Ho diterima Praktek industri .381 P > a = 0,05 Ho diterima Bimbingan karir .287 P > a = 0,05 Ho diterima

Prestasi belajar .693 P > a = 0,05 Ho diterima Sumber : Data Primer yang diolah, Tahun 2006 (Lampiran hal 132)

Berdasarkan tabel tersebut di atas terlihat bahwa Asymp Sig (2-tailed)

dari masing- masing variabel bernilai lebih dari taraf signifikansi a = 0,05 atau

berlaku Asymp Sig (2-tailed) < a. Berdasarkan kriteria yang ada maka keempat

variabel yaitu, variabel kesiapan mental kerja, variabel praktek industri, variabel

bimbingan karir, dan variabel prestasi belajar berdistribusi normal.

2. Uji Linearitas

Uji linearitas dalam penelitian ini dilakukan terhadap menggunakan

analisis varians terhadap garis regresi yang diperoleh dari uji F. Harga F hitung

yang dihasilkan kemudian harga F tabel sebesar 3.95.

Adapun perumusan hipotesis adalah sebagai berikut:

Ho = Pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat linear

H1 = Pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat tidak linear

Untuk mempermudah perhitungan data dan untuk mendapatkan hasil

perhitungan yang lebih akurat maka perhitungan dilakukan terhadap

menggunakan program SPSS. Adapun nilai F hitung dari model pengaruh variabel

Praktek Industri, Bimbingan Karir, dan Prestasi Kerja Terhadap Kesiapan Mental

Kerja adalah sebesar 5,181 (Lampiran hal.130).

Dari hasil perhitungan terlihat bahwa harga F hitung dari model regresi

linear bernilai lebih dari F tabel. Berdasarkan kriteria yang ada maka ketiga

variabel bebas yaitu, variabel praktek ind ustri, bimbingan karir, dan prestasi

belajar secara serentak memiliki pengaruh linear terhadap variabel terikat

3. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi

terjadi ketidaksamaan variance dari satu residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda

disebut Heteroskedastisitas. Uji Heteroskedatisitas pada penelitian ini

dilakukan terhadap menggunakan rumus korelasi dari Spearman.

Untuk mengetahui apakah terjadi masalah heteroskedastisitas

digunakan ketentuan sebagai berikut:

Jika Sig (2-tailed) > a = 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas

Jika Sig (2-tailed) < a = 0,05 maka terjadi heteroskedastisitas

Dari hasil perhitungan terhadap menggunakan program SPSS for

windows, maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 5.6

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Variabel Sig (2-tailed) Signifikansi Kesimpulan Praktek Industri Bimbingan Karir Prestasi Belajar 0,801 0,889 0,529 0,05 0,05 0,05 Homogen Homogen Homogen Sumber : Data Primer yang diolah, Tahun 2006 (Lampiran hal 133)

Berdasarkan hasil perhitungan terhadap menggunakan SPSS yang

tersaji pada Tabel 5.6 di atas, maka terlihat bahwa tidak terjadi

Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinieritas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya

korelasi antar va riabel independent dalam sebuah model regresi berganda.

Jika terjadi korelasi, maka terdapat problem multikolinieritas. Sebuah model

regresi yang baik, seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel. Untuk

dapat mendeteksi ada tidaknya problem multikolinieritas pada sebuah model

regresi, dapat dilakukan terhadap melihat nilai Variance Inflation Factor

(VIF). Apabila VIF tidak melebihi 10 maka tidak terjadi gejala

multikolinearitas, tetapi jika VIF melebihi 10 maka terjadi multikolinearitas.

Tabel 5.7

Hasil nilai VIF (Variance Inflation Factor) Variabel Nilai VIF Kesimpulan Variabel praktek industri 1,013 Tidak Multikolinearitas Variabel bimbingan karir 1,036 Tidak Multikolinearitas Variabel prestasi belajar 1,031 Tidak Multikolinearitas Sumber : Data Primer yang diolah, Tahun 2006

(Lampiran hal 130 pada Tabel Coefficients pada kolom collinearity statistic)

Berdasarkan hasil perhitungan terhadap menggunakan SPSS, maka

diperoleh besarnya nilai dari VIF dari semua variabel bebas tidak memiliki

nilai VIF lebih besar dari 10. Nilai VIF dari variabel praktek industri sebesar

1,013, variabel bimbingan karir sebesar 1,036, dan variabel prestasi belajar sebesar 1,031. Ini menunjukkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar

variabel bebas dalam model.

c. Uji Autokorelasi

Pengujian autokorelasi dilakukan untuk mengetahui terdapat tidaknya

korelasi berantai diantara faktor-faktor yang mengganggu secara berurutan. Autokorelasi merupakan suatu kondisi dimana variabel gangguan pada

periode tertentu berkorelasi terhadap variabel gangguan pada periode yang

lain. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu

berkaitan satu terhadap yang lain (Ghozali, 2004).

Untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu autokorelasi, maka dapat

dilakukan terhadap uji statistik Durbin-Watson. Hipotesis yang digunakan

dalam uji statistik Durbin-Watson adalah:

H0 = tidak ada autokorelasi

H1 = ada autokorelasi

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai

berikut:

Tabel 5.8

Keputusan Pengambilan Keputusan Uji Durbin-Watson Hipotesis nol Keputusan Syarat

Tolak 0 < d = dl Tidak ada autokorelasi positif

Tanpa keputusan dl = d = du Tolak 4-dl < d < 4 Tidak ada autokorelasi negatif

Tanpa keputusan 4-du = d = 4-dl Tidak ada autokorelasi positif

atau negatif Tidak ditolak

du < d < 4-du

Sumber : Ghozali, 2004 Lampiran 130

Dari hasil perhitungan terhadap menggunakan SPSS diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1,997. Nilai Durbin-Watson tersebut selanjutnya akan

dibandingkan terhadap nilai tabel terhadap menggunakan nilai signifikansi

5%, terhadap jumlah sampel 88 (n) dan terhadap jumlah variabel independen

3 (k=3). Maka di tabel Durbin-Watson akan didapatkan nilai du dan dl yang

Terhadap demikian berlaku du < d < 4 – du, dimana du = 1,726, d =

1,997, dan 4 – du = 2,274. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho yang

menyatakan bahwa tidak ada autokorelasi positif atau negatif tidak bisa

ditolak. Sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi.

Dokumen terkait