BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pengujian Prasyarat Analisis Data
1. Uji Normalitas Hasil Pemahaman Konsep Matematis
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji liliefors dengan taraf signifikan 5%. Dalam penelitian ini pengujian normalitas dilakukan untuk menguji normalitas pemahaman konsep matematis kelas eksperimen dan normalitas pemahaman konsep matematis kelas eksperimen serta normalitas angket motivasi belajar matematika dan normalitas kelas eksperimen dan kontrol berdasarkan motivasi belajar peserta didik. Hasil perhitungan normalitas tersebut bisa dilihat pada lampiran 19 dan 20.
Uji normalitas data dengan menggunakan metode liliefors terhadap hasil tes pemahaman konsep peserta didik dilakukan pada masing-masing kelompok data yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rangkuman uji normalitas kelas eksperimen dan kontrol tersebut disajikan pada Tabel 4.10 berikut.
Tabel 4.10
Rangkuman Hasil Uji Normalitas Tes Pemahaman Konsep Matematis
H
asil uji normalitas yang terangkum dalam Tabel 4.10 di atas, tampak bahwa taraf signifikan 5% dari untuk kelas eksperimen 0,119 < , ; yaitu 0,1559 sehingga hipotesis nol diterima, jadi data pada kelas eksperimen tersebut normal. Untuk kelas kontrol dengan taraf signifikan 5% dari 0,104 < , ; yaitu 0,1542 sehingga hipotesis nol diterima. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa data dari kedua kelas tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas Hasil Pemahaman Konsep Matematis
Uji homogenitas di gunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki varians yang sama atau tidak. Uji homogenitas varians dilakukan pada data variabel terikat yaitu pemahaman konsep matematis peserta didik. Rangkuman hasil uji homogenitas data tersebut bisa dilihat pada Tabel 4.11 berikut.
No Kelas , ; Keputusan
Uji 1 Eksperimen( 0,119 0,1559 diterima
Tabel 4.11
Hasil Uji Homogenitas Data Pemahaman Konsep Matematis
No Kelas Keputusan
1 Eksperimen 0,508 3,481 Homogen
2 Kontrol 0,508 3,481 Homogen
Berdasarkan keterangan dari Tabel 4.11 tersebut, dari uji homogenitas data amatan hasil tes pemahaman konsep matematis, dengan taraf signifikansi ( ) = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 1 diperoleh χtabel2 = 3,481 dan hasil perhitungan χhitung2 = 0,508 Berdasarkan hasil perhitungan tersebut terlihat bahwa χ χ sehingga dapat disimpulkan bahwa diterima atau sampel berasal dari populasi yang memiliki varians sama.
3. Uji Normalitas Angket Motivasi Belajar Matematika
Uji normalitas angket motivasi belajar matematika pada kelas eksperin dan kelas kontrol dirangkum dalam Tabel 4.12 berikut.
Tabel 4.12
Rangkuman Uji Normalitas Angket Motivasi Belajar
No Kelas , ; Keputusan Uji
1 Eksperimen( 0,110 0,1559 diterima
2 Kontrol ( 0,146 0,1542 diterima
Hasil uji normalitas pada tes motivasi belajar yang terangkum dalam tabel di atas, tampak bahwa taraf signifikan 5% dari untuk kelas
eksperimen 0,107 < , ; yaitu 0,1559 sehingga hipotesis nol diterima, jadi data pada kelas eksperimen tersebut normal. Untuk kelas kontrol dengan taraf signifikan 5% dari 0,146 < , ; yaitu 0,1542 sehingga hipotesis nol diterima. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa data dari kedua kelas tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 4. Uji Normalitas Pemahaman Konsep Matematis Berdasarkan
Motivasi Belajar Matematika
Uji analisis data dengan menggunakan liliefors terhadap hasil tes pemahaman konsep matematis peserta didik dilakukan pada masing-masing kelompok motivasi yaitu tinggi, sedang dan rendah. Rangkuman uji normalitas berdasarkan analogi tersebut disajikan pada Tabel 4.13 berikut.
Tabel 4.13
Normalitas Berdasarkan Motivasi Belajar
No Kelas Motivasi , ; Keputusan
Uji
1 Esperimen Tinggi 0,251 0,300 Diterima
Sedang 0,128 0,200 Diterima
Rendah 0,168 0,300 Diterima
2 Kontrol Tinggi 0,292 0,381 Diterima
Sedang 0,129 0,190 Diterima
Berdasarkan Tabel 4.13 tersebut, hasil uji normalitas pemahaman konsep matematis kelas eksperimen berdasarkan kriteria motivasi tinggi,
dengan taraf signifikan 5% diperoleh , ; = 0,300, dan hasil
perhitungan normalitas diperoleh nilai = 0,251. Kriteria
motivasi sedang dengan taraf signifikan 5% diperoleh , ; = 0,200 dan
diperoleh nilai = 0,128. Serta kriteria motivasi rendah diperoleh
nilai dengan taraf signifikan 5% diperoleh , ; = 0,300, dan diperoleh
hasil perhitungan = 0,168.
Sedangkan hasil uji normalitas pemahaman konsep matematis pada kelas kontrol berdasarkan kriteria motivasi tinggi, dengan taraf signifikan
5% diperoleh , ; = 0,381, dan hasil perhitungan normalitas diperoleh
nilai = 0,292. Kriteria motivasi sedang dengan taraf signifikan
5% diperoleh , ; = 0,190 dan diperoleh nilai = 0,129. Serta
kriteria motivasi rendah diperoleh nilai dengan taraf signifikan 5%
diperoleh , ; = 0,285, dan diperoleh hasil perhitungan =
0,224.
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tampak bahwa <
, ; , sehingga hipotesis nol diterima. Dapat disimpulkan bahwa data
5. Uji Homogenitas Angket Motivasi Belajar Matematika
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki varians yang sama atau tidak. Uji homogenitas varians dilakukan pada data variabel terikat yaitu pemahaman konsep matematis peserta didik. Hasil pengujian uji homogenitas dengan taraf signifikan 5%
diperoleh dari = 3,841 hasil diperoleh 0,612. Berdasarkan
Perhitungan tersebut nilai . Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa diterima atau sampel berasal dari populasi yang
sama (homogen).
Setelah dilakukan perhitungan uji normalitas dan homogenitas, selanjutnya data dikelompokkan berdasarkan motivasi belajar tinggi, sedang dan rendah. Data tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut.
Tabel 4.14
Sebaran Peserta Didik Ditinjau dari Model Pembelajaran SFAE dan Motivasi Belajar
B
B
erdasarkan tabel tersebut diperoleh keterangan bahwa peserta didik pada kelas eksperimen (Model SFAE) terdapat 7 peserta didik dengan motivasi tinggi dengan kriteria nilai 81% p 100%, 17 peserta didik motivasi
Model Pembelajaran
Kriteria Analogi
Tinggi Sedang Rendah
SFAE 7 17 7
sedang dengan kriteria nilai 65% p 80%, dan 7 peserta didik dengan motivasi rendah dengan kriteria nilai p 65%. Sedangkan pada kelas kontrol (Model Pembelajaran Konvensional) terdapat 4 peserta didik dengan motivasi tinggi, 20 peserta didik motivasi sedang dan 8 peserta didik motivasi rendah dengan kriteria nilai yang sama.
D.Uji Hipotesis
1. Analisis Variansi dua Jalur Sel Tak Sama
Setelah terpenuhinya uji prasyarat analisis variansi yang terdiri dari uji normalitas populasi dan homogenitas varians, maka uji hipotesis dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama dapat dilakukan. Hasil perhitungan anava dua jalan dengan sel tak sama disajikan pada Tabel 4.15 berikut. Perhitugan selengkapnya dapat dilihat
pada Lampiran 24.
Tabel 4.15
Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama
Sumber JK dK RK Fhitung Ftabel
Model Pembelajaran (A) 1948.947 1.000 1948.947 17.084 4.010
Motivasi Belajar(B) 730.908 2.000 365.454 3.204 3.159
Interaksi (AB) 57.593 2.000 28.796 0.252 3.159
Galat 6502.467 57.000 1144.078 - -
Total 9239.915 62.000 - - -
Sumber : Pengolahan Data (Perhitungan di Lampiran 22)
Berdasarkan Tabel 4.15, Maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Fa hitung = 17.084 dan Fa tabel = 4,010. Berdasarkan perhitungan analisis data
Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh pemahaman konsep matematis antara peserta didik yang menggunakan model pembelajaran (SFAE) dengan peserta didik yang menggunakan model pembelajaran ekspositori.
2. Fb hitung = 3.204 dan Fb tabel = 3,159. Berdasarkan perhitungan analisis data
pada tabel terlihat bahwa {F | F > }, berarti ditolak.
Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar tinggi, sedang dan rendah yang dimiliki peserta didik terhadap pemahaman konsep matematis di kelas yang mengggunakan model pembelajaran (SFAE) dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran ekspositori.
3. Fab hitung = 0,252 dan Fab tabel = 3,159. Berdasarkan perhitungan analisis data
pada tabel terlihat bahwa {F | F < },. berarti
diterima. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan interaksi antara model pembelajaran (SFAE) dan motivasi belajar matematika peserta didik terhadap pemahaman konsep matematis.
2. Uji Komparasi Ganda Scheff’
Setelah diperoleh hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, langkah selanjutnya adalah uji komparasi ganda scheff’. Uji komparasi ganda perlu dilakukan untuk melihat manakah yang secara signifikan memberikan pengaruh yang berbeda terhadapa pemahaman konsep matematis peserta didik. Berikut Tabel 4.16 yang menunjukkkan tentang
rerata masing-masing sel yang akan digunakan pada uji komparasi ganda pasca anava dua jalan dengan sel tak sama.
Tabel 4.16
Rataan Data dan Rataan Marginal Model
Pembelajaran
Motivasi Belajar Matematika Ratan
Marginal
Tinggi Sedang Rendah
SFAE 79.571 77.824 72.857 76.750
Konvensional 68.75 65.90 56.88 63.841
Rataan Marginal 74.160 71.861 64.86
Berdasarkan Tabel 4.16 tersebut, menunjukkan bahwa:
a. Komparasi Ganda Antar Baris
Dari hasil perhitungan anava dua jalan dengan sel tak sama di peroleh
bahwa ditolak, dan setelah dilakukan uji lanjut komparasi ganda antar
barispun hasilnya sama menunjukkkan bahwa model (SFAE) lebih baik dari pada model pembelajaran ekspositori.
b. Komparasi Ganda Antar Kolom
Dari hasil perhitungan anava dua jalan sel tak sama diperoleh bahwa diterima, sehingga diperlukan uji lanjut untuk mengetahui peserta didik dengan tipe motivasi belajar manakah yang mempunyai pemahaman konsep matematis lebih baik. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 4.17 berikut.
Tabel 4.17
Hasil Uji Komparasi Rerata Antar Kolom
No Keputusan Uji
1 dan 0.281 6.318 diterima
2 dan 4.805 6.318 diterima
3 dan 4.578 6.318 diterima
Berdasarkan hasil uji komparasi rerata antar kolom pada masing-masing tipe motivasi belajar, dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada H : dan diterima, berarti tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar sedang terhadap pemahaman konsep matematis peserta didik.. Dari Tabel 4.16 dapat dilihat bahwa rerata marginal pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi belajar tinggi lebih besar dibandingkan rerata marginal pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi sedang, Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi tinggi lebih baik dibandingkan pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi sedang.
2. Pada H : dan diterima, berarti tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara motivasi tinggi dan motivasi rendah terhadap pemahaman konsep matematis peserta didik. Dari Tabel 4.16 dapat
dilihat bahwa rerata marginal pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi belajar tinggi lebih besar dibandingkan rerata marginal pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi tinggi lebih baik dibandingkan pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi rendah.
3. Pada H : = diterima, berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi sedang dan motivasi rendah terhadap pemahaman konsep matematis peserta didik.. Dari Tabel 4.16 dapat dilihat bahwa rerata marginal pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi belajar sedang lebih besar dibandingkan rerata marginal pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi sedang lebih baik dibandingkan pemahaman konsep matematis peserta didik dengan tipe motivasi rendah.