• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Pengujian Titer Antibodi

Pengujian efek imunomodulator EEHB dilakukan dengan titer antibodi yang digunakan untuk melihat pengaruh ekstrak terhadap aktivitas dan mekanisme sistem imun humoral yang melibatkan sel T dan sel B. Menurut Makare, et.al., (2001), metode tersebut mempunyai keuntungan yaitu memungkinkan dua komponen respon imun diukur pada spesies yang sama dibawah kondisi ideal, relatif sederhana dan tidak mahal.

Pengukuran nilai titer antibodi dilakukan pada hari ke-7 dengan menggunakan metode hemaglutinasi. Hemaglutinasi adalah ikatan antara sel darah merah sebagai antigen dengan antibodi sehingga menimbulkan suatu gumpalan yang dapat dilihat. Pada lingkungan yang pH-nya netral, sel darah merah bermuatan negatif sehingga akan terjadi aksi tolak-menolak antar sel. Oleh karena itu sel darah merah yang digunakan disuspensikan dalam larutan penyangga dengan pH ±7 (PBS) untuk menjaga agar sel darah merah tetap dalam kondisi pH netral, sehingga tetap bermuatan negatif.

Titer antibodi ditentukan dengan metode hemaglutinasi. Penentuan hemaglutinasi titer antibodi bertujuan untuk mengetahui respon imun humoral melawan SDMS. Peningkatan respon imun humoral dibuktikan dengan adanya peningkatan titer antibodi tikus yang mengindikasikan peningkatan kepekaan sel

T dan sel B terkait dengan produksi antibodi. Nilai Titer antibodi sel imun tikus dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Hemaglutinasi terbentuk karena adanya ikatan silang antara sel darah merah dengan antibodi. Antibodi yang mempunyai kemampuan lebih besar untuk berikatan dengan sel darah merah adalah IgM. IgM mempunyai ukuran yang besar dan valensi yang tinggi, sehingga dapat melawan rintangan elektrik dan membentuk ikatan silang dengan sel darah merah sehingga menyebabkan terjadinya aglutinasi.

Antibodi lainnya seperti IgG mempunyai ukuran dan valensi yang lebih kecil, sehingga kemampuannya melawan rintangan elektrik lebih lemah dibandingkan dengan IgM (Kuby, 1994). Terkait dengan prinsip hemaglutinasi di atas, maka dalam penelitian ini sel darah merah yang digunakan sebagai antigen adalah sel darah merah sapi (SDMS) karena memiliki muatan negatif yang lebih kuat, sehingga kemampuannya untuk berikatan dengan antibodi semakin kuat.

Dengan demikian, hasil hemaglutinasi yang diperoleh dapat diketahui dengan mudah.

No. Perlakuan Nilai titer antibodi

Titer antibodi [2(Log titer)+1]

1 CMC Na 0,5% 16 3,40

2 Suspensi Levamisole 25 mg/kgBB 256

5,81

3 Suspensi EEHB 50 mg/kgBB 32

4,01

4 Suspensi EEHB 100 mg/kgBB 57,6 4,49

5 Suspensi EEHB 200 mg/kgBB 102,4 5,02

6 Suspensi EEHB 400 mg/kgBB 128 5,21

Tabel 4.4 Data nilai titer antibodi

Keterangan:

* = p < 0,05, signifikan terhadap CMC Na 0,5%

+ = p <0,05, signifikan terhadap suspensi levamisole (SL)

Pada Gambar 4.6 terlihat bahwa EEHB 50,100, 200, 400 mg/kgBB, dan Levamisole 25 mg/kgBB menunjukkan nilai titer antibodi yang berbeda dengan CMC Na 0,5% dengan nilai titer 3,41(μl) sebagai kontrol. Pemberian EEHB dosis 400 mg/kgBB menunjukkan peningkatan nilai titer antibodi senilai 5,21 (μl). Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan EEHB 50, 100 dan 200 mg/kgBB yang bernilai 4,01; 4,49; dan 5,02(μl). Namun, lebih rendah dibandingkan Levamisole 25 mg/kgBB dengan nilai titer 5,81 (μl).

Untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan dari setiap perlakuan pada tiap kelompok hewan percobaan, dilakukan analisis uji Mann Whitney terhadap titer antibodi. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan

Gambar 4.6 Nilai titer antibodi sel imun pada tikus jantan (Rerata

± SEM)

+

*

*,+

*,+ *,+

0 1 2 3 4 5 6 7

CMC Na 0,5% SL 50 mg/kgBB

EEHB 50 mg/kgBB

EEHB 100 mg/kgBB

EEHB 200 mg/kgBB

EEHB 400 mg/kgBB Titer antibodi

*,+

antara kelompok perlakuan terhadap titer antibodi sel imun, dengan nilai signifikansi (p < 0,05). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian EEHB dosis 50, 100, 200, dan 400 mg/kgBB memberikan efek peningkatan titer antibodi sel imun tikus.

Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa nilai titer antibodi tikus kelompok perlakuan EEHB dosis 50, 100, 200, dan 400 mg/kgBB dan suspensi Levamisol 25 mg/kgBB berbeda signifikan dengan kontrol CMC Na 0,5%.

Suspensi EEHB dosis 50 mg/kgBB menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan suspensi EEHB dosis 100, 200, 400 mg/kgBB, dan Levamisole 25 mg/kgBB (p < 0,05). Suspensi EEHB dosis 100 mg/kgBB menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan suspense EEHB dosis 200, 400 mg/kgBB, dan Levamisole 25 mg/kgBB (p < 0,05). Suspensi EEHB dosis 200 mg/kgBB menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan Levamisole 25 mg/kgBB (p < 0,05) tetapi tidak ada perbedaan secara signifikan dengan suspensi EEHB 400 mg/kgBB. Suspensi EEHB dosis 400 mg/kgBB menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan Levamisole 25 mg/kgBB (p < 0,05).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian EEHB dosis 50, 100, 200, dan 400 mg/kgBB memberikan efek peningkatan titer antibodi sel imun tikus. Peningkatan titer antibodi terjadi karena peningkatan aktivitas sel Th, yaitu sel Th2 untuk menstimulasi produksi dan meningkatkan aktivitas sel B dalam pembentukan antibodi (Roit, et.al., 1989). Antibodi akan berikatan dengan antigen yang menginfeksi tubuh. Ikatan antigen dan antibodi memberikan gambaran adanya efek stimulasi ekstrak herba binara terhadap respon imun humoral yang berkaitan dengan stimulasi dan aktivasi sel B.

Suspensi levamisole digunakan sebagai kontrol positif karena mekanisme kerja levamisole yaitu menekan populasi sel T supresor (Shukla, et.al., 2009;

Mitsuoka, 1979). Levamisole dapat membunuh sel pada setiap siklus perkembangannya dan lebih toksik terhadap sel yang sedang berproliferasi (aktivitas antiproliferatif), termasuk pembentukan antibodi (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010). Dengan demikian levamisole hanya berpengaruh pada sel T supresor dan sel B. Levamisole merangsang sistem kebal pada semua fase tanggap kebal dengan mempengaruhi metabolisme rantai nukleotida. Levamisole mempengaruhi proliferasi respon limfosit, sintesa limfokin, produksi antibodi, kemotaksis, dan reaksi intra seluler (makrofag dan granulosit) (Turk, 1989).

Berdasarkan uraian hasil uji statistik di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian EEHB memberikan efek meningkatkan titer antibodi sel imun tikus jantan. Pemberian EEHB 400 mg/kgBB memberikan efek yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian EEHB 50, 100 mg/kgBB dan EEHB 200 mg/kgBB.

Berdasarkan pengamatan tersebut, herba binara dapat digunakan sebagai imunostimulator terkait dengan pengaruhnya dalam meningkatkan titer antibodi sel imun tikus.

BAB V

Dokumen terkait