BAB II LANDASAN TEORI
3. Pengukuran, Assesmen, dan Evaluasi
Dalam melakukan penilaian ada tiga istilah yang biasa digunakan. Ketiga istilah tersebut saling berkaitan, yaitu pengukuran, assesmen, dan evaluasi. Ketiganya dilakukan dengan cara pengumpulan data, menganalis data kemudian mengambil keputusan.
Menurut Norman E. Gronlund (1981:5) dijelaskan bahwa “…there is some confusion concerning the meaning of the term evaluation as it applies to classroom instruction. In some instances it is used as a synonym for the term measurement”. Pernyataan tersebut berarti terdapat sedikit kebingungan mengenai arti dari istilah evaluasi yang digunakan pada pengajaran di kelas. Pada beberapa kasus evaluasi digunakan sebagai sinonim dari istilah pengukuran. Gronlund melanjutkan “In other case evaluation is used as a collective term for those
commit to user
appraisal methods that do not depend on measurement. It use of the two term distinguishes “evaluations qualitative descriptios of pupil behavior” (e.g., anecdotal records of behavior) from “measurement,”which are quantitative descriptions (e.g., test score)”. Artinya, pada kasus lain evaluasi digunakan sebagai istilah pada metode - metode penilaian yang tidak tergantung pada pengukuran. Kedua istilah tersebut digunakan secara berbeda. Evaluasi mendiskripsikan secara kualitatif dari perilaku siswa (misalnya catatan anekdot perilaku) dan pengukuran yang mendeskripsikan secara kuantitatif (misalnya: nilai tes). Berikut ini penjelasan mengenai ketiga istilah di atas .
a. Pengukuran
Pengukuran didefinisikan berbeda-beda oleh para ahli. Victor H Noll(1965:7) menyatakan bahwa “…measurement is a quantitative process, the result of measurement are always expressed in numbers…”. Pendapat Noll di atas dapat disimpulkan bahwa pengukuran merupakan proses kuantitatif, hasil dari pengukuran selalu dinyatakan dengan angka. Pendapat Noll di atas sejalan dengan pendapat Remmers, Gage dan Rummel (1960 :7) yaitu “ Measurement refers to observation that can be expressed quantitatively and answer the question how much”. Pernyataan di atas dapat diartikan pengukuran berkenaan dengan pengamatan yang dinyatakan secara kuantitatif dan menjawab pertanyaan “berapa banyak”. Sedangkan Anas Sudijono (2005 : 4) mengungkapkan bahwa “ Pengukuran yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan measurement dan dalam bahasa arabnya adalah muqayasah, dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk “mengukur” sesuatu. Berdasarkan ketiga pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengukuran merupakan kegiatan membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu yang berhubungan dengan pengamatan secara kuantitatif dan hasilnya dinyatakan dengan angka
Pengukuran juga diterapkan dalam dunia pendidikan. Mimin Haryati (2007 :14) menyatakan ” Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu”. Di sekolah istilah pengukuran sering diganti dengan tes, sebagai contoh tes prestasi belajar. Hal ini disebabkan karena
commit to user
tes dianggap lebih formal, tertib dan terencana bila dibandingkan dengan pengukuran.
Pengukuran pada proses pembelajaran dilakukan secara tidak langsung dan hasilnya biasanya dinyatakan dengan skor. Sebagai contoh siswa diberi skor oleh guru dengan terlebih dahulu mengerjakan serangkaian tes yang hasilnya dikoreksi, kemudian diambil keputusan untuk pemberian skor sesuai dengan hasil tes yang dikerjakan. Skor tersebut dinyatakan dalam angka.
b.Asesmen
Joanne Caldwell (2008:22) mengemukakan pendapat mengenai asesmen yaitu “When we assess, we collect evidence and we analyze this evidence. As a result of our analysis, we make a judgment that leads to a decision or to some form of action”. Kalimat tersebut kurang lebih berarti : ketika melakukan asesmen, fakta-fakta dikumpulkan kemudian dianalisis,dari hasil analisis dibuat keputusan yang digunakan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
Joanne Caldwell(2008 :23) menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam proses asesmen terdapat empat langkah yang harus ditempuh yaitu :
1). Mengidentifikasi hal yang akan dinilai. 2). Mengumpulkan informasi atau fakta-fakta. 3). Menganalisis fakta-fakta.
4). Mengambil keputusan.
Dalam dunia pendidikan menurut TGAT (Task Group on Assesment and Testing) yang dikutip Djemari Mardapi (2008:1) adalah:
Asesmen mencakup semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok. Proses asesmen meliputi pengumpulan bukti-bukti tentang pencapaian belajar peserta didik. Bukti ini tidak selalu diperoleh melalui tes saja, tetapi juga bisa dikumpulkan melalui pengamatan atau laporan diri. Definisi asesmen berkaitan dengan semua proses pendidikan, seperti karakteristik peserta didik, karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi.
Assesmen yang efektif seharusnya dapat membantu siswa untuk mengerti apa yang dibutuhkan ketika mengerjakan tugas. Hal ini seperti apa yang dinyatakan oleh Milne, Heinrich dan Morrison (2008:491) menyatakan bahwa ”Effective assesment should help students to understand what is required of them
commit to user
when submitting assignments and appreciate what high quality works looks like.” Artinya, asesmen yang efektif membantu siswa untuk mengerti apa yang dibutuhkan ketika mengerjakan tugas dan menghargai pekerjaan berkualitas yang telah dilakukan. Asesmen seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.
Assesmen (penilaian) pada program akselerasi menerapkan authentic assesment (penilaian otentik). Penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai (Nurhadi, 2004: 172).
Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti UAN), tetapi dilakukan bersama dan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran (Nurhadi, 2004: 168). Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran (Nurhadi, 2004: 168).
Penilaian otentik menurut Santoso (2004 : 15) memiliki beberapa karakteristik, yaitu :
1) penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran.
commit to user
3) menggunakan bermacam-macam instrumen, pengukuran, dan metode yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.
4) penilaian harus bersifat komprehensif dan holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran.
Sedangkan Nurhadi (2004 :173) mengemukakan bahwa karakteristik authentic assesment adalah sebagai berikut:
1) melibatkan pengalaman nyata (involves real-world experience) 2) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung 3) mencakup penilaian pribadi (self assesment) dan refleksi
4) yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta 5) berkesinambungan
6) terintegrasi
7) dapat digunakan sebagai umpan balik
8) kriteria keberhasilan dan kegagalan diketahui siswa dengan jelas
Dalam pelaksanaan dari penilaian otentik menurut Santoso (2004:17) memiliki beberapa prinsip adalah sebagai berikut:
1) Keeping track, yaitu harus mampu menelusuri dan melacak kemajuan siswa sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan.
2) Checking up, yaitu harus mampu mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran.
3) Finding out, yaitu penilaian harus mampu mencari dan menemukan serta mendeteksi kesalahan-kesalahan yang menyebabkan terjadinya kelemahan dalam proses pembelajaran.
4) Summing up, yaitu penilaian harus mampu menyimpulkan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan atau belum.
Menurut Santoso (2004:20) Pada pelaksanaannya penilaian otentik ini dapat menggunakan berbagai jenis penilaian diantaranya adalah: 1) tes standar prestasi, 2) tes buatan guru, 3) catatan kegiatan, 4) catatan anekdot, 5) skala sikap, 6) catatan tindakan, 7) konsep pekerjaan, 8) tugas individu, 9) tugas kelompok atau kelas, 10) diskusi, 11) wawancara, 12) catatan pengamatan, 13) peta perilaku, 14) portofolio, 15) kuesioner, dan 16) pengukuran sosiometri.
commit to user
Sedangkan menurut Nurhadi (2004 :174) hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar penilaian prestasi siswa sesuai penilaian otentik adalah sebagai berikut: 1) proyek/kegiatan dan laporannya
2) hasil tes tulis (ulangan harian, semester, atau akhir jenjang pendidikan) 3) portofolio (kumpulan karya siswa selama satu semester atau satu tahun) 4) pekerjaan rumah
5) kuis
6) karya siswa
7) presentasi atau penampilan siswa 8) demonstrasi 9) laporan 10)jurnal 11)karya tulis 12)kelompok diskusi 13)wawancara c. Evaluasi
Evaluasi memliki pengertian yang berbeda-beda menurut beberapa ahli. Evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M.Echols dan Hasan Shadily,1983:220). Pendapat lain mengatakan bahwa ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartiakan sebagai proses menentukan nilai suatu objek (Nana Sudjana,1989:3). Sedangkan menurut Edwind dan Gerald W.Brown dalam bukunya Essentials of Educational dikatakan bahwa: Evaluation refer to the act or process to determining the value of something (Wand and Brown,1957:1). Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Dari pengertian yang berbeda-beda tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan suatu proses untuk menafsirkan suatu nilai dengan melalui tindakan mengukur atau menaksir dan menilai.
Evaluasi digunakan hampir diseluruh ranah kehidupan, tidak luput juga dalam dunia pendidikan. Berikut ini adalah beberapa hal tentang evaluasi
commit to user
pendidikan, mulai dari pengertian, macam – macam tekhnik evaluasi pendidikan, penentuan hasil evaluasi pendidikan :
1)Evaluasi Pendidikan
Di Indonesia sendiri Lembaga Administrasi Negara mengemukakan batasan mengenai evaluasi pendidikan sebagai berikut:
a) Proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan.
b) Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feedback) bagi penyempurnaan pendidikan
Dalam dunia pendidikan evaluasi pun ada bermacam – macam, ada yang mengevaluasi kebijakan – kebijakan yang diambil oleh pemerintah, evaluasi terhadap administrasi sekolah, dan evaluasi terhadap hasil pembelajaran. Dilihat dari fungsi dan tujuannya evaluasi hasil belajar memiliki fungsi sebagai berikut (Suharno, dkk, 2000:76-78)
a) Untuk diagnostik dan pengembangan / remidi
Tidak semua siswa dapat mengikuti dan menguasai/ memahami seluruh materi pelajaran yang diberikan guru. Salah satu cara untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi siswa terhadap bagian-bagian pelajaran yang yang telah diberikan maka guru dapat mengguanakn tes diagnostik. Dengan demikian tes diagnostik bertujuan untuk mengetahui kesulitan atau hal-hal yang belum dikuasai siswa terhadap suatu pelajaran. Informasi tentang berbagai kesulitan yang diperoleh melalui tes
diagnostic dapat digunakan oleh guru untuk melakukan remidiasi atau pembinaan. Guru memberikan pembenaran kepada siswa yang gagal dalam tes diagnostik, sementara yang lainnya dapat melakukan pendalaman atau pengayaan.
b) Untuk seleksi
Sering sekolah dihadapkan pada suatu situasi dimana fasilitas yang dimiliki tidak sesuai dengan yang membutuhkan, seperti penerimaan siswa baru, pemberian beasiswa, pemilihan siswa teladan, dan sebagainya. Untuk membuat keputusan yang adil dan dapat diterima semua pihak
commit to user
maka dilakukan tes, sehingga diketahui siapa yang berhak untuk dipilih dan siapa yang gagal.
c) Untuk kenaikan kelas (promotion)
Tes hasil belajar merupakan faktor penentu dalam hal penentuan siswa untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Penentuan seseorang layak untuk naik atau tinggal kelas adalah melalui tes hasil belajar yang tertuang dalam bentuk rapor.
d) Untuk penempatan (placement)
Dalam suatu program pembelajaran sering ditemui adanya variasi kemampuan siswa terhadap suatu mata pelajaaran. Pada situasi demikian guru dapat mengelompokan siswa berdasarkan kemampuannya yang dilihat dari tes hasil belajar mereka. Dengan adanya kelompok-kelompok tersebut maka guru dapat memberikan pelayanan sesuai degan kemampuan anak sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.
2) Teknik evaluasi
Ada dua teknik evaluasi yang dikenal yakni teknik nontes dan tes, yang tergolong teknik nontes adalah skala bertingkat (rating scale), kuisioner (questionair), daftar cocok (check list), wawancara (interview), pengamatan (observation), dan riwayat hidup. Sedangkan untuk teknik tes bisa ditinjau dari peserta tes yakni tes individual dan tes kelompok. Ditinjau dari pembuatannya yakni tes standar dan tes buatan guru. Ditunjau dari bentuk soalnya yakni tes objektif dan subjektif serta ditinjau dari kegunaannya yakni tes formatis, sumatif, diagnostik dan penempatan. (Suharsimi Arikunto, 1995: 29-30)
3) Evaluasi Hasil Belajar Siswa Program Akselerasi
Evaluasi hasil belajar siswa program akselerasi pada dasarnya sama dengan program regular, hanya saja jika dilihat dari kegiatan pembelajarannya yang menerapkan problem based learning pada pembelajarannya yang mengacu pada tingkat masalah tingkat tinggi yang disebut types of problem situation dan lebih banyak mengutamakan produk atau proyek sehingga sebagai konsekuensinya guru harus menetapkan bobot soal setidaknya C4 (analisis) dan
commit to user
jika dimungkinkan sampai C6 (evaluasi) yang mendorong peserta didik berfikir tinggi dan kritis.