• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Parameter Fisika-Kimia Penunjang 1. Suhu

3.3.3. Pengukuran Data Kualitas Air 1. DO (Oksigen Terlarut)

2 14.71 11.76 29.41

12 24.51 19.61 49.02

24 26.96 21.57 53.92

42 58.82 47.06 117.65

total volume botol 125 100 250

3.3.3. Pengukuran Data Kualitas Air 3.3.3.1. DO (Oksigen Terlarut)

Oksigen terlarut (DO) merupakan parameter utama dalam penelitian ini. Air contoh untuk analisis oksigen terlarut diambil dengan menggunakan Vandorn Water Sampler. Pengukuran DO dilakukan secara vertikal pada setiap kedalaman dan setiap perlakuan melalui metode Winkler dengan menggunakan alat titrasi dan diukur secara

in situ. Pencampuran contoh air dari titik kedalaman yang merupakan perlakuan dimana pencampuran contoh air tersebut dilakukan dengan menggunakan botol BOD.

3.3.3.2. Kecerahan

Kecerahan diukur pada titik pengambilan contoh air. Pengukuran kecerahan dilakukan secara in situmelalui metode pembiasan cahaya menggunakan secchi disk.

3.3.3.3 pH

Air contoh untuk analisis pH diambil dengan menggunakan Vandorn Water Sampler. Pengukuran pH diukur di setiap kedalaman dan setiap perlakuan, melalui metode elektromagnetik menggunakan pH meter dan dilakukan secara in situ.

3.3.3.4. Amonia bebas (NH3)

Air contoh untuk analisis amonia bebas diambil dengan menggunakan

Vandorn Water Sampler. Amonia bebas hanya diukur pada tiap perlakuan melalui metode titrimetri dengan menggunakan spektrofotometer dan dianalisis di Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Depertemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.3.3.5. Hidrogen Sulfida (H2S)

Air contoh untuk analisis hidrogen sulfida (H2S) diambil dengan menggunakan

Vandorn Water Sampler. Contoh air dari perlakuan dimasukkan kedalam botol BOD 125 ml dan diberi Zn asetat serta NaOH untuk mengikat gas H2S agar tidak menguap, setelah itu baru didinginkan. Hidrogen sulfida hanya diukur ditiap perlakuan melalui metode iodometri dengan menggunakan alat titrasi dan dianalisis di Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Depertemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Beberapa parameter yang diukur dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 5. Parameter dan metode analisis contoh air selama penelitian

No. Parameter Unit Alat dan Metode Keterangan

1. Kecerahan Cm Secchi Disk/Pembiasan cahaya In situ

2. Suhu 0C Thermometer Hg/Pemuaian In situ

3. pH - pH meter/Elektrometrik In situ

4. DO mg/l Titrasi/Modifikasi Winkler In situ

5. NH3 mg/l Spektrofotometer/Phenate Laboratorium

3.4. Analisis Data

3.4.1. Kedalaman eufotik

Kedalaman eufotik ditunjukkan oleh lapisan eufotik dimana kolom air berada di sebelah atas dari kedalaman kompensasi (kolom perairan). Menurut Boyd (1989), pada umumnya kedalaman zona eufotik pada perairan di daerah tropis sekitar dua sampai tiga kali kecerahan secchi disk.

3.4.2. Analisis tipe distribusi vertikal oksigen terlarut

Analisis tipe distribusi vertikal oksigen terlarut dilakukan berdasarkan data oksigen terlarut yang didapat pada setiap kedalaman kemudian dibandingkan dengan tipe distribusi vertikal oksigen terlarut menurut Goldman dan Horne (1983) seperti yang tertera pada Gambar 1.

3.4.3. Analisis saturasi oksigen terlarut

Konsentrasi oksigen jenuh (saturasi) akan tercapai jika konsentrasi oksigen yang terlarut di perairan sama dengan konsentrasi oksigen terlarut secara teoritis. Konsentrasi oksigen tidak jenuh terjadi jika konsentrasi oksigen yang terlarut lebih kecil daripada konsentrasi oksigen secara teoritis. Selanjutnya kondisi super saturasi terjadi bila konsentrasi oksigen terlarut lebih besar daripada konsentrasi oksigen secara teoritis. Tingkat kejenuhan oksigen di perairan dinyatakan dalam persen saturasi (Jeffries dan Mills 1996 inEffendi 2003).

% Saturasi Oksigen Terlarut= x100% DOt

DO

Keterangan:

DO : Konsentrasi oksigen terlarut di air (mg/l).

DOt : Konsentrasi oksigen terlarut jenuh secara teoritis pada suhu tertentu dengan tekanan 760 mmHg (mg/l).

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Distribusi Vertikal Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut merupakan salah satu faktor pembatas bagi sumberdaya suatu perairan karena akan berpengaruh secara langsung pada kehidupan akuatik khususnya respirasi aerob, pertumbuhan dan reproduksi. Konsentrasi oksigen akan menggambarkan seberapa besar perairan menerima beban bahan organik tanpa menyebabkan gangguan bagi organisme hidup.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada bulan September 2009 di salah satu keramba jaring apung Waduk Cirata, distribusi kandungan oksigen terlarut cenderung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini diduga karena di lapisan dasar perairan terjadi akumulasi bahan organik dari sisa pakan dan feses ikan juga ketersediaan cahaya yang masuk ke dalam perairan tidak ada. Cahaya merupakan salah satu faktor pembatas yang mempengaruhi proses fotosintesis oleh fitoplankton, sehingga hal ini akan menyebabkan rendahnya kadar oksigen terlarut pada lapisan dasar perairan.

Berdasarkan hasil pengamatan oksigen terlarut (Tabel 6), diperoleh nilai oksigen terlarut yang bervariasi di setiap kedalaman berkisar antara 0,38-8,20 mg/l. Dari data tersebut dapat diketahui semakin dalam perairan maka konsentrasi oksigen cenderung menurun. Pada hasil pengamatan oksigen terlarut terbesar berada pada kedalaman 0 meter sebesar 8,20 mg/l begitu, sebaliknya kandungan oksigen terlarut terkecil pada berada pada kedalaman 51 meter sebesar 0,38 mg/l. Permukaan perairan memiliki konsentrasi oksigen yang tinggi disebabkan karena cahaya matahari masih sangat besar sehingga proses fotosintesis juga berjalan dengan baik. Selain fotosintesis kandungan oksigen pada permukaan perairan juga berasal dari difusi udara. Difusi oksigen dari udara terjadi ketika berlangsung kontak antara campuran gas atmosphericdengan air, baik secara langsung dalam keadaan diam maupun saat terjadi agitasi. Kejadian ini akan mempengaruhi konsentrasi oksigen dipermukaan perairan.

Pada bagian dasar perairan proses yang terjadi adalah respirasi dan dekomposisi. Hal ini disebabkan karena pada bagian dasar perairan tidak terdapat cahaya matahari sehingga proses fotosintesis sangat minim bahkan tidak ada. Adanya akumulasi bahan organik yang berupa sisa pakan, feses ikan dan limbah dari

pemukiman di sekitar keramba jaring apung akan menyebabkan kebutuhan akan oksigen semakin tinggi, sedangkan pada dasar perairan kandungan oksigennya sangat rendah dan proses dekomposisi bahan organik terjadi secara anerobik. Apabila tetap dibiarkan akan menambah lapisan anoksik pada perairan tersebut.

Tabel 6. Distribusi vertikal DO (mg/l) di lokasi pengamatan Kedalaman (m) DO (mg/l) 0 8,20 2 7,60 4 6,66 6 5,85 8 5,68 10 4,79 12 3,93 14 3,65 16 3,35 18 2,48 20 2,40 22 2,28 24 2,14 27 1,63 30 1,17 36 0,98 42 0,72 48 0,51 Dasar* 0,38

Keterangan : * kedalaman maksimum di lokasi pengamatan adalah 51 m

Kedalaman suatu perairan yang bersifat eutrofik dapat menunjukkan kandungan oksigen terlarut yang ada pada perairan tersebut. Semakin dalam suatu perairan jumlah kandungan oksigennya juga menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman, hal ini didukung dengan kecerahan suatu perairan yang berpengaruh terhadap proses fotosintesis. Pada daerah perairan yang tidak mendapatkan pasokan cahaya matahari, proses yang terjadi berupa respirasi dan dekomposisi, dimana proses ini membutuhkan lebih banyak oksigen. Pada daerah kedalaman tersebut proses fotosintsesis tidak ada sehingga terjadi deplesi oksigen.

Berdasarkan distribusi vertikal oksigen terlarut (Gambar 4), ditunjukkan bahwa konsentrasi oksigen terlarut cenderung menurun seiring dengan bertambahnya

kedalaman. Menurut Goldman dan Horne (1983) tipe distribusi oksigen terlarut (Gambar 4) yang diperoleh dari hasil pengamatan termasuk tipe clinograde. Tipe

clinograde pada umumnya terjadi pada danau yang produktif (eutrofik) dengan kandungan unsur hara dan bahan organik yang tinggi. Pada tipe ini oksigen semakin berkurang dengan bertambahnya kedalaman karena adanya proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme.

Gambar 4. Distribusi vertikal konsentrasi oksigen terlarut.

Distribusi vertikal oksigen terlarut pada saat pengamatan menunjukkan bahwa pada lokasi pengamatan tidak terjadi penurunan oksigen hingga mencapai nol karena oksigen masih ditemukan hingga dasar perairan. Pada dasarnya penumpukan limbah organik yang berasal dari sisa pakan dan hasil metabolisme ikan pasti akan membutuhkan oksigen untuk melakukan proses dekomposisi, namun pada kenyataannya oksigen terlarut di lokasi pengamatan masih tersedia hingga dasar perairan meskipun dalam jumlah yang sangat minim. Hal ini didukung hasil penelitian Sukimin (2003) yang menyebutkan bahwa kandungan DO dari permukaan hingga dasar perairan adalah sebesar 1,99-8,47 mg/l. Selain itu, adanya arus balik (upwelling) yang terjadi di Waduk Cirata pada bulan Juni 2009 mengakibatkan oksigen terlarut di

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 0 2 4 6 8 K e d a la m a n ( m )

Profil Sebaran Vertikal DO (mg/l)

dasar perairan menjadi terangkat dan tercampur ke permukaan sehingga oksigen masih tersedia hingga lapisan hipolimnion.

Berdasarkan data yang diperoleh diketahui pula bahwa hingga kedalaman 16 meter konsentrasi oksigen terlarut masih dianggap layak bagi kegiatan perikanan karena memiliki kisaran nilai DO 3,35-8,20 mg/l. Hal ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 tahun 2001 kelas III yang menganjurkan batas minimal konsentrasi oksigen terlarut untuk kepentingan perikanan sebesar 3 mg/l, sedangkan pada kedalaman 18 meter hingga dasar perairan konsentrasi oksigen terlarut sudah tidak layak bagi kegiatan perikanan karena nilai oksigen terlarut pada kedalaman tersebut kurang dari 3 mg/l yaitu berada pada kisaran 0,38-2,48 mg/l. Hal tersebut menandakan kondisi perairan dari kedalaman 18 meter hingga dasar cenderung mendekati kondisi anoksik. Kondisi oksigen terlarut yang minim tersebut dapat membahayakan kehidupan ikan, baik ikan yang berada di dalam keramba maupun yang berada di luar keramba apabila pada nantinya terjadi proses pembalikkan massa air ke lapisan permukaan.

4.2. Pengaruh Pencampuran Massa Air terhadap Oksigen Terlarut

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada lokasi penelitian melalui beberapa perlakuan (Tabel 7), diperoleh nilai Dissolved Oxygen (DO) rata-rata tertinggi adalah perlakuan 1 yaitu 7,21 mg/l. Pada perlakuan 2 konsentrasi DO rata-rata yang diperoleh adalah 5,38 mg/l; dan nilai DO rata-rata pada perlakuan 3 yaitu 2,64 mg/l. Perlakuan 1 memiliki nilai konsentrasi DO yang dianggap masih baik bagi kegiatan perikanan berdasarkan PPRI No. 82 tahun 2001 yang menganjurkan nilai DO untuk kegiatan perikanan tidak kurang dari 3 mg/l. Pada perlakuan 2 nilai DO di stasiun pengamatan masih berada pada baku mutu sehingga ikan mampu mentolerir kondisi perairan tersebut. Nilai DO terendah di stasiun pengamatan berada pada perlakuan 3 dan mendekati kondisi anoksik yang berbahaya bagi kelangsungan hidup ikan. Perlakuan 3 dianggap sebagai pencampuran sempurna (holomitic) di alam. Kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian massal ikan budidaya akibat upwelling di Waduk Cirata yang pada umumnya terjadi ketika terjadi pergantian musim antara musim kemarau ke musim hujan.

Tabel 7. Konsentrasi rata-rata DO (mg/l) dari hasil pencampuran air di beberapa kedalaman Stasiun Perlakuan 1 2 3 1 7,41 5,48 2,84 2 7,00 5,28 2,44 Rata-rata 7,21 5,38 2,64 Keterangan:

Perlakuan 1 = percampuran kedalaman 2 dan 12 m Perlakuan 2 = percampuran kedalaman 2, 12 dan 24 m Perlakuan 3 = percampuran kedalaman 2, 12, 24 dan 42 m

Berbeda dengan hasil pengamatan Pratiwi (2009) di Waduk Jatiluhur yang memiliki nilai konsentrasi DO untuk perlakuan 1 masih memenuhi baku mutu (> 3 mg/l) yaitu 4,03 mg/l sedangkan perlakuan 2 dan 3 sudah berada di bawah nilai baku mutu yaitu 2,65 mg/l dan 2,02 mg/l, dan pada hasil pengamatan Nugroho (2009) nilai DO pada perlakuan 1 dan 2 masih memenuhi baku mutu yaitu 4,40 mg/l dan 3,21 mg/l, sedangkan pada perlakuan 3 sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan yaitu 2,20 mg/l. Hal ini disebabkan karena perbedaan kandungan awal oksigen, karakteristik perairan seperti kedalaman, kepadatan KJA dan waktu pengamatan juga perbedaan titik kedalaman yang akan dicampurkan.

Umbalan atau upwelling merupakan suatu peristiwa alam yang tidak dapat diduga dengan pasti waktu terjadinya. Pada pengamatan ini, perlakuan 1 dan perlakuan 2 merupakan salah satu pendekatan untuk mengetahui seberapa besar nilai DO di perairan jika terjadi pencampuran air sebagian (meromictic), sedangkan perlakuan 3 merupakan suatu pendekatan untuk mengetahui nilai DO jika perairan mengalami pencampuran massa air sempurna (holomictic). Pencampuran massa air sebagian pada umumnya lebih sering terjadi dibandingkan dengan pencampuran massa air sempurna (holomictic). Meromictic pada umumnya disebabkan oleh pergerakan angin, suhu, dan masukan aliran air sungai atau masukan inlet dari waduk yang berada diatasnya.

Dari data diatas dapat diketahui bahwa konsentrasi rata-rata oksigen terlarut pada perlakuan 1 memiliki nilai oksigen 7,21 mg/l. Nilai konsentrasi oksigen tersebut terbilang masih tinggi, hal ini disebabkan karena perlakuan 1 masih mendapatkan pengaruh yang besar dari komposisi air pada kedalaman 2 meter yang nilai oksigennya masih sangat tinggi. Pada perlakuan 2 memiliki nilai oksigen terlarut sebesar 5,38 mg/l, kandungan oksigen terlarut pada perlakuan 2 lebih kecil

dibandingkan perlakuan 1. Perlakuan 3 di stasiun pengamatan memiliki nilai oksigen paling rendah dibandingkan dengan perlakuan 1 dan 2 dengan nilai 2,64 mg/l, hal ini diduga akibat komposisi dari pencampuran pada kedalaman 42 m lebih dominan daripada kedalaman 2, 12, dan 24 m. Pada kedalaman 42 m nilai oksigen terlarut sangat rendah karena tingginya dekomposisi dan respirasi, sedangkan fotosíntesis tidak ada. Hal ini yang menyebabkan rendahnya nilai oksigen terlarut pada perlakuan 3. Perlakuan 3 merupakan pencampuran sempurna (holomitic) di mana pencampuran ini dianggap mewakili umbalan di alam yang mengalami pencampuran hingga ke dasar perairan. Nilai konsentrasi oksigen terlarut pada perlakuan 3 di stasiun pengamatan berada di bawah baku mutu yaitu > 3 mg/l menurut Effendie (2003), sehingga pada perlakuan 3 kondisi perairan tidak baik untuk budidaya perikanan.

Apabila dilihat dari ketiga perlakuan maka yang berpotensi berakibat buruk ketika terjadi pembalikan masa air adalah perlakuan 3. Dimana perlakuan ini mewakili pencampuran secara sempurna (holomitic), bahan-bahan organik dari proses dekomposisi yang bersifat toksik yang memilki nilai sufida dan amonia yang berlebih akan terangkat ke permukaan perairan sehingga dapat menyebabkan kematian massal pada ikan. Pada hasil pengamatan (Tabel 7) juga terlihat bahwa nilai oksigen terlarut sangat kecil dan berada di bawah batas baku mutu untuk perikanan (Effendi 2003).

4.3. Persen Saturasi Oksigen

Berdasarkan nilai konsentrasi oksigen terlarut yang diperoleh dari hasil pengamatan, didapatkan kadar oksigen yang melebihi nilai jenuh disebut lewat jenuh (supersaturasi). Effendi (2003) menyatakan bahwa kondisi supersaturasi menggambarkan kadar oksigen terlarut di perairan lebih besar daripada kadar oksigen yang terlarut secara teoritis berdasarkan nilai suhu pada tekanan udara 760 mmHg (Tabel 2). Kondisi supersaturasi pada saat pengamatan diperoleh pada kedalaman 0 meter (permukaan perairan) dengan nilai saturasi sebesar 110,03% (Gambar 5).

Kondisi supersaturasi ini terjadi karena pada saat pengamatan kondisi cuaca sangat cerah (waktu pengamatan pukul 11.30 WIB) dan cahaya matahari bersinar terik hingga ke permukaan perairan sehingga pada kondisi ini proses fotosintesis dari fitoplankton berjalan dengan cepat dan difusi pun tetap berjalan pada permukaan hingga kadar oksigen mencapai titik jenuh. Pada kondisi jenuh tersebut tidak ada lagi oksigen yang mengalami difusi dari udara ke dalam air. Hal ini didukung oleh penelitian Pratiwi (2009) nilai persen saturasi yang didapatkan tidak berbeda jauh

yaitu 102,29%, dimana terdapat persamaan pada saat pengamatan yaitu waktu dan kondisi cuaca sangat cerah, berbeda dengan Nugroho (2009) nilai persen saturasi yang didapatkan 86,65%, dimana adanya perbedaan waktu pengambilan sampel pada saat pengamatan.

Kondisi saturasi yang diperoleh dari ketiga hasil pengamatan ini sesuai dengan Goldman dan Horne (1983) yang menyatakan bahwa perairan yang mengalami penyuburan memiliki kejenuhan oksigen berkisar antara 80-250% saturasi.

Gambar 5. Persen saturasi oksigen terlarut di lokasi KJA Waduk Cirata

Pada saat matahari bersinar terang menurut Jeffries dan Mills (1996) in Effendi (2003), pelepasan oksigen oleh proses fotosíntesis yang berlangsung intensif pada lapisan eufotik lebih besar daripada oksigen yang dikonsumsi untuk proses respirasi. Kadar oksigen terlarut dapat melebihi kadar oksigen jenuh (saturasi) sehingga perairan mengalami supersaturasi. Menurut Effendi (2003) oksigen yang mencapai titik jenuh akibat pertumbuhan fitoplankton yang berlangsung dengan cepat seiring dengan peningkatan unsur hara. Hal ini dapat membahayakan kelangsungan hidup

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 0.00 50.00 100.00 K e d a la m a n ( m )

Persen saturasi DO (%)

Persen saturasi

ikan, karena dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi perairan sehingga pada saat malam hari oksigen menjadi sangat minim atau bahkan mencapai nol.

4.4. Parameter Fisika-Kimia penunjang 4.4.1. Suhu

Suhu merupakan salah satu parameter penting yang mempengaruhi kondisi ekosistem perairan. Perubahan suhu akan mempengaruhi proses-proses yang terjadi di perairan seperti kimia, fisika, dan biologi. Hasil pengamatan menunjukkan nilai suhu yang menurun seiring bertambahnya kedalaman (Tabel 8) dengan kisaran rata-rata adalah 26,0–30,6 0C. Berdasarkan PPRI No. 82 tahun 2001 kelas III, suhu yang diperoleh masih layak untuk budidaya perikanan karena berada pada baku mutu yang dianjurkan yaitu 28±3 0C sehingga sebaran suhu di waduk ini masih dapat mendukung kehidupan ikan.

Pada saat pengamatan tidak diperoleh lapisan termoklin yaitu lapisan air yang mengalami penurunan suhu cukup besar yaitu lebih dari 1 0C/m (Tabel 8 dan Gambar 6) yang memungkinan adanya stratifikasi sangatlah kecil. Lapisan hipolimnion diduga berkisar dari kedalaman 18 meter hingga dasar perairan. Menurut Goldman dan Horne (1983), lapisan hipolimnion merupakan lapisan dengan perbedaan suhu secara vertikal relatif kecil, massa air bersifat stagnan, tidak mengalami pencampuran, dan memiliki densitas air yang lebih besar. Lapisan ini cenderung mengandung kadar oksigen terlarut yang rendah dan relatif stabil.

Pada hasil pengamatan (Tabel 8) yang telah dilakukan terjadi penurunan suhu seiring bertambahnya kedalaman, sehingga Waduk Cirata memiliki stratifikasi suhu. Cahaya matahari yang masuk ke perairan mengalami penyerapan dan berubah menjadi energi panas sehingga pada permukaan suhunya lebih tinggi dan cenderung lebih panas dan densitas air di permukaan lebih rendah dibandingkan dengan kedalaman dibawahnya. Hal ini disebabkan karena ketika pengamatan kondisi cuaca sangat terik dan panas. Kondisi inilah menyebabkan stratifikasi panas pada kolom air.

Intensitas cahaya yang masuk ke dalam kolom perairan akan semakin berkurang dengan bertambahnya kedalaman perairan. Cahaya yang mencapai perairan yang diubah menjadi energi panas tersebut akan meningkatkan suhu air sehingga jika suhu dipermukaan menurun secara tiba-tiba maka akan menyebabkan terjadinya pencampuran massa air.

Tabel 8. Distribusi vertikal suhu ( 0C) di lokasi pengamatan Kedalaman Suhu 0 30,6 2 30,3 4 30,1 6 29,8 8 29,4 10 29,2 12 28,8 14 28,7 16 28,5 18 28,3 20 27,9 22 27,8 24 27,6 27 27,4 30 27,0 36 26,8 42 26,5 48 26,2 Dasar* 26,0

Keterangan : * kedalaman maksimum di lokasi pengamatan adalah 51 meter

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan melalui tiga perlakuan, didapatkan nilai suhu rata-rata pada perlakuan 1 adalah 29,60C. Pencampuran yang dilakukan pada perlakuan 1 merupakan pencampuran antara kedalaman 2 dan 12, sehingga suhu permukaan masih sangat berpengaruh pada perlakuan 1 di lokasi pengamatan. Komposisi kedalaman 2 meter lebih besar dibandingkan dengan kedalaman 12 meter berturut-turut adalah 60 ml dan 40 ml, hal ini juga menjadi salah satu penyebab suhu pada perlakuan 1 masih tinggi. Pada perlakuan 2 nilai suhu yang didapatkan di lokasi pengamatan adalah 28,20C dimana tidak terjadi penurunan suhu secara signifikan pada perlakuan 2. Perlakuan 2 adalah pencampuran antara kedalaman 2, 12, dan 24, dengan komposisi masing-masing dari setiap kedalaman adalah 22,22 ml, 37,04 ml dan 40,74 ml. Komposisi ketiga kedalaman ini tidak memiliki perbedaan yang jauh sehingga suhu pada perlakuan 2 tidak terlalu berbeda dengan perlakuan 1.

Gambar 6. Distribusi vertika

Selanjutnya, perlakuan 12, 24, 42, dimana perlakuan dengan komposisi masing Pada perlakuan 3 nilai suhu pada perlakuan ini lebih rendah disebabkan karena pencampuran suhunya lebih rendah dibandingkan sampel dari perlakuan ini lebih

Tabel 9. Hasil pengukuran beberapa kedalaman Stasiun 1 2 Rata-rata Keterangan:

Perlakuan 1 = percampuran keda Perlakuan 2 = percampuran

Perlakuan 3 = percampuran kedalam

6. Distribusi vertikal suhu di lokasi pengamatan

Selanjutnya, perlakuan 3 yang merupakan pencampuran antara kedala perlakuan 3 dianggap sebagai pencampuran sempurna ( masing-masing adalah 11,76 ml; 19,61 ml; 21, 57 ml; da nilai suhu rata-rata dari stasiun pengamatan adalah 26, ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan 1 dan 2 karena pencampuran yang dilakukan mencapai kedalaman 42 meter,

rendah dibandingkan dengan kedalaman yang lainnya. Komposisi dari perlakuan ini lebih banyak pada kedalaman 42 meter.

engukuran rata-rata suhu (0C) melalui pencampuran air beberapa kedalaman Perlakuan 1 2 3 29,5 28,1 26,8 29,6 28,3 26,6 29,6 28,2 26,7

puran kedalaman 2 dan 12 m kedalaman 2, 12 dan 24 m puran kedalaman 2, 12, 24 dan 42 m

antara kedalaman 2, sempurna (holomitic) dan 47,06 ml. 26,70 C. Suhu akuan 1 dan 2. Hal ini kedalaman 42 meter, yang . Komposisi air

Hasil pengukuran dari ketiga perlakuan yang dilakukan merupakan suatu pendekatan untuk mengetahui nilai suhu pada saat terjadi pencampuran massa air sebagian (meromictic) dan pencampuran sempurna (holomictic). Berdasarkan hasil yang diperoleh dari ketiga perlakuan menunjukkan bahwa nilai rata-rata suhu yang diperoleh masih berada dalam ambang batas baku mutu suhu untuk perikanan menurut PP RI No. 82 tahun 2001 yang menganjurkan kisaran suhu untuk kegiatan perikanan adalah 28±3 0C. Hal ini disebabkan adanya pengaruh suhu di permukaan pada saat pengukuran. Pada saat dilakukan percobaan, suhu di permukaan masih tinggi (Tabel 9) karena pengaruh sinar matahari sehingga hasil pengukuran suhu yang diperoleh pun masih cukup besar.

4.4.2. Kecerahan

Kecerahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan oksigen pada perairan. Jumlah cahaya yang masuk ke perairan akan mempengaruhi proses laju fotosintesis. Dalam suatu perairan, fotosintesis meningkat sejalan dengan meningkatnya intensitas cahaya. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan didapat nilai rata-rata kecerahan di stasiun pengamatan sebesar 124-126 cm. Rendahnya nilai kecerahan di dalam KJA disebabkan oleh kandungan bahan organik karena sisa pakan dan sisa metabolisme. Kedalaman zona eufotik pada perairan ini berkisar antara 3,71-3,78 m yaitu 3 kali kedalaman secchi disk.

Nilai kecerahan yang baik untuk kelangsungan hidup ikan (Asmawi 1983) adalah lebih besar dari 45 cm sehingga nilai kecerahan dari hasil pengamatan pada stasiun pengamatan masih baik untuk budidaya perikanan. Kecerahan merupakan ukuran tranparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan

secchi diskyang mekanismenya mengkuantitatifkan kekeruhan dalam suatu nilai yang disebut dengan kecerahan secchi disk (Boyd, 1990). Status waduk Cirata dilihat dari nilai kecerahannya tergolong eutrofik. Hal ini didasarkan pada Henderson dan Markland (1976) in Widiyastuti (2004) dimana nilai kecerahan yang kurang dari 3 meter dapat digolongkan kedalam status waduk eutrofik.

4.4.3. Amonia (NH3)

Pembusukan bahan organik terutama yang banyak mengandung protein akan menghasilkan amonia (NH3). Amonia yang berlebih di perairan bersifat toksik pada

ikan. Berdasarkan data pada Tabel 10, kisaran amonia yang diperoleh di stasiun pengamatan pada perlakuan 1 adalah 0,0081-0,0275 mg/l; pada perlakuan 2 memiliki kisaran amonia 0,0087–0,0267 mg/l; dan kisaran amonia yang diperoleh pada perlakuan 3 adalah 0,0116–0,0292 mg/l.

Nilai amonia rata-rata tertinggi pada saat pengamatan di lokasi penelitian terdapat pada perlakuan 3, dengan nilai 0,0222 mg/l; nilai amonia rata-rata yang diperoleh dari perlakuan 2 pada stasiun pengamatan adalah 0,0181 mg/l; sedangkan