BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Pengukuran distribusi pendapatan
Remi dan Tjiptoherijanto (2002:22) mengemukakan bahwa distribusi pendapatan adalah pengukuran untuk mengukur kemiskinan relatif. Hal ini senada dengan penjelasan Prayitno dan Santosa (1996:103) bahwa kemiskinan relatif berkaitan dengan distribusi pendapatan yang mengukur ketidakmerataan atau kemiskinan relatif sering diartikan sebagai indikator ketimpangan (ketidakmerataan).
Lebih lanjut Prayitno dan Santosa (1996:110) menjelaskan bahwa untuk melihat gambaran tingkat distribusi pendapatan ada berbagai macam ukuran. Secara umum ukuran pokok distribusi pendapatan dibedakan menjadi dua, yaitu distribusi pendapatan perorangan (personal distributions) dan distribusi pendapatan fungsional atau distribusi pendapatan berdasarkan peranan masing-masing faktor yang bisa didistribusikan (distribution factor share).
Distribusi pendapatan perseorangan merupakan ukuran ketimpangan yang paling umum digunakan. Distribusi ini menyangkut segi manusia sebagai perorangan atau rumah tangga dan total pendapatan yang mereka terima. Cara yang dilakukan oleh keluarga atau perorangan untuk mendapatkan pendapatan tersebut, berapa besar penerimaan masing-masing
individu atau rumah tangga. Individu-individu tersebut dikelompokkan berdasarkan pendapatan perorangan lalu membaginya dengan jumlah yang berbeda-beda ukurannya. Metode yang lazin digunakan adalah membagi penduduk ke dalam lima atau 10 kelompok (quintiles atau
desiles) sesuai dengan tingkat pendapatan mereka, kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok dari pendapatan tersebut.
Sedangkan distribusi pendapatan fungsional merupakan ukuran ketimpangan yang mencoba menerangkan bagian dari pendapatan nasional atau daerah yang diterima oleh masing-masing faktor produksi. Distribusi pendapatan fungsional merupakan persentase dari penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan (bukan sebagai badan usaha yang terpisah secara individual) dan membandingkannya dengan persentase total pendapatan yang dibagikan dalam bentuk sewa bunga dan keuntungan (yaitu perolehan dari tanah, uang dan modal fisik).
Prayitno dan Santosa (1996:117) mengemukakan bahwa pengamatan distribusi pendapatan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pengamatan secara langsung adalah dengan memakai data pendapatan/ pengeluaran rumah tangga yang biasanya diperoleh dari survei. Sedangkan pengamatan secara tidak langsung dilakukan dengan mengamati konstribusi (share) dari tenaga kerja (labour) dalam total value added PDB. Pengukuran distribusi pendapatan secara langsung dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: ukuran statistik, indeks Kuznets, indeks Oshima, dan kriteria relative inguality.
Di Indonesia pengukuran distribusi pendapatan secara relatif menggunakan harga dari bahan-bahan kebutuhan pokok dimana akan diperoleh anggaran minimum absolute. Angka ini dapat digunakan untuk menentukan upah minimum regional. Sedangkan untuk menentukan pemerataan distribusi pendapatan, Bank Dunia membagi penduduk dalam tiga kelompok, yaitu:
1. 40% berpendapatan rendah 2. 40% berpendapatan rendah 3. 20% berpendapatan tinggi.
Apabila kelompok penduduk yang berpendapatan rendah menguasai: < 12 % PNB berarti terdapat kesenjangan tinggi, < 12% - 17% PNB berarti terdapat kesenjangan sedang, >17% PNB berarti terdapar kesenjangan rendah. Pendapatan dianggap didistribusikan sempurna apabila setiap individu mendapat bagian yang sama dari output perekonomian. Distribusi pendapatan dianggap kurang adil jika sebagian besar output nasional dikuasai sebagian kecil penduduk.
Remi dan Tjiptoherijanto (2002:41) menjelaskan bahwa cara lain untuk menguraikan distribusi pendapatan adalah dengan kurva Lorenz. Kurva ini merupakan sebuah diagram yang memperlihatkan hubungan antara kelompok- kelompok penduduk dan porsi pendapatan yang mereka terima. Pengukuran distribusi pendapatan yang diperoleh dengan menggunakan kurva Lorenz kemudian dijumlahkan dengan memberikan densitas relatif dari ketidakmerataan distribusi pendapatan atau yang dikenal sebagai rasio Gini.
Menurut Todaro (1983: 195-196) tidak ada negara yang memperlihatkan kemerataan yang sempurna ataupun ketidakmerataan yang sempurna dalam distribusi pendapatannya. Oleh karena itu kurva Lorenz untuk negara yang berbeda akan berada disebelah kanan garis diagonal atau garis keseimbangan. Berdasarkan pendapat ini, Apoda (2001:49) menegaskan bahwa dalam menganalisis distribusi pendapatan penduduk antara wilayah atau antar sektor, kurva Lorenz ini dapat menunjukkan mana yang lebih timpang. Dan untuk memahami tingkat ketimpangannya seringkali dipadu dengan indeks Gini atau Gini ratio.
Ukuran distribusi yang sering digunakan oleh para ahli ekonomi pada umumnya adalah distribusi ukuran yang lebih dikenal dengan distribusi pendapatan antar kelompok size distribution of income yang menjelaskan besarnya pembagian antar perorangan atau rumah tangga. Untuk menentukan distribusi pendapatan ini digunakan dua macam cara.
1. Kurva Lorenz
Metode yang lazim digunakan adalah deciles dan
quintiles yaitu berdasarkan persentase pendapatan secara komulatif dan persentase penerima pendapatan secara komulatif pula. Tingkat distribusi pendapatan cara deciles
yaitu dengan membagi pendapatan menjadi 5 kelompok penerima pendapatan secara berurutan dari kelompok 20% penduduk termiskin sampai 20% penduduk terkaya berdasarkan proporsi pendapatannya, sedangkan cara
quintiles yaitu dengan membagi pendapatan menjadi 10 kelompok penerima pendapatan secara berurutan pula dan 10% penduduk termiskin sampai 10% penduduk terkaya.
Hasil pengelompokan tersebut merupakan dasar untuk menggambarkan sebuah kurva Lorenz. Kurva Lorenz yaitu kurva yang memperlihatkan hubungan kuantitatif aktual antara persentase jumlah penduduk penerima pendapatan tertentu dari total penduduk dengan persentase pendapatan yang benar-benar mereka peroleh dari total pendapatan selama satu tahun (Todaro, 2000:183).
Remi Sutyastie dan Tjiptoherijanto (2002:41) menjelaskan cara lain untuk menguraikan distribusi pendapatan adalah dengan kurva Lorenz. Kurva ini merupakan sebuah diagram yang memperlihatkan hubungan antara kelompok-kelompok penduduk dan porsi pendapatan yang mereka terima. Pengukuran distribusi pendapatan yang diperoleh dengan menggunakan kurva Lorenz kemudian dijumlahkan dengan memberikan identitas relatif dari ketidakmerataan distribusi pendapatan atau yang dikenal dengan rasio Gini.
Penjelasan senada dikemukakan Kuncoro (1987:147) bahwa indikator yang sering digunakan untuk mengetahui kesenjangan distribusi pendapatan adalah
rasio Gini. Nilai rasio Gini (Gini ratio) berkisar antara nol dan satu. Bila rasio Gini sama dengan nol berarti distribusi pendapatan sangat merata karena setiap golongan penduduk menerima bagian pendapatan yang sama. Secara grafis, hal ini ditunjukkan oleh berimpitnya kurva Lorenz dengan garis kemerataan sempurna. Namun, bila rasio Gini sama dengan satu menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna karena seluruh pendapatan hanya dinikmati oleh satu orang saja. Singkatnya semakin tinggi nilai rasio Gini, maka distribusi
pendapatan suatu daerah semakin timpang. Sebaliknya semakin rendah nilai rasio Gini berarti disribusi pendapatan semakin merata.
Wie (1983: 69), mengemukakan bahwa Gini Lorenz Concentration ratio (indeks Gini), adalah variabel yang dinamis dalam arti besarnya berubah-ubah baik antara waktu, antara daerah, maupun antara sektor. Semakin besar indeks Gini (mendekati 1) berarti distribusi pendapatan semakin timpang, dan sebaliknya semakin mendekati nol berarti semakin merata.
Dalam gambar 2.1 dapat dilihat bahwa garis lengkung AC menggambarkan kurva Lorenz dan garis lurus AC menggambarkan garis kemerataan. Semakin melengkung kurva Lorenz atau semakin jauh dari garis kemerataan berarti semakin tinggi tingkat ketimpangan pembagian pendapatan dan sebaliknya semakin lurus kurva Lorenz atau semakin mendekati garis kemerataan berarti semakin merata pembagian pendapatan.
2. Indeks Gini
Berdasarkan kurva Lorenz besarnya indeks Gini dapat diketahui dengan menghitung bidang yang terletak antara garis kemerataan dengan kurva Lorenz dibagi dengan separuh bidang di mana kurva Lorenz berada. Pada gambar 2.1 di atas ketidakmerataan pendapatan ditunjukkan oleh daerah P yang terletak antara garis lurus AC (garis kemerataan mutlak) dan garis lengkung AC (garis distribusi pendapatan yang sebenarnya) dibagi dengan segitiga ABC. Dari besarnya nilai indeks Gini tersebut tingkat ketimpangan distribusi pendapatan dalam masyarakat dapat diketahui.
Todaro (2000:188) menyatakan bahwa indeks Gini atau koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan/kesejahteraan) agregat secara keseluruhan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Dalam kenyataan, nilai indeks Gini sebesar nol atau satu tidak mungkin terjadi karena tidak mungkin distribusi pendapatan suatu negara mengalami merata sempurna atau tidak merata sempurna. Indeks ini mempunyai beberapa kelebihan seperti teknik penghitungannya yang relatif mudah dan tidak terikat pada distribusi/penyebaran pendapatan yang sedang diamati dan digunakan sebagai alat pembanding dalam mengamati kecenderungan sifat distribusi pendapatan masyarakat.
Kurva Lorenz ini memperlihatkan hubungan kuantitatif yang aktual antara persentase penerima pendapatan dengan presentase jumlah pendapatan yang diterimanya. Kriterianya adalah semakin jauh dari keseimbangan berarti semakin timpang, sebaliknya
semakin mendekati garis keseimbangan berarti semakin merata.
3. Tingkat Distribusi Pendapatan Menurut Kriteria Bank Dunia
Distribusi pendapatan menurut kriteria yang dikemukakan oleh Bank Dunia (Worl Bank). Pengukuran ketimpangan distribusi pendapatan suatu daerah dengan melihat besarnya kontribusi dari 40% penduduk termiskin. Pengukuran tersebut dapat dilihat dari sisi pendapatan maupun pengeluaran. Akan tetapi seringkali digunakan adalah pengukuran dari sisi pengeluaran karena datanya lebih mudah diperoleh. Walaupun demikian dari sisi pengeluaran tersebut memiliki banyak kelemahan yaitu data yang disajikan akan underestimate jika dibandingkan bila data yang dipergunakan adalah data yang berdasarkan pendapatan. Beberapa kelemahan diataranya adalah yang menyangkut tabungan (saving). Adanya bagian pendapatan yang ditabung menyebabkan jumlah pengeluaran lebih kecil dari pendapatan. Hal ini dalam kenyataan adanya trasfer pendapatan. Dalam masyarakat kita adalah lumrah bila seseorang memberikan sebagian pendapatannya sebagai sokongan kepada saudara yang tidak mampu. Dengan demikian kembali tingkat pengeluaran tidak mencerminkan pendapatan yang diperoreh. Masalah lain adalah sering tidak tercatatnya pengeluaran-pengeluaran terutama bagi masyarakat berpendapatan tinggi. Dengan demikian pendekatan tersebut akan memberikan suatu gambaran yang bias.
Kriteria yang dipergunakan oleh Bank Dunia tersebut adalah:
1. Bila kelompok 40% penduduk termiskin pengeluarannya lebih kecil dari pada 12% dari keseluruhan pengeluaran, maka dikatakan bahwa daerah yang bersangkutan berada dalam tingkat ketimpangan tinggi.
2. Bila kelompok 40% penduduk termiskin pengeluarannya antara 12%-17% dari keseluruhan pengeluaran, maka dikatakan bahwa terjadi tingkat ketimpangan sedang (moderat).
3. Bila kelompok 40% penduduk termiskin pengeluarannya lebih dari pada 17% dari keseluruhan pengeluaran, maka dapat dikatakan bahwa tingkat ketimpangan yang terjadi adalah rendah.
Untuk mengetahui tingkat distribusi pendapatan dengan kedua cara ini, Biro pusat statistik (BPS) dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) telah menyajikan angka-angka koefisisen Gini dan hasil perhitungan yang berdasarkan kreteria Bank Dunia. Dengan demikian data tersebut merupakan data yang siap untuk digunakan.
2.7. Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Ketimpangan