Pengukuran Warna Kayu
Gambar 1. Minolta CR-300 chromameter Keterangan :
A. Minolta CR-300 chromameter data prosessor
B. Pengukur warna dengan bidang ukur 8 mm
C. Keramik putih sebagai kalibrasi
A
B C
1998). Pada tahun 1976, komisi pengukuran warna internasional (CIE,
) mengumumkan standar pengukuran warna CIELAB atau CIEL*a*b* untuk benda yang tidak
memancarkan cahaya ( ) seperti tekstil,
cat dan produk dari plastik. Sejak saat itu, sistem pengukuran warna CIELAB telah terbukti mampu membantu standarifikasi pengukuran warna dalam industri, terutama membantu pembuatan nota kesepakatan atau kespahaman antara penjual dan pembeli tekstil, yaitu pencantuman nilai warna berdasarkan nilai L*, a* dan b* dan toleransi yang diperbolehkan (McLaren, 1976; Agoston, 1979).
Sistem pengukuran CIELAB juga telah dilakukan untuk produk kayu, seperti kuantifikasi warna alami kayu pinus dan ekaliptus (Krisdianto, 2007), pengukuran warna alami komponen kayu (Nishino
1991). Dalam sistem pengukuran CIELAB, nilai warna disajikan dalam tiga titik
koordinat yaitu dan . Koordinat pertama
merupakan kecerahan ( ) yang berskala dari '0'
sampai '100'. Nilai kecerahan 'nol' berarti benda hitam mutlak, sedangkan kecerahan '100' berarti refleksi
kecerahan putih sempurna. Nilai adalah nilai
kemerahan ( ) yang berskala positif 120 (+120) dan
Commission International de l' Eclairage non-self-luminous et al., et al., L*, a* b* L* lightness a* redness 1998), menentukan serangan jamur pelapuk (Katuščák dan Katuščákoá, 1987) dan perhitungan perubahan warna akibat perlakuan panas (Burgois
negatif 120 (-120). Nilai positif 120 (+120) adalah nilai merah sempurna dan negatif 120 (-120) adalah warna
hijau sempurna. Nilai adalah nilai koordinat kekuningan
( ) yang berskala positif 120 (+120) untuk kuning
sempurna dan negatif 120 (-120) untuk biru sempurna (McLaren, 1976).
Perbedaan warna suatu benda dapat dinilai
berdasarkan tiga hal, yaitu perbedaan warna (Δ ), sudut
warna ( ) dan kroma (C* ). Perbedaan warna
(Δ ) merupakan rerata perbedaan jarak dari nilai
dan dalam tiga titik koordinat, sedangkan perbedaan
sudut warna adalah perbedaan sudut warna dalam atlas warna yang berbentuk bundar. Perbedaan kroma adalah perbedaan tinggi rendahnya kroma berdasarkan perhitungan Hunter (1987). Perhitungan perbedaan warna yang paling sering dan mudah digunakan adalah
perbedaan warna (Δ ) (Rumus Perhitungan 1).
Perbedaan warna akan tampak oleh mata manusia pada umumnya jika nilai Δ lebih dari 1,5 (Horváth dan Halász-Fekete, 2005). Rumus perhitungan 1. b* yellowness E* hue angle, h° E* L*, a* b* E* E* ab ab
Dimana Δ , Δ Δ adalah perbedaan nilai awal ( )
L*, a* dan b* dengan nilai akhirnya ( ). Nilai Δ adalah
nilai total perbedaan warnanya.
L* a* dan b* i
C. Warna Alami Kayu
Warna alami kayu adalah warna yang dimiliki oleh suatu jenis kayu tanpa mendapatkan perlakuan tertentu. Karakteristik warna kayu disebabkan oleh kandungan zat ekstraktif dalam kayu yang bervariasi dari 1% sampai 20% untuk kayu-kayu tropis. Zat ekstraktif yang memberikan warna kayu bervariasi dari tanin, flavonoid, stilbena, polifenol, fenol dan antosianin (Achmadi, 1990; Uprichard, 1993; Sjostrom, 1993). Variasi kandungan zat ekstraktif tersebut dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan pohon penghasil kayu, sehingga kondisi geografis yang berhubungan dengan kondisi dan jenis tanah mempengaruhi perbedaan warna satu jenis kayu. Kayu jati yang tumbuh di daerah pegunungan berkapur misalnya memiliki kayu yang berwarna coklat lebih tajam dari kayu jati yang tumbuh di tanah tidak berkapur dan tidak jauh dari sumber air.
Dalam satu pohon, warna alami kayu bervariasi bergantung posisinya dalam pohon. Kayu dari bagian gubal umumnya lebih pucat warnanya dari bagian teras yang berwarna lebih kuat. Selain itu dalam satu lingkaran pertumbuhan, warna kayu awal yang berada di awal lingkaran pertumbuhan berbeda dengan kayu akhir yang berada di bagian akhir lingkaran pertumbuhan. Perbedaan warna dalam suatu pohon juga disebabkan karena struktur anatomi kayu yang membentuk corak kayu yang khas, seperti bidang perbedaan warna penampang tangensial yang berbeda dengan penampang radialnya yang bercorak garis jari-jari kayu. Untuk keperluan identifikasi kayu, penentuan warna kayu umumnya dilakukan dari penampang tangensial potongan kayu terasnya.
Sebagai bahan berlignoselulosa, warna alami kayu berubah sesuai dengan perubahan kadar air dan perlakuan yang dialaminya. Kayu segar dengan kadar air sekitar 100%, memiliki warna coklat umumnya yang lebih kuat daripada kayu yang sudah dikeringkan dengan kadar air dibawah 30%. Hal ini disebabkan perubahan suhu dan kelembaban menyebabkan air menguap dari dalam kayu disertai perubahan kandungan ekstraktif yang berperan dalam warna kayu. Selain itu, terjadi proses oksidasi per-mukaan kayu yang menyebabkan perper-mukaan kayu terbuka
menjadi lebih pucat (Tsoumis, 1991). Penurunan kadar air tidak hanya menjadikan layu lebih pucat, namun pada beberapa jenis kayu menjadikan warna coklatnya lebih kuat, seperti kayu merbau. Hal ini disebabkan pada proses pengeringan alaminya zat warna ikut terbawa keluar dan mengendap di permukaan kayu. Perubahan warna kayu yang nyata adalah akibat pencuacaan (weathering), dimana kayu menjadi lebih pucat akibat radiasi ultraviolet dari sinar matahari dan pencucian oleh air hujan yang diikuti dengan perubahan suhu dan kelembaban.
Seperti telah disebutkan sebelumnya untuk identifikasi kayu, warna kayu sebaiknya di ukur pada bagian terasnya. Pengukuran sebaiknya dilakukan pada papan yang sudah diserut halus pada penampang tangensialnya untuk menghindari corak bergaris karena adanya parenkima jari-jari dari bagian radialnya. Untuk menghindari bias pengukuran pada suatu papan, pengukuran warna sebaiknya dilakukan pada kondisi kayu kering alami atau sudah dalam kondisi EMC (Equilibrium Moisture Content) atau seimbang dengan kondisi atmosfer di sekelililngnya. Pengukuran warna kayu dilakukan sebanyak mungkin ( 30 pengukuran) agar diperoleh rerata yang cukup mewakili nilai warna kayu alaminya. Contoh hasil pengukuran beberapa warna kayu pinus dan eucalyptus dengan Microflash 200 disajikan dalam Tabel 1.
Penentuan warna kayu adalah bagian penentuan warna berdasarkan persepsi otak manusia berdasarkan gelombang cahaya yang diterima oleh retina. Persepsi suatu warna kayu dapat dikuantifikasi dalam nilai berdasarkan sistem pengukuran warna CIELAB. Variasi karakteristik kayu dalam suatu pohon menghasilkan kesepakatan pengukuran warna kayu yang direkomendasi-kan, yaitu pengukuran dari bagian kayu teras, pada permukaan tangensial dan dilakukan pada kayu yang telah kering udara. Pengukuran dilakukan sebanyak mungkin agar nilai warna seluruh permukaan kayu terwakili.
+
-D. Pengukuran Warna Kayu
No. Jenis kayu Nilai warna L* a* b* 1. Pinus palustris 56,464 25,660 41,810 2. Pinus resinosa 71,984 20,068 43,380 3. Pinus halepensis 72,464 19,168 43,108 4. Pinus canariensis 76,248 18,282 45,022 5. Pinus radiata 71,064 19,356 42,736 6. Pinus sylvestris 72,094 20,306 45,554 7. Pinus strobes 77.802 17,554 38,370 8. Pinus echinata 69,172 21,242 46,502 9. Pinus taeda 69,310 21,388 45,670 10. Pinus pinnaster 71,112 19,328 41,720 11. Eucalyptus muelleriana 53,643 13,969 27,275 12. Eucalyptus grandis 61,642 22,496 31,436 13. Eucalyptus microcorys 61,902 13,594 29,836 14. Eucalyptus propinqua 45,374 23,918 30,000 15. Eucalyptus dives 50,462 18,362 27,736 16. Eucalyptus obliqua 55,096 17,152 32,342 17. Eucalyptus maculata 53,600 19,220 33,444 18. Eucalyptus viminalis 65,098 19,038 30,334 19. Eucalyptus gummifera 37,360 22,506 23,350 20. Eucalyptus crebra 39,798 20,862 24,996
Tabel 1. Hasil pengukuran warna kayu pinus dan eucalyptus dengan Microflash - 200
Daftar Pustaka
Achmadi, S.S. 1990. Pusat Antar Universitas.
Institut Pertanian Bogor, Bogor. Agoston A. 1979.
. Heidelberg. P.286.
Boardman B.E., Senft, G.P. McCabe dan Ladisch, C.M. 1992. Colorimetric analysis in grading black walnut veneer.
24:99-107.
Bourgois J., Janin G dan Guyonner, R. 1991. The colour measurement afast method to study and to optimize the chemical transformations undergone thermically
treated wood. 45(5):377-382.
Horváth H.Z. dan Halász-Fekete M. 2005. Instrumental colour measurement of Paprika grist in
Faculty of Engineering Hunedora. Pp. 101-107.
Illic, J. 1990. The CSIRO Macro key for hardwood Identification. Division of Forestry and Forest Products, CSIRO, Melbourne, Australia. P. 125.
Katuščák S. dan Katuščákoá G. 1987. Means of objective identification of Spruce wood decay.
41(5):315-320.
Kimia Kayu.
Color Theory and Its Application in Art and Design
Wood and Fiber Science
Holzforschung
Annals of the Faculty of Engineering.
Holzforschung
Krisdianto, 2007. Colour differences of pine and eucalyptus
. 4(2):83-91.
McLaren, J. 1976. The development of the CIE 1976 (L*a*b*) uniform colour-space and colour difference formula.
92(9):338-341.
Nishino Y. Janin G. Chanson, B. Detienne, P. Grill, J. dan Thibaut B. 1998. Colourimetry of wood specimen from
French Guiana. 44(1):3-8.
Sjostrom, E. 1993.
. Edisi 2 (terjemahan) Gadjah Mada Univ. Press. UGM, Yogyakarta.
Tilley, R. 1999. Colour and the optical properties of materials. An exploration of relationship between light, the optical properties of material and colour. Cardiff University, John Willey and Son Ltd. London. P.342. Tsoumis, G. 1991.
. Van Nostrand Reinhold, New York.
Uprichard, J.M. 1993. Wood extractives. Walker,
J.C.F. Primary Wood Processing: principle and Practice. Chapman and Hall, London.
Journal of Forestry Research
Journal of the Society of Dryers and Colourists
Journal of Wood Science
Kimia Kayu Dasar-dasar dan Penggunaan
Science and Technology of Wood: Structure, Properties and Utilization
artikel
Pada tahun 1968 mulai ada pabrik yang membuat kayu lapis berukuran 2,44 m x 1,22 m sehingga disebut panel. Kayu lapis yang dibuat berupa tripleks yang digunakan untuk bahan peti teh, bahan bangunan dan bahan mebel. Sebelum tahun 1968 yang dibuat adalah tripleks berukuran panjang kurang dari satu meter dan lebar kurang dari setengah meter yang digunakan untuk peti teh dan barang kerajinan. Pada tahun 1970-an berdiri beberapa pabrik kayu lapis yang membuat tripleks dan multipleks berukuran 2,44 m x 1,22 m serta mulai ada yang diekspor, sehingga mendorong pemerintah untuk membuat standar kayu lapis. Pada tahun 1981 mulai dibuat standar kayu lapis. Berdasarkan lembaga pemerintah yang membuatnya, disebut
SKI), SII)
dan SP). Materinya sama, yaitu berasal dari Standar Amerika. Pada standar ini ada 2 macam mutu perekatan yaitu tipe I (eksterior) dan tipe II (interior) serta 4 macam mutu lapisan muka, yaitu A, B, C dan D. Pada pengujian mutu perekatan, selain nilai geser tarik, diperhatikan juga kerusakan kayu. Pada Standar Amerika ada dua macam mutu perekatan yaitu tipe I dan tipe II serta ada 4 macam mutu lapisan muka yaitu BB, CC, OVL (Overlay) dan UTY (Utility).
Standar bersifat sukarela sehingga pasar yang menentukan standar yang digunakan oleh produsen untuk ekspor ke negara tertentu. Standar Inggris dipakai untuk ekspor kayu lapis ke Eropa yang mempunyai 4 macam mutu perekatan, yaitu INT),
MR), BR) yang kemudian berubah
menjadi CBR) dan
WBP). Bila dibandingkan dengan Standar Amerika, MR setara dengan tipe II dan WBP setara dengan tipe I. Mutu perekatan ditentukan oleh nilai geser tarik dan kerusakan kayu. Mutu lapisan muka tidak mengacu ke Standar Inggris (3 macam) tetapi ke Standar Amerika (4 macam) dengan istilah BB, CC, OVL dan UTY.
Pada tahun 1980-an ekspor kayu lapis ke Jepang meningkat dan standar yang dipakai adalah Standar Jepang. Pada standar ini dikenal 4 macam mutu perekatan, yaitu tipe III, tipe II, tipe I dan tipe khusus. Dibandingkan dengan Standar Inggris, tipe III lebih rendah dari INT karena tipe III diuji dalam keadaan kering sedangkan INT diuji setelah direndam dalam air dingin. Tipe II setara dengan MR, tipe I setara dengan CBR dan tipe khusus setara dengan WBP. Mutu perekatan ditentukan oleh nilai geser