Kehutanan Indonesia ( Standar Industri Indonesia (
Standar Perdagangan (
Interior ( Moisture Resistance ( Boil Resistance (
Cyclic Boil Resistance ( Weather and Boil Proof (
tarik, nisbah tebal lapisan inti dengan lapisan muka (tebal rata-rata lapisan muka+lapisan belakang) dan jenis kayu atau kelompok jenis kayu. Mutu lapisan muka tidak mengacu ke Standar Jepang (3 macam), tetapi ke Standar Amerika (4 macam) dengan istilah BB, CC, OVL, UTY.
Berdasarkan pengalaman melaksanakan Standar Jepang dengan volume kayu lapis yang besar maka standar kayu lapis Indonesia yang semula hanya mengenal 2 macam mutu perekatan pada tahun 1992 diubah menjadi 4 macam yaitu tipe eksterior I yang setara dengan tipe khusus, tipe eksterior II yang setara dengan tipe I, tipe interior I yang setara dengan tipe II dan tipe interior II yang setara dengan tipe III. Cara pengujian dan persyaratan mutu perekatannya mengikuti Standar Jepang, yaitu 7 kg/cm setelah diperhitungkan dengan nisbah tebal lapisan inti dengan lapisan muka. Tipe interior II diuji dalam keadaan kering sehingga sesuai dengan industri kecil. Mutu lapisan muka 4 macam, yaitu A, B. C dan D mengikuti Standar Amerika disesuaikan dengan keadaan di Indonesia (modifikasi), sedangkan mutu lapisan belakang hanya satu macam berupa persyaratan minimal.
Pembentukan DSN)
pada tahun 1989 disusul dengan penyusunan SSN) 1992 dan peresmian SNI (Standar Nasional Indonesia) sehingga tidak ada lagi standar sektoral yang dikeluarkan oleh suatu kementerian. Sebagai contoh dalam hal kayu lapis dikenal ada SNI Kayu lapis penggunaan umum dengan 4 macam mutu perekatan dan 4 macam mutu lapisan luar seperti dikemukakan di atas. Selain itu ada SNI Kayu lapis struktural dan SNI Kayu lapis indah jati. Pada tahun 1997 DSN berubah menjadi BSN) disusul dengan penyusunan SSN 2001 sebagai penyempurnaan SSN 1992. Panitia Teknis (PT) dibentuk di setiap lembaga teknis misal kementerian untuk menyusun Rancangan SNI, yang ketentuannya tercantum dalam SSN 1992 dan SSN 2001. Pada tahun 2005 BSN mengadakan penyeragaman pembentukan PT berdasarkan
ICS) lengkap dengan contoh Standar ISO terkait. Sebagai contoh ICS 79 Teknologi kayu meliputi antara lain kayu bundar, kayu gergajian, kayu
2
Dewan Standardisasi Nasional ( Sistem Standardisasi Nasional (
Badan Standardisasi Nasional (
International Classification for Standards (
STANDAR KAYU LAPIS
I N D O N E S I A
lapis, papan partikel dan papan serat. Berdasarkan ICS ini dibentuk PT 79 Hasil Hutan Kayu. Dalam perdagangan sudah lama dikenal penyeragaman semacam itu, yang dikenal dengan HS.
Penyusunan standar dapat dilakukan berdasarkan (1) adopsi standar negara lain atau standar internasional atau (2) berdasarkan penelitian. Dalam hal adopsi dapat dilakukan secara identik atau modifikasi. Penyusunan standar kayu lapis sebelum dan setelah SNI seperti telah dikemukakan di atas dilakukan berdasarkan adopsi modifikasi dari standar negara lain, yang berarti ada penyesuaian dengan keadaan di Indonesia. Format standar disesuaikan dengan format yang dipakai di Indonesia, isi standar disesuaikan dengan pengalaman industri di Indonesia dalam membuat dan memasarkan produk.
BSN menerapkan adopsi identik (IDT) Standar ISO secara bertahap, minimal format SNI maksimal format dan isi SNI. Mengenai isi berarti menerjemahkan Standar ISO. Bila tidak dapat dilakukan adopsi identik, dilakukan adopsi modifikasi (MOD), yaitu ada bagian yang disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Dalam hal kayu lapis kebanyakan dilakukan adopsi identik meliputi format dan isi.
1 SNI ISO 2074:2008 Kayu lapis - Istilah dan definisi (ISO 2074:2007, IDT)
2 SNI ISO 1096:2010 Kayu lapis - Klasifikasi (ISO 1096:1999, IDT)
3 SNI ISO 2426-1:2008 Kayu lapis - Klasifikasi berdasarkan penampilan permukaan - Bagian 1: Umum (ISO 2426-1:2000, IDT)
4 SNI ISO 2426-2:2008 Kayu lapis - Klasifikasi berdasarkan penampilan permukaan - Bagian 2 : Kayu daun lebar (ISO 2426-2:2000, IDT)
5 SNI ISO 2426-3:2008 Kayu lapis - Klasifikasi berdasarkan penampilan - Bagian 3 : Kayu daun jarum (ISO 2426-3:2000, IDT)
6 SNI ISO 12466-1:2010 Kayu lapis - Mutu perekatan Bagian - 1 : Cara uji (ISO 12466-1:2007, IDT)
7 SNI ISO 12466-2:2010 Kayu lapis - Mutu perekatan Bagian - 2 : Persyaratan (ISO 12466-2:2007, IDT) 8 SNI 7630:2011 Kayu lapis - Toleransi ukuran (ISO
1954:1999, MOD)
Selain itu karena kayu lapis termasuk panel kayu perlu dilihat pula SNI ISO 9426:2008 Panel kayu - Penentuan dimensi panel (ISO 9426:2003, IDT), SNI ISO 16979:2008 Panel kayu - Penentuan kadar air (ISO 16979:2003, IDT).
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut:
1 Selama ini kita mengenal standar kayu lapis merupakan satu kesatuan (tidak dipecah menjadi beberapa standar), seperti pada SNI 01 - 5008.2 - 2000 kayu lapis penggunaan umum, pada Standar Amerika (IHPA) dan Standar Inggris (BS).
2 Mutu perekatan dibagi menjadi 3 kelas, yaitu untuk penggunaan dalam keadaan kering, untuk penggunaan dalam keadaan lembab dan untuk penggunaan dalam keadaan eksterior. Walau untuk penggunaan dalam keadaan kering tetapi pengujiannya dilakukan setelah peredaman 24 jam dalam air dingin. Hal ini berarti lebih tinggi dari SNI Kayu lapis penggunaan umum untuk tipe interior II yang pengujiannya dilakukan dalam keadaan kering. Kelas untuk penggunaan dalam keadaan lembab setara dengan tipe eksterior II dan kelas untuk penggunaan dalam keadaan eksterior setara dengan type eksterior I pada SNI Kayu lapis penggunaaan umum.
3 Persyaratan mutu perekatan ditetapkan berdasarkan nilai geser tarik dengan memperhatikan kerusakan kayu.
4 Penampilan permukaan dibagi menjadi 5 kelas, yaitu E, I, II, III dan IV berdasarkan cacat (ciri) alami dan berdasarkan cacat teknis (proses pembuatan). Pada kelas E penampilan permukaan tanpa cacat, baik cacat alami maupun cacat teknis. Penampilan permukaan tersebut dibedakan antara kayu daun lebar dan kayu daun jarum.
Berhubung SNI ISO Kayu lapis tidak merupakan satu kesatuan, perlu dibuat rangkuman sehingga merupakan satu kesatuan dan lebih mudah dipahami. Rangkuman ini ada 3 macam, yaitu berupa buku berjudul Pengujian Kayu Lapis, berupa brosur berjudul Mengenal Kayu Lapis dan berupa abstrak berjudul Standar Kayu Lapis. Buku berukuran kuarto, sedangkan brosur dan abstrak berukuran setengah kuarto. Isi buku lebih lengkap daripada isi brosur sehingga dapat digunakan dalam pelatihan Penguji Kayu Lapis dan dapat digunakan sebagai petunjuk teknis oleh pihak yang melakukan pengujian kayu lapis. Isi brosur lebih sederhana, meliputi pengertian, macam, sifat, kegunaan dan mutu kayu lapis sehingga dapat digunakan untuk promosi kayu lapis dan SNI nya, pelatihan penyuluh, rujukan bagi karyawan lembaga yang ditugasi melakukan pengadaan barang, pelatihan karyawan perusahaan yang membuat dan menjual kayu lapis, untuk produsen dalam membuat selebaran promosi kayu lapis yang dibuatnya disertai data hasil uji mutunya serta sebagai penyeimbang dari selebaran yang dibuat oleh produsen. Selama ini pihak produsen sudah biasa membuat selebaran untuk promosi produknya yang seharusnya diimbangi oleh pemerintah dengan membuat selebaran atau brosur untuk promosi produk dan SNI nya. Isi abstrak lebih ringkas daripada isi selebaran dan dipakai untuk keperluan kartu pustaka, website, dan buku abstrak. Hal ini sesuai dengan program pemasyarakatan SNI dan program penggunaan produk Indonesia.
OPINI
emua pihak mengakui bahwa standar merupakan hal yang penting, baik standar formal maupun standar informal. Mengingat hal ini wajar ada semboyan “Standar bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya tanpa standar bukan berarti apa-apa”.
Walaupun demikian ada yang berpendapat standar nasional perlu banyak, tetapi ada yang berpendapat standar nasional tidak perlu banyak. Standar yang dikeluarkan oleh suatu negara termasuk standar formal seperti Standar Nasional Indonesia (SNI). Jumlah SNI pada saat ini sekitar 7.000-an, sehingga Indonesia merupakan negara ASEAN yang mempunyai standar terbanyak.
Berdasarkan katalog SNI Bidang Kehutanan sampai dengan tahun 2012 ada 134 SNI yang dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan Panitia Teknis (PT), yaitu: (1) Panitia Teknis 79-01, Hasil hutan kayu.
Ada 3 kelompok, yaitu Kayu bundar 10 SNI, Produk kayu olahan 66 SNI, Pendukung 16 SNI. Jumlah 92 SNI. (2) Panitia Teknis 65-01, Pengelolaan hutan.
Ada 4 kelompok, yaitu Pengelolaan hutan 8 SNI, Pembenihan 13 SNI, Bibit 8 SNI, Bibit 8 SNI, Pendukung 8 SNI. Jumlah 37 SNI .
(3) Panitia Teknis 65-02, Hasil hutan bukan kayu. Tidak dibagi menjadi kelompok, 13 SNI.
SNI mengenai kayu bundar termasuk sedikit karena hanya dibedakan ke dalam kayu bundar jati, kayu bundar rimba, kayu bundar daun lebar, kayu bundar daun jarum. Semula SNI kayu bundar rimba dibedakan menjadi sortimen Kayu Bundar Besar (KBB) dan Kayu Bundar Sedang (KBS). Selain itu ada SNI Kayu bundar sungkai, merbau, perupuk, dan , eboni, kuku, sengon dan jabon, mahoni, rasamala, sonokeling dan sonokembang serta seratus jenis kayu bundar rimba yang semuanya termasuk kayu daun lebar. Dalam hal kayu daun jarum semula ada SNI Kayu bundar tusam, agatis. Kalau tidak ada program penyederhanaan jumlah standar, mungkin akan ada SNI mengenai kayu bundar kayu daun jarum yang lain, seperti ,
.
SNI mengenai produk kayu olahan termasuk banyak (61 buah) karena meliputi beberapa macam kelompok produk dan kelompok pendukung. Sebagai contoh kelompok produk adalah kayu gergajian, kayu bentukan,
Panitia Teknis 79-01. Hasil hutan kayu.
Gmelina Acacia mangium
Podocarpus Dacrydium,
Araucaria
kayu lapis dan lantai kayu. Contoh kelompok pendukung adalah cara uji emisi formaldehida, pengemasan dan penandaan.
SNI kayu lapis termasuk papan blok ada beberapa macam seperti kayu lapis penggunaan umum, kayu lapis struktural, kayu lapis alas peti kemas, kayu lapis bermuka film, kayu lapis indah jati, kayu lapis indah dan papan blok indah. Mulai tahun 2008 ada program penyusunan SNI berdasarkan adopsi identik dari Standar ISO. Format standar ini tidak terpadu seperti yang selama ini dikenal (satu produk meliputi semua aspek) tetapi satu produk dipecah menjadi beberapa bagian atau beberapa standar. Sebagai contoh SNI ISO 2074:2008. Kayu lapis - Istilah dan definisi, SNI ISO 1096: 2010 Kayu lapis - Klasifikasi, SNI ISO 12466-1:2010 Kayu lapis - Mutu perekatan - Bagian 1: Cara uji dan SNI ISO 12466-2:2010 Kayu lapis - Mutu Perekatan Bagian 2: Persyaratan.
SNI mengenai pengelolaan hutan (nama kelompok) meliputi pengelolaan dan pengusahaan hutan. SNI mengenai perbenihan meliputi penanganan dan uji benih. Dalam hal uji benih ada yang berhubungan dengan jenis pohon seperti jati dan cendana. SNI mengenai pendukung meliputi sumber benih, persemaian, inokulasi dan pengumpulan buah tanaman kehutanan.
SNI mengenai produk ini berhubungan dengan macam hasil hutan bukan kayu, seperti getah tusam, gondorukem, terpentin, damar, kopal, biji tengkawang, gambir, minyak kayu putih dan madu. Ada produk yang merupakan bahan baku seperti getah tusam, damar dan kopal serta ada yang merupakan hasil olahan seperti godorukem, terpentin dan minyak kayu putih.
Setiap kebijakan ada positif dan ada negatifnya, demikian juga kebijakan SNI banyak atau SNI sedikit. Aspek positif SNI banyak adalah cakupan luas sedangkan aspek negatifnya adalah memerlukan biaya yang besar, seperti biaya penyusunan dan pemeliharaannya (antara lain kaji ulang). Aspek positif SNI sedikit adalah biayanya tidak banyak sedangkan aspek negatifnya adalah cakupannya tidak banyak.
Panitia Teknis 65-01. Pengelolaan hutan
Panitia Teknis 65-02. Hasil hutan bukan kayu
Pembahasan
Paribotro Sutigno
Apakah SNI Perlu Banyak?
(Kasus Sektor Kehutanan)
Apakah SNI Perlu Banyak?
(Kasus Sektor Kehutanan)
Contoh kebijakan SNI sedikit adalah program penyederhanaan jumlah SNI seperti dalam hal SNI mengenai kayu bundar yang telah dikemukakan di atas. SNI kayu bundar daun lebar dan SNI kayu bundar daun jarum. Contoh lain adalah pada hasil kaji ulang SNI tahun 2012 ada penyederhanaan jumlah SNI mengenai benih dan bibit dari 8 menjadi 5 buah serta tidak lagi menyebut jenis pohon.
Bila sudah diputuskan akan menganut kebijakan SNI sedikit, beberapa program yang dapat dibuat antara lain: (1) SNI disusun untuk hal yang penting saja seperti
menyangkut penggunaan yang luas dan merupakan “payung standar” sehingga dapat dijabarkan menjadi beberapa peraturan teknis. Ruang lingkup tiap PT dilengkapi dengan SNI yang sudah ada dan belum ada sehingga diketahui SNI yang perlu dibuat dan prioritasnya serta kemungkinan penjabarannya menjadi peraturan teknis (seperti spesifikasi teknis yang dikenal di kalangan industri). Ada pabrik mebel yang sepakat dengan pemasok kayu untuk membuat spesifikasi teknis kayu bundar mindi. Contoh SNI 01-2025-1996 Kayu lapis indah dan papan blok indah dapat dijadikan payung standar bagi semua macam kayu lapis indah dan papan blok indah (kalau perlu setelah direvisi) dari berbagi jenis kayu indah seperti jati, mahoni dan sonokeling. “Standar” produk ini yang berbeda karena jenis kayunya cukup dibuat berupa peraturan teknis.
(2) Penggabungan beberapa SNI yang sudah ada seperti contoh pada SNI mengenai kayu bundar tersebut di atas. SNI mengenai papan sambung dan bilah sambung dapat dibuat untuk menggabungkan SNI 01-6020-1999 Mutu dan cara uji papan sambung dekoratif, SNI 01-6243-2000 Papan sambung dan bilah sambung untuk kusen daun jendela dan daun pintu, SNI 01-6243-2-2000 Papan sambung dan bilah sambung untuk meja. (3) Perluasan SNI yang ada melalui revisi seperti SNI
01-5508-3-2000 Venir sayat jati menjadi Venir sayat yang dapat menjadi “payung standar” bagi peraturan teknis venir sayat dari berbagai jenis kayu. Hal serupa berlaku juga bagi SNI mengenai venir kupas yang merupakan “payung standar” bagi peraturan teknis venir kupas dan berbagai jenis kayu. Penyusunan peraturan teknis akan lebih cepat dan lebih murah daripada penyusunan SNI.
(4) Tidak semua Standar ISO harus diadopsi (identik atau modifikasi). Contoh: Standar ISO mengenai kayu-penentuan kekuatan maksimum pada lentur statis (kemudian menjadi SNI No 3133:2010). Bila standar ISO itu tidak diadopsi, tidak akan mempengaruhi perdagangan kayu. Lembaga penelitian sebagai pengguna standar semacam itu mengetahui standar yang dipakai seperti ASTM.
Sebagaimana dikemukakan di atas ruang lingkup tiap PT perlu dilengkapi dengan SNI yang sudah ada dan yang akan dibuat serta prioritasnya. Hal ini berarti membuat
rincian ruang lingkup utama dari standardisasi sektor kehutanan. Dengan demikian dapat diketahui berapa banyak SNI sektor kehutanan yang akan dibuat dan dalam jangka waktu berapa lama akan selesai. Standar kompetensi kerja merupakan suatu macam standar. Ada info bahwa di Australia sebelum menyusun standar ini dibuat ruang lingkupnya dulu secara rinci dan penyusunannya selesai dalam 10 tahun. Sesuai dengan kebijakan SNI sedikit, maka tidak semua “standar” menjadi SNI, tetapi sebagian berupa peraturan teknis yang berinduk pada “payung standar” SNI. Hal itu berarti tidak semua produk standar harus berupa SNI, seperti juga tidak semua produk hukum harus berupa undang-undang.
Pelaksanaan kebijakan SNI sedikit berarti menghemat biaya, menghemat waktu dan menghemat tenaga. Hal ini berarti tersedia biaya, waktu dan tenaga untuk kegiatan standardisasi lain yang bermanfaat seperti pembuatan brosur dan selebaran dalam rangka pemasyarakatan SNI. Manfaat brosur dan selebaran bagi masyarakat antara lain mengenal SNI, mengenal produk sehingga tidak salah pilih dan tidak salah pakai, misal produk berupa kayu lapis. Brosur dan selebaran itu dibagikan kepada produsen dan konsumen disertai penjelasan dan dikaitkan dengan kegiatan lain, seperti pameran, pelatihan, pendidikan dan penyuluhan. Pengertian konsumen dalam arti yang luas, termasuk antara lain pedagang dan lembaga pemerintah (agar dalam pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah sesuai dengan SNI).
Pembuatan brosur dan selebaran sudah biasa dilakukan oleh produsen dalam rangka promosiproduknya (barang dan jasa). Beberapa produsen mencantumkan data hasil pengujian barang disertai standar yang digunakan. Dengan demikian brosur dan selebaran yang dibuat pemerintah dalam rangka pemasyarakatan SNI merupakan pembanding atau penyeimbang dari yang dibuat produsen. Contoh sederhana dari selebaran adalah mengenai macam dan ukuran kayu gergajian yang merupakan bagian dari SNI mengenai kayu gergajian. Selebaran ini merupakan awal dari seri selebaran mengenai kayu gergajian dengan judul tetap yaitu “Kayu gergajian”, sub judul “Macam dan ukuran”. Pada seri kedua, sub judul berubah tergantung pada aspek yang dibahas, sedangkan judul tetap.Bila hal ini berhasil kemudian diterapkan pada yang lain, misal “Kayu lapis” (judul), “Macam dan ukuran” (sub judul).
Standar merupakan hal yang penting karena bermanfaat dalam berbagai macam kegiatan. Dalam hal standar nasional ada dua pendapat, yaitu standar nasional perlu banyak dan standar nasional tidak perlu banyak. SNI merupakan contoh dari standar nasional. Bila dianut kebijakan SNI sedikit maka perlu diikuti dengan membuat peraturan teknis sebagai turunan dari SNI. Hal ini berarti SNI sebagai “payung standar”.
ARTIKEL
A. PENDAHULUAN
B. BAHAN DAN ALAT PEMBUATAN PEREAKSI
Keberhasilan proses pengawetan kayu ditentukan oleh dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu retensi dan penetrasi. Retensi adalah sejumlah bahan pengawet kering yang masuk atau diserap selama dalam proses pengawetan ke dalam kayu yang dinyatakan dalam satuan kg /m³. Sedangkan penetrasi adalah kedalaman penembusan bahan pengawet ke dalam kayu yang dinyatakan dalam satuan milimeter (mm) atau prosentase (%) terhadap luasan pada bidang permukaan kayu yang telah diawetkan.
Pengamatan penetrasi boron dilakukan setelah kayu selesai diawetkan. Kegiatan pengujian penetrasi dapat dilakukan oleh produsen (pengusaha pengawetan) maupun konsumen sebagai pemakai jasa pengawetan. Banyak unsur garam yang dikandung bahan pengawet, salah satu kandungan garam di antaranya boron. Apabila pengawetan kayu memakai unsur boron untuk mengetahui adanya boron di dalam kayu, dilakukan pengujian/pengetesan dengan mengggunakan pereaksi campuran ekstrak kurkuma, alkohol asam klorida pekat dan asam salisilat.
Bahan untuk pembuatan pereaksi boron tersebut saat ini harganya relatif mahal dan sukar didapat, sehingga banyak dikeluhkan oleh produsen pengawetan kayu dan pemakai kayu yang diawetkan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas dapat dipakai dengan cara dan bahan lain yang sederhana dan harganya relatif murah dan mudah didapat yaitu dengan serbuk kunyit, spirtus bening dan air keras sebagai pengganti ekstrak kurkuma, alkohol dan asam klorida pekat.
Dalam tulisan ini diuraikan cara membuat peraksi boron dan perkiraan biaya pembuatannya dibandingkan dengan pereaksi yang biasa digunakan.
1. Bahan
Serbuk kunyit
=
Spirtus bening
Air keras (nama dagang untuk asam klorida) Asam salisilat
= = =
2. Peralatan
3. Larutan pereaksi terdiri dari dua macam, yaitu pereaksi A dan Pereaksi B
a. Cara pembuatan pereaksi A 500 mL:
b. Cara pembuatan peraksi B 500 mL:
Pereaksi A hasil rekayasa bahan, semprotkan pada salah satu bidang potong contoh uji penetrasi dan diamkan beberapa detik, kemudian semprotkan pereaksi B. Biarkan beberapa menit, sampai timbul warna merah untuk contoh uji yang mengandung boron. Bagian yang tidak m e n ga n d u n g b o ro n b e r wa r n a ku n i n g . U n t u k mempercepat timbulnya warna merah, dapat juga potongan contoh uji penetrasi yang telah disemprot kedua pereaksi, dijemur. Hasil uji penetrasi dengan penampakan warna merah hasil spotes pereaksi rekayasa dibanding hasil uji penetrasi dari pereaksi dari toko tidak ada perbedaan penampakan warna.
Timbangan
Gelas pengukur larutan Pengaduk
Corong plastik
Handsprayer, tempat menyimpan larutan Timbang 50 gram serbuk kunyit
Tambahkan spirtus bening hingga 500 mL Aduk dan diamkan beberapa saat hingga serbuk kunyit mengendap
Tuangkan larutan ke dalam handsprayer yang telah diberi label
Takar 400 mL spirtus bening
Tambahkan 100 mL air keras, lalu diaduk Tambahkan asam salisilat sambil terus diaduk, sehingga tidak melarut lagi (diperkirakan 65 gram asam salisilat) Tuangkan larutan ke dalam handsprayer yang telah diberi label
Perbandingan biaya bahan untuk pembuatan 500 mL pereaksi yang biasa digunakan dengan memakai bahan dari kimia murni dibanding dengan pemakaian peraksi hasil pembuatan dari bahan secara sederhana tercantum pada Tabel 1. = = = = = = = = = = = = =
C. PENGUJIAN PENETRASI BORON
D. BIAYA PEMBUATAN PEREAKSI