A. Pendahuluan
Yang dimaksud dengan pengumpulan Al-Qur’an (jam’ul Al-Qur’an) oleh para ulama’ adalah salah satu dari dua pengertian berikut:
1. Pengumpulan dalam arti: hafazhahu
(menghafalnya dalam hati). Jumma’ul Qur’an artinya haffazhuhu (para penghafalnya,yaitu orang-orang yang menghafalkanya di dalam hati).
Ibnu Abbas mengatakan,bahwa Rosulullah SAW sangat ingin segera menguasai Al-qur’an yang di turunkan.Ia menggerakkan kedua lidah dan bibirnya karena takut apa yang turun itu akan terlewatkan.
2. Pengumpulan dalam arti kitabuhu kullihi (penulisan Al-Qur’an semuanya) baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan suratnya, atau menertibkan ayat-ayatnya semata dan setiap surat di tulis dalam satu lembaran yang terpisah,ataupun menertibkan ayat-ayat dan
Pengumpulan dan Penertiban al-Qur’an
surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua surat,sebagiannya di tulis sesudah sebagian yang lain.
B. Pengumpulan Al-Qur’an dalam konteks hafalan pada masa Nabi
Rosulullah SAW, amat menyukai wahyu,ia senantiasa menunggu penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya, persis seperti yang di janjikan Allah. Al-Qur’an di turunkan selama dua puluh tahun lebih. Proses penurunanya terkadang hanya turun satu ayat dan terkadang turun sampai sepuluh ayat. Dalam kitab shohihnya, Al Bukhari telah mengemukakan tentang tujuh penghafal Al-Qur’an dengan tiga riwayat. Mereka adalah
Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil Maula Abi Hudzaifah,Muadz bin Jabal,Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Ad-Darda’.
Ibnu Hajar ketika menulis biografi said bin Ubaid menjelaskan bahwa ia termasuk seorang penghafal Qur’an dan di juluki dengan Al-Qori’ (pembaca Al-Qur’an).
C. Pengumpulan Al-Qur’an dalam Konteks Penulisannya Pada Masa Nabi
Rosulullah SAW mengatakan para penulis wahyu Al-Qur’an (asisten) dari sahabat-sahabat terkemuka,seperti Ali,Muawiyyah, Ubay bin Ta’ab dan Zaid bin Tsabit.Bila ayat turun,ia memerintahkan mereka menuliskannya dan
menunjukkan,dimana tempat ayat tersebut dalam surat.Maka penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati.
Malaikat Jibril membacakan Al-Qur’an kepada Rosulullah pada malam-malam bulan ramadhan setiap tahunnya. Al-Qur’an telah di hafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas; ayat-ayat dan surat-surat di pisahkan, atau di tertibkan ayat-ayatnya saja, setiap surat berada dalam satu lembaran secara terpisah dan dalam tujuh huruf (sab’atun ahruf), tetapi Al-Qur’an belum di kumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap), sebab apabila wahyu turun segera di hafal oleh para qurra’ dan di tulis oleh para penulis. Dengan demikian, jam’u Al-Qur’an (pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi ini di namakan: a) hifzhan (hafalan); dan b) kitabatan
(pembukuan) yang pertama.
D. Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar Abu Bakar menjabat sebagai khalifah pertama dalam Islam sesudah Rosulullah wafat.Ia di hadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang arab. Peperangan yamamah yang terjadi pada tahun dua belas hijrah melibatkan sejumlah besar sahabat penghafal Al-Qur’an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qorri’ dari para sahabat gugur. Al-Qur’an sudah tercatat pada masa itu, yaitu pada masa Nabi, tetapi masih berserakan pada
kulit-Pengumpulan dan Penertiban al-Qur’an
kulit,tulang dan pelepah korma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut di kumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surat-surat yang tersusun serta di tuliskan dengan sangat hati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Al-Qur’an itu di turunkan.
E. Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Utsman Setelah wilayah kekuasaan Islam semakin luas,dan para qurro’ pun tersebardi berbagai wilayah penduduk di setiap wilayah itu biasanya mempelajari qiro’at (bacaan) ayat dari qorri’ yang di kirim kepada mereka.Ketika penyerbuan Armenia dan Azerbaijan dari penduduk Irak,termasuk Hudzaifah bin Al yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan ketidak fasihan,masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya,serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan puncaknya mereka saling mengafirkan. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Al-Qur’an seperti yang di turunkan agar orang bersatu dalam satu qiro’at.
F. Perbedaan Antara Pengumpulan Al-Qur’an Di Masa Abu Bakar dan Utsman
Dari keterangan di atas,jelaslah bahwa pengumpulan al-Qur’an Abu Bakar berbeda dengan pengumpulan al-Qur’an yang di lakukan
Usman,baik dalam hal latar belakang (motivasi) maupun metodenya. Motivasi Abu Bakar adalah kehawatiran Beliau akan hilangnya Al-Qur’an karena banyaknya para qurro’ yang gugur dalam peperangan. Sedangakan motivasi Utsman adalah karena banyaknya perbedaan (yang berujung pada konflik) dalam cara-cara membacaAl-Qur’an yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan Islam yang di saksikannya sendiri. Puncaknya mereka saling menyalahkan satu sama lain. Pengumpulan yang di lakukan Utsman adalah menyalinnya dalam satu huruf diantara ke tujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa enam huruf lainnya.
Para Ulama’ berbeda pendapattentang jumlah mushaf yang di kirimkan Utsman ke berbagai daerah yaitu:
1. Ada yang mengatakan : jumlahnya tujuh buah mushaf.
2. Dikatakan pula, jumlahnya ada empat buah. 3. Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya
ada lima mushaf
Mushaf-mushaf yang di tulis oleh Utsman itu sekarang hampir tidak di temukan sebuah pun juga.Mushaf itu di tulis pada lembaran yang menurutnya terbuat dari kulit unta. Dan di riwayatkannya pula bahwa mushaf Syam ini di bawa ke Inggris setelah beberapa lama berada ditangan kaisar Russia di perpustakaan
Pengumpulan dan Penertiban al-Qur’an
Leningrad.Juga di katakan bahwa mushaf itu terbakar di masjid Damaskus pada tahun 1310 H.
Jam’u Al-Qur’an (pengumpulan Al-Qur’an) oleh Utsman ini di sebut dengan Jam’u Al-Qur’an yang ketiga pada tahun 25 H.
G. Syubhat Yang Batil
Ada beberapa keraguan (syubhat) yang sengaja di hembuskan oleh para pengumbar hawa nafsu untuk melemahkan keyakinan kepada Al-Qur’an dan proses pengumpulannya yang telah di lakukan secara teliti.
1. Menurut penebar syubhat itu,beberapa riwayat menunjukkan bahwa ada beberapa bagian Al-Qur’an yang tidak di tuliskan dalam mushaf-mushaf yang ada di tangan kita ini. 2. Mereka mengatakan,dalam Al-Qur’an terdapat
sesuatu yang bukan AlQur’an.Mereka berdalil dengan riwayat yang menyatakan bahwa Ibnu Mas’ud mengingkari surat An-Nas dan Al-Falaq termasuk bagian dari Al-Qur’an.
3. Satu kelompok Syi’ah yang ekstrim menuduh Abu Bakar,Umar,dan Utsman telah mengubah Al-Qur’an serta menggugurkan beberapa ayat dan suratnya.
H. Tertib Ayat Dan Surat Tertib Ayat
Ayat ialah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam suatu surat Al-Qur’an. Sedangkan surat adalah sejumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan. Penempatan secara tertib urutan ayat-ayat
Al-Qur’an ini adalah bersifat tauqifi,berdasarkan ketentuan dari Rosulullah SAW. Menurut sebagian Ulama’, pendapat ini merupakan ijma’. I. Tertib Surat
Para Ulama’ berbeda pendapat tentang tertib surat-surat Al-Qur’an yang ada sekarang. 1. Ada yang berpendapat bahwa tertib surrat itu
tauqifiI dan di tangani oleh Nabi sebagaimana
di beritahukan malaikat Jibril kepadanya atas perintah Allah.
2. Kelompok kedua berpendapat bahwa tertib surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat,sebab ternyata ada perbedaan tertib di dalam mushaf-mushaf mereka.
3. Kelompok ketiga berpendapat,sebagian surat itu tertibnya bersifat tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad parasahabat.
J. Surat-Surat Dan Ayat-Ayat Al-Qur’an Surat-surat Al-Qur’an ada empat bagian:
1. Ath-Thiwal ada tujuh surat yaitu Al-Baqoroh,
Ali-imran,An-Nisa’, Al-Maidah, Al-An’am,Al-A’rof dan yang ketujuh ada yang mengatakan Al-Anfal dan Baro’ah.
2. Al-Mi’un yaitu surat-surat yang ayat-ayatnya lebih dari seratus itu.
3. Al-Matsani, yaitu surat-surat yang jumlah ayatnya di bawah Al-Mi’un.
4. Al-Mufashshol, dikatakan bahwa surat-surat ini di mulai dari surat Qof,ada pula yang mengatakan dimulai dari surat Al-hujurat.
Pengumpulan dan Penertiban al-Qur’an
K. Rasm Utsmani
1. Ada yang berpendapat bahwa Rasm Utsmani Al-Qur’an ini bersifat tauqifi yang wajib di pakai dalam penulisan Al-Qur’an, dan harus sungguh-sungguh di sucikan. Mereka menis-batkan tauqifi dalam penulisan Al-Qur’an ini pada Nabi.
2. Banyak Ulama’ berpendapat bahwa Rasm Utsmani bukan tauqifi dari Nabi,tetapi hanya merupakan satu cara penulisan yang di setujui Utsman dan diterima umat dengan baik, sehingga menjadi suatu keharusan yang wajib di jadikan pegangan dan tidak boleh di langgar.
3. Sebagian Ulama’ lain berpendapat,Rasm Utsmani itu hanyalah sebuah istilah, metode, dan tidaklah mengapa berbeda dengannya jika orang telah menggunakan satumodel Rasm tertentu untuk penulisan, kemudian Rasm itu menjadi tersiar luas di antara mereka.
L. Proses Perbaikan Rasm Utsmani
Mushaf Utsmani tidak memakai tanda baca titik dan harokat,karena semata-mata di dasarkan atas karakter pembacaan orang-orang Arab yang masih murni, sehingga mereka tidak memerlukan syakal dengan harokat dan pemberian titik. Orang pertama yang melakkukan hal itu adalah Abul Aswad Ad-Duali. Dialah peletak dasar-dasar kaidah bahasa Arab pertama
atas permintaan Ali bin AbiThalib.Perbaikan Rasm Musahaf itu berjalan secara bertahap.
M. Pemisah dan Ujung Ayat
Al-Qur’an Al-Karim mempunyai sistem yang khas baik dalam masalah pemisah (fashilah) maupun ujung (ra’s) ayatnya. Fashilah ialah kalam (pembicaraan) yang terputus dengan kalam sesudahnya. Adapun yang di maksud dengan ra’s ialah akhir ayat yang padanya diletakkan tanda
fashl (pemisah) antara satu ayat dengan ayat
lainnya.Setiap ujung ayat adalah pemisah,tetapi tidak setiap pemisah itu ujung atau akhir ayat,sebab pemisah ayat meliputi dan mengumpulkan keduanya itu.
Perkataan orang terkadang di sebut sajak,seperti yang di kenal dalam ilmu badi’. Tetapi banyak Ulama’ yang tidak menggunakan istilah sajak ini pada Al-Qur’an Al-Karim karena nilai Al-Qur’an memeng lebih tinggi dari perkataan kalangan sastrawan atau ungkapan para Nabi dan gaya bahasa para pujangga. Mereka membedakan antara fashila dengan sajak.fashila dalam Al-Qur’an ialah mengikuti makna-makna, bukan fashila itu sendiri yang di maksud.