METODOLOGI PENELITIAN
E. Pengumpulan Data 1. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang menjadi sumber objek pengamatan dan sebagai faktor yang berperan dalam peristiwa yang diteliti. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat, yaitu:
a. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya variabel terikat (Sugiono, 2011). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran ARIAS dan model pembelajaran konvensional dengan ceramah bervariasi (model yang biasa diterapkan di kelas XI IPA SMA Al Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012).
b. Variabel terikat adalah variabel yang kehadirannya dipengaruhi oleh variabel bebas (Sugiono, 2011). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA SMA Al Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012 yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
a. Metode tes
Tes sebagai instrumen pengumpul data adalah seperangkat stimulus yang diberikan kepada seseorang untuk mendapatkan jawaban-jawaban sebagai dasar penetapan skor angka (Hamzah, 2001). Metode tes digunakan untuk mengukur perubahan kemampuan kognitif siswa. Bentuk tes yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa tes obyektif dengan tipe pilihan ganda sebanyak 40 soal.
commit to user b. Metode Nontes
1. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data berupa catatan-catatan dan menelaah dokumen sekolah yang berkaitan dengan objek penelitian. Data yang dikumpulkan dengan teknik ini adalah data nilai Ujian Semester Ganjil kelas XI IPA tahun pelajaran 2011/2012 mata pelajaran biologi sebagai data awal yang digunakan untuk uji keseimbangan.Metode pengamatan (observasi) dilakukan dengan mengamati secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Objek penelitian yang dinilai berupa perilaku, tindakan, keterampilan, dan sikap siswa. Lembar observasi digunakan untuk penilaian hasil belajar ranah psikomotor yaitu penilaian proses atau keterampilan dan penilaian hasil belajar ranah afektif yaitu penilaian sikap.
2. Metode Observasi
Metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil belajar ranah psikomotorik, afektif serta keterlaksanaan rancangan pembelajaran. Penilaian dilakukan oleh observer dan guru dengan melakukan checklist (√) pada lembar observasi. Skala yang digunakan pada lembar observasi adalah numerical rating scale dengan skala 1 sampai dengan 4 (Sugiyono, 2011).
3. Metode Angket
Angket merupakan cara pengumpulan data dengan menggunakan daftar isian atau daftar pertanyaan yang telah disiapkan dan disusun sedemikian rupa sehingga calon responden hanya tinggal mengisi atau menandainya dengan mudah dan cepat. Angket digunakan untuk mengambil data hasil belajar siswa ditinjau dari ranah afektif. Angket disusun dalam bentuk checklist yaitu bentuk angket dimana pengisi angket tinggal memberi tanda check (√) pada pilihan
commit to user
yang telah disediakan. Skor penilaian angket menggunakan skala Likert (Sudjana, 2010) yang dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Skor Penilaian Berdasarkan Skala Likert
Skor untuk aspek yang dinilai Nilai
(+) (-)
2. Teknik Penyusunan Instrumen a. Penyusunan Instrumen Ranah Kognitif
Menurut Widoyoko (2008) pengukuran ranah kognitif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik tes. Beberapa langkah telah dilakukan untuk menyusun instrument ranah kognitif. Langkah pertama adalah pemilihan materi berdasarkan kurikulum sesuai dengan Kompetensi Dasar. Langkah kedua adalah penyusunan indikator dan tujuan pembelajaran ranah kognitif agar instrument menjadi lebih spesifik dan terarah. Langkah ketiga adalah pembuatan alat ukur sesuai indikator yang dilanjutkan dengan pembuatan kisi-kisi soal sesuai dengan indikator yang diharapkan. Soal-soal yang disusun menyangkut soal-soal yang mencakup lima dari enam tingkatan kemampuan kognitif yang menurut Anderson (2010) yaitu C1 (mengingat), C2 (mengerti), C3 (mengaplikasikan), C4 (menganalisis), C5 (menilai), dan C6 (mencipta).
Langkah selanjutnya adalah menyusun item soal ranah kognitif.
Instrument ini kemudian diuji kesahihan itemnya dengan uji validitas dan reliabilitas. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba tes. Hasil dari uji coba tersebut kemudian dianalisis butir soalnya mencakup validitas dan reliabilitasnya. Jika item soal tes tidak valid maka butir soal yang tidak valid di perbaiki melalui keputusan ahli, kemudian di lakukan tes ulang (retest) untuk butir soal yang tidak valid. Item diuji lagi dengan uji tingkat
commit to user
kesukaran item dan uji daya pembeda item soal. Instrumen yang telah melalui semua tes tersebut kemudian siap digunakan sebagai postes.
b. Penyusunan Instrumen Ranah Afektif
Pengukuran ranah afektif menggunakan angket. Penilaian dilakukan oleh siswa dengan memberikan checklist (√) pada angket.
Beberapa langkah telah dilakukan untuk menyusun instrument ranah afektif. Langkah pertama adalah pemilihan Kompetensi Dasar yang hendak diteliti. Langkah kedua adalah penyusunan indikator dan tujuan pembelajaran ranah afektif agar instrument menjadi lebih spesifik dan terarah. Langkah ketiga adalah pembuatan alat ukur sesuai indikator yang dilanjutkan dengan pembuatan kisi-kisi soal sesuai dengan indikator yang diharapkan. Angket dibuat menggunakan skala Likert dengan lima respon yang menunjukkan tingkatan tertentu sebagai alat ukurnya (Arikunto, 2010). Item pernyataan yang disusun mencakup lima jenjang kemampuan afektif menurut Sudjana (2010) yaitu receiving (penerimaan), responding (menanggapi), valuing (menilai), organization (mengorganisasi), dan characterization by a value (karakterisasi atau internalisasi suatu nilai).
Langkah selanjutnya adalah menyusun item pernyataan angket afektif.
Instrument ini kemudian diuji kesahihan itemnya dengan uji validitas dan reliabilitas. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba tes. Hasil dari uji coba tersebut kemudian dianalisis masing-masing item pernyataan mencakup validitas dan reliabilitasnya. Jika item pernyataan angket tidak valid maka item pernyataan yang tidak valid di perbaiki melalui peninjauan dan keputusan ahli, kemudian di lakukan tes ulang (retest) untuk butir pernyataan yang tidak valid. Instrumen yang telah melalui semua tes tersebut kemudian siap digunakan sebagai postes.
c. Penyusunan Instrumen Ranah Psikomotorik.
Pengukuran ranah psikomotor menggunakan lembar observasi dengan melakukan pengamatan langsung terhadap keterampilan dan penampilan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Beberapa
commit to user
langkah telah dilakukan untuk menyusun instrument ranah psikomotorik.
Langkah pertama adalah pemilihan materi berdasarkan kurikulum sesuai dengan Kompetensi Dasar. Langkah kedua adalah penyusunan indikator dan tujuan pembelajaran ranah psikomotorik agar instrument menjadi lebih spesifik dan terarah. Langkah ketiga adalah pembuatan alat ukur sesuai indikator yang dilanjutkan dengan pembuatan kisi-kisi soal sesuai dengan indikator yang diharapkan. Lembar observasi menggunakan numerical rating scale dengan skala 1 sampai dengan 4 (Sugiyono, 2011).
Item pernyataan yang disusun mencakup empat dari enam jenjang kemampuan meliputi gerakan refleks, gerakan dasar, gerakan tanggap, dan kemampuan fisik (Yulaelawati, 2004). Selanjutnya instrumen diuji kesahihan itemnya dengan uji validitas dan reliabilitas oleh ahli/pakar.
Instrumen yang telah melalui semua tes tersebut kemudian siap digunakan sebagai penilaian hasil belajar ranah psikomotorik.