BAB IV PEMBAHASAN
4.2 Strategi Pengungkapan Tuturan Penolakan Dalam Interaksi Masyarakat Batak
4.2.2 Pengungkapan Penolakan dengan Permintaan Maaf
Berdasarkan hasil klasifikasi data ditemukan adanya cara pengungkapan penolakan dalam interaksi masyarakat Batak Toba dengan menyatakan permohonan maaf kepada lawan tuturnya. Hal ini dapat diperhatikan pada data berikut ini:
Data (31)
Mak Asnita: Eh..eda ai tu pasar do tong hamu hape? (berpapasan ditengah pasar)
Eh..ke pasar juga kalian ya?
Mak Agus: Olo eda.. tuson pe hami holan na manuhor ubat hu do hami.
Iya eda..kesini pun kami hanya ingin beli obatku.
Mak Asnita: Sahit aha eda haroa?
Eda sakit apa?
Mak Agus: Eh..hujomur bajuku di luar i, hape lewat akka sibolisi haroa jala dijama bajungkon nakni gabe gatal ma sude dagiinghu.
Eh..aku jemur bajuku diluar, rupanya lewat iblis itu kemudian disentuhnya bajuku ini akhirnya semua tubuhku gatal-gatalan.
Mak Asnita: Alai nga marubat hamu kan?
Tapi sudah berobat kalian kan?
Mak Agus: Nungga nian eda, nga songon na moru be huahap.
Sudah eda, sudah mulai mendingan perasannku.
Mak Asnita: Akkup ni i eda, naeng hupangido do dabah mas na pininjammi naujui eda! Ngaboha hira-hira? Naeng lao au tu Jakarta ne asa adong jo nian ongkos hu.
Ngomong-ngomong eda, ada yang ingin kuminta tentang perhiasan yang dulu itu! Sudah bagaimana? Aku mau pergi ke Jakarta ini supaya ada ongkosku.
Mak Agus: Ampuneda.., maaf ma eda. Sombahku sampulu jari-jari pasappulu sada simajujunghu. Dang dope boi halean au eda, ai dang dope sidung sikkola beremon. Nga semester akhir imana, sabar jo ho edakku..( sambil memeluk dan membelai punggung mak Asnita dengan suara nyaring)
Ampun eda.., maaf edaku. Sembahku sepuluh jariku ditambah kepalaku. Aku tidak bisa membayarnya saat ini eda, karena belum selesai beremu ini sekolah eda. Sudah semester akhir dia, sabar dulu edaku...
Mak Asnita: Tolema..na petting sehat ho haduan muse taha tai i.
Yasudahlah..yang penting kamu sembuh dilain waktu kita bicarakan itu.
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh mak Agus dengan mengatakan maaf ketika mak Asnita meminta perhiasan yang pernah dipinjamnya sebelumnya. Peristiwa tutur terjadi di pasar Pakkat pada siang hari pukul 11.39. Ketika mak Agus dan anaknya hendak mau pulang setelah selesai belanja, kemudia tanpa disengaja bertemu dengan mak Asnita yang baru tiba di pasar. Kemudian mak Asnita bertanya secara tidak langsung bertujuan untuk meminta perhiasan yang pernah dipinjam mak Agus sebelumnya. Namun permintaan tersebut ditolak dengan mengatakan maaf seperti dalam tuturan ampun eda.., maaf ma eda.
Sombahku sampulu jari-jari pasappulu sada simajujunghu. Dang dope boi halean au eda, ai dang dope sidung sikkola beremon. Nga semester akhir imana, sabar jo ho edakku.
Ditinjau dari hubungan sosial penutur dan lawan tutur adalah sahabat akrab dan ditinjau dari segi usia, pendidikan, dan pekerjaan mereka memiliki status
sosial yang sama. Sehingga pengungkapan penolakan dengan kata maaf ini dianggap sangat wajar dan santun. Pada masyarakat lingkungan Batak Toba di desa Lumban Tonga-Tonga yang peneliti teliti sedikit ditemukan penolakan dengan kata maaf. Alasan utamanya dilingkungan masyarakat Batak Toba jarang menggunakan kata maaf dalam menolak sesuatu. Sehingga peneliti hanya menemukan satu data saja tentang pengungkapan penolakan dengan kata maaf.
Uraian singkat pengungkapan penolakan dengan kata maaf ini dapat dipahami melalui tabel dan analisis data berikut ini:
4.2.2 Pengungkapan Penolakan dengan Permintaan Maaf (PDPM) No. Daftar
data
Data penolakan dengan permohonan maaf
Keterangan
1. Data (31) Ampuneda.., maaf ma eda. Sombahku
sampulu jari-jari pasappulu sada simajujunghu. Dang dope boi halean au eda, ai dang dope sidung sikkola beremon. Nga semester akhir imana, sabar jo ho edakku. Ampun eda.., maaf
edaku. Sembahku sepuluh jariku ditambah kepalaku. Aku tidak bisa membayarnya saat ini eda, karena belum selesai beremu ini sekolah eda. Sudah semester akhir dia, sabar dulu edaku...
Penolakan dilakukan oleh lawan tutur terhadap penuturnya atas ketidaksanggupannya memenuhi permintaan penutur. Sehingga dia mengatakan maaf supaya penutur tidak merasa tersinggung dengan penolakan permintaannya.
4.2.3 Pengungkapan Penolakan dengan Terimakasih
Dari hasil klasifikasi data ditemukan adanya pengungkapan penolakan dengan menggunakan ucapan terimakasih dalam interaksi masyarakat Batak Toba desa Lumban Tonga-Tonga. Hal ini dapat diperhatikan pada data berikut ini:
Data (32)
Mak Mikael: Nanguda, lagi marhua ho?
Lagi ngapain nanguda?
Mak Herbet: Mangaloppa dekke aek kale, aha hian?
Lagi masak ikan tawar, apa kian?
Mak Mikael: Dang adong nanguda.
Tidak ada nanguda.
Mak Herbet: Dang di ho deba dekkeon? masak nama on asa boan jolo dah di pahoppui!
Gak samamu sebagian ikan ini? bentar lagi masak ikan ini sekalian bawakkan untuk cucuku itu ya!
Mak Mikael: Dang pola nanguda ah, mauliate godang ma alana hami ipe hian mangan di jabu, sidung mangan au langsung ro ma au tuson makana dang mangihut be halaki.
Tidak usah nanguda ah, terimakasih banyak lah karena kami juga baru selesai makan tadi di rumah, setelah baru aku langsung kesini makanya orang itu gak mau ngikut lagi
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh mak Mikael atas tawaran yang dilakukan oleh mak Herbet dengan mengucapkan terimakasih. Peristiwa tutur berlangsung di dalam rumahpada siang hari pukul 12.30. Pada saat itu mak Mikael sengaja
datang kerumah mak Herbet hanya untuk bertandang, padahal mak Herbet sedang memasak ikan tawar didapur saat itu. Dan dia menawarkan ikan yang dimasaknya itu supaya mak Mikael membawanya ke rumah untuk anak-anaknya, namun mak mikael menolaknya dengan mengatakan terimakasih dimaksudkan agar penolakan tersebut terasa santun dalam tuturan dang pola nanguda ah, mauliate godang ma
alana hami ipe hian mangan di jabu, sidung mangan au langsung ro ma au tuson makana dang mangihut be halaki.
Ditinjau dari segi usia penutur lebih muda yakni, 45 tahun sedangkan lawan tuturnya 56 tahun. Apabila ditinjau dari hubungan sosial mereka cukup dekat karena mereka tetanggaan. Maka penolakan dengan terimakasih dinilai sebagai penolakan yang satun ketika menolak pemberian seseorang. Pengungkapan penolakan dengan terimakasih pada data (32) yakni, menggunakan skala jarak sosial yang didasarkan pada perbedaan usia.
Data (33)
Ezra: Dang diho deba gorengon? sai holanna sip ho ah..
Gak samamu goreng ini?kamu kok diam terus..
Ecca: Daong, mauliate.
Tidak, terimakasih.
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh Ecca atas penawaran yeng dilakukan oleh Ezra. Peristiwa tutur berlangsung di warung goreng pada siang hari pukul 11.50. Pada saat itu peserta tutur lagi duduk santai di warung goreng, namun mereka memiliki kesibukan masing-masing yeng berbeda. Dan ezra lagi menikmati santapan goreng yang telah disediakan oleh penjual namun Ecca hanya sibuk main hp lewat online.
Ditinjau dari segi usia, hubungan sosial dan tingkat pendidikan penutur dan lawan tuturnya memiliki usia sebaya yakni, 23 tahun, dan mereka sangat akrab dan berteman sudah lama, tetapi tingkat pendidikan penutur lebih tinggi yakni, seorang mahasiswa dan lawan tuturnya hanya wiraswasta. Pengungkapan penolakan data (33) yakni, menggunakan skala peringkat tindak tutur yang kedudukan relatifnya sama.
Uraian singkat pengungkapan penolakan dengan ucapan terima kasih dapat dipahami melalui tabel dan analisis data berikut ini:
4.2.3 Pengungkapan Penolakan dengan Terimakasih No Daftar data Data Pengungkapan Penolakan dengan Terimakasih Keterangan
1. Data (32) Dang pola nanguda ah, mauliate godang ma alana hami ipe hian mangan di jabu, sidung mangan au langsung ro ma au tuson makana dang mangihut be halaki.
Tidak usah nanguda ah, terimakasih banyak lah karena kami juga baru selesai makan tadi di rumah, setelah baru aku
Penolakan yang dilakukan oleh lawan tutur terdengar santun dengan memberikan alasan. Lawan tutur tidak menerima tawaran dari penuturnya untuk membawa ikan sebagian ke rumahnya dengan mengatakan terimakasih dan disertai dengan alasan sehingga penutur merasa biasa saja ketika tawarannya ditolak.
langsung kesini makanya orang itu gak mau ngikut lagi
2. Data (33) Daong, mauliate.
Tidak, terimakasih.
Penolakan dengan terimakasih yang dilakukan oleh lawan tutur, itu dilakukan karena lawan tutur merasa kurang selera untuk menerima tawaran tersebut. Sehingga lawan tutur menggunakan kata terima kasih untuk menghindari perasaan tersinggung penutur.
4.2.4 Pengungkapan Penolakan dengan Saran
Penolakan dengan saran ini dimaksudkan untuk memberikan alternatif usulan kepada lawan tutur dikarenakan penutur penolakan tidak bisa menyanggupi permintaan dari lawan tutur tersebut. Hal ini dapat diperhatikan pada data berikut ini:
Data (34)
Eva: Nang, pinjam jo rekening ni bank mi asa hupangke jo mambayar balanja online hu!
Nang, pinjam kan aku rekening bankmu untuk bayar belanja onlineku!
Renni: Dang boi hapakke rekeninghu nang alana tar blokir nariahai. Rekening ni si Via an ma pakke jolo atik boha boi ate!
Rekeningku gak bisa dipakai karena terblokir kemarin. Rekening punya Via saja yang kamu pakai ya!
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh Renni atas perintah yang disampaikan oleh Eva untuk meminjamkannya kartu rekening bank. Penolakan tersebut dilakukan oleh Renni dengan menyarankan agar Eva meminjam rekening bank Via. Peristiwa tutur berlangsung di teras rumah pada saat itu Eva menghampiri Renni yang lagi duduk di depan rumahnya untuk meminjam buku rekening bank. Namun Renni menolak perintah tersebut dengan menyarankan supaya meminjam kartu rekening bank kepada Via. Hal ini dilakukan supaya Eva tidak tersinggung dengan penolakan tersebut.
Ditinjau dari segi usia, hubungan sosial, dan tingkat penddikan penutur dan lawan tutur memiliki usia yang sebaya, mereka sangat dekat, dan berada di tingkat pendidikan yang sama yakni, seorang mahasiswa.
Data (35)
Keljen: We..angka dongan bohado hepeng kas taon tudia tabaen?
We.. teman-teman gimana kita buat uang kas kita ini?
Putra: Mardalani ma hita tu pantai Bulbul!
Jalan-jalan saja kita ke pantai Bulbul!
Pita: Sai lalap holanna mardalani, dang setuju au molo mardalani. Hepeng kas tai manuhor gitar ma tabaen ate! asa adong pakkeonni generasi selanjutna.
Kok selalu jalan-jalan terus, aku gak setuju jalan-jalan. Uang kas kita pakai untuk beli gitar saja ya! Supaya ada di pakai generasi selanjutnya.
Anggota lain: Setuju...
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh Pita atas saran yang dikemukakan Putra dengan mengatakan supaya uang kasnya dipergunakan untuk membeli alat musik. Peristiwa tutur terjadi pada malam hari pukul 19.10 di aula gereja pada saat kumpulan muda-mudi sedang berkumpul dan mendiskusikan uang kas mereka untuk dikelola kearah yang lebih baik.
Ditinjau dari segi usia, hubungan sosial, dan tingkat penddikan penutur dan lawan tutur memiliki usia yang sebaya, mereka sangat dekat, dan berada di tingkat pendidikan yang sama yakni, seorang pelajar sekolah.
Data (36)
Susi: Bapa uda.. mago boh ktp nattuari di kampus, boi jo urusanni uda i?
Bapa uda..kemarin ktp aku hilang di kampus, bisa gak uda urus dulu?
Pak Aliman: Boi do anggoi.
Bisanya itu.
Susi: Antong urus uda jo sogot da! alana nanggo fotokopina pe tinggal dang adong.
Kalau begitu besok urus dulu uda ya! Karena fotokopinya saja pun gak ada.
Pak Aliman: Molo songoni dang boi sogot jalo, ingkon pangidoanmu jo surat kehilangan ktp ho sian kantor polisi baru fotokopi ma kartu keluargamuna, baru dohot ma ho rekaman ulang muse da!
Kalau begitu tidak bisa, kamu harus meminta ke kantor polisi surat kehilangan ktp lalu fotokopi kartu keluarga kalian, lalu kamu ikut rekaman ulang kembali!
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh pak Aliman atas perintah Susi untuk mengurus ktp baru untuknya. Peristiwa tutur berlangsung di kantor kepala desa pada sore hari pukul 14.20. Pada saat itu pak aliman sedang mengetik surat-surat
yan dibutuhkan oleh masyarakat. Penolakan dilakukan oleh pak Aliman dengan memberikan saran dianggap wajar dan benar.
Ditinjau dari tingkat kekuasaan penolakan yang dilakukan oleh pak Aliman dianggap wajar dan santun. Karena pak Aliman menjelaskan dengan baik syarat pengurusan berkas kehilangan ktp. Pengungkapan penolakan dengan saran pada data (36) yakni, menggunakan skala status sosial penutur dengan lawan tutur yang didasarkan pada tingakt kekuasaan.
Data (37)
Vandi: Ces..eta jo tu jabu ni si Riwan mangalap helm! dipakke si Riwan nakkinong lao mulak singkola alana mabiar rajia.
Kawan..ayo ke rumah si Riwan ngambil helm! tadi dipakai si Riwan waktu pulang sekolah karena takut di rajia polisi.
Evan: Mardalan hita?
Jalan kaki kita?
Vandi: Olo, alana kareta di pakke bapakku.
Iya, karena sepeda motor kami dipakai bapakku.
Evan: Dao nai ah, si Dedi ma arahon da! lagi dang boi au lao naeng mangkarejohon tugas kelompok au tu jabu ni si Vero.
Jauh sekali ah, ajak Dedi lah! Aku lagi gak bisa karena mau mengerjakan tugas kelompok aku ke rumah Vero.
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh Evan atas ajakan Vandi untuk pergi ke rumah Riwan mengambil helm. Namun penolakan tersebut dilakukan oleh Evan dengan menyarankan supaya Vandi mengajak Dedi pergi. Peristiwa tutur
berlangsung pada malam hari di rumah pada malam hari pukul 19.20. Pada saat itu Vandi lagi duduk sambil nonton televisi di ruang tamu.
Ditinjau dari segi usia, hubungan sosial, dan tingkat penddikan penutur dan lawan tutur memiliki usia yang sebaya, mereka sangat dekat, dan di tingkat pendidikan yang sama yakni, seorang pelajar sekolah.
Uraian singkat pengungkapan penolakan dengan saran ini dapat dipahami melalui tabel dan analisis data berikut ini:
4.2.4 Pengungkapan Penolakan dengan Saran
No Daftar Data Data Penolakan dengan Saran Keterangan 1 Data (34) Dang boi hapakke rekeninghu nang
alana tar blokir nariahai. Rekening ni si Via an ma pakke jolo atik boha boi ate!
Rekeningku gak bisa dipakai karena terblokir kemarin. Rekening punya Via saja yang kamu pakai ya!
Penolakan dengan saran dilakukan oleh lawan tutur dengan mengatakan bahwa rekeningnya lagi bermasalah dan dia menyarankan supaya meminjam rekening si Via temannya.
setuju au molo mardalani. Hepeng kas tai manuhor gitar ma tabaen ate! asa adong pakkeonni generasi selanjutna.
Kok selalu jalan-jalan terus, aku gak setuju jalan-jalan. Uang kas kita pakai untuk beli gitar saja ya! Supaya ada di pakai generasi selanjutnya. dengan saran dilakukan oleh lawan tutur lainnya dengan menyarankan
supaya uang kas mereka dipakai untuk beli gitar supaya bisa dipakai generasi selanjutnya.
3 Data (36) Molo songoni dang boi sogot jalo, ingkon pangidoanmu jo surat kehilangan ktp ho sian kantor polisi baru fotokopi ma kartu keluargamuna, baru dohot ma ho rekaman ulang muse da!
Kalau begitu tidak bisa, kamu harus meminta ke kantor polisi surat kehilangan ktp lalu fotokopi kartu keluarga kalian, lalu kamu ikut rekaman ulang kembali!
Penolakan dilakukan oleh lawan tutur dengan menyarankan supaya penutur mengurus berkas surat kehilangan dari kantor polisi.
lagi dang boi au lao naeng mangkarejohon tugas kelompok au tu jabu ni si Vero.
Jauh sekali ah, ajak Dedi lah! Aku lagi gak bisa karena mau mengerjakan tugas kelompok aku ke rumah Vero. dengan saran dilakukan oleh lawan tutur dengan menyarakan penutur supaya mengajak teman mereka yang lain.
4.2.5 Pengungkapan Penolakan dengan Penundaan Waktu
Berdasarkan klasifikasi data ditemukan adanya penolakan yang diungkapkan dengan penundaan waktu. Hal ini dapat diperhatikan pada data berikut ini:
Data (38)
Purnama: Uma bohado jolo tapasidung do bogas taon?
Mama harus sekarang kita selesaikan kerjaan kita ini? Mak Agus: Olo inang, asa ummura tadapoti bogas ta sogot.
Iya nak, biar lebih enteng besok pekerjaan ini.
Purnama: Ngabotari on uma, eta ma tu duru paiashon gambo on asa mulak hita!
Ini sudah sore mama, ayo lah ke gubuk kita mama sekalian bersihkan lumpur yang dibadan kita baru kita pulang!
Mak Agus: Dang hatinggalhon au on, ho ma parjolo tu duru da! lagian pukul 16.45 dope on pagirahu hita mulak.
Tidak bisa aku tinggalkan ini, kamu saja yang duluan ke gubuk nak! Lagian ini masih pukul 16.45 terlalu cepat kita pulang.
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh mak Agus atas permintaan Purnama (anaknya) untuk segera pulang dari sawah karena sudah sore dan perjalanan mereka ke rumah memakan waktu 30 menit jalan kaki. Peristiwa tutur terjadi di sawah pada sore hari pukul 16.45. Pada saat itu mak Agus dan Purnama hendak menyelesaikan pekerjaan mereka yang tinggal sedikit. Sehingga mak Agus merasa tidak enak hati untuk meninggalkan pekerjaan mereka yang masih tanggung.
Ditinjau dari tingkat usia penutur lebih tinggi dibandingkan lawan tutur dan hubungan sosial diantara mereka adalah hubungan orangtua dan anak yang sangat dekat dan akrab. Sehingga penolakan yang dilakukan oleh penutur terdengar wajar saja dilakukan. Pengungkapan penolakan dengan menunda waktu pada data (38) yakni, menggunakan skala peringkat jarak sosial yang didasarkan pada perbedaan umur.
Data (39)
Purnama: Nga boha pangarattoi.. Gimana anak rantau.. Remsi: Ahana ngaboha ces?
Apanya yang gimana kawan?
Purnama: Andigan do wisuda ho? Kejarma bulan dua on!
Wisudanya kapan? Kejarlah target kamu bulan dua ini!
Remsi: Dang binoto dope ces.., pahatop hui mangejar bulan lima on mana au kale.
Belum tau lah kawan, terlalu cepat itu aku mengejar wisuda bulan dua rencana bulan lima ini kawan.
Purnama: Bah ido...jadi dalam rangka aha mulak ho?
Oh begitu..jadi dalam rangka apa ini kamu pulang?
Remsi: Penelitian skripsi ces..
Penelitian skripsi kawan..
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh Remsi atas saran teman dekatnya yang tinggal di kampung yakni, Purnama yang menyuruhnya mengejar target wisuda bulan dua. Peristiwa tutur terjadi di pinggir jalan pada sore hari pukul 17.45. Ketika Remsi baru turun dari angkot dan hendak jalan menuju rumahnya yang baru tiba dari Medan. Kemudian Purnama menyapanya dan mereka berbincang-bincang tentang kuliah.
Ditinjau dari usia penutur dengan lawan tutur memiliki usia yang sebaya yakni, 23 tahun. Ditinjau dari hubungan sosial mereka adalah teman dekat yang akrab dan sangat dekat. Ditinjau dari tingkat pendidikan lawan tutur lebih tinggi yakni, seorang mahasiswa dan penutur hanya seorang petani lulusan SMA. Pengungkapan penolakan dengan penundaan waktu pada data (39) menggunakan skala peringkat tindak tutur yang didasarkan pada kedudukan penutur dan lawan tutur yang sama.
Data (40)
Nani: Bah.. dison dope hamu?
Wah..masih kalian masih disini?
Nika: Olo, naeng mahua hian?
Iya, memangnya mau ngapain?
Nani: Naeng mangarahon hamu au bodari asa tu jabu ni si Ricci hita alana mangalua mana halaki!
Aku ingin mengajak kalian nanti malam ke rumah Ricci karena mereka jadi lamaran!
Nika: Dang boi au, haduanma di pesta nai au dohot naeng partangiangan dijabu nami bodari.
Aku tidak bisa, nantilah di pesta pernikahannya aku ikut karena dirumahku nanti malam ada acara syukuran.
Analisis data: Penolakan dilakukan oleh Nika atas ajakan Nani untuk pergi bersama ke rumah Ricci karena malam itu dia akan dilamar kekasihnya. Namun Nika malah menolak dengan menunda waktu supaya dia ikut di pesta pernikahannya saja. Peristiwa tutur terjadi di warung goreng pada sore hari pukul 15.20. Pada saat itu Nika sedang makan bersama temannya yang lain, kemudian Nani mengajak mereka untuk ke rumah Ricci menghadiri undangan lamaran temannya.
Ditinjau dari segi usia, pendidikan, hubungan sosial penutur dengan mitra tuturnya memiliki usia sebaya yakni, 21 tahun serta tingkat pendidikan yang sama. Ditinjau dari hubungan sosial mereka sangat akrab, maka penolakan dengan penundaan waktu dianggap hal yang wajar dan tidak menyinggung perasaan penutur.
Data (41)
Masdinar: Saut do ho lao na tu Jakarta i?
Kamu jadi gak pergi ke Jakarta itu?
Masda: Ido, didokkon bapakku ingkon saut inna.
Iya, harus jadi kamu pergi kata bapakku.
Kapan rencanamu pergi?
Masda: Minggu naeng ro, makana pesan ma tiket mu asa rap lao hita! alana sai na tusi do ho.
Minggu depan ini, kalau begitu pesan saja tiketmu sekarang biar sama kita pergi! Karena ujung-ujungnya kesitu juganya kamu.