• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG BADAN USAHA

D. Pengurusan Badan Usaha Milik Negara

Pada dasarnya pendirian, pengurusan, pengawasan dan pembubaran perseroan (BUMN) dilakukan berdasarkan ketentuan PT. Namun demikian, untuk hal-hal ini terdapat pengaturan khusus yaitu dalam UU BUMN jo PP Nomor 45 Tahun 2005, maka ketiga pengaturan ini berlaku bersama-sama untuk persero (BUMN), asalkan tidak saling bertentangan. Akibat kedudukan Menteri Negara BUMN dalam RUPS, tidak semua ketentuan-ketentuan dalam PT dapat diterapkan khususnya pada Perseroan Tertutup dalam hal pengurusan, pengawasan maupun pembubaran.

Mengenai pendirian baik PT Tertutup maupun Terbuka, kewenangan Menteri Negara BUMN adalah sama. Terkait kewenangan Menteri Negara BUMN pada pendirian persero, kedudukan Menteri Negara BUMN adalah mewakili Negara sebagai calon pemegang saham, menghadap Notaris untuk memenuhi prosedur pendirian sebuah PT.

Tentang pengurusan, pada Pasal 1 angka 12 PP No. 45 Tahun 2005 diatur bahwa Pengurusan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Direksi dalam upaya mencapai maksud dan tujuan perusahaan. Dimana dalam pasal 12 UU BUMN,maksud dan tujuan pendirian Persero adalah:

1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat,

Pengurusan BUMN dilakukan oleh Direksi, yang dalam melaksanakan tugasnya harus mematuhi anggaran dasar BUMN dan peraturan perUndang- Undangan serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip good corporate governance yang meliputi sebagai berikut:

a. Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.

b. Kemandirian, yaitu keadaan dimana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perUndang-Undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

c. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

d. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

e. Kewajaran, yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Mengenai pelaksanaan good corporate governance diatur dalam Kepmen BUMN No.117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktik Good Corporate

Kepmen BUMN No.117/M-MBU/2002 Pasal 2 menyatakan:

Ayat (2) :BUMN wajib menerapkan GCG secara konsisten dan atau menjadikan GCG sebagai landasan operasionalnya.

Ayat (3) :Penerapan GCG pada BUMN dilaksanakan berdasarkan keputusan ini dengan tetap memperhatikan ketentuan dan norma yang berlaku dan anggaran dasar BUMN.

Ketentuan tersebut dimaksudkan sebagai perintah dari Menteri BUMN kepada BUMN yang berada di bawah pengawasannya agar menjalankan prinsip good corporate governance, disamping sebagai upaya untuk memberikan landasan hukum dan pedoman bagi BUMN dalam melaksanakan GCG.

Dalam ketentuan tersebut juga mengatur prinsip-prinsip doktrin hukum modern dalam Kepmen BUMN adalah:28

1. Doktrin fiduciary duty. Berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab

direksi BUMN yang termuat dalam Kepmen BUMN yang masih berkaitan dengan doktrin fiduciary duty adalah ketentuan yang dimuat dalam Pasal 19 yang menyatakan bahwa perjanjian penunjukan anggota direksi yang bersangkutan dan kuasa pemegang saham/pemilik modal pada saat penunjukan yang bersangkutan sebagai anggota direksi, yang memuat persyaratan penunjukan dan pemberhentian, termasuk peran dan tanggung jawab.

2. Standard of Care. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 4.

Ayat a : Memaksimalkan nilai BUMN dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional.

28

Zaeny Asyhadie, Hukum Bisnis (Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia), (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2005), hal. 158

Ayat b : Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, transparan, dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian organ. Ayat c : Mendorong agar organ dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial BUMN terhadap stakeholder maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN.

3. Self Dealing Transaction dan Corporate Opportunity. Doktrin self dealing transaction dalam ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 20, yang

menyatakan bahwa para anggota Direksi dilarang melakukan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan dan mengambil keuntungan pribadi dari kegiatan BUMN yang dikelolanya selain gaji dan fasilitas sebagaimana anggaran direksi yang ditentukan oleh RUPS/pemilik modal. 4. Doctrine Business Judgement Rule. Doktrin ini diatur dalam Pasal 3 ayat

e yang menyatakan, kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.

Mengenai pengurusan dalam BUMN, jika dilihat dari segi strukturnya, secara sepintas kelihatannya tidak ada perbedaan dengan pengurusan yang tedapat dalam PT pada umumnya. Tegasnya dalam pasal 13 UU BUMN disebutkan organ Persero adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi dan Komisaris. Hanya saja dalam menjalankan fungsi dan tugas organ yang dimaksud, ada ketentuan yang lebih spesifik yakni peran Negara dalam hal ini yang diwakili oleh Menteri

Negara BUMN masih cukup dominan untuk menentukan siapa yang akan duduk dalam organ persero, baik untuk jabatan komisaris maupun direksi.29

1. Rapat Umum Pemegang Saham

Dalam Inpres Nomor 8 Tahun 2005 disebutkan, dalam rangka pengangkatan anggota Direksi dan/atau Komisaris/Dewan Pengawas Badan Usaha Milik Negara, Menteri Negara BUMN, selaku wakil Pemerintah sebagai Rapat Umum Pemegang Saham atau pemegang saham pada Persero, atau selaku wakil Pemerintah sebagai pemilik modal pada Perum, agar memperhatikan dan mengedepankan keahlian, profesionalisme dan integritas dari calon anggota Direksi dan/atau Komisaris/Dewan Pengawas yang bersangkutan,untuk memajukan dan mengembangkan perusahaan.

Dalam pasal 1 butir 13 UU BUMN disebutkan, Rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS, adalah organ persero yang memegang kekuasaan tertinggi dalam persero dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada direksi dan komisaris. Sedangkan dalam UU PT Nomor 40 Tahun 2005 RUPS adalah Organ Perseroan yang yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan pada Direksi ataupun Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau anggaran dasar.30

29

Sentosa Sembiring, Hukum Perusahaan Tentang Perseroan Terbatas, (Bandung: CV Nuansa Mulia, 2006), hal. 69

30

UU PT Nomor 40 Tahun 2005, Op.Cit, Pasal 1 angka 4

1) Menteri bertindak selaku RUPS dalam hal seluruh saham perserodimiliki oleh Negara dan bertindak selaku pemegang saham pada persero dan perseroan terbatasdengan tidak seluruhnya saham dimiliki Negara.

2) Menteri dapat memberikan kuasa baik dengan substitusi kepada perorangan atau badan hukum untuk mewakilinya dalam RUPS.

3) Pihak yang menerima kuasa sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2),wajib terlebih dahulu mendapat persetujuan Menteri untuk mengambil keputusan dalam RUPS mengenai:

a. Perubahan jumlah modal; b. Perubahan anggara dasar; c. Rencana penggunaan laba;

d. Penggabungan.peleburan,pengambilalihan,pemisahan,serta pembubaran perseroan;

e. Investasi dan pembiayaan jangka panjang; f. Kerjasama perseroan;

g. Pembentukan anak perusahaan atau penyertaan; h. Pengalihan aktiva;

Seperti halnya dalam PT pada umumnya, penjabaran lebih lanjut tentang tugas dan wewenang RUPS dijabarkan dalam ADPT, demikian juga halnya dengan PT Persero. Namun, dari ketentuan di atas ada satu hal yang menarik, bahwa perwujudan RUPS dianggap sama dengan keputusan Menteri, jika saham seluruhnya dikuasai oleh Negara. Hal ini ditegaskan dalam pasal 14 Ayat (1) Bagi persero yang seluruh modalnya (100%) dimiliki oleh Negara, Menteri yang

ditunjuk mewakili Negara selaku pemegang saham dalam setiap keputusan tertulis yang berhubungan dengan persero merupakan keputusan RUPS. Bagi persero dan perseroan terbatas yang sahamnya dimiliki Negara kurang dari 100% (seratus persen), Menteri berkedudukan selaku pemegang saham dan keputusannya diambil bersama-sama dengan pemegang saham lainnya.

2. Direksi

Keberadaan Direksi BUMN yang berstatus persero, sejatinya merupakan derivatif keberadaan direksi PT. Artinya, ketentuan-ketentuan dalam PT tetap berlaku dan ketentuan-ketentuan yang menyangkut BUMN merupakan ketentuan khusus, terlebih khusus lagi bahwa BUMN tersebut berstatus perseroan, yang sangat khusus lagi adalah direksi bank umum berbentuk PT, berstatus BUMN yang berbentuk persero.31

Direksi adalah organ BUMN yang bertanggung jawab atas pengurusan BUMN untuk kepentingan dan tujuan BUMN, serta mewakili BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan.32

Sebagaimana layaknya perseroan, yang mengangkat dan memberhentikan direksi adalah RUPS. Namun demikian, dalam perseroan (BUMN) mempunyai Selanjutnya dalam pasal 19 disebutkan bahwa dalam menjalankan tugasnya, anggota direksi wajib mencurahkan tenaga, pikiran dan pencapaian tujuan perseran. Sedangkan persyaratan untuk diangkat menjadi anggota direksi dijelaskan dalam pasal 16 UU BUMN.

31

Try Widiyono, Direksi Perseroan Terbatas, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2008), hal. 153.

32

kekuasaan. Hal ini tampak dari ketentuan dalam pasal 15 UU BUMN yang mengemukakan, pengangkatan dan pemberhentian direksi dilakukan oleh RUPS. Dalam hal Menteri bertindak selaku RUPS, pengangkatan dan pemberhentian direksi ditetapkan oleh Menteri Direksi dalam menjalankan tugasnya, harus mematuhi anggaran dasar BUMN dan peraturan perUndang-Undangan serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (Tata Kelola Pemerintahan yang Baik).

3. Komisaris

Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan Persero.33

Mengingat tugas-tugas komisaris cukup strategis dalam suatu perseroan, maka keberadaan komisaris tersebut harus dapat diukur manfaat dan

Selanjutnya dalam pasal 31 disebutkan, komisaris bertugas mengawasi direksi dalam menjalankan kepengurusan perseroan serta memberi nasihat kepada direksi. Sedangkan persyaratan untuk dapat diangkat menjadi komisaris dijabarkan dalam pasal 28 yang mengemukakan bahwa, anggota Komisaris diangkat berdasarkan pertimbangan integritas, dedikasi, memahami masalah- masalah manajemen perusahaan yang berkaitan dengan salah satu fungsi manajemen,memiliki pengetahuan yang memadai di bidang usaha Persero tersebut, serta dapat menyediakan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugasnya.

33

keberadaannya dalam perseroan. Secara ringkas dapat dikemukakan ukuran kuantitatif mengenai efektivitas dewan komisaris yakni:

a. Dewan komisaris seharusnya memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan;

b. Dewan komisaris seharusnya mempunyai pengaruh terhadap keseluruhan strategi dan kebijakan perusahaan;

c. Dewan komisaris harus yakin bahwa strategi dan kebijakan perusahaan diimplementasikan oleh dewan Direksi;

Komisaris dalam melaksankan tugasnya berkewajiban:

1. Memberikan pendapat dan saran kepada RUPS mengenai rencana kerja dan anggaran perusahaan yang diusulkan direksi;

2. Mengikuti perkembangan kegiatan persero, memberikan pendapat dan saran kepada RUPS mengenai masalah yang dianggap penting bagi pengurusan persero;

3. Melaporkan dengan segera kepada pemegang saham apabila terjadi menurunnya kinerja persero;

4. Memberikan nasihat kepada direksi dalam melakukan pengurusan persero; 5. Melakukan tugas pengawasan lain yang ditetapkan dalam anggaran dasar

persero dan / atau berdasarkan keputusan RUPS;34

Ketiga organ di atas merupakan organ dalam pengurusan BUMN yang berbentuk persero. Untuk BUMN yang berbentuk Perum organ dalam melakukan pengurusan adalah Menteri, Direksi, dan Dewan Pengawas.

34

1) Menteri maksudnya adalah menteri yang ditunjuk dan atau/ diberi kuasa untuk mewakili pemerintah selaku pemegang saham pada persero dan memiliki modal pada perum dengan peraturan perundang- undangan.35

2) Direktur/ Direksi. Pengangkatan dan pemberhentian direksi ditetapkan oleh menteri dengan mekanisme dan peraturan perundang-undangan. Persyaratan untuk dapat diangkat sebagai anggota direksi adalah:

Kedudukan Menteri dalam Perum adalah sebagai organ yang memegang kekuasaan tertinggi yang mempunyai segala wewenang yang tidak diberikan kepada direksi atau dewan pengawas dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang atau peraturan pemerintah tentang pendirian perum. Kewenangan Menteri adalah memberikan persetujuan atas kebijakan pengembangan usaha perum yang diusulkan oleh direksi. Usulan pengembangan usaha ini harus disetujui oleh dewan pengawas.

(1) Orang perorangan yang mampu melaksanakan perbuatan hukum. (2) Tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota direksi atau

dewan pengawas yang dinyatakan bersalah yang menyebabkan suatu perseroan atau perum dinyatakan pailit.

(3) Orang yang tidak pernah dihukum karena melakukan tindakan pidana yang merugikan keuangan Negara.

Pengangkatan anggota direksi harus melalui ujin kelayakan dan kepatutan dengan mempertimbangkan keahlian, kepemimpinan, pengalaman, jujur,

35

perilaku yang baik, serta dedikasi yang tinggi untuk memajukan dan mengembangkan perum.

Kewajiban Direksi adalah:

(1) Menyiapkan rancangan rencana kerja jangka panjang yang hendak dicapai dalam jangka waktu lima tahun yang merupakan rencana strategis yang memuat sasaran dan tujuan perum.

(2) Menyiapkan rancangan rencana kerja dan anggaran perusahaan yang merupakan penjabaran tahunan dari rencana jangka panjang.

(3) Menyampaikan laporan tahunan kepada menteri untuk memperoleh pengesahan dalam jangka waktu lima bulan setelah tahun buku ditutup; dalam hal anggota direksi atau dewan pengawas tidak menandatangani laporan tahunan, harus disebutkan alasannya secara tertulis.

(4) Memelihara risalah rapat dan menyelenggarakan pembukuan perum. 3) Dewan Pengawas. Pengangkatan dan pemberhentian dewan pengawas

ditetapkan oleh menteri dengan mekanisme peraturan perundang-undangan. Persyaratan untuk dapat diangkat sebagai anggota dewan pengawas, syaratnya sama dengan persyaratan untuk dapat diangkat sebagai anggota direksi. Pengangkatannya juga harus melalui uji kelayakan seperti yang berlaku dalam pengangkatan anggota direksi. Masa jabatan anggota dewan pengawas adalah lima tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan. Anggota dewan pengawas terdiri dari unsur-unsur menteri

teknis, menteri keuangan, dan pejabat departemen/ lembaga non departemen yang kegiatannya berhubungan langsung dengan perum.

Dokumen terkait