HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Pengujian Hipotesis
2. Penilaian Kognitif
Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t-pihak kanan. Dari hasil uji
t-pihak kanan untuk prestasi belajar kognitif diperoleh harga thitung = 2,777 yang
melampaui harga ttabel = 1,66 pada taraf signifikansi 5% maka untuk prestasi
belajar kognitif H0 ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan belajar kognitif yang
signifikan.
Hasil pengujian kemampuan kognitif menunjukkan kemampuan kognitif
siswa yang diberi pembelajaran dengan metode pembelajaran Teams Games
Tournament (TGT) dilengkapi permainan ular tangga lebih tinggi daripada kemampuan kognitif siswa yang diberi metode pembelajaran yang biasa
digunakan disekolah yaitu metode ceramah. Hal ini terlihat pada rata – rata nilai
pretest untuk kelas ekskperimen 42,00167 dan rata – rata nilai posttestnya
77,74833 sedangkan untuk kelas kontrol rata – rata nila pretestnya 42,08417 dan
rata – rata nilai posttestnya 71,58333.
Kelas yang dipakai dalam penelitian ini adalah kelas XC dan XD SMA N 1 Karanganom Tahun Ajaran 2011/2012. Sebelum diberi perlakuan terlebih
dahulu dilakukan uji kesetaraan dengan menggunakan uji t-matching untuk nilai
Ujian Akhir Nasional SMP Tahun Ajaran 2010/2011. Kemudian kelas yang telah ditentukan melalui undian yaitu kelas XC diberi perlakuan menggunakan metode
commit to user disekolah yaitu metode ceramah.
Pada awalnya siswa belum terbiasa dengan metode pembelajaran Teams
Games Tournament (TGT) dilengkapi permainan ular tangga karena penyampaian materi diberikan hanya inti dari materi struktur atom, dimana selanjutnya siswa dapat mempelajari dan menemukan sendiri pengetahuan mereka melalui bahan ajar bersama kelompoknya. Dimana dalam tiap kelompok tersebut akan terjadi kerjasama antar siswa, sesama siswa akan saling membantu bila salah satu siswa dalam kelompok belum memahami materi struktur atom sehingga siswa akan siap bersaing dalam turnamen akademik. Pada turnamen akademik hari pertama suasana kelas agak ribut karena karena siswa keluar dari kelompoknya dan saling berebut untuk mencari meja turnamen yang sesuai dengan penempatan mereka. Pada akhir turnamen dilakukan perhitungan skor yang diperoleh siswa untuk menentukan sumbangan skor siswa bagi kelompoknya, yang pada akhirnya akan
menentukan kelompok mana yang mendapatkan Reward yang dimaksudkan agar
siswa lebih giat belajar.
Pada aspek kognitif prestasi belajar pada pembelajaran materi pokok
Struktur Atom kelas Teams Games Tournament (TGT) dilengkapi permainan ular
tangga lebih tinggi karena siswa mempunyai kesempatan secara individu untuk memahami, merefleksi, dan memecahkan masalah. Setelah itu siswa juga masih berkesempatan untuk melakukan diskusi dengan kelompoknya serta berdiskusi lagi dengan seluruh kelompok dalam kelas. Sehingga setiap siswa telah memiliki pemikiran secara individu dan tidak menggantungkan kelompoknya. Hal ini membuat siswa memiliki pemahaman yang lebih tinggi dan hasil prestasi kognitif yang lebih baik pula.
Sedangkan pembelajaran dengan metode yang sesuai dengan yang diterapkan di sekolah yaitu metode ceramah siswa hanya memiliki kesempatan sedikit dalam memahami soal, yaitu saat diskusi informasi dengan guru tanpa ada kesempatan memecahkan soal secara individu. Hal ini menjadikan tingkat pemahaman siswa cenderung kurang dalam memecahkan suatu soal atau permasalahan. Dimana akan nampak kondisi kelas yang cenderung tidak produktif
commit to user
ceramah akan membuat siswa bosan dan pasif karena siswa hanya mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan guru. Hanya sebagian kecil siswa yang berani
bertanya ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya hal – hal yang belum
dikuasai.
Metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dilengkapi
permainan ular tangga sebagai contoh dari metode pembelajaran kooperatif yang mempunyai kebaikan dalam memupuk kerja sama dan interaksi antar siswa serta melatih kemampuan siswa untuk mengeluarkan pendapatnya ketika proses pembelajaran berlangsung. Kerja sama dan interaksi antar siswa dalam kelompok akan memotivasi siswa dalam belajar karena keberhasilan dari suatu kelompok tergantung pada anggotanya. Materi yang kurang dipahami oleh salah seorang anggota kelompok dapat ditanyakan kepada teman sekelompoknya sebelum ditanyakan kepada guru. Adanya sumbangan yang diberikan oleh seorang anggota kelompok kepada semua anggota kelompok dapat membuat mereka memahami
materi dan belajar lebih baik. Metode pembelajaran Teams Games Tournament
(TGT) dilengkapi permainan ular tangga lebih menitikberatkan pada keaktifan siswa dalam belajar. Dalam metode ini setiap individu akan tertantang untuk memiliki nilai terbaik sebab dalam metode ini terdapat suatu turnamen akademik yang akan mengasah kemampuan antar siswa dalam menangkap materi selama pembelajaran sehingga akan dapat menyumbangkan nilai bagi kelompoknya. Selain itu siswa dapat menyumbangkan ide atau gagasan pada saat diskusi untuk membantu teman sekelompoknya yang belum memahami materi pelajaran.
Perbedaan prestasi belajar aspek kognitif menunjukan bahwa kelas eksperimen (metode TGT dilengkapi permainan ular tangga) memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol (Ceramah). Hal ini sesuai dengan
penelitaian Kamuran Tarim dan Fikri Akdeniz (2008) dalam jurnalnya yang
berjudul “The Effects of Teams-Games-Tournaments on Achievement, Retention,
and Attitudes of Economics Education Student” dimana hasil penelitiannya
menunjukkan “The TGT technique is more effective than the lecture method with regard to economics student achievement and student retention of economics
commit to user
Teams Games Tournament (TGT) lebih efektif bila dibandingkan dengan metode ceramah. Hai ini dapat disebabkan karena pembelajaran TGT memiliki keunggulan yaitu adanya pertandingan yang memotivasi kerja sama dalam
kelompok. Dalam setiap diskusi masing – masing siswa bertanggung jawab dalam
kelompoknya diantaranya membantu siswa yang kurang paham sehingga dalam pembelajaran ini sesama siswa dapat bertukar pendapat dan mengembangkan pengetahuannya dalam mempelajari materi struktur atom. Akan tetapi pada awal-awal pertemuan ketika berdiskusi tidak semuanya benar-benar aktif dalam kelompok. Untuk itu setiap awal pertemuan dilakukan refleksi tentang kerja sama dalam kelompok pada pertemuan sebelumnya. Selain itu siswa yang aktif akan mendapatkan apresiasi dari guru dengan diberikan tambahan nilai tugas dan juga
bagi siswa yang paling aktif akan mendapatkan reward. Dengan demikian akan
memotivasi siswa untuk bertanggung jawab penuh dalam kelompoknya dan memancing setiap kelompok untuk berlomba-lomba menjadi kelompok yang terbaik. Dengan adanya kerja sama ini sangat membantu anggota kelompoknya, sebab siswa yang sudah paham akan senantiasa membantu siswa yang kurang paham untuk dapat memahami materi pokok struktur atom.