BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1.1 Kurikulum 2013
2.1.1.5 Penilaian Otentik
Penilaian merupakan proses pemberian nilai berdasarkan hasil
pengukuran dengan kualitas nilai tertentu (Akbar, 2013: 88). Penilaian
merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
mengukur pencapaian hasil belajar siswa (Kurinasih, 2014: 47).
Kemendikbud dalam (Fadlillah, 2014: 202) penilaian adalah proses
mengumpulkan informasi atau bukti melalui pengukuran, menafsirkan,
mendeskripsikan, dan menginterprestasi bukti-bukti hasil pengukuran.
Dari uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa penilaian adalah
sebuah proses mengumpulan dan pengolahan data atau informasi untuk
mengukur hasil atau kemampuan siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran.
Penilaian otentik adalah penilaian yang melibatkan siswa dalam
tugas otentik yang bermanfaat, penting dan bermakna (Husamah, 2013:
126). Stiggins dan Mueller (dalam Burhan, 2011: 23), penilaian otentik
merupakan penilaian kinerja (performansi) yang meminta pembelajaran
untuk mendemostrasikan keterampilan dan kompetensi tertentu yang
adalah penilaian yang dilakukan secara komperhensif untuk menilai mulai
dari masukan, proses, dan keluaran pembelajaran yang meliputi 3 ranah
aspek yaitu ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Kurinasih, 2014:
48). Penilaian otentik adalah suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan
penggunaan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa dengan
menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan,
bukti-bukti otentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik, Pusat
Kurikulum dalam (Majid, 2014: 236).
Dari uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa penilaian otentik
adalah penilaian yang dilakukan secara kompherensif untuk mengukur atau
menilai kegiatan yang dilakukan oleh siswa mulai dari masukan, proses,
dan keluaran mengenai aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam
pembelajaran.
Tujuan Penilaian Otentik adalah untuk mengukur berbagai
keterampilan dan kompetensi dalam berbagai konteks yang
menggambarkan situasi di dunia nyata dimana keterampilan-keterampilan
tersebut digunakan. Menekankan pada pengukuran kinerja, melakukan
sesuatu, menuntun mendemostrasikan pengetahuan, keterampilan, strategi
dengan mengkreasikan jawaban atau produk, dan melengkapi penilaian
tradisional yang berbentuk objektif. Penilaian otentik bertujuan
mengevaluasi kemampuan siswa dalam konteks dunia nyata yaitu cara
siswa mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya ke dalam
ketercapaian standar nasional yang memuat tiga kompetensi utama, yaitu
kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, dan materi pokok.
Penilaian yang dilakukan memberi cakupan terhadap aspek pengetahuan
(kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) secara
seimbang. Menurut Hibbart dalam (Husamah, 2014: 126) macam-macam
penilaian otentik adalah : (1) penilaian kinerja, (2) observasi dan
pertanyaan, (3) presentasi dan diskusi, (4) proyek dan investigasi, (5)
portofolio dan jurnal.
Macam-macam penilaian otentik tersebut dapat diuraikan teknik
penilaiannya menurut tiga ranah aspek pada KI 1, KI 2, KI 3, KI 4 yaitu :
1. Penilaian KI 1 Spiritual dan KI 2 Sosial (Sikap/Afektif)
Penilaian ini mengembangkan hubungan antara Tuhan dan sesama
manusia yaitu sikap spiritual dan sosial. Penilaian sikap tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. Observasi adalah teknik penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indra, baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman
observasi atau pengamatan yang berisi sejumlah indikator perilaku
yang diamati. Hasil pengamatan dijadikan umpan balik siswa di
sekolah.
b. Penilaian diri adalah teknik penilaian dengan cara meminta siswa
untuk mengemukakan kekurangan dan kelebihan diri dalam
terhadap perkembangan kepribadian. Instrumen yang digunakan
berupa lembar penilaian diri yang terdiri dari pernyataan dan
alternatif jawaban (ya/tidak).
c. Penilaian antar teman atau siswa adalah teknik penilaian dengan
cara meminta siswa untuk saling menilai terkait dengan sikap dan
perilaku keseharian siswa dalam pencapaian kompetensi. Bentuk
instrumen penilaian berupa lembar penilaian antar siswa dan sama
dengan lembar penilaian diri.
d. Jurnal adalah catatan guru di dalam dan di luar kelas yang berisi
informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan siswa
yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Bentuk instrumen
penilaian ini sama dengan lembar penilaian observasi.
2. Penilaian KI 3 Pengetahuan (Kognitif)
Penilaian ini berhubungan dengan kompetensi pengetahuan atau
kognitif. Penilaian pengetahuan atau kognitif tersebut dapat berupa:
a. Tes tulis adalah tes yang berisikan soal dan jawaban dapat berupa
soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar salah,
menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman
penskoran.
b. Tes lisan adalah tes yang dapat dilakukan dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan dari guru kepada siswa secara lisan
Untuk jawaban dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf
yang diucapkan dan instrumen berupa daftar pertanyaan.
c. Penugasan adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh guru
dengan memberikan pekerjaan rumah dan proyek baik yang dapat
dikerjakan secara individu ataupun kelompok sesuai dengan
karakteristik tugasnya.
3. Penilaian KI 4 Keterampilan (Psikomotorik)
Penilaian ini berhubungan dengan kompetensi keterampilan siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran. Penilaian kompetensi
keterampilan tersebut melalui :
a. Penilaian Kinerja adalah penilaian yang menuntut siswa untuk
melakukan tugas pada situasi sesungguhnya, mengaplikasikan
pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Instrumen yang
digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian yang dilengkapi
dengan rubrik.
b. Penilaian Produk adalah teknik penilaian yang dilakukan untuk
menilai kemampuan praktik langsung siswa dalam membuat
produk tertentu. Penilaian pengembangan produk meliputi tiga
tahap : (1) tahap persiapan yang menilai kemampuan siswa dan
merencanakan, menggali dan mengembangkan gagasan dan
mendesain produk, (2) tahap pembuatan menilai kemampuan siswa
tepat, (3) tahap akhir yaitu penilaian produk yang dihasilkan siswa
sesuai dengan kriteria yang dihasilkan.
c. Penilaian Proyek adalah penilaian terhadap suatu tugas yang harus
diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Penilaian ini dilakukan
terhadap tugas yang berupa suatu investigasi sejak dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan,
dan penyajian data. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui
pemahaman mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan, dan
kemampuan menginformasikan siswa pada mata pelajaran tertentu
secara jelas (Fadlillah, 2014: 219).
d. Penilaian Portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang
didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan
perkembangan siswa dalam satu periode tertentu. Informasi
tersebut dapat berupa karya siswa dari proses pembelajaran yang
dianggap terbaik oleh siswa. Penilaian ini dilakukan dengan cara
menilai seluruh karya siswa dalam bidang tertentu untuk
mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas
dalam kurun waktu tertentu.
Dari pemaparan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa proses
pembelajaran pada Kurikulum 2013 menggunakan penilaian otentik yang
kegiatan pembelajarannya dinilai setiap aspek yang dikembangkan yaitu
K1 Spiritual (hubungan dengan Tuhan), KI 2 Sosial (Hubungan dengan
(Psikomotorik). Pada setiap aspek disesuaikan dengan kegiatan
pembelajaran dan rubrik penilaiannya.
2.1.2 Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Mengembangkan sebuah perangkat pembelajaran dibutuhkan
model pengembangan yang disesuaikan dengan sistem pendidikan.
Peneliti menggunakan model pengembangan perangkat pembelajara
menurut Jerold E Kemp. Kemp (dalam Trianto, 2013: 179) menguraikan
bahwa pengembangan perangkat merupakan suatu lingkaran yang
kontinum. Langkah-langkah dalam pengembangannya sangat berhubungan
dengan aktivitas revisi. Selain itu pengembangan perangkat dapat diawali
dari sudut manapun Kemp, et., 1994 (dalam buku Trianto 2010: 81).
Gambar 2. Model pengembangan perangkat Menurut Jerold E Kemp
Unsur-unsur pengembangan perangkat pembelajaran menurut Kemp (Ahmadi,
2014: 69) yaitu:
1. Instructional Problems (Masalah Pembelajaran)
Tahapan ini dilakukan analisis tujuan berdasarkan masalah
pembelajaran yang terdapat di dalam kurikulum yang berlaku untuk bahan
kajian yang akan dikembangkan perangkatnya.
2. Leaner Characteristic (Karakteristik Siswa)
Analisis karakteristik siswa yang akan menjadi tempat
implementasi perangkat. Karakteristik yang dimaksud meliputi ciri,
kemampuan, dan pengalaman baik sebagai individu maupun sebagai
kelompok. Sumber untuk memperoleh karakteristik siswa antara lain guru,
kepala sekolah atau dokumen yang relevan. Ciri pribadi misalnya umur,
sikap, ketekunan terhadap pelajaran.
3. Task Analysis (Analisis Tugas)
Tahap analisis tugas merincikan isi mata ajar dalam bentuk garis
besar untuk menguasai isi bahan kajian atau mempelajari keterampilan
yang mencakup keterampilan kognitif, keterampilan psikomotor, dan
keterampilan sosial.
4. Instructional Objectives ( Merumuskan Tujuan Pembelajaran)
Rumusan tujuan pembelajaran adalah tujuan pembelajaran khusus
(indikator hasil belajar) yang diperoleh dari hasil analisis tujuan yang
dilakukan pada tahap masalah pembelajaran. Perumuskan indikator
kerja dalam merencanakan cara mengevaluasi hasil belajar siswa dan
sebagai panduan siswa dalam belajar.
5. Content Sequencing (Urutan Isi)
Tahap ini isi pokok bahasan yang akan diajarkan diurutkan terlebih
dahulu dari pengetahuan, prasyarat, familiaritas, kesukaran, minat, dan
perkembangan siswa setelah diurutkan langkah selanjutnya menentukan
strategi awal pembelajaran.
6. Instructional Strategies ( Strategi Pembelajaran )
Strategi Pembelajaran yang digunakan menggambarkan urutan dan
metode pembejaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
7. Designing the Message (Pemilihan Media atau Sumber Belajar)
Alat dan bahan harus disesuaikan dengan tujuan agar dapat
membantu keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Sumber belajar
yang dipilih harus disiapkan dengan baik, untuk memenuhi tujuan
pembelajaran antara lain, memotivasi siswa dengan menarik dan
menstimulasi perhatian pada materi pelajaran, melibatkan siswa,
menjelaskan, dan menggambarkan isi materi dengan lebih jelas.
8. Development of Instruction (Pengembangan Instruksi)
Setelah melengkapi proses analisis, mendesain media dan sumber
belajar, langkah selanjutnya adalah menyiapkan semua bahan ajar seperti
9. Evaluation Instruments (Instrumen Penilaian)
Instrumen Penilaian (tes hasil belajar) disusun berdasarkan
tujuan pembelajaran khusus yang telah dirumuskan. Kriteria penilaian
yang dilakukan adalah penilaian acuan patokan sehingga tes hasil belajar
yang dikembangankan harus dapat mengukur tingkat pencapaian tujuan
pembelajaran khusus.
10.Formative Evaluation (Evaluasi Formatif)
Penilaian formatif adalah penelitian yang digunakan setiap satu
unit proses pembelajaran. Penelitian ini berguna untuk menemukan
kelemahan dalam perencanaan pembelajaran sehingga berbagai
kekuarangan ini dapat dihindari sebelum program digunakan secara luas.
11.Summative Evaluation (Penilaian Sumatif)
Evaluasi sumatif secara langsung mengukur tingkat pencapaian
tujuan utama pada akhir pembelajaran. Sumber informasi utama
kemungkinan besar didapatkan baik dari hasil posttes dan uji akhir unit,
dan uji akhir untuk pelajaran tertentu.
12.Confirmative Evaluation (Evaluasi Penegasan)
Proses evaluasi penegasan merupakan proses untuk menentukan
hasil desain yang telah dirancang tetap sesuai dari waktu ke waktu.
13.Planning ( Perencanaan) dan Project Management (Manajemen Proyek)
Aspek teknis perencanaan sangat berpengaruh dengan keberhasilan
rancangan suatu pengembangan. Merencanakan pembelajaran merupakan
untuk selalu memperhatikan tiap-tiap unsur dan secara terus menerus
menilai kembali hubungan setiap bagian rencana dengan tata keseluruhan,
karena dalam setiap unsur terdapat pengaruh perkembangan unsur yang
lain.
14.Implementation (Pelaksanaan)
Selain mendesain instruksi, penting juga untuk merencanakan
pelaksanaan. Pelaksanaan seperti evaluasi formatif dilakukan diawal
dalam proses merancang instruksional. Perencanaan dalam pelaksanaan
yang dilakukan seawal mungkin, dapat membantu memastikan kelancaran
program instruksional.
15.Project Management (Manajemen Proyek)
Manajemen proyek diperlukan untuk mengelola jadwal dan
anggaran untuk proyek. Upaya yang diperlukan untuk manajemen proyek
ditentukan oleh lingkup proyek.
16.Supprort Services (Pelayanan Pendukung)
Pelayanan pendukung seperti: kebijakan kepala sekolah, guru
mitra, tata usaha, serta tenaga-tenaga terkait dan layanan laboratorium dan
juga perpustakaan. Oleh karena itu dibutuhkan anggaran dana, fasilitas,
bahan, perlengkapan, pelayanan tenaga kerja, jadwal penyelesaian tahap
perencanaan, dan pengembangan.
17.Revision (Revisi Perangkat Pembelajaran)
Revisi perangkat pembelajaran dimaksudkan untuk mengevaluasi
perangkat dilakukan berdasarkan saran dan penilaian yang diperoleh dari
kegiatan validasi perangkat pembelajaran oleh pakar.
Alasan peneliti memilih model pengembangan perangkat
pembelajaran yang di paparkan oleh Kemp karena komponen yang
dipaparkan pada model ini paling cocok dan sesuai dengan komponen
yang akan dikembangkan terkait perangkat pembelajaran seperti Silabus,
RPPTH, Materi ajar, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan Instrumen Penilaian.
Komponen-komponen yang dikembangkan oleh peneliti akan dipaparkan
sebagai berikut:
a. Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran
atau tema tertentu yang mencakup kompetensi inti, kompetensi dasar,
materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu,
dan sumber belajar (Fadlillah, 2014: 135).
Silabus memuat tujuh ruang lingkup yang telah ditetapkan oleh
pemerintah yang mengacu kurikulum 2013 antara lain: (a) Kompetensi
inti adalah tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompeteni
lulusan yang harus dimiliki siswa pada setiap tingkat kelas atau
program, (b) Kompetensi dasar adalah kemampuan untuk mencapai
kompetensi inti yang harus diperoleh siswa melalui pembelajaran, (c)
Materi pembelajaran adalah setiap materi ajar yang akan disampaikan
kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran, (d) Kegiatan pembelajaran
adalah proses interaksi antar siswa dengan guru dan sumber belajar
pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian
hasil belajar siswa, (f) Alokasi waktu adalah beban waktu yang
diberikan untuk setiap kompetensi yang akan dicapai, (g) Sumber
belajar adalah rujukan, objek, dan bahan yang digunakan untuk
kegiatan pembelajaran.
b. RPPTH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Harian) adalah
suatu bentuk perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh
guru dalam kegiatan pembelajaran. Komponen yang ada dalam
cakupan RPPTH yaitu : (a) data sekolah, mata pelajaran, dan
kelas/semester, (b) materi pokok, (c) alokasi waktu, (d) tujuan
pembelajaran, KD, dan indicator pencapaian kompetensi, (e) materi
pembelajaran, metode pembelajaran, (f) media, alat, dan sumber
belajar, (g) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, (h) penilaian yang
meliputi teknik, bentuk, dan pedoman penskoran.
RPPTH memiliki komponen pelengkap yang bersifat terlampir
atau terdapat diluar dari RPPTH yaitu LKS dan Penilaian. LKS
(Lembar Kerja Siswa) adalah salah satu media bantu dalam kegiatan
pembelajaran sebagai pelengkap pada rencana pelaksanaan
pembelajaran. Unsur-unsur dalam LKS seperti informasi atau konteks
permasalahan, dan pertanyaan atau perintah yang mengandung
informasi yang bersifat terbuka atau membimbing. LKS berisikan
dan Sugiarto, 2006: 8 dalam buku Abdul Majid 2013: 371). Tugas
yang dikerjakan oleh siswa akan dinilai oleh guru.
Penilaian merupakan proses mengumpulkan informasi/bukti
melalui pengukuran, menafsirkan, mendeskripsikan, dan
menginterprestasi bukti-bukti hasil pengukuran (Fadillah, 2014: 202).
Penilaian secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses
dan hasil yang telah dicapai siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Penilaian dilakukan pada setiap aspek antara lain KI 1 menilai
aspek spiritual (hubungan dengan Tuhan), KI 2 menilai aspek sosial
(hubungan dengan sesama manusia), KI 3 menilai aspek kognitif
(pengetahuan), dan KI 4 menilai aspek psikomotorik (keterampilan).
Dari pemaparan tentang pengembangan perangkat pembelajaran
dan komponennya, peneliti mendesain RPPTH, LKS dan penilaian
yang sesuai dengan pedoman yang telah dibuat oleh pemerintah
mengacu kurikulum 2013 didasarkan pada silabus, desain LKS
disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam pencapaiannya terhadap
kompetensi.
2.2Penelitian yang Relevan
Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran yang mengacu
Kurikulum 2013 merupakan hal baru dalam dunia pendidikan yang dapat
digunakan sebagai sumber penelitian yang relevan. Berikut tiga penelitian
Pertama, penelitian pengembangan yang berjudul “Pengembangan
Perangkat Pembelajaran Bermakna Melalui Lesson Study:Solusi Tepat
Implementasi Kurikulum 2013 untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran”
yang dilakukan oleh Eddy Sutadji (2013). Penelitian ini menghasilkan
kemampuan professional guru dalam mengembangkan RPPTH yang bermutu,
guru perlu dilatih untuk mengembangkan strategi pembelajaran, media
pembelajaran, bahan pembelajaran, lembar kerja siswa, dan instrumen
penilaian dalam pembelajaran, selanjutnya perangkat pembelajaran tersebut
terintegrasikan dengan pembelajaran di dalam kelas melalui lesson study.
Karena alasan di atas, pembelajaran dan mutu pendidikan di sekolah sebagai
solusi tepat dalam implementasi Kurikulum 2013.
Kedua, jurnal artikel ilimiah yang disusun oleh Muchayat (2011)
berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika dengan Strategi Ideal Problem Solving Bermuatan Pendidikan Karakter”.
Dikembangkan adalah perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, rencana
pelaksanaan pembelajaran, lembar kegiatan siswa, buku siswa, dan instrumen
tes kemampuan pemecahan masalah. Metode penelitian ini adalah metode
penelitian pengembangan (research and development). Rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah pengembangan perangkat
pembelajaran matematika dengan strategi IDEAL Problem Solving bermuatan
pendidikan karakter materi turunan fungsi? (2) Apakah hasil pengembangan
perangkat pembelajaran matematika dengan strategi IDEAL Problem Solving
perangkat pembelajaran matematika dengan strategi IDEAL Problem Solving
bermuatan pendidikan karakter yang dikembangkan efektif dalam
pembelajaran materi turunan fungsi?. Dan tujuan penelitian ini (1)
Mendeskripsikan pengembangan perangkat pembelajaran matematika dengan
strategi IDEAL Problem Solving bermuatan pendidikan karakter materi
turunan fungsi kelas XI. (2) Menghasilkan perangkat pembelajaran
matematika dengan strategi IDEAL Problem Solving bermuatan pendidikan
karakter materi turunan fungsi kelas XI yang valid. (3) Mengetahui
keefektifan perangkat pembelajaran matematika dengan strategi IDEAL
Problem Solving bermuatan pendidikan karakter pada pembelajaran materi
turunan fungsi kelas XI.
Ketiga, penelitian pengembangan yang berjudul “Pengembangan
Bahan Ajar yang Terintegrasi dengan Pendidikan Karakter untuk
Keterampilan Mendengarkan Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD
Kelas IV Semester Gasal” yang dilakukan oleh Windy Ariezona (2013). Penelitian ini menghasilkan bahan ajar yang terintegrasi dengan pendidikan
karakter untuk keterampilan mendengarkan pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia SD kelas IV semester gasal dikembangkan dengan kualitas yang
sangat baik dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
kelas IV semester gasal. Berdasarkan validasi dari pakar pembelajaran Bahasa
Indonesia, pakar pendidikan karakter, guru Bahasa Indonesia SD kelas IV, dan
siswa kelas IV SD Negeri Daratan menghasilkan skor rata-rata produk yaitu
dalam penelitian ini yaitu memodifikasi langkah-langkah model Kemp yang
telah direvisi dan pengembangan Borg dan Gall dengan langkah: (1) potensi
dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi ahli, (5)
revisi desain, (6) uji coba desain, (7) validasi siswa, (8) revisi desain hingga
menghasilkan desain produk final berupa bahan ajar yang mengacu Kurikulum
2013 untuk siswa kelas IV SD.
Ketiga penelitian diatas menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang
dikembangkan relevan. Pada jurnal yang pertama membahas tentang
pengembangan perangkat pembelajaran dengan implementasi kurikulum 2013
yang mengembangkan RPPTH, silabus, LKS, dan Instrumen Penilaian
terintegrasi dengan pembelajaran dalam kelas sebagai peningkatan mutu
pendidikan.
Penelitian yang kedua tidak jauh beda dengan penelitian pertama yaitu
mengembangkan perangkat pembelajaran matematika kelas IX meliputi
Silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, buku siswa
dan instrumen tes kemampuan yang bermuatan dengan pendidikan karakter
dan problem solving. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and
Development. Dalam jurnal kedua ini sasaran yang ditujukan bukan untuk
Sekolah Menengah Atas tetapi siswa kelas satu (I) Sekolah Dasar.
Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Windy Ariezona (2013) produk
yang dihasilkan berupa bahan ajar yang terintegrasi dengan pendidikan
karakter mengacu kuikulum 2013 dan menggunakan prosedur pengembangan
pembelajaran Bahasa Indonesia, pakar pendidikan karakter dan guru Bahasa
Indonesia kelas IV SD. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan peneliti
menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran yang terdiri dari
RPPTH, materi ajar, instrumen penilaian, dan Lembar Kerja Siswa (LKS).
Penelitian dilakukan dengan menggunakan prosedur pengembangan Borg and
Gall yang dibatasi menjadi 5 langkah.
Berdasarkan ketiga penelitian yang relevan ini mempunyai perbedaan
yang akan dilakukan peneliti. Peneliti akan melakukan penelitian dan
membuat pengembangan perangkat pembelajaran subtema kegiatan sore hari
mengacu kurikulum SD 2013 untuk siswa kelas satu (1) sekolah dasar.
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan berupa RPPTH mengacu
kurikulum SD 2013, materi ajar, instrumen penilaian dan LKS. Perangkat
pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan model pengembangan
perangkat pembelajaran menurut Kemp dan prosedur pengembangan Borg and
Gall yang terdiri dari 5 langkah yaitu revisi desain.
2.3Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir pada penelitian ini adalah menganalisis tentang
Kurikulum SD 2013 yang berkaitan dengan rasional pengembangan
kurikulum 2013 yang terjadi di Indonesia. Dimulai dari tantangan eksternal
dan internal yang dialami, pola pikir pengembangan kurikulum yang berubah,
pendalaman dan perluasan materi ajar, penguatan proses pembelajaran yang
diterapkan, serta penyesuaian beban belajar siswa. Rasionalisasi dari
untuk membuat pedoman untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara
sistematis. Pada kenyataan di lapangan peneliti melakukan analisis kebutuhan
dengan wawancara kepada guru kelas satu sekolah dasar, peneliti menemukan
fakta bahwa guru masih membutuhkan contoh penyusunan perangkat
pembelajaran yang mengacu Kurikulum 2013 dengan memuat pendidikan
karakter, dan tiga aspek ranah untuk menjadi solusi dari adanya tantangan
eksternal dan internal. Adanya perubahan kurikulum tersebut di dukung
dengan adanya buku pegangan guru dan siswa yang telah diupayakan oleh
pemerintah namun perangkat kurang jelas dan lengkap.
Dengan demikian, peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran yang
mengacu dengan Kurikulum 2013 untuk sekolah dasar dengan tema 3
Kegiatanku, Subtema 3 Kegiatan Sore Hari untuk siswa kelas 1 semester 1
dengan mengembangkan dan menekankan pendidikan karakter dalam setiap
pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, tematik integratif dan
penilaian otentik untuk mengukur proses siswa dalam mengikuti
pembelajaran.
Produk yang dikembangkan oleh peneliti adalah perangkat pembelajaran
subtema kegiatan sore hari mengacu kurikulum SD 2013 untuk siswa kelas
satu (1) sekolah dasar. Bagan dibawah ini adalah kerangka berpikir yang telah
Tabel 3. Kerangka Berpikir
Rasional Pengembangan Kurikulum
1. Tantangan eksternal dan internal 2. Pola pikir pengembangan
kurikulum
3. Pendalaman dan perluasan materi 4. Penguatan proses
5. Penyesuaian beban
Analisis Kebutuhan
1. Kurang luas pemahaman guru mengenai Kurikulum 2013
2. Pemahaman mengenai perumusan indikator dan tujuan pembelajaran 3. Sudah cukup mengetahui
tentang pendekatan tematik integratif dan pendekatan saintifik 4. Pemahaman tentang
penilaian otentik
5. Guru sudah paham mengenai pendidikan karakter yang dikembangkan oleh pemerintah
6. Guru masih memerlukan contoh perangkat pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013
Spesifikasi Produk yang akan dikembangkan
1. Komponen RPPTH yang disusun lengkap
2. RPPTH disusun dengan memperhatikan keutuhan perkembangan pribadi siswa (intelektual, keterampilan, sikap sosial, dan sikap spiritual) yang Nampak dalam perumusan indikator dan tujuan pembelajaran.
3. RPPTH disusun dengan pendekatan tematik integrative
4. RPPTH disusun berbasis aktivitas siswa dengan menerapkan pendekatan saintifik
5. Penilaian dalam RPPTH menggunakan penilaian otentik