• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Kehidupan Masyarakat Transmigran Jawa

MASYARAKAT TRANSMIGRAN JAWA

4.4 Peningkatan Kehidupan Masyarakat Transmigran Jawa

52

hanya menamatkan pendidikan di sekolah yang tersedia di daerah tersebut tanpa dilanjutkan lagi ke jenjang yang lebih tinggi di kota besar karena jauhnya jarak sekolah yang lebih tinggi lagi, hanya sebagian kecil kepala keluarga yang menyekolahkan anak mereka ke kota besar. Sebagian kecil tersebut mereka paham bahwa dengan pendidikan dapat mengarahkan perkembangan manusia ke masa depannya, dapat merangsang kreatifitas seseorang agar sanggup maju menghadapi tantangan-tantangan alam, teknologi serta kehidupan yang semakin komplek dan sulit. Selain itu manusia dapat mencapai nilai- nilai manusia yang utuh, yang menjadi tujuan pendidikan nasional di Indonesia. Dimana dikatakan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan, terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasaan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia- manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Namun sebagian lainnya mengorbankan anak-anaknya tidak bersekolah dengan alasan yang penting tidak buta huruf saja, terserah pada anaknya dan anaknya tidak mau sekolah, kurangnya biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan banyak para orang tua yang berpendapat “masiyo sekolah urung mesti dadi priyayi” (walaupun sekolah belum tentu menjadi pegawai),”anake wong cilik tetep jadi cilik” (anaknya orang kecil tetap jadi orang kecil). Maka anak-anak mereka jarang melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi

untuk melakukan suatu pekerjaan memperoleh uang dengan bekerja di lahan sendiri atau ladang orang53

53

Soekartawi. 1980. Penggunaan Tanah dan Pendidikan anak-anak. LP3ES : Jakarta. hlm 23.

.

Peningkatan kehidupan ekonomi yang cukup baik pada transmigran Jawa di desa Hitam Ulu I menimbulkan dampak pada keberhasilan program transmigrasi yang di jalankan pemerintah. Kehidupan ekonomi sebelum mereka ikut transmigrasi jauh dari kehidupan yang layak dan masa depan yang kurang jelas bagi anak-anak mereka setelah ikut bertransmigrasi ke Desa Hitam Ulu I mengalami peningkatan untuk kesejahteraan hidup mereka dan masa depan yang cerah bagi ana-anak dan cucu-cucu mereka, karena mereka telah mempunyai penghasilan tiap bulan dari hasil jerih payah mereka selama mengelola lahan kosong yang diberikan pemerintah dan kini telah menjadi kebun yang dapat meningkatkan kehidupan mereka baik dalam segi pendidikan anak-anak mereka, belanja keperluan rumah tangga maupun untuk menabung dapat terlaksana dengan baik.

Jatah Lahan yang diberikan pemerintah baik LU I maupun LU II mereka sudah menghasilkan sedikit demi sedikit. Sebab tanaman yang berupa tanaman perkebunan yang setiap bulan dapat mereka panen untuk memenuhi kebutuhan kehidupan mereka setiap bulannya dan jenis tanaman perkebunan berumur jangka panjang.

Sehingga pada tahun 1990 kehidupan transmigran jawa di Desa Hitam Ulu I sudah sangat tampak jelas peningkatan kehidupan yang mereka alami akibat dari kegigihan dan kemauan mereka dalam mengikuti program transmigrasi.

Dan hal tersebut tidak terlepas daripada peran dan kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat transmigran Jawa yang berada di desa Hitam Ulu I tentunya.

Untuk keadaan sosial budaya transmigran daerah Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur umumnya masih mempolakan hubungan berdasarkan ikatan ketetanggaan, kekerabatan, dan keagamaan. Pola hubungan sosial yang seperti ini menandakan penduduk desa menganut pola masyarakat komunal, yaitu kesatuan masyarakat yang relatif kecil dan homogen ditandai oleh pembagian kerja yang minimal dan masih terikat kuat kepada tradisi. Dua golongan sosial utama yang dikenal pada masyarakat komunal adalah tokoh terkemuka dan penduduk biasa. Tokoh terkemuka di desa mencakup pemuka agama, pejabat desa, tokoh terpelajar, dan orang kaya. Kerja sama dalam hubungan komunal diwujudkan dalam sistem sambatan, sumbangan, dan pirukunan. Sambatan adalah tolong- menolong dalam bentuk pengerahan tenaga manusia untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti pembangunan rumah, pesta perkawinan, penguburan jenazah, dan kenduri atau slametan. Sumbangan adalah tolong-menolong dalam bentuk pemberian barang atau uang untuk biaya penyelesaian pekerjaan rumah tangga, seperti penyelenggaraan pesta perkawinan dan upacara kematian. Pirukunan adalah perkumpulan yang bertujuan untuk saling membantu dalam penyediaan pemenuhan konsumsi rumah tangga, seperti pesta perkawinan dan pembangunan rumah dengan menerapkan prinsip pertukaran yang sepadan54

Berbagai upacara keagamaan juga diselenggarakan didasarkan atas tradisi Islam setempat, seperti tahlilan, kenduren, ruwahan, dan pengajian. Tahlilan adalah upacara agama yang berintikan pembacaan tahlil (bacaan suci yang bertema pengakuan terhadap Keesaan Tuhan) dalam rangka mendoakan arwah leluhur. Kenduren adalah upacara agama

.

54

Hasil wawancara pada hari Minggu, 15 Maret 2009 dengan beberapa informan yang berasal dari transmigran Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

yang berintikan pembacaan doa keselamatan dan pembagian makanan berupa nasi dan laukpauk. Makanan yang dihidangkan dalam kenduren umumnya sama dengan makanan yang dihidangkan setiap hari dalam kehidupan rumah tangga dan tidak ada makanan yang khas. Ruwahan merupakan kegiatan seperti kenduren yang diadakan setiap tahun pada bulan ruwah menurut tahun Jawa Islam dengan maksud mendoakan keselamatan leluhur dalam menjalani hidup di alam akhirat.

Kegiatan keagamaan berupa tahlilan umumnya diselenggarakan oleh rumah tangga atau suatu kelompok tahlilan yang berada pada satu dusun yang sama. Tahlilan ini diselenggarakan dalam rangka mendoakan keselamatan arwah leluhur anggota keluarga yang baru saja meninggal dunia. Orang yang punya hajat dalam penyelenggaraan tahlilan ini umumnya mengundang tetangga terdekat dan kaum kerabat. Tahlilan yang diselenggarakan oleh suatu kelompok tahlilan diadakan sebulan sekali secara bergiliran di rumah anggota kelompok dan hanya dihadiri oleh anggota kelompok yang bersangkutan. Menurut informan, acara pengajian diselenggarkan setiap 40 hari sekali (selapanan) dan setiap setahun yang diadakan di masing-masing dusun. Pengajian ini umumnya dihadiri oleh penduduk dari satu dusun baik yang abangan maupun putihan. Penduduk mengenal keluarga inti dan keluarga luas. Keluarga inti terdiri dari suami, istri, dan anak, sedangkan keluarga luas merupakan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah selain suami, istri dan anak. Beberapa keluarga inti dan keluarga luas ini masih ada hubungan kekerabatan. Kelompok kekerabatan ini saling membantu jika ada acara kekeluargaan seperti tingkeban, perkawinan, sunatan, kelahiran bayi, upacara kematian, pemakaman, dan selamatan. Upacara tingkeban merupakan upacara selamatan waktu seorang calon ibu mengandung anak pertama dalam masa kehamilan berumur 7 bulan. Perayaan masih

diadakan setelah bayi tersebut lahir, yang disebut dengan endongan, yaitu perayaan yang dilakukan semenjak bayi itu lahir sampai hari ke-40 (selapanan). Tetangga saat endongan berkumpul pada malam hari di tempat orang yang punya hajat sekadar berbincang-bincang dengan maksud untuk menemani tuan rumah dan agar suasana rumah menjadi lebih ramai.

Upacara pernikahan umumnya diselenggarakan selama dua hari. Persiapan acara pernikahan ini melibatkan bantuan tetangga maupun kerabat. Tetangga maupun kerabat sebelum acara pernikahan akan berdatangan ke rumah orang yang punya gawe untuk memberikan doa restu dan memberikan sumbangan atau bantuan sekadarnya berupa beras, gula, bahan makanan, maupun makanan yang sudah jadi. Penduduk banyak yang mempunyai jodoh berasal dari satu desa dan kadang-kadang masih ada hubungan kerabat.

BAB V KESIMPULAN

Sebelum tahun 1981 daerah Hitam Ulu I dahulunya merupakan kawasan hutan. Ketika menjadi salah satu program penempatan transmigrasi maka oleh pemerintah pada REPELITA III (tahun 1980 sampai dengan tahun 1985) dibukalah hutan tersebut sebagai daerah transmigrasi bagi program kebijakan pemerintah.

Pembukaan hutan ini dilakukan dengan dua cara. Yang pertama yaitu cara manual membabat dan membakar. Dan cara yang kedua ialah secara mekanis memakai alat-alat besar seperti buldozer. Dan dibuatlah jalan penghubung yang dapat menghubungkan Satuan Pemukiman (SP) dengan pemukiman yang lain yang disebut dengan jalan poros, serta jalan yang menghubungkan dengan pusat Satuan Kawasan Pemukiman (SKP), jalan yang menghubungkan dengan jalan negara/ jalan propinsi yang ada.

Setelah dibukanya daerah baru akibat dari program transmigrasi yang dijalankan pemerintah diwilayah ini maka daerah tersebut diberi nama desa Hitam Ulu I. Sesuai dengan namanya, daerah ini dibelah oleh aliran sebuah sungai yang airnya berwarna hitam.

Kemudian oleh pemerintah di pindahkanlah penduduk-penduduk Pulau Jawa kedaerah ini. Penduduk tersebut berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Dilatarbelakangi karena dorongan kemiskinan, keamanan, keinginan merantau untuk mengetahui daerah baru dan sebagainya. Dimana pada masa itu pemerintah mensosialisasikan adanya program transmigrasi ke Propinsi Jambi. Sehingga bagi penduduk Pulau Jawa yang ketika itu merupakan wilayah yang cukup padat penduduknya berbondong-bondong mengikuti program penempatan transmigrasi ke Sumatera khususnya

ke wilayah propinsi Jambi yang terkenal dengan wilayah yang cukup luas dengan jumlah penduduk yang sedikit.

Dengan perlengkapan seadanya mereka pindah ke Desa Hitam Ulu I. Di daerah ini mereka menjalani kehidupan baru yang cukup memprihatinkan dikarenakan pada tahun pertama daerah ini masih kosong karena tanam-tanaman yang bisa dimakan belum ada, sehingga di masa pertama mereka ditempatkan kehidupan mereka mendapat bantuan dari pemerintah sampai mereka bisa bertahan dan hidup dari lahan yang mereka olah.

Dan pemerintah melaksanakan pembinaan masyarakat di daerah pemukiman transmigrasi didaerah tersebut. Ditujukan guna untuk membentuk landasan yang kuat agar dalam waktu relatif singkat, yaitu 5 tahun masyarakat transmigran mampu melanjutkan pembangunan di berbagai bidang secara mandiri. Melalui tiga tahapan yaitu masa konsolidasi (perkenalan), masa pengembangan dan pemantapan.

Tahapan pembinaan dari pemerintah ini dimulai dari ketika awal kehidupan baru di Desa Hitam Ulu I yaitu tahun 1983 hingga berakhir pada tahun 1990 yaitu masa perawatan. Dimasa pembinaan ini masyarakat transmigran jawa harus berjuang untuk menjalani kehidupan baru mereka yang cukup sulit karena desa Hitam Ulu I ketika itu masih terisolir oleh pembangunan walaupun sebenarnya desa ini tidaklah jauh dari kota kabupatena.

Perjuangan masyarakat transmigran jawa untuk meningkatkan kehidupan dan merubah nasib mereka tidaklah mudah. Karena sarana transportasi pada masa itu belum ada dan lahan yang mereka dapatkan belumlah maksimal hasilnya.

Pemerintah dan masyatakat transmigran jawa saling kerjasama dan bahu-membahu untuk meningkatkan kehidupan transmigran jawa di Desa Hitam Ulu I. Lahan perkarangan

seluas ¼ hektar ditanami sayur-sayuran dan tanaman yang dapat menutupi kehidupan makan sehari-hari mereka. LU I seluas 1 hektar ditanami tanaman yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga serta LU II mereka di jadikan lahan untuk ditanami tanaman perkebunan yaitu kelapa sawit jenis tanaman berumur panjang.

Dan penanaman tanaman ini dikelola oleh KUD Sarana Makmur desa Hitam Ulu I yang bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat untuk mensukseskan program REPELITA III yaitu transmigrasi pola perkebunan. Sehingga sekitar tahun 1990 LU II mereka sudah mulai merasakan hasilnya.

Dan kerjasama ini dimaksudkan untuk meningkatkan kehidupan transmigran jawa setiap bulannya agar anak cucu mereka nantinya tidaklah susah seperti kehidupan mereka sebelum mengikuti program transmigrasi .

Peningkatan kehidupan ekonomi yang cukup baik pada transmigran Jawa di desa Hitam Ulu I menimbulkan dampak pada keberhasilan program transmigrasi yang di jalankan pemerintah. Kehidupan ekonomi sebelum mereka ikut transmigrasi jauh dari kehidupan yang layak dan masa depan yang kurang jelas bagi anak-anak mereka. Namun setelah ikut bertransmigrasi ke Desa Hitam Ulu I mengalami peningkatan karena mereka telah mempunyai penghasilan tiap bulan dari hasil jerih payah mereka selama mengelola lahan kosong yang diberikan pemerintah dan kini telah menjadi kebun yang dapat meningkatkan kehidupan mereka baik dalam segi pendidikan anak-anak mereka, belanja keperluan rumah tangga maupun untuk menabung dapat terlaksana dengan baik. Dan hal tersebut tidak terlepas daripada peran dan kerjasama antara pemrintah dengan masyarakat transmigran Jawa yang berada di desa Hitam Ulu I tentunya.

Dokumen terkait