• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam dokumen PENGGUNAAN MEDIA KOMPUTER UNTUK MENINGKA (Halaman 37-48)

BAB II KAJIAN TEOR

B. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

a. Pengertian Kualitas

Konsep peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu unsur dari paradigma baru pengelolaan pendidikan di Indonesia. Paradigma tersebut mengandung atribut pokok yaitu relevan dengan

14

Ronald H. Anderson, Pemilihan Dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran (Jakarta: Rajawali Pers,1986 ), hlm. 206

kebutuhan masyarakat pengguna lulusan, suasana akademik yang kondusif dalam penyelenggaran program studi, adanya komitmen kelembagaan dari pada pimpinan dan staf terhadap pengelolaan organisasi yang efektif dan produktif, berkelanjutan program studi, serta efisien program secara selektif berdasarkan kelayakan dan kecukupan. Dimensi-dimensi tersebut mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat strategis untuk merancang dan mengembangkan usaha penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi kualitas pada masa yang akan datang.

Mutu sama dengan arti kualitas dapat diartikan sebagai kadar atau tingkatan dari sesuatu, oleh karena itu kualitas mengandung pengertian:

a. Tingkat baik dan buruknya suatu kadar

b. Derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan, dan sebagainya); mutu.15

Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam “proses pendidikan” yang bermutu terlibat berbagai input, seperti: bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Sedangkan kualitas dalam konteks hasil pembelajaran mengacu pada

15

Ali L. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1996), hlm. 467

prestasi yang dicapai oleh siswa atau sekolah pada setiap kurun waktu tertentu.

Antara proses dan hasil pembelajaran yang berkualitas saling berhubungan. Agar yang baik itu tidak salah arah, maka kualitas dalam arti hasil (output) harus dirumuskan dan harus jelas target yang akan dicapai dalam tiap tahun ataupun dalam kurun waktu tertentu.

Dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pembelajaran maka tidak akan terlepas dari adanya beberapa faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi akan dijelaskan berikut ini.

Beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan kualitas pembelajaran sebagai berikut:

1. Kejelasan tujuan pembelajaran disekolah 2. Penetahuan tentang anak didik

3. Pengetahuan tentang guru

4. Pengetahuan tengtang kegiatan supervise 5. Pengetahuan tentang pembelajaran 6. Kemampuan memperhitungkan waktu.16

Menurut Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry bahwa kualitas adalah kualitet/ mutu, baik buruknya barang. Dari pengertian tersebut maka kualitas atau mutu dari sebuah pendidikan harus ditingkatkan baik

16

itu sumber daya manusia, sumber daya material, mutu pembelajaran, kualitas lulusan dan sebagainya.17

Dari sisi guru, kualitas dapat dilihat dari seberapa optimal guru mampu memfasilitasi proses belajar siswa. Bahwa setiap guru atau tenaga pengajar memiliki tanggung jawab terhadap tingkat keberhasilan siswa belajar dan keberhasilan guru mengajar. Belajar hanya dapat terjadi apabila murid sendiri telah termotivasi untuk belajar guru harus secara bertahap dan berencana memperkenalkan manfaat belajar sebagai sebuah nilai kehidupan yang terpuji, sehingga murid belajar karena didasari oleh nilai yang lebih tinggi bagi kehidupan murid sendiri. Walaupun proses ini tidak sederhana, guru harus berusaha menanamkan sikap positif dalam belajar.

Dari sisi media belajar kualitas dapat dilihat dari seberapa efektif media belajar digunakan oleh guru untuk meningkatkan intensitas belajar siswa. Dari sudut fasiitas belajar kualitas apa dilihat dari seberapa kontributif (memberi sumbangan) fasilitas fisik terhadap terciptanya situasi belajar yang aman. Sedangkan aspek materi, kualitas dapat dilihat dari kesesuaian dengan tujuan dan kompetensi yang harus dikuasai siswa.

Dari beberapa pengertian diatas peneliti dapat mengemukakan bahwa kualitas merupakan paduan sifat-sifat produk yang menunjukkan

17

Pius A. Partanto & M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 384

kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat masa kini dan masa depan.

b. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Belajar adalah proses penambahan pengetahuan. Definisi lain yang dikemukakan oleh Gegne (1977) bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai, dan perubahan kemampuannya, yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis Performance (kinerja).18 Perubahan tingkah laku tersebut harus dapat bertahan selama jangka waktu tertentu. Dengan demikian, belajar pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu proses perubahan positif-kualitatif yang terjadi pada tingkah laku siswa sebagai subjek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, ketrampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, kemampuan berfikir logis dan kritis, kemampuan interaktif, dan kreativitas yang telah dicapainya. Konsep belajar demikian menempatkan manusia yang belajar tidak hanya pada proses teknis, tetapi juga sekaligus pada proses normative. Hal ini amat penting agar perkembangan kepribadian dan kemampuan pembelajar (siswa) terjadi secara harmonis dan optimal.

Sedangkan pembelajaran adalah suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik atau pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan dan dievaluasi secara sistematis agar subjek atau

18

pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan secara efektif dan efisien.19 Dengan demikian, jika pembelajaran dipandang sebagi suatu system, berarti pembelajaran terdiri atas sejumlah komponen yang terorganisir antara tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran (misalnya layanan pembelajaran remedial bagi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar). Sebaliknya, jika pembelajaran dipandang sebagai suatu proses maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar.

Adapun pengertian pendidikan agama Islam itu sendiri di dalam GBPP PAI di sekolah umum dijelaskan bahwa, “Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional”.20

Sedangkan menurut Zakiyah Darajat (1987: 87) pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.21

19

Ibid, hlm. 7 20

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama islam di

Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 75-76

21

Menurut kurikulum PAI (2002: 3) dalam Abdul Majid dan Dian Andayani menyatkan bahwa :

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dengan persatuan bangsa.22

Berdasarkan pengertian diatas, maka pengertian pendidikan agama Islam adalah suatu ikhtiyar yang dilakukan oleh pendidik secara sadar, sistematis, dan pragmatis untuk membimbing dan mengarahkan anak didik agar mereka dapat hidup sesuai dengan ajaran agama Islam. Untuk itu pendidikan agama Islam bukan hanya merupakan bidang studi yang harus dipelajari sebagai pengetahuan di sekolah-sekolah, tetapi dituntut setelah mendapatkan pendidikan agama Islam untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dikaitkan dengan pengertian pembelajaran, maka diperoleh sebuah pengertian bahwa pembelajaran pendidikan agama Islam adalah upaya membelajarkan siswa untuk dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Muhaimin bahwa, pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah: “suatu upaya membelajarkan peserta didik agar dapat belajar, mau belajar, dan tetarik untuk terus menerus mempelajari agama Islam, baik untuk

22

kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan”.23

b. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Secara umum pendidikan agama Islam dalam GBPP PAI (1994) bertujuan untuk “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.24

Sedangkan menurut Abdurrahman An-Nahlawi (1992) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah merealisasikan ubudiyah kepada Allah didalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat.25 Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada-Nya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al- Dzariyat ayat 56:

23 Muhaimin, Op Cit, hlm. 183 24 Ibid, hlm. 78 25

Abdurrahman Al- Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), hlm. 163

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi

kepada-Ku.

Ibadah adalah jalan yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah. Dalam kerangka inilah maka tujuan pendidikan haruslah mempersiapkan manusia agar beribadah seperti itu, agar ia menjadi hamba Allah (‘ibad al-rahman). Dengan melihat tujuan umum seperti ini dapatlah dibuat rumusan tujuan pendidikan yang lebih khusus, yaitu mempelajari lebih dahulu apa saja aspek ibadah tersebut.26

Disamping beribadah kepada Allah, setiap muslim di dunia harus mempunyai cita-cita untuk dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 201:

Artinya: “Diantara mereka ada yang berkata, ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di akherat, dan peliharalah ”.

26

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Persfekjtif Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 46-47

Tujuan Pendidikan Agama tersebut dengan sendirinya tidak akan tercapai dalam waktu yang singkat, tetapi melalui proses atau waktu yang panjang dengan tahap-tahap tertentu, setiap tahap yang dilalui mempunyai tujuan tersendiri yang disebut tujuan khusus.27

Menurut Kurikulum PAI (2002) dalam Abdul Majid dan Dian Andayani menyatakan bahwa:

Pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tenang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.28

Dengan demikian, tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam adalah upaya untuk membelajarkan siswa agar dapat meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan pengalaman siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.

Kemudian fungsi daripada pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah dan madrasah adalah:

27

Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Prees), 2004), hlm. 25

28

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT, yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada hakikatnya kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan supaya keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal.

b. Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.

c. Menyesuaikan mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan social dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehipan sehari-hari.

e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negative dan lingkungannya atau budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.

f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan kegamaan secara umum (alam nyata dan non nyata), system dan fungsionalnya.

g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.29

Dengan kata lain, pendidikan agama Islam memiliki kompetensi spesifik untuk menanamkan landasan Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi agar siswa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesame manusia, dan alam sekitarnya, mampu membaca dan memahami Al-Qur’an, mampu beribadah dan bermuamalah dengan baik dan benar, serta mampu menjaga kerukunan intern antar umat beragama Hal tersebut juga sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang harus ditempuh dalam pendidikan agama Islam, antara lain adalah pengembangan fitrah beragama, pemuisatan belajar pada kebutuhan peserta didik, pembangkitan motivasi peserta didik, pembiasaan belajar sepanjang hayat, dan keutuhan kompetensi.

C. Penggunaan Media Komputer Untuk Meningkatkan Kualitas

Dalam dokumen PENGGUNAAN MEDIA KOMPUTER UNTUK MENINGKA (Halaman 37-48)

Dokumen terkait