KARYA PEMULIHAN
PENJELASAN TEKS Yesaya 35:1-10
Bacaan Yesaya 35:1-10 ini mempersaksikan bagaimana umat Allah merasakan karya pemulihan itu. Karya pemulihan dibutuhkan karena keadaan kehidupan yang jauh dari damai sejahtera, yang digambarkan dengan “padang gurun dan padang kering” (ay. 1). Penggambaran ini menunjuk pada kematian atau ketiadaan pengharapan. Secara logis, tanah kering akan berdampak pada kematian. Gambaran ini sepadan dengan gambaran tangan yang lemah lesu dan lutut yang goyah (ay. 3) juga orang yang buta, orang yang lumpuh, dan orang yang bisu (ay. 5-6).
Allah yang hadir tidak membiarkan keadaan itu terus-menerus terjadi. Allah peduli dan melakukan pemulihan dari keadaan yang semula penuh penderitaan menjadi penuh dengan damai sejahtera. Pemulihan yang dilakukan Allah itu digambarkan dengan bunga mawar yang berbunga lebat (ay. 2), sumber mata air ada di mana-mana (ay. 7), juga berpulihnya tubuh jasmani manusia yang lemah karena keringkihan dan penyakit (ay. 6). Karya pemulihan Allah terlihat jelas melalui hadirnya “Jalan Kudus” (ay. 8), yang menjadi sumber pemulihan.
Mazmur 146:5-10
Pemazmur mengungkapkan pengakuan iman atau kredo yang begitu mendasar dalam pengalaman hidup umat Allah. Kredo ini mengungkapkan bagaimana Allah menghadirkan diri sebagai penolong (ay. 5), pencipta langit dan bumi (ay. 6), setia (ay. 6), Sang Maha Adil (ay. 7), peduli pada penderitaan (ay. 8), dan
sebagainya. Berdasarkan pengakuannya itu pemazmur
mengungkapkan pujiannya dan mengajak umat untuk terus memuji dan memercayai karya-karya Allah itu selama-lamanya. Dari sanalah kebahagiaan yang sesungguhnya akan dirasakan bagi mereka yang percaya kepada Allah.
Yakobus 5:7-10
Surat Yakobus ini ditujukan kepada jemaat yang ada di perantauan. Sebagai perantau atau pendatang pastilah keadaan mereka jauh dari menyenangkan. Sangat mungkin mereka menghadapi penderitaan demi penderitaan yang merisaukan hati dan melemahkan iman. Sangat mungkin pula penderitaan itu berlangsung lama dengan tidak pernah selesai. Hal itu
menyebabkan mereka bersungut-sungut dan saling
mempersalahkan (ay. 9).
Penderitaan seakan menjadi semakin berat sebab mereka merasakan pertolongan dari Tuhan yang tidak kunjung datang. Di tengah pergumulan itu, dalam rangka memberikan kekuatan dan menghidupkan pengharapan, penulis Yakobus memberikan nasihat: “Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan
kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.”
(ay. 10). Sebagaimana pengalaman utusan Tuhan, komunitas orang percaya diminta untuk kuat dan sabar sebab Allah akan menyatakan kehendak-Nya. Karena hanya dengan kesabaran itulah iman dan pengharapan akan menjadi kenyataan.
Matius 11:2-11
Bacaan Injil ini diawali dengan keterangan yang memprihatinkan yaitu Yohanes Pembaptis tengah berada di dalam penjara (ay. 2). Penjara seringkali dipahami sebagai tempat bagi seseorang yang mendapat hukuman karena telah melakukan tindak kejahatan.
Orang jahatlah yang seharusnya mendekam dalam penjara sebagai konsekuensi tanggungjawab akan tindakannya. Pertanyaannya adalah kejahatan apakah yang menyebabkan Yohanes pembaptis layak masuk dalam penjara? Mari kita melihat karya Yohanes Pembaptis. Ia kritis dan tegas terhadap keadaan sekitar dan secara khusus kepada penguasa saat itu. Ia menyebut para pemimpin agama bangsa itu keturunan ular beludak (Mat. 3:7). Bahkan ia mengatakan secara gamblang bahwa mereka sama sekali tidak ada artinya kalau hanya bermodalkan identitas sebagai keturunan Abraham. Ia pun bersikap tegas terhadap kelakukan buruk Herodes. Karena itu, ketika Yohanes pembaptis kembali berkarya di daerah Perea, Herodes curiga kalau-kalau Yohanes menjadi pemimpin gerakan massa. Herodes memusuhi Yohanes, lebih-lebih lagi Herodias, istri kedua Herodes, karena Yohanes mencela perkawinan mereka yang tidak sah. Karena itulah dia dipenjarakan di benteng Markhaerus, untuk beberapa bulan kemudian dihukum pancung. Demikianlah kita melihat bahwa Yohanes dipenjarakan bukan karena sebuah kesalahan atau kejahatan tetapi karena bersikap kritis atas tindakan penyalahgunaan kekuasaan dan kesewenang-wenangan.
Apakah hukuman itu membuat Yohanes Pembaptis merasa kecewa? Tidak, ia tidak kecewa dengan keadaan yang ia terima. Ia tidak meratapi keadaannya. Hal itu yang membuat ia tetap menaruh pengharapan pada kedatangan Sang Mesias yang memulihkan. Untuk itu ia berusaha memastikan bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang dinanti-nantikan. Dalam teks dikatakan, Yohanes menyuruh murid-muridnya untuk mencari tahu: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami
menantikan orang lain?” (ay. 3).
Dengan informasi dari muridnya, Yohanes Pembaptis mampu tidak hanya mendengar dengan telinganya tapi juga melihat bahwa Yesus adalah benar-benar Mesias yang datang untuk memberikan pemulihan kepada manusia. Secara nyata hal itu terlihat dari karya-Nya, seperti yang Yesus nyatakan sendiri “Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada
melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (ay. 4-6).
Yohanes Pembaptis dapat melihat karya pemulihan Allah dalam Yesus yang mendatangkan damai sejahtera bagi setiap orang yang menerimanya. Kuasa-Nya melebih kuasa pemerintah-pemerintah di dunia ini, melebihi kuasa penyakit, dan melebihi kuasa kematian. Kesadaran iman Yohanes pembaptis membawanya pada keyakinan akan pemulihan yang dikerjakan oleh Allah sendiri.
BERITA YANG MAU DISAMPAIKAN
Orang percaya akan dapat melihat karya pemulihan Allah yang sungguh nyata dan besar sekiranya mereka tidak mengedepankan penampakan fisik lahiriah belaka. Orang percaya sudah mempunyai mata imaniah oleh karena penyertaan Roh Kudus yang selalu meneranginya. Oleh karena itu, umat diundang untuk dapat melihat – dengan mata imaniah – karya pemulihan Allah yang nyata bagi dirinya, sesama, dan alam semesta. Melalui cara pandang itu, umat diharapkan mampu menghadapi segala keadaan yang mungkin terjadi dalam hidupnya dalam keyakinan Allah tidak meninggalkannya.
KHOTBAH JANGKEP
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,
Minggu ini kita sudah memasuki minggu Adven ketiga. Dalam minggu Adven ketiga ini kita diajak untuk bertanya apakah kita sudah benar-benar siap menyambut kedatangan-Nya dengan pemahaman yang benar akan Natal itu sendiri?
Mari kita bertanya, apakah Natal itu? Natal adalah Pemulihan. Ya benar, natal adalah kisah pemulihan yang dilakukan oleh Allah sendiri. Allah dengan kasih-Nya memulihkan relasi dengan
ciptaan-Nya yang telah rusak. Kuasa dosa telah merusak ciptaan Tuhan, sehingga ciptaan yang dulunya begitu indah dan baik menjadi buruk dan tak berpengharapan. Allah tidak membiarkan keadaan ini berlangsung terus, tapi Ia memulihkannya. Kita sebagai umat Allah diajak untuk melihat karya pemulihan itu dengan cara pandang yang benar sekaligus ikut terlibat dalam pemulihan Allah.
Mungkinkah kita terlihat dalam karya pemulihan Allah? Mari kita melihat contoh orang yang terlibat karya pemulihan Allah dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia kita. Orang itu adalah Johannes Leimena, pria Ambon yang lahir di Maluku pada 6 Maret 1905. Karena karyanya ia diberi gelar Pahlawan Nasional. Semasa berkarya ia merupakan tokoh politik yang sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya menteri di Indonesia yang menjabat sebagai menteri selama dua puluh satu tahun berturut-turut. Dalam menjalankan karya layannya, Leimena adalah pribadi yang berintegritas, sederhana, dan berjiwa nasionalis yang begitu tinggi. Presiden pertama RI Ir. Soekarno pernah berkata tentang Leimena, “Ambilah misalnya
Leimena... saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui.”
Leimena yang punya kedudukan tinggi tidak memerhatikan kepentingannya sendiri, walaupun ia tentu saja punya
kesempatan untuk memperkaya diri. Kesederhanaanya
ditunjukkan misalnya dengan memakai baju pinjaman ketika harus melakukan diplomasi dengan beberapa negara sekutu. Kemerdekaan bangsa-Nya menjadi yang utama dalam dirinya. Ia yakin pemulihan terjadi atas Indonesia kalau negeri ini merdeka dari penjajahan. Bersama pejuang-pejuang bangsa yang lain, akhirnya pemulihan bangsa Indonesia dari cengkraman bangsa lain yang penuh dengan ketidakadilan terjadi.
Bacaan Injil saat ini menceritakan bagaimana karya-karya pemulihan Allah bagi umat manusia. Karya pemulihan terbesar Allah terlihat dalam diri Yesus. Yesus hadir untuk memulihkan. Itu sebabnya, Alkitab mengatakan, Dia datang bukan untuk melayani tetapi melayani. Karya pemulihan terlihat pada pada Matius 11:5 yang menuliskan, “orang buta melihat, orang lumpuh
berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”
Namun, saudaraku, apakah karya Yesus ini disambut dengan baik? Kita melihat bahwa tidak semua orang melihat karya Yesus sebagai karya pemulihan. Pemimpin agama Yahudi seperti orang Farisi dan Ahli-Ahli Taurat mencurigai karya Yesus. Bahkan mereka menyampaikan tuduhan-tuduhan miring pada Yesus. Ingatlah, karya pemulihan seringkali tidak disambut dengan suka cita dan kegembiraan. Tak jarang dicurigai sebagai sarana pengambilan simpati dan perongrongan kewibawaaan agama seperti saat Yesus dahulu.
Namun Yesus mengasihi dan setia dalam kesabaran sampai pada kesudahan. Penolakan demi penolakan dihadapi-Nya dengan keteguhan hati dengan melihat tujuan utama karya pemulihan-Nya, yaitu keselamatan dan damai sejahtera umat manusia. Karya Yesus yang memulihkan itulah yang mampu dilihat Yohanes Pembaptis sekalipun ia terpenjara. Ia dipenjara demi pemulihan yang diharapkannya segera terjadi. Berita pemulihan itulah yang menjadi pokok pemberitaan Yohanes. Justru dengan berita itu Yohanes Pembaptis harus menerima konsekuensi berupa pemenjaraan. Demi upaya pemulihan ia dengan berani menyuarakan kebenaran. Ia menyebut para pemimpin agama saat itu sebagai keturunan ular beludak (Mat. 3:7). Bahkan dengan gamblang ia menyatakan kedudukan mereka hanya bermodalkan keturunan Abraham. Ia juga bersikap tegas terhadap kelakukan buruk dari Herodes. Tak hanya itu, Herodes memusuhi Yohanes – lebih-lebih lagi Herodias, istri kedua Herodes – karena Yohanes mencela perkawinan mereka yang tidak sah. Pemberitaan demi
pemulihan semacam itulah yang membuat Yohanes dipenjarakan di benteng Markhaerus dan beberapa bulan kemudian dipancung di sana.
Apakah Yohanes Pembaptis merasa kecewa terhadap Tuhan? Tidak, Ia tidak kecewa dengan keadaan yang dia terima. Ia tidak meratapi keadaannya. Walaupun terpenjara ia tetap mampu melihat karya pemulihan yang dikerjakan Yesus Sang Mesias yang dinanti-nantikan telah datang. Dalam firman Tuhan dikatakan, Yohanes menyuruh murid-muridnya untuk mencari tahu: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami
menantikan orang lain?” (Mat. 11:3).
Dengan informasi dari muridnya, Yohanes Pembaptis tidak hanya mampu mendengar dengan telinganya tapi juga melihat bahwa Yesus adalah Mesias yang datang untuk memberikan pemulihan kepada manusia. Kemesiasan Yesus nyata dan terlihat terlihat dari karya-Nya. Firman Tuhan mengatakan: “Yesus menjawab
mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Mat. 11:4-6).
Yohanes Pembaptis dapat melihat karya pemulihan Allah dalam Yesus yang mendatangkan damai sejatera bagi setiap orang yang menerimanya. Kuasa-Nya melebih kuasa pemerintah-pemerintah di dunia ini, melebihi kuasa penyakit, dan melebihi kuasa kematian. Kesadaran iman Yohanes pembaptis membawanya pada keyakinan akan pemulihan yang dikerjakan oleh Allah sendiri.
Saudara-saudara yang terkasih,
Upaya melihat karya pemulihan Allah diungkapkan surat Yakobus kepada jemaat di perantauan dalam suratnya. Sebagai perantau atau pendatang pastilah keadaan mereka jauh dari
menyenangkan. Sangat mungkin mereka menghadapi penderitaan demi penderitaan yang merisaukan hati dan melemahkan iman. Sangat mungkin pula penderitaan itu berlangsung lama dengan tidak pernah selesai. Hal itu
menyebabkan mereka bersungut-sungut dan saling
mempersalahkan (Yak. 5:9).
Penderitaan seakan menjadi semakin berat sebab mereka merasakan pertolongan dari Tuhan yang tidak kunjung datang. Di tengah pergumulan itu, dalam rangka memberikan kekuatan dan menghidupkan pengharapan, penulis Yakobus memberikan nasihat: “Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan
kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan”
(Yak. 5:10). Sebagaimana pengalaman para utusan atau hamba Tuhan, komunitas orang percaya diminta untuk kuat dan sabar sebab Allah akan menyatakan kehendaknya. Karena hanya dengan kesabaran itulah iman dan pengharapan kita akan menjadi nyata.
Jemaat yang terkasih dalam Kristus,
Marilah kita melihat dengan kacamata baru bahwa karya pemulihan Allah telah dan akan terus terjadi. Orang percaya sepanjang sejarah sudah merasakan karya pemulihan Allah. Itu sebabnya mereka mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan baik oleh karena kasih dan pertolongan Tuhan. Demikian juga dengan kita. Ingatlah kita mempunyai Allah di dalam Kristus yang sama sebagaimana pengakuan iman pemazmur yang tertulis dalam Mazmur 146:6-7, “Dia yang menjadikan langit dan bumi,
laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung.” Bersama dengan
Dia senantiasa ada pemulihan dalam hidup kita. Amin.