• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENJADI PEMULIH

PENJELASAN TEKS Yesaya 63:7-9

Perbuatan Tuhan yang penuh kasih diungkapkan dalam Yesaya 63:7. Ungkapan itu didasari oleh pengalaman bangsa Israel atas segala perkara besar yang dilakukan Tuhan. Isreal dilindungi Tuhan dari ancaman Edom dan negara-negara lain yang hendak menghalangi pemulihan Yehuda. Pengalaman itu membuat Yesaya menuliskan bahwa perbuatan Allah yang pantas disebut adalah kasih setia-Nya.

Dalam Yesaya 63:7-9, pemberitaan tentang kasih setia Allah tampak kuat disertai dengan alasan-alasannya, seperti:

• Yesaya hendak menyebut-nyebut kasih setia Tuhan karena perbuatan Tuhan mashyur, sesuai dengan yang dilakukan-Nya pada umat (ay. 7a).

• Kasih setia Tuhan dilakukan dengan kebijakan-Nya (ay. 7b). • Kasih setia Tuhan dinyatakan dengan penebusan (ay. 9). Kasih sayang Tuhan yang memulihkan itu direspon oleh Yesaya dengan ajakan menaikkan pujian syukur kepada Tuhan.

Mazmur 148

Membaca Mazmur 148 membuat kita teringat bahwa manusia diciptakan Tuhan bersama dengan ciptaan yang lain seperti matahari, bulan, bintang, air dan ciptaan yang lain. Terhadap semua yang diciptakan Tuhan itu Pemazmur mengatakan, “Hai seluruh ciptaan, pujilah Tuhan” sebab Dialah yang mencipta semesta raya dan menyelamatkannya. Dengan mengajak semua ciptaan memuji Tuhan, Pemazmur serasa tidak ingin menaikkan pujian bagi Allah seorang diri. Ia ingin memuji Tuhan bersama semesta raya. Sebagaimana penulis Yesaya mengungkapkan berbagai alasan memuji Tuhan, demikian juga dengan Pemazmur. Tuhan dipuji di tempat tinggi karena Dia memberi perintah, maka semua tercipta (ay. 5); Dia memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar (ay. 6); Nama Tuhan tinggi luhur, keagungan-Nya melebihi langit bumi (ay. 13); Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya (ay. 13); Tuhan menjadi puji-pujian bagi orang-orang yang dikasihi-Nya (ay. 14). Dengan menunjukkan alasan-alasan mengapa memuji Tuhan, Pemazmur mengajak semua yang dicipta oleh Tuhan melihat, merasakan dan memuji Dia, pencipta dan penyelamat kehidupan.

Ibrani 2:10-18

Solidaritas Kristus dengan manusia diberitakan dalam Ibrani 2:10-18. Solidaritas-Nya dilakukan dalam rangka mewujudkan keselamatan. Melalui jalan kerendahan, yaitu penderitaan, keselamatan dinyatakan. Jalan penderitaan merupakan jalan salib, yaitu kematian sebagai pengurbanan Kristus. Gagasan Kristus sebagai kurban untuk penebusan sesuai dengan ide teologis dalam Perjanjian Lama. Jalan kerendahan dan solidaritas Yesus diwujudkan pula melalui relasi-Nya dengan manusia. Ibrani 2:11 menyebut bahwa Ia tidak malu menyebut manusia sebagai saudara-Nya (ay. 11). Melalui cara itu Ia menguduskan dan manusia dikuduskan supaya manusia terhubung dengan Allah.

Pada ayat 14-18 penulis kitab Ibrani menjawab pertanyaan klasik yang kerap dilontarkan banyak orang,”Mengapa Yesus menjadi manusia?” Penulis kitab Ibrani menyampaikan bahwa dengan

mengalami kemanusiaan kita, Kristus sanggup mengalahkan Iblis sebagai kekuatan yang menguasai kematian, dan membebaskan kita dari ketakutan dan kematian yang memperbudak kita (ay. 14-15). Keturunan Abraham (manusia) adalah subyek keselamatan Allah. Hanya dengan menjadi manusia secara utuh, Kristus bisa menjadi Imam sekaligus Kurban yang sempurna. Hanya dengan dicobai melalui penderitaan, Kristus dapat menolong kita ketika sedang berada dalam pencobaan.

Matius 2:13-23

Perikop Matius 2:13-23 menyampaikan tiga kisah. Kisah pertama: pelarian ke Mesir (ay. 13-15). Kisah kedua, pembunuhan bayi-bayi oleh Herodes (ay. 16-18) dan kisah ketiga tentang kembalinya Yusuf dan Maria dari Mesir (ay. 19-23).

Penampakan malaikat Tuhan kepada Yusuf menunjukkan bagaimana relasi antara Yusuf dengan Tuhan yang terjalin baik. Melalui penampakannya, malaikat menyampaikan berita pada Yusuf tentang ancaman yang akan diterima Yesus (dan bayi-bayi lain di Israel). Karena itu Yusuf harus membawa Yesus dan Maria menyingkir ke Mesir. Alkitab menuliskan bahwa Mesir merupakan tempat yang kerap digunakan orang Israel untuk menyintas (bdk. Kej. 42-48, 1 Raj. 25:26, Yer. 26:21, 41:16-18, 43:1-7). Dengan demikian penyingkiran ke Mesir merupakan hal yang kerap dilakukan dalam rangka mendapat perlindungan. Yusuf mendengar perintah malaikat Tuhan dan melakukannya. Kekerasan Herodes diceritakan pada ayat 16-18. Sumber-sumber sejarah mencatat tentang Herodes sebagai seorang yang gila kekuasaan. Bahkan ia juga tega membunuh anggota keluarganya sendiri demi pemenuhan ambisi berkuasa. Ketika ia merasa dikhianati orang-orang Majus, kemarahannya tak terbendung dan ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya. Pada ayat 18 penulis Matius menyampaikan bahwa peristiwa Herodes terjadi sebagaimana nubuat “kecelakaan” yang menjadi kenyataan dialami umat Allah. Dengan demikian, Matius menyampaikan bahwa peristiwa yang dialami Yesus Sang Mesias

adalah peristiwa yang dapat dialami semua manusia. Ia berada di dalam tekanan, ancaman sejak dari mulanya.

Setelah Herodes mati, malaikat Tuhan kembali menampakkan diri kepada Yusuf dan memerintahkan Yusuf untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke tanah Israel. Arkhelaus anak Herodes menjadi penguasa menggantikan ayahnya. Sebagai pemimpin, ia bertindak kejam seperti ayahnya. Di Israel, keluarga Yusuf menetap di Nazaret. Terkait dengan apa arti Nazaret, terdapat dua pemaknaan yang kerap kita dengar. Ada yang mengaitkan kata Nazaret dengan neser yang berarti “tunas” atau “cabang” yang mengacu pada Yesaya 11:1. Ia adalah tunas Isai, sebagai pewaris Daud. Ada pula yang menyebut Nazaret dan mengaitkannya dengan nazir yang artinya “seorang yang dibaktikan kepada Allah.” Hal itu dikaitkan dengan Hakim-Hakim 13:5-7.

Dari tiga kisah dalam Matius 2:13-23 ini tampak bahwa sejak semula kehadiran Sang Mesias yang hendak memulihkan kehidupan senantiasa ada di bawah bayang-bayang ancaman. Banyak pihak merasa “risih” dengan hadirnya sang pemulih. Namun demikian, Allah tetap pada kehendak-Nya untuk memulihkan kehidupan. Karena itu Ia memakai keluarga Yusuf untuk terlibat dalam misi-Nya.

BERITA YANG MAU DISAMPAIKAN

Di Masa Adven Natal ini kita menggumulkan bersama tentang kehidupan yang dipulihkan. Sesungguhnya pemulihan Allah sudah dinyatakan, namun dunia kerap merusak pemulihan Allah. Peristiwa Herodes menunjukkan bahwa ambisi manusia berkuasa menjadikan segala cara dihalalkan. Penghalalan segala cara merusak kehidupan. Dalam keadaan macam itu Allah memanggil orang-orang, keluarga, persekutuan agar bersedia menjadi pemulih. Kesediaan keluarga Yusuf membawa bayi Yesus ke Mesir merupakan tindakan memulihkan. Di masa kini Allah juga memanggil kita semua untuk bertindak seperti keluarga Yusuf agar bersedia menjadi pemulih kehidupan yang keran ada di bawah bayang-bayang ancaman.

KHOTBAH JANGKEP

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Jargon “Kalau bersih, mengapa risih?” tentunya pernah atau bahkan sering kita dengar. Jargon itu kerap digunakan untuk mengajak setiap pribadi melihat dirinya sendiri. Di dalam kehidupan sehari-hari, jargon itu akan mewujud demikian: bila seseorang sudah terbiasa jujur, ia akan berani menyuarakan kejujuran dan tidak risih, cemas apabila diminta membuktikan kejujurannya. Sebaliknya, bila ada seseorang melakukan kebohongan, ia akan risih, takut, cemas saat diminta membuktikan kejujuran. Secara lebih luas, jargon itu menyatakan bahwa hati yang bersih akan menuntun orang berpikir dengan bersih, bertindak bersih dan melakukan apapun secara bersih, sehingga tidak risih. Risih terjadi karena ada yang kotor, maka hati yang kotor menjadikan pikiran, tindakan dan hidup kotor. Saudara yang dikasihi Tuhan,

Herodes risih dengan hadirnya raja yang hendak memulihkan kehidupan. Melalui orang-orang majus, Herodes mendengar tentang kelahiran raja orang Yahudi. Melalui para Imam Kepala dan ahli Taurat, Herodes tahu bahwa raja itu adalah Mesias sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi. Mengetahui hal itu Herodes merasa risih. Ia merasa bahwa Raja itu akan menjadi pesaing berat yang harus disingkirkan dengan cara membunuh semua bayi yang ada di Betlehem dan sekitarnya. Tindakan Herodes itu didorong oleh ambisi berkuasanya. Ambisi berkuasa menjadikan Herodes menghalalkan segala cara. Selain tega membunuh bayi-bayi yang tidak berdaya, Herodes juga tercatat tega membunuh anaknya sendiri yang dicurigai akan mengambil alih kekuasaannya. Hal itu ditulis oleh Yosephus, sejarawan Yahudi pada abad pertama.

Herodes risih dengan hadirnya raja yang hendak memulihkan kehidupan sebab ia anti pada kehidupan. Sikap anti pada kehidupan tampak dari tindakannya yang kejam. Pembunuhan terhadap bayi-bayi di Betlehem dan sekitarnya merupakan

kejahatan terhadap kehidupan yang dicipta oleh Allah. Bayi Yesus yang dianggap sebagai ancaman bagi Herodes tidak luput dari ancaman pembunuhan. Apa maknanya? Banyak penafsir menyebut ancaman terhadap bayi Yesus menunjukkan bahwa sejatinya kehadiran Mesias, Sang Pemulih kehidupan sejak dari mulanya berada dalam ancaman dan penolakan. Mereka yang memilih bersekutu dengan dunia, yakni kehidupan duniawi yang

mengutamakan jabatan, kekuasaan, kesuksesan tanpa

kemanusiaan dan keadilan menolak hadirnya Mesias. Hal itu diwakili oleh Herodes.

Meski kehadiran Mesias Sang Pemulih senantiasa ada di bawah bayang-bayang ancaman, Allah tetap pada misi-Nya. Ia tetap memulihkan kehidupan. Hal itu dinyatakan-Nya melalui keluarga Yusuf sebagaimana yang kita lihat melalui perikop Matius 2:13-23. Perikop ini berisi tiga kisah atau tiga adegan. Kisah pertama: pelarian ke Mesir (Mat. 2:13-15). Kisah kedua, pembuhuhan bayi-bayi oleh Herodes (Mat. 2:16-18) dan kisah ketiga adalah kembalinya Yusuf dan Maria dari Mesir (Mat. 2:19-23). Dari kisah-kisah itu kita melihat bagaimana Allah tetap pada rencana-Nya untuk menyatakan pemulihan bagi ciptaan-rencana-Nya.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Bagaimana cara Tuhan tetap pada rencana-Nya? Tuhan bersama dengan keluarga Yusuf dan Maria. Melalui keluarga ini jalan pemulihan diwujudkan. Injil menceritakan bahwa malaikat Tuhan menampakkan diri pada Yusuf dalam mimpi. Penampakan malaikat Tuhan kepada Yusuf menunjukkan adanya relasi yang baik antara Yusuf dengan Tuhan. Melalui penampakannya, malaikat menyampaikan berita pada Yusuf tentang ancaman yang akan diterima Yesus (dan bayi-bayi lain di Israel). Karena itu Yusuf harus membawa Yesus dan Maria menyingkir ke Mesir. Alkitab menuliskan bahwa Mesir merupakan tempat yang kerap digunakan orang Israel untuk menyintas. Dengan demikian penyingkiran ke Mesir merupakan hal yang kerap dilakukan dalam rangka mendapat perlindungan. Yusuf mendengar perintah malaikat Tuhan dan melakukannya. Singkat cerita, setelah Herodes mati, malaikat Tuhan kembali menampakkan diri

kepada Yusuf dan memerintahkan Yusuf untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke tanah Israel. Arkhelaus anak Herodes menjadi penguasa menggantikan ayahnya. Sebagai pemimpin, ia bertindak kejam seperti ayahnya. Di Israel, keluarga Yusuf menetap di Nazaret.

Dari tiga kisah dalam Matius 2:13-23 ini tampak bahwa sejak semula kehadiran Sang Mesias yang hendak memulihkan kehidupan senantiasa ada di bawah bayang-bayang ancaman. Banyak pihak merasa “risih” dengan hadirnya sang pemulih. Namun demikian, Allah tetap pada kehendak-Nya untuk memulihkan kehidupan. Karena itu Ia memakai keluarga Yusuf untuk terlibat dalam misi-Nya.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Sebagaimana Tuhan memanggil keluarga Yusuf menjadi pemulih kehidupan di tengah situasi yang tidak mudah, demikian pula panggilan Tuhan bagi kita di zaman ini. Kesediaan menjadi pemulih mestinya dihayati sebagai bentuk syukur pada Allah. Yesaya meneladankan hal itu bagi kita. Ia dan bangsanya merasakan kasih setia Allah yang memulihkan. Karena itu ia memberitakan kasih setia Allah. Mungkin kita bertanya, apa yang bisa dilakukan? Mungkinkah dalam situasi hidup yang tertekan dan berat kita bisa hadir menjadi pemulih bagi sesama? Ketika Yusuf dan keluarganya dipakai Tuhan menjadi pemulih, situasi mereka ada dalam tekanan berat, yaitu di tempat pelarian. Mereka sebagai penyintas kehidupan. Saat Yesaya menyatakan berita pemulihan Allah, ia dan bangsanya sedang dalam situasi sulit. Oleh karena itu setiap orang dalam segala keadaannya sangat mungkin bisa hadir bagi sesama dan menjadi pemulih.

Agar kita bisa menjadi pemulih, kita butuh dukungan. Tuhan mendukung keluarga Yusuf dan Maria. Ia mendukung Yesaya dan mendukung kita semua yang bersedia dipakai-Nya menjadi pemulih. Kita juga butuh dukungan sesama untuk saling meneguhkan. Karena itu komunitas atau paguyuban yang saling memulihkan menjadi penting.

Seperti apa paguyuban itu? Di GKI Pondok Indah Jakarta terdapat paguyuban yang saling memulihkan bernama peguyuban pelangi di GKI Pondok Indah Jakarta. Paguyuban ini merupakan komunitas penderita, penyintas, dan pegiat kanker. Di komunitas tersebut, mereka saling menguatkan dan menikmati hidup bersama. Juga ada beragam informasi sehat dari para tenaga medis yang ikut terlibat aktif dalam Paguyuban Pelangi. Keberadaan Paguyuban Pelangi hendak mengubah kekhawatiran atau cara pandang para penderita dan keluarga penderita kanker, bahwa vonis dokter bukan akhir dari segalanya. (lihat https://www.radiopelitakasih.com/2018/02/19/ini-dia-kunci-utama-keberhasilan-pasien-melawan-kanker/).

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Melalui firman ini, Tuhan memanggil kita menjadi pemulih, karena itu, apa yang akan kita lakukan? Saya mengajak kita semua untuk merespon panggilan itu dengan dengan memberikan pengharapan bagi setiap orang yang bergumul di sekitar kita. Lewat tindakan itu, kita belajar melakukan yang terbaik bagi Dia sebagai ucapan syukur kita pada Allah. Amin.

MENGALAMI