• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulisan Al-Qur’an di Masa Rasullah dan Sahabat …. 23

Dalam dokumen DALAM MENGKADER PENGHAFAL AL-QUR’AN (Halaman 40-47)

BAB I PENDAHULUAN

G. Sistematika Penulisan

4. Penulisan Al-Qur’an di Masa Rasullah dan Sahabat …. 23

bacaan salat. Meskipun demikian, tidak berarti penulisan Al-Qur’an belum dikenal generasi mereka.14

4. Penulisan Al-Qur’an di Masa Rasullah dan Sahabat

b. Penghimpunan AI-Quran Pada Zaman Abu Bakar As-Shidiq Setelah Rasulullah SAW. wafat, Abu Bakar As-Shiddiq terpilih menjadi Khalifah pertama. Sejak hari-hari pertama sebagai kepala negara sahabat yang juga mertua Rasullaah Saw. Ini telah dihadang sejumlah masalah berat. Salah satu di antaranya adalah soal murtadnya sejumlah orang dari Islam.

Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun dua belas Hijrah melibatkan sejumlah besar sahabat penghafal Al-Qur’an. Dalam peperangan itu tujuh puluh qari’ dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an karena khawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak mengugur para qari’ (penghafal Al-Qur’an). 16

Oleh karena menghimpun Al-Quran merupakan tugas berat, Abu Bakar menunjuk Zaid. Khalifah pertama ini tahu, Zaid berkecakapan untuk melaksanakan tugas itu. la masih muda, pintar, dan mempunyai mental yang terpuji. 17

Benar saja, begitu mendapat mandat, Zaid yang dibantu oleh Umar segera bergerak. ‘’Aku lalu melacak keseluruhan Al-Qur’an yang terdapat pada usub, likhaf dan hafalan orang,’’ ujar Zaid.18

Menurut Syekh Al-Sakhawiy, baru bisa menerimanya bila memang ayat itu ditulis di hadapan Rasulmah Saw. dan disaksikan oleh dua ornng

16 Manna Al-Qaththan, Op.Cit., hlm.158

17 Acep Hermawan, Op.Cit., hlm. 72-73

18 Acep Hermawan, Op.Cit., hlm. 73

sahabat lainnya. Dan Umar yang dalam hal ini menjadi partner Zaid mengambil sikap yang sama, yakni untuk sumber-sumber dali hafalan sahabat, juga berlaku penyaksian dua orang sahabat pria lainnya. semua dilakukan sebagai terobosan untuk menjaga kesucian dan keaslian AI-Qur’an.19

c. Penghimpunan AI-Quran pada Zaman Ustman bin Affan

Ketika penyerbuan Armenia dan Azerbaijan dari penduduk Irak termasuk Hudzaifah bin Al-Yaman. la melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaea Al-Qur'an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan ketidakfasihan, masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan puncak nya mereka saling mengafirkan. Melihat kenyataan demikian, Hudzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Utsman juga berpendapat demikian bahwa sebagian perbedaan itu pun terjadi pada orang orang yang mengajarkan qiraat kepada anak-anak. Lalu Anak-anak itu akan tumbuh sedang di antara mereka terdapat perbedaan dalam qira'at. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan- bacaan baku pada satu huruf.

19 Acep Hermawan, Op.Cit., hlm. 73

Utsman kemudian mengirim utusan kepada Hafshah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya), dan Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari, Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam (tiga orang Quraisy).

Lalu ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraisy itu, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraisy, karena Al-Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka.

Keputusaan Utsman membentuk"Panitia Empat", yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al· Ash dan Abd Al-Rahman bin Al-Harits, adalah langkah konkrit untuk mengatasi kenyataan pahit yang teljadi. Apabila masa-masa dua khalifah sebelumnya,"Mushaf Abu Bakar"hanya disimpan di rumah maka Utsman melihat Perlunya memasyarakatkan mushaf itu. Langkah Utsman memang lebih tepat dianggap memasyarkatkan Mushaf Abu Bakar sekaligus menyatukan bacaan. Alasannya? Utsman tetap menyertakan Zaid bin Tsabit di dalam 'Panitia Empat". Zaid yang sejak zaman Rasulullah SAW. Dan Abu Bakar terlibat langsung dalam penulisan dan penghimpunan Al-Qur’an, dapat dipastikan lebih banyak berperan ketimbang tiga anggota panitia lainnya.

Sehingga kemungkinan teradinya perubahan, penambahan atau hilangnya kalimat tertentu dapat ditekan sampai pada titik nol dan keaslian Al-Quran tetap terjamin. Kemudian penyalinan mushaf itu diambil berdasarkan

inforrnasi dan usul Hudzaifah bin Al-Yaman dan disalin menjadi beberapa mushaf yang lalu dikirim ke beberapa daerah guna menyeragamkan qiraat.

Langkah Utsman lainnya, semua mushaf yang ada ditarik dan dibakar.

Dengan demikian, kaum Muslimin hanya mengenal satu mushaf.

Beberapa riwayat yang bisa dipegang mengatakan bahwa Panitia Empat berhasil menyalin enam buah mushaf, sedangkan aslinya dikembalikan kepada Hafshahlm. Mushaf yang kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Utsmani itu dikirim ke Mekah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah dan Kuffahlm. (Lihat Tarikh Al-Qur’an, oleh 1brahim Al Abyari, hlm. 90). 20 5. Keutamaan Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an

Menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa, banyak hadist Rasullah SAW, yang mendorong untuk menghafal Al-Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga dari seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti hadist yang diriwiyatkan oleh Ibnu Abbas secara Marfu’

َّ نِإ يِذ لا َّ

ََّسْيَل َّ

يِف َّ

َِّهِف ْوَج َّ

َّ ءْيَش َّ

ََّن ِم َّ

َِّنآ ْر قلا َّ

َِّتْيَبلاَك َّ

َِّب ِرَخلا َّ

.َّ

)هنعَّاللهَّيضرَّسابعَّنباَّنعَّيذمرتلاََّّهاورَّثيدح(

َّ

“ Sesungguhnya orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sedikitpun adalah seperti rumah mau runtuh “ (HR. Tirmidzi). 21 Hadits.

20 Acep Hermawan, Op.Cit., hlm. 77

21Muhammad bin Isa bin Saurah Tirmidzi, Kitab: al-Jami’ al-Kabir – Sunan at-Tirmidzi, Editor: Basysyar ‘Awad Ma’ruf Daar Gharb Islami (Beirut : Daar Gharb al-Islami, 1998), Jilid V, hlm.27

Dan Rasullah SAW, memberikan penghormatan kepada orang-orang yang mempunyai keahlian dalam membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, memberitahukan mereka kedudukan mereka dibandingkan dengan orang lain.

Itu kedudukan mereka di dunia, ketika mereka meninggal dunia Rasullah SAW, mendahulukan orang yang menghafal lebih banyak dari yang lainnya, seperti terjadi ketika mengurus syuhada perang Uhud.

Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghafal Al-Qur’an saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya. Dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al-Qur’an.

Buraidah mengatakan bahwa Rasullah SAW bersabda :

“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) dan tidak didapatkan didunia, keduanya bertanya “ maka kami dipakaikan jubah ini ?” Dijawab, karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari AL-Qur’an’’. (HR Al-Hakim). 22

22 Yusuf Al-Qaradhawi, Op.Cit., (ringkasan halaman 191-194)

Sedangkan menurut Imam Abu Zakariah Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam kitabnya At-Tibyan keutamaan pembaca dan penghafal Al-Qur’an mengutip 23

َّ نِإ

ََّنيِذ ل ٱ

َّ َبََٰتِكَّ َنو لۡتَي َّ

َِّ للّ ٱ

َّْاو ماَقَأ َو َّ

ََّة َٰوَل صل ٱ

َّ ۡم هََٰنۡق َز َرَّا مِمَّْاو قَفنَأ َو َّ

َّ َرو بَتَّ ن لَّ ّٗة َر ََٰجِتَّ َنو ج ۡرَيَّ ّٗةَيِن َلََع َوَّ ا ّٗ رِس ٢٩

َّۡم هَيِ ف َو يِل َّ

َّ ۡم ه َرو ج أ َّ

َِّهِل ۡضَفَّنِ مَّم هَدي ِزَي َو

َّ ۦ

َّ ه نِإ َّ

َّ ٞرو كَشَّ ٞرو فَغ ۥَّ

٣٠

ََّّ

َّ

“ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri .” QS. Fathir (35) 29-30

Dalam hadist lain : 24

َّْنَم

ََّأَرَق َّ

ََّنآ ْر قْلا َّ

َّاًجاَتَِّةَماَيِقْلاََّم ْوَيَّ ه دِلا َوَّ َسِبْل أَِّهيِفَّاَمِبََّلِمَع َو ،

َِّء ْوَضَّ ْنِمَّ نَسْحَأَّ ه ء ْوَض

َِّهيِفَّ ْتَناَك َوَّاَيْنُّدلاَِّتو ي بَّيِفَّ ِسْم شلا

، اَمَف

َّ

َّْم كُّنَظ يِذ لاِب

ََّل ِمَع َّ

ََّّسنأَّنبَّذاعمَّنعَّمكاحلاَّهاورَّثيدح(َّ.َِّهِب َّ

َّ)هنعَّاللهَّيضرَّينهجلا

َّ

“Siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya niscaya pada hari kiamat nanti orang tuanya akan

23 Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Op.Cit., hlm. 5

24 Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al-Hakim an-Nisaburi, Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Editor: Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi al-Wadi’I, (Cairo : Daarul Haramain, 1417 H/1997 M), Cet. Ke-, 1, Jilid I, hlm. 756

dipakaikan mahkota yang sinarnya lebih terang daripada matahari di rumah-rumah di dunia. Apatah lagi bagi anak yang mengamalkannya.”

(HR. Alhakim dari Mu’adz bin Anas al-Juhani r.a.)

Dalam dokumen DALAM MENGKADER PENGHAFAL AL-QUR’AN (Halaman 40-47)