A. Hasil penelitian dan pengembangan
2. Penulisan soal
Penulisan soal merupakan hal yang lazim dilakukan pada tes psikologis, yang terdiri dari soal yang disusun menurut system tertentu, Setiap soal dalam tes akn menghasilkan informasi tertentu mengenai orang yang mengenakan tes tersebut. Tes yang baik haruslah terdiri dari soal-soal yang ditulis dengan baik. Menulis soal membutuhkan kemampuan -kemampuan khusus, kemampuan-kemampuan khusus tersebut harus dkembangkan sampai pada taraf yang memadai. Kemampuan kemampuan khusus tersebut ialah: (1) penugasan akan mata pengetahuan yang dites, (2) kesadaran akan tata nilai yang individu yang dites, (4) kemampuan membahas gagasan, (5) penugasan akan teknik penulisan soal, dan (6) kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis soal. kemampuan menulis soal yang baik akan berkembang melalui pengalaman dan praktek Latihan yang baik adalah "benar-benar menulis soal"
3) Penelahaan soal
Setelah penulisan soal selesai maka langkah selanjutnya adalah menguji kualitas soal tersebut. Pengujian secara teoritis ini disebut juga penelaahan soal. Untuk menelaah soal ini diperlukan beberapa keahlian, diantaranya: (a) keahlian dalam bidang studi yang diuji, keahlian dalam bidang pengukuran, dan (c) keahlian dalam pembahasan gagasan. Untuk dua keahlian yang pertama jelas ada pendidikan formal yang menyiapkannya, sedang untuk keahlian ketiga tidak Banyak ahli bahasa yang dapat memikul tugas ini. penelaahan soal adalah evaluasi terhadap soal-soal yang telah di berdasarkan pendapat professional Evalusi tersebut dilihat dari tiga bidang, yaitu: (a) dari segi bidang studi yang diuji, b) dari segi format dan pertimbangan teknis penulisan soal, (e) dari segi penerjemahan gagasan ke dalam bahasa. Penelaahan ini menuntut kematangan dan kemendalaman penguasaan materi bidang studi dan kejelian mel hat kesesuaian cakupan antara kumpulan soal dengan spesifikasi tes, kejelasan akan konsep dasar. proses fundamental, saking hubungan antara fakta dan kejadian sangat diperlukan
4) Perakitan soal (untuk tujuan uji coba)
Setelah soal-soal ditelaah selanjutnya soal-soal digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu (a) soal-soal yang dianggap baik, maka soal ditenma. (b) soal-soal yang dianggap tidak baik, maka soal di tolak, dan (c) soal-soal yang kurang baik, setelah direvisi lalu dapat diterima soal-soal yang diterima lamgsung maupun dengan revisi merupakan kumpulan soal yang
perlu ditata dengan cara tertentu. Hasil perakitan soal ini adalah tes yang secara teori baik dan siap diuji- cobakan untuk mengetahui apakah tes yang secara teori baik itu secara empiris juga baik
5) Uji coba tes
Langkah berikut setelah sejumlah butir soal ditulis dan dikaji dalam penelaahan soal, maka langkah selanjutnya dalam pengembangan tes adalah pengumpulan data empiris melalui uji – coba sebagai dasar untuk memperbaiki soal – soal dan memilih soal – soal terbaik untuk disusun menjadi tes dalam bentuk akhir sesuai dengan tujuan pengembangan tes. 6) Analisis butir soal
Untuk memberi gambaran yang lebih jelas biasanya karakteristik soal – soal itu dikuantifikasikan ke dalam indeks – indeks statistik. Ada beberapa teknis dan indeks yang digunakan yaitu taraf kesukaran soal, daya pembeda soal (indeks diskriminasi) dan teknik analisis konfensional, yaitu: (a) Taraf kesukaran soal
Taraf kesukaran soal yaitu banyaknya soal untuk masing – masing taraf kesukaran, berapa rata – rata taraf kesukaran yang diinginkan. Taraf kesukaran pada tes disusun berdasarkan tujuan tes yang sedang disusun itu, misalnya tes yang diujikan bertujuan untuk membedakan taraf kemampuan siswa dari yang rendah sampai yang tinggi. Oleh karena itu sebaran taraf kesukaran soal yang disusun lebih luas agar siswa yang pandai tertantang (karena ada soal yang sukar) dan siswa
yang bodoh masih ada kesempatan untuk mengerjakan (karena ada soal yang mudah).
Indeks kesukaran soal yang paling banyak digunakan adalah taraf kesukaran p, yaitu proporsi banyaknya jawaban benar terhadap semua jawaban (biasanya dalam persen). Rumus indeks kesukaran soal adalah
P = B / T Keterangan:
P = Indeks kesukaran soal
B = banyaknya subjek yang menjawab benar T = banyaknya subjek yang mengerjakan soal
Indeks kesukaran soal P ini terdapat banyak kelemahan, yaitu a) P sebenarnya ukuran kemudahan soal, semakin tinggi P maka soal semakin mudah begitu sebaliknya semakin rendah P maka soal semakin sukar, dan b) P tidak berhubungan secara linear dengan skala kesukaran soal, namun P sangat berguna untuk memperkirakan rata – rata skor tes, maka P harus dihitung.
(b) Daya pembeda soal
Daya pembeda soal diukur dari kesesuaian soal dengan keseluruhan tes dalam membedakan peserta didik yang tinggi kemampuannya dan siswa yang rendah kemampuannya yang diukur dalam tes yang bersangkutan. Teknik yang banyak digunakan untuk mengukur daya pembeda adalah korelasi antara skor pada soa tertentu yang merupakan data continue yang didiktomisasikan menjadi benar
dan salah, atau 1 dan 0 dengan skor soal (data kontinu). Rumus korelasi biserial ialah:
rbis =
x
atau rbis =
x
atau rbis =
x √
Keterangan:= rata – rata skor kriteria subjek yang memilih jawaban benar = rata – rata skor kriteria subjek yang memilih jawaban salah = simpangan baku skor kriteria semua subjek
= proporsi subjek yang menjawab benar terhadap semua subjek = ordinat dalam kurva normal yang membagi menjadi p dan – p = 1 – p .
Bagian yang ensensial pada rumus diatas adalah perbedaan antara keedua rata – rata dalam perbandingan dengan simpangan baku. Semakin besar perbedaan kedua rata- rata maka semakin tinggi korelasi biserial, itu berarti semakin tinggi daya pembeda sial yang dipersoalkan.
7) Seleksi dan perakitan soal
Setelah statistik soal selesai dihitung maka tahap selanjutnya adalah
seleksi soal, yaitu memilih soal – soal mana saja yang akan digunakan dalam perangkat tes bentuk akhir, dan soal mana yang terpaksa disisihkan.
Menurut model klasik pemilihan soal ini bisa menggunakan dua parameter,
yaitu taraf kesukaran (p) dan indeks diskriminatif (rbis). Selain dua
(a) Penggunaan kelompok 27% teratas dan 27% terbawah
Banyaknya pengembangan tes yang menggunakan metode analisis soal yang didasarkan hanya pada sebagian dari subjek uji coba, misalnya kelompok atas (27% tertinggi) dan kelompok bawah (27% terendah) dan kelompok tengah / sedang (46%) tidak dianalisis. Dalam metode 27% teratas dan 27% terbawah dibuat perbandingan antara kelompok atas dan kelompok bawah dalam pemilihan berbagai kemungkinan jawaban.
(b) Galat baku indeks diskriminasi
Indeks diskriminasi soal sipengaruhi oleh variasi sampel. Oleh karena itu, sangat penting penembangan tes mengetahi besarnya fluktuasi agar dapat menentukan besarnya sampel yang diperlukan agar diperoleh stabilitas sampel dalam kaitan dengan indeks diskriminasi itu. Rumus untk galat baku koefisien biserial yaitu;
SErbis
√
√
Keterangan:
SErbis = galat baku (standard error of measurement) rbis = proporsijawaban benar terhadap semua jawaban
= ordinat yang memisahkan distribusi normal menjadi p dan 1 – p rbis = koefisien korelasi biserial
= besarnya sampel
Interpretasi galat baku pengukuran koefisien korelasi biserial ini sama dengan interpretasi galat baku pada pengukuran yang lain. Jadi, jika
digunakan taraf alpha = 0,05, maka rbis adalah 95 dari setiap 100 kejadian.
8) Pencetakan tes
Setelah soal diseleksi berdasarkan hasil analisis butir soal kemudiaan disusun berdasarkan pertimbangan – pertimbangan tertentu, maka pengembangan tes secara substantive telah selesai. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mencetak tes dengan cara yang baik dan menjamin mutunya.
9) Administrasi tes bentuk akhir
Setelah data hasil tes masuk, pengolahan data serta interpretasi hasil pengolahan itu juga perlu dibakukan. Kesulitan yang sering terjadi ialah menginterpretasikan skor hasil tes adalah beragamnya skala yang digunakan untuk menyatakan hasil tes tersebut. Persyaratan pertama untuk menerjemahkan skor ialah mendefinisikannya ke dalam skala tertentu, proses ini penskalaan. Persyaratan kedua adalah penyediaan norma untuk acuan interpretasi. Proses ini disebut penormaan tes.
10)Penyusutan skala dan norma a. Penyusunan Skala
Dalam penyusunan skala terdapat beberapa metode, yaitu: (a) Skala skor mentah
Skala skor mentah adalah skala yang tidak mempunyai makna inheren dan tidak dapat diinterpretasikan tanpa bantuan data pendukung.
(b) Skala persentase penguasaan
Skor yang dilaporkan dalam skala persentase penguasaan ini merupakan pendapat absolut (tidak relative) bahwa subjek menguasai sekian persen dari bahan belajar yang sedang dipersoalkan.
(c) Skala jenjang presentil
Skala jenjang persentil adalah salah satu skala yang sangat luas penggunaannya. Banyak hasil tes yang diselenggarakan dalam skala besar dilaporkan dalam skala jenjang presentil ini. Skala jenjang persentil menunjukan berapa persen individu – individu dari kelompok tertentu yang mempunyai skor di bawah titik tengah setiap skor atau interval skor.
(d) Skor baku
Dalam menghitung simpangan baku bisa menggunakan rumus: Sb = Sbz + Xb
Keterangan: Sb = skor baku
Sbz = simpangan baku ayng diinginkan Xb = rata – rata yang diinginkan
b. Penyusunan Norma
Pedoaman umum dalam penyusunan norma ialah:
1) Karakteristik yang diukur oleh tes hendaknya memungkinkan penentuan urutan para pengambilan tes dalam suatu continuum dari rendah ke tinggi.
2) Tes yang digunakan harus mencerminkan definisi operasional karakteristik yang dipersoalkan
3) Sebaran skor yang dihasilkan oleh tes, dari yang terndah sampai ke yang tinggi, hendaknya mengevaluasi karakteristik psikologis yang sama.
4) Kelompok yang digunakan sebagai dasar penyusunan statistic deskriptif harus sesuai dengan tesnya dan tujuan tes.
5) Data hendaknya tersedia untuk kelompok – kelompok yang relevan. Dari deskripsi di atas, pengembangan instrumen penilaian kemampuan menganalisis transaksi jurnal penyesuaian, dilakukan dalam 10 langkah adalah pengembangan spesifikasi tes, penulisan soal, penelahaan soal, perakitan soal, uji coba tes, analisis butir soal, seleksi dan perakitan soal, pencetakan tes, administrasi tes bentuk akhir, penyusutan skala dan norma. L. Penelitian Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:
1) Penelitian yang dilakukan oleh Suhaesti Julianingsih yang berjudul ”Pengembangan Instrumen asesmen Higher Order Thingking Skill (HOTS) untuk mengukur dimensi pengetahuan IPA siswa di SMP”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dengan menggunakan asesmen Higher Order Thingking Skill (HOTS) dapat melatih peserta didik berpikir kritis.
Persamaan penelitian terdahulu dengan yang saya teliti adalah sama-sama mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik dengan menggunakan level kognitif C4, C5 dan C6. Perbedaannya yaitu penelitian
yang dilakukan sebelumnya bertujuan untuk mengembangkan instrumen tes Higher Order Thinking Skill (HOTS) sebagai instrumen pengayaan untuk penilaian keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran IPA di SMP, untuk mengembangkan kompetensi dasar (KD) dan indikator yang digunakan untuk instrumen asesmen HOTS dan mengetahui karakterstik instrumen asesmen HOTS yang dikembangkan sebagai instrumen untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik pada berbagai dimensi pengetahuan, sedangkan penelitian saya dirancang untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menganalisis soal-soal yang berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Hilaria Mitri yang berjudul “Analisis Pembelajaran keterampilan berpikit Tingkat Tinggi Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA N 8 Yogyakarta 2016”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa desain RPP yang disusun oleh guru mata pelajaran Ekonomi tidak memuat indikator keterampilan berpikir tingkat tinggi, guru mata pelajaran Ekonomi dalam mengimplementasikan pembelajaran belum mengarah pada keterampilan tingkat tinngi dan pelaksanaan penilaian kelas yang disusun oleh guru dinyatakan belum mengarah pada mengukuran keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Persamaan penelitian terdahulu dengan yang saya teliti adalah sama-sama mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik dengan menggunakan level kognitif C4, C5 dan C6. Perbedaannya yaitu penelitian yang dilakukan sebelumnya bertujuan untuk mengetahui apakah guru
sudah menyusun desain RPP mata pelajaran Ekonomi yang memuat indikator keterampilan berpikir tingkat tinggi, apakah guru sudah menerapkan kegiatan pembelajaran yang mengarah pada keterampilan berpikir tingkat tinggi dan apakah pelaksanaan penilaian kelas telah mengarah pada pengukuran keterampilan berpikir tingkat tinggi. sedangkan penelitian saya dirancang untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menganalisis soal-soal yang berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi.
M. Kerangka Berpikir
Pada bagian ini, peneliti akan menjelaskan kerangka berpikir yang digunakan dalam mengembangkan produk berupa instrumen penilaian berbasis HOTS. Peneliti melakukan analisis kebutuhan melalui wawancara dengan guru akuntansi kelas X SMK Bopkri 1 Yogyakarta. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa semua guru membuat atau menggunakan soal yang berbasis HOTS. Salah satu materi yang terdapat pada mata pelajaran akuntansi kelas X SMK yaitu jurnal penyesuaian. Menurut beliau, kemampuan peserta didik saat mengerjakan soal tentang jurnal penyesuaian tergolong rendah yaitu berada pada tingkat memahami.
Dalam kurikulum 2013 revisi 2016, seharusnya guru sudah menerapkan soal HOTS. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi saat mengerjakan soal. Namun dengan berbagai pertimbangan, guru masih belum menerapkan soal yang berbasis HOTS. Saat pembelajaran, guru memberikan soal yang tergolong dalam tingkat rendah,
yaitu mengingat (C1), memahami (C2), dan menerapkan (C3). Pada kondisi tersebut, peserta didik tidak terdorong untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, guru membutuhkan soal berbasis HOTS, lalu memberikannya kepada peserta didik saat pembelajaran. Guru ingin peserta didik mengerjakan soal berbasis HOTS, agar peserta didik dapat melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal tersebut mendorong peneliti untuk menyusun soal HOTS. Langkah-langkah yang peneliti lakukan dengan menyusun soal HOTS, yaitu (1) menyusun spesifikasi tes, dengan cara menentukan mata pelajaran dan jenjang peserta didik, menentukan peserta didik yang akan dites, menentukan materi yang akan diuji cobakan, menentukan tipe tes, dan menentukan jumlah soal, (2) membuat kisi-kisi soal berdasarkan kompetensi dasar yang telah dipilih, dan (3) penelitian soal, penelitian soal dilakukan berdasarkan kisi-kisi.
Setelah soal selesai disusun, maka soal divalidasi oleh ahli bahasa dan ahli materi. Validasi dari ahli bahasa bertujuan agar soal dapat mudah dipahami oleh peserta didik, karena menggunakan penelitian serta bahasa yang baik dan benar. Validitas dari ahli materi bertujuan agar soal yang disusun sesuai dengan materi yang telah dipilih serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebelum diujicobakan kepada peserta didik, peneliti merevisi soal tersebut sesuai dengan saran dan komentar dari ahli bahasa dan ahli materi.
Selanjutnya, peneliti dapat melakukan analisis soal yang telah diujicobakan kepada peserta didik dengan menggunakan program QUEST model 1PL (Model Rasch). Kemudian, peneliti dapat mengetahui tingkat kesukaran soal, yaitu mudah, sedang, dan sukar. Pada kondisi ini, penting bagi guru untuk dapat mengembangkan soal berbasis HOTS. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6). Selain itu, dengan mengembangkan soal HOTS, guru dapat mengetahui kesulitan yang dialami oleh peserta didik melalui uji tingkat kesukaran soal.
69 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian Pengembangan instrumen penilaian berbasis HOST pada kompetensi dasar menganalisis transaksi jurnal penyesuaian kelas X akuntansi, termasuk ke dalam jenis penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D). Penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah proses/metode yang digunakan untuk memvaliditas dan mengembangkan produk (Sugoyono, 2015). Penelitian ini dikembangkan dengan prosedur pengembangan menurut Suryabrata (2005) meliputi langkah-langkah, sebagai berikut : (1) Pengembangan spesifikasi tes hasil belajar, (2) Penulisan soal, (3) Penelaahan soal, (4) Perakitan soal, (5) Uji coba tes, (6) Analisis butir soal, (7) Seleksi dan Perakitan Soal (bentuk akhir), (8) Pencetakan tes, (9) Administrasi tes bentuk akhir, (10) Penyusunan skala dan norma.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian di lakukan di tujuh sekolah, yaitu :
a) SMK BOPKRI 1 Yogyakarta yang beralamatkan di Jl. Cik Di Tiro No. 37. Terban, Gondokusuman, Yogyakarta.
b) SMK Putra Tama yang beralamatkan di Jl. Jend A Yani No. 34 Badegan, Bantul, Yogyakarta
c) SMK YPKK 3 Sleman yang beralamatkan di Jl. Ring Road Utara No. 45, Krodan, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta
d) SMK YPKK 1 Sleman yang beralamatkan di Jl. Sidoarum Gamping No. 2, Mejing Wetan, Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta.
e) SMK 17 Seyegan yang beralamatkan di Jl. Godean-Seyegan No. 55561, Druju kidul, Margodadi, Seyegan, Sleman, Yogyakarta.
f) SMK Koperasi Yogyakarta yang beralamatkan di Jl. Kapas I No. 5, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta.
g) SMK Yapemda 1 Sleman yang beralamatkan di Jl. Kali Pentung, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan April s/d Agustus 2018. C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Dalam penelitian ini yang menjadi populasinya adalah peserta didik kelas X Akuntansi dan Keuangan Lembaga SMK tahun ajaran 2017/2018.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 251 peserta didik SMK Akuntansi Kelas X.
D. Prosedur Pengembangan
Menurut Suryabrata (2005) pengembangan instrumen tes meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pengembangan spesifikasi tes
Spesifikasi tes itu menyeluruh, lengkap, dan spesifik menunjuk kepada karakteristik tes yang akan disusun. Spesifikasi tes hasil belajar mencakup 1) Wilayah yang akan dikenai pengukuran, 2) Subjek yang akan dites, 3) Tujuan testing, 4) Materi tes, 5) Tipe soal yang digunakan, 6) Jumlah soal untuk keseluruhan tes dan untuk masing-masing bagianya, 7) Taraf kesukaran soal dan distribusinya, 8) Kisi-kisi tes.
2. Penulisan Soal
Penulisan soal pada dasarnya adalah semacam penciptaan / kreasi. Dalam menulis soal-soal yang baik adalah penguasaan akan mata pelajaran yang akan dites, kesadaran akan tata nilai yang mendasari pendidikan, pemahaman akan karakteristik individu-individu yang dites, kemampuan membahasakan gagasan, dan penguasaan akan teknik penulisan soal, serta kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis soal. Penulisan soal dilakukan oleh dua orang yaitu Novi dan Relly. Penulisan soal dilakukan di Universitas Sanata Dharma. Jumlah soal sebanyak 40 butir, pada setiap butir soal terdapat 5 pilihan jawaban. Soal ini ditujukkan untuk mata pelajaran akuntansi dasar SMK kelas X Akuntansi Keuangan Lembaga dengan waktu pengerjaan soal 100 menit.