• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penurunan Asset

Dalam dokumen ANALISIS PENGARUH CR DER DAN TAT TERHADA (Halaman 65-71)

PT

Tahun Asset Lancar

Kenaikan/

Penurunan

Asset

Lancar

Berdasarkan data pada table 4.2 diatas dapat diketahui bahwa nilai current ratio 10 perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2007- 2016. Tahun 2007 rata-rata current ratio 164% dimana hutang lancar Rp 1 di jamin dengan asset lancar Rp 1,64. Perusahaan yang memiliki CR tertinggi di tahun 2007 yaitu DLTA 417%, dan perusahaan yang memiliki CR terendah MLBI 59%. Sedangkan secara nominal pada tahun 2007 INDF merupakan perusahaan yang memiliki hutang lancar terbesar yaitu 12,8 triliun yang di jamin dengan asset lancar 11,8 triliun.

Tahun 2008 rata-rata current ratio 215% terjadi kenaikan dari tahun 2007 51%. Perusahaan yang memiliki current ratio tertinggi di tahun 2008 yaitu CEKA 735% dan yang terendah yaitu AISA 87%. Kenaikan current ratio tahun ini terutama disebabkab oleh naiknya current ratio PT CEKA yang mencapai

599% dibandingkan tahun 2007, sehingga menyebabkan rata-rata current ratio secara keseluruhan ikut naik. Pada tahun 2008 CEKA mengalami penurunan utang lancar yang sangat signifikan mencapai 87%, sedangkan asset lancar perusahaan turun 11% dari tahun 2007. Secara keseluruhan pada tahun 2008 tercatat 4 perusahaan mengalami kenaikan current ratio yaitu CEKA, FAST, MLBI dan MYOR, untuk PT FAST, MLBI dan MYOR kenaikan ini disebebakn oleh naiknya asset lancar perusahaan. Perusahaan yang mengalami penurunan current ratio pada tahun ini yaitu AISA, DLTA, INDF, ROTI, STTP dan ULTJ, penurunan ini disebebkan oleh kenaikan utang lancar perusahaan yang cukup tinggi.

Tahun 2009 rata-rata current ratio 214%, mengalami penurunan 1% dari tahun sebelumnya. Perusahaan yang memiliki current ratio tertinggi yaitu CEKA 489%, dan yang memiliki current ratio terendah yaitu MLBI 66%. Penurunan current ratio terutama disebabkan oleh turunya CR PT CEKA yang mencapai 245% sehingga menyebabkan rata-rata current ratio pada tahun ini mengalami penurunan. Menurunya current ratio CEKA di sebabkan oleh naiknya hutang lancar yang mencapai 489%, dan turunya asset lancar 8%. Tahun 2009 tercatat 2 perusahaan mengalami penurunan yaitu CEKA dan DLTA masing-masing 245% dan 28%. Sedangkan 8 perusahaan lainya mengalami kenaikan yang bervariasi antara 10%-91%.

Tahun 2010 rata-rata current ratio 226%, mengalami kenaikan 12% dari tahun 2009. Perusahaan yang memiliki CR tertinggi yaitu DLTA 663%, mengalami kenaikan CR signifikan sebesar 163%, sedangkan yang terendah MLBI 94%, mengalami penurunan CR sangat tinggi 322%. Kenaikan rata-rata

current ratio disebabkan oleh naiknya current ratio dari 9 perusahaan. Penyebab kenaikan current ratio untuk MLBI dan DLTA karena terjadi penurunan hutang lancar yang tinggi sedangkan 7 perusahaan yang lainya lebih disebakan oleh kenaikan modal kerja perusahaan tersebut.

Tahun 2011 rata-rata current ratio mengalami penurunan 22% dari tahun 2010 menjadi 203%. Perusahaan yang memiliki current ratio tertinggi DLTA 601%, dan yang terendah MLBI 99%. Penurunan rata-rata current ratio tahun 2011 disebebkan oleh turunya CR dari 6 perusahaan yaitu DLTA, INDF, MYOR, ROTI, STTP dan ULTJ, adapun perusahaan yang mengalami penurunan tertinggi yaitu ROTI mencapai 222%, sementara itu 4 perusahaan lainya mengalami kenaikan CR yang rendah, kecuali AISA yang mencapai61%. Penurunan CR 6 perusahaan ini diesebabkan oleh tingginya kenaikan hutang lancar perusahaan, sebagai berikut: MYOR (77%), STTP (78%) ROTI (60%), INDF (30%), ULTJ (27%) dan DLTA (8%), kemudian ROTI dan ULTJ justru mengalami penurunan asset lancar, masing-masing 11% dan 3%.

Tahun 2012 rata-rata curren ratio189%, mengalami penurunan dari tahun 2011 sebesar 15%. Perusahaan yang memiliki current ratio tertinggi adalah DLTA sebesar 526% dan STTP merupakan perusahaan yang mengalami kenaikan CR tertinggi tahun ini yaitu 88%, sementara current ratio terendah MLBI sebesar 58%. Tercatat 7 perusahaan mengalami penurunan CR yaitu AISA, CEKA, DLTA, INDF, MLBI, ROTI, dan STTP, penyebab turunya CR 7 perusahaan ini disebabkan oleh naiknya utang lancar masing-masing perusahaan yang berkisar 8- 88% di tambah dengan terjadinya penurunan asset lancar 3 perusahaan yaitu AISA turun 11%, CEKA turun 10% dan MLBI 30%.

Tahun 2013 rata-rata current ratio perusahaan makanan dan minuman 197%, terjadi kenaikan 8% dari tahun 2007. Kenaikan ini disebabkan oleh naiknya rata-rata asset lancar ke 10 perusahaan yang mencapai 36%, sementara hutang lancar perusahaan hanya tumbuh sebesar 22%. Pada tahun 2013 tercatat 6 perusahaan mengalami kenaikan current ratio yaitu PT AISA, CEKA, MLBI, ROTI, STTP dan ULTJ, sementara 4 perusahaan lainya mengalami penurunan current ratio yaitu DLTA, FAST, INDF dan MYOR. Pada tahun 2013 PT AISA merupakan perusahaan yang mengalami kenaikan current ratio tertinggi yaitu 48% dan yang terendah yaitu DLTA -50%.

Tahun 2014 rata-rata current ratio kembali mengalami kenaikan sebesar 14% menjadi 211%. Pada tahun ini tercatat 6 perusahaan mengalami kenaikan current ratio, yaitu AISA, FAST, INDF, ROTI, STTP dan ULTJ, kenaikan ini lebih disebabkan oleh turunya hutang lancar perusahaan seperti yang dialamai oleh PT FAST, ROTI, STTP dan ULTJ, sementara itu untuk AISA dan INDF mengalami kenaikan asset lancar perusahaan. Perusahaan yang mengalami penurunan current ratio yaitu CEKA, DLTA, MLBI dan MYOR, penurunan ini disebabkan oleh naiknya hutang lancar perusahaan, dan MLBI merupakan perusahaan yang mengalami kenaikan hutang lancar tertinggi sebesar 120%. Perusahaan yang mengalami kenaikan current ratio tertinggi yaitu AISA 91% dan yang terendah yaitu MLBI -46%.

Tahun 2015 rata–rata current ratio kembali mengalami kenaikan 18% menjadi 229%. Current ratio tertinggi yaitu DLTA 642% dan yang terendah MLBI 58%. Tahun 2015 tercatat 7 perusahaan mengalami kenaikan yaitu CEKA, DLTA, MLBI, MYOR, ROTI, STTP, dan ULTJ, peningkatan current

ratio lebih disebebkan oleh kenaikan asset lancar yang cukup tinggi yang terjadi pada PT CEKA, MYOR, STTP, dan ULTJ, sementara untuk DLTA dan MLBI kenaikan current ratio lebih disebabkan oleh menurunya utang lancar perusahaa. Perusahaan yang mengalami penurunan current ratio yaitu AISA, FAST dan INDF, penurunan ini lebih disebebkan oleh naiknya hutang lancar perusahaan terutama FAST dan AISA yang masing-masing mencapai 84% dan 58%.

Tahun 2016 rata – rata CR mengalami kenaikan yang tinggi sebesar 54% menjadi 289% yang merupakan current ratio tertinggi selama periode penelitian (2007-2016). Current ratio tertinggi dan terendah kembali di tempati perusahaan yang sama yaitu DLTA 760% dan MLBI 68%. Pada tahun 2016 current ratio 8 perusahaan mengalami kenaikan yaitu PT AISA, DLTA, CEKA, FAST, MLBI, ROTI, STTP dan ULTJ, kenaikan ini disebabkan oleh turunya hutang lancar 5 perusahaan yaitu PT AISA, DLTA, CEKA, FAST, dan ROTI, sentara untuk MLBI, STTP dan ULTJ mengalami kenaikan asset lancar yang cukup tinggi masing-masing sebesar 27%, 34% dan 37%.

4.1.2.2 Variabel X2 (Debt to equity ratio)

Debt to equity ratio merupakan perbandingan antara jumlah kewajiban atau utang perusahaan dengan modal yang yang digunakan perusahaan. Rasio ini merupakan salah satu rasio solvabilitas dan menggambar kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang dari pihak luar dengan modal yang dimiliki.

Riccardo (2012) merumuskan Debt to equity ratio sebagai berikut: DER=Total Modal SendiriTotal Kewajiban

x 100%

Penulis melengkapai data DER sebagai salah satu varibel bebas yang mempengaruhi ROE dalam penelitian ini.

Tabel 4.3

Perkembangan Debt to Equity Ratio 10 Perusahaan Makanan dan Minuman

Periode 2007-2016

PT TAHUN

TOTAL

EQUITAS

UTANG

KENAIKAN/

Dalam dokumen ANALISIS PENGARUH CR DER DAN TAT TERHADA (Halaman 65-71)

Dokumen terkait