disertakan daftar pustaka dan lampiran.
commit to user
12
BAB II
LANDASAN TEORI
Landasan teori dalam suatu penelitian akan membantu penulis dalam menganalisis permasalahan yang ada. Mengingat hal tersebut maka dalam suatu penelitian sebaiknya berpegang pada suatu paham atau teori tertentu, sehingga arah dan tujuan penelitian akan lebih jelas dan mudah dikaji.
A. Pengertian Folklor
Secara etimologis kata folklor berasal dari bahasa Inggris folklore, kata dasarnya folk dan lore (Danandjaja, 1997:2). Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu, antara lain, dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, dan lain-lain.
Danandjaja menyimpulkan bahwa folk adalah sinonim dengan kolektif yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat. Lor adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau pembantu pengingat (1997: 2).
Folklor menurut Danandjaja, adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun. Diantara kolektif apa saja,
commit to user
secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (1997: 2).
B. Bentuk Folklor
Folklor jika diperhatikan dari segi bentuknya ada dua, yaitu bentuk lisan dan sebagian lisan (Danandjaja, 1997: 21-22). Bentuk folklor lisan antara lain: 1. Bahasa rakyat, yakni bentuk folklor Indonesia yang termasuk dalam kelompok
bahasa rakyat, adalah logat atau dialek bahasa-bahasa Nusantara.
2. Ungkapan tradisional adalah peribahasa (peribahasa yang sesungguhnya, peribahasa tidak lengkap kalimatnya, peribahasa perumpamaan) dan ungkapan (ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa).
3. Pertanyaan tradisional yakni yang lebih dikenal sebagai teka-teki merupakan pertanyaan yang bersifat tradisonal dan mempunyai jawaban yang tradisional pula.
4. Sajak dan puisi rakyat yakni folklor lisan yang memiliki kekhususan, kalimatnya tidak berbentuk bebas, tapi terikat. Sajak dan puisi rakyat merupakan kesusastraan yang sudah tertentu bentuknya, baik dari segi jumlah larik maupun persajakan yang mengakhiri setiap lariknya. Termasuk ke dalam jenis ini adalah parikan, rarakitan, wawangian, dan lain-lain.
5. Cerita prosa rakyat, yakni jenis folklor yang paling banyak diteliti oleh para peneliti/ ahli folklor. Cerita prosa rakyat dapat dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu: (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale).
6. Nyanyian rakyat adalah salah satu genre atau bentuk folklor yang terdiri atas kata-kata dan lagu, yang beredar secara lisan diantara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional serta banyak mempunyai varian.
Bentuk folklor yang sebagian lisan terdiri atas dua macam, yaitu (1) kepercayaan rakyat, yang seringkali juga disebut takhayul adalah kepercayaan yang oleh orang berpendidikan Barat dianggap sederhana, tidak berdasarkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (Danandjaja, 1997: 153); dan (2) permainan rakyat dianggap tergolong ke dalam folklor karena memperolehnya melalui warisan lisan, terutama berlaku pada permainan rakyat kanak-kanak karena permainan ini disebarkan hampir murni melalui tradisi lisan dan banyak di antaranya disebarluaskan tanpa bantuan orang dewasa, seperti orang tua mereka atau guru sekolah mereka (Danandjaja, 1997: 171).
Pendekatan folklor terdiri atas tiga tahap, yaitu pengumpulan, pengulangan, dan penganalisisan. James Danandjaja (Danandjaja, 1997: 181). berpendapat, ada tiga tahap yang harus dilakukan oleh seorang peneliti di objek penelitian.
1. Tahap Pra Penelitian di Tempat
Sebelum memulai penelitian, yaitu terjun ke tempat atau daerah, penelitian hendak melakukan penelitian suatu bentuk folklor, harus mengadakan persiapan matang, jika hal ini tidak dilakukan maka usaha penelitian akan mengalami banyak hambatan yang seharusnya tidak akan terjadi.
commit to user 2. Tahap Penelitian di Tempat Sesungguhnya
Tahap ini dimaksudkan untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan informan, maka sebagai peneliti harus jujur, rendah hati, dan tidak bersikap menggurui. Sikap yang demikian akan membuat informan dengan cepat menerima dan memberikan semua keterangan yang diperlukan. Sedangkan cara yang dapat dipergunakan untuk memperoleh semua bahan folklor di tempat adalah melalui wawancara dengan informan dan melakukan pengamatan. 3. Cara Pembuatan Naskah Folklor bagi Kearsipan
Pada setiap naskah koleksi folklor harus mengandung tiga macam bahan yaitu: a. Teks bentuk folklor yang dikumpulkan,
b. Konteks teks yang bersangkutan,
c. Pendekatan dan penilaian informasi maupun pengumpulan folklor. (James Danandjaja, 1997: 193).
Jadi kesimpulannya folklor adalah sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun dan jika folklor itu belum diakui atau dipercaya oleh masyarakat, maka bukan termasuk cerita rakyat. Masyarakat di Desa Berjo sebagai pemilik cerita termasuk masih melaksanakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang timbul karena adanya cerita tersebut.
C. Pengertian Cerita Rakyat
Cerita rakyat adalah bentuk penuturan cerita yang pada dasarnya tersebar secara lisan, diwariskan secara turun-temurun di kalangan masyarakat pendukungnya secara tradisional. Cerita rakyat yang di dalam bahasa Inggris
disebut dengan istilah folkate adalah sangat inklusif. Secara singkat dikatakan bahwa setiap jenis cerita yang hidup di kalangan masyarakat, yang ditularkan dari mulut ke mulut adalah cerita rakyat. Cerita rakyat meliputi mite, legenda dan dongeng (Supanto, 1982: 48)
Cerita prosa rakyat dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu :
a. Mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita, mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa, peristiwa terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti dikenal sekarang dan terjadi pada masa lalu.
b. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. c. Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan
mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite, legenda ditokohi oleh manusia, walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa dan sering kali juga dibantu makluk-makluk ajaib. Tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang dikenal kini, karena waktu terjadi belum terlalu lampau (Bascom, 1965b: 3-20). Legenda dapat digolongkan ke dalam empat kelompok, seperti dikemukakan Jan Harold Brunvand (dalam Danandjaja, 1997: 67), yaitu (1) legenda keagamaan (religious legends), (2) legenda alam gaib (supernatural legends), (3) legenda perseorangan (personal legends) dan (4) legenda setempat (local legends).
Dapat disimpulkan cerita rakyat adalah cerita yang sebagai bagian dari folklor mengandung survival dan disebarkan secara lisan, secara turun temurun
commit to user
dari mulut ke mulut disebarkan diantara kolektif tertentu dalam waktu cukup lama. Cerita rakyat berfungsi sebagai media pendidikan, pengajaran dan sekaligus sebagai pelipur lara
D. Fungsi Cerita Rakyat
Menurut Wiliam R. Bascom dalam James Danandjaja,1994: 19), fungsi cerita rakyat sebagai folklor adalah sebagai berikut :
1. Sebagai sistem proyeksi (projective system) yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kolektif. Fungsi ini dapat diwujudkan salah satunya dengan sarana pengukuhan tempat keramat.
2. Sebagai alat pengesahan pranata-pranata lembaga kebudayaan. Fungsi ini dapat terwujud oleh adanya lembaga yang pada saat ini terus menggali dan menyelamatkan kebudayaan yang hampir punah dengan bentuk cagar budaya ataupun bentuk lainnya.
3. Sebagai alat pendidikan anak (pedagocical device).
4. Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi anggota kolektifnya.
E. Ciri Pengenal Folklor
Folklor memiliki sembilan ciri pengenal utama. Ciri pengenal folklor ini dapat dijadikan pembeda folklor dari kebudayaan lainnya (Danandjaja, 1997: 3-4). Kesembilan ciri pengenal itu sebagai berikut.
1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan yakni desebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya;
2. Bersifat tradisional, disebarkan dalam bentuk relative tetap (standar);
3. Folklor ada (exist) dalam versi-versi bahkan dalam varian-varian yang berbeda lantaran tersebar secara lisan dari mulut ke mulut;
4. Bersifat anonim, nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi;
5. Folklor biasanya memiliki bentuk berumus atau berpola memiliki formula tertentu dan mamanfaatkan bentuk bahasa klise;
6. Folklor mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif (alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendam);
7. Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum (ciri ini berlaku baik bagi folklor lisan maupun folklor sebagian lisan);
8. Menjadi milik bersama dari kolektif tertentu, hal ini disebabkan oleh pencipta pertama sudah tidak diketahui lagi;
9. Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali kelihatan kasar, terlalu spontan; hal demikian dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia-manusia yang paling jujur manifestasinya.
commit to user
Sejalan dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai maka pembicaraan secara teoritis tentang folklor berkisar sekitar cerita (prosa) rakyat meliputi mite, legenda, dan dongeng.
F. Pengertian Mitos
Mite (myth) adalah cerita prosa rakyat dianggap benar-benar terjadii dan suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain bukan yang kita kenal sekarang dan terjadi pada masa lampau (James Danandjaja, 1994:50). Mitos juga merujuk pada cerita dalam sebuah kebudayaan, mempunyai kebenaran mengenai perkara masa dahulu. Mitos memiliki dogma yang dianggap suci dan mempunyai konotasi upacara.
Mitos itu ada yang berasal dari Indonesia dan ada yang berasal dari luar negeri. Mitos dari luar negeri pada umumnya telah mengalami pengolahan dan perubahan lebih lanjut, sehingga tidak terasa asing lagi yang disebabkan oleh proses adaptasi perubahan jaman. Masyarakat Jawa tidak hanya mengambil mitos dari India melaikan telah mengadaptasi dewa-dewa India menjadi dewa Jawa. Bahkan orang Jawa percaya kisah itu terjadi di Jawa. Mitos di Indonesia biasanya menceritakan terjadinya alam semesta, terjadinya susunan para dewa, terjadinya manusia pertama, dunia dewata, dan terjadinya makanan pokok.
Dapat disimpulkan mitos adalah cerita paling berharga karena suci dan bermakna, sehingga mitos mampu memberikan arah dan pedoman tingkah laku manusia sehingga mampu bersikap bijaksana karena manusia tidak bisa dengan
mitos begitu saja, meskipun kebenaran mitos belum menjamin dan dapat dipertanggungjawabkan.
G. Upacara Tradisional
Upacara tradisional adalah kegiatan sosial yang melibatkan warga masyarakat dalam usaha mencapai tujuan keselamatan bersama. Upacara tradisional merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat pendukungnya. Kelestarian hidup upacara tradisional dimungkinkan oleh fungsinya bagi kehidupan, dapat mengalami kepunahan bila tidak memiliki fungsi sama sekali (Supanto, 1992:5).
Upacara tradisional merupakan satu kesatuan dinamis yang bermakna sebagai perwujudan nilai-nilai pada zamannya. Upacara tradisional mengandung berbagai aturan yang wajib dipatuhi. Aturan itu tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat secara turun-temurun. Dan peranan yang dalam melestarikan ketertiban hidup masyarakat. Kepatuhan anggota masyarakat terhadap aturan dalam bentuk upacara tradisional disertai keseganan atau ketakutan mereka terhadap sanksi bersifat sakral magis. Dengan demikian upacara tradisional itu dapat dianggap sebagai bentuk pranata sosial tidak tertulis, namun wajib dikenal dan diketahui oleh setiap warga, untuk mengatur sikap tingkah laku mereka agar tidak melanggar adat kebiasaan yang berlaku.
commit to user
21
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini yaitu di Dusun Tlogo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Dipilihnya Dusun Tlogo tersebut sebagai lokasi penelitian dikarenakan di dusun inilah terdapat telaga yang akhirnya memunculkan cerita rakyat tersebut.
B. Jenis dan Bentuk Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian folklor dengan mengunakan tiga macam tahap yaitu pengumpulan, penggolongan, dan penganalisaan. Bentuk penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu data-data yang dikumpulkan berwujud naturalistik. Artinya dalam pelaksanaan penelitian ini terjadi secara ilmiah, apa adanya, dalam situasi normal tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya, serta menekankan pada deskripsi ilmiah. Penelitian ini menggunakan perspektif fenomenologis, berusaha memahami makna peristiwa dan interaksi manusia dalam situasi tertentu (Atar Semi, 1990: 25-26).
Penelitian deskriptif kualitatif, adalah pengumpulan data berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Data yang dimaksud untuk memberikan gambaran penyajian laporan. Data berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, video, tape recorder, catatan dan memo, buku-buku penunjang
dan dokumen resmi lainnya, (Lexy J. Moleong, 2010: 11). Tujuan penelitian deskriptif kualitatif adalah memperoleh gambaran atau deskripsi mengenai kualitas dari objek kajian yang berbentuk cerita rakyat atau folklor.
Penelitian ini dilakukan secara langsung ke lapangan. Peneliti mendata, memproses dan menganalisis data. Peneliti adalah kunci utama penelitian, sehingga peneliti harus teliti agar bisa tercapai penelitian yang akurat dan sempurna, data yang diperoleh sesuai dengan fakta yang berada di lapangan.
C. Sumber Data dan Data
1. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu orang atau informan, tempat (Desa Berjo dan Telaga Madirda), dan peristiwa (Upacara Nyadra, bersih dusun dan padusan). Orang yang diperkirakan mengetahui Cerita Rakyat Telaga Madirda adalah juru kunci, masyarakat setempat, masyarakat pendatang atau pengunjung serta tokoh-tokoh masyarakat. Alasan pemilihan informan mengacu pada informan yang mengetahui Cerita Rakyat Telaga Madirda. jarak tempat tinggal informan dengan Telaga Madirda, dan umur informan + 14-55 tahun yang mengetahui tentang cerita Rakyat Telaga Madirda. Selain itu tempat observasi dalam penelitian ini berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara kepada:
commit to user
3. Tokoh-tokoh masyarakat, yaitu Bambang Santosa selaku pegawai kelurahan. 4. Peziarah, antara lain; Hadi Purwoko, Agus Setiana, Slamet Darayanto dan
Farid.
Sumber data yang lain dalam penelitian ini adalah buku-buku dan foto-foto yang terkait dengan Cerita Rakyat Telaga Madirda.
2. Data penelitian
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data dari hasil wawancara yang berupa informasi dan kata-kata yang diucapkan oleh informan yaitu juru kunci, penduduk sekitar (Sunardi, Sularmi, Sukarni dan Afnan Malik yang diwawancara penulis), tokoh masyarakat (Bambang Santosa), dan peziarah (Hadi Purwoko, Agus Setiana, Slamet Darayanto dan FaridData yang lain yaitu foto atau gambar yang memberikan informasi tentang Cerita Rakyat Telaga Madirda berupa gambar peninggalan-peninggalan dan tradisi masyarakat.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi Langsung (Tempat dan Peristiwa)
Penggunaan teknik observasi langsung dalam penelitian ini untuk mendapatkan keterangan langsung mengenai Cerita Rakyat Telaga Madirda. Untuk mengamati fenomena yang ada di luar untuk diungkapkan secara tepat. pengamat menggunakan alat indra secara langsung dan alat bantu misalnya alat perekam; kamera dan video. Hal ini fungsinya untuk memudahkan dalam pengamatan karena dapat diputar kembali.
2. Wawancara
Wawancara adalah salah satu cara pengumpulan data dalam penelitian kepada narasumber.
Bentuk wawancara untuk penelitian folklor ada dua macam yaitu wawancara yang terarah dan wawancara tidak terarah. Wawancara terarah adalah wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah tersusun sebelumnya dalam bentuk suatu daftar tertulis. Sedangkan wawancara tidak terarah adalah wawancara yang bersifat bebas, santai dan memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada informan untuk memberikan keterangan yang ditanyakan (James Dananjaya, 1991: 195). Alasan peneliti menggunakan teknik penelitian berupa wawancara adalah akan mendapat hasil yang memuaskan.
Pedoman wawancara yang peneliti gunakan adalah bentuk “Semi Structured” dalam hal ini maka mula-mula interview menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dengan mengorek keterangan lebih lanjut (Depdikbud, 1995). Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam mengenai Cerita Rakyat Telaga Madirda
Para informan yang diwawancarai berjumlah 7 orang dan dipilih berdasarkan usia (antara 14-55 tahun), jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Informan yang diperkirakan mengetahui Cerita Rakyat Tealaga Madirda, antara lain : 1) Juru Kunci, 2) Tokoh Masyarakat, 3) Masyarakat Sekitar, 4) Masyarakat Pendatang atau Peziarah, dan 5) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
commit to user 3. Content Analysis
Teknik Content Analysis merupakan metodologi penelitian yang memanfaatkan prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau dokumen (Lexy J. Moleong, 2010: 163). Melalui Content Analysis data yang diperoleh secara cermat untuk dapat diambil kesimpulan mengenai data yang dapat digunakan data penelitian ini serta hal-hal penting yang menjadi pokok persoalan penelitian.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data bertujuan untuk mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Lexy J. Moeleong, 2010: 280). Sedangkan menurut Milles dan Huberman (dalam HB. Sutopo, 1990:30) dengan mengunakan metode interaktif yaitu penelitian yang bergerak diantara 3 komponen. Yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Wujud data merupakan suatu kesatuan siklus yang menempatkan peneliti tetap bergerak di antara ketiga siklus.
Tahap-tahap yang digunakan dalam analisis data penelitian adalah sebagai berikut:
Pertama-tama peneliti mengumpulkan data-data dari informan. Setelah data didapat maka data cerita dibandingkan dan direkontruksi. Data yang direkontruksi kemudian disusun agar menjadi sebuah cerita yang utuh dan relatif lengkap.
Dalam analisis bentuk cerita peneliti mengunakan teori folklor tentang bentuk cerita prosa rakyat. Cerita yang sudah utuh yang didapat dari hasil perbandingan cerita kemudian digolongkan ke dalam bentuk cerita prosa rakyat yaitu legenda.
Analisis yang kedua peneliti mengumpulkan data-data dengan memotret peninggalan-peninggalan yang terkait dengan cerita. Data yang telah didapat kemudian ditelusuri tentang keterkaitan peninggalan dengan cerita. Keterangan yang didapat kemudian dideskripsikan satu per satu.
Analisis yang ketiga peneliti mengumpulkan data-data dengan memotret peristiwa-peristiwa upacara tradisi yang terkait dengan cerita. Data yang telah didapat kemudian ditelusuri tentang keterkaitan upacara tradisi dengan cerita. Keterangan yang didapat kemudian dideskripsikan satu per satu.
Analisis yang keempat peneliti mengumpulkan data-data dengan mencari informasi kepada masyarakat. Informasi yang didapat mengenai tentang tradisi-tradisi yang timbul karena adanya Cerita Rakyat Telaga Madirda. Tradisi-tradisi-tradisi tersebut kemudian diungkapkan satu per satu.
commit to user
27
PEMBAHASAN
A. Profil Masyrakat Desa Berjo 1. Karakteristik Masyarakat Desa Berjo
Desa Berjo adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Desa Berjo berada dilereng Gunung Lawu, karena letak geografis desa ini berada dilereng pegunungan desa ini memiliki suasana yang sejuk walaupun disiang hari yaitu dengan suhu rata-rata 30-36ºC. Desa dengan luas wilyah 1.623.865 Ha ini jauh dari keramaian kota sehingga bisa dibilang masyarakat Desa Berjo adalah masyarakat desa.
Masyarakat desa merupakan masyarakat dengan ciri, karakteristik dan jati diri yang unik. Unik disini dimaksudkan adalah berbeda dengan masyarakat kota atau masyarakat pinggiran kota. Hal inilah yang menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat desa. Keunikan, ciri khas dan jati diri inilah yang membuat desa dikenal dan memiliki arti. Dengan memiliki keunikan maka masyarakat luar dapat dengan mudah mengetahui dan memahami karakteristik dari penduduknya.
Kehidupan keseharian masyarakat Desa Berjo setelah selesai bekerja biasanya bersantai dengan keluarga. Sering kali mereka juga berkumpul dengan tetangga. Banyaknya waktu untuk bebincang dan berkumpul menjadikan suasana yang terbangun adalah suasana kekeluargaan dengan penuh keakraban.
Berikut pemaparan dari hasil dan pengamatan mengenai karakteristik dari masyrakat Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar.
beberapa bulan dengan lebih dari 8 kali kunjungan ke Desa Berjo. Mengenai karakteristik masyarakat Desa berjo secara umum diuraikan sebagai berikut
a. Sederhana
Sederhana mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Desa Berjo. Kesederhanaan masyarakat Desa Berjo sangat terlihat dari kehidupan keseharian yang mereka jalani. Kesederhanaan yang dilakukan oleh masyarakat desa disebabkan oleh dua hal yaitu:
1) Secara Ekonomi Memang Kurang Mampu.
Jika dilihat dari hasil pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat Desa Berjo yang sebagian besar bekerja sebagai petani gurem dan buruh tani sangat tidak mungkin untuk bersikap royal. Hal ini dikarenakan oleh jumlah pendapatan yang diterima dari hasil kerja keras (bertani atau menjadi buruh tani) tidak seimbang (lebih besar pengeluaran dibanding pendapatan). Dengan melihat berapa besar pedapatan yang diperoleh maka tidak mungkin masyarakat desa Berjo menyombongkan diri (bersikap tidak sedehana)
2) Secara Budaya Memang Tidak Menyombongkan Diri.
Masyarakat desa merupakan masyarakat dengan karakteristik tidak suka pamer dan selalu menjujung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Masyarakat desa tidak ingin melukai perasaan tetangga dengan bersikap yang tidak biasa (menyimpang dari tradisi). Mereka sadar ketika bersikap diluar dari
commit to user
mendapatkan sanksi sosial baik berupa gunjingan ataupun pengucilan dari pergaulan bermasyarakat.
b. Menjujung Tinggi Kesopanan (Unggah-Ungguh)
Masyarakat Desa Berjo sangat menjujung tinggi nilai-nilai kesopanan. Hal ini terbukti dari beberapa sikap dan perilaku yang ditunjukkan. Sikap dan perilaku sopan terlihat apabila bertemu dengan orang yang lebih tua atau dituakan, berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi dan keilmuaan (tingkat pendidikan) , berhadapan atau bertemu dengan pejabat dan bertemu dengan orang asing yang kelihatan berwibawa. Adanya sikap sopan tersebut