BAB VI LAPORAN STUDI KASUS
C. Penutup
Masalah studi kasus merefleksikan hubungan yang kompleks, terkondisikan, dan bermasalah. Mereka membuat perhatian tertuju pada pengalaman yang biasa dan juga terhadap disiplin pengetahun (contoh, sosiologi, ekonomi, etnis, kritik pendidikan). Berawal dari desain eksperimen dan hipotesis testing, peneliti kasus kualitatif berfokus pada hubungan penghubungan praktek biasa dalam habitat lingkungan alami terhadap beberapa faktor dan perhatian pada disiplin akademik. (Isu “brought in” disebut isu “etik”; yang ditemukan dilapangan bernama “emik”) ulasan yang lebih luas mengenai hubungan diaplikasikan pada kasus tertentu.
Kedua masalah dalam paragraph sebelumnya dituliskan untuk sebuah kasus tertentu (particular). Apabila mereka penting terhadap studi kasus ganda, kajian pastinya akan muncul lagi dengan cara yang lebih general, mungkin seperti ini: “Apakah perubahan dalam standard standard perekrutan siswa tidak lagi sama dengan perilaku afirmatif yang dibutuhkan dalam standard-standard kinerja?” Mengubah “Did” (lampau) dengan “Does” (umum) mengubah cara berfikir dari particular menjadi general.
Kajian disebutkan untuk gneralisasi atau untuk pengkhususan, pengurutan pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya bisa memperdalam pengertian dari penemuan yang didapat. Quintains seringkali lebih banyak dimengerti dengan melihat masalah masalah yang dihadapi daripada melihat efisiensi atau produktivitas hasil yang didapat. Mulai dari sebuah topic, para peneliti kasus mempertimbangkan masalah yang telah digarisbawahi, bekonsentrasi pada observasi yang berkaitan dengan masalah dihadapi, interpretasi pola data, dan merumuskan ulang masalah-masalah tersebut sebagai penemuan atau pernyataan yang tegas.
Sama halnya dengan tersebut, peneliti kasus ganda meulai dengan quintain, mengurutkan kasus studi dalam hal masalah-masalah situasionalnya sendiri, interpretasi di dalam masing-masing kasus, dan lalu menganalisa penemuan-penemuan cross-case untuk membuat penjelasan perihal keterikatan yang terjadi. Sebuah contoh dimana masalah bisa berubah muncul dalam bagian hipotesis adalah sebuah studi kasus dalam program edukasi.
Untuk proyek kasus ganda dan studi kasusnya, pemilihan pertanyaan-pertanyaan masalah adalah bagian yang krusial. Dalam mendesain studi studi, para peneliti bertanya, “Pertanyaan masalah manakah yang menyebabkan kekhawatiran kita muncul? Manakah yang mungkin ternyata tema dominan untuk keseluruhan studi?” Untuk memaksimalkan pengertian masing-masing kasus, peneliti konsisten bertanya, “Masalah manakah yang paling unik?” Untuk studi kasus ganda, mereka bertanya, ”Masalah manakah yang membantu untuk mengerti quintain?”
Rumusan-rumusan masalah dari studi yang cenderung pada kuantitatif maka akan “dirumuskan”, bahwa mereka cenderung ditunjukkan dalam hal faktor atau variabelnya, dan terkadang persamaan regresi. Contoh-contoh dari pertanyaan yang dirumuskan termasuk “Apakah stabilitas organisasiona/lembaga bergantung hampir seluruhnya pada unsur, latihan, dan loyalitas staf?” dan “Apakah penemuan-penemuan dalam edukasi sains merupakan fungsi dari prioritas pemerintah dan komunitas ilmuwan?” Beberapa pertanyaan masalah mengimplikasikan hubungan sebab dan akibat.
Masalah-masalah ini dipergunakan untuk mengurutkan studi kasus ganda namun bisa saja dan bisa juga akan digunakan dalam merumuskan laporan akhir. Beberapa kasus akan memberikan informasi khusus dan berkontribusi sedikit terhadap pengertian cross-case. Beberapa kasus akan menyediakan pandangan yang baru ke dalam hubungan-hubungan kasus ganda secara berurutan.
Selanjutnya adalah langkah untuk merumuskan suatu judul penelitian memulai dari paradigma yang dilandasi oleh metode penelitian. Tujuan hakikat realitas, cara memperoleh sumber bukti/data analisis-analisis data dan penggunaan tehnik analisis disesuaikan dengan program studi penelitiannya sampai dengan temuannya. Oleh karena itu merumuskan masalah penelitian diperlukan kecermatan dan kehati-hatian untuk menanggapi dan memahaminya terhadap persyaratan ilmiah yang berimplikasi luas, mulai dari elemen sub-stantif, teoritik maupun metodologis dan dilandasi oleh beberapa persyaratan ilmiah sebagai berikut :
1. Memenuhi persyaratan tentang kebaharuan penelitian (novelty) yang berangkat dari kajian terdahulu untuk melakukan pemetaannya terdiri dari: (a) definisi istilah operasional untuk kajian, (b) pendekatan kajian, (c) model dan strategi kajian, (d) langkah dan pengembangan kajian.
2. Pengadaan dan terwujudnya sumber bukti data yang informatif.
3. Kajian memberi kontribusi dari implikasi teoritik yang mempunyai manfaat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat luas mendatang.
4. Oleh karena itu kajian mempunyai unsur yang unik, yaitu perihal yang berhubungan dengan situasi-kondisi kontroversial dan muncul beda yang sedang berkembang pada kondisi sosial disekitar pertiva pada fakta atau gejala yang akan dilakukan kajian.
Penelitian studi kasus dilakukan secara mendalam dan di dialektik yang menghubungkan sumber butki satu dengan yang lain kemudian secara keseluruhan, yaitu untuk memahami (understanding) dari berbagai unsur dan
elemen tertentu sebagai gambaran secara (lil-dzati maupun lil-ghairi) (the fact
existence dan the truth existence).
Pendalaman studi kasus tidak dibatasi pada kasus yang diteliti saja, melainkan dapat diperoleh dari pihak-pihak terkait yang betul-betul memahami kasus tersebut. Oleh karena penelitian studi kasus diperlukan informan yang handal yaitu memenuhi syarat informan “maximum variety” adalah informan memahami betul tentang masalah yang diteliti.
DAFTAR RUJUKAN
Arifin, Zainal, Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru, Bandung; PT. Remaja Rosdakrya, 2012.
Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta; PT. Rineka Cipta, 2002.
Achmadi, Cholid Narbuto dan Abu, Metodologi Penelitian, Jakarta; Bumi Aksara, 2001.
Ahmadi, Rulam, Memahami Upaya Penelitian Kualitatif, Malang; Universitas Negeri Malang, 2005.
Glaser, B.G., dan Strauss, A., 1967, The Discovery Of Grounded Theory, Chicago; Sedine.
Gunawan, Imam, Metode Penelitian Kualitatif Tori dan Praktek, Jakarta; Bumi Aksara, 2013.
Hadi, Sutrisno, 2006, Metodologi Research Jilid 3, Yogyakarta, Andi Offset. Ibrahim, Nana Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung; Sinar
Baru, 1989.
J. Moelong, Lexy, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2010.
Lincoln, Y.S., & Guba, E. G. 1985. Naturalistic Inquiry, Sage Publication, California.
Manab, Abdul, Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kalimedia; 2015. Margon, Gareth, 1983, The Case Of Qualitative Research, Beverly Hills, C.A.
Sage.
Miles, B.M. dan Haberman, M.A., 1984. Qualitative Data Analysis. Sage Publication, California.
Moleong, Lexy J, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000.
Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2010.
Riyanto, Yatim, Metodologi Penelitian, Surabaya; SIC; 2004.
Spradly, J.P., (1980), Ethnographic Interview, New York, Holct, Renehart. Spradly, J.P., (1980), Participan Observasion, New York, Holct, Renehart.
Stake, R. E. and Easly, J.A., 1978, Case Studies in Science Education, Univercity Of Seliones, Urbana.
Stake, R. E. and Easly, J.A., 1982, The Meta – Evaluation Case Study, Unpublished.
Stake, R. E. and Easly, J.A., 1977, Case Studies Methode in Quiry.
Sudjana, Nana dan Ibrahi, 2006, Peneltian dan Penilaian Pendidikan, Bandung; Sinar Baru.
Sugiono, 2006, Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R &
D, Bandung; Alfabeta.