• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur dan Komposisi Studi Kasus

Dalam dokumen MENGGAGAS PENELITIAN PENDIDIKAN (Halaman 142-145)

BAB VI LAPORAN STUDI KASUS

B. Struktur dan Komposisi Studi Kasus

Bab, sesi, sub-topik, dan komponen lain laporan harus diatur dalam sebuah cara, dan mendirikan komposisi laporan studi kasus. Mengikuti struktur tersebut telah menjadi topik bagi perhatian dengan metodologi lain. Demikian pula, pada etnografi, telah dikembangkan konsep serta untuk melaporkan hasil kerja lapangan. Ia mengidentifikasi beberapa tipe talenta yang berbeda dalam pendidikan.

Beberapa alternatif juga tersedia dalam penataan laporan studi kasus. Sesi ini menyarankan enam struktur ilustrasi yang dapat digunakan pada semua tipe format studi kasus yang telah disebutkan. Ilustrasi-ilustrasi tersebut dideskripsikan terutama dalam hubungan pada komposisi studi kasus tunggal, walaupun prinsipnya telah dengan mudah dijelaskan ke dalam laporan beberapa kasus. Semua yang dapat diaplikasikan untuk deskriptif, exploratory, dan studi kasus explanatory. Yang keempat dapat digunakan terutama untuk exploratory dan studi kasus explanatory, yang kelima untuk kasus explanatory, dan yang keenam untuk kasus deskriptif.

Enam Struktur dan Pengaplikasiannya pada Tujuan Studi Kasus yang Berbeda

Tipe Struktur Komposisi

Tujuan Studi Kasus (tunggal atau beberapa kasus)

Explanatory Deskriptif Exploratory

1. Analisis Linear X X X 2. Comparatif X X X 3. Kronologis X X X 4. Penyusunan teori X X 5. Bedaan X 6. Tidak berurutan X

1. Struktur Analisis Linier

Ini adalah pendekatan standar untuk penyusunan laporan penelitian. Urutan subtopik dimulai dengan persoalan atau permasalahan

yang dipelajari dan ulasan literatur awal yang relevan. Subtopik kemudian diproses untuk melingkupi metode yang digunakan, penemuan dari data yang dikumpulkan dan dianalisis, dan kesimpulan dan implikasi dari penemuan.

Kebanyakan artikel jurnal pada kasus eksperimental ilmiah merefleksikan tipe struktur ini sebanyak studi kasusnya. Struktur ini nyaman bagi kebanyakan peneliti dan mungkin menjadi yang paling menguntungkan ketika rekan penelitian dari studi kasus. Bahwa strukturnya dapat diaplikasikan pada studi kasus explanatory, deskriptif, atau exploratory. Contohnya, kasus exploratory mungkin mencakup persoalan atau permasalahan yang dijelaskan, metode eksplorasi, penemuan dari eksplorasi, dan kesimpulan (untuk penelitian lebih lanjut). 2. Struktur Komparatif

Struktur komparatif mengulang studi kasus yang sama dua kali atau lebih, membandingkan deskripsi alternatif atau penjelasan dari kasus yang sama. Pada buku ini, penulis mengulang “fakta” studi kasus tiga kali, tiap pengulangan berhubungan denga model konseptual yang berbeda. Tujuan dari pengulangan adalah untuk menunjukkan tingkat yang faktanya cocok pada masing-masing model, dan pengulangan biasanya mengilustrasikan teknik mencocokkan pola dalam pekerjaannya.

Pendekatan yang hampir sama dapat digunakan bahkan jika studi kasus menyajikan deskriptif, dan bukan tujuan explanatory. Kasus yang sama dapat dideskripsikan berulang kali, dari sudut pandang yang berbeda atau dengan model deskriptif yang berbeda, untuk mengerti bagaimana kasus dapat dikategorikan dengan baik untuk tujuan deskriptif - hampir sama dengan membuat analisis variasi lain pada pendekatan komparatif masih memungkinkan, tetapi ciri utamanya adalah keseluruhan studi kasusnya (atau hasil dari analisa antar kasus ketika mengerjakan beberapa studi kasus) diulang dua kali atau lebih, secara terang-terangan pada mode komparatif.

3. Struktur Kronologis

Karena secara umum studi kasus mencakup peristiwa dari waktu ke waktu, pendekatan tipe ketiga ini menyajikan bukti studi kasus dalam urutan kronologis. Di sini, urutan bab atau sesi mengikuti fase awal, pertengahan dan akhir pada sejarah kasus. Pendekatan ini dapat menyajikan tujuan penting dalam melakukan studi kasus explanatory karena dugaan urutan kausal harus muncul secara linear dari waktu ke waktu. Tika dugaan dari sebuah peristiwa muncul setelah peristiwa tersebut terjadi, seseorang harus memiliki alasan untuk mempertanyakan awal dari persoalan kausalnya.

Baik untuk tujuan explanatory maupun deskriptif, pendekatan kronologis memiliki satu jebakan yang harus dihindari; memberikan perhatian yang tidak seimbang kepada peristiwa awal dan tidak cukup perhatian pada bagian akhir. Pada umumnya, peneliti akan mengeluarkan

usaha yang berlebihan pada penyusunan pengantar kasus, termasuk sejarah dan latar belakang awal, dan meninggalkan waktu yang kurang untuk menulis status terkini kasus tersebut. Namun, banyaknya minat pada kasus mungkin berdasarkan pada banyaknya peristiwa terkini. Hingga, sebuah rekomendasi ketika menggunakan struktur kronologis adalah mengonsep studi kasus dari depan ke belakang. Bab atau sesi tersebut adalah tentang status terkini kasus tersebut harus dikonsep pertama, dan hanya setelah konsep tersebut lengkap, selanjutnya mengonsep latar belakang kasus. Pada saat semua konsep telah lengkap, dapat kembali pada urutan kronologis normal kemudian memperbaiki versi akhir studi kasus.

4. Struktur Pembangunan Teori

Pada pendekatan ini, urutan bab atau sesi akan mengikuti beberapa logika pembangunan teori. Logika tersebut bergantung pada topik dan teori tertentu, tetapi setiap bab atau sesi harus membuka bagian baru dari argumen teoritis yang dibentuk. Jika terstruktur dengan baik, keseluruhan urutan dan keberlangsungannya dari ide kunci dapat menghasilkan studi kasus yang menarik dan impresif.

Pendekatan ini relevan untuk studi kasus explanatory dan exploratory, keduanya dapat dihubungkan dengan pembangunan teori. Kasus explanatori akan memeriksa aspek dari argumen kausal yang bervariasi; kasus exploratory akan berdebat tentang pentingnya pemeriksaan lebih lanjut hipotesa atau permasalahan yang bervariasi. 5. Struktur Fungsi Data

Struktur ini membalikkan analisis linear yang dideskripsikan sebelumnya. “Jawaban” langsung atau hasil dari studi kasus dan manfaat nyatanya, secara bertentangan, disajikano pada bab atau sesi awal. Sisa studi kasus - bagian paling menegangkan menonjol dibalikkan untuk perkembangan penjelasan hasil studi kasus ini, dengan penjelasan alternatif yang dipertimbangkan dalam bab atau sesi berikutnya.

Pendekatan tipe ini relevan terutama untuk studi kasus explanatory, karena studi kasus deskriptif tidak memiliki hasil yang penting. Ketika digunakan dengan baik, pendekatan ketegangan ini sering pengikutsertaan struktur komposisi.

6. Struktur Tidak Berurutan

Struktur tidak berurutan adalah salah satu yang urutan bab atau sesinya mengasumsikan tidak adanya kepentingan tertentu. Struktur ini sering menandai untuk studi kasus deskriptif. Pada dasarnya sesuatu dapat mengganti urutan bab pada buku tersebut dan tidak mengubah nilai deskriptifnya.

Studi kasus deskriptif sebuah organisasi sering mempertunjukkan karakteristik yang sama. Studi kasus tersebut menggunakan bab atau sesi yang terpidah untuk mencakup asal dan sejarah organisasinya, kepemilikan dan pegawainya, lini produknya, lini formal dari organisasi,

clan status keuangannya. Urutan tertentu pada bab atau sesi tersebut disajikan dengan tidak kritis dan oleh karena itu dianggap sebagai pendekatan tak berurutan.

Apabila struktur tidak berurutan digunakan, peneliti perlu menghadiri satu permasalahan lain: tes kelengkapan. Dengan demikian, walaupun urutan bab atau sesinya tidak penting, perlengkapan kesuluruhannya tetap penting. Apabila topik kunci tertentu ditinggalkan tidak teracakup, deskripsinya dianggap tidak lengkap. Peneliti harus mengetahui topiknya dengan cukup baik - atau memiliki model studi kasus yang berkaitan sebagai referensi - untuk menghindari kekurangan. Apabila sebuah studi kasus gagal menyajikan deskripsi lengkap, peneliti dapat dituduh mencurangi kasustz tersebut - walaupun studi kasusnya hanya deskriptif.

Dalam dokumen MENGGAGAS PENELITIAN PENDIDIKAN (Halaman 142-145)