• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data dan Analisis

Setiap penelitian haruslah disertai dengan penyajian data sebagai penguat dalam penelitian. Sebab data inilah yang akan dianalisis, sehingga dari data yang analisis tersebut akan menghasilkan suatu kesimpulan dalam penelitian ini.

Sesuai dengan tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, maka peneliti akan menyajikan dua macam pengumpulan data yaitu hasil observasi yang dilakukan peneliti yang kemudian akan diperkuat dengan data hasil wawancara.

Berdasarkan hasil penelitian, maka akan diuraikan data-data tentang kerjasama madrasah dan wali murid dalam mengatasi kenakalan remaja di MTs Nurul Ulum Desa Pengarang Kecamatan Jambesari Kabupaten Bondowoso Tahun Pelajaran 2015/2016.

82 Dokumentasi MTs Nurul Ulum

Sebagaimana perumusan masalah maka penelitian ini hanya difokuskan kepada dua hal yang telah dirumuskan sebelumnya, yaitu: (1) Strategi yang di gunakan kerjasama madrasah dan wali murid dalam mengatasi kenakalan remaja di MTs Nurul Ulum Desa Pengarang Kecamatan Jambesari Kabupaten Bondowoso tahun Pelajaran 2015/2016. (2) Faktor pendukung dan penghambat kerjasama madrasah dan wali murid dalam mengatasi kenakalan remaja di MTs Nurul Ulum Desa Pengarang Kecamatan Jambesari Kabupaten Bondowoso tahun Pelajaran 2015/2016.

Untuk memperjelas hasil penelitian ini, maka akan disajikan data-data yang diperoleh baik yang melalui observasi, wawancara, maupun dokumentasi adalah sebagai berikut :

Berdasarkan hasil observasi dilapangan menyatakan bahwa:

Setelah mendapatkan laporan dari BK peneliti kemudian melakukan observasi kembali, sebagai awal dari proses penelitian ini. Kenakalan remaja yang terjadi di MTs Nurul Ulum memang cukup banyak macamnya, karena pada saat itu saya melihat ada beberapa siswa yang bertingkah laku kurang baik terhadap gurunya, ada yang merokok, dan masih terdapat beberapa kenakalan lagi yang terjadi di lokasi. Para guru dan wali murid melakukan rapat yang bersifat non formal untuk mengatasi kenakalan-kenakalan yang terjadi agar kedepannya siswa-siswi di MTs Nurul Ulum akhlaknya lebih baik lagi.83

1. Strategi yang di gunakan kerjasama madrasah dan wali murid dalam mengatasi kenakalan remaja di MTs Nurul Ulum Desa Pengarang Kecamatan Jambesari Kabupaten Bondowoso tahun Pelajaran 2015/2016.

83 Observasi, MTs Nurul Ulum, Pengarang, 28 Juni 2016

Kenakalan siswa di MTs Nurul Ulum akan terus bertambah jika tidak segera diatasi. Pada ketidakdisiplinan siswa ini tidak hanya dari pihak siswa itu sendiri yang disalahkan, namun dari pihak lain seperti sekolah, lingkungan keluarga, dan pihak lain juga memiliki andil menciptakan ketidakdisiplinan siswa. Kenakalan siswa berupa ketidakdisiplinan tidak mudah untuk diatasi, di sekolah tidak hanya guru BK yang berwenang tetapi juga dari pihak yang lain. Menurut penelitian awal yang sudah dilakukan, pihak sekolah menerangkan bahwa ada strategi yang di lakukan sekolah dalam mengatasi kenakalan di MTs Nurul Ulum Pengarang. Strategi ini meliputi strategi tindakan preventif, represif, dan kuratif terhadap siswa yang melakukan kenakalan.

Sebagaimana wawancara peneliti dengan kepala madrasah MTs Nurul ulum yaitu sebagai berikut:

Kenakalan remaja itu sebenarnya banyak versi atau pengertian, tetapi menurut pendapat saya keluar dari aturan yang ada, baik itu di madrasah maupun di masyarakat. Apabila di pertanyakan macam-macamnya, sebenarnya tidak sama dengan yang ada di perkotaan kalau kenakalan remaja yang di madrasah pedesaan, tentunya bermacam-macam juga tetapi kebanyakan yang ada di pedesaan dalam kontek di madrasah, di Nurul Ulum itu bentuknya di sebabkan pengaruh lingkungan kenakalannya yang seperti pacaran, tawuran dan kebut-kebutan. Jadi madrasah sekarang melakukan kerjasama dengan para wali murid terhadap anaknya yang mengalami kenakalan tersebut dengan menggunakan beberapa starategi. Strategi yang kami gunakan di sini adalah seperti preventif (mencegah), represif (pencegahan), dan kuratif (penyembuhan) serta rehabilitasi (perbaikan).84

Berdsarkan observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 29 Juni 2016, bahwasannya asatidz (para dewan guru) MTs Nurul Ulum melakukan rapat formal yang dilakukan di dalam kelas ketika siswa-siswi

84 Muhyid Adi Saputra, Wawancara, Pengarang, 28 Juni 2016

sudah pulang sekolah, untuk menindak lanjuti pelaksanaan strategi yang sudah di rencanakan oleh madrasah sendiri dan para wali murid.85

Di kuatkan dengan hasil dokumentasi ketika pelaksanaan rapat guru dalam membahas tindak lanjut yang akan di lakukan dalam mengatasi kenakalan remaja tersebut yang dapat di lihat pada lampiran dokumentasi.86

Strategi preventif yang di lakukan madrasah dalam mengatasi kenakalan remaja menurut penuturan Bapak Budiarto, S.Pd sebagai berikut:

Tindakan preventif adalah tindakan pencegahan yang dapat dilakukaan oleh MTs Nurul Ulum untuk mengatasi kenakalan siswa. Tindakan preventif pada siswa ini dapat dilakukan melalui pembiasaan sholat berjama’ah misalnya kegiatan sholat dhuhur berjama’ah di sekolah, sholat dhuha berjama’ah di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler bidang keagamaan misalnya pada kegiatan khataman qur’an, sosialisasi peraturan tata tertib pada semua siswa yang dilakukan semua guru di MTs Nurul Ulum, pemberian keteladanan guru terhadap siswa dengan memberi contoh misalnya datang ke sekolah tepat waktu dan tertib, dan pengintegrasian nilai-nilai moral pada PBM misalnya membiasakan siswa tertib dan disiplin saat pembelajaran.87

Di samping itu, strategi sekolah dalam mengatasi kenakalan siswa dapat dilakukan melalui penanaman-penanaman nilai-nilai keagamaan pada siswa. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara yang telah dilakukan. Berdasarkan penuturan Bapak Fariki, S.Pd.I, selaku guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadist adalah sebagai berikut:

Penanaman nilai-nilai keagamaan di sekolah pada siswa kan sebenarnya hanya meneruskan dari keluarga mbak…kalau saya sebagai guru mata pelajaran al-qur’an hadist ya saya menanamkannya dapat saya sisipkan melalui pembelajaran al-qur’an hadist..tapi kalau di sekolah ini ya dapat

85 Observasi, MTs Nurul Ulum, Pengarang, 29 Juni 2016

86 Dokumentasi

87 Budiarto, Wawancara, Pengarang, 30 Juni 2016

diterapkan pada kegiatan-kegiatan keagamaan, kegiatan keagamaan disini ada lumayan banyak misalnya ya kegiatan sholat dhuha di sekolah, ada bimbingan al-qur’an, selain itu kan dapat melalui pembelajaran agama, disini kan mata pelajaran agama terbagi menjadi beberapa misalnya SKI, al-qur’an hadist, bahasa arab, aqidah, ta’lim, dll.88

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa strategi preventif sekolah dalam mengatasi kenakalan siswa di MTs Nurul Ulum ini dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai keagamaan pada siswa. Sementara itu, dalam mensosialisasi peraturan tata tertib sekolah diperoleh dari hasil wawancara dari Baak Budiarto, S.Pd.I, penuturannya dapat dilihat sebagai berikut:

Kalau tata tertib disini, caranya ya melalui pelajaran agama, ada fiqih, aqidah akhlak, bahasa arab dan sebagainya, ya melalui kegiatan-kegiatan itu dapat disosialisasikan peraturan tatib di sekolah ini.89

Sedangkan menurut penuturan Bapak Hafili terkait dengan sosialisasi peraturan tata tertib dapat dilihat sebagai berikut:

Sosialisasi peraturan tata tertib di sekolah ini ya bisa melalui mata pelajaran BK jadi guru menyampaikan, peraturan tata tertib yang dikeluarkan di sekolah ini kan ditempelkan pada dinding-dinding itu mbak…nah ini diharapkan anak-anak setelah membaca ini ya dilaksanakan, kalau saya cuma bisa mengingatkan, menasehati anak-anak.90

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa dalam mensosialisasikan peraturan tata tertib sekolah dapat dilakukan melalui pelajaran agama yang ada di sekolah ini diantaranya adalah pelajaran aqidah akhlak, fiqih dan lain sebagainya. Melalui pembelajaran tersebut, peratutran tata tertib sekolah dapat disosialisasikan pada siswa. Sosialisasi peraturan tata tertib juga dapat dilakukan melalui pelajaran BK, sehingga

88 Fariki, , Wawancara, Pengarang, 30 Juni 2016

89 Budiarto, Wawancara, Pengarang, 30 Juni 2016

90 Hafili, Wawancara, Pengarang, 30 Juni 2016

guru BK memiliki kewajiban untuk menyampaikan peraturan tata tertib yang ada di sekolah ini. Selain itu, peraturan tata tertib juga dapat ditempelkan pada dinding-dinding sekolah dengan harapan siswa dapat membaca secara langsung sehingga timbul rasa untuk mematuhi peraturan tersebut.

Sedangkan penanaman nilai-nilai moral di MTs Nurul Ulum dapat diketahui melalui penuturan Bapak Budiarto, S.Pd sebagai berikut:

Caranya adalah melalui sikap sehari-hari anak pada pembelajaran, kalau waktu pelajaran di kelas ya dapat melalui kegiatan diskusi..dalam pembelajaran kan tidak hanya ceramah, tapi ada diskusi juga, nah pada diskusi tersebut anak dapat diajarkan nilai-nilai moral sehingga dapat dilihat siswa yang mana yang aktif dan mana yang tidak.91

Sedangkan menurut penuturan dari Bapak Fariki, S.Pd.I dapat dilihat sebagai berikut:

Pengintegrasian nilai-nilai moral pada pembelajaran ya dapat dilakukan oleh semua guru, kalau saya ya dalam pembelajaran di kelas, apalagi saya mengajar al-qur’an hadist tentunya saya dapat mengaitkan nilai-nilai moral dengan pelajaran saya, pelajaran lain kan bisa mbak, ada ppkn juga itu kan di dalamnya mengajarkan nilai-nilai moral..aqidah akhlak juga ada.92

Berdasarkan dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa dalam penanaman nilai-nilai moral saat pembelajaran ini dapat dilakukan melalui kegiatan diskusi di dalam pembelajaran. Selain itu, penanaman nilai-nilai moral dapat dilakukan oleh semua guru dalam pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang. Nilai-nilai moral juga dapat diajarkan melalui pelajaran ppkn dan aqidah akhlak.

91 Budiarto, Wawancara, Pengarang, 30 Juni 2016

92 Fariki, , Wawancara, Pengarang, 30 Juni 2016

Menurut hasil observasi yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa dalam pembiasaan sholat dhuhur berjama’ah di sekolah memang dilakukan setiap hari sebelum pulang sekolah. Kegiatan ini dilakukan secara rutin yang dipandu oleh guru dan diikuti oleh siswa. Selain itu, dalam sosialisasi peraturan tata tertib juga telah dilakukan oleh sekolah karena pada tiap-tiap kelas terdapat peraturan tata tertib. Selain itu, guru juga membiasakan diri datang ke sekolah tepat waktu sebelum bel masuk berbunyi.93

Kegiatan tersebut juga didukung oleh hasil dokumentasi yang telah di dapatkan oleh peneliti sendiri, yang dapat di lihat pada lampiran dokumentasi penelitian.94

Strategi represif sekolah dalam mengatasi kenakalan siswa di MTs Nurul Ulum Pengarang dilakukan melalui pemberian hukuman pada siswa yang melakukan kenakalan di sekolah. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan Bapak Hafili, S.Pd yang dapat dilihat sebagai berikut:

Begini ya mbak, disini itu ada 2 absensi, yang pertama absen awal jam pertama, yang kedua ada absen per-jam, kalau anak pada hari itu ditotal melebihi 9 jam tidak berada di sekolah maka dianggap tidak masuk atau membolos, untuk sanksi atau hukuman ya cuma panggilan orangtua tidak ada sanksi lain terkait dengan fisik.95

Sedangkan menurut Bapak Budiarto, dapat dilihat penuturannya sebagai berikut ini:

Hukuman sih tidak ada yang dalam bentuk fisik, kalau hukuman itu apa ya mbak.. biasanya ya cukup di nasehati, di tegur, kalau yang masih susah di atasi ya tinggal dilaporkan pada wali kelas, hukuman yang

93 Observasi, MTs Nurul Ulum, Pengarang, 30 Juni 2016

94 Dokumentasi

95 Hafili, Wawancara, Pengarang, 02 Juli 2016

lebih mendidik ya diberi tugas-tugas tertentu sebagai penggantinya tadi..biasanya kalau sudah diberi tugas gitu ya terus diam anak-anak..96

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa pemberian hukuman pada siswa yang melakukan kenakalan dapat dilakukan melalui panggilan orang tua siswa ke sekolah. Selain itu, pemberian hukuman dapat dilakukan melalui hukuman yang bersifat mendidik seperti pemberian tugas-tugas tertentu pada siswa yang melakukan kenakalan. Pemberian hukuman dilakukan ini diharapkan dapat menjadi efek jera pada siswa agar tidak mengulang kenakalan yang sama.

Seperti panggilan orang tua kesekolah, dapat di lihat pada hasil dokumentasi yang di dapatkan oleh peneliti, dapat dilihat pada lampiran dokumentasi penelitian.97

Strategi kuratif sekolah dalam mengatasi kenakalan siswa di MTs Nurul Ulum dapat dilakukan melalui tindak lanjut pada siswa yang melanggar kedisplinan dan melakukan hubungan komunikasi dengan orang tua siswa.

Strategi kuratif MTs Nurul Ulum dapat dilakukan dengan menindak lanjuti siswa yang melakukan kenakalan dan melakukan hubungan komunikasi dengan orang tua siswa. Tindak lanjut guru dapat dilakukan ketika siswa sering membolos sekolah. Guru juga dapat menegur menasehati, sampai pada memanggil ketika mengetahui siswa merokok di lingkungan sekolah, meninggalkan jam pelajaran sebelum pelajaran selesai, memakai atribut sekolah yang tidak lengkap, berpacaran di lingkungan sekolah, membawa dan menyimpan foto asusila di HP, berkelahi dengan sesama teman di sekolah, terlibat geng-geng antar teman, dan kenakalan lain yang dilakukan siswa di MTs Nurul Ulum.

Tindakan kuratif MTs Nurul Ulum juga dilakukan dengan mengadakan hubungan komunikasi dengan orang tua siswa. Hubungan komunikasi ini dapat dilakukan secara intensif antara sekolah dengan orang tua

96 Budiarto, Wawancara, Pengarang, 02 Juli 2016

97 Dokumentasi

siswa. Selain itu, hubungan komunikasi juga dapat dilakukan dengan memberikan surat panggilan orang tua siswa ke sekolah terkait dengan masalah kenakalan siswa di sekolah, juga salah satu guru di MTs Nurul Ulum datang dengan bersilaturrahmi kerumah siswa yang mengalami kenakalan tersebut untuk membahas perbuatan yang di lakukan oleh anaknya.98

Kegiatan kerjasama yang dilakukan oleh madrasah dan wali murid tersebut dapat dilihat pada hasil dokumentasi peneliti, yang terdapat pada lampiran dokumentasi.99

Di samping itu, berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan, diperoleh informasi dari Ibu Anida sebagai berikut:

Ya kalau setiap guru kan harus mengetahui perilaku siswa baik pada maupun di luar pembelajaran, yang pertama menindak adalah wali kelas karena bagaimanapun wali kelas yang bertanggungjawab atas siswa tersebut, kalau misalnya masih belum dapat diatasi, ya wali kelas melapor pada BK, dan ditangani oleh BK jadi ada kerjasama antara wali kelas dan guru BK.100

Sedangkan menurut penuturan dari Bapak Fariki dapat dilihat sebagai berikut:

Sebagai guru ya tentunya menegur siswa mbak baik pada saat di kelas, di luar kelas, meskipun disekolah ini ada BK, tentunya guru-guru lain tidak hanya BK pasti menegur menasehati kalau sampai mengetahui ada anak yang misalnya meninggalkan jam pelajaran, ramai di kelas kan biasanya seperti itu mbak.101

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa tindakan guru yang dapat dilakukan ketika mengetahui siswa melakukan ketidak disiplinan di lingkungan sekolah adalah menindak. Menurut hasil wawancara tersebut, yang berhak menindak siswa pertama kali adalah wali kelas karena wali kelas memiliki tanggung jawab yang besar pada anak didiknya. Namun, jika wali kelas tidak dapat mengatasinya, maka akan

98 Observasi, MTs Nurul Ulum, Pengarang, 03-07 Juli 2016

99 Dokumentasi

100 Ibu Anida, Wawancara, Pengarang, 09 Juli 2016

101 Fariki, Wawancara, Pengarang, 09 Juli 2016

diserahkan pada guru BK yang ada di sekolah ini. Jadi, antara wali kelas dan guru BK sebaiknya menjalin kerjasama yang baik dalam mengatasi kenakalan siswa.

Sementara dari hasil wawancara juga dapat diketahui bahwa tindakan yang dapat dilakukan guru ketika mengetahui siswa melakukan kenakalan adalah menegur dan menasehati. Semua guru berhak menegur siswa yang melakukan kenakalan, tidak hanya guru BK atau wali kelas.

Bentuk hubungan komunikasi antara sekolah dengan orang tua siswa dapat diketahui melalui hasil wawancara dari Ibu Azizatul Umami yang dapat dilihat penuturannya sebagai berikut:

Bentuk hubungannya adalah setiap wali kelas harus mempunyai nomor telepon orangtua siswa, jadi guru meminta nomor telepon siswa sejak awal masuk, kalau misalnya anak membolos dalam waktu yang lama, tindakannya ya anak dipanggil terlebih dahulu, baru kemudian menghubungi orang tua melalui panggilan orangtua ke sekolah, dengan begitu kan dapat diketahui apa sebabnya anak misalnya membolos, apa memang sakit atau berangkat dari rumah tapi tidak ke sekolah, maka itu diadakan hubungan komunikasi antara sekolah dengan orangtua siswa, tapi biasanya kalau orangtuanya tanggap gitu ya orang tuanya yang menghubungi ke sekolah dulu, tapi kalau orang tuanya tidak begitu memperhatikan meskipun sudah diberi surat panggilan orang tua, ya BK yang harus mendatangi ke rumah orang tua anak.102

Sedangkan menurut Bapak Hafili, penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut:

Kalau hubungan komunikasi dengan orangtua siswa tentunya ada mbak..di sekolah ini sangat menjaga hubungan antara sekolah dengan pihak orangtua siswa..biasanya hubungan komunikasi ini dilakukan saat memang ada masalah kemudian itu lo mbak susah diselesaikan masalahnya, kalau masih bisa diselesaikan ya tidak sampai menghubungi orangtua, biasanya guru BK sama wali kelas yang

102 Ibu Aizatul Umami, Wawancara, Pengarang, 10 Juli 2016

berhubungan dengan orangtua..ya seperti saya kan juga sebagai wali kelas tentunya saya bertanggungjawab terhadap anak-anak saya.103

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa hubungan komunikasi dapat dilakukan melalui telepon. Sekolah memiliki nomor telepon orang tua masing-masing siswa, hal itu untuk memudahkan sekolah dalam menjalin hubungan komunikasi dengan orang tua siswa.

Sekolah akan menghubungi orang tua siswa jika diperlukan, namun jika tidak dapat terselesaikan, maka sekolah melalui BK akan mendatangi ke rumah orang tua siswa. Hubungan komunikasi ini dapat dilakukan secara intensif, baik dari orangtua ke sekolah maupun sebaliknya. Hal itu dilakukan demi menjaga hubungan yang baik antar orang tua dan sekolah serta untuk memantau siswa baik di rumah maupun di sekolah.

Kedatangan beberapa wali murid ketika menemui pihak sekolah dapat di lihat pada hasil dokumentasi peneliti, yang terdapat pada lampiran dokumentasi.104

Dalam strategi kuratif yang di lakukan oleh salah satu orang tua siswa yang mengalami kasus kenakalan remaja, dapat di lihat dari wawancara berikut ini:

Setelah saya mendapatkan informasi bahwa anak saya terlibat kenakalan remaja di sekolahnya, awalnya saya tidak percaya, akan tetapi saya mendapat surat pemberitahuan dari wali kelas anak saya, katanya saya di suruh datang ke sekolah. Kemudian saya langsung datang kesekolah, untuk memastikan apakah anak saya memang terlibat kasus kenakalan remaja atau tidak. Ternyata dari dokumen yang terdapat di guru BK saya mulai percaya. Nah, setelah itu saya langsung berkonsultasi dengan wali kelas dan beberapa guru yang ada di sekolah ini, bagaimana caranya supaya anak saya tidak terlibat

103 Hafili, Wawancara, Pengarang, 10 Juli 2016

104 Dokumentasi

kasus itu lagi. Jadi, untuk di sekolah saya pasrahkan kepada semua pihak yang ada di sekolah ini. Sedangkan untuk di rumah saya akan selalu mengawasi dan memantau anak saya dengan memberikan perhatian yang sangat ekstra juga saya akan selalu memantau pergaulan anak saya dengan siapa dia bergaul, supaya kedepannya anak saya bisa berubah dan tidak akan mengalami kasus kenakalan seperti ini lagi.105

Kemudian saya juga melakukan wawancara dengan salah satu wali murid lainnya, berikut ini:

Sebenarnya saya sangat terkejut mbak, ketika mendapat pemberitahuan dari sekolah bahwa anak saya terlibat kenakalan remaja. Untungnya sekolah memberi tahu, apabila pihak sekolah tidak memberi tahu, saya tidak akan pernah tahu apa yang telah di lakukan oleh anak saya di sekolahnya. Jadi disini, setelah saya mendapat pemberitahuan seperti itu, seperti orang tua pada umumnya saya akan selalu memantau moral serta akhlak anak saya baik itu di sekolahnya ataupun di rumah, saya juga akan selalu mengontrol seperti apa pergaulan anak saya dengan teman-temannya, supaya anak saya menjadi anak soleh dimanapun anak saya berada mbak.106

Kemudian saya bertemu dengan salah satu wali murid, yang di rangkum dalam wawancara berikut:

Sebenarnya anak saya itu sangat baik mbak anaknya, cuma sendiri juga bingung, kok bisa saya di panggil kesekolah yang katanya anak saya itu masuk pada kategori kenakalan remaja. Karena sekarang teknologi sudah canggih, jadi saya sangat memohon kepada pihak sekolah untuk selalu mengabarkan saya terkait tingkah laku anak saya di sekolahnya. Untuk di rumah saya akan selalu memberikan nilai-nilai yang baik dan juga contoh moral yang baik. Supaya anak saya tidak masuk pada kategori kenakalan remaja lagi di sekolah ini.107

105 Bapak Halim (Orang tua Erfan Hendra Prasetia kelas VIII), Wawancara, Pengarang, 10 Juli 2016

106 Ibu Sumaina (Orang tua Muhammad Romadani kelas VIII), Wawancara, Pengarang, 10 Juli 2016

107Ibu Khuzaimah (Orang tua Muvidatul Hasanah kelas IX), Wawancara, Pengarang, 10 Juli 2016

Saya juga menemui salah satu wali murid kelas IX yang mengalami kenakalan remaja di sekolah yaitu orang tua dari Ajeng Anggi Dwi Putri, hasil dari wawancara kami adalah berikut ini:

Saya sudah tau bahwa sikap anak saya memang seperti itu mbak, saya sering sekali menasehati anak saya mbak, kadang anak saya mendengarkan, kadang tidak mendengarkan. Jadi saya itu sempat bingung bagaimana supaya anak saya tidak seperti itu lagi. Setelah mendapat pemberitahuan dari sekolah ini, kemudian pihak sekolah mengajak untuk bekerja sama, saya itu sangat senang. Karena ada yang mau membantu saya merubah tingkah laku anak saya. Jadi saya di sini akan selalu menjalin komunikasi yang baik dengan anak saya, supaya anak saya itu lebih terbuka kepada kedua orang tuanya, juga saya akan berusaha untuk menciptakan suasana keluarga yang harmonis dan nyaman dalam keluarga saya mbak.108

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa beberapa wali murid di sisni melakukan tindakan atau strategi kuratif adalah dengan cara memberikan perhatian dan pendidikan nilai dalam keluarganya, akan memberikan pendidikan moral dan agama, mengontrol dan mengendalikan relasi dan pola pergaulan anak, menjalin komunikasi yang baik antara orang tuaa dan anak, serta akan menciptakan suasana keluarga yang harmonis dan nyaman.

2. Faktor pendukung dan penghambat kerjasama madrasah dan wali murid dalam mengatasi kenakalan remaja di MTs Nurul Ulum Desa Pengarang Kecamatan Jambesari Kabupaten Bondowoso tahun Pelajaran 2015/2016.

Dalam mengatasi suatu permasalahan pasti ada suatu faktor yang mempungaruhinya. Tentunya dalam penelitian ini pula ada suatu faktor

108 Bapak Rudi (Orang tua Ajeng Anggi Dwi Putri kelas IX), Wawancara, Pengarang, 10 Juli 2016

Dokumen terkait