BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. KajianTeori
2. Strategi dalam mengatasi kenakalan remaja
Masa remaja adalah dimana berlangsungnya usia kira-kira dari tiga belas tahun sampai enam belas atau tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu
29 Ibid, 83.
30 Jalaluddin, Psikologi Agama, 221.
usia matang secara hukum. Dengan demikian akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat.
Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri masa remaja berikut ini:
1) Masa remaja sebagai periode yang penting
Tanner mengatakan bahwa bagi sebagian besar anak muda, usia antara dua belas dan enam belas merupakn tahun kehidupan yang penuh kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Tak dapat di sangkal, selama kehidupan janin dan tahun pertama atau kedua setelah kelahiran, perkembangan berlangsung semakin cepat, dan lingkungan yang baik semakin lebih menentukan, tetapi yang bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang memperhatikan perkembangan atau kurangnya perkembangan dengan kagum, senang atau takut.31
2) Masa remaja sebagai Periode Peralihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya.
Artinya, apa yang telah terjadi sebelumnya akan meningglakan bekasnya pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Bila
31 Tanner, J. M. Sequence, Tempo and Individual variation in the growth and development of boys and girls, aged twelve to six teen (Cambridge: Harvard University Press, 1971), 100.
anak beralih dari masa kkanak ke masa dewasa, anak-anak harus “meninggalkan segala sesuatu yyang bersifat kenak-kanakan” dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah di tinggalkan.
3) Masa remaja sebagai Periode Perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga.
4) Masa remaja sebagai Usia Bermasalah
Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit di atasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru.
5) Masa remaja sebagai Masa Mencari Identitas
Pada tahun-tahun awal masa remaja, penysuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan.
Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal, seperti sebelumnya.
6) Masa remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Ketakutan
Seperti ditunjukkan oleh Majeres, “Banyak anggapan populer tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai, dan sayangnya, banyak di antaranya yang bersifat negatif”. Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat di percaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
7) Masa remaja sebagai Masa yang tidak Realistik
Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awal masa remaja. Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia menjadi marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri.
8) Masa remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.32
b. Macam-Macam Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja adalah perbuatan anak-anak yang melanggar norma sosial, norma hukum, norma kelompok, dan mengganggu ketentraman masyarakat, sehingga yang berwajib terpaksa mengambil tindakan pengamanan/penangkalan. Macam-macam kenakalan remaja, antara lain:
1) Ngebut, mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang melampaui kecepatan maksimum yang ditetapkan, sehingga dapat mengganggu/membahayakan pemakai jalan yang lain.
2) Peredaran ponografi dikalangan pelajar, baik dalam bentuk gambar-gambar cabul, majalah dan cerita porno yang dapat merusak moral
32 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1980), 207-208.
anak, sampai peredaran obat-obat perangsang nafsu seksual, kontrasepsi, dan sebagainya.
3) Anak-anak yang suka membuat pengrusakan-pengrusakan terhadap barang-barang atau milik orang lain, membuat corat-coret yang mengganggu keindahan lingkungan, mengadakan sabotase, dan sebagainya.
4) Membentuk kelompok atau gang dengan sikap yang menyeramkan, seperti kelompok bertato, kelompok berpakaian acak-acakan, dan sebagainya.
5) Berpakaian dengan mode yang tidak selaras dengan budaya lingkungan, sehingga dipandang kurang/tidak sopan dimata lingkungan.
6) Anak-anak yang senag melihat orang lain celaka akibat ulah dan perbuatannya, seperti membuat lubang atau menabur biji-biji kacang hijau/kedelai hitam di jalan atau menyiramkan oli di jalan, sehingga banyak pengendara yang terperosok/terpeleset dan jatuh berlumuran oli, sampai cedera karenanya.
7) Mengganggu/mengejek orang-orang yang lewat didepannya, dan kalau menoleh/marah sedikit saja dianggapnya membuat gara-gara untuk “dikerjain”. Dan masih banyak lagi kejahatan-kejahatan yang di lakukan oleh anak-anak remaja.
c. Bentuk-bentuk strategi dalam mengatasi kenakalan remaja
Melalui Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) kita dapat melakukan secara bersama-sama dan bahu-membahu dalam mengatasi kenakalan remaja dengan penuh kearifan demi tercapainya tujuan mulia dengan resiko yang sekecil-kecilnya, baik oleh para pendidik, orang tua, pemuka masyarakat, pemuka agama, penegak hukum, ahli hukum, dokter, psikolog, dan pejabat pemerintah, secara preventif maupun secara kuratif/represif.
Sarwirini menyatakan banyak teori atau konsep yang dikemukakan dalam rangka mencari solusi upaya menanggulangi kenakalan anak. Pola-pola prevensi, represif, dan kuratif seharusnya diterapkan secara tepat sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal.33 1) Dalam Keluarga
Berikut strategi yang dapat di gunakan keluarga/orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja:
a) Apabila orang tua melihat/mendengar anaknya “ngebut”, maka selain memberikan penjelasan-penjelasan tentang resiko/bahaya atau akibat-kibat ulah tersebut.
b) Untuk mengatasi peredaran ponografi sebaiknya ditingkatkan peredaran bacaan-bacaan bermutu (judul, isi, ilustrasi, kertas, cetakan, dan sebagainya) sesui selera/minat anak remaja, hal ini akan menimbulkan minat baca yang tinggi.
33 Sarwirini, Kenakalan Anak (JUVENILE DELIQUENCY) Kausalitasdan Upaya Penanggulangannya, (Surabaya: Jurnal PERSPEKTIF Volume XVI No. 4 Tahun 2011 Edisi September, 2011), 249.
c) Untuk mengatasi anak yang suka membuat kerusakan yaitu dengan mengajak mengisi waktu luang mereka dengan mengajak mengisi waktu luang mereka dengan kesibukan-kesibukan yang bermakna.
d) Dan masih banyak lagi strategi yang dapat di lakukan oleh orang tua sesuai dengan kenakalan yang di lakukan oleh anak-anaknya.34
2) Dalam Madrasah
Berikut beberapa strategi yang di gunakan madrasah dalam mengatasi kenakalan remaja, antara lain:
a) Suka menyelewengkan waktu belajar untuk kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti begadang, omong kosong sambil merokok atau minum-minuman keras sampai penyalahgunaan narkotika/obat-obatan terlarang, pil koplo dan sebagainya. Tindak penangkalannya secara preventif adalah menjaga keharmonisan hubungan antar sivitas akademika dengan melibatkannya dalam kesibukan-kesibukan kecil sampai kesibukan besar yang menghasilkan sukses, sehingga tidak menimbulkan rasa patah semangat atau kebencian kepada tugas-tugas, khususnya tugas akademis.
b) Suka menunda-nunda waktu belajar. Untuk menghadapi kasus semacam ini, secara preventif dapat dilakukan dengan
34 Ary. H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan, 93-99.
menyadarkan akan perlunya memperhatikan pepatah: “Never delay till tomorrow, what you can do today” dilanjutkan dengan
“Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Secara kuratif dapat dilakukan oleh guru suatu perintah agar siswa-siswa segera menyelesaikan tugas-tugas yang di hadapinya. Cara-cara yang di lakukan adalah melalui cara-cara yang bersifat persuasif, perintah lunak, sampai perintah keras (bila perlu).35
c) Dan masih banyak lagi strategi yang dapat digunakan oleh madrasah dalam mengatasi kenakalan remaja.
3) Dalam Masyarakat
Dalam lingkungan masyarakat ynag luas dan kompleks (mencakup keluarga dan sekolah), partisipasi seluruh unsur terkai sangat di harapkan, yaitu para pemuka agama, pemerintah daerah, penguasa setempat, penegak hukum, tenaga medis dan paramedis, psikolog/psikiater, pendidik, organisasi pemuda, organisasi wanita, dan sebaginya agar secara terpadu dan secara individual tanpa membedakan suku, golongan, agama, kedudukan strata, dan sebagainya memikul tanggung jawab dan secara otomatis harus merasa terpanggil memikul dan memiliki tanggung jawab secara proposional untuk melakukan tindak penangkalan secara bijak dan bertanggung jawab, tanpa pamrih pribadi/golongan, dan non bisnis.
35 Ibid, 100-101.
Berikut adalah pemaparan dari Sarwini yang menjelaskan tentang strategi yang digunkan dalam mengatasi kenakalan remaja:
1) Upaya Preventif
Upaya preventif yaitu kegiatan yang dilakukan secara sistematis, berencana dan terarah, untuk menjaga agar kenakalan itu tidak timbul. Upaya preventif lebih besar manfaatnya dari pada upaya kuratif, karena jika kenakalan itu sudah meluas, amat sulit menaggulanginya.36
Upaya preventif dapat dikelompokkan atas tiga bagian yaitu:
a) Di Rumah tangga (keluarga)
(1) Orang tua menciptakan kehidupan rumah tangga yang beragama. Artinya membuat suasana rumah tangga atau keluarga menjadi kehidupan yang taat dan taqwa kepada allah di dalam kegiatan sehari-hari.
(2) Menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis. Dimana hubungan antara ayah, ibu dan anak tidak terdapat percekcokan atau pertentangan.
(3) Adanya kesamaan norma-norma yang dipegang antara ayah, ibu, dan keluarga lainnya di rumah tangga dalam mendidik anakanak
(4) Memberikan kasih sayang secara wajar kepada anak-anak.
36 Sofyan Willis. S, Remaja dan Masalahnya (Bandung: Alfabeta, 2010), 128.
(5) Memberikan perhatian yang memadai terhadap kebutuhan anakanak.
(6) Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan anak remaja dilingkungan masyarakat.37
b) Upaya di sekolah
Menurut Wilis upaya preventif di sekolah terhadap timbulnya kenakalan remaja tidak kalah pentingnya dengan upaya di keluarga. Hal ini disebabkan karena sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga. Jika proses belajar mengajar tidak berjalan dengan sebaik-baiknya, akan timbul tingkah laku yang tidak wajar pada anak didik. Untuk menjaga jangan sampai terjadi hal itu, perlu upaya-upaya preventif sebagai berikut:
(1) Guru hendaknya memahami aspek-aspek psikis murid
(2) Mengintensifkan pelajaran agama dan mengadakan guru agama yang ahli dan beribawa serta mampu bergaul secara harmonis dengan guru umum lainnya
(3) Mengintensifkan bagian bimbingan dan konseling di sekolah dengan cara mengadakan tenaga ahli atau menatar guru-guru untuk mengelola bagian ini
(4) Adanya kesamaan norma-norma yang dipegang oleh guru-guru
37 Ibid, 129
(5) Melengkapi fasilitas pendidikan (6) Perbaikan ekonomi guru38 2) Upaya kuratif
Upaya kuratif dalam menanggulangi masalah kenakalan remaja adalah upaya antisipasi terhadap gejala-gejala kenakalan tersebut, supaya kenakalan itu tidak meluas dan merugikan masyarakat. Upaya kuratif secara formal dilakukan oleh Polri dan Kejaksaan Negeri. Sebab terjadi kenakalan remaja berarti sudah terjadi suatu pelanggaran hukum yang dapat berakibat merugikan diri mereka dan masyarakat. Upaya kuratif secara formal memang sudah jelas tugas yang berwajib, dalam hal ini polisi dan kehakiman.
Akan tetapi anggota masyarakat juga bertanggung jawab mengupayakan pembasmian kenakalan di lingkungan mereka di RT, RW, dan desa. Sebab jika mereka membiarkan saja kenakalan terjadi di sekitarnya, berarti mereka secara tidak sengaja merusak lingkungan mereka sendiri. Upaya masyarakat untuk mengantisipasi suatu kenakalan remaja sebaiknya dengan berorganisasi secara baik.
Gunanya mencapai suatu tingkat kekompakan dalam menanggulangi masalah tersebut.
Beberapa tindakan kuratif menurut Asmani:
a) Menghilangkan semua sebab timbulnya kejahatan remaja, baik yang berupa pribadi, sosial, ekonomis, dan kultural.
38 Ibid, 130
b) Melakukan perubahan lingkungan dengan jalan mencarikan orang tua angkat/asuh dan memberikan fasilitas yang diperlukan bagi perkembangan jasmani dan rohani yang sehat bagi anak-anak remaja.
c) Memindahkan anak-anak nakal ke sekolah yang lebih baik atau menempatkan mereka di tengah lingkungan sosial yang lebih baik.
d) Memberikan latihan bagi para remaja untuk hidup teratur, tertib dan disiplin.
e) Memanfaatkan waktu senggang di kamp latihan, untuk membiasakan diri bekerja, belajar, dan melakukan rekreasi sehat dengan disiplin tinggi.
f) Menggiatkan organisasi remaja dengan program-program latihan vokasional untuk mempersiapkan anak remaja dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan membantu mereka hidup membaur di tengah masyarakat.
g) Memperbanyak lembaga latihan kerja dengan program-program kegiatan pembangunan.
h) Mendirikan klinik psikologi untuk meringankan dan memecahkan konflik emosional serta gangguan kejiwaan lainnya.
Memberikan pengobatan medis dan terapi psikoabalitis bagi mereka yang menderita gangguan kejiwaan.39
3) Upaya represif
Upaya pembinaan anak-anak nakal yang telah dilaksanakan oleh pemerintah yaitu mengadakan lembaga pemasyarakatan khusus unutuk anak-anak nakal. Upaya ini terutama ditujukan untuk memasyarakatkan kembali anak-anak yang telah melakukan kejahatan, agar supaya mereka kembali menjadi manusia yang wajar.
Pembinaan dapat diarahkan dalam beberapa aspek sebagai berikut.
a) Pembinaan mental dan kepribadian beragama.
b) Pembinaan mental untuk menjadi warga nergara yang baik.
c) Membina kepribadian yang wajar.
d) Pembinaan ilmu pengetahuan.
e) Pembinaan ketrampilan khusus.
f) Pengembangan bakat-bakat khusus.40