• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Penyajian Data

B. PENYAJIAN DATA

1. Gambaran Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan)

a. Pelaku PNPM Mandiri Perkotaan

Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Jombang tentunya melibatkan banyak pihak, terutama dalam membantu kelancaran pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. Bagan struktur organisasi pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di tingkat kota dapat dilihat pada Gambar 2:

Gambar 2

Struktur Organisasi PNPM Mandiri Perkotaan di Tingkat Kota

Walikota

Tim Koordinasi Kota Forum Konsultasi Kota

Camat & Aparatnya Penanggung Jawab Operasional

Kegiatan (PJOK)

Kader Masyarakat Fasilitator

Kelurahan (Faskel) Lurah & Aparatnya

Badan Keswadayan Masyarakat (BKM) Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Unit Pengelola Keuangan (UPK)

Keterangan :

Mengenai tugas dan tanggung jawab dari masing-masing unsur di tingkat kelurahan, akan dijelaskan sebagai berikut :

1) Fasilitator Kelurahan (Faskel)

Faskel merupakan pendamping masyarakat dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. Peran Faskel adalah memfasilitasi masyarakat dalam setiap tahapan PNPM Mandiri mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tugas dan tanggungjawab Faskel adalah :

a. Menyebarluaskan dan mensosialisasikan PNPM Mandiri Perkotaan;

b. Bersama Korkot menyusun Rencana Kerja dalam pelaksanaan kegiatan bersama masyarakat dimulai dari proses sosialisasi hingga evaluasi kegiatan;

c. Memastikan dan memfasilitasi terlaksananya tahapan-tahapan PNPM Mandiri Perkotaan mulai dari tahap perencanaan sampai pada tahap evaluasi dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip PNPM Mandiri Perkotaan;

d. Memberikan pelatihan dan bimbingan kepada masyarakat dan pelaku PNPM Mandiri di tingkat kelurahan;

e. Melakukan pengawasan terhadap proses pencairan dan penggunaan dana PNPM Mandiri Perkotaan untuk dapat dipastikan penggunaannya secara terbuka dan sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya;

f. Membantu UPK dalam membimbing pengembangan hasil kegiatan ekonomi dari pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan;

g. Mendorong terciptanya mekanisme kontrol atau pengawasan oleh masyarakat sendiri;

: Garis hubungan komando

: Garis koordinasi, pembinaan, pendampingan : Garis hubungan kerja administrasi

h. Melakukan evaluasi bersama masyarakat terhadap pelaksanaan program dan kinerja pelaku PNPM Mandiri Perkotaan di tingkat kelurahan; dan i. Koordinasi bulanan dengan UPK atas pelaksanaan kegiatan dana

pinjaman bergulir.

2) Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM)

BKM dibentuk atas persetujuan, kesepakatan serta keputusan dari segenap lapisan masyarakat yang bertempat tinggal di Kelurahan Jombang. BKM sebagai wadah perjuangan dan wadah aspirasi warga masyarakat khusunya dalam kaitannya dengan penanggulangan kemiskinan. Tugas dan tanggung jawab BKM adalah sebagai berikut :

a. Merumuskan dan menetapkan kebijakan serta aturan main (termasuk sanksi) secara demokratis dan partisipatif mengenai hal-hal yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kelurahan, termasuk penggunaan dana BLM program pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan di wilayahnya;

b. Mengorganisasi masyarakat untuk bersama-sama merumuskan visi, misi, rencana strategis dan rencana program penanggulangan kemiskinan (Pronangkis);

c. Memonitor, mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan keputusan-keputusan yang telah diambil BKM, termasuk penggunaan dana program pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan masyarakat di wilayahnya;

d. Mendorong berlangsungnya proses pembangunan partisipatif sejak tahap penggalian ide dan aspirasi, pemetaan swadaya atau penilaian kebutuhan, perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan, pemeliharaan hingga monitoring dan evaluasi;

e. Memverifikasi penilaian yang telah dilakukan oleh unit-unit pelaksana dan memutuskan proposal mana yang diprioritaskan, didanai oleh dana BLM di wilayahnya atau dana-dana lain yang dihimpun oleh BKM atas dasar kriteria dan prosedur yang disepakati dan ditetapkan bersama;

f. Memonitor, mengawasi dan memberikan masukan untuk berbagai kebijakan maupun program pemerintah lokal yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat miskin;

g. Menjamin dan mendorong peran serta berbagai unsur masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan kaum perempuan di wilayahnya, melalui proses serta hasil keputusan yang adil dan demokratis;

h. Membangun transparansi kepada masyarakat khususnya dan pihak luar umumnya, melalui berbagai media seperti papan pengumuman, sirkulasi laporan kegiatan dan keuangan bulanan atau triwulan serta rapat-rapat terbuka dan lainnya;

i. Membangun akuntabilitas kepada masyarakat dengan mengauditkan diri melalui auditor eksternal/independent serta menyebarluaskan hasil auditnya kepada seluruh lapisan masyarakat;

j. Melaksanakan Rapat Anggota Tahunan denga dihadiri masyarakat luas dan memberikan pertanggungjawaban atas segala keputusan dan kebijakan yang diambil kepada masyarakat;

k. Membuka akses dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap kebijakan, keputusan, kegiatan dan keuangan yang dibawah kendali BKM;

l. Memfasilitasi aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam perumusan kebutuhan dan usulan program penanggulangan kemiskinan wilayah Kelurahan setempat, untuk dapat dikomunikasikan, dikoordinasikan dan diintegrasikan;

m. Mengawal penerapan nilai-nilai dasar, dalam setiap keputusan maupun pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan; dan

n. Memfasilitasi Net Working (jejaring) kerjasama dengan berbagai potensi sumber daya yang ada di sumber-sumber luar masyarakat setempat. 3) Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)

KSM terdiri dari sekelompok orang yang menggabungkan diri ke dalam suatu kelompok masyarakat. KSM merupakan kelompok sasaran dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. Adapun tugas dan tanggung jawab KSM adalah :

a. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan masyarakat miskin;

b. Berperan secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan warga miskin;

c. Melakukan pembayaran peminjaman dana setiap bulan secara rutin dan tepat waktu; dan

d. Apabila terjadi keterlambatan pembayaran, keseluruhan anggota dari KSM tersebut harus bertanggung jawab dan mau menanggung pembayaran dan denda yang telah disepakati.

4) Unit Pengelola Keuangan (UPK)

Peran Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) adalah sebagai unit pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri di tingkat kelurahan. Tugas dan tanggung jawab UPK adalah :

a. Menghimpun masyarakat miskin untuk bergabung dan membentuk KSM; b. Memeriksa dan memutuskan KSM yang layak untuk mendapatkan dana

pinjaman tersebut;

c. Mendorong masyarakat miskin untuk aktif berperan serta dalam setiap tahap kegiatan dana pinjaman bergulir; dan

d. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan dana pinjaman bergulir dari BLM

b. Jenis Kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan)

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan) merupakan perwujudan nyata dari upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Jenis kegiatan yang akan dibiayai PNPM Mandiri Perkotaan melalui dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), diutamakan untuk kegiatan yang memenuhi kriteria : lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin, mendesak untuk dilaksanakan serta memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan. Apapun bentuk kegiatan yang didanai

PNPM Mandiri Perkotaan yang penting masyarakat harus mengetahui, memahami dan turut berpartisipasi dalam pelaksanaannya.

Di Kelurahan Jombang, jenis kegiatan yang dibiayai melalui Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri Perkotaan di bidang ekonomi adalah kegiatan dana pinjaman bergulir yang memberi peluang kepada pemanfaat untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan dana pinjaman perguliran.

2. Proses Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan) fase I di Kelurahan Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang

Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan) terdapat tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan secara urut dan terencana demi terselenggaranya program dengan baik. Adapun tahapan tersebut yaitu :

a. Tahap Sosialisasi PNPM Mandiri Perkotaan

Tahap sosialisasi dan pengenalan merupakan tahapan penting dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (selanjutnya disebut PNPM Mandiri Perkotaan) dalam mendukung keberhasilan proses dan kegiatan yang dilaksanakan pada tahap-tahap berikutnya. Pengertian sosialisasi dalam PNPM Mandiri Perkotaan (Penjelasan I, Sosialisasi PNPM Mandiri Perkotaan Tahun 2007) adalah upaya memperkenalkan atau menyebarluaskan informasi mengenai PNPM Mandiri Perkotaan kepada masyarakat sebagai penerima program, maupun kelompok masyarakat lainnya serta kepada para pelaku dan instansi atau lembaga pendukung PNPM Mandiri Perkotaan di semua tingkatan. Tahapan ini harus bisa dimanfaatkan oleh seluruh pelaku PNPM Mandiri Perkotaan sebagai upaya untuk mendorong partisipasi dan pengawasan dari semua pihak sehingga semua pelaku PNPM Mandiri Perkotaan memiliki pemahaman atau persepsi yang sama terhadap PNPM Mandiri Perkotaan. Pada dasarnya sosialisasi dan pengenalan dapat dilakukan setiap saat atau setiap ada kesempatan oleh pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perkotaan di tingkat kelurahan. Adapun tujuan

dari musyawarah tahap sosialisasi ini menurut Dokumen Laporan Akhir Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan tahun 2008 adalah :

1. Memperkenalkan PNPM Mandiri Perkotaan kepada BPD, aparat pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat dan masyarakat umum di kelurahan;

2. Memilih Koordinator BKM sebagai penanggungjawab pelaksana PNPM Mandiri Perkotaan di kelurahan;

3. Memilih dan menetapkan Unit Pengelola (UP) yang bertugas sebagai penanggungjawab masing-masing bidang yang dijalankan melalui PNPM Mandiri Perkotaan;

4. Menyepakati dan menetapkan jadwal musyawarah dalam tahap perencanaan; dan

5. Menyepakati pembuatan dan lokasi pemasangan papan informasi PNPM Mandiri Perkotaan dan media informasi lainnya.

Musyawarah tahap sosialisasi PNPM Mandiri Perkotaan Fase I ini dilaksanakan di Kelurahan Jombang pada tanggal 2 Agustus 2007. Selain menggunakan forum-forum resmi yang ada dalam PNPM Mandiri Perkotaan (musyawarah tahap sosialisasi), dalam pelaksanaannya juga dikembangkan informasi tentang PNPM Mandiri Perkotaan melalui media informasi lainnya (papan informasi, leaflet dan forum-forum informal) sebagai pendukung sosialisasi dan penerapan prinsip transparansi serta untuk membantu pengawasan, monitoring dan pemecahan masalah yang timbul. Penjelasan tentang sosialisasi yang telah dilaksanakan di Kelurahan Jombang dijelaskan oleh Bapak Handry Setyawan, SH selaku Lurah.

“Untuk pelaksanaan musyawarah tahap sosialisasi dilakukan di balai kelurahan. Namun bisa juga dilaksanakan di sekolahan atau rumah warga yang dianggap aman dan luas. Hal ini dilakukan apabila kondisi balai kelurahan dianggap tidak layak sehingga mencari alternatif tempat lain asalkan tempat itu cukup untuk menampung peserta yang hadir. Akan tetapi, untuk kelurahan Jombang, kondisi balai kelurahan layak untuk ditempati, sehingga musyawarah diadakan di balai kelurahan ini.” (wawancara tanggal 23 September 2009)

Hal ini juga dipertegas oleh pernyataan Bapak Suroso selaku ketua KSM Manggis dalam hasil wawancara di kediamannya.

“Di kelurahan juga ada mbak kegiatan sosialisasi tentang PNPM Mandiri Perkotaan. Di kelurahan saya ini, kegiatan sosialisasi dilaksanakan melalui forum musyawarah di balai kelurahan. Selain itu, saya juga sering menjumpai pamflet-pamflet yang tertempel di pos kamling mengenai informasi program ini. Mungkin ini upaya untuk menggugah hati masyarakat agar ikut aktif terlibat dalam PNPM Mandiri Perkotaan” (wawancara tanggal 23 September 2009)

Selanjutnya Bapak Handry Setyawan, SH selaku Lurah juga menambahkan tentang kegiatan sosialisasi yang diadakan di kelurahan.

“Untuk lebih efektifnya, kegiatan sosialisasi juga dilakukan dengan penyebaran pamflet-pamflet yang berisi tentang PNPM Mandiri Perkotaan di kelurahan Jombang. Hal ini dimaksudkan agar warga yang tidak menghadiri musyawarah tahap sosialisasi di balai kelurahan juga mengetahui tentang PNPM Mandiri Perkotaan yang akan dilaksanakan di Kelurahan Jombang. Kegiatan sosialisasi ini harus dilaksanakan dengan maksimal karena berpengaruh pada tahapan-tahapan selanjutnya”

b. Tahap Perencanaan PNPM Mandiri Perkotaan

Menurut Royat dalam panduan umum PNPM Mandiri (2007:16) mengungkapkan bahwa upaya memberdayakan masyarakat mandiri tidak dapat diwujudkan secara instan. Melainkan melalui serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat yang direncanakan, dilaksanakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat itu sendiri. Melalui kegiatan yang dilakukan dari, untuk dan oleh masyarakat, diharapkan upaya penanggulangan kemiskinan dapat berjalan lebih efektif.

Dalam upaya penanggulangan kemiskinan banyak program-program pemerintah yang sama yang semuanya bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Hasil dari program penanggulangan kemiskinan yang sudah dilaksanakan sampai sekarang masih belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Oleh karena itu, pemerintah kelurahan disini menentukan bentuk program berupa PJM Pronangkis, yang mana PJM Pronangkis merupakan perencanaan partisipatif warga untuk mengembangkan program penanggulangan kemiskinan, baik dalam jangka

pendek maupun jangka menengah. Menanggapi hal tersebut, Bapak Achmad Munir selaku koordinator BKM mengemukakan sebagai berikut :

“tujuan jangka pendek PJM Kelurahan Jombang yaitu untuk membantu mengatasi permasalahan kemiskinan dengan melibatkan peran serta masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada didasarkan pada skala prioritas dari hasil kesepakatan bersama, sedangkan untuk jangka menengah yaitu terpenuhinya kebutuhan pelayanan dasar bagi warga miskin agar index pembangunan manusia di Kelurahan Jombang meningkat.” (wawancara pada tanggal 27 September 2009)

Pembuatan PJM Pronangkis dimulai dari pengumpulan masalah (pemetaan swadaya) dari masing-masing RT, diproses melalui rembug warga dengan tim pemetaan kelurahan, sehingga dapat disusun daftar masalah dan kebutuhan masyarakat dengan menggunakan sistem skala prioritas. Dalam PJM ini, BKM bersama masyarakat merumuskan sistem dan strategi penyelesaian masalah pembangunan yang ada di kelurahan dalam jangka menengah, sehingga hasilnya benar-benar merupakan nilai partisipasi masyarakat secara demokratis. Program-program yang ada merupakan rencana Program-program yang telah disusun masyarakat sendiri dengan melihat permasalahan dan potensi yang ada di kelurahan. Potensi yang ada di Kelurahan Jombang yaitu untuk membantu masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan seperti bidang ekonomi. Sedangkan permasalahan di bidang ekonomi yang ada di Kelurahan Jombang itu sendiri, seperti yang diungkapkan Bapak Achmad Munir selaku koordinator BKM yaitu :

“permasalahan dalam bidang ekonomi yang dialami masyarakat di kelurahan ini yaitu tidak mempunyai modal yang cukup untuk menjalankan usaha. Mereka yang menjadi sasaran dalam program ini adalah masyarakat miskin yang mempunyai pekerjaan tetapi penghasilannnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat yang terkena PHK yang ingin membuka usaha dan masyarakat yang mempunyai banyak anak dengan penghasilan suami yang tidak mencukupi biasanya istrinya saya sarankan untuk membuka usaha apabila mau.”(wawancara pada tanggal 27 September 2009)

Dari berbagai permasalahan kemiskinan yang ada di Kelurahan Jombang diperlukan suatu perencanaan atau kebijakan untuk mengatasinya. Oleh karenanya Bapak Handry Setyawan, SH selaku Lurah mengemukakan :

“perencanaan yang dilakukan Kelurahan Jombang dalam mengatasi permasalahan dalam bidang ekonomi adalah dengan pemanfaatan dana pinjaman bergulir. Masyarakat yang ingin memanfaatkan dana pinjaman tersebut harus membentuk KSM terlebih dahulu.”(wawancara pada tanggal 27 September 2009)

Dalam hal ini PJM Pronangkis nantinya akan didanai oleh PNPM Mandiri Perkotaan. Pembuatan PJM Pronangkis telah dilaksanakan oleh BKM Karya Makmur, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Lurah Jombang Bapak Handry Setyawan, SH sebagai berikut:

“saya pernah memfasilitasi beberapa pengurus BKM dan faskel dalam menyusun PJM Pronangkis yang isinya adalah pemetaan penduduk miskin dan kebutuhan mereka, alhamdulillah bisa selesai dengan baik.” (wawancara pada tanggal 27 September 2009)

Hal tersebut juga diperkuat oleh penuturan Bapak Iswoyo selaku anggota BKM sebagai berikut:

“dulu sampai sekarang, BKM didampingi oleh faskel bersama-sama dalam membuat PJM Pronangkis, karena kalau tidak membuat PJM Pronangkis maka kebutuhan masyarakat miskin tidak akan didanai, ya bisa dibilang PJM Pronangkis itu berupa proposal mbak.” (wawancara pada tanggal 27 September 2009)

Di Kelurahan Jombang, musyawarah tahap perencanaan ini dilaksanakan tanggal 30 Agustus 2007. Musyawarah ini dihadiri oleh 399 orang, yang terdiri dari 298 orang perempuan dan 101 orang laki-laki, di dalamnya terdapat 276 orang miskin. Untuk efisiensi, maka musyawarah tahap perencanaan diadakan dengan memanfaatkan pertemuan rutin yang sudah ada. Adapun tujuan dari musyawarah tahap perencanaan ini menurut Dokumen Laporan Akhir Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan tahun 2008 adalah :

1. Memperkenalkan kepada kelompok-kelompok masyarakat mengenai PNPM Mandiri Perkotaan di bidang ekonomi yang dijalankan melalui kegiatan dana pinjaman bergulir;

2. Pembentukan sekumpulan warga masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) ekonomi; dan

c. Tahap Pelaksanaan Kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan

Dalam menjamin kualitas pelaksanaan yang tetap mengacu pada prinsip dan asas PNPM Mandiri Perkotaan, maka dilakukan persiapan yang matang dan terencana. Kegiatan persiapan ini dilakukan untuk menyamakan tujuan dengan cara menyamakan persepsi dan langkah dari seluruh pelaku PNPM Mandiri Perkotaan serta menyepakati peran, fungsi dan pembagian tugas. Persiapan ini lebih ditujukan pada aspek sumber daya manusia seluruh pelaku PNPM Mandiri Perkotaan terutama masyarakat.

1) Persiapan

a. Rapat Pra-Pelaksanaan di Kelurahan

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai kelanjutan dan pemantapan dari musyawarah tahap persiapan sebelum memulai pelaksanaan kegiatan untuk menyamakan persepsi dan langkah dari seluruh pelaku PNPM Mandiri Perkotaan serta menyepakati peran, fungsi dan pembagian tugas. Pelaksanaan kegiatan ini dihadiri juga oleh Tim Korkot dan anggota masyarakat lainnya yang berminat difasilitasi oleh Fasilitatos Kelurahan (Faskel). Hasil dari rapat pra pelaksanaan ini menjadi acuan langkah kerja selanjutnya.

Sebelum melaksanakan kegiatan, Unit Pelaksana Keuangan (UPK) akan mendapat pelatihan terlebih dahulu. Tujuannya adalah menyiapkan UPK agar mampu menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Materi yang diberikan meliputi: mekanisme dan prosedur pencairan dana, pengelolaan sumber dana dan membuat kesepakatan tertulis dengan KSM yang mengelola kegiatan program pinjaman bergulir (rencana pengembalian, jasa dan sanksi) serta pelaporan dan pertanggungjawaban.

2) Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan adalah tahap pelaksanaan dari kegiatan dana pinjaman bergulir yang telah disepakati dalam musyawarah tahap perencanaan. Dalam pelaksanaan kegiatan ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. masyarakat merupakan pemilik kegiatan, sehingga keputusan pelaksanaan dan tanggungjawabnya ada pada masyarakat melalui lembaga yang

dibentuk oleh masyarakat yang bernama Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).

b. Yang menjadi prioritas dalam kegiatan ini adalah masyarakat miskin hasil Pemetaan Swadaya (PS) sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan oleh BKKBN.

Sebagaimana fokus yang akan diteliti, maka pelaksanaan yang akan dideskripsikan oleh penulis adalah pelaksanaan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat yaitu pelaksanaan kegiatan dana pinjaman bergulir di Kelurahan Jombang.

a) Pelaksanaan Kegiatan Dana Pinjaman Bergulir

Secara umum pelaksanaan kegiatan dana pinjaman bergulir merupakan kegiatan dalam rangka mengembangkan potensi masyarakat khususnya untuk pendanaan usaha mikro dan memperkuat kelembagaan kegiatan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bapak H. Moechsin sebagai ketua UPK PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Jombang.

“Sebenarnya pengajuan untuk pinjaman ini mudah didapatkan asal usahanya harus benar-benar ada dan bukan usaha fiktif. Masyarakat yang menginginkan pinjaman ini harus menggabungkan diri ke dalam KSM untuk selanjutnya mengikuti mekanisme pengajuan pinjaman sesuai dengan aturan yang ada” (wawancara pada tanggal 9 Oktober 2009)

Berdasarkan data sekunder dari Tim UPK Kelurahan Jombang, proses pengajuan peminjaman dana harus sesuai dengan ketentuan yaitu:

1. Yang mengajukan adalah warga miskin dan bergabung dalam KSM; 2. Pemetik manfaat adalah 100% warga miskin hasil pemetaan swadaya; 3. Warga miskin yang mempunyai usaha/ingin memulai usaha baru;

4. Pinjaman pertama perorang dalam KSM maksimal sebesar Rp.500.000,- dan pinjaman berikutnya maksimal Rp.2.000.000,- apabila pinjaman KSM tersebut lancar, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anggota KSM serta kemampuan UPK;

5. Pembayaran angsuran ke UPK dilakukan setiap bulan. Sehubungan dengan itu sebaiknya jenis kegiatan usaha yang dibiayai bukan dari sektor

pertanian melainkan usaha mikro meliputi : perdagangan, jasa industri rumah tangga;

6. KSM mempunyai pengurus minimal 3 orang yang aktif;

7. KSM mengadakan pertemuan rutin minimal bulanan dan mempunyai agenda yang jelas setiap kali pertemuan;

8. Anggota KSM sepakat untuk melakukan tanggung renteng;

9. KSM mempunyai tabungan yang dititipkan di UPK atau disimpan di bank. 10. KSM mempunyai pembukuan sederhana;

11. KSM memiliki motivasi dan tanggung jawab tinggi untuk mengembalikan; dan

12. KSM belum mempunyai akses atau belum terjangkau dari pelayanan lembaga keuangan.

Mengenai pendaftaran calon peminjam di tingkat kelurahan dapat dilakukan di masing-masing ketua KSM di kelurahan. Di kelurahan sendiri terdapat beberapa KSM yang tetap eksis. Salah satu KSM yang ada di Kelurahan Jombang yaitu KSM Bangkit yang diketuai oleh Bapak Lasidi. Adapun pendaftaran calon pemanfaat KSM Bangkit berdasarkan pernyataan Bapak Lasidi dalam wawancara di kediamannya pada tanggal 9 Oktober 2009

“Untuk warga Kelurahan Jombang jika ingin meminjam dana untuk kegiatan usahanya pendaftarannya di saya mbak, tetapi juga bisa di KSM lain karena di Kelurahan Jombang terdapat beberapa KSM. Disini saya sendiri yang mengoreksi sebagai tahapan awal apakah calon peminjam ini layak atau tidak mendapatkan pinjaman, sebelum nantinya saya sebagai ketua KSM mengajukan usulan calon peminjam ke UPK. Kriteria layak atau tidaknya, berdasarkan jenis usaha dan perkembangannya. Jika tidak melihat hal itu takutnya macet mbak pembayarannya dan resiko macetnya pembayaran dari pemanfaat mengakibatkan untuk perguliran dana mendatang, KSM ini tidak mendapatkan pinjaman lagi dari UPK. Sebagian besar pemanfaat menggunakan pinjaman untuk usaha toko, peracangan dan berdagang di pasar karena didukung oleh dekatnya lokasi kelurahan ini dengan pasar Legi yang merupakan pasar terbesar di Kabupaten Jombang.”

Tak bedanya dengan KSM Bangkit, KSM Barokah juga melakukan hal yang sama yaitu proses pendaftaran calon pemanfaat juga dilakukan oleh kelompok masyarakat untuk kemudian diajukan ke UPK. Hal ini sebagaiman pernyataan

dari Ketua KSM Barokah yaitu Ibu Sri Kusmiyanti dalam wawancara di kediaman Bapak H. Moechsin sebagai ketua UPK

“KSM Barokah ini beranggotakan 9 orang pemanfaat dengan pendaftaran calon pemanfaat yang dilakukan di saya dan saya sendiri yang menyeleksi siapakah yang berhak mendapatkan bantuan dana atau modal. Kriteria yang saya pakai untuk menentukan itu yaitu berdasarkan tingkat pengembalian anggota tersebut tahun lalu apakah lancar atau pembayarannya sering molor. Itu jika pemanfaat merupakan anggota lama. Untuk anggota baru, saya melihat dari kondisi ekonominya dan sebagai permulaan saya hanya menyetujui peminjaman sebesar Rp.500.000,-. Ini demi kelancaran

Dokumen terkait